I Wish A Miracle 2/2

image

Anggaplah gambar memiliki korelasi dengan cerita😁

#11yearswithSuperJunior dan tiati typo

Mengapa hidup harus selucu ini?

Setelah banyak tahun kulewati untuk meratapi kepergiannya, banyak tahun kulewati untuk melawan segala kesedihan karena keputusannya meninggalkanku, kini laki-laki itu berdiri di hadapanku dengan seorang anak kecil dan seorang lagi di sampingku.

Haruskah hidup selucu ini?

Sekarang ia tidak tahu bagaimana caranya untuk bernapas. Sekarang ia tahu, bahwa hatinya tidak baik-baik saja meski wajah tampan itu telah berada di hadapannya. Pedih di hatinya kembali seperti baru saja disiram air garam dan yang menyebabkannya adalah kehadiran Kyu Hyun bersama kedua anak kembarnya.

Dad! Aku sudah memberikan selimutnya pada tante cantik ini.” Teriakan gadis kecil di sampingnya membuat Rae Ah mengerjap dan memutus tatapannya dari Kyu Hyun.

Dad, kemarilah! Kenalan dengan tante cantik ini.” Sekali lagi gadis kecil itu berteriak.

Kemudian Rae Ah melihat Kyu Hyun menghampirinya dengan langkah perlahan. Terlihat ragu. Jantung Rae Ah serasa diremas dan paru-parunya menjadi sulit untuk berfungsi. Caranya berjalan masih sama seperti beberapa tahun lalu, sangat memesonakan siapa saja yang melihatnya. Seandainya keadaan berbeda, Rae Ah yakin akan langsung membenamkan diri di dada bidangnya yang keras.

“Senang bertemu denganmu lagi, Kim Rae Ah.” Bahkan suaranya masih sama indah dengan lima tahun yang lalu.

“Bagaimana kabarmu?” Rae Ah tidak mengerti mengapa lidahnya terasa begitu kelu. Aku tidak baik. Ia ingin mengatakan itu, tapi hanya sampai tenggorokan saja.

“Kim Rae Ah,” ya, panggil terus namaku.

Bahkan dinginnya udara tak lagi sedingin hatinya. Takdir seperti apa yang sedang ia jalani sekarang? Mengapa setelah lima tahun berlalu, Kyu Hyun dan perempuan yang diciumnya kembali hadir di kehidupannya?

“Tante kenapa diam saja?” karena aku merindukannya hingga terasa menyakitkan.

“A-aku harus pergi.” Tak tahu dikendalikan oleh apa tubuhnya ini hingga ia memiliki kekuatan yang sangat hebat untuk berbalik dan menjauh dari Kyu Hyun dan kedua anak kembarnya.

Rae Ah terus menangis di sepanjang perjalanan menuju tempat mobilnya diparkir. Bahkan ketika ia menyalakan mesin dan menjalankan mobil tersebut untuk membelah jalanan dan sampai di pelataran rumah, gadis itu masih terisak. Semakin terisak ketika tubuhnya meluruh di atas lantai kamarnya yang dingin.

Hatinya sangat sakit melihat Kyu Hyun bersama kedua anaknya. Hasil pernikahan dengan siapa? Apakah dengan gadis yang diciumnya sehari setelah Kyu Hyun memutuskan hubungan mereka, lima tahun lalu? Kenapa gadis itu datang ke rumahnya bersama Si Won?

“Kim Rae Ah, Honey, buka pintunya!” Rae Ah tidak mengindahkan teriakan Ki Bum beserta gedoran di pintunya. Saat ini ia hanya ingin sendiri dan kalau bisa menghilang dari peredaran. Ia ingin mati. Mati. Setelah lima tahun berharap dan laki-laki itu ternyata telah berbahagia, tak ada lagi harapan akan keajaiban menghampirinya.

“Sweetheart, aku mohon maafkan aku. Buka pintunya dan kita bicara.” Kali ini Rae Ah mendengar Si Won yang memohon dan Rae Ah tak peduli. Si Won memarahinya karena gadis itu, memilihnya, sama seperti Kyu Hyun yang menghancurkan cintanya, hidupnya, demi gadis yang tak tak ingin Rae Ah sebutkan namanya itu.

Dulu, Rae Ah terbiasa oleh kehadiran Kyu Hyun. Rae Ah sangat mencintai Kyu Hyun, tapi Kyu Hyun menghancurkannya karena gadis itu. Sekarang, Rae Ah sangat menyayangi Si Won yang membantunya bangkit dari keterpurukan, bersama Ki Bum menopang hidupnya yang tak pernah lagi sama sejak kepergian Kyu Hyun. Akhirnya, Si Won juga memilih gadis itu.

Rae Ah meraung dan semakin keras raungannya bersamaan dengan tangannya yang mengepal, memukul-mukul dadanya. Di sana rasanya begitu sesak dan ia tak sanggup untuk bernapas. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

“Buka pintunya atau aku akan menelepon paman?!” Teriakan Ki Bum yang mengancam akan memanggil pamannya bahkan tak ia hiraukan. Paman yang Ki Bum maksud adalah seorang psikiater yang pernah merawatnya selama enam bulan setelah kepergian Kyu Hyun. Choi Ki Jung, adik dari Choi Ki Ho, ayah kandung Si Won. Rae Ah tidak ingin lagi berurusan dengannya. Bukan karena membencinya, tapi karena Rae Ah tidak ingin mengingat bahwa dirinya pernah menjadi orang gila. Meski Ki Bum selalu mengatakan bahwa ia hanya depresi, baginya itu sama saja dengan gila. Tak berakal.

Rae Ah hanya ingin menangis. Apalagi ketika melihat wajah bahagia gadis kecil yang bernama Cho Hyun-Ae itu memanggil ayahnya. Kyu Hyun telah bahagia bersama kedua anaknya. Kyu Hyun bahagia dan Rae Ah menderita.

Orang-orang selalu mengatakan bahwa mencintai tak harus memiliki dan bahagia melihatnya bahagia meski bukan bersama kita. Omong kosong. Rae Ah tidak bahagia melihat Kyu Hyun bahagia bersama orang lain. Rae Ah ingin Kyu Hyun hanya bahagia ketika bersama dirinya. Hanya dirinya.

Kesedihan itu berlangsung selama berjam-jam, hingga Rae Ah tak lagi mendengar teriakan Ki Bum atau pun Si Won di luar, hingga matanya tak sanggup lagi untuk mengeluarkan air mata, dan mulai terpejam ketika jam di dinding menunjukkan hari telah berganti. Knop pintu yang diputar tak lagi dapat ditangkap indera pendengarnya karena yang ia tahu, ketika membuka mata beberapa jam kemudian, ia telah berada di atas tempat tidurnya. Susu cokelat kesukaanya masih mengepul di atas meja ketika ia berpaling ke arah kanan, bersama dengan sop daging yang juga masih mengepul.

Kepalanya terasa berat dan sakit saat ia memutuskan untuk duduk. Sakitnya semakin menjadi ketika bayangan Kyu Hyun menggendong anak kecil kembali melintas di kepalanya. Sialan.

“Sudah bangun?” Ki Bum muncul dari luar dengan wajah kusut. Rae Ah yakin sekali kakak laki-lakinya itu tak tidur semalaman. Pemikiran itu menohok hatinya. Dulu, selama hampir satu tahun, Ki Bum mengabaikan dirinya sendiri demi menjaga Rae Ah. Apakah sekarang Rae Ah akan membuat Ki Bum seperti itu lagi?

Tidak.

“Maafkan aku,” gumam Rae Ah lirih.

Ki Bum duduk di sampingnya, mengusap wajah dan kepalanya dengan lembut. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di luar sana. Katakan padaku, aku tidak ingin kau seperti ini lagi,” ujar Ki Bum dengan lembut.

Rae Ah mulai terisak lagi. Wajah Kyu Hyun yang ia temui kemarin kembali terbayang dan hatinya sangat sakit. Tapi ia tahu, memendam perasaannya untuk diri sendiri sama saja ia harus kembali pada masa kelamnya.

“Aku bertemu dengaannya, Ki Bum. Dia bahagia. Dan aku menderita,” jawab Rae Ah dengan isakan yang membuat amarah dalam diri Ki Bum memuncak dalam sekejap.

“Kyu Hyun?” Rae Ah mengangguk. Ki Bum merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya secara spontan.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, Sweetheart? Membunuhnya?” Rae Ah menggeleng keras. Ia dapat merasakan amarah yang begitu besar dari cara Ki Bum bernapas.

“Aku tidak ingin kau mengotori tanganmu. Untuk sekarang, aku hanya ingin menangis di sini, di dadamu.”

“Ya, aku izinkan. Tapi hanya untuk hari ini. Aku tidak ingin kau menangis lagi nanti,” kata Ki Bum dengan kemarahan yang masih menggelegak. Rae Ah tidak mengangguk atau pun menggeleng karena ia tidak tahu apakah bisa melakukannya atau tidak.

Sekarang, yang ia inginkan hanyalah berlindung di dalam pelukan hangat Ki Bum, satu-satunya orang yang tulus dan menjaganya sepenuh hati.

¶¶¶

Seminggu sejak bertemu dengan Kyu Hyun, Rae Ah kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan yang dicintainya. Gadis itu bekerja sebagai interior designer di salah satu anak perusahaan keluarganya.

“Ada tamu untukmu,” ujar Ye In, asisten pribadinya. Rae Ah tersenyum sekilas lalu mengangguk, memberikan isyarat agar Ye In membawa tamunya masuk.

Rae Ah merapikan mejanya selagi Ye In memanggil tamu itu. Seminggu ini hati dan pikirannya sama-sama penuh. Hatinya penuh oleh rasa sakit sedangkan pikirannya penuh dengan pekerjaan yang ia buat sendiri.

“Selamat siang, Kim Rae Ah-ssi.” Suara itu membuat tubuh Rae Ah membeku, begitu berat untuk mengangkat kepalanya. Hanya mendengar suara laki-laki itu, hatinya yang sakit kini bertambah sakit.

Lelucon apa lagi ini?

“Kim Rae Ah-ssi,” panggil laki-laki itu, berusaha membawa Rae Ah kembali ke dalam dunianya yang nyata.

Rae Ah mengerjap kemudian memasang wajahnya yang datar, yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun setelah kepergian Kyu Hyun.

“Silakan duduk, Tuan.” Rae Ah memberi petunjuk pada Kyu Hyun dengan tangannya agar laki-laki itu duduk di sofa berwarna hitam yang disediakan untuk menerima tamu. Kyu Hyun mengikutinya dan mereka duduk saling berhadapan. Sejauh ini, jantung Rae Ah berdetak tak karuan. Entah untuk perasaannya yang dulu atau untul rasa marahnya.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kyu Hyun lembut. Matanya yang sendu menyiratkan kerinduan mendalam. Rae Ah bisa melihat hal itu tetapi sakit di hatinya membuat ia memilih untuk menutup mata.

Kyu Hyun hidup bahagia dan Rae Ah tak memiliki alasan apa pun untuk mengharapkan laki-laki itu kembali ke pelukannya.

“Saya baik,” jawabnya sambil tersenyum simpul, “Anda terlihat sangat baik, jadi saya tidak perlu bertanya, kan?” Kalau Kyu Hyun adalah seseorang yang memiliki tingkat kepekaan yang tinggi, ia dapat merasakan nada menyindir dari kalimat itu.

Dan Kyu Hyun menyadarinya.

“Maafkan aku untuk lima tahun yang lalu,” ujar Kyu Hyun lirih.

Terlambat.

Rae Ah ingin menangis saat ini juga. Tapi ia sadar, menangisi Kyu Hyun adalah hal yang sia-sia untuk sekarang. Laki-laki itu hidup bahagia dan dengan tak tahu dirinya meminta maaf setelah lima tahun yang berat Rae Ah lalui.

“Apa yang terjadi lima tahun lalu, Tuan?” tanya Rae Ah sarkastik dan Kyu Hyun menghela napas berat.

Kyu Hyun sangat paham. Ketika ia memutuskan untuk meninggalkan Rae Ah, perlakuan seperti ini akan diterimanya. Ia telah menyiapkan hatinya sejak lama. Meski begitu, ia tetap merasakan sakit kala Rae Ah berlaku seolah mereka tak saling mengenal. Kyu Hyun sadar, ia tidak pernah bisa meneriman kenyataan bahwa ia telah menyakiti gadisnya, dan ia sekarang sedang mendapat balasannya.

“Aku terpaksa meninggalkanmu,” suara Kyu Hyun bergetar, “Kim Yi Ra menderita leukimia. Dia tidak mau menjalani operasi kecuali aku menikahinya. Yi Ra temanku sejak kecil dan dia sangat berarti untukku.”

Rae Ah berpikir ia bisa melewati pertemuan ini tanpa tangis. Namun, ucapan Kyu Hyun benar-benar mengiris hatinya. Tanpa mengatakan apa-apa, Rae Ah menggambil gagang telepon, menempelkan benda itu ke telinga sambil tangannya yang lain menekan angka yang akan langsung terhubung kepada seseorang.

“Jangan ada yang menggangguku selama aku belum mempersilakan. Apapun yang terjadi, jangan pernah membuka pintunya.” Rae Ah menutup telepon tanpa memberi kesempatan pada Ye In, orang yang ia hubungi, untuk bertanya.

Rae Ah kembali pada Kyu Hyun dan menenukan tatapan sendu itu lagi. Jari-jarinya mulai bergetar. Perlahan diletakkannya kedua tangannya di atas pangkuan agar Kyu Hyun tak menyadari keanehan pada dirinya.

“Jadi, aku tidak pernah berarti untukmu makanya kau memilih untuk menikahinya?”

Kyu Hyun menunduk dalam. Kim Rae Ah bukan lagi sosok yang ia kenal lima tahun lalu. Tanpa ada yang memberithunya, ia tahu, penyebab gadis itu berubah adalah dirinya. Ia meninggalkan Rae Ah di saat cinta tengah mengepakkan sayapnya dengan kuat di antara mereka. Ia bisa melihat pancaran cinta yang besar di mata Rae Ah ketika gadis itu menatapnya.

“Tidak, sweetheart. Kau berarti untukku. Sangat berarti. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu.”

“Kalau begitu, cintamu tidak cukup besar untuk membuatmu tetap bersamaku,” desisnya. Tubuhnya semakin gemetaran. Sesungguhnya Rae Ah tak sanggup melakukan pembicaraan ini lebih lama, tapi ia terus mengucapkan kata-kata hipnotis dalan otaknya. Bahwa ia harus menghadapi Kyu Hyun dan menyelesaikan segalanya lalu mengusir laki-laki itu dari hadapannya.

Rae Ah menghela napas kuat. “Aku menderita. Aku membuat Ki Bum menderita. Selama lima tahun aku berharap bahwa keajaiban akan datang ㅡkau datang padaku dan meminta kembali, dan aku akan kembali padamu dengan hati lapang.” Air mata kini telah menganak sungai di wajahnya. Ditatapnya Kyu Hyun lurus-lurus.

“Malam itu, ketika seorang gadis kecil memberiku selimut dan menemukan bahwa dia adalah anakmu, aku tahu keajaiban itu takkan pernah datang padaku. Kau hidup bahagia… dan aku menderita.”

Sesaat setelah itu, Rae Ah tak lagi sanggup menahan diri. Ia menumpukan kedua sikunya di lutut. Kedua tangannya mencengkram kuat rambut-rambutnya. Persis seperti lima tahun lalu. Jiwanya tak sanggup menanggung beban pikiran yang begitu berat.

Kehadiran Kyu Hyun bersama dengan penjelasannya membuat Rae Ah tak sanggup menahan hantaman di hati dan pikirannya. Bayangan-bayangan ketika laki-laki itu meninggalkannya, mencampakkannya, dan mencium perempuan lain, menjadi serangan dahsyat untuk otaknya yang pernah menderita.

Melihat Rae Ah menyiksa dirinya sendiri membuat Kyu Hyun kelimpungan. Laki-laki itu mendekat, meraih kedua tangan Rae Ah yang terus-menerus menjambak rambutnya. Tangan gadis itu begitu keras. Kyu Hyun membawa Rae Ah ke dalam pelukannya begitu terdengar erangan yang menyakitkan.

Rae Ah terus memberontak dalam pelukan Kyu Hyun. Sekeras apapun ia berusaha, tetap saja tak bisa memikirkan bayangan-bayangan mengerikan itu. Ia ingin Kyu Hyun pergi dan bukan melihatnya seperti ini. Dalam kondisi yang sangat memalukan.

Gadis itu terisak. Pemberontakannya mulai melemah. Ia tahu sekuat apa tenaga Kyu Hyun dan ia juga mulai lelah untuk melakukannya. Sekarang, di setengah kesadarannya, Rae Ah berdoa semoga hatinya tetap kuat untuk membenci Kyu Hyun.

Sementara itu, Kyu Hyun tak tahu harus melakukan apa selain memeluk Rae Ah erat-erat dan menciumi puncak kepala gadis itu. Kyu Hyun pikir, selama ini dirinyalah yang paling menderita. Namun, melihat Rae Ah yang tak bisa mengontrol emosi membuatnya sadar bahwa gadis inilah yang paling menderita. Kyu Hyun menangis. Setelah lima tahun berlalu, Kim Rae Ah selalu menjadi kelemahan terbesarnya. Selalu.

“Maafkan aku,” lirih Kyu Hyun. Tak ada suara apapun lagi. Rae Ah tak menyahut. Rae Ah telah kehilangan kesadarannya dan Kyu Hyun panik. Laki-laki itu segera membopong Rae Ah, mengabaikan banyak mata yang memandangnya dengan penuh tanya.

Lantaran kepanikannya itu, Kyu Hyun berubah menjadi seorang yang idiot karena lebih memilih turun lewat tangga daripada menggunakan elevator khusus. Padahal, sampai Menara Pisa pindah ke Frankfurt pun, menuruni undakan tangga yang berjumlah ratusan tak akan bisa mengalahkan kemampuan elevator membawanya ke lantai dasar.

Peluh membanjiri selurub wajahnya ketika ia sampai dan siap di belakang kemudi untuk membawa Rae Ah ke rumah sakit. Kyu Hyun memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Membelah jalanan yang lengang karena sekarang bukanlah jam sibuk lalu lintas. Peluh masih membanjiri wajahnya ketika ia menepikan mobil di depan pintu IGD rumah sakit terdekat.

Keluar dari mobil, Kyu Hyun berteriak dan perawat langsung berhamburan ke arahnya dengan membawa brankar. Tak menunggu waktu lama bagi Rae Ah untuk mendapatkan pemeriksaan dokter. Cho Kyu Hyun berasal dari keluarga terpandang di Seoul sehingga ketika Kyu Hyun mengurus administrasi, Rae Ah langsung mendapatkan pelayanan VVIP.

¶¶¶

Detik demi detik yang berlalu terasa begitu lambat. Di dalam ruangan VIP yang luas dengan AC terbaik ini, Kyu Hyun merasakan kehampaan yang menyesakkan. Ia membiarkan dirinya sendiri menderita selama ini dengan meninggalkan Rae Ah. Ia pikir, Rae Ah akan berbahagia tapi ternyata tidak.

Rae Ah lebih menderita daripada dirinya sendiri.

Dokter Han, nama lengkapnya Han Gyu Jin, mengatakan bahwa beberapa tahun lalu, Rae Ah pernah mencoba membunuh dirinya sendiri dan mengalami depresi. Dokter Han sendiri yang merekomendasikan Choi Ki Jung untuk merawat Rae Ah. Peristiwa kolapsnya Rae Ah hari ini, menurut dokter dari hasil keterangan yang Kyu Hyun berikan, kemungkinan besar dapat memicu kembali depresinya.

Setelah lima jam, Kyu Hyun hanya berdiri di samping Rae Ah yang tertidur. Sekarang ia telah menjadi seorang idiot yang sesungguhnya karena menangis sambil berdiri selama berjam-jam. Padahal, di ruangan ini ada sofa panjang berwarna putih yang berfungsi untuk duduk.  Oh, bahkan Kyu Hyun telah menjadi seorang yang tolot sejak ia berbalik meninggalkan Rae Ah.

Mata Kyu Hyun yang telah kehilangan binarnya sejak lima tahun lalu ㅡkecuali jika berhadapan dengan kedua anaknyaㅡ tak pernah berpaling sedikit pun dari Rae Ah. Kyu Hyun tak ingin melewatkan gerakan dari tubuh perempuan itu. Selain itu, ia juga ingin memandanginya sebagai ganti atas lima tahun yang telah terbuang sia-sia.

Jam kembali berganti. Kali ini, Kyu Hyun telah duduk di samping Rae Ah. Digenggamnya tangan mungil itu dengan hati-hati dan dicium. Oh, tangannya sangat lembut dan Kyu Hyun rindu menggenggam tangan ini ketika ia dan sang pemilik berjalan beriringan. Setelah kejadian ini, masih bisakah mereka kembali? Masih adakah kesempatan untuk Kyu Hyun? Kyu Hyun mendesah keras.

Di tengah lamunannya, Kyu Hyun merasakan jari-jari mungil Rae Ah bergerak bersamaan dengan matanya yang mengerjap. Kim Rae Ah telah membuka mata dan Kyu Hyun masih menggenggam tangannya. Mata gadis itu mengedar ke seluruh ruangan dan berhenti pada tatapan Kyu Hyun.

Kyu Hyun menahan napas, menantikan reaksi Rae Ah kemudian. Namun, setelah beberapa saat berlalu, tidak ada yang Rae Ah lakukan selain menatap mata Kyu Hyun lurus-lurus ㅡdan tajam. Kyu Hyun tidak tahu bahwa Rae Ah memiliki tatapan yang mengintimidasi semacam itu, karena selama mereka bersama, Rae Ah selalu menatapnya dengan penuh cinta dan kelembutan.

“Kim Rae Ah,” Kyu Hyun akhirnya memecah keheningan. Suaranya amat lirih.

Get f*cking out of here!” desis Rae Ah sambil memalingkan wajahnya. Demi segala makhluk hidup yang berada di muka bumi, Rae Ah tak ingin kembali mengalami masa-masa berat itu. Melihat Kyu Hyun, sama dengan mengorek luka lama yang tak pernah sembuh. Rae Ah tidak ingin kembali gila dan membuat Ki Bum menderita.

I’m not going anywhere,” balas Kyu Hyun lembut. Tangannya masih menggenggam tangan Rae Ah dan ia tersenyum dalam hati karena Rae Ah tidak berusaha untuk melepasnya.

I don’t want to see you in my life anymore. Get out! Right. F*cking. NOW!” Teriakan Rae Ah membuat Kyu Hyun gelagapan. Laki-laki itu berdiri, tapi bukan untuk keluar melainkan untuk mendekat.

Give me a chance. Please, I beg you.” Kyu Hyun mengusap puncak kepala Rae Ah namun gadis itu berpaling. Rae Ah tidak ingin disentuh dan Kyu Hyun melepasnya dengan berat hati.

“Tidak ada kesempatan untukmu, Mister!”

“Rae,”

“Kesempatan untukmu telah hilang sejak kau berbalik, memunggungi dan meninggalkanku. Jadi, kumohon, pergilah!” ujar Rae Ah tanpa mau melihat wajah Kyu Hyun.

Kyu Hyun terdiam. Laki-laki itu jelas tidak akan pernah menyerah. Cukup lima tahun ini ia menjadi seorang yang tolol. Sekarang, tak peduli seberat apa nantinya, ia akan berjuang untuk mendapatkan Rae Ah kembali di dalam pelukannya.

“Kumohon,” Rae Ah menoleh dan menatap Kyu Hyun dengan tatapan yang memelas “aku tidak ingin melihatmu. Aku benar-benar membencimu. Pergilah!” Melihat mata Rae Ah yang berkaca-kaca, Kyu Hyun tak sanggup lagi untuk terus membalas tatapab itu. Ia menghembuskan napas dengan kasar lalu menunduk.

Kyu Hyun memejamkan matanya, menenangkan segala gejolak yang terjadi dalam benak, kemudian membuka mata dan menatap Rae Ah. “Baik, aku akan pergi dari ruangan ini, tapi tidak dari hidupmu.”

Rae Ah menatap kepergian Kyu Hyun dengan air mata yang mulai mengalir. Selama ini, ia membayangkan akan kembali pada laki-laki itu. Namun, kenyataan yang didapat justru membuat hatinya mengeras. Rae Ah tak lagi mengharapkan keajaiban semacam itu. Yang Rae Ah inginkan sekarang adalah melenyapkan diri dari muka bumi karena tak sanggup menahan kesedihannya. Bisa saja Rae Ah dengan mudah merentangkan tangan dan menyambut kedatangan Kyu Hyun. Namun, ia tidak ingin mengambil resiko dengan kembali ditinggalkan.

Kyu Hyun menutup pintu ruang rawat Rae Ah yang penuh dengan isak tangis gadis itu. Kyu Hyun tahu Rae Ah masih memiliki rasa cinta untuknya. Maka dari itu, Kyu Hyun takkan berhenti berjuang. Ia bersumpah demi kedua anak kembar yang sangat disayanginya, ia akan mendapatkan Rae Ah kembali.

Sumpah itu diamini oleh embusan angin yang sangat kencang. Kyu Hyun tahu, alam merestui.

THE END

Wassup! Long time no see! Hihi
IWAM tamaaaat! Eitss, jangan protes dulu sama ending yang begini. Coba kalian pahami dan renungkan, maka kalian akan menemukan jawabannya. Yeap! Ada lanjutannya!!! HAHA

BTW, aku publish ini bersamaan dengan hari jadi Super Junior yang ke-11 dan hari jadi aku sebagai upil mereka yang ke 6 tahun lebih 5 (6+5=11, kan?) Wkwk

Aku juga minta maaf nih gak bisa memenuhi harapan kalian untuk update regularly. Aku lagi nyusun skripsi dan kerja juga. Jadi, fiksi kalo lagi senggang aja. Hehe
btw, thanks ya selama ini buat yang masih setia nunggu aku. Makasih juga buat kalian-kalian yang kirim chat di FP buat ngingetin kalo aku masih banyak utang. I love you!

Oiya, Heartless meluncur setelah ini ya. Entah besok entah lusa. ditunggu aja. Udah 60% aku ketik kok.

See ya!

P.s. aku ngetik di hp jadi maklumin ya kalo dikit dan banyak typo hihi

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

12 thoughts on “I Wish A Miracle 2/2”

  1. Iiiihhh kok cuma gt aja, hehhehehe sedih tau bikin endingnya gantung, tp bagus ceritanya. Di mohon untuk ada sequelnya heheheh tp mereka ga usah bersama. Biar kyuhyun yg jd gila heeheheheheh.

  2. Tinggal nunggu sequel,soon i hope…..
    So far puas sama endingnya, walopun sama2 menderita. Kyu mesti berjuang sekuat tenaga lagi buat dapetin hati rae ah lagi,sampai mengemis lo perlu. setelah 5 tahun penuh kesakitan yg dilalui rae ah,enak banget lo kyu dima’afin gitu aja.
    Istrinya kyu udah mati kan? Enak banget dia udah ngerebut & bisa milikin kyu akhir,akhor hidupnya sendiri.bukannya jahat / g punya empati , tapi q benci sama orang yg manfaatin kelemahannya (sakitnya) buat melampiaskan egonya sendiri & bikin orang lain menderita.
    Kurang suka juga sama anak kembar kyu, bukannya g punya belas kasihan ma anak2 yg g tau apa2 tapi kehadiran mereka akan selalu ngingetin masa lalu yg kelam. Tiap ngliat mereka pasti berasa ngliat ibunya,berikut kehancuran yg udah dia & kyu buat dalam hidup rae ah,…

  3. gak ngerti maksudnya apa ? kenapa yi ra bisa pacaran sama siwon dia kan sudah menikah dan punya anak ? mereka menikah ? kenapa harus dengan cara menikah untuk membuat yora mau di operasi ? kenapa gak terus terang saja sama rae ah masalah yi ra dan leukimia nya ?

  4. Awal mulanya kenapa Rae Ah bisa ketemu Kyuhyun lagi? Bahkan dg anaknya juga. Petrtemuan itu tidak sengaja atau sengaja, apa sudah rencanakan? Soalnya Kyuhyun pertama ketemu lagi sama Rae Ah reaksi dia gk terkejut sama sekali.

    Kyuhyun bilang dia akan berjuang kembali dg Rae Ah, lalu bagaimana Siwon? Dan anak kembarnya, apa mereka menerima Rae Ah nanti. Rae Ah juga, apa dia bersedia kembali lagi sedangkan Kyuhyun bahkan sudah menyakitinya terlalu banyak tanpa penjelasan dari dia yang langsung meninggalkannya.

      1. di tunggu author jujur aku kurang puas, maksudnya terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab dan gak bisa di jawab kecuali ada lanjutan atau extra part yang bisa menjelaskan semuanya. bukannya aku gak mikir atau merenung seperti yang author bilang tapi aku benar2 blank gak ngerti meskipun berpikir dan merenung berkali 2. dan aku pikir ini FF chapter ternyata cuma two shoot.

  5. Maaf….koment duluan disini. Belum baca part satu wkwkwk….tpi gpp ntar aja ya.

    Sejujur nya apa pun alasan Kyu ttp aja dia udah ninggalin rae ah. Udah pnya bibit dri orang lain lgi siapa yg gk akan sakit hati coba. Lebih parahnya lgi dulu Kyu lngsung berciuman dgn wanita lain sehari stlah putus. Woah bener” kejam.
    Semangat ya….nulis nya.

    Oh ya….sampai lupa. Kita belum kenalan udah main nyablak aja. Saya pengunjung baru disini,,salam kenal ya. Lyn.

  6. kalau gue jadi lu thor , gue sih ogah biarin mereka bersatu -”
    rae ah , gue bikin pergi ninggalin kyuhyun terus nikah sama yang lain dan bahagia , sedangkan kyuhyun menderita .
    soal nya udah ketauan kyuhyun gak cinta sama rae ah *menurut gue . kalau dia cinta , gak bakal dia ninggalin cewe yang dia cinta demi temen nya dengan alesan apapun itu .
    udah ketauan temen nya dia lebih berarti and lebih penting dari rae ah , rae ah dibandingin sama temen nya kyuhyun gak ada apa apa nya .
    kalau dia pengen temen nya dia itu ikut kemo apa segala macem , gak harus ninggalin cewe nya , cari jalan keluar lain yang bisa bikin semua nya bahagia .
    kalau dia ninggalin cewe yang kata nya dia cinta cuma buat temen nya , berarti rae ah gak lebih penting dari temen nya itu .

    sorry , kebawa emosi -“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s