[Sekuel] A Letter from Yesterday

Kala fajar menyapa

Embun tunggang-langgang

Kala senja merana

Petang meradang

 

 

Kala cinta melanda

Rindu menerpa

 

Di bawah rinai hujan kaumenangis

Merunduk sepi berteman sendu

Hati mengernyit menahan luka iris

Kuhampiri dan kupeluk engkau dalam bayangku

 

Takkan hilang tergerus masa

Takkan raib dihantam fana

Terpatri dalam jiwa

Bayang-bayang bertahan selamanya

 

Sampai jumpa

Takkan kuucap perpisahan

Ketika waktu tiba

‘Kan kurengkuh engkau dalam pelukan

 

Sampai nanti, Kim Rae Ah.

 

Dari lelaki yang menyerupai bayang

 

CGH

 

Kertas usang yang tersimpan selama puluhan tahun ini kulipat. Kertas usang yang tak pernah bosan untuk kubaca. Kertas yang mengingatkanku akan besarnya cinta yang dia miliki. Betapa luas hatinya membiarkan diriku berkelana di sana, bahkan sebelum aku menyadari keberadaannya.

Lagi-lagi aku tak bisa membendung air mata ini. Air mata bahagia yang selalu kuraih, hanya jika aku bersama dengannya. Lelaki itu telah mengambilku dari mereka yang tak menginginkanku. Menukar kebencian mereka dengan cinta yang tak terkira.

Kalau seseorang telah mendapatkan kebahagiaan semacam ini, lalu dia berusaha menyingkirkannya di kemudian hari, pertemukan kami. Akan kudamprat wajahnya, kusadarkan dia betapa kebahagiaan semacam ini takkan bisa ditukar dengan apa pun.

Sungguh. Aku tidak berbohong. Aku bahkan tidak sanggup hanya dengan memikirkan aku aka menyingkirkan kebahagian ini demi yang lain. Bahagia yang sudah jelas ini takkan mungkin kutukar dengan mereka yang semu.

“Menangis lagi, hm?”

Lengan besar yang penuh perlindungan itu melingakai leherku. Kuusap air mata yang berjatuhan. Lelaki ini selalu protes setiap kali aku membaca tulisannya. Katanya, dia tidak suka melihatku menangis, untuk kebahagiaan sekalipun. Bagi dia, tangis tetaplah tangis. Simbol kesedihan.

“Aku hanya penasaran,” gumamku sambil mengusap-usap lembut lengan kokohnya.

“Sudah lima belas tahun sejak kautemukan surat itu, dan masih saja membuatmu penasaran? Apa, sih, yang ingin kautahu?”

Aku terkekeh. Kuusap kepalanya. “Kalimat secantik ini kaudapat dari mana?”

Lelaki ini tersentak seraya melepaskan lengannya. Beralih menjadi duduk di sampingku. Kurebahkan kepalaku di bahunya, yang langsung ia sambut dengan melingkarkan tangannya di bahuku. Ia letakkan kepalaku di dadanya, tempat paling aman di dunia yang pernah kumiliki.

“Aku menulisnya setelah membaca lima buku sastra yang tebalnya minta ampun. Belum lagi bahasanya yang sulit kumengerti.”

“Benarkah?” Aku sungguh-sungguh terkejut. Kami telah menikah selama lima belas tahun, dan aku membaca surat itu lebih dari ratusan kali, tetapi untuk pertama kalinya aku mendengar hal semacam ini.

Dia, Kyu Hyunku, mengangguk yakin. Aku tersenyum lebar sambil melingkarkan kedua lengaku di pinggangnya. Ah, pinggang yang tidak lagi seramping dulu. Tidak apa-apa. Aku mencintainya bukan karena lingkar pinggang. Kalau tidak mengingat tempat kami berada, sudah kukecup bibir penuhnya itu.

“Whoa! Eomma terlihat ingin memakanmu, Appa!” Celotehan bocah berusia tiga belas tahun itu membuatku mendelik seraya memisahkan diri.

“Jaga bicaramu, Cho Hyun Bum.” Hanya kalimat tersebut saja mampu membungkam anak remaja yang sedang berada dalam masa nakalnya itu.

“Maafkan aku, Eomma.” Hyun Bum kembali memusatkan perhatiannya pada televisi di depan, yang sedang menampilkan acara kartun kesukaannya.

Oppaaa!”

Kupejamkan mataku sejenak sembari menghela napas panjang. Teriakan itu milik Hyun Ae, anak keduaku. Kalau sudah begini, aku tidak yakin rumah akan menjadi arena perang dalam beberapa saat. Kyu Hyun mengecup kepalaku sekilas, seolah memberi tahu bahwa ini sudah menjadi tradisi. Dia juga selalu mengingatkan hal ini belum tentu akan kami alami selamanya.

Ya, aku menyadarinya. Ketika mereka dewasa nanti, aku harus puas dengan kunjungan sesekali. Tidak boleh egois lagi dengan memiliki mereka hanya untuk diriku sendiri.

Appa! Oppa mencorat-coret poster kesayanganku.” Hyun Ae merengek, Hyun Bum fokus pada televisi, sedangkan aku bersandar pada kursi. Biarkan ini menjadi urusan Kyu Hyun. Anak gadis kami ini cukup sulit ditangani, dan hanya Kyu Hyun yang mengerti celah, untuk membujuknya.

“Poster yang mana lagi?” tanya Kyu Hyun tenang.

Aku tahu, suamiku ini sedang menahan rasa bahagianya akibat berita yang baru saja diwartakan Hyun Ae. Kyu Hyun, ayah dari anak-anakku ini, selalu cemburu setiap kali memasuki kamar Hyun Ae. Ruangan itu dipenuhi poster para idol muda, yang tentu saja menarik perhatian gadis kami ini lebih banyak.

“Ayah tahu beberapa hari yang lalu aku baru mendapat kiriman dari Jepang, ‘kan?” Kyu Hyun mengangguk, tidak terpengaruh oleh nada menggebu Hyun Ae. Sesungguhnya aku ingin tertawa, tapi aku takut anak gadisku marah dan mengancam akan menyusul kedua adik kembarnya dan menginap lama di sana. Di rumah neneknya, yang berjarak puluhan kilometer dari sini.

“Lalu?” pancing Kyu Hyun.

“Aku membeli itu dengan uang jajanku, aku menghemat, Appa. Meng-he-mat! Si tukang pamer itu malah mencoret salah satu wajah yang paling kusukai. Aku benci Hyun Bum!” Setelah itu Hyun Ae melempar Hyun Bum dengan bantal.

Aku tidak ingin melerai. Biar saja rumah ini ramai, karena kau tidak suka rasa sepi. Lagi pula, aku mengerti, pertengakaran Hyun Bum dan Hyun Ae itu cara mereka menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Aku dan Yi Ra tidak pernah sedekat itu. Pertengkaran kami terlalu serius.

“Itu hukuman untukmu, Ae-ya!” sergah Hyun Bum sambil melindungi kepalanya dari amukan sang adik.

“Hukuman untuk apa, Hyun?” tanyaku penasaran.

“Aku menemukan sontekan dekat tempat duduknya, Eomma. Aku tahu itu tulisan Hyun Ae.”

Mataku membelalak. Aku tak percaya ini. benar-benar tidak masuk di akal. Anak gadisku menyontek?

“Aku tidak menyontek, Oppa!” Hyun Ae mendekat, duduk di antara aku dan ayahnya. “Eomma, aku tidak melakukannya. Sungguh. Eomma percaya padaku, ya?” belanya dengan wajah memelas.

Kutatap anak gadisku dengan lembut. “Lalu, kenapa oppa-mu menemukan tulisan itu?”

Hyun Ae menunduk, tangannya meremas tanganku. Aku melirik Kyu Hyun, mata kami bersitatap. Melalui isyarat ini Kyu Hyun mengatakan kepercayaannya. Dia sangat memercayai keempat anaknya. Apa pun yang mereka katakan, dia selalu yakin itu sebuah kejujuran.

“Park Hae Young meminta jawaban. Aku memberinya, karena waktu sudah mepet, sedangkan dia belum selesai.”

Kudengar Kyu Hyun menghela napas panjang. Saat seperti inilah gilirannya menjalankan peran sebagai ayah. Lelaki tercintaku itu menarik Hyun Ae ke pelukannya. Mengusap kepala anak gadis kami penuh sayang.

“Dengar,” Kyu Hyun mulai berucap, “niatmu memang baik, ingin membantu teman yang kesulitan. Tetapi, Sayang, dengan kamu memberi dia jawaban, sama saja dengan kamu membuat dia bodoh. Kamu akan membiarkan dia tergantung pada hasil kerja keras orang lain tanpa mau berusaha.”

Mianhae,” sesal Hyun Ae.

Ya, Tuhan, melihat bagaimana Kyu Hyun mendidik anak-anaknya membuatku ingin menangis. Aku dibesarkan dengan telunjuk ibu mengacung tepat di depan hidungku, tatapan tajam ayah yang mengintimidasi, dan ucapan pedas dari mulut kakakku. Aku tidak ingin keempat anakku mengalami hal semacam itu.

Aku bersyukur … benar-benar besyukur telah dipertemukan dengan lelaki sebaik Kyu Hyun.

“Begitu saja harus diberi tahu,” ejek Hyun Bum.

Hanya dalam hitungan ketiga, rumah ini kembali ramai oleh suara Hyun Bum dan Hyun Ae yang saling berteriak. Hanya dua orang saja bisa segaduh ini. Bayangkan kalau Gyu Jun dan Gyu Hee, anak kembar kami, juga ada di sini.

Melihat anak-anak kembali sibuk berdebat, aku merapatkan jarak. Berada dekat dengan Kyu Hyun tak pernah membosankan. Meski lima belas tahun telah berlalu, usia kami pun menua, tetapi perasaan ini tidak berkurang barang sedikit. Cinta dan sayang kami kian menggebu, merasuk begitu dalam menguasai kalbu.

Kyu Hyun menyambut, membawa tubuhku ke dalam rengkuhan hangatnya. Mengendus aroma rambutku adalah kegiatan yang sepertinya menjadi candu bagi lelaki ini. Sama seperti aku yang selalu terlena oleh aroma tubuh yang menguar, bercampur dengan keringat sehabis bekerja. Um … bekerja?

Sudahlah, lupakan. Aku tidak ingin memberikan tontonan gratis pada kedua bayiku jika terus-terusan memikirkan aroma ….

Astaga! Sudah setua ini masih saja aku tak pernah merasa cukup akan dirinya.

Dia mulai bersuara, dan aku mengeratkan mpelukanku. “Jika Tuhan mencipta Hawa untuk melengkapi Adam,” jantungku berdebar, “maka menghadirkan engkau hanya untukku.”

Bagaimana bisa aku berpaling dari lelaki sehebat ini? Dia selalu menempatkan dirinya sebagai sumber kebahagian bagi aku dan anak-anak kami. Mencoba berbagai hal yang dulu tidak dia sukai demi kami, seperti bermain sepak bola di halaman rumah. Menunjukkan kasih sayangnya padaku dan anak-anak tanpa mengenal tempat.

Lelaki yang selalu menjadi sandaran ini segalanya bagiku. Hanya dia yang kuizinkan untuk mengendalikan hidupku, menghujaniku dengan cinta yang tak berbatas.

“Aku mencintaimu, Istriku.” Dia berbisik lembut, meloloskan setitik air dari mataku. “Always do.” Ia akhiri ungkapan cinta itu dengan mengecup keningku cukup lama.

Kupejamkan mata erat-erat, merasai jantung kami yang bersahutan. Kemudian, saat kubuka mata, lelaki itu tersenyum dan kami menyelami kedalaman hati masing-masing melalui tatapan ini. Memunculkan isyarat, yang hanya kami berdua pemiliknya.

Seperti yang telah Kyu Hyun tuliskan dalam suratnya, cinta kami terpatri dalam jiwa dan takkan hilang tergerus masa.

 

T A M A T

 

Mengecewakan, ya? ha ha ha

Kubikin ini sehari jadi, tanpa edit. Aku kan udah bilang, nggak ada sekuel, hanya surat dari Kyu Hyun yang bakal ku-publish. Kalian, sih, ngeyel minta sekuel, jadinya aku nggak tahan buat nulis ini hiks

Sudahlah. Kisah ini berakhir. Sampai jumpa di lain kesempatan. Aku seneng, kok, bikin ini untuk kalian kecup satu-satu yang udah komen di TFO

p.s. jangan tanya kelanjutan FF-ku yang lain, karena aku nggak bisa jawab.

p.s.s. kalau mau sering ketemu aku, meski nggaka ada, bisa follow xxgyuu di Wattpad dan tambahin Fall into Step ke daftar bacaan kalian. Cerita itu update seminggu dua kali kalau sesuai jadwal, Senin dan Rabu. Hi hi hi

p.s.s.s. buat yang mau cerita udah tamat juga ada A Man in Love di work-nya xxgyuu wkwk

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

7 thoughts on “[Sekuel] A Letter from Yesterday”

  1. suratnya so sweet pantesan saja rae ah gak bosen bolak-balik baca, duh rumah tangga mereka meang bikin iri gak nyadar kalo disini tuh ceritanya mereka udah nikah 15 tahun moga awet deh mesranya

  2. Ahh aku meleleh.. .
    Pias bgt sama kyuhyun yg nepatin janjinya bakal kasih dunia rae ah oenuh cinta yg ga bisa dia dapet dari keluarganya sendiri.. .

    Tapiiii jujur ini… Apa kabar sodaranya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s