The First One

Selamat membaca^^

 tfo

ㅡㅡㅡㅡ

November 2016. Somewhere in South Korea.

 

Kyu Hyun membaringkan tubuhnya di samping Rae Ah dan menarik perempuan itu agar menempel padanya. Rae Ah merapatkan tubuhnya pada Kyu Hyun dan melingkarkan tangannya di perut laki-laki itu.

Keheningan menyergap mereka untuk sesaat. Rae Ah memikirkan hubungannya dengan Kyu Hyun yang sesungguhnya tak bermoral. Demi Tuhan, mereka bukan sepasang kekasih apalagi pasangan suami-istri. Meski tidak ada cincin yang melingkar di jari Kyu Hyun saat ini, tetapi laki-laki itu adalah tunangan dari seorang perempuan. Kim Rae Ah dan Kyu Hyun menjalani hubungan terlarang di belakang tunangan Kyu Hyun yang juga merupakan kakaknya—kakak Kim Rae Ah.

“Sampai kapan kita akan seperti ini, Hyun?” Rae Ah dapat merasakan Kyu Hyun menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ini adalah keinginannya sendiri, bukan keinginan Kyu Hyun. Laki-laki itu, sudah sering membujuk Rae Ah untuk membuka hubungan mereka pada keluarga masing-masing, tapi Rae Ah selalu menolak.

“Sampai kaubersedia mengatakan semua ini pada keluarga kita, terutama pada kakakmu,” jawab Kyu Hyun dengan tangannya membelai rambut gadis itu.

“Bagaimana kalau aku tidak pernah siap? Kak Yi Ra adalah segalanya bagi mereka. Aku takut mereka memaksa kita berpisah. Aku tidak mau,” lirihnya. Kyu Hyun mengeratkan pelukannya pada tubuh Rae Ah.

“Kau tahu aku sangat mencintaimu dan tidak ada yang bisa memaksaku untuk berpisah denganmu,” ujar Kyu Hyun menyalurkan rasa hangat ke seluruh tubuhnya.

“Baiklah. Kita hentikan pembicaraan ini,” Rae Ah mencium dada Kyu Hyun kemudian mendongak dengan senyum menggoda. Melihat senyuman itu membuat napas Kyu Hyun memberat.

Tanpa aba-aba, Kyu Hyun menarik Rae Ah hingga perempuan itu berbaring di atas tubuhnya. Hanya Rae Ah yang Kyu Hyun inginkan dalam hidupnya. Sejak lama, sejak ia mengenal apa itu cinta. Tubuh Rae Ah selalu menjadi fantasi terliar Kyu Hyun.

ㅡㅡㅡㅡ

“Bagaimana Busan?” tanya Kim Tae Jun, kepala rumah tangga di rumah besar ini. Rae Ah menggigit sandwich kesukaannya kemudian menjawab dengan santai, “Tidak ada masalah. Kerja sama kita dengan pihak Empire Group berjalan sebagaimana mestinya.”

Kim Tae Jun mengangguk. “Aku memang tidak salah memberimu kepercayaan untuk memimpin perusahaan keluarga kita,” ujarnya dengan nada yang tenang. Ketenangan dalam suara Tae Jun nyatanya mampu membuat tubuh Rae Ah bergetar karena menahan amarah.

Rae Ah tidak menginginkan K Corp. Rae Ah tidak pernah bermimpi akan menjadi seorang CEO dari sebuah perusahaan besar yang termasyhur sejak enam puluh tahun lalu itu, perusahaan yang bergerak di bidang properti. Kim Tae Jun tahu apa yang diinginkan Rae Ah, tapi ia membuat Rae Ah tak memiliki pilihan lain selain menerima ini. Kim Rae Ah menjadi CEO perusahaan tersebut, semata-mata karena Kim Yi Ra, kakaknya, memilih menjadi dokter sesuai cita-citanya sejak kecil. Bukan karena Kim Tae Jun benar-benar menginginkannya.

Selama ini, Kim Rae Ah selalu menjadi pilihan kedua dalam keluarganya. Bagi ayah mau pun ibunya, Kim Yi Ra adalah segala yang mereka inginkan. Rae Ah dirawat dengan baik, difasilitasi layaknya anak konglomerat pada umumnya, tapi Rae Ah tidak diberi kasih sayang. Seluruh kasih sayang kedua orang tuanya tercurah hanya untuk Kim Yi Ra. Setidaknya, itulah yang Rae Ah rasakan berdasarkan pengalaman hidupnya selama 27 tahun menjadi bagian dari keluarga Kim.

“Ngomong-ngomong, kapan kau akan membawa kekasihmu ke hadapan ayah?”

Tubuh Rae Ah semakin bergetar mendengar pertanyaan ayahnya. Rae Ah menaruh sandwich-nya ke atas piring dengan kasar lalu beranjak dari kursinya. “Aku selesai.”

Kim Tae Jun menghela napasnya dengan berat. Ia tidak mengerti mengapa Rae Ah selalu bersikap seperti ini ketika disinggung soal kekasih. Sikap gadis itu membuatnya khawatir. Usianya sudah sangat matang untuk menikah. Yi Ra yang dua tahun lebih tua dari Ra Ah memang belum menikah, tapi anak sulungnya itu telah memiliki seorang tunangan. Sementara Rae Ah tidak pernah sekali pun mengenalkan seorang laki-laki sebagai kekasihnya.

“Aku mengkhawatirkannya. Anak-anak kita sudah cukup untuk menikah,” ujarnya. Istrinya yang sedang menuangkan air dari teko ke dalam gelas menghentikan kegiatannya. “Yi Ra saja belum menikah. Rae Ah tidak mungkin menikah lebih dulu.”

“Aku berencana menemui Kyu Hyun  untuk memintanya segera menikahi Yi Ra lalu mencari rekan bisnis yang bersedia menikahkan anak mereka dengan Rae Ah.”

“Kim Rae Ah anakmu itu terkenal sebagai perempuan yang dingin dan tak memiliki belas kasihan. Kaupikir ada yang mau menikahi perempuan seperti itu?” Seon Yi berujar sinis.

Tae Jun menatap Seon Yi dengan tajam. “Kau selalu saja seperti itu terhadap Rae Ah. Bukankah dia juga anakmu, Kim Seon Yi?”

“Kau juga tidak jauh berbeda denganku, Kim Tae Jun! Hentikan pembicaraan ini!” Seon Yi kemudian meninggalkan Tae Jun sendirian di ruang makan.

Dalam keheningan Kim Tae Jun merenung. Istrinya benar. Mereka sama-sama telah memperlakuakn Rae Ah dengan berbeda. Ia dan Seon Yi tidak pernah mengekang Yi Ra dan selalu merasa bebas menunjukkan kasih sayangnya pada gadis itu. Tae Jun mencintai Rae Ah, tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi dirinya untuk memperlakukan Rae Ah sama seperti ia memperlakukan Yi Ra.

Kim Tae Jun tidak mengerti apa yang menghalanginya. Entah ia yang tidak bisa menunjukkan kasih sayangnya secara gamblang atau Rae Ah yang menutup pintu untuk menerima kasih sayangnya. Lalu mengenai Seon Yi, Tae Jun tidak mengerti mengapa istrinya itu meperlakukan Rae Ah dengan berbeda. Padahal, Yi Ra dan Rae Ah sama-sama lahir dari rahimnya.

Laki-laki paruh baya itu menarik napas panjang kemudian mengembuskannya dengan kasar. Ia harus segera melaksanakan rencananya untuk menemui Kyu Hyun dan mencari jodoh untuk Kim Rae Ah.

ㅡㅡㅡㅡ

Kim Rae Ah duduk terpekur di ruangannya. Lima belas menit yang lalu ruangan ini masih ramai karena ia mengadakan pertemuan dadakan dengan beberapa petinggi perusahaan. Setelah mereka semua pergi, keheningan menyergapnya dan keresahan menghantuinya.

Telah genap satu tahun ia bermain gila dengan Kyu Hyun di belakang semua orang. Ia tahu, sedalam apapun bangkai tersimpan, baunya akan tercium juga. Namun, yang ia tidak tahu adalah kapan bangkai itu akan tercium. Ia juga sudah lelah untuk hidup seperti ini. mencintai seseorang yang sudah jelas tak akan pernah menjadi miliknya.

Sesungguhnya ia mencintai Kyu Hyun jauh sebelum Kyu Hyun mengenal dirinya.

 

August 2010. Los Angeles.

Hari itu, ia menghabiskan liburan musim panas di Los Angeles bersama salah seorang sahabatnya. Berkeliling dari satu pantai ke pantai lainnya. Hingga suatu ketika, musibah menimpa Rae Ah. Tas kecil yang ia bawa dijambret. Tas itu berisi ponsel dan dompetnya. Beruntung paspornya tertinggal di tas lain yang ia pakai sebelum hari itu.

Rae Ah pergi sendirian waktu itu karena sahabatnya sedang menemui seorang teman yang tinggal di Los Angeles. Rae Ah menelusuri pinggiran jalan dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Rambut berantakan dan wajah merah akibat menangis. Ia tidak bisa menghubungi siapa pun dan tak memiliki uang untuk naik kendaraan umum menuju hotel. Sialnya, tidak ada taksi yang lewat satu pun.

Harapan muncul di dalam dada Rae Ah ketika sebuah Lamborghini berhenti di depannya. Lalu, seorang laki-laki yang memiliki ciri-ciri tubuh sama seperti dirinya, khas peranakan Asia Timur, Rae Ah mengembangkan senyum di wajahnya dengan sangat lebar. Senyum itu semakin lebar dan kali ini ditambah degupan jantung yang menggila ketika ia mengenali wajah tampan itu.

Laki-laki itu berhenti di depan Rae Ah. Meski tatapan datarnya sangat menakutkan bagi orang lain, tapi bagi Rae Ah itu adalah tatapan paling seksi yang pernah ia temukan sepanjang hidupnya. Sudah lama Rae Ah tak melihatnya. Empat tahun lalu, tubuh laki-laki itu sangat kurus. Lihatlah sekarang! Otot-otot yang timbuh di beberapa bagian tubuhnya yang tepat, membuat laki-laki itu semakin seksi di mata Rae Ah.

Can you gimme some favor, Sir?” Sebelum laki-laki itu bertanya, Rae Ah telah lebih dulu melakukannya. Ia sudah sangat lelah dan hanya berharap Dewa Keberuntungan sedang berpihak padanya dengan mengirim laki-laki ini untuk menolongnya.

How can I help you?” Laki-laki itu mengangkat alisnya sebelah. “Looks like you are having a bad situation,” lanjutnya. Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku, sesuatu yang dianggap tidak sopan di negara asalnya. Rae Ah mendecih sebal tapi ia harus bersikap baik. Bagaimana pun, ia harus memberi kesan agar laki-laki ini mau membantunya.

I am in a vacation and someone stole my bag.” Sekilas, Rae Ah bisa melihat kekhawatiran di wajah laki-laki itu tapi ia tidak mau memikirkannya.

“Masuk ke mobilku,” pinta laki-laki itu dengan suara yang sangat tenang. Rae Ah mengikuti gesture laki-laki itu yang membimbingnya masuk ke dalam mobil.

Selama perjalanan menuju ke hotel tempat Rae Ah menginap, tidak ada suara yang keluar sedikit pun. Baru ketika Rae Ah akan keluar dari mobil setelah mengucapkan terima kasih, laki-laki itu membuka suaranya. “Namaku Kyu Hyun. Kau bisa mengandalkanku jika menemukan kesulitan selama di sini,” katanya sambil menyodorkan selembar kartu nama. Rae Ah menatap kartu nama tersebut dengan Kyu Hyun secara bergantian, tersenyum kemudian mengambilnya.

“Aku tidak tahu apakah aku akan membutuhkan ini atau tidak, tapi terima kasih. Besok aku akan kembali London.” Rae Ah membuka pintu mobil. Satu kakinya sudah menginjak lantai basement, gadis itu berbalik masih dengan senyum di wajahnya. “Sekali lagi terima kasih, Cho Kyu Hyun-ssi.”

Rae Ah turun dari mobil Kyu Hyun. Ia terus berjalan, masuk ke hotel tempatnya menginap, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Kyu Hyun. Selama perjalanan menuju lantai ima belas, Rae Ah tak berhenti tersenyum dan matanya tak teralihkan dari selembar kartu nama yang diberikan oleh Kyu Hyun.

Kyu Hyun. He becomes mature and sexy as hell. But he”s still handsome like he used to be. Rae Ah tak berhenti memuja penampilan Kyu Hyun yang tak bisa diabaikan oleh wanita mana pun. Ia tidak menyangka, hari ini harusnya menjadi hari paling buruk yang pernah ia alami. Tapi kehadiran Kyu Hyun yang menolongnya membuat Rae Ah tak bisa berhenti tersenyum dan tidur pukul tiga pagi karena terus memikirkan laki-laki itu.

Jadi, sewaktu SMA, Kim Rae Ah menyukai teman laki-laki, seangkatan dengannya yang tergolong cukup pendiam. Laki-laki itu tak pernah lepas dari buku dan kacamata bulat tapi tidak tebalnya. Semua orang mengakui kepintarannya, tapi ia tidak popular karena penampilannya yang tak menarik.

Namun, orang-orang tidak tahu bahwa di balik kacamata bulat itu, Kyu Hyun memiliki wajah yang tampan dan sepasang bola mata berwarna abu-abu yang tajam dan indah. Rae Ah melihatnya ketika laki-laki itu melepas kacamatanya di ruang klub sains. Sejak saat itu, Rae Ah tak pernah berhenti memikirkan Kyu Hyun.

Hingga saat ini ia kuliah di Universitas Oxford, tidak ada laki-laki yang mampu menyingkirkan Kyu Hyun dari kepala dan hatinya. Ia mendaftar ke Oxford karena ia mendengar selentingan kabar bahwa Kyu Hyun akan melanjutkan kuliah di Oxford. Ia tidak ingin berpisah dengan Kyu Hyun tapi ternyata laki-laki itu tak ada di sana. menurut salah satu temannya, Kyu Hyun pergi ke MIT karena gagal di Oxford.

Hari ini, ia bertemu dengan Kyu Hyun karena sebuah insiden yang sangat buruk. Jadi, Rae Ah tidak tahu akan menempatkan hari ini sebagai hari yang buruk atau malah sebaliknnya. She got his card after all.

ㅡㅡㅡㅡ

Massachusetts Institute of Technology adalah perguruan tinggi di bidang teknologi yang menjadi favorit dunia saat ini. Mereka, para pemuda dunia, bangga jika mengenakan almamater MIT. Seharusnya seperti itu, merasa bangga. Tapi, bagi laki-laki asal Korea Selatan yang sedang duduk di samping kekasihnya di taman kampus, menjadi mahasiswa MIT adalah bencana.

Ia bercita-cita untuk menempuh pendidikan di kampus yang sama dengan pujaan hatinya ketika sekolah menengah atas. Namun, apalah daya ketika ia ditolak di Universitas Oxford dan malah lari ke Massachusets. Padahal, banyak universitas besar di Inggris selain Oxford. Oke, ia memang hanya memiliki satu kesempatan untuk memilih universitas sendiri karena MIT telah menjadi keputusan orang tuanya.

Sudah lama sekali ia tidak melihat wajah cantik itu. Perempuan itu tidak popular di sekolahnya. Meski berasal dari keluarga Kim yang sangat kaya raya, perempuan itu, Kim Rae Ah, tak pernah memilih dalam berteman. Perempuan itu selalu ramah dan tak pernah memandangnya sama seperti yang orang lain lakukan.

Ia dan Kim Rae Ah tak pernah bertukar sapa. Ia tahu banyak tentang perempuan itu, tapi tidak yakin apakah Rae Ah mengetahui namanya. How are you, Beautiful? Kyu Hyun, laki-laki itu, ingin menanyakan hal itu secara langsung, tapi ia tak memiliki cukup keberanian untuk menghampiri  Rae Ah di Inggris.

Penampilannya memang telah jauh berbeda, jauh lebih baik jika dibandingkan dengan keadaan dirinya semasa SMA. Well, perubahan ini ia lakukan bukan untuk membuat banyak gadis bertekuk lutut padanya, melainkan karena ia merasa tidak perlu menyembuyikan dirinya. Di sini tidak akan ada yang tahu kalau Cho Kyu Hyun anak Presiden Korea Selatan. Lagi pula, masa jabatan ayahnya telah habis satu tahun lalu dan ia kembali menjadi seorang anak pengusaha kaya raya yang berada dalam daftar lima besar yang paling berpengaruh. Dan orang Amerika tidak begitu peduli pada kehidupan pribadinya.

“Ternyata kau di sini!” Seseorang menepuk bahunya dan Kyu Hyun terperanjat kaget. Bayangan wajah cantik pujaan hatinya buyar dalam sekejap, digatikan oleh wajah cantik lainnya yang lebih nyata.

Kyu Hyun memaksakan senyum dan menggeser duduknya agar perempuan itu bisa duduk di sampingnya. Perempuan itu tersenyum lalu duduk di samping Kyu Hyun dan menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu.

Kyu Hyun mengamati wajah perempuan itu dari samping. Wajahnya cantik, sangat cantik dengan mata bulat alami, hidung mancung, dan bibir tipis. Bagi Kyu Hyun, yang paling cantik dari wajah itu adalah bola matanya yang berwarna hitam. Bola mata yang sama dengan yang dimiliki oleh perempuan cantik pujaan hatinya.

Kyu Hyun menarik napas panjang. Bola mata yang menjadi satu-satunya alasan mengapa perempuan yang sedang bersandar di bahunya itu menjadi kekasihnya. Kyu Hyun tersenyum sinis. Bahkan setelah tahun-tahun berlalu, Kyu Hyun hanya memikirkan perempuan itu. Omong-omong, bagaimana kabar perempuan itu sekarang? Bahagiakah ia di Oxford sana?

“Kyu, aku ingin kau menemaniku ke pesta besok malam. Mau, ya?” perempuan itu menggelendot manja di bahu dan lengan Kyu Hyun.

“Aku harus ke Los Angeles. Kakakku sedang ada di sana dan aku tidak mungkin mengabaikannya.”

Perempuan itu merengut kesal dan melepaskan dirinya dari tubuh Kyu Hyun. “Aku ini kekasihmu, Cho Kyu Hyun. Acara besok adalah pesta kelulusanku dan kau tidak datang? Aku tidak berarti apa-apa untukmu, ‘kan?”

“Kim Yi Ra,” gumam Kyu Hyun sambil mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan perempuan itu, “kau memang kekasihku tapi kau juga harus mengerti kalau Cho Ahra adalah keluargaku.”

Kim Yi Ra merengut tak suka atas perkataan Kyu Hyun tapi ia harus mengalah. Tak boleh mendebat laki-laki itu, karena sekuat apa pun ia berusaha, Kyu Hyun tak akan pernah mau mengubah keputusannya, meski itu untuk kekasihnya. Sejauh ini, Yi Ra tidak mengerti mengapa Kyu Hyun mau menjadi kekasihnya mengingat selama ini Kyu Hyun tak pernah mengucap kata cinta.

“Aku menyukaimu. Aku ingin kau menjadi kekasihku.” Hanya itu yang Kyu Hyun katakan saat meminta Yi Ra menjadi kekasihnya. Tapi Yi Ra seolah menutup mata. Rasa cintanya kepada Kyu Hyun sangat besar dan ia akan melakukan banyak cara untuk mendapatkannya. Salah satunya adalah menyembunyikan sesuatu yang sangat berharga bagi Kyu Hyun dan berencana menyembunyikan hal itu sampai mati.

Yi Ra melembutkan tatapannya, mengaku kalah. Bersikap lunak adalah salah satu cara agar Kyu Hyun tak jera terhadapnya, meski itu bukanlah sikap aslinya. Kim Yi Ra bahkan tak percaya dirinya bisa menyukai seseorang begitu dalam bahkan sampai rela melakukan apapun untuknya.

“Baiklah. Aku akan sangat merindukanmu nanti.”

ㅡㅡㅡㅡ

November 2016. Seoul, South Korea

 

“Selamat pagi, Nona.” Kyu Hyun mengulurkan tangan untuk berjabatan dengan klien barunya. Pertemuan pertama, dan ia begitu bersemangat hingga merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya.

“Selamat pagi. Bisa kita mulai sekarang?” Laki-laki itu mengangguk antusias kemudian menuntun sang klien untuk duduk berhadapan di meja yang sudah mereka pesan.

Pembahasan kerja sama mengenai proyek pariwisata yang diusung perusahaan Kyu Hyun berjalan begitu alot. Pikiran keduanya sulit untuk disatukan mengenai beberapa hal. Meski begitu, Kyu Hyun akhirnya mengalah, berhubung argumen-argumen yang disampaikan sang klien cukup masuk di akal.

“Baik, kita telah sepakat pengerjaan proyek ini akan dimulai sebulan lagi.” Lelaki pemilik mata tajam itu membereskan berkasnya. Setelah selesai, ia menatap sang klien dengan intens. “Kau terlihat kurus,” ujarnya.

“Aku diet.”

Jawaban itu membuat Kyu Hyun secara otomatis mengembuskan napas dengan kasar. “Jangan berbohong, Kim Rae Ah! Tubuh kurusmu lebih terlihat menyedihkan daripada sehat,” tuduhnya. “Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu?”

Kim Rae Ah, sang Klien, menunduk dalam demi menghindari tatapan tajam Kyu Hyun. Padahal, baru seminggu mereka tak bertemu, dan Kyu Hyun menyadari perubahan pada tubuhnya. Seperti cenayang saja.

“Tidak ada yang kupikirkan. Aku hanya—”

“Teruslah berbohong dan kau akan tahu akibatnya,” desis Kyu Hyun memotong ucapan Rae Ah.

Perempuan itu tak mengatakan apa-apa selain berdiri, menimbulkan kernyitan di kening Kyu Hyun. Kernyitan tersebut menghilang begitu Rae Ah duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di pundak laki-laki itu. Menghirup aroma tubuh kekasih gelapnya yang begitu memabukkan, selalu membuatnya kecanduan.

Rae Ah merogoh saku blazer-nya, mengulurkan benda yang ia ambil dari sana, meletakkannya di atas meja. “Kauingat ini?”

Kyu Hyun menoleh, dahinya mengernyit, lalu mengambilnya. Tergagap. Ia pikir, Rae Ah tidak pernah menerima ini, mengingat tidak ada satu pun surat balasan yang datang ke rumahnya. Mengapa Rae Ah tidak menunjukkan ini sejak awal?

“Aku ingat, bahkan setiap kata yang kutulis masih menempel dengan jelas di kepalaku.” Laki-laki itu  menjawab dengan lirih. Begitu pelan hingga terdengar menyayat, sarat akan rasa sedih dan pedih yang telah terpendam begitu lama.

“Aku baru menemukan ini seminggu yang lalu.” Rae Ah mendongak, matanya berserobok dengan netra Kyu Hyun yang seakan menyedot rohnya.

“Kenapa tidak kaukatakan langsung padaku, bahwa kau baru saja menemukan ini?” tuntut Kyu Hyun.

“Aku memerlukan waktu untuk berpikir. Menilik alasan-alasan di baliknya, mengapa dia menyembunyikan surat ini, kenapa ayah dan ibu membeda-bedakan aku dengan kakakku. Semuanya. Aku memerlukan waktu untuk memikirkan semua ini.”

Kilatan bening di mata perempuan itu menyadarkan Kyu Hyun betapa berat satu minggu yang telah dijalaninya, dan ia dengan tak tahu diri malah sibuk mengurus berkas-berkas sialan, yang tentu saja masih bisa diambil alih orang lain. Ia dekap tubuh ringkih itu, menyediakan dadanya sebagai tempat bersandar sang pujaan hati.

“Siapa, Sayang?” Kyu Hyun mengelus rambut Rae Ah dengan lembut, menghujani kepalanya dengan kecupan-kecupan lembut yang menenangkan. “Katakan padaku, Cantik. Siapa yang menyembunyikan surat ini?”

Rae Ah terisak di dadanya. “Yi Ra.”

Tubuh Kyu Hyun menegang, tangannya berhenti mengusap rambut Rae Ah, dan matanya menatap ruang kosong di hadapannya dengan begitu nyalang. Kim Yi Ra? Berani sekali gadis itu mempermainkan takdirnya, mengatur kehidupan cinta mereka.

Sentuhan lembut di tangannya membuat laki-laki itu mengerjap. “Jangan berhenti. Itu sangat menenangkan,” ujar Rae Ah sambil mengusapkan tangan Kyu Hyun pada rambutnya. Ia melepas tangan itu ketika si pemilik mulai mengambil alih.

Rae Ah tidak tahu, seberapa banyak Kyu Hyun mengerahkan tenaga untuk mengendalikan amarah yang menguasai seluruh aliran darahnya, sehingga berkumpul di kepala dan siap untuk diledakkan. Rae Ah juga tidak tahu, bahwa dengan mencium aroma khasnya, mendekap erat tubuh ringkihnya, Kyu Hyun dapat mengendalikan segalanya.

“Lalu,” Kyu Hyun memejamkan matanya, “apa yang kaudapat mengenai orang tuamu, sehingga tubuhmu menyusut begitu banyak?”

Pertanyaan kali ini membuat Rae Ah melingkarkan tangannya di pinggang Kyu Hyun. Bermaksud mencari pegangan, mengingatkan diri bahwa ia masih memiliki sandaran hidup yang lebih dari cukup. Bahwa ada Kyu Hyun yang akan mengisi kehampaan yang timbul akibat terkuaknya sebuah fakta.

“Aku … aku ….”

“Pelan-pelan saja,” ujar Kyu Hyun begitu mendengar isakan tertahan dari mulut si jantung hati.

“Aku bukan anak ayahku … aku … ibuku berselingkuh.”

Dekapannya kian erat, seerat cengkraman di hatinya begitu mendengar informasi tersebut. Kim Rae Ah adalah hidupnya, hatinya seolah ikut merasakan kesakitan yang diderita gadisnya. Dan, dalam diam laki-laki itu ikut menangis.

Kim Rae Ah telah melewati banyak hal menyedihkan. Satu dari banyak hal tersebut adalah pengabaian dari kedua orang tuanya. Sekarang, semua itu terungkap, dan dengan sadis menyiksa batin gadisnya.

“Aku di sini, Sayang. Aku akan selalu menjadi segalanya yang kaubutuhkan.”

“Aku menyedihkan, ‘kan? Aku adalah wanita jalang yang menjadi selingkuhan ….”

“Ssst,” Kyu Hyun melepaskan pelukannya, menatap wajah Rae Ah yang bersimbah air mata. Ibu jarinya mengusap lembut air mata yang terus menganak sungai. Seraya berkata, “Kau bukan wanita jalang. Bukan, Sayang. Kau adalah wanitaku. Wa-ni-ta-ku, mengerti?”

Selepas Kyu Hyun berucap, Rae Ah menubrukkan wajahnya ke dada bidang laki-laki itu, meraup kembali kehangatan yang ia dapat dari sana. Kedua tangannya melingkar dengan kuat, seolah memberi isyarat pada Kyu Hyun agar tidak meninggalkannya. Berharap laki-laki yang ia dekap ini bersedia, untuk selalu menjadi tempatnya bersandar.

Cukup lama mereka berada pada posisi seperti itu, saling mendekap dalam balutan rasa sedih, mengabaikan tatapan-tatapan aneh pengunjung lain. Hingga Kyu Hyun merasa Rae Ah sudah tenang, laki-laki itu mengajak sang perempuan berdiri. Meminta Rae Ah untuk diam dan mengikutinya kemana pun ia pergi.

Ia dapat merasakan ngilu ketika Rae Ah menggenggam tangannya dengan kuat, begitu mereka sampai di depan sebuah rumah, berdiri di depan pintu besar berwarna putih. Pintu yang berdiri angkuh.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Kyu Hyun membuka pintu tersebut, yang sudah bebas ia lewati. Kaki-kaki panjangnya melangkah lebar dengan gesit, berusaha menutup semua indra yang merasakan ketakutan luar biasa pada diri Rae Ah. Ia bertekad untuk menyelesaikan ini sekarang juga. Sudah cukup, sampai di sini saja pengabaian yang diberikan keluarga ini kepada gadisnya.

Sampai di ruang keluarga, Kyu Hyun bersyukur dalam hati, karena semua orang sedang berkumpul. Ia tidak perlu repot mengatakan maksud dan tujuan kedatangannya kali ini. Bersama Rae Ah di genggamannya.

“Kyu Hyun, aku pikir kau tidak akan datang. Kau tidak membaca pesanku,” pekik Yi Ra dengan riang. Rupanya, perempuan itu belum meyadari bahwa tangannya bertautan dengan tangan Rae Ah.

Suasana menjadi mencekam, binar di wajah Yi Ra meredup, cenderung muram. Garis-garis pada wajah tua panutan keluarga ini pun mengeras, sedangkan sang ratu istana matanya membola. Semua orang menatap ke arah tangan Kyu Hyun dan Rae Ah yang saling menggenggam.

Rae Ah menunduk dalam-dalam, tubuhnya mengkeret. Hari penghakimannya telah tiba. Dalam benak ia berpikir, untuk apa Kyu Hyun mengajaknya kemari? Mengapa laki-laki ini tega membuat ia semakin dibenci keluarga ini?

Kyu Hyun mengarahkan pandangannya pada perempuan paruh baya yang ia anggap menjadi sumber penderitaan gadisnya. “Saya akan menikahi putri Anda, Nyonya.”

“Kyu Hyun,” lirih Rae Ah. Kyu Hyun tidak menggubrisnya. Laki-laki itu hanya teraku pada satu titik, pada wajah renta seorang ibu.

“Apa-apaan ini, Kyu Hyun!” pekik Yi Ra. Perempuan itu marah, tak terima atas penghinaan yang Kyu Hyun berikan. Laki-laki itu tunangannya, dan sekarang malah mengatakan akan menikahi adiknya. Adiknya, dan bukan dirinya.

“Mulai saat ini, aku membatalkan pertunangan kita, Kim Yi Ra.” Kyu Hyun menatapa nyalang tunangannya—sekarang mantan. Jika tidak mengingat ada Rae Ah di sampingnya, ia pasti akan memaki perempuan itu habis-habisan, karena telah berani menyembunyikan surat yang seharusnya diterima oleh Rae Ah.

“A-apa? Kenapa?” Yi Ra.

“Karena aku tidak pernah mencintaimu. Satu-satunya alasan aku mendekatimu adalah mata itu, Yi Ra, mata yang sama dengan milik gadis pujaanku sejak sekolah menengah. Senyummu, senyum yang sama dengan gadis pemilik hatiku, yang kukirimi surat cinta sebelum aku pergi ke Amerika.”

Yi Ra semakin terbelalak, wajahnya memerah karena amarah. “Apa maksudmu?”

“Kau menyembunyikan suratku untuk perempuan yang kucintai, Jalang! Kau menghancurkan takdir kami!” hardik Kyu Hyun tanpa memedulikan tatapan nyalang kedua orang tua perempuan itu.

“Jaga bicaramu, Anak Muda!” Peringatan tegas laki-laki paruh baya itu Kyu Hyun abaikan.

“Saya tidak merasa perlu untuk berbaik hati kepada perempuan yang dengan tidak tahu dirinya menyembunyikan suratku,” desis Kyu Hyun.

“Dengana atau tanpa izin keluarga ini, aku tetap akan menikah dengan Rae Ah.”

“Aku tidak akan membiarkan kalian menikah!” teriak ibu Rae Ah.

Kyu Hyun terkekeh sinis. “Silakan saja. Tapi, saya mohon agar Anda bersiap-siap untuk menghadapi serang media, begitu saya membocorkan skandal keluarga ini.”

“Kyu Hyun.” Lagi-lagi Rae Ah ia abaikan. Saat ini, yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan perempuan itu. Masalah ini harus ia selesaikan secepatnya, baru kemudian ia bisa menikahi Rae Ah. Merealisasikan impian yang sejak lama ia pupuk dalam asa.

“Sekarang,” Kyu Hyun melepas cincin di jari manisnya tanpa sedikit pun melonggarkan genggamannya pada tengan Rae Ah, “ikatan yang kumiliki dengan keluarga ini hanyalah Kim Rae Ah. Kita selesai, Kim Yi Ra.”

“Tidak, Kyu Hyun.” Yi Ra mendekat dengan wajah bersimbah air mata tak keruan, membuat Rae Ah menyembunyikan diri di belakang Kyu Hyun.

Setelah menemukan surat itu di kamar Yi Ra, Rae Ah tidak lagi berkeinginan untuk menghormati kakaknya itu. Hanya tersisa amarah yang menggelegak.

“Kyu Hyun,”

“Cukup, Kim Yi Ra!” Yi Ra tersentak, tangisnya kian tersedu. Sementara itu di tempatnya, kedua orang tua Rae Ah menatap nyalang pada Kyu Hyun. Tidak hanya Kyu Hyun, tetapi juga kepada Rae Ah.

Tatapan marah, seolah merendahkan Rae Ah yang telah merebut tunangan anak kesayangan mereka. Baru setelah Kyu Hyun mengucapkan kalimat yang cukup panjang, tatapan mereka melembut. Amarah pun digantikan rasa sesal.

“Anak kesayangan kalian ini, adalah orang yang sangat picik. Membiarkan saya dan Rae Ah tak bisa bersatu, berlama-lama menyalahkan takdir yang memisahkan kami dengan kejam. Dan saya, akan mengambil alih tanggung jawab kalian terhadap Rae Ah. Sudah cukup pengabaian yang ia dapat atas kesalahan ibunya. Saya akan menghujaninya dengan cinta, hingga ia tidak sanggup lagi untuk menampungnya. Detik ini pula, saya akan membawa Rae Ah bersama saya.”

Kyu Hyun berbalik, kembali menyeret Rae Ah. Satu langkah melewati pintu, langkahnya ditahan sekuat tenaga oleh Rae Ah.

“Aku bukan perempuan baik-baik, Kyu Hyun. Aku tidak akan menjadi selinganmu jika aku bukan wanita jalang.”

Kyu Hyun mengembuskan napas dengan kasar. Bernegosiasi dengan Rae Ah biasanya selalu lebih sulit. Ia tangkup wajah Rae Ah, menatap matanya dengan dalam dan penuh keyakinan. Lalu, laki-laki itu berkata, “Bagian mana yang membuatmu berpikir bahwa kau hanya selinganku?”

Rae Ah terdiam. Pikirannya melayang pada setiap momen yang ia miliki bersama Kyu Hyun. rasa-rasanya, tidak pernah sama sekali. Kyu Hyun selalu memprioritaskan dirinya. Bahkan ketika laki-laki itu sedang bersama Yi Ra, hanya dengan kata rindu masuk ke ponselnya, laki-laki itu akan berada di hadapannya dalam waktu singkat.

“Tidak ada, bukan?” tanya Kyu Hyun lembut. Rae Ah terisak lagi, lalu menunduk dalam-dalam.

Kyu Hyun menyadari itu. Rae Ah tidak terlalu sulit ditaklukkan kali ini. Kemudian, dengan lembut ia tarik perempuan itu, merapatkan jarak di antara mereka, menyelimuti sang jantung hati dengan penuh cinta.

“Kita akan menikah, memiliki banyak anak, dan setia sampai mati. Setuju?”

Bisikan Kyu Hyun bak nyanyian indah menyapa telinganya di kala lara melanda. Perempuan itu menjalinkan jari-jarinya di punggung Kyu Hyun, lalu mengangguk kecil.

Ya, hal kecil yang mampu menerbitkan senyum paling bahagia di wajah Kyu Hyun. Senyum yang hanya bisa diciptakan oleh Kim Rae Ah seorang.

 

T A M A T

 

p.s. surat Kyu Hyun untuk Rae Ah akan di-publish secara terpisah. ‘Kan kubagikan kepada kalian pada hari Minggu yang akan datang. See ya!

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

41 thoughts on “The First One”

  1. seandainya ini cerita betulan yaa..
    cuma kasihan sama rae ah, ternyata itu alasan dibalik sikap keluarga ny.. untung ny dia ga dicampakan.. 😁

  2. Kenapa ibu kandung kok tega sekali dengan anak kandung sendiri meskipun rae ah anak hasil selingkuhan ibunya dengan pria lain. Itu kan kesalahan ibu nya sendiri selingkuh dan membuahkan hasil. Kenapa kok tambah membeci anak hasil selingkuhannya sendiri. Kalau ayahnya membenci rae ah wajar karena bukan anak kandung sendiri tapi kalau ibunya itu tidak wajar .

  3. CHOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO kapan aku seperti Rae Ah ??? 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 authorrrr 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘 suka sama karakter may CHO-nya 😗😗

  4. wahhh daebak…
    ini nih kalau dibikin chapter mungkin lbih bguss lagi.
    tapi yg jlas ini nih butuh sequel.

  5. Ibu nya rae ah aneh .. rae ah hadir di dunia ini kan karena kesalahan dia sendiri , tp dia malah benci sama rae ah …
    Untung rae ah punya kyuhyun yg cinta banget sama rae ah

  6. Suka bngt kyuhyun yg kya’ gin, Melindungi wanita yg dy cintai.
    bagaimana dgn kluarga kyuhyun, apakah mreka menerima rae ah?
    Butuh sequel author, msh penasaran ma kisah mreka. Hehe

  7. Berarti kyu ma Rae ah emank sailing suka dari jaman sekolah menengah tapi karena yi Ra mereka Jadi pisah. Nie udah Tamat ya, ga bakal ada sekuel nya ya?

  8. kok gk ada sayang sayang nyaa yaaa
    semua tercurah ke Yi ra nyaa
    hmmmm mampus noh
    cuma harapan palsu yang didapet sama yi ra 😌😌😌

    seneng deh kalo hubungan Rae Ah sama Kyuhyun benar benar sudah jelas 😁😁😁😁

  9. Beruntung nya rae ah mendapat kan cinta yang tulus dari kyuhyun kalo di bikin part kayaknya bgs nih atau sequel pengen lihat mereka nikah dan kyuhyun bilang pengen punya anak yg bnyak jangan omong doang dong kyuhyun buktikan di unggu next nya fighting

  10. Duhduh, ngancemya langsung skak mat
    Haha Kyu Kyu, bisa aja ngegretaknya
    Semoga bahagia selalu ya untuk kalian
    Hihi
    Suratnya ditunggu

  11. Terpesona sama sikap cho kyuhyun.. 😍😍😍😍😍😍

    Tega Bener ada gtu ibu model my. Kim.
    Moga aja deh gak ada model begituan di dunia nyata.. ….

    Buruh sequel ini,, ,pengen liat kyurae nikah trus punya anak banyak sesuai kemauan kyuhyun…
    Pengen liat cinta yg di kasih kyuhyun… Ya ampunn manis bgt, di saat di dalam keluarga tae ah di ga anggap,tapi di jadikan ratu sama kyuhyun.. …

  12. awalnya aku pikir rae ah itu anak adopsi ternyata anak selingkuhan ibunya , apa ayahnya tidak tahu soal itu, dan ibu rae ah kenapa sekejam itu wajar kalau dia benci rae ah kalau rae ah anak selingkuhan suaminya nah ini dia sendiri yang selingkuh

  13. Btw ibunya Rae Ah kan yang selingkuh kenapa pula dia yang malah membenci Rae Ah? Bukan ayahnya? 🤔

    Dan mungkin alasan Yi Ran menyembunyikan surat-surat itu juga karna dia udah suka Kyu Hyun sejak dulu kali ya makanya dia kaya gitu. Karna mata dan senyuman dia yang mirip Rae Ah.

    Soal surat, karna ngga dapet balasan surat dari Rae Ah jadi Kyu Hyun berpikir Rae Ah tidak menyukainya, makanya dia ngga ada pilihan dan mau sama Yi Ran karna dia mirip gitu yak 😂

    Btw ngga ada sequel ini kak???
    Pengen yang manis setelah yang pahit ini 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s