I Wish A Miracle 1/2

Recommended songs:
UP10TION – I Wish A Miracle (기저글 바란다)
N.Flying – Lonely
KNK – I Remember
Kyuhyun – My Thought, Your Memories.

image

(empat lagu ini bikin baper terus dan aku gak bisa berhenti mikirin storyline ceritanya. Tadinya aku lagi ngetik Fate, tapi takut ide ini tiba-tiba Ngilang, akhirnya aku tulis deh. maaf kalau feel gak dapet dan typo bertebaran. Aku udah baca berulang-ulang dan perbaiki typo, tapi mungkin gak sempurna. Selamat membaca dan coba dengerin lagu2nya sambil baca, biar ngena hihi)

기적을 바란다

October 20th, 2016. Seoul, South Korea.
Ada banyak alasan kenapa seseorang memutuskan untuk pergi dan membiarkan yang lainnya tinggal dalam kesepian. Sebagian pergi karena terlalu mencintai dan sebagian karena tidak lagi memiliki cinta. Semua alasan itu, selalu dikatakan untuk kebaikan orang yang ditinggalkan.
Kim Rae Ah menatap daun-daun yang berguguran. Ia bertanya-tanya dalam benaknya. Apakah daun yang jatuh itu merasa sedih karena harus meninggalkan pohonnya? Apakah daun-daun itu menyalahkan angin yang telah membuatnya pergi meninggalkan tempatnya?
Lima tahun lalu, di tempat ini, ia dan kekasih tercintanya telah berpisah. Hingga lima tahun lalu, ia merasa dunianya adalah yang terbaik karena mendapatkan cinta yang berlimpah dari laki-laki itu. Lima tahun lalu, dunianya yang indah itu hancur dalam sekejap ketika sang kekasih menginginkan hubungan mereka berakhir dengan alasan untuk kebaikan dirinya sendiri.
Putusnya hubungan mereka adalah untuk kebaikan Kim Rae Ah.
Rae Ah tidak pernah mempercayai alasan itu karena setelah hubungan mereka berakhir, hidupnya tidak pernah indah seperti ketika laki-laki itu ada di sampingnya.
Setiap hari bahkan setelah tahun-tahun berlalu, ia tidak pernah berhenti memikirkan wajah laki-laki itu. Ketika ia tersenyum, tertawa, bahkan marah. Senyumnya menenangkan, tawanya menghibur, dan marahnya adalah sesuatu yang hanya laki-laki itu tunjukkan pada dirinya.
Setiap tahun di tanggal dan bulan yang sama, Kim Rae Ah selalu datang ke tempat ini. Tidak ada yang ia lakukan selain duduk dan mengingat masa lalunya dengan laki-laki itu. Begitu indah dan Rae Ah ingin mengulang kenangan-kenangan itu. Tidak, bukan mengulang, tapi melanjutkan kenangan yang telah berhenti.
Apakah terdengar bodoh? Bagi orang lain, ya, ia bodoh. Tapi bagi dirinya itu tidaklah bodoh. Menginginkan apa yang hatinya inginkan bukanlah sesuatu yang bodoh. Cintanya terlalu besar dan hatinya tidak bisa lagi diisi oleh orang lain sehingga laki-laki yang mendekatinya selama lima tahun ini tidak pernah bisa menyentuh hatinya. Meski hanya secuil.
♥♡♥
October 20th, 2010. Frankfurt, Germany.
Musim gugur selalu menjadi favorit Kim Rae Ah karena musim ini sangat dekat dengan musim kelahirannya. Gadis itu lahir di musim dingin dan ia menyukainya. Di musim gugur pula ia bertemu dengan kekasihnya untuk pertama kali, kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya.
“Ke mana perginya jaketmu, Kim Rae Ah-ssi?” Rae Ah menunjukkan deretan giginya mendapatkan pertanyaan itu. “Dia tidak pergi ke mana-mana. Hanya tinggal di dalam lemariku.”
“Kau sengaja tidak memakainya agar aku memberikan milikku untukmu, begitu?”
“Eoh! Wae? Kau tidak akan melakukannya?”
“Ya, aku tidak akan melakukannya. Malam ini terlalu dingin,” jawab laki-laki itu.
Rae Ah mendecih lalu mempercepat langkahnya. Laki-laki itu tidak tahu caranya bersikap romantis. Menyebalkan.
Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah kekasihnya. Ia menoleh ke arah kanan dan menemukan butik kenamaan. Melirik sebentar pada Rae Ah yang masih berjalan di depannya lalu memasuki toko tersebut.
Rae Ah mengerutkan dahinya ketika sadar bahwa ia tidak merasakan kehadiran sang kekasih. Gadis itu berhenti mendadak dan langsung berbalik. Matanya mencari-cari keberadaan laki-laki itu tapi ia tidak menemukannya. Gadis itu panik. Berlari ke tempat semula dan kembali mencari-cari tetap tak terlihat.
Gadis itu panik. Rasanya ingin menangis karena tidak menemukan sang kekasih. “Cho Kyu Hyun!” teriaknya. Rae Ah benar-benar ketakutan. Ini pertama kalinya gadis itu mengunjungi Frankfurt dan ia tidak mau tersesat di negara asing.
Gadis itu sudah ingin menangis ketika sebuah jaket tebal melingkupi tubuhnya dari belakang kemudian disusul oleh sebuah tangan melingkar di perutnya. Ia sangat mengenal aroma tubuh yang tercium indra penciumnya dan seketika itu juga Rae Ah berbalik.
Kim Rae Ah mendongak, menatap Kyu Hyun dengan penuh kelegaan sedangkan Kyu Hyun masih memeluk tubuhnya. Gadis itu tersenyum. “Aku pikir kau meninggalkanku,” katanya.
Kyu Hyun tersenyum. “Aku tidak bisa melepas jaketku tapi aku bisa membelinya. Sekarang kau tidak akan kedinginan lagi.”
Rae Ah tersenyum lebar hingga menampakkan gigi-gigi putihnya. Gadis untuk menunduk, tersenyum melihat jaket yang dibelikan Kyu Hyun berwarna oranye.
“Kau suka?” tanya Kyu Hyun. Rae Ah mengangguk lalu kembali menatap Kyu Hyun. Gadis itu mengernyit ketika menyadari ada yang berbeda dari kekasihnya. “Kau memakai jaket baru?”
“Ya,” jawab Kyu Hyun. “Couple,” lanjut laki-laki itu.
Rae Ah tercengang. Gadis itu menyingkir dari tubuh Kyu Hyun dan matanya membesar melihat jaket Kyu Hyun berwarna biru dan memiliki desain yang sama dengan miliknya. Ia menilik jaket Kyu Hyun dan miliknya dengan seksama secara bergantian.
Kyu Hyun benar-benar melakukan ini? Sulit untuk dipercaya tapi Kyu Hyun benar-benar memakai jaket yang sama dengannya.
Tidak peduli. Ia senang Kyu Hyun melakukan ini untuknya. Ia pikir selama ini Kyu Hyun hanya ramah pada semua orang. Rae Ah tidak berpikir Kyu Hyun akan memiliki sisi romantis seperti ini.
Daebak!” jeritnya lalu memeluk Kyu Hyun dengan sangat erat. “Ini hebat. Kau yang terbaik, Kyu Hyun-ah
♥♡♥
Air matanya merebak. Kenangan manis bersama Kyu Hyun, kekasihnya atau sekarang mantan kekasihnya, tidak akan pernah bisa tergantikan. Mungkin bisa, tapi Rae Ah tidak ingin. Itu semua terlalu indah dan manis. Cho Kyu Hyun adalah yang terindah baginya.
Ra Ah melihat jam di tangannya. Waktu sudah terlalu sore dan Ki Bum, kakaknya, akan terus melakukan teror telepon jika ia tidak berada di rumah pada pukul tujuh. Kemudian dengan berat hati gadis itu beranjak dari tempatnya.
Kakinya menapak di atas daun-daun kering, melangkah dengan gontai bersama kenangan tentang Kyu Hyun yang masih kuat merajai hati dan pikirannya.
♥♡♥
November 1st, 2010. Seoul, South Korea.
“Hyun, ayo tulis permohonan di atas daun ini!” Rae Ah berlari ke arah Kyu Hyun sambil menunjukkan daun kering yang ia ambil dari atas tanah. Kyu Hyun mengangkat kedua alisnya, heran melihat tingkah kekasinya yang terkadang sangat kekanak-kanakkan.
“Memangnya daun bisa mengabulkan semua permohonanku?” tanya Kyu Hyun dengan nada sarkastiknya.
“Tulis saja,” seru Rae Ah. Gadis itu mengambil tangan Kyu Hyun dan menaruh daun kering itu di atas telapak tangannya beserta sebuah pulpen. “Tulis permohonan masing-masing dan tidak ada yang boleh melihat satu sama lain. Kalau kau mengintip punyaku, maka permohonanmu tidak akan terkabul,” terang Rae Ah sambil menulis di atas daun miliknya.
Kyu Hyun menjatuhkan tubuhnya di atas bangku taman, menolak untuk mengikuti Rae Ah yang menulis sambil berdiri. Laki-laki itu tersenyum, menggelengkan kepalanya, lalu mulai menulis. Ia menganggap ini sangat kekanakkan, tapi tetap melakukannya. Kyu Hyun hanya ingin melihat Rae Ah tersenyum bahagia karenanya dirinya. Selalu.
Rae Ah tersenyum melihat Kyu Hyun menulis di atas daun pemberiannya. Kyu Hyun ramah pada semua orang, tapi selalu ketus pada dirinya dan terkadang marah-marah. Bukan berarti Kyu Hyun tidak ramah padanya, tapi Kyu Hyun hanya menunjukkan dirinya yang asli pada Rae Ah. Tidak ada yang tahu betapa menggemaskannya Kyu Hyun ketika menggerutu dan betapa seramnya laki-laki itu ketika marah.
“Setelah ini apa?” tanya Kyu Hyun ketus.
“Buang,” jawab Rae Ah. “Buang?! Kenapa repot-repot menulis kalau hanya untuk dibuang?”
“Pokoknya buang saja. Angin akan membawanya ke tempat yang jauh dan daun itu akan sampai pada Tuhan, Dia akan membacanya lalu mengabulkan permohonanmu.” Mulut Kyu Hyun menganga lebar mendengar penjelasan Rae Ah. Ini gila dan kekanak-kanakkan. Tapi Kyu Hyun lebih gila karena mengikuti keinginan Rae Ah untuk menulis sebuah permohonan di atas daun.
Kyu Hyun menghela napas untuk menghilangkan kekesalannya. Ini resiko yang harus ia tanggung karena memacari seorang mahasiswa yang memiliki perbedaan usia tujuh tahun dengannya dan sangat menyukai buku-buku fiksi. Laki-laki itu membuang daunnya dengan asal kemudian bersedekap.
Rae Ah melakukan hal yang sama, membuang daunnya dengan asal, duduk di samping Kyu Hyun lalu bersedekap. Mendelik ke arah Kyu Hyun dengan tajam lalu berkata, “Kau benar-benar tidak romantis,  Cho Kyu Hyun.”
Kyu Hyun menoleh, tersenyum melihat wajah kesal kekasihnya lalu menjawil hidung gadis itu. “Kau mengatakan hal yang berbeda tentangku, malam ketika kita berkencan di Frankfurt.”
Rae Ah menepis tangan Kyu Hyun namun laki-laki itu bersikeras, kembali menjawil hidung Rae Ah, begitu seterusnya hingga Rae Ah tertawa, mereka tertawa.
♥♡♥
October 20th, 2016. Seoul, South Korea. Kim Family’s House.
Rae Ah memasuki rumah dengan raut wajah yang telah ia atur agar terlihat tenang dan tak lupa untuk tersenyum. Ia tahu Ki Bum akan menemukan kekacauan pada dirinya, tapi ia harus tetap berusaha menunjukkan wajah tenangnya meski itu akan berakhir sia-sia.
Gadis itu memiringkan kepalanya mendengar suara obrolan dari ruang tengah. Ia tersenyum mendengar suara yang telah familiar itu tengah bersahutan dengan kakaknya.
“Si Won Oppa!” Teriakan gadis itu membuat orang-orang yang sedang mengobrol menoleh ke arah datangnya Rae Ah.
Seseorang yang dipanggil Si Won Oppa itu tersenyum sambil melambaikan tangannya untuk menyambut kehadiran Rae Ah. “Aku senang kau kembali sebelum jam tujuh, Sweety.” Rae Ah berhambur ke arah Si Won, menjatuhkan tubuhnya di sofa di sebelah kanan Si Won, lalu memeluk laki-laki itu dari samping. Dagunya ia biarkan bersender di bahu Si Won yang lebar. “Aku juga senang melihatmu di sini sebelum empat belas bulan bulan kedua belas,” ujar gadis itu. Si Won tertawa kemudian mengacak-acak rambutnya.
“Kenapa tidak kau bawa saja gadis itu pada ayahmu lalu minta padanya untuk menjadikan dia adikmu?”
“Akan kulakukan,” sahut Si Won. Ki Bum berdecak sebal. Ia mengatakan hal itu sesungguhnya hanya untuk menunjukkan kekesalannya karena melihat Rae Ah begitu menyayangi Si Won.
“Seperti kau akan rela saja memberikan adikmu pada Si Won Oppa,” cibir Rae Ah.
Ki Bum melotot sedangkan Si Won tertawa. Selama lima tahun ini, ia menjalani hidup yang sulit setelah Kyu Hyun memutuskan hubungan mereka. Tapi kehadiran Ki Bum dan Si Won telah mengalihkan kesedihannya meski tidak banyak.
Si Won adalah sahabat Ki Bum dan laki-laki itu menyayangi Rae Ah seperti Ki Bum menyayanginya.
“Ah, sebentar lagi akan datang seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu. Mandilah! Aku tidak ingin dia berkenalan dengan gadis bau,” ujar Si Won. Rae Ah melepaskan pelukannya, memukul bahu Si Won, cukup keras untuk membuatnya berteriak kesakitan, lalu mengambil tasnya dan beranjak menuju lantai atas. Sementara itu, Si Won dan Ki Bum tertawa melihat adik kesayangan mereka bertingkah seperti itu.
Rumah keluarga Kim sangat besar. Rae Ah tinggal di dalamnya hanya bersama Ki Bum. Kedua orang tuanya telah meninggal sepuluh tahun yang lalu akibat karamnya kapal yang mereka tumpangi.
Sesampainya di kamar, tas yang Rae Ah bawa terjatuh begitu saja ke atas lantai. Tubuhnya merosot. Kedatangan Si Won memang menghibur tapi itu hanya sesaat. Sudah lima tahun berlalu tapi rasanya seperti baru kemarin ia melakukan banyak hal bersama laki-laki itu.
Demi Tuhan. Sebaiknya Cho Kyu Hyun segera kembali atau ia akan menjadi gila.
Kembali? Rae Ah terisak. Memangnya apa yang akan ia lakukan jika Kyu Hyun kembali? Akankah ada yang berubah? Tidak ada. Kecuali jika ia tetap bertekad untuk menemui Kyu Hyun dan kembali ditinggalkan. Hidupnya tidak hanya berubah tapi berakhir saat itu juga.
Sadar bahwa dua orang laki-laki yang menyayanginya akan curiga jika ia tidak bergegas,  Rae Ah menyeka air matanya lalu beranjak ke kamar mandi. Ia juga penasaran siapa yang akan Si Won perkenalkan padanya. Apakah seorang gadis? Ia dan kedua laki-laki itu memiliki perjanjian tak tertulis.
Jika salah satu di antara mereka menemukan seseorang yang mereka sukai, keduanya harus mengenalkan gadis tersebut. Lalu dua di antara mereka akan menilai. Jika keduanya berkata tidak, maka tidak akan ada yang melanjutkan hubungan tersebut. Jika kedua orang berbeda pendapat, maka pendapat Rae Ah sebagai satu-satunya orang yang tidak terkena aturan tersebut sangat diperhitungkan.
Mungkin Si Won akan mengenalkan seorang gadis.
Membutuhkan waktu tiga puluh menit bagi Rae Ah untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mengenakan pakaian rumahan dan memakai sedikit polesan di wajah, gadis itu segera turun. Dari atas tangga ia bisa melihat punggung seorang gadis, duduk bersebelahan dengan Si Won.
Benar dugaannya. Si Won membawa seorang gadis.
Rae Ah tersenyum ramah lalu bergegas menghampiri mereka bertiga yang sedang asyik berbincang. “Halo! Namaku Kim Rae…”
Dunianya seolah berhenti berputar, dadanya sesak seperti semua oksigen direnggut dari paru-parunya, dan matanya memanas. Berkedip sedikit saja ruangan ini akan dibanjiri oleh air mata.
Gadis yang duduk di dekat Si Won tersenyum ramah, berdiri, lalu membungkuk. “Namaku Kim Yi Ra. Senang bertemu denganmu, Kim Rae Ah-ssi.” Gadis itu memperkenalkan diri dan Rae Ah masih belum mengumpulkan oksigennya dengan benar.
Melihat Rae Ah yang tiba-tiba diam dan bahkan tak menggubris Yi Ra, Si Won dan Ki Bum saling bertukar pandang. Diam bukanlah sesuatu yang akan Rae Ah tunjukkan jika salah satu dari mereka membawa seorang gadis ke rumah ini. Biasanya, gadis itu akan jahil, membuat para gadis yang mereka bawa menyerah.
“Ada apa, Kim Rae Ah?” Ki Bum mendekati Rae Ah dan merangkul bahu sang adik. Ia melihat mata adik kecilnya menyimpan kesakitan yang mendalam. Sepuluh tahun merawat gadis itu dengan tangannya sendiri membuat Ki Bum hafal betul segala ekspresi yang ditunjukkan olehnya.
Rae Ah mengerjap dan setetes air mata berhasil turun di wajahnya. Gadis itu menoleh ke arah Ki Bum sekilas kemudian ke arah Yi Ra. Tatapan setajam mata pedang hingga Yi Ra tidak sanggup untuk membalasnya. Yi Ra menatap ke segala arah asal tidak pada sepasang mata Rae Ah.
“Aku tidak menyukaimu. Apapun hubunganmu dengan Ki Bum atau Si Won Oppa, aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan mereka. Aku membencimu!” Hardik Rae Ah membuat Si Won dan Ki Bum terkejut sedangkan Yi Ra hanya mengernyitkan dahinya bingung. Ia pertama kali menginjakkan kakinya di rumah ini dan telah mendapatkan penolakan. Tsk, yang benar saja.
“Jaga bicaramu, Kim Rae Ah!” desis Si Won. Laki-laki itu menahan amarahnya atas perkataan Rae Ah. Selama ini ia membiarkan Rae Ah melakukan apapun yang diinginkannya karena ia selalu memiliki pendapat yang sama tentang gadis yang dibawanya. Namun, kali ini tidak. Si Won sangat menyukai Yi Ra dan pendapat Rae Ah tidak ia inginkan. Ia membawa Yi Ra untuk diperkenalkan, bukan untuk dinilai oleh Rae Ah.
“Si Won-ah!” Ki Bum memberikan peringatan dalam nada bicaranya. Ia sangat menjaga perasaan Rae Ah dan tidak ingin Si Won marah karena perkataan gadis itu. Ki Bum yakin ada sesuatu yang Rae Ah rasakan ketika melihat Yi Ra. Matanya yang mengatakan itu. Adiknya terluka karena kehadiran Yi Ra. Meski tidak yakin, tapi itulah yang ia lihat.
“Kali ini aku tidak meminta pendapatmu,” ujar Si Won lemah. Sesungguhnya ia juga melihat apa yang Ki Bum lihat. Tapi kali ini Si Won tidak ingin mengalah.
Ki Bum mengusapkan ibu jarinya pada bahu Rae Ah lalu bertanya, “Boleh aku tahu kenapa kau tidak menyukainya?”
Yi Ra lagi-lagi harus merasa kebingungan melihat Rae Ah menangis. Tidak ada getaran pada tubuhnya atau pun isakan pada suaranya. Gadis itu menangis dalam diam.
Rae Ah menatap Si Won sekilas dan berganti pada Ki Bum. Melalui tatapan itu, Rae Ah ingin mereka mengerti bahwa ia tidak ingin mengatakan alasannya. Tapi kerutan di dahi Ki Bum mengatakan bahwa laki-laki itu menunggu jawab atas tanyanya.
“Dia…” Rae Ah menghela napas dengan kasar, terdengar menyakitkan di telinga Ki Bum dan Si Won. “Lima tahun lalu, aku melihatnya berciuman dengan Kyu Hyunku,” lirihnya.
Semua orang terkejut terutama Yi Ra. Kyu Hyunku? Lima tahun lalu? Jadi, gadis ini adalah…
Tangan Ki Bum terkulai di bahunya dan itu dimanfaatkan oleh Rae Ah untuk pergi. Rae Ah ingin menghindar dari Si Won yang mencintai seorang gadis yang memiliki kaitan dengan masa lalunya.
Yi Ra tidak memiliki ide betapa Si Won dan Ki Bum terkejut cenderung marah mendengar jawaban Rae Ah.
Si Won menatap Yi Ra lama. “Jadi, laki-laki yang pernah menikah denganmu itu adalah Kyu Hyun?”
♥♡♥
Beberapa saat yang lalu, Rae Ah mengunjungi tempat ini. Sekarang, ia kembali mengunjunginya. Ia datang ke sini tanpa pakaian hangat selain baju tidur yang sialan tipis. Pakaian ini tidak membantunya menghilangkan rasa dingin.
Sekarang ia merasa bodoh karena telah berlari ke arah mobilnya berada dan menjalankannya ke tempat ini. Seharusnya ia berlari ke dalam kamar lalu menguncinya rapat-rapat. Pada akhirnya ia memiliki tempat tidur dan selimut yang hangat membungkus tubuhnya serta sebuah boneka angry birds berwarna merah pemberian Kyu Hyun yang akan menghatkan tubuhnya ketika dipeluk.
Ia tahu tubuhnya menggigil, tulang-tulangnya seperti ditusuk jarum, tapi itu tidak menghentikan dirinya untuk duduk di salah satu bangku di bawah pohon besar. Meski lima tahun telah berlalu, tapi ingatan-ingatan itu masih segar bercokol di kepalanya, termasuk wajah Yi Ra yang berciuman dengan Kyu Hyun. Kyu Hyunnya.
♥♡♥
November 2nd, 2011. Seoul, South Korea.
“Hubungan kita harus berakhir,” ujar Kyu Hyun dengan tegas.
“Bercanda saja terus sesukamu, Kyu Hyun-ah! Itu tidak lucu sama sekali.” Rae Ah tak menanggapi perkataan Kyu Hyun dengan serius. Ia merasa kesal pada laki-laki itu karena telah membuatnya menunggu selama satu jam. Sekarang, setelah datang, laki-laki itu berkata ingin mengakhiri hubungan mereka tanpa melakukan basa-basi. Kyu Hyun tidak mencium dahinya seperti biasa.
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” Siapa pun bisa melihat ketegasan dari wajah Kyu Hyun dan Rae Ah tidak bisa lagi menghindari keseriusan Kyu Hyun.
Ini sulit dipercaya. Hubungan mereka baik-baik saja sampai kemarin. “Kenapa kau ingin mengakhiri ini semua? Kau sudah tidak mencintaiku? Atau kau memang tidak pernah mencintaiku dan hanya bermain-main, selama ini?”
“Ini untuk kebaikanmu. Hubungan kita tidak akan berhasil. Aku sangat mencintaimu, tapi tidak ada jalan bagi kita untuk melanjutkan hubungan ini,” lirih Kyu Hyun. Sekarang ia tidak bisa lagi menahan dirinya lebih lama. Ia harus segera pergi atau semuanya akan berantakan.
“Kenapa tidak ada jalan? Kita saling mencintai. Kenapa tiba-tiba seperti ini, Cho Kyu Hyun?!” Rae Ah berteriak. Ia sadar cintanya untuk Kyu Hyun sangat banyak dan tak akan habis dimakan waktu. Waktu tak akan bisa melakukan apa pun untuk cintanya.
“Kau akan menemukan laki-laki yang melebihi segalanya. Jaga dirimu baik-baik.” Kyu Hyun menepuk pundak Rae Ah sekilas lalu pergi.
Hanya seperti itu hubungan kasih yang terjalin selama dua tahun tersebut berakhir. Kyu Hyun pergi dan Rae Ah menangis, tak memiliki tenaga untuk mengejar laki-laki itu.
Kim Rae Ah menangis tersedu. Tidak ada yang melihat ketika langkahnya yang gontai menyusuri setiap inci rumah besarnya karena Ki Bum sedang berada di luar kota. Rae Ah bersyukur untuk itu. Tidak ada yang harus ia jelaskan.
Hingga keesokan paginya, Kim Rae Ah mengabaikan semua panggilan di teleponnya, menolak untuk sekadar melihat ID si pemanggil. Pelayan yang memanggilnya untuk sarapan ia abaikan. Gadis itu hanya mengenakan pakaian seadanya dan melesat pergi dengan mobilnya. Langkahnya berhenti di tempat Kyu Hyun memutuskan hubungan mereka semalam. Ia masih tidak bisa percaya hubungan mereka telah berakhir. Kalau Kyu Hyun sangat mencintainya, kenapa laki-laki itu tidak mencari jalan agar mereka tetap bersama?
Tubuhnya ambruk di atas bangku taman. Ini adalah tempat favorit mereka untuk beristirahat setelah berkencan. Banyak hal yang mereka lakukan dan ia tahu Kyu Hyun menyukainya. Bagaimana bisa seseorang membuang hal-hal yang disukainya dengan begitu mudah?
Kim Rae Ah terus menangis dengan kejadian semalam terus berputar-putar di dalam kepalanya. Ia tidak berpikir akan sanggup menjalani hidupnya jika Kyu Hyun tidak ada di sini.
Dalam tangis gadis itu meratapi kepergian Kyu Hyun yang terasa seperti mimpi. Ini tidak benar. Kenapa ia harus ditinggalkan ketika hatinya telah dipenuhi oleh rasa cinta untuk laki-laki itu?
Merasa berada di sini hanya membuatnya tak berhenti menangis, Rae Ah bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke arah tempat yang lebih ramai, tanpa peduli pada wajahnya yang telah kacau. Kyu Hyun harus kembali dan ia akan memaksa laki-laki itu kembali. Mereka saling mencintai dan ia akan mencari jalan agar mereka tetap bersama, apa pun itu alasan yang Kyu Hyun katakan, ia akan menemukannya.
Kyu Hyun adalah cintanya. Hidupnya.
Langkah-langkah kaki mungil itu berhenti di bagian lain taman. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Jantungnya berpacu cepat dan seluruh aliran darahnya mendidih.
Di depan sana, di bawah pohon besar, Kyu Hyun duduk berdampingam dengan seorang gadis. Keduanya terlihat serius dan Rae Ah terus memperhatikan gerak-gerik mereka. Bahkan ketika bibir keduanya saling bertemu dan Kyu Hyun menutup matanya, Rae Ah tahu Kyu Hyun yang mencium gadis itu.
Ketika Kyu Hyun mengakhiri hubungan mereka semalam, Rae Ah berharap itu adalah sebuah mimpi. Meski nyata, pada akhirnya ia masih bisa berharap dirinya mampu membawa kembali Kyu Hyun ke dalam hidupnya.
Sekarang, ketika melihat Kyu Hyun mencium gadis lain, Rae Ah tahu tidak ada lagi alasan untuknya berharap. Itu hanyalah sebuah keajaiban jika Kyu Hyun kembali padanya dan tinggal di sampingnya sepanjang sisa hidup mereka.
Ciuman itu adalah bukti bahwa Kyu Hyun tak lagi mencintainya.
Menerima kenyataan adalah hak tersulit bagi Rae Ah. Ia tidak tahu sudah berapa lama dirinya meratap di atas jembatan karena yang ia tahu sekarang langit sudah menjadi sangat gelap. Melihat air sungai yang mengalir dengan tenang dari atas sini bahkan tak mampu membuat risau di hatinya mereda. Air matanya mengalir lebih deras daripada air sungai itu sendiri.
Tubuhnya lelah, begitu pun pikirannya. Maka dengan kesadaran yang tersisa, Kim Rae Ah berbalik untuk segera pulang. Begitu lelahnya gadis itu hingga tak sadar bahwa ini adalah saatnya untuk para pejalan kaki berhenti dan menunggu lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Sebuah mobil melaju dengan begitu kencang dan menabraknya. Semua yang bisa ia rasakan adalah rasa sakit yang begitu menyiksa dan ketika matanya menutup, yang ia lihat segala macam ekspresi di wajah Kyu Hyun, datang silih berganti, dan sebelum semuanya benar-benar gelap, ia melihat Kyu Hyun mencium gadis itu.
Ketika Rae Ah membuka matanya, menurut Ki Bum, itu adalah hari kesepuluh sejak kecelakaan itu terjadi. Menurut Ki Bum pula, Kyu Hyun tak pernah datang untuk melihatnya. Setelah itu ia tahu, bahwa hubungan mereka benar-benar telah berakhir. Tapi Kyu Hyun dalam hatinya, takkan pernah berakhir.
♥♡♥
October 20th, 2016.
Kenapa selalu tempat ini yang menjadi pelariannya? Ia bahkan tak pernah merasa lebih baik ketika mencoba untuk menghilangkan kesedihannya di sini. Tapi tak ada tempat lain yang ingin ia kunjungi. Tak pernah ada.
Ia tahu telah menghindari Ki Bum dan Si Won dengan duduk di sini selama beberapa jam. Ia merasa tubuhnya menggigil. Bodoh. Jaketnya ia tinggalkan di rumah.
Meski kedinginan dan sangat membutuhkan kehangatan karena angin malam semakin dingin, Rae Ah tak beranjak dari tempatnya. Ia menggosokkan telapak tangannya agar menimbulkan kehangatan meski sebenarnya itu tidak membantu sama sekali.
Sebuah selimut berwarna ungu dengan gambar Ratu Elsa dan Putri Anna secara tiba-tiba mendarat di atas pangkuannya. Rae Ah terkejut, dahinya mengerut bingung ketika melihat seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahunan tersenyum padanya. Senyum yang manis dan sampai hingga ke matanya.
Ahjumma, tidakkah kedinginan? Aku memberikan jaket ini pada ahjumma.” Senyum Rae Ah terbit mendengar suara khas anak kecil itu mengkhawatirkannya.
Rae Ah melarikan tangannya ke pipi gadis itu. “Siapa namamu, Gadis Kecil?”
“Hyun-Ae. Ahjumma?
“Namaku Rae Ah,” jawabnya dengan begitu ramah. Melihat Hyun-Ae, entah apa yang dipikirkannya hingga merasa gadis kecil itu mirip dengan dirinya waktu kecil.
“Nah, di mana orang tuamu? Kenapa malam-malam begini kau masih berkelaran di sini?”
“Ayah dan kakak laki-lakiku ada di sana.” Rae Ah melarikan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Hyun-Ae.
Ketika menemukan dua orang laki-laki berbeda usia bediri memperhatikan dirinya, atau lebih tepatnya memperhatikan interaksi antara dirinya degan Hyun-Ae, matanya berserobok dengan mata milik laki-laki dewasa yang berdiri di samping laki-laki seusia Hyun-Ae. Rae Ah merasa dunianya telah berakhir, benar-benar berakhir.
Fakta bahwa Hyun-Ae mengatakan laki-laki itu adalah ayahnya, keajaiban yang selalu ia harapkan sejak lima tahun lalu, takkan pernah menghampiri hidupnya.
Kyu Hyun memiliki dua orang anak. Kyu Hyun telah menikah sedangkan dirinya menghabiskan lima tahun hidupnya hanya untuk memikirkan laki-laki itu.
Hyun-Ae dan anak laki-laki itu telah memperjelas garis hidupnya.
Ini adalah akhir.
To be continue

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

12 thoughts on “I Wish A Miracle 1/2”

  1. Apa Alasan Kyuhyun ninggalin Rae ah dulu?. Apa benar karena dia berselingkuh dengan yi Ra? Kasian Rae ah masih belum visa melupakan kyu sementara kyu sudah menikah Dan punya anak pula. Next part ditunggu plus ff heartless nya juga ditunggu ya..

  2. Ini keliatannya Sad ya…. aq gk berani baca….. baper nntinya…. hiks hiks….. baru baca komennya aja nyesek bgt….

  3. Sumpah, nyesek banget,……
    Apa alasan Kyuhyun mutusin hubungannya sama Rae Ah. Kalau Kyuhyun mencintai Rae Ah kenapa Kyuhyun malah milih mengakhiri hubungan mereka.

    Apa bener Yi Ra pernah menikah sama Kyuhyun. Kalau Yira, pernah menikah sama Kyuhyun berarti sekarang Yi Ra mantan istrinya Kyuhyun, dong,…???
    Terus, apa bener dua anak yg dilihat Rae Ah tadi anaknya Kyuhyun sama Yi Ra. Berarti Kyuhyun beneran udah menikah dan udah punya 2 anak,…???
    Tega banget, sih Kyuhyun.
    Kasihan banget sama Rae Ah. Pasti Rae Ah sakit hati dan terluka banget.

    Ditunggu eonni, kelanjutan FF ini sama karya-karya kamu yg lainnya.
    Berharap banget FF ini bakalan happy ending. Walaupun, sepertinya gk mungkin FF ini bakalan happy ending. Tapi, aku tetep berharap banget FF ini happy ending.
    Next part, postingnya jangan lama-lama ya eonni,…^^
    FIGHTING,…!!!

  4. Aku baru baca ff disini kyknya :p ff ini keren. Sekeren kyuhyun /? Kkk. Penasaran bngt sama alasan kyu mutusin rae ah, duh dag dig dug waktu mereka dipertemukan kmbali. Ak hrp siwon bisa ngambil kptsn yg trbaik buat hub nya sama yi ra. Kibum lemes kaget. Ak aja smpe nangis baca nih ff. Aku tunggu nextnya ya thor 😉 semangat! The best lah buat nih ff ;D

  5. hikshikshiks ..
    Sakit broo ..
    Rasanya ituloh ..
    Kayak di tusuk 1000 jarum jahit + ditusuk belati pas kena ulu hati ..
    Daebak ..
    Ini feelnya dapet banget ..
    Berasa gitu di setiap scenenya ..
    Keren dah pokoknya ..
    Ditambah ama soundtracknya lagi ..
    Makin tambah BAPER .. ;(
    ditunggu next partnya thor .. XD

  6. aahh…. sedih,,,, kyu brengsek banget sih,baru 1 hari putus udah langsung ngedate ma cewe lain aja. atau mungkin jauh sebelumnya udah selingkuh???

  7. Huwaaaaa…. Diantara kebahagiaan dihari raya, gue harus merasa sedih kayak gini karena ff. Demi apapun, gue nggak bisa nerima alasan KyuHyun mutusin Rae Ah. APAPUN!!!!!!!!! Terserah, itu anaknya Kyu atau bukan. Sore2 lu bikin gue naik darah. *NgomongMaAuthornya xD

  8. Ini beneran nyesek sumpah!! Bakalan sad ending nih kayaknya, ahh sumpah emosi banget lihat kyuhyun, segitu mudahnya dia mutusin dan nikahin orang lain! Aisshh gua yg berasa kesel jadinya

  9. Sakit hati banget kasian raeah kyuhyun tega banget ya membuat alasan untuk ninggalin rae ah ternyata bnr selinkuh ? Udh punya anak pula lagi ckkckkkk buat apa kau menanti dan menangisi laki” jahat dan brengsek bangkit dan cari kebahagiaanmu raeah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s