Fate Part 11

Fate Part 8

Hello! Sahur ini aku menemani kalian dengan Fate. Semoga suka yaaa. Typo  udah aku kurangin, tapi gak jamin udah bersih. hihi Eh, aku lupa sama nama ayhnya Rae Ah.Saking lamanya kali ya ini FF uhuhu jadi, terimalah dengan lapang dada kalau nama ayahnya beda sama part-part sebelumnya. sukur2 kalau belum disebutin wkw

Iya, sesungguhnya poster udah gak relevan sama part ini tapi aku lagi males bikin lagi. Part selanjutnya aja aku ganti ya.

Selamat membaca dan selamat sahur :*

 

o0o

Ketika Rae Ah mengatakan tentang restoran Italia, ia benar-benar menginginkannya. Terlihat dari betapa antusiasnya gadis itu membuka menu-menu makanan yang tersaji. Kyu Hyun tersenyum melihat antusiasme ‘kekasih baru’nya tersebut.

Kyu Hyun selalu menyukai Kim Rae Ah yang ceria dan tersenyum dengan cerah dan lebar tanpa beban. Melihat senyum itu membuat Kyu Hyun merasa seperti dunianya hanya berada di satu titik. Pada wajah malaikat cantiknya.

“Mau pesan apa?”

“Kau yang pilihkan. Aku makan apa saja,” jawab Kyu Hyun. Rae Ah menyeringai. “Bagaimana dengan salad?”

Kyu Hyun mengerutkan dahinya tak suka. “Kau mau membunuhku?”

“Tidak. Aku memberimu makanan,” timpal Rae Ah acuh. Kyu Hyun tersenyum kemudian membiarkan tangannya menyeberangi meja dan mengacak pelan rambut gadis itu.

Rae Ah mencebik. Matanya mendelik tajam yang dibalas oleh tawa laki-laki itu. Sebenarnya, ia bukan tidak suka. Hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti tersipu malu, misalnya. Tidak ada seorang pun gadis yang tidak terpesona ketika kekasihnya menyentuh kepalanya dengan lembut.

Rae Ah kemudian menyebutkan makanan yang ingin ia pesan dengan mengabaikan tawa Kyu Hyun yang masih meenggema di telinganya. Setelah mengulang pesanan Rae Ah, pelayan wanita yang sejak tadi merasa iri melihat ‘kemesraan’ tamunya itu pun pergi –sambil berharap akan menemukan laki-laki yang romantis seperti Kyu Hyun.

“Pelayan tadi sepertinya menyukaimu. Oh, pegawai wanita di kantorku juga tidak melepaskan pandangannya sedikit pun darimu,” ujar Rae Ah kesal. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa kesal melihat orang lain menatap Kyu Hyun tatapan yang begitu memuja. seolah-olah Kyu Hyun adalah selebriti tampan Hollywood.

Baiklah, Kyu Hyun memang mantan selebriti, tapi tetap tidak setampan Henry Cavill –supermannya atau pun Christian Bale –batmannya.

“Aku kan tampan,” timpal Kyu Hyun penuh percaya diri. Rae Ah berdecak kesal. “Tidak setampan Bale dan Cavill-ku.”

“Bale dan Cavill? Aku seperti tidak asing dengan nama-nama itu.” Kyu Hyun mengangkat sebelah alisnya, mengingat-ingat di mana ia pernah mendengar dua nama tersebut.

“Christian Bale dan Henry Cavill maksudku.”

“Sejak kapan kau mengenal mereka? Setahuku, kau tidak begitu tertarik dengan Hollywood.”

“Aku pernah menonton Batman waktu kecil. Aku memang menyukainya dan beberapa tahun belakangan aku baru menonton Man of Steel (2013). Aku bingung kenapa superhero tampan semua.” Kyu Hyun hanya berdecak sinis melihat Rae Ah begitu bersemangat menceritakan dua aktor kesukaannya.

“Kau menonton mereka karena mereka tampan?”

“Tidak,” jawaban Rae Ah terpotong oleh kedatangan pelayan yang membawakan pesanan mereka. Rae Ah tersenyum setelah pelayan itu selesai menata mejanya lalu pamit undur diri. Tentu saja dengan menunjukkan senyum genitnya pada Kyu Hyun dan membusungkan dadanya yang –oke, katakan saja besar.

Rae Ah mendecih lalu memanyunkan bibirnya. Dadanya tidak sebesar itu. Tapi Kyu Hyun mencintainya. Tidak apa-apa. Oke, lupakan karena itu tidak relevan dengan kondisi mereka sekarang.

Gadis itu mengambil makanan pesanannya lalu memasukkan satu suap penuh ke dalam mulutnya. Kyu Hyun melakukan hal yang sama. Tidak ada obrolan berarti selama mereka menyantap makanan masing-masing. Hanya bernostalgia dengan masa lalu mereka yang menyenangkan.

Henry Cavill dan Christian Bale pun terlupakan.

o0o

Jalanan London tak pernah lengang. Kyu Hyun menikmati kebersamaannya dengan Rae Ah. Setelah makan siang tadi, laki-laki itu tidak langsung mengantar Rae Ah ke kantornya. Ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan gadisnya. Mungkin bisa dilakukan lain kali, tapi kebersamaannya dengan Rae Ah adalah sesuatu yang telah ia impikan sejak lama. Kyu Hyun tidak bisa menunda kebersamaan mereka.

Kalau bisa, ia ingin Rae Ah tetap di sampingnya saja dan tidak melakukan pekerjaan apa pun.

Kyu Hyun tersenyum melihat genggaman tangan mereka berayun mengiringi setiap langkah yang menapak di atas jalanan London. Rasanya tidak pernah seindah ini sejak ia kembali.

“Ada yang menganggu pikiranmu?” tanya Kyu Hyun ketika melirik ke arah Rae Ah di sampingnya dan mendapati gadis itu menatap ke depan dengan tatapan tak fokus.

Rae Ah berhenti, begitu juga Kyu Hyun.

“Aku hanya sedang berpikir,” jawab Rae Ah setelah menghela napasnya dalam-dalam. “Apakah kau, aku, dan semua orang akan baik-baik saja dengan hubungan kita sekarang? Aku pernah menyakitimu dengan bersikap seolah-olah tidak lagi membutuhkanmu.”

“Kenapa berpikir seperti itu?”

“Aku belum bisa menghilangkan Chan Yeol dari pikiranku. Kau tahu, aku mencintai kalian berdua di saat yang bersamaan dan waktu itu aku memilih Chan Yeol. Lalu, setelah Chan Yeol pergi, aku masih menerima cintamu dan menjadi kekasihmu. Bukankah aku gadis yang kejam?”

Rae Ah menitikkan air matanya begitu ibu jari Kyu Hyun mengelus wajahnya dengan lembut dan penuh perasaan.

“Tidak. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Berada jauh darimu adalah neraka dan kejam itu sendiri adalah ketika kau selalu muncul dalam bayanganku tapi tak bisa kugapai. Sekarang, kau ada di sini dan kita bersama adalah hal yang selalu kuinginkan.” Kyu Hyun berujar dengan nada yang ebgitu lembut dan menyejukkan.

“Tapi, Kyu Hyun-ah–”

“Dengarkan aku, Kim Rae Ah!” Kyu Hyun menaruh kedua tangannya di bahu Rae Ah. Rae Ah mendongak dan terpaku pada tatapan Kyu Hyun yang penuh dengan keyakinan. Tatapan yang Kyu Hyun tunjukkan sekarang, sama dengan tatapannya di masa lalu. Selama ini ia hanya fokus pada tatapan mata penuh cinta milik Chan Yeol dan mengabaikan Kyu Hyun.

Kenapa tatapan itu tidak membuatnya jatuh cinta sebelum kehadiran Chan Yeol? Oh, apakah sekarang ia menyesal telah mencintai Chan Yeol? Tidak. Ia hanya– entahlah. Ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri beberapa tahun belakangan. Seolah itu menjadi musuh terbesar dalam dirinya.

“Chan Yeol mencintaimu. Aku juga mencintaimu. Sebelum mencintaiku, kau mencintai Chan Yeol lebih dulu. Perasaan-perasaan seperti itu wajar dirasakan. Aku tidak akan memaksamu untuk melupakan Chan Yeol. Kita jalani saja dan perlahan-lahan, kau akan mulai mencintaiku sepenuhnya dan menyimpan Chan Yeol di bagian yang lain. Kau dengar aku? Aku tidak akan memaksamu untuk melupakannya.”

“Kenapa kau sebaik ini, Kyu Hyun-ah?” tanya Rae Ah di sela-sela isak tangisnya. Gadis itu tidak sanggup lagi menatap mata Kyu Hyun yang memancarkan cinta dan ketulusan sehingga membuatnya menunduk begitu dalam. Menyembunyikan air mata di wajahnya.

“Aku sedang tidak berbuat baik. Aku hanya mengatakan apa yang ada kupikirkan dan kurasakan.”

Rae Ah mendongak. Bahunya bergetar karena menangis. Kata demi kata yang Kyu Hyun ucapkan telah menyentuh hatinya dan itu membuatnya semakin merasa bersalah. Kyu Hyun adalah laki-laki yang baik. Tidak pantas untuk bersanding dengan gadis kejam yang memiliki dua nama dalam hatinya.

“Kalau kau masih berpikiran buruk tentang dirimu, sebaiknya kita tidak perlu bertemu sampai kau sadar bahwa kau adalah satu-satunya yang kuinginkan dan yang paling pantas untuk berdiri di sampingku,” ujar Kyu Hyun.

Tangis Rae Ah semakin mengencang dan tanpa memikirkan apa pun lagi, gadis itu memeluk Kyu Hyun dengan erat. Tidak bertemu dengan Kyu Hyun berarti kembali ke masa-masa sulit yang tidak pernah ia inginkan. Merindukan Kyu Hyun tanpa bisa melihat wajahnya adalah neraka. Rae Ah tahu ia tidak menginginkan itu.

“Tidak, tidak, tidak. Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu.” Ucapannya tersendat-sendat akibat tangis.

Kyu Hyun tersenyum lalu membalas pelukan Rae Ah dan mengusap punggung beserta rambut gadis itu. Laki-laki itu menghidu aroma yang menguar dari leher Rae Ah yang sangat menenangkan. Kim Rae Ah adalah segala hal tentang ketenangan dan sebuah kenyamanan.

“Aku mencintaimu.” Rae Ah mengeratkan pelukannya mendengar pengakuan Kyu Hyun. Sejak mengetahui perasaan Kyu Hyun, ia merasa dirinya adalah seorang gadis yang peling beruntung karena telah dicintai dengan begitu tulus.

“Jangan memikirkan apa pun selain hal-hal indah tetang masa depan kita. Aku tidak ingin kau meragukan dirimu sendiri dan hubungan kita.”

Rae Ah mengangguk. “Bantu aku,” lirihnya. “Tentu,” jawab Kyu Hyun pasti. Sejak melihat Rae Ah muncul di kantornya, Kyu Hyun tahu ia tidak bisa lagi membiarkan gadis itu pergi. Kyu Hyun akan melakukan apa pun untuk membuat gadis itu tetap bersamanya.

o0o

Kyu Hyun berjalan menuntun Rae Ah memasuki lobi kantornya. Ia menggenggam tangan gadis itu dengan penuh percaya diri, tanpa peduli pada wajah Rae Ah yang memerah karena menahan malu. Bagaimana tidak malu? Saat ini mereka tengah menjadi tontonan seluruh anak buah Kyu Hyun.

Sebelum makan siang tadi di kantornya dan sekarang di kantor ini.

Semua mata tertuju pada Kyu Hyun dan Rae Ah. Para karyawan di kantor Kyu Hyun bertanya-tanya tentang gadis yang digandeng bos mereka tersebut. Petugas receptionist mengenal gadis itu sebagai wartawan dari A Magazine. Tapi ia tidak tahu kalau hubungan gadis itu dengan bosnya cukup dekat untuk saling bergandengan tangan.

Ketika menginjakkan kakinya di perusahaan ini beberapa tahun lalu, semua orang meragukan kemampuannya memimpin perusahaan. Meski tampan, para gadis tidak ada yang memujanya. Setelah ia berhasil membawa perusahaan ini keluar dari masa sulit, keadaan menjadi berbalik.

Kyu Hyun dipuji semua orang dan menjadi idaman para gadis di perusahaan ini. Beberapa pemegang saham yang memiliki anak gadis bahkan terang-terangan meminta Kyu Hyun untuk menikah dengan anak mereka.

Salah satu pemegang saham itu adalah John Frank yang sekarang sedang menatap kedatangan Kyu Hyun dan Rae Ah di kantor ini dengan tatapan penuh amarah. John Frank adalah orang yang paling gencar menjodohkan putrinya dengan Kyu Hyun. Ia sudah melakukan berbagai cara untuk mendapat perhatian bos besar tersebut tapi hasilnya selalu nihil.

Kyu Hyun terlalu sulit untuk didekati. Padahal, ia yakin anak gadisnya dipuja oleh banyak laki-laki di London.

“Tuan Cho,” sapa Frank ketika Kyu Hyun sudah berada di dekatnya. Ia sengaja berjalan ke arah Kyu Hyun untuk melakukan itu.

“Oh, Tuan Frank. Selamat siang,” balas Kyu Hyun seraya menjabat uluran tangan John.

“Ini pertama kalinya saya melihat Anda membawa gadis cantik ini ke kantor, Tuan Cho.”

“Ah, ya. Kim Rae Ah, kekasihku.” Kyu Hyun merangkul bahu Rae Ah. Rae Ah tersenyum dan mengulurkan tangannya pada laki-laki paruh baya itu.

John Frank menjabat tangan Rae Ah dengan terpaksa. “John Frank. Senang bertemu dengan Anda, Nona Kim.” John Frank kemudian beralih pada Kyu Hyun dan berkata, “Tuan Cho, jika Anda memiliki waktu, saya ingin mengundang Anda untuk makan malam di rumah kami. Jenny akan senang melihat Anda.”

Kyu Hyun tersenyum simpul. Ia terkesan oleh usaha laki-laki ini untuk menjodohkan dirinya dengan Jenny –anak gadis John Frank yang sudah jelas tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Kim Rae Ah dalam hidupnya.

“Akan kuberitahu kalau waktu luang itu telah menghampiri saya, Tuan Frank.” John Frank mengangguk. “Kalau begitu, kami permisi,” ujar Kyu Hyun. Tanpa ingin repot-repot membuat Rae Ah pamitan pada laki-laki itu, Kyu Hyun menarik gadisnya memasuki elevator khusus yang langsung menuju ke ruangannya.

“Siapa itu Jenny?” tanya Rae Ah. Ia sudah penasaran sejak laki-laki bernama John Frank menyebutkan nama itu.

Kyu Hyun mengambil tangan Rae Ah dan menggenggamnya lalu menjawab, “Anaknya.”

“Laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan,” jawab Kyu Hyun tanpa melihat ke arah Rae Ah. Jawaban singkat Kyu Hyun membuat Rae Ah jengkel dan ingin terus bertanya.

“Kenapa dia harus senang kalau kau datang ke acara makan malam itu?”

Diam-diam Kyu Hyun tersenyum. Kim Rae Ah dikenal sebagai murid paling kritis di sekolahnya. Banyak bertanya dan tidak akan berhenti sebelum emndapat jawaban yang memuaskan. Tapi rasa penasaran yang ditunjukkan olehnya sekaranga adalah hal yang berbeda dan Kyu Hyun ingin melihat seberapa jauh gadis itu akan bertanya.

“Tidak tahu.”

“Tidak mungkin. Kau pasti tahu,” desak gadis itu. Kyu Hyun menggedikkan bahunya lalu menarik Rae Ah keluar. Mereka telah berada di ruangan Kyu Hyun langsung dan Rae Ah menganga menyadari itu.

“Elevator itu langsung menuju ke ruanganmu?!”

Kyu Hyun terkekeh. “Wae? Kantormu tidak seperti ini?” Rae Ah menggeleng. Gadis itu masih terkejut mengetahui ada elevator yang langsung terhubung ke ruangan Kyu Hyun. Kemarin ia tidak terlalu peduli karena perhatiannya telah tersita oleh Kyu Hyun.

“Aku pikir kantor perusahaanmu lebih besar dari milikku.” Kyu Hyun menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Rae berdiri di sampingnya, masih mengamati ruangan kantor Kyu Hyun.

Kyu Hyun menarik Rae Ah sehingga gadis itu duduk di sampingnya. tangannya ia biarkan membungkus sekitar bahu gadis itu. “Ayah bilang tidak ada gunanya membedakan kelas-kelas antara pemilik dan karyawan. Ia juga ingin dekat dengan para pegawainya,” ujar Rae Ah dengan lirih. “Padahal ayah tidak pernah mencoba dekat dengan anak-anaknya,” lanjut gadis itu.

“Aku akan bersahabat dengan anak-anak kita kelak,” kata Kyu Hyun, berusaha mengalihkan kesedihan Rae Ah. Kyu Hyun tahu bagaimana keluarga Kim menjalani kehidupannya. Rae Ah dekat Jong Woon tapi lebih dekat lagi dengan Ki Bum. Ketiganya sangat menghormati ayah mereka meski Rae Ah lebih sering membantah, meski Ki Bum memusuhi ayahnya, dan akhir-akhir ini Jong Woon juga memusuhi kepala keluarga di rumah itu.

Ucapan Kyu Hyun tersebut membuat Rae Ah menoleh secara refleks dan wajahnya memerah ketika Kyu Hyun mencuri ciuman darinya. “Memangnya kita akan menikah?”

“Kau pikir aku mencintaimu dan menjadikanmu kekasihku ini hanya untuk main-main?”

“Kalau begitu kenapa kau tidak mau memberitahu padaku tentang Jennymu?”

Kyu Hyun mengangkat alisnya sebelah. “Jennyku?”

“Ya, Jennymu. Laki-laki itu bilang, Jenny akan senang kalau kau datang ke acara makan malam di rumah mereka.”

“Kau cemburu?” goda Kyu Hyun. Rae Ah mendecih sebal. “Bukan urusanmu. Cemburu atau tidak, urusanmu adalah menjelaskan padaku siapa itu Jenny.”

Kyu Hyun terkekeh dan kembali mencuri ciuman dari Rae Ah. Gadis itu melotot dan Kyu Hyun semakin tertawa. “John Frank adalah salah satu dari banyak orang tua yang ingin menjodohkan anak-anak gadis mereka denganku. Dan di antara mereka, John Frank adalah yang paling gencar menjodohkanku dengan anaknya.”

“Kau pernah bertemu dengan anak gadisnya itu?”

“Ya, beberapa kali.”

“Cantikkah?”

Kyu Hyun menoleh ke samping, tersenyum menggoda lalu mencium Rae Ah lagi. “Cantik. Tapi tidak lebih cantik darimu dan yang paling penting adalah Jenny atau siapa pun tidak akan pernah bisa menggantikanmu.”

Terdengar cheesy tapi cukup untuk membuat wajah Rae Ah memerah dan tak bisa menahan senyumnya. “Liar!” Rae Ah memukul dada Kyu Hyun untuk menutupi kegugupannya.

Kyu Hyun semakin tertawa melihat tingkah menggemaskan Rae Ah. Laki-laki itu kemudian membawa Rae Ah untuk bersandar di dadanya. Rae Ah tersenyum ketika mendengar debupan jantung Kyu Hyun. Degupan jantung itu sama indahnya dengan suara Kyu Hyun ketika bernyanyi.

Mulai sekarang Rae Ah akan menyukai degup jantung Kyu Hyun.

“Aku harus bekerja dan kau membawaku ke sini,” kata Rae Ah setelah tercipta hening beberapa saat. Keheningan itu digunakan keduanya untuk meresapi kebersamaan mereka hari ini.

“Tidak senang bersamaku? Kau memilih pekerjaan daripada kekasihmu yang menjadi rebutan para pemegang saham di sini?”

“Tsk. Aku sudah bersama dengan pekerjaanku selama bertahun-tahun sedangkan menjadi kekasihmu belum genap satu hari, dan aku memilihmu.”

Rae Ah melingkarkan tangannya di atas perut Kyu Hyun dan memejamkan matanya. Kyu Hyun tersenyum seraya mengusap kepala Rae Ah. “Liar!

o0o

Sebuah pepatah mengatakan, ‘baik atau buruk tetaplah kayu jati’ yang berarti baik atau pun buruk keluarga tetaplah keluarga. Baik atau pun buruk, ayah tetaplah ayah. Itulah yang ada di pikiran Jong Woon dan Ki Bum yang saat ini sedang berlari di koridor rumah sakit, mengabaikan peringatan untuk tenang.

Beberapa saat yang lalu, keduanya tengah bersama untuk membahas berbagai masalah kehidupan mereka ketika orang kepercayaan ayah mereka menelepon Jong Woon dan mengabarkan bahwa Kim Tae Jun sedang dibawa ke rumah sakit.

“Bagaimana ayah?” tanya Jong Woon begitu sampai di depan ruang ICU. Napas keduanya masih terengah. Ki Bum menarik kerah Hyun Seok karena laki-laki itu hanya menunduk ketika ditanya oleh Jong Woon.

“Kakakku bertanya bagaimana keadaan ayah kami, Hyun Ahjussi.” Jong Woon menahan bahu Ki Bum, meminta adiknya itu untuk melepaskan Hyun Seok. Dengan napas terengah, Hyun Seok menjawab, “Penyakit jantungnya kumat. Dokter sedang memeriksanya,” kata Hyun Seok dengan napas terengah karena terkejut mendapat perlakuan kasar dari Ki Bum.

Ki Bum menunduk, tangannya beralih ke bahu Hyun Seok. “Maafkan aku, Ahjussi.” Hyun Seok megusap tangan Ki Bum dan berkata, “Tidak apa-apa. Aku mengerti. Kita tunggu saja.” Ki Bum mengangguk.

Jong Woon duduk bersandar di kursi tunggu. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Beruntung ia tidak membiarkan dirinya dan Ki Bum meminum banyak alkohol ketika mereka berbincang di kelab tadi.

Ki Bum ikut duduk di samping Jong Woon sedangkan Hyun Seok berdiri menyaksikan kakak beradik itu berada dalam kesedihannya. Hyun Seok tahu bahwa hubungan tuannya dan mereka tidak baik. Meski begitu, ia bersyukur karena kedua anak laki-laki itu masih memiliki kasih sayang untuk ayah mereka.

Laki-laki yang sudah menjadi kepercayaan Kim Tae Jun selama dua puluh tahun itu mengernyit ketika tidak melihat Rae Ah ada bersama mereka. “Di mana nona?”

Ahjussi tidak tahu? Rae Ah di London,” jawab Ki Bum. Hyun Seok mengangguk.

Ki Bum mengeluarkan ponselnya, mencari kontak Rae Ah, lalu menelepon gadis itu. “Menelepon siapa?” tanya Jong Woon. “Rae Ah,” jawab Ki Bum singkat.

“Bodoh! Dia sendirian di London. Dia pasti panik. Kau ingin sesuatu terjadi padanya?”

“Kau tidak mengenalnya? Dia akan sangat marah kalau kita merahasiakan ini,” balas Ki Bum.

Jong Woon akan mengeluarkan kembali balasan namun Ki Bum telah berbicara, “Rae Ah, dengar aku. Aku akan meminta pihak perusahaan di sana untuk menyediakan pesawat dan kau harus segera pulang sekarang, oke?”

Ki Bum mengusap wajahnya ketika di seberang sana, Rae Ah bertanya dengan tak sabaran. Sebelum menjawab, Ki Bum mengembuskan napasnya dengan kasar. “Ayah masuk rumah sakit dan melihat dari lamanya pemeriksaan, yang ini lebih parah dari sebelumnya. Pulang sekarang, oke?”

Setelah itu, Ki Bum tidak mendengar apa pun lagi selain suara seorang laki-laki yang memanggil Rae Ah dengan nada khawatir. Ki Bum tahu Rae Ah sedang bersama seorang laki-laki tapi ini bukanlah waktunya untuk penasaran.

Sambungan terputus. Ki Bum menghela napas dalam, berpikir bagaimana keadaan Rae Ah sekarang dan apakah keputusannya untuk memberi tahu Rae Ah tentang kondisi ayahnya itu tepat atau tidak.

TBC

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

20 thoughts on “Fate Part 11”

  1. Mdhn” kebahagiaan mereka tdk ada yg ganggu tw pun halangan buat menjadi satu dlm ikatan pernikahan
    Takunya jenny yg jd orang ketiga diantara hub kyu dan rae ah

  2. annyeonggg…ualh kyuhyun romantis sekali ><
    jd pingsan kyk’a tuh rae pas lg bareng kyuhyun kan td ,pulang kekorea bareng ma kyuhyun sekalian 😀

  3. ah chapter sebelumnya emg dabes deeehhh duh yg ini juga cumaaaaaa endingnya bikin degdegaaaaannn huhu tp kayanya gada yg harua dikhawatirkan since bapaknya kan pengennya rae ah sama kyuhyum huahahah ditunggu lanjutannyaaa

  4. Secara gak langsung keadaan ayah rae-ah sekarang merupakan cobaan untuk hubungan kyuhyun ama rae-ah yang baru jadian 1 hari..
    Semoga mereka tetap bersama ya

  5. kyuhyun so sweat banget,jadi kepengen deh.he,,he,,
    kalo rae-ah pergi berarti nanti bakalan LDR dong sama kyuhyun.kasian padahalkan mereka baru jadian.

  6. Ya walupun telat bacanya dari jadwal update….

    Apa kabar rae ah??? Aduhh kyuhyunnya ikut ya ..ga tega tar liat rae ah cuma bareng kakanya…
    Lagian kebersamaan mereka baru bentar bgt..huhuhu udah ada kejadiab aja

  7. Makin romantis aja mrk.. kyuhyun selalu tersenyum dan berbunga2.. suka siat pasangan ini…. rae ah klw prgi liat ayahnya kyuhyun ikut dong… buat jagain Rae ah… biar mkin sweet… jenny bukan pengganggu hubungan mrk…

  8. Apakah Rae Ah langsung pulang? Apakah kyu akan ikut Rae Ah? Mudah-mudahan hubungan antara Rae Ah dan kyu bisa awet dan mereka bisa menikah. Ditunggu lanjutanya keep writing and fighting.

  9. Baru ja Rae ah dpet kbhagiaan..nih dah dpet kbar buruk lg…
    sehrusnya tn.Frank bkanlah apa2..bhkan saat Rae ah jauh tnpa kpstian ja gg bsa gaet kyuhyun tuk anknya…apa lg dah ada Rae ah disisi kyuhyin dgn sttus yg skrg?? pstinya gh dong ya kan thor?? hehe…moga hub mreka baik2 ja krn cinta mreka khusus nya kyuhyun terlalu kuat tuk dipatah kan…
    happy ending ya thor ……gomawo dah up date. ff favorit ak….

  10. Yah lagi romantisannya ada aja yang ganggu, tapi itu ayahnya sendiri, semoga gak terjadi apapun sama ayah mereka walaupun udah berperilaku sekejam apapun, karna emang bener seburuk apapun dia ‘ayah tetaplah ayah’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s