Fate Part 13 [END]

inshot_20160705_144110.jpg

 

Hai! Akhirnya, ketemu sama bagian terakhir FF ini ya^^ Typo udah sebisa mungkin aku kurangin. Maaf kalau masih ada. Maaf juga kalau ini gak sesuai ekspektasi.

Ekspektasi sama realita gak pernah sejalan. Jadi, kalau yang memegang prinsip itu, pasti gak akan kecewa banget lah ya baca ini hihi peace.

Eiya, tanya dongsss. kalau aku buka PO kedua buat novel the possibility, pada mau nggak? Kalau mau komen yaaa kalau yang maunya banyak aku nanti buka POnya lagi.

Enjoy!

_o0o_

 

Sweetheart, bangun.” Kyu Hyun berbisik lembut untuk membangunkan Rae Ah yang terlelap. Mereka baru saja sampai di pelataran parkir rumah sakit.

Rae Ah menggeliat pelan, mendongak untuk menatap wajah Kyu Hyun yang terlihat kelelahan tapi tetap tersenyum manis. Rae Ah tahu Kyu Hyun tidak tidur selama di perjalanan hanya untuk menjaganya. Tiba-tiba saja ia ingin menangis mendapat perlakuan seperti ini dari Kyu Hyun. Cinta laki-laki itu untuknya terlihat begitu nyata.

“Hei, kenapa menangis?”

Rae Ah tidak sadar bahwa air matanya telah mengalir membasahi wajahnya. Gadis itu tersenyum meski air matanya tetap mengalir. Digenggamnya tangan Kyu Hyun yang bertengger di depan wajahnya. “Aku rasa, Chan Yeol tidak akan marah kalau aku melupakannya.”

Kyu Hyun mencium bibir Rae Ah sekilas, “Jangan dilupakan. Chan Yeol bukan orang yang pantas untuk dilupakan.”

“Kau benar. Tapi aku yakin, dia tidak akan marah kalau aku tidak ingin berpisah darimu.”

“Menggombal setelah bangun tidur, eh?” Rae Ah tertawa dan menepis tangan Kyu Hyun yang menjawil hidungnya. “Simpan gombalanmu untuk nanti, Princess. Sekarang saatnya untuk kau menemui keluargamu.”

Ucapan Kyu Hyun membuat Rae Ah kembali pada realita yang sedang dihadapinya. Wajahnya berubah sendu dan matanya menatap Kyu Hyun dengan tatapan memelas. “Kau akan bersamaku, kan?”

“Selalu,” jawab Kyu Hyun. Senyum itu kembali terbit di wajah Rae Ah. “Nah, sekarang ayo turun.”

o0o

“Ki Bum!” mendengar adiknya memanggil, Ki Bum mengangkat wajahnya dan langsung berdiri begitu melihat Rae Ah berlari ke arahnya. Dalam sekejap gadis itu telah berada dalam pelukannya dan menangis. Ki Bum melingkarkan tangannya di sekitar tubuh Rae Ah, menyembunyikan tangis sang adik di dadanya.

Ki Bum terkejut melihat Kyu Hyun berdiri beberapa meter di hadapannya. Kyu Hyun ada di sini dan datang bersamaan dengan Rae Ah. “Bagaimana–” sial! Ki Bum melupakan peristiwa ketika Kyu Hyun  berbicara padanya di telepon menggantikan Rae Ah.

“Ki Bum, bagaimana keadaan ayah?” tanya Rae Ah tak sabaran sambil melepaskan dirinya dari kungkungan tangan Ki Bum. Ki Bum memutus tatapannya dengan Kyu Hyun dan mengalihkannnya pada Rae Ah.

“Kata dokter, ayah dalam keadaan kritis. Kita harus menunggunya hingga lima jam ke depan. Kalau selama itu masa kritisnya belum lewat, ayah…”

“Ibu dan Jong Woon oppa mana?” tanya Rae Ah lirih. Gadis itu menahan sesak yang menyerang dadanya begitu mengetahui kondisi sang ayah.

“Mereka di dalam.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Rae Ah memasuki ruangan tempat di ayahnya dirawat.

Sepeninggal Rae Ah, Kyu Hyun menghampiri Ki Bum lalu mengulurkan tangannya. Ki Bum menyambut uluran tangan Kyu Hyun kemudian mereka saling menjabat layaknya sahabat yang telah lama tak bersua.

“Aku bersyukur kau ada di sampingnya ketika dia mendengar kabar itu.”

Kyu Hyun tersenyum, melepas jabatan tangan mereka lalu duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat dan menyandarkan tubuhnya. Ki Bum melakukan hal yang sama.

“Aku juga bersyukur untuk itu. Kau tidak tahu bagaimana kalutnya dia setelah menerima telepon darimu.”

“Jong Woon hyung  melarangku untuk memberitahunya, tapi aku sangat mengenal watak Rae Ah. Dia tidak akan memaafkanku jika aku membuatnya melewatkan peristiwa ini.”

“Minimal dia akan menendang selangkanganmu. Paling parah, dia akan menutup segala akses yang kita miliki untuk menghubunginya.” Kyu Hyun tahu hal itu adalah hal yang tak akan pernah diinginkan oleh Ki Bum.

Seorang kakak di belahan mana pun tidak akan mau kehilangan adiknya.

“Bercandamu tidak lucu. Well, aku bersyukur karena Rae Ah memilikimu di sampingnya saat ini. Kau tidak tahu bagaimana dia menyiksa dirinya sendiri setelah kepergian Chan Yeol.”

Kyu Hyun menghela napas berat. Ia kembali merasakan perasaan bersalah itu. “Itu salahku karena lebih mementingkan egoku. Seharusnya aku mengesampingkan urusanku di sana dan menemaninya melewati masa sulit setelah kepergian Chan Yeol.”

Ki Bum tertawa lirih. “Aku tidak menyangka, laki-laki yang kelihatannya sealu ceria itu memiliki takdir yang begitu pendek. Kau tahu, aku menyukainya karena dia berhasil membuat adikku selalu tersenyum.”

“Jadi, kau tidak menyukaiku?”

“Untuk beberapa alasan, ya, aku tidak menyukaimu. Tapi aku juga tidak bisa menutup mataku terhadap apa yang kau lakukan padanya.” Jawaban Ki Bum membuat Kyu Hyun menyeringai. “Apa pun alasanmu, aku harap kau mulai menyukaiku karena kami sudah resmi menjadi pasangan.”

“Aku tidak terkejut. Aku akan menyukai siapa aja yang berhasil membuat adikku kembali tersenyum dan melupakan Chan Yeol,” ujar Ki Bum.

“Aku tidak akan membuat Rae Ah melupakan Chan Yeol karena bagaimana pun Chan Yeol adalah bagian dari hidupnya –hidup kami.” Balasan diplomatis yang dilontarkan oleh Kyu Hyun membuat Ki Bum tersenyum lalu menepuk pundak Kyu Hyun.

The old man who lays in that room will be so happy if he knows his daughter is finally get into you.

Kyu Hyun mengeryitkan alisnya bingung. “Apa maksudmu?”

“Ayahku lebih suka melihat Rae Ah bersamamu daripada bersama Chan Yeol.”

“Kenapa?” Ki Bum menghela napas kamudian membuangnya melalui mulut. “Ibumu adalah cinta pertamanya. Aku tidak mengerti tapi yang aku dengar, mereka –ibumu, ibuku, dan ayahku  memiliki hubungan yang rumit. Asal kau tahu, ayah dan ibuku menikah karena urusan bisnis.”

Kyu Hyun benar-benar terkejut mendengar kenyataan itu. “Bagaimana bisa? Seumur hidup aku tidak pernah melihat ibuku pergi ke sini.”

Ki Bum mengangkat alisnya sebelah. “Dan kau tidak berpikir ada sesuatu yang membuatnya tak pernah kembali ke tanah airnya?”

“Kau benar.”

“Sudahlah. Itu masa lalu orang tua kita. Sekarang, yang harus kau lakukan adalah menentukan masa depanmu bersama adikku. Aku tidak ingin dia terpuruk kembali.” Kyu Hyun terpekur. Ia mengamini ucapan Ki Bum dalam hati. “Aku pernah mengalaminya. Seseorang yang kucintai menyembunyikan sakitnya dan meninggalkanku. Tapi aku lebih beruntung karena sekarang dia telah kembali.” Kyu Hyun dapat merasakan kesedihan yang begitu mendalam dari suara Ki Bum.

“Masa depanku bersama adikmu sudah kurancang sejak lama. Kau tidak perlu khawatir,” ucap Kyu Hyun meyakinkan. Ki Bum tersenyum, menepuk pundak Kyu Hyun sekali lagi, lalu beranjak dari tempatnya.

Sementara itu, Kyu Hyun yang melamun setelah ditinggal sendiri oleh Ki Bum terkejut begitu melihat Rae Ah keluar dengan wajahnya yang berantakan.

o0o

Kim Rae Ah membuka pintu ruang rawat ayahnya secara perlahan. Tangannya gemetaran karena merasa tidak siap melihat kondisi ayahnya. Setelah masuk, Rae Ah menutup pintu di belakangnya dengan perlahan yang hanya menimbulkan bunyi pelan, tidak akan cukup untuk didengar oleh ibunya dan Jong Woon.

Kembali kakinya melangkah dengan perlahan, membekap mulutnya yang mengeluarkan suara memekik karena terkejut melihat tubuh ayahnya dipenuhi oleh selang-selang. Di samping kanan ayah, ada ibu yang sedang duduk, menangis tersedu sembari memegang tangannya yang bebas dari selang infus. Di samping kiri, Jong Woon berdiri memerhatikan ibu yang menangisi ayah.

Ayah harus bangun.

“Bu,” panggil Rae seraya menyeret langkahnya yang terasa berat. Ibu dan Jong Woon menoleh bersamaan. Seketika itu pula ibu berdiri, melepaskan tangan ayah lalu memeluk anak gadisnya.

Sudah berapa lama tubuh kurus anak bungsunya ini tak ia peluk? Bahkan ketika duka menyelimutinya, gadis ini meghindar, dan hanya Ki Bum yang bisa memiliki akses untuk berbicara dengannya.

“Kau datang, Nak,” bisiknya di telinga Rae Ah.

Rae Ah memeluk sang ibu dan tangisnya tak lagi ia sembunyikan. Ia tidak begitu dekat dengan kedua orang tuanya bahkan cenderung bertentangan, tapi melihat ayah terbaring kritis dan ibu menangis tersedu membuat pertahannya runtuh dalam sekejap.

“Ayah akan bangun, kan, bu?” nada lirih dari suara Rae Ah membuat ibu semakin mengeratkan pelukannya.

Setelah beberapa lama menangis dalam pelukan sang ibu, Rae Ah melepas pelukannya kemudian berjalan dengan langkah tertahan menuju tempat sang ayah berbaring. Ini bukan pertama kali ayahnya mengalami serangan jantung dan itu berarti memiliki resiko yang sangat buruk.

Demi Tuhan, Rae Ah tak sanggup jika harus kembali kehilangan.

“Ayah akan bangun, kan, Oppa?” seolah mencari kekuatan, Rae Ah menanyakan hal itu lagi pada Jong Woon. Jong Woon yang mendapat pertanyaan itu hanya bungkam. Rae Ah menanyakan itu padanya, lalu pada siapa ia harus bertanya?

Rae Ah menggenggam tangan sang ayah yang terasa dingin. Ayahnya tak boleh pergi. Mereka belum memperbaiki hubungan yang seharusnya dimiliki oleh seorang anak dengan seorang ayah. Ayahnya belum meluangkan banyak waktu untuknya.

“Kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?” Rae Ah tidak buta untuk melihat wajah Jong Woon yang menyiratkan kesedihan begitu mendalam. Ia tahu, semarah apa pun Jong Woon pada apa pun itu yang ayahnya lakukan, Jong Woon tetap menyayangi ayah mereka.

Maka dengan itu, Rae Ah kembali menangis. Dalam hatinya ia berjanji pada Tuhan akan memperlakukan sang ayah dengan baik jika ayahnya diberikan kesempatan untuk hidup.

“Bangun, Ayah. Aku berjanji akan menjadi anak yang penurut mulai sekarang. Aku mohon, jangan tinggalkan kami.” tak ada reaksi apa pun. Laki-laki itu hanya diam dalam damai.

“Ayah pernah bilang kalau Ayah lebih menyukai Kyu Hyun daripada Chan Yeol. Sekarang aku bersama Kyu Hyun, Yah. Jadi, Ayah bangun, ya?” sekali lagi hanya hening yang didapatnya.

Jong Woon berdiri, memutari ranjang untuk kemudian memeluk Rae Ah, menyembunyikan wajah gadis itu di dadanya. Rae Ah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jong Woon dan menangis hingga air matanya membasahi kemeja yang dipakai oleh Jong Woon.

“Ayah pasti mendengarmu.” Ya, Jong Woon berharap ayahnya akan mendengar semua yang Rae Ah katakan dan segera bangun. Dalam rengkuhan Jong Woon, Rae Ah mengangguk.

“Sebaiknya kau dan ibu pulang saja. Aku dan Ki Bum yang akan menjaga ayah.”

“Tidak, Oppa. Aku ingin di sini,” bantah Rae Ah.

Jong Woon menjauhkan wajah Rae Ah, menatapnya dengan penuh keyakinan. “Look! You’re just arrived. You need to take a rest. Just go home. Percayakan Ayah padaku dan juga Ki Bum. Oke?”

Rae Ah mengangguk patuh seperti terkena oleh sihir. “Kalau begitu pulanglah sekarang. Aku akan mengabarimu jika ada perkembangan.”

o0o

Rembulan terang yang dikelilingi gemintang menjadi saksi kesabaran Kyu Hyun dalam menenangkan kekasihnya. Kim Rae Ah, gadis itu terus-terusan menangis sejak mereka sampai di rumah satu jam yang lalu. Rembulan dan gemintang yang sebentar lagi akan menghilang, sebelum fajar mengganti malam.

“Berhenti menangis, ya? Kau harus istirahat, tubuhmu membutuhkannya.” Kyu Hyun tidak bisa memaksa Rae Ah untuk beranjak dari balkon padahal udara semakin dingin.

“Tidur denganmu, ya?” akhirnya Rae Ah merespons dengan suara seraknya. Kyu Hyun tersenyum lega.

“Tidur denganku? Benar-benar tidur atau tidur yang lainnya?” goda Kyu Hyun dan menghasilkan pukulan kecil di dadanya.

Rae Ah beranjak dari dada Kyu Hyun yang nyaman, menghapus jejak air matanya, kemudian berjalan ke arah kamar dengan kaki yang dihentakkan. Kyu Hyun tersenyum geli, cenderung lega karena berhasil mengalahkan kekeraskepalaan gadis itu.

Laki-laki itu menghembuskan napas lega kemudian beranjak dari duduknya dan menyusul Rae Ah ke dalam kamar. Membaringkan tubuhnya di samping Rae Ah yang telah lebih dulu menyamankan dirinya di bawah selimut tebal berwarna biru.

Rae Ah mendekat, meringkuk dalam rengkuhan hangatnya, dan menyandarkan kepalanya di dada Kyu Hyun yang lebar. Ia bersyukur, ketika menghadapi situasi sulit seperti ini lagi, Kyu Hyun berada di sampingnya dan memberinya kekuatan.

“Kalau sesuatu yang buruk terjadi nanti, kau akan tetap berada di sampingku, kan?”

Kyu Hyun mencium puncak kepala Rae Ah, mengelusnya dengan penuh rasa sayang lalu menjawab, “Aku tidak akan ke mana pun, Sweetheart. Meski pun kau yang memintaku untuk pergi, kali ini aku tidak akan melakukannya. Kau bisa memegang janjiku.”

Jawaban Kyu Hyun membuat Rae Ah merasa ditampar secara tidak langsung. Ketidakhadiran Kyu Hyun di sampingnya ketika Chan Yeol meninggal, adalah murni kesalahannya. Ia telah menemukan Chan Yeol dan dengan tak berperasaan diusirnya Kyu Hyun dari hidupnnya. Seolah-olah hidupnya akan baik-baik saja jika laki-laki itu pergi, Rae Ah tak menahan kepulangan Kyu Hyun ke London.

Setelah bertahun-tahun, ia malah menyalahkan Kyu Hyun yang tidak hadir untuk memeluk dan memberinya kekuatan. Rae Ah merasa malu.

“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak marah ketika kau tidak berada di sampingku setelah kepergian Chan Yeol. Aku yang mendorongmu pergi. Maafkan aku,” gumamnya. Suaranya tercekat di kerongkongan.

“Jangan meminta meminta maaf. Aku mengerti. Posisimu waktu itu serba sulit. Aku tidak apa-apa. Sekarang, yang terpenting adalah kau ada di pelukanku.” Rae Ah merapatkan pelukannya. Kenapa Kyu Hyun bisa setulus ini?

“Kyu Hyun­-ah, kalau kita menikah dan mempunyai anak, kau akan meluangkan waktu untuk mereka dan juga untukku, kan?”

“Kau ingin menikah denganku?”

“Aku bertanya serius.” Rae Ah memukul dada Kyu Hyun pelan sedangkan laki-laki itu hanya tertawa. “Baiklah. Aku akan meluangkan banyak waktuku untukmu dan untuk anak-anak kita. Kenapa bertanya seperti itu?”

Rae Ah menarik napas pelan. “Aku hanya tidak ingin, anak-anakku kesepian karena orang tuanya jarang berada di rumah.”

Kyu Hyun tahu dan mengerti. Bertahun-tahun ia telah menjadi saksi bahwa gadis itu selalu kesepian. Gadis itu akan mengunjunginya atau pun Chan Yeol untuk mengusir kesepian itu. Sebelum kehadiran Chan Yeol, apartemen Kyu Hyun adalah rumah kedua gadis itu. Namun, posisi kedua itu digantikan oleh rumah besar Chan Yeol.

“Kau bisa pegang janjiku.” Kyu Hyun mengeratkan pelukannya. “Sekarang tidurlah.”

o0o

“Bagus kau bangun,” desis Jong Woon. Rae Ah menegur Jong Woon dengan mencubit pinggangnya.

Beberapa saat setelah kedatangannya kembali di rumah sakit, ayahnya bangun. Setelah menjalani berbagai pemeriksaan oleh dokter, keluarga diperbolehkan untuk menjenguknya. Sekarang, Jong Woon, Ki Bum, Rae Ah, ibunya, dan juga Kyu Hyun berdiri mengelilingi ranjang ayah Rae Ah.

“Diam, Rae. Dia memang harus bangun agar menyelesaikan masalah yang dibuatnya pada Song Rin-ku,” desis Jong Woon lagi. Rae Ah tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh ayahnya sehingga Jong Woon berkata sesinis itu. Namun, dari sinisnya Jong Woon, ada keinginan tulus yang Rae Ah tangkap, bahwa Jong Woon ingin ayahya—ayah mereka sembuh dan kembali seperti semula.

Rae Ah juga melihat ayahnya menitikkan air mata.

Sadar bahwa suasana tegang seperti ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut, Rae Ah mendekati ayahnya, tersenyum dan berkata, “Ayah, aku datang bersama Kyu Hyun.”

Mendengar namanya disebut, Kyu Hyun mendekat pada Rae Ah. “Selamat sore, Tuan Kim. Senang melihat Anda kembali,” sapa Kyu Hyun. Ayah Rae Ah menatap Kyu Hyun nanar. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa kasihan pada laki-laki itu. Tidak, bukan kasihan tetapi empati karena ia juga pernah mengalami hal yang dialami oleh Kyu Hyun.

Mencintai seseorang yang mencintai orang lain.

Semua orang yang ada di sana ikut tersenyum melihat laki-laki paruh baya yang mereka sayangi melakukannya.

“Aku tahu ini terlalu cepat, tapi Ayah, bolehkah aku meminta restumu untuk bersama-sama dengan Kyu Hyun?”

Kyu Hyun menggamit tangan Rae Ah, menggenggamnya dengan hangat. “Seharusnya aku yang meminta izin,” Kyu Hyun tersenyum pada Rae Ah lalu beralih menatap Tae Jun, “Paman, bolehkah aku meminta restumu untuk selalu bersama-sama dengan putrimu?”

Rae Ah menangis terharu ketika melihat Kim Tae Jun tersenyum lebar dan mengangguk pelan sebanyak dua kali. “Terima kasih, Ayah. Terima kasih telah kembali pada kami,” ujarnya.

“Sebaiknya kita keluar. Biar ibu saja yang menjaga ayah di sini,” kata Ki Bum. Semua orang mengangguk, memberikan senyuman terakhir mereka sebelum keluar pada Tae Jun.

o0o

Jong Woon mendudukkan dirinya di atas rerumputan taman rumah sakit. Pemikirannya kembali menerawang pada kejadian saat Song Rin meninggal. Ia tidak bisa menghilangkan itu semua. Song Rin adalah wanita yang baik dan ia bersalah karena telah membiarkan hal buruk itu terjadi.

Sepasang tangan yang melingkar di bahunya membuat air mata Jong Woon mengalir perlahan. Jong Woon terlalu mengenal tangan mungil dan rapuh ini, tangan milik seorang wanita yang telah berjuang bersamanya beberapa tahun ini. Dengan melingkarkan tagannya di pinggang gadis itu yang duduk di sebalah kirinya, Jong Woon terisak dan menyerahkan segala kerapuhannya. Pada gadis yang telah membawanya keluar dari kungkungan masa lalu, pada gadis yang dicintainya.

Pada Yoon Ji Yoo.

“Aku hampir membencinya lagi karena telah berusaha meninggalkanku, Ji. Aku hampir membenci ayahku lagi,”gumamnya.

“Paman tidak berusaha meninggalkanmu. Sebaliknya, dia berusaha untuk kembali dan sekarang dia telah kembali. Kau mencintainya.” Yoon Ji Yoo adalah gadis luar biasa yang pernah Jong Woon temukan.

Song Rin gadis yang baik dan cantik, menarik perhatian Jong Woon hanya dalam waktu singkat. Jong Woon mencintai Song Rin dan wanita itu memiliki tempat tersendiri di hatinya. Sementara Yoon Ji Yoo, gadis itu menarik dengan caranya sendiri.

Ji Yoo tidak ditempatkan di tempat yang pernah diisi oleh Song Rin. Lebih tinggi dari itu, Ji Yoo berada di tempat yang tidak akan bisa dijangkau lagi oleh siapa pun. Karena Jong Woon tahu, Ji Yoo masa depannya. Hidupnya.

“Malam ini temani aku,” pinta Jong Woon dengan suara yang lirih. Ji Yoo mengangguk pelan. Menemani yang dimaksud Jong Woon hanyalah berbaring dalam pelukan laki-laki itu hingga pagi menjelang. Jong Woon sangat menjaganya.

“Aku mencintaimu,” aku Jong Woon. Hati Ji Yoo menghangat. Ini bukan pertama kalinya Jong Woon mengatakan kalimat itu, tapi jantungnya selalu memiliki reaksi yang berlebihan dan wajahnya selalu menghangat kemudian memerah.

“Aku mencintaimu,” balas gadis itu.

o0o

Ki Bum tidak jauh berbeda dengan Jong Woon. Keadaannya benar-benar menyedihkan. Ia menyesal telah membenci ayahnya. Ki Bum sadar bahwa ia mencintai ayahnya ketika laki-laki itu berbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Ketegaran yang ia tunjukkan di dalam sana, hanyalah topeng.

Pikirannya telalu kalut hingga ia tak menyadari ketukan-ketukan yang ditimbulkan oleh sepasang heels hingga heels berwarna hitam itu tertangkap oleh retina matanya. Ki Bum mendongak dan melihat Irine menatapnya penuh rasa sesal. Seketika itu juga melarikan tangannya untuk meraih pinggang Irine dan menenggelamkan wajahnya di perut gadis itu.

Usapan lembut di kepalanya membuat Ki Bum tidak bisa lagi menahan air matanya. laki-laki itu menangis tersedu. “Aku menjadi lemah sekarang. Aku tidak bisa lagi membencinya, Irine. Aku tidak bisa membencinya,” gumam Ki Bum di sela-sela tangisnya.

Irine ikut menitikkan air matanya. Dikecupnya berulang kali kepala Ki Bum dan tangannya mengusap punggung laki-laki itu. “Kau tidak lemah,” Irine mencium sekali lagi puncak kepala Ki Bum, “kau tidak pernah membencinya dan kau tidak pernah lemah, Ki Bum. Kau tidak pernah membencinya.”

Ki Bum menjauhkan wajahnya dari perut rata Irine dan mendongak, menatap wajah Irine yang memerah karena ikut menangis, tanpa melepaskan pelukannya pada pinggang gadis itu. Ki Bum berpikir dunianya akan selalu baik-baik saja ketika merasakan telapak tangan Irine yang lembut menangkup wajahnya.

Irine menunduk, mendekatkan wajahnya dan mencium kening Ki Bum untuk beberapa lama. Kedua mata Ki Bum terpejam, meresapi kasih sayang yang Irine salurkan melalui ciuman itu. Ki Bum dapat merasakan kasih sayangnya yang menggelegak. Sejak dulu, meski banyak gadis telah ia kencani, cintanya tidak pernah berubah. Selalu menjadi milik Irine seorang.

“Aku bertemu Rae Ah dan kekasihnya. Mereka telah menyediakan ruangan untuk kita istirahat. Aku baru saja mendarat dan langsung ke sini. Mau menemaniku beristirahat?” Ki Bum tersenyum lalu mengangguk membuat Irine juga tersenyum.

Irine mundur lalu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ki Bum. Ki Bum menarik Irine ke sisinya, menggenggam tangan kanan gadis itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk merangkul bahu Irine.

Ki Bum mencium pelipis Irine dan berkata, “Aku mencintaimu.” Menciptakan senyuman lebar di wajah keduannya.

o0o

“Jadi, kenapa kau ingin pergi dan tidak memberikan ciuman selamat pagiku?” tanya Kyu Hyun dengan nada menggoda. Laki-laki itu mengunci Rae Ah di bawah tubuhnya setelah Rae Ah berusaha kabur.

Ketika terbangun beberapa menit yang lalu, Rae Ah mendapati Kyu Hyun menatap wajahnya sambil tersenyum. Senyum yang membuat Rae Ah mengumpat kasar karena selalu menimbulkan efek berlebih pada jantungnya. Maka dari itu, Rae Ah langsung beranjak dan berusaha turun dari ranjang dengan melewati tubuh Kyu Hyun.

Menangkap dan mengurung gadis itu adalah hal yang mudah bagi Kyu Hyun. Hanya dalam sekejap gadis itu telah berada di bawahnya. Kyu Hyun suka melihat wajah Rae Ah yang memerah dan terlihat gugup.

“Karena kau tersenyum,” jawab Rae Ah spontan. Sadar akan ucapannya, Rae Ah mengigit bibir bawahnya dan menutup kedua matanya. Ini sangat memalukan.

“Ada apa dengan senyumku?” goda Kyu Hyun lagi. Bukan suara gadis itu yang ia terima, tapi sebuah ciuman cepat di bibirnya. “Bukan seperti itu caranya mengucapkan selamat pagi, Sweetheart. Seperti ini,” ujarnya kemudian menurunkan wajahnya dan mencium bibir Rae Ah dengan lembut dan dalam.

Hampir satu menit mereka berciuman. Wajah Rae Ah memerah dan napasnya terengah. Kyu Hyun tersenyum, menelusuri wajah gadis itu yang sedang memejamkan matanya. Kening, hidung, dan bibir terlihat sangat pas bertengger di wajah cantiknya. Tuhan pasti memakan banyak waktu untuk menciptakan wajah secantik dan seindah ini.

Kyu Hyun menurunkan wajahnya, mengecup kedua mata Rae Ah yang terpejam, lalu turun ke hidungnya, kemudian kembali ke bibirnya, kembali saling memagut mesra. Ciuman yang lembut dan penuh kasih sayang kemudian berubah menjadi ciuman yang penuh gairah dan menyebarkan hawa panas di seluruh tubuh masing-masing. Kalau saja alarm di otaknya tidak berbunyi, Kyu Hyun yakin tidak akan bisa berhenti hanya dengan sebuah ciuman.

Tidak akan bisa.

Karena gadis yang berada di bawahnya adalah Kim Rae Ah. Kyu Hyun tidak akan pernah cukup hanya dengan ciuman.

“Ayo menikah,” ujarnya dengan napas yang masih terengah.

Rae Ah mengerjapkan mata berkali-kali, mencerna ucapan Kyu Hyun, lalu mencubit perutnya ketika kesadaran telah ia dapatkan. “Ouch!” Kyu Hyun meringis, mengusap perutnya yang dicubit Rae Ah.

“Minggir!” desis Rae Ah sambil berusaha menyingkirkan tubuh Kyu Hyun yang sekeras batu. Gadis itu mendengus sebal dan menatap tajam Kyu Hyun yang tak beranjak sedikit pun dari atas tubuhnya.

“Aku mengajakmu menikah. Kenapa wajahmu jadi menyeramkan seperti itu?”

“Kenapa kau bilang? Kenapa? Minggir saja, Cho Kyu Hyun!” Kyu Hyun tidak berani menggoda Rae Ah lagi. Tercetak jelas di wajahnya bahwa gadis itu sedang kesal padanya.

“Kenapa? Apa yang sudah kulakukan?” tanya Kyu Hyun lagi, masih tak mengerti apa yang membuat Rae Ah kesal tiba-tiba.

Rae Ah bahkan tidak menjawab pertanyaan Kyu Hyun. Gadis itu hanya berjalan dengan santai dan masuk ke kamar mandi, menutup pintu dengan sedikit bantingan. Hal itu tentu saja membuat Kyu Hyun mengernyitkan dahinya dalam-dalam.

PMS? Kyu Hyun menggedikkan bahunya lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Rae Ah. Semalam, tanpa persetujuan Rae Ah, Kyu Hyun membawa gadis itu keluar dari rumah sakit. Lagipula, paman Kim sudah bangun dan di sana ada Jong Woon juga Ki Bum yang menjaganya. Oh, jangan lupakan Yoon Ji Yoo dan Irine.

Kyu Hyun baru memejamkan matanya beberapa saat ketika bantingan di pintu kembali terdengar. Kyu Hyun menggeram kesal. Demi Tuhan, ia tidak menegerti kenapa tiba-tiba saja Rae Ah bersikap seperti itu. Memangnya apa yang salah dengan menciumnya lalu mengajaknya menikah? Kalau tidak ingin menikah sekarang kan bisa katakan dengan benar tanpa harus marah-marah tak jelas.

“Kau tidak berniat tidur lagi dan membiarkan aku pergi ke rumah sakit sendirian, kan?” Kyu Hyun membuka matanya, menoleh ke arah Rae Ah yang sudah memakai terusan berwarna biru. Seketika tenggorokannya tercekat oleh napasnya sendiri.

She is so breathtaking. Hold yourself, dude.

“Tunggu lima belas menit lagi,” ujarnya sambil turun dari tempat tidur dan melenggang ke kamar mandi. Rae Ah mendengus kesal lalu duduk di depan kaca dan mulai merias wajahnya.

Pagi ini Kyu Hyun benar-benar membuatnya kesal. Bagaimana mungkin laki-laki itu dengan mudah mengajaknya menikah di atas tempat tidur, dengan kondisi mereka yang sama-sama belum mandi? Tidak bisakah Kyu Hyun berlaku lebih romantis?

Bertahun-tahun pisah bukannya menjadi lebih baik malah semakin menyebalkan. Cho Kyu Hyun selalu menyebalkan dan sialan tampan. Ya, memang tampan. Tapi tidak tahu caranya melamar seorang wanita. Setidaknya, Kyu Hyun memiliki cincin di tangannya.

Rae Ah menghembuskan napas dengan kasar. Ia sudah selesai merias wajahnya dan terlalu kesal untuk menuggu Kyu Hyun keluar dari kamar mandi. Tidak peduli Kyu Hyun akan marah, Rae Ah mengambil tasnya lalu keluar dari kamar. Kalau beruntung, Porsche berwarna putih miliknya masih bisa dinyalakan karena seingatnya, sudah setahun mobil itu tak pernah ia kendarai.

Melewati ruang tengah, Rae Ah melihat kunci mobil Kyu Hyun tergeletak di atas meja bersama dompetnya. Semalam, sebelum memutuskan untuk tidur, Kyu Hyun mengajaknya mengobrol dan nonton. Rupanya laki-laki itu lupa merapikan barang-baranggnya di sana. Rae Ah mendengus kesal atas kecerobohan Kyu Hyun.

Bersama dengan ide jahil di kepalanya, Rae Ah mengambil kunci mobil dan dompet Kyu Hyun. Ia memasukkan dompetnya ke dalam tas, sedangkan kuncinya ia bawa, berencana untuk mengendarai BMW keluaran terbaru milik Kyu Hyun dan membiarkan pemiliknya menyusul menggunakann jasa taksi. Tentu saja Rae Ah cukup cerdas dengan membawa tiga kunci mobil yang terparkir di garasi bersamanya. Apa yang bisa Kyu Hyun lakukan dengan tiga mbil tanpa kunci?

“Kendarai saja mobil-mobil itu tanpa kunci, Cho Kyu Hyun,” gumamnya dengan seringai puas sambil menyalakan mesin dan memacu mobil mewah tersebut untuk membelah jalanan Seoul yang tak pernah sepi.

Sepanjang perjalanan, senyum kemenangan terus tercetak di wajah cantiknya. Tapi, setelah berpikir, Rae Ah merasa bersalah. Ia sadar telah bersikap secara berlebihan padahal Kyu Hyun hanya mengajaknya menikah.

Nah, itu dia yang membuat Rae Ah kesal. Mengingat lamaran Kyu Hyun tadi membuat rasa bersalah Rae Ah menguap. Ia selalu bermimpi akan dilamar di sebuah taman dengan berbagai jenis bunga mawar, dengan kata-kata romantis, dan dengan sepasang cincin yang memiliki ukiran namanya. Dan Kyu Hyun menghancurkan mimpi itu dengan melamarnya di atas tempat tidur.

Di atas tempat tidur!

Kekesalan Rae Ah masih terasa ketika gadis itu keluar dari mobil, menutup pintunya dengan kasar tanpa peduli itu baru, dan berjalan dengan cepat. Tubuhnya membeku di pintu masuk ketika suara Kyu Hyun menyapa gendang telinganya. Perlahan, dengan takut-takut, Rae Ah membalikkan tubuhnya dan melihat Kyu Hyun berdiri di bawah tangga dengan aura yang sangat menyeramkan.

Rae Ah meringis. Lalu dengan kekuatan penuh yang entah didapat dari mana, Rae Ah melepas heels yang beruntung tidak begitu tinggi dan berlari melewati beberapa orang yang sedang melintas. Rae Ah tahu ini kekanak-kanakan, tapi tertangkap oleh Kyu Hyun adalah hal yang harus dihindari.

Dompet dan kunci mobil laki-laki itu ada padanya!

Sementara itu, Kyu Hyun masih berdiri di tempatnya, melongo tak percaya melihat tingkah orang dewasa seperti Rae Ah yang seperti anak kecil sedang bertengkar dengan temannya. Benarkah gadis itu yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya?

Sialan. Kyu Hyun tidak sanggup lagi menahan tawanya. Gadis itu benar-benar menggemaskan dengan caranya sendiri. sebentar marah-marah sebentar kemudian lari ketakutan seperti melihat hantu.

Menggelengkan kepala dan mengulum kembali tawanya, Kyu Hyun mengikuti Rae Ah dengan santai. Hanya ada tiga ruangan yang akan gadis itu datangi untuk bersembunyi. Pertama, ruangan yang ia sewa untuk istirahat Ki Bum dan Irine. Kedua, ruang kerja dokter Yoon. Ketiga, dan yang paling memiliki kemungkinan besar, ruang rawat ayahnya.

Gadis bodoh. Tapi cantik.

“Rae Ah mana?” tanya Kyu Hyun ketika sampai di ruangan ayah Rae Ah dirawat, tanpa basa-basi. Matanya berkeliling ke seluruh penjuru ruangan.

Di ruangan itu sudah ada Ki Bum, Irine, dan ibu Rae Ah. Ketika matanya bertemu dengan mata Ki Bum, Kyu Hyun menyeringai dan mulai melangkahkan kakinya menuju sofa tempat Ki Bum dan Irin duduk. Jadi, tadi, Ki Bum memberi isyarat melalui matanya kalau Rae Ah bersembunyi di samping sofa, dekat Irine.

Kyu Hyun masih ingin bermain-main. Jadi, laki-laki itu duduk di lengan sofa di samping Irine. “Aku kehilangan kunci mobil dan dompetku. Seorang pencuri lari ke kamar ini. kalian melihatnya?”

“Dompetmu hilang?” Rae Ah yang sedang bersembunyi meringis mendengar respons Ki Bum. “Bukankah surat pengambilan cincin ada di dompetmu?” itu adalah suara Irine dan Rae Ah tak mengerti bagaimana Irine mengetahui bahwa Kyu Hyun menyimpan surat-surat penting di dompetnya. Ini pasti jebakan, gumamnya dalam hati.

Sementara itu, Kyu Hyun menyeringai puas sambil matanya melirik ke bawah, tempat Rae Ah bersembunyi. Kyu Hyun ingin tertawa melihat posisi duduk Rae Ah yang meringkuk seperti bayi. Ya, Tuhan, Kyu Hyun ingin mengangkat gadis itu dan menciumnya.

“Cincin pernikahan?” timpal Ki Bum. Rae Ah yakin Kyu Hyun mengangguk karena akhirnya Ki Bum kembali bertanya, “Cincin pernikahan kau dan Rae Ah?”

“Ya,” jawab Kyu Hyun sengaja untuk memancing Rae Ah keluar. Benar saja. Tidak sampai hitungan ketiga, Rae Ah muncul dan langsung melingkarkan kedua lengannya di bahu Kyu Hyun, tentu dengan cengiran lebar di wajahnya.

“Dompetmu tidak hilang. Aku menyelamatkannya karena tergeletak begitu saja di atas meja,” ujar Rae Ah. Wajahnya sudah memerah.

Kyu Hyun dan semua orang yang ada di ruangan ini, termasuk ayahnya, tertawa melihat tingkah laku gadis itu. Sadar dirinya sedang dipermainkan, Rae Ah menunduk, menenggelamkan wajahnya di bahu Kyu Hyun.

“Dompetmu ada padaku,” kata Rae Ah di bahu Kyu Hyun. Kyu Hyun tertawa pelan sedangkan yang lainnya mendengus sebal. Menurut mereka, tingkah laku Rae Ah pagi ini sangat menyebalkan.

Kyu Hyun berdiri dan membawa Rae Ah ke dalam pelukannya. Mengelus rambut Rae Ah di dalam pelukannya menjadi favorit Kyu Hyun sejak mereka kembali bertemu. Kyu Hyun merasakan semangat hidupnya kembali setelah beberapa tahun ini menghilang. Aroma yang menguar dari rambut lembut gadis itu membuatnya merasa dunia akan selalu baik-baik saja.

“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu dengan melamarmu seperti itu.”

Rae Ah menjauhkan wajahnya dari dada Kyu Hyun dan mendongak untuk menatap wajah laki-laki itu. “Aku masih ingin menikmati waktuku sebagai kekasihmu. Jadi, jangan terlalu cepat melamarku, ya?” Kyu Hyun ketawa-ketawa kecil.

“Dan jangan melamar Rae Ah di hari pernikahanku. Aku tidak mau kalian menjadi raja dan ratu di acara spesialku,” ujar Ki Bum penuh ancaman.

“Tenang saja. Aku tidak akan mengacaukan hari spesialmu. Ketika aku melamarnya, itu akan menjadi hari paling bersejarah dan paling spesial, lebih spesial dari hari pernikahanmu,” balas Kyu Hyun sinis. Rae Ah merasakan pipinya memanas. Dia memukul dada Kyu Hyun pelan.

“Hentikan!” lerainya pada Kyu Hyun yang akan kembali mengeluarkan kata-kata ancamannya. “Kau membuatku malu,” lanjutnya. Kyu Hyun kembali tertawa dan yang lainnya kembali mendengus sebal.

Kalau ada orang yang paling menyebalkan dengan paling menggelikan ketika jatuh cinta, maka orang itu sudah pasti Kim Rae Ah.

“Aku akan menikah,” seru seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu, “tahun depan.”

Rae Ah, Kyu Hyun, Ki Bum, Irine, dan kedua orang tua keluarga Kim melongo menatap Jong Woon yang berjalan mengahampiri Kim Tae Jun, diikuti Ji Yoo yang menunduk. Tangan mereka saling bertautan.

“Ayah, Ibu, aku akan menikahi Ji Yoo.” Ucapan Jong Woon untuk yang kedua kalinya itu membuat semua orang tersadar dan tersenyum. “Aku akan dengan senang hati membantu kalian menyiapkan segalanya,” kata sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.

Akhirnya Jong Woon bangkit dari keterpurukannya. Semoga kau merestuinya, Song Rin, gumam Ki Bum dalam hatinya. Ia turut senang melihat kakaknya telah mampu menggantikan Song Rin dengan perempuan lain. Dan perempua itu adalah Yoon Ji Yoo. Ki Bum tahu Ji Yoo adalah orang yang tulus dan sangat menyayangi Jong Woon.

“Dan kau harus selalu sehat sampai anak-anakku tumbuh dewasa, Pak Tua,” seru Jong Woon, terdengar sinis tapi semua orang tahu bahwa Jong Woon ingin ayahnya sehat selalu dan berumur panjang.

Kim Tae Jun tertawa lepas. Air matanya mengalir di sudut mata. Inikah anak-anakk yang sering ia abaikan karena kesibukannya? Laki-laki paruh baya itu kemudian  mengulurkan tangannya. “Kemarilah, Nak. Aku ingin berterima kasih karena mau mengikat hidupmu dengan bujang lapuk seperti anakku,” ujarnya pada Ji Yoo.

Ji Yoo tersenyum lebar lalu meraih tangan Tae Jun dan menggenggamnya. “Terima kasih telah bersabar mencintainya.” Ji Yoo mengangguk dan Jong Woon mendengus sebal.

Jong Woon sebal karena ia tidak bisa membenci ayahnya. Jong Woon sebal karena Tae Jun bersikap sangat manis sekarang. Jong Woon sebal karena Tae Jun menggenggam tangan calon istrinya.

Ki Bum menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya. laki-laki itu merangkul bahu Irine, membawa gadis itu mendekat dan berbisik tepat di telinga gadis itu. “Aku mecintaimu. Selalu mencintaimu dan akan selamanya mencintaimu.” Bisikan yang menimbulkan senyum lebar di wajah cantik khas gadis British itu.

Kyu Hyun menangkup wajah Rae Ah. “Aku mencintaimu,” lalu mengecup bibir Rae Ah. “Aku mencintaimu,” balas Rae Ah dan mereka kembali berciuman. Kisah cinta mereka mungkin terlalu klise. Tapi perasaan yang mereka miliki adalah hal paling berharga dan paling nyata yang pernah terjadi dalam kehidupan keduanya.

Seperti Ki Bum yang kembali menemukan cinta lamanya, seperti Jong Woon yang menambatkan hatinya pada seorang gadis yang selalu setia berada di sampingnya selama masa terberat dalam hidupnya setelah kepergian gadis lain yang ia cintai, dan seperti Rae Ah yang mendapatkan restu dari alam dan cinta pertamanya untuk menambatkan hati pada sahabatnya, takdir selalu memiliki jalannya sendiri untuk menentukan kisah hidup setiap anak manusia.

“Kau sudah membeli cincin? Boleh aku melihat suratnya?” tanya Rae Ah begitu ciumannya dengan Kyu Hyun terlepas dan napas mereka kembali normal. “Aku tidak,” jawab Kyu Hyun santai.

“Tadi Ki Bum…”

“Itu hanya akal-akalan Ki Bum, Sweetheart.” Wajah Rae Ah memerah karena malu. Ki Bum sialan.

Kyu Hyun ketawa-ketawa kecil lalu kembali mencium Rae Ah.

“Sialan! Kan aku yang berhasil melamar gadisku dan akan menikah. Kenapa mereka yang berciuman?” desis Jong Woon.

Kyu Hyun masih memagut bibir Rae Ah dengan mesra. Tak peduli pada orang tua Rae Ah, tak peduli pada kedua kakak laki-lakinya, karena yang ia pedulikan hanyalah cintanya pada Rae Ah. Cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya.

THE END

 

PLEASE READ!

(twitter, instagram, line: lisnursf path, facebook: Lisnur Siti Faridah wattpad: xxgyuu)

Terima kasih telah setia mengawal cerita ini yang baru selesai setelah satu tahun lebih. Hihi cerita lainnya akan menyusul tapi entah kapan karena jujur aja, aku lagi nyaman sama W yang oren daripada W yang biru hehe

Tapi tenang aja. Aku gak lupa kok sama W yang biru. I Wish A Miracle Part ending-nya lagi OTW. Terima kasih sekali lagi untuk kalian yang masih setia nungguin aku yang jarang banget update.

Aku sayang kaliaaan.

Eiya, ayo dong difollow xxgyuu di Wattpad terus vote sama komen di ceritanya. Aku udahnulis dua cerita di sana. judulnya Out of Control (romenace) sama satu lagi Cheesecake Cappuccino (teen fiction). Nanti aku folback kok.

Oiya, yang mau ngobrol-ngobrol sama aku seputar FF atau yang lainnya, silakan perconal chat ke OA Traumland di LINE ( @pib9605t ) inget pake @-nya yaaa.

Thanks!

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

15 thoughts on “Fate Part 13 [END]”

  1. ihihi akhirnya tamaaaatttt!! walaupun berasa masih kurang becauseeee belom nikah tp gapapa tetep seneng at least udah gada penasaran lagi hihi

  2. ini kaya lagunya ninja hatori…mendaku gunung lewati kembah…kisha cinta mereka berlikaliku..penuh cobaan..dan endingbya seperti lagunya bang afgan..jodph pasti bertemu

  3. Akhirnya setelah skin lama kmbli jg n yg d tunggu2 sudah END…. manis bgt Mr. Cho ku….. aq syg kmu Cho….. krn dia skt jdi aq doakn smoga kyuhyun cpt smbuh…. dan utuk tlisan yg manis ini yg selalu aq suka….kkkk smangat untuk mnulisnya.. aq nunggu Reason d lanjutin….

  4. Akhirnya setelah melalui berbagai masalah yang datang Kyu dan Rae ah bersama. Syukurlah akhirnya Jongwoon dan Kibum mau berdamai dengan ayahnya. Finaly happy ending semuanya. Ditunggu kisah kisah lainnya semangat terus buat berkarya keep writing and fighting.

  5. waaaaa akhirnya end jg wkwkwk.
    aku agak lupa2 sm ff ini sejujurnya hahahaha.
    well setidaknya happy end.
    trus apa2an itu kyuhyun ga tw diri sx masa ddpn kel rae ah cium2 sembarangan wkwkwk.
    fighting&keep writing

  6. Duhhh akhir yang manis 😊makin melting dan sikap kyuhyun. Terharu juga sama keluarga kim yang mulai harmonis walaupun di akhir-akhir. Tapi disini keluarga kyuhyun gak diceritain sama sekali. Gwenchana, tetep top kok ceritanya 👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s