Good For You

 

Good For You

FF ini aku masukin buat lomba di salah satu blog, dan gagal hiihi mungkin karena alur dan feelnya yang jelek ya. Semoga ini menghibur.

Recommended songs: Never Ending by UP10TION and Good For You by Eric Nam.

 

_o0o_

Musim gugur kali ini terasa berbeda karena untuk pertama kalinya ia menjauh dari orang-orang terdekatnya. Biasanya, di musim gugur, ia akan mengunjungi rumah kakek dan neneknya di Busan. Berkumpul dengan keluarga besar dan sepupu-sepupunya yang berisik. Di sana, ia merayakan hari perayaan chuseok  dengan mereka.

Ia tersenyum mengingat kedua adik sepupunya yang selalu berbuat rusuh ketika seluruh keluarga besar berkumpul. Memiliki antusiasme yang tinggi sehingga apa pun akan menjadi menarik bagi mereka. Ia tidak membenci mereka. Mereka adalah segala yang ia butuhkan untuk mengusir kesepiannya.

Bahkan sekarang, kedua saudaranya yang bernama Lee Hwan Hee dan Lee Dong Yeol itu sangat ia rindukan. Ia tidak merindukan kedua orang tua atau kedua saudara kandungnya –satu adik perempuan dan satu kakak laki-laki.

Ini baru hari kesepuluh di musim gugur dan hari kedua puluh dirinya berada di Munich. Ia tidak datang untuk belajar atau pun bekerja. Beberapa bulan yang lalu gelar sarjananya sudah ia dapatkan dengan hasil yang bagi orang lain sangatlah cemerlang sedangkan bagi dirinya itu bukan hal yang patut dibesar-besarkan.

Begitu pun dengan SNU yang menjadi almamaternya.

Kedatangannya ke Munich adalah untuk menikmati suasana baru. Ia ingin melupakan –tidak, menenangkan dirinya dari peristiwa yang membuatnya sangat marah, terjadi beberapa waktu lalu. Ia tidak pernah datang ke Munich atau kota mana pun di Jerman, begitu pula dengan kota-kota lainnya di Eropa.

Keluarganya adalah pemegang kuat tradisi leluhur mereka yang begitu menjunjung tinggi martabat keluarga sehingga tidak ada anak perempuan yang pernah diizinkan untuk pergi ke luar negeri.

Untuk kasusnya, ini adalah pengecualian yang harus ia dapatkan dengan cara yang sangat tidak mudah. Ia menyiksa dirinya sendiri dengan mengurung diri di kamar dan menolak untuk makan, selain minum susu hingga berakhir di ranjang rumah sakit.

Itu adalah penyiksaan yang tak ia sengaja. Ia melakukan itu semua karena telalu marah dan kecewa. Tidak berniat melukai dirinya sendiri. Dan sekarang ia merasa bodoh karena telah meratapi nasibnya yang dikhianati kekasihnya. Kekasih yang telah bersamanya sejak masuk ke perguruan tinggi, yang berarti mereka menjalani hubungan selama hampir empat tahun.

Terlalu sibuk berpikir dan mengenang membuatnya kehilangan fokus. Ia mengunjak remnya secara mendadak setelah terdengar suara benturan yang cukup keras. Suara itu muncul dari arah belakangnya. Ia buru-buru melepas sabuk pengaman lalu keluar dari mobilnya. Mobil kesayangannya pasti rusak parah karena benturan itu dan ia tidak akan membiarkan pelakunya lolos begitu saja.

Begitu sampai di luar, ia langsung memeriksa bagian belakang mobilnya dan terkejut, matanya hampir keluar karena ia melihat mobil bagian belakangnya telah hancur karena ditabrak oleh mobil lain.

Ia marah. Menggedor pintu si pengemudi yang menabraknya sebanyak tiga kali, lalu berkacak pinggang, menunggu si pengemudi keluar. Hanya sepemakan sirih saja pengemudi mobil itu langsung keluar setelah ia menggedor-gedor pintunya.

Si pengemudi itu menghembuskan napasnya kesal lalu melihat ke arahnya. Sebelumnya pengemudi itu terlihat sangat kesal, tapi kemudian terdiam dan hanya menatap padanya.

Begitu pula dirinya.

Ia terpaku di tempat karena merasa tak percaya dengan penglihatannya. Pengemudi itu adalah seorang lelaki yang memiliki perawakan cukup tinggi, hampir menyerupai seorang model. Wajahnya sangat tampan, memiliki kulit yang putih seperti susu, dan mata yang tajam.

“Cho Kyu Hyun,” gumamnya. Lelaki bernama Cho Kyu Hyun itu tersneyum –miring.

Long time no see, Kim Rae Ah.” Smirk itu mengingatkan ia, Rae Ah, pada Cho Kyu Hyun di masa lalu. Cho Kyu Hyun yang selalu mengganggu dan membuatnya kesal. Empat tahun lalu, selama kehidupannya di SMA.

“Aku tidak pernah menyangka kita akan bertemu di sini,” ujar Kyu Hyun. Sementara itu, Rae Ah masih belum bisa menemukan suaranya. Ia benar-benar terkejut bisa bertemu Kyu Hyun di sini. Di Munich.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyu Hyun. Rae Ah mengerjap. “Ah, ya, aku… aku baik-baik saja. Aku… hanya terkejut,” jawab Rae Ah gelagapan. Demi Tuhan, ia benar-benar terkejut.

Kyu Hyun tertawa pelan melihat kegugupan gadis itu. “Tidak jadi memarahiku?” goda Kyu Hyun. Rae Ah membuka mulut kemudian menutupnya lagi.

Benar. Lelaki ini telah menabrak mobilnya.

“Ganti rugi!” serunya dengan nada galak yang dibuat-buat. Membuat Kyu Hyun terkekeh.

“Mobilku juga rusak. Kau yang berhenti secara mendadak, Kim Rae Ah-ssi. Eotteokhae?

“Tapi kau yang menabrak mobilku,” bantah Rae Ah. Gadis itu berusaha menutup-nutupi kegugupannya.

“Baiklah, aku akan ganti rugi. Simpan saja mobillmu di sini dan aku akan memanggil orang bengkel agar membawa mobilmu untuk diperbaiki.” Jawaban Kyu Hyun membuat Rae Ah terheran-heran. Benarkah Cho Kyu Hyun mengalah semudah ini?

Cho Kyu Hyun di masa lalu bukanlah seseorang yang akan mudah mengalah –atau katakan dia tidak pernah mengalah. Well, empat tahun berlalu, mungkin telah membuatnya berubah dan menyadari betapa sifat arogannya itu sangat mengenaskan.

Pardon me?” reaksi spontan itu membuat Kyu Hyun mengeryit. “Ada yang salah?”

“Ya, tentu. Kau mengalah, mengiyakan permintaanku untuk ganti rugi dengan begitu mudah. Ini adalah sesuatu yang salah, kau tahu? Seorang Cho Kyu Hyun mengalah dengan mudah?”

Kyu Hyun berdecak sebal, menaruh kedua tangannya di pinggang, lalu menatap Rae Ah dengan tajam. “Dalam hitungan ketiga, kalau kau tidak mengatakan ya untuk mobilmu, aku akan langsung pergi dari sini. Satu… dua…”

“Ya! Ya, bawa mobilku ke bengkel, Kyu Hyun-ssi!” Kyu Hyun tersenyum mengejek. Ia mengenal Kim Rae Ah dengan begitu baik. Gadis itu tidak akan membiarkan dirinya berada dalam kerugian sedikit pun. Dan itu masih belum berubah.

“Naik ke mobilku! Aku akan mengantarmu pulang.”

“Aku bisa menelepon taksi. Tidak perlu mengantarku.”

“Hei, ayolah! Kita tidak bertemu selama… berapa? Enam tahun?”

“Empat tahun.”

“Ah, benar! Empat tahun. Kita bisa mengobrol sambil meminum anggur khas Jerman. Bagaimana?” tawaran Kyu Hyun terdengar menggoda, tapi ia tidak meminum alkohol. Lagipula, alkohol di siang hari?

“Matahari masih belum terbenam dan aku tidak minum alkohol. Jadi, sebaiknya, kau mengantarku pulang saja.”

Kyu Hyun mengangguk begitu saja dan Rae Ah kembali merasa terkejut. Ini benar-benar tidak seperti Cho Kyu Hyun yang ia kenal tujuh tahun lalu. Meski begitu, bagian dari dirinya merasa senang melihat perubahan yang ditunjukkan oleh Kyu Hyun tersebut. Ia tidak lagi melihat Kyu Hyun yang keras kepala –atau belum.

Akhirnya Kyu Hyun dan Rae Ah sepakat untuk pulang setelah Rae Ah memastikan Kyu Hyun menelepon bengkel terlebih dahulu. Banyak hal yang mereka bicarakan selama di dalam mobil, layaknya sahabat lama yang baru berjumpa kembali. Padahal, di masa lalu, mereka bukanlah teman apalagi sahabat.

Keduanya tidak pernah akur dan Kyu Hyun menjadi pihak yang paling menyebalkan dengan terus-menerus mengganggu Rae Ah. Hari-hari mereka di sekolah dihabiskan dengan saling meneriaki satu sama lain.

Jika bertanya pada teman-teman sekolah mereka apakah mengenal Kyu Hyun dan Rae Ah, maka seratus persen mereka akan menjawab, “Ah, tentu saja. Mereka adalah Tom and Jerry sekolah kami.”

“Tapi Jerry adalah lelaki. Mana mungkin mereka menyamakanku dengan Jerry?” bantah Rae Ah ketika Kyu Hyun mengingatkannya tentang julukan yang teman-teman mereka berikan. Kyu Hyun hanya tertawa pelan melihat tingkah laku Rae Ah yang menggemaskan.

Rae Ah bersedekap, menyandarkan kepalanya ke jendela mobil, memejamkan mata, lalu berkata, “The Kerrington’s. Bangunkan aku kalau sudah sampai karena aku tinggal di sana.”

Kyu Hyun diam, terkejut karena ternyata Kim Rae Ah tinggal di gedung yang sama dengannya. Dari apa yang Rae Ah ceritakan, gadis itu tidak memiliki tujuan apa pun di Munich dan tidak berencana untuk kembali ke Korea dalam waktu dekat.

Ia tidak tahu hal baik apa yang telah ia lakukan di masa lalu hingga Tuhan memudahkan usahanya. Menjawab doanya dengan mengirim gadis yang telah ia sukai sejak SMA itu ke Munich.

Kyu Hyun tersenyum, menoleh ke arah Rae Ah dan tersenyum begitu melihatnya bernapas dengan teratur. Gadis ini, bagaimana bisa, tertidur di mobil seorang lelaki yang baru ditemuinya setelah empat tahun?

Kyu Hyun terkekeh pelan, tersenyum senang. Tangannya terangkat menuju kepala Rae Ah dan kemudian mengelusnya dengan lembut, penuh perasaan. “Ini petunjuk dari Tuhan agar aku tidak menyerah seperti dulu, kan? Terima kasih karena tidak melupakanku, Kim Rae Ah.”

_o0o_

“Kenapa mengikutiku?” tanya Rae Ah begitu ia memasuki elevator dengan Kyu Hyun mengekor di belakangnya. Gadis itu menekan angka sembilan dan Kyu Hyun menekan angka sepuluh.

Mungkinkah?

“Aku tinggal di lantai sepuluh. Jadi, aku tidak mengikutimu,” jawab Kyu Hyun tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Rae Ah menggigit bibir bawahnya. Malu karena telah menuduh Kyu Hyun mengikutinya padahal Kyu Hyun tidak memiliki alasan untuk melakukannya.

Sementara itu, Kyu Hyun melakukan hal yang sama. Menggigit bibir bawahnya. Namun, yang berbeda adalah apa yang mereka pikirkan. Kyu Hyun berpikir bahwa ini benar-benar petunjuk dari Tuhan agar tidak menyerah untuk mendapatkan Kim Rae Ah –cintanya.

“Memangnya kau sudah tidak ada pekerjaan? Ini masih siang dan kau sudah kembali ke rumah?”

“Tidak. Aku tidak begitu sibuk jadi bisa pulang lebih awal,” jawab Kyu Hyun. terselip keraguan tapi Rae Ah tidak akan menyadarinya.

Rae Ah mengangguk dua kali. Suasana kemudian menjadi hening karena tidak ada yang masuk lagi. Pembicaraan tentang masa lalu telah mereka lakukan ketika di mobil dan Rae Ah tidak tahu harus mengatakan apa untuk membunnuh keheningan ini.

Ting!

Pintu elevator terbuka di lantai kesembilan. Rae Ah menarik napas lega karena terbebas dari suasana canggung, melangkah keluar dan berbalik. “Terima kasih atas tumpangannya. Selamat siang, Cho Kyu Hyun.”

Kyu Hyun tersneyum dan mengangguk sekali. Rae Ah masih berada di tempatnya sampai pintu elevator tertutup, membawa Kyu Hyun ke lantai sepuluh. Gadis itu menunduk sejenak lalu pergi setelahnya. Pertemuan dengan Kyu Hyun hari ini adalah hal yang tak terduga.

Di lantai sepuluh, Kyu Hyun tidak keluar dari elevator dan menekan kembali angka satu. Ia berbohong. Tidak mungkin seorang Cho Kyu Hyun memiliki waktu luang di siang hari seperti ini.

Ia pergi dari kantornya untuk bertemu dengan klien dan karena ‘bertemu’ dengan Rae Ah, Kyu Hyun melupakan itu. Ia memang tinggal di sini dan sengaja mengikuti Rae Ah, mengintip di lantai berapa gadis itu tinggal. Dan Tuhan benar-benar berpihak padanya.

Kyu Hyun tinggal di lantai sembilan, bukan lantai sepuluh. Ia sengaja menekan angka itu agar tidak bertanya macam-macam, atau karena ia belum ingin Rae Ah mengetahuinya. Entah apa yang akan ia lakukan dengan ini, tapi yang pasti, Tuhan memberkatinya.

“Sial. James pasti marah besar,” gerutunya begitu sampai di lantai satu. Ia berlari ke mobil dan memacunya dengan kecepatan di atas rata-rata. James Clark bukan orang yang sabar menunggu meski hanya lima menit dan Kyu Hyun telah membuatnya menunggu selama… satu jam.

Double sial.

_o0o_

Kim Rae Ah sedang memakan sandwich-nya ketika seseorang menekan bel. Ia tidak memesan apa pun, jadi tidak mungkin itu adalah jasa pengantar. Tukang pos? Surat dari keluarganya? Tidak mungkin. Ia baru saja berbicara dengan neneknya. Teman? Jangan bercanda. Ia tidak mengenal siapa pun di Munich kecuali… Cho Kyu Hyun!

Gadis itu menaruh sandwich kemudian berlari untuk membukakan pintu. Tanpa melihat monitor, ia membuka pintu itu dan terkejut karena tebakannya benar. Orang yang datang adalah Kyu Hyun.

“Kyu Hyun-ssi? Bagaimana caranya kau bisa tahu kamarku?”

“Setiap lantai hanya memiliki dua rumah. Aku mengetuk pintu lain sebelumnya dan itu bukan kau. Jadi, yang ini kamarmu.” Jawaban Kyu Hyun itu membuat Rae Ah terpana. Cho Kyu Hyun mencarinya. Oh, tentu saja itu bohong karena rumah yang satu lagi adalah miliknya.

“Benarkah?”

“Benar. Sekarang, bolehkah aku masuk? Aku kedinginan.”

Melihat Kyu Hyun menggosok-gosok lengannya dari balik jas hitam yang dikenakannya, Rae Ah menggeser tubuhnya ke samping agar Kyu Hyun bisa masuk. Kyu Hyun tersenyum sekilas lalu masuk, membuka sepatu dan menggantinya dengan sandal.

“Rumahmu bagus,” puji Kyu Hyun sambil matanya mengitari ruangan itu. Ia memiliki maksud dengan menjelajah rumah Rae Ah, yakni ingin memastikan apakah ada sesuatu yang memberinya petunjuk akan status gadis itu.

Terakhir kali, ketika ia memutuskan untuk pergi jauh dari Korea, pergi jauh dari cinta sepihaknya, Kim Rae Ah memiliki kekasih. Ia tidak berharap menemukan foto Rae Ah dengan kekasihnya di rumah ini, tapi jika menemukan, ia tidak akan mundur lagi.

Kyu Hyun tidak akan menyerah untuk kali ini.

“Kau memakan sandwich untuk makan malammu?” tanya Kyu Hyun begitu sampai di ruang televisi, tempat Rae Ah memakan sandwich­-nya tadi. Rae Ah mengangguk. “Aku kehabisan bahan makanan dan terlalu malas untuk makan sendirian di luar sana,” jawabnya.

“Aku belum makan malam. Bagaimana kalu kita makan di Restoran Korea kesukaanku?” tawar Kyu Hyun. Rae Ah diam sejenak, mempertimbangkan apakah akan menerima tawaran Kyu Hyun atau tidak.

“Ayolah! Aku lapar,” bujuk Kyu Hyun. Ini benar-benar sebuah bujukan, bukan pemaksaan seperti yang biasa ia lakukan di masa lalu dan Rae Ah luluh dibuatnya. Tidak ada salahnya mereka makan bersama. Toh, tidak ada yang ia kenal selain Kyu Hyun di Munich.

“Baiklah. Tunggu sebentar. Aku akan mengambil jaketku.” Kyu Hyun menganguk. Diam-diam, lelaki itu tersenyum puas.  Puas karena Rae Ah tidak menolak ajakannya danpuas karena tidak menemukan satu pun foto kekasih Rae Ah di rumah ini.

Beberapa saat kemudian, Rae Ah kembali dengan jaketnya. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Rae Ah memimpin Kyu Hyun keluar dari apartemennya.

Tanpa terkendali dan tanpa mau mengendalikannya, mereka menjadi sering keluar bersama. Setiap hari menghabiskan waktu makan malam di berbagai restoran di Munich. Mereka menjadi lebih akrab dan terlihat nyaman satu sama lain.

Minggu keempat sejak pertemuan pertama mereka, hari ini, Kyu Hyun meluangkan waktunya untuk mengajak Rae Ah mengunjungi tempat yang diinginkan oleh gadis itu. Ia menunggu Rae Ah di lobi gedung apartemen mereka.

Oppa!” seruan seorang gadis membuat Kyu Hyun menoleh ke arah pintu masuk. Lelaki itu berdecak sebal emlihat siapa yang memanggilnya. Kenapa gadis itu harus datang di saat seperti ini?

Gadis itu menghampiri Kyu Hyun, tersenyum manja dan langsung melingkarkan tangannya di tangan Kyu Hyun. Kyu Hyun tidak merasa memiliki kewajiban untuk bersikap ramah pada gadis itu, maka ia hanya diam dan menatapnya dengan malas.

“Aku baru saja akan mengunjungimu. Kau menungguku di sini, hm?” tanya gadis itu manja. Bersamaan dengan Kyu Hyun yang akan membuka mulutnya, Kim Rae Ah muncul dari elevator dengan style yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Mengenakan gaun selutut berwarna peach dan berlengan panjang, kakinya dibalut dengan high heels berwarna hitam, senada dengan tas tangannya, dan yang paling penting adalah gadis itu memakai riasan di wajahnya.

Kyu Hyun tidak bisa berpaling.

Kim Rae Ah terlalu cantik dan ia tidak bisa mengabaikannya. Ia melepas rangkulan Joo Yeon, gadis yang memanggilnya oppa, lalu dengan langkah perlahan menghampiri Rae Ah yang masih berdiri beberapa meter di hadapannya.

Kim Rae Ah menunduk, memainkan jaket di tangannya. Ia ingin memakai jaket itu saja, tapi Hwan Hee dan Dong Yeol tidak menyarankan itu. Oh, siapa yang akan mengira Kim Rae Ah melakukan video call dengan kedua sepupunya agar ia tidak mempermalukan diri di hadapan Kyu Hyun? Dan kenapa ia tidak meminta saran pada adiknya? Lupakan tentang adik karena Kim Rae Ah tidak memiliki hubungan yang cukup dekat dengan adik atau pun kakaknya.

 

“Apa kau menunggu terlalu lama?” tanya Rae Ah malu-malu begitu Kyu Hyun sampai di hadapannya. Demi Tuhan, di masa lalu, ia tidak perlu bersikap seperti ini karena yang mereka lakukan adalah saling berteriak secara otomatis. Lalu sekarang, kenapa ia harus malu-malu?

“Tidak. Aku baru menunggu beberapa menit,” jawab Kyu Hyun. Lelaki itu masih fokus memperhatikan wajah Rae Ah yang sekarang lebih merona dari sebelumnya.

Sial. Kenapa Kim Rae Ah selalu terlihat sangat cantik di matanya?

Oppa! Dia siapa?” Kyu Hyun menggeram. Ia melupakan keberadaan seorang gadis yang bisa menjadi ancaman dalam usahanya mendapatkan Kim Rae Ah.

“Oh, Joo Yeon-ah, dia kekasihku. Perkenalkan, namanya Kim Rae Ah.” Rae Ah dan Joo Yeon membelalakkan matanya mendengar pengakuan Kyu Hyun. “Tidak mungkin. Oppa tidak mungkin memiliki kekasih.”

“Kenapa tidak mungkin?”

“Karena hanya aku yang akan menjadi kekasihmu. Appa sudah menyetujui hubungan kita dan ayahmu juga mengamininya,” jawab Joo Yeon marah.

Kyu Hyun menghembuskan napasnya kesal sedangkan Rae Ah merasa tidak enak hati karena terlibat dalam pembicaraan yang sebenarnya tidak ia mengerti. Tapi, setelah diamati, Kyu Hyun pasti memiliki hubungan spesial dengan gadis ini, terlebih ayah mereka dilibatkan dalam pembicaraannya.

“Ayahku menyerahkan semuanya padaku begitu pun dengan ayahmu, Nam Joo Yeon. Aku tidak pernah menyukaimu. Bukankan aku sudah mengatakan padamu tentang hal itu? Aku mencintai kekasihku.”

Nam Joo Yeon tidak bisa menahan air matanya untuk tetap berada di tempatnya. Gadis itu patah hati. Jauh-jauh datang ke Jerman untuk memperjuangkan cintanya, yang ia dapat sekarang hanyalah kepahitan.

Cho Kyu Hyun membuangnya.

Cho Kyu Hyun memiliki kekasih.

“Aku membencimu, Oppa!” serunya kemudian berlari meninggalkan Kyu Hyun dan Rae Ah.

Rae Ah melihat Kyu Hyun menghela napas dengan kasar. Ia merasa kasihan pada gadis itu tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Itu urusan Kyu Hyun dan ia tidak berhak untuk ikut campur.

“Jadi, ke mana tujuanmu, Nona Kim?” tanya Kyu Hyun. Rae Ah mengerjap. Ia teringat dengan tujuannya dan langsung mengeluarkan dua buah tiket dari tas tangannya dan ia berikan pada Kyu Hyun.

Setelah melihat tujuan tiket itu, Kyu Hyun berdeham pelan. “Maaf, Kim Rae Ah-ssi. Aku hanya mempunyai waktu satu hari untuk menemanimu. Stuttgart terlalu jauh,” ujar Kyu Hyun.

Rae Ah merengut. Kyu Hyun mengatakan akan menemaninya kemana pun tapi sekarang lihatlah! Lelaki itu bernegosiasi tentang tempat yang ingin dikunjunginya.

“Aku tidak berpikir Stuttgart terlalu jauh. Lagipula, seseorang berkata akan menemaniku ke mana pun.”

“Baiklah. Kajja!” Rae Ah tersenyum. Setelah empat minggu berlalu, ia mulai terbiasa dengan sifat mengalah Kyu Hyun. Dan semua sifat baik yang ada dalam dirinya yang tidak ia temukan di masa lalu. Terkadang, selama empat minggu ini, perlakuan Kyu Hyun padanya melebihi seorang teman.

Itu membuatnya merasa nyaman. Ia nyaman berada di sisi Kyu Hyun. Ia juga tidak marah ketika tahu ternyata Kyu Hyun tinggal di lantai sembilan sama seperti dirinya. Sebaliknya, ia merasa senang karena ia dan Kyu Hyun bertetangga.

Kyu Hyun mengulurkan tangannya pada Rae Ah. Meski bingung, Rae Ah tetap menyambut uluran tangan itu. Ketika tangan mereka telah bertautan, keduanya saling melempar senyum kemudian melangkah menuju Munich International Airport.

Seharusnya mereka bisa menggunakan kereta, tapi Rae Ah menyukai pemandangan Jerman dari udara. Ia suka melihat sungai yang meliuk-liuk indah di bawah sana, berdampingan dengan kebun anggur.

2 jam 55 menit adalah waktu yang mereka tempuh untuk sampai di Stuttgart. Sebelum Kyu Hyun bernapas, Rae Ah telah menarik lelaki itu menuju tempat taksi berhenti. Ia menemukan sebuah taksi yang sopirnya sedang tidur.

Kyu Hyun membukakan pintu taksi, membiarkan Rae Ah masuk lebih dulu, kemudian dirinya. Pintu taksi ia tutup dengan kasar sehingga sang sopir terperanjat dan langsung membuka matanya lebar-lebar.

“Katakan ke mana tujuanmu,” ujar Kyu Hyun.

“Blue Rose Cafe.”

“Apa?!”

Wae?

“Jauh-jauh datang ke Stutgart hanya mengunjungi sebuah kafe? Kau keterlaluan, Kim Rae Ah.”

“Jalan, Pak!” seru Rae Ah dalam bahasa Jerman dan mengabaikan Kyu Hyun. Ia merapatkan jaket dan memejamkan matanya, mengabaikan Kyu Hyun yang kesal karena pikirannya tentang Kim Rae Ah yang telah membawanya jauh ke Stuttgart hanya untuk mengunjungi sebuah kafe.

Munich memiliki banyak kafe yang bagus dan berkelas.

Kyu Hyun menggerutu tapi tidak lama. Ia lelah setelah berjam-jam duduk di pesawat dan berdebat adalah hal yang ingin ia hindari untuk sekarang. Tidak, Kyu Hyun bukan menyesal. Ia justru senang karena bepergian dengan Rae Ah, tapi tetap saja, tujuan mengunjungi sebuah kafe di Stuttgart sementara Munich memiliki banyak tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.

_o0o_

Blue Rose Cafe berada di dataran tertinggi sebuah perkebunan anggur. Di sebelah barat dan utara, mata setiap pengunjung akan dimanjakan oleh kebun anggur yang begitu memukau, sedangkan di bagian timur dan selatan bunga mawar biru memanjakan para pecinta jenis bunga tersebut.

Sekarang Kyu Hyun mengerti. Munich tidak memiliki yang seperti ini dan Kim Rae Ah sangat menyukai mawar biru. Lelaki itu tersenyum. Tanpa disadari oleh gadis itu, usahanya menjadi lebih mudah.

Ia berencana akan menyatakan perasaannya hari ini dan Kim Rae Ah membawanya ke tempat yang sangat indah. Sebuah tempat yang sangat mendukung pengakuannya.

“Kau sudah lebih dari sebulan berada di Munich dan aku penasaran mengapa kau harus tinggal sementara tidak ada yang kau kerjakan,” ujar Kyu Hyun membuka pembicaraan. Hidangan khas Jerman telah terhidang di meja.

Rae Ah meminum anggurnya sebelum menjawab, “Aku putus dengan kekasihku. Dia mengkhianatiku dan aku ingin mencari ketenangan. Aku memilih Munich,” jawab Rae Ah tenang.

Kyu Hyun terdiam beberapa saat. Apakah Kim Rae Ah begitu tersakiti sehingga melarikan diri ke Munich? Oh, tentu saja. Tidak ada manusia yang tahan dengan pengkhianatan.

“Apakah kau telah menemukan ketenangan itu selama tinggal di Munich?”

Rae Ah tersenyum. “Ya. Thanks to you

“Aku? Kenapa?”

“Kau tidak membiarkanku kesepian selama di sini. Aku sudah tidak memikirkan mantan kekasihku sebanyak aku belum bertemu denganmu. Aku tidak pernah berpikir akan secepat ini mendapatkan ketenangan itu,” jawab Rae Ah.

Mendengar jawaban Rae Ah membuat Kyu Hyun merasa di atas angin. Demi Tuhan, ia memiliki kesempatan yang besar untuk mendapatkan cintanya. Ia telah melewatkan banyak gadis cantik yang menawarkan begitu banyak cinta dan kasih sayang untuk datangnya hari seperti ini. Hari ketika ia akan menyatakan perasaannya.

“Kau mau mendengar ceritaku tentang seorang gadis?” tanya Kyu Hyun. Rae Ah mengernyit. Ia ingin mengatakan ya, tapi juga tidak. Ia merasa Kyu Hyun akan menceritakan seorang gadis yang disukainya dan entah apa yang membuatnya berat hati untuk mendengar itu.

“Ya.” Pada akhirnya ia membiarkan rasa penasarannya terobati. Selama sebulan ini ia tidak pernah melihat Kyu Hyun bersama atau bercerita tentang seorang gadis. Ia penasaran, gadis seperti apa yang menarik perhatian Kyu Hyun?

“Hahaha… tidak, tidak. Aku tidak akan menceritakannya. Kau sudah sangat mengenalnya, Kim Rae Ah.”

“Benarkah? Siapa namanya? Apakah dia gadis yang kau sukai?” tanya Rae Ah penasaran. Kyu Hyun terkekeh dibuatnya. Menggoda Kim Rae Ah selalu menyenangkan sejak dulu.

“Ya, dia orang yang kusukai. Cinta, mungkin?” Kyu Hyun tidak bisa melihat perubahan pada raut wajah Rae Ah tapi gadis itu merasakan dengan jelas kecemburuannya.

Siapa gadis beruntung itu? Selama sebulan ini, ia tidak pernah tidak merasa senang ketika menghabiskan waktu bersama Kyu Hyun. Tidak pernah merasa bosan ketika Kyu Hyun berkunjung ke rumahnya meski hanya untuk menonton film.

“Boleh aku tahu… namanya?” meski ragu, Rae Ah harus tetap bertanya. Ia benar-benar penasaran, ingin tahu siapa yang telah mendapatkan perhatian dari lelaki yang merupakan cinta pertamanya itu.

Cinta pertama? Ya, Cho Kyu Hyun adalah cinta pertamanya. Berteriak adalah caranya untuk menarik perhatian Kyu Hyun. Memaki ia gunakan untuk menutupi kegugupannya setiap kali bertemu dengan mata tajam Kyu Hyun. Mata tajam itu adalah hal paling indah yang pernah ia temukan dalam diri seorang lelaki.

Kyu Hyun diam sejenak. Ia menatap Rae Ah, mempelajari raut muka gadis itu yang telah berubah. Ada rona merah tapi bukan menunjukkan kegugupan. Raut itu, entah kenapa telah membuat Kyu Hyun benar-benar berada di atas angin.

“Kim Rae Ah,”

“Ya?”

“Namanya Kim Rae Ah. Dia adalah cinta pertamaku.”

Pengakuan Kyu Hyun itu berakibat fatal pada kinerja jantungnya. Ia berpikir itu adalah namanya atau bukan. Bagaimana bisa Kyu Hyun menyebutkan nama itu?

“Aku mencintaimu, Kim Rae Ah.” Dan pengakuan selanjutnya dari Kyu Hyun membuat Rae Ah ingin terbang kemudian menjatuhkan tubuhnya di hamparan mawar biru di bawah sana.

“Kyu Hyun,”

“Aku mencintaimu sejak lama. Sejak pertama kali bertemu? Mungkin. Aku tidak bisa mengingatnya, tapi yang pasti, itu adalah alasan aku mengikutimu kuliah di SNU. Itu jugalah yang menjadi alasanku untuk pergi dari sana. Aku tidak mampu melihat kebahagiaanmu dengan lelaki itu karena aku mencintaimu.”

Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Kyu Hyun ucapkan. Rae Ah tidak pernah menyangka Kyu Hyun memiliki perasaan semacam itu padanya. Ia pikir, Kyu Hyun mengganggunya karena memang lelaki itu tidak menyukai dirinya. Ia pikir, Kyu Hyun pergi dari SNU karena memang seharusnya ia pergi. Ia pikir, cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan.

Rae Ah tidak bisa menemukan suaranya untuk beberapa saat. Ia hanya memandang Kyu Hyun dengan seksama, menubrukkan tatapan masing-masing, menyelami perasaan yang selama ini tak pernah tersampaikan.

“Meski orang lain datang, kau tahu kalau cinta pertama tidak bisa dilupakan, bukan?” Kyu Hyun masih diam setelah Rae Ah mengeluarkan suaranya. “Kau pernah menyukai orang lain di saat kau tidak bisa melupakan cinta pertamamu?” tanya Rae Ah –lagi.

“Tidak. Aku tidak pernah membuka hatiku untuk orang lain karena yang selama ini kulakukan adalah menjadikan diriku agar lebih baik, lebih pantas untukmu. Aku tahu, sifat kasarku tidak akan menjadikanmu milikku. Aku tidak pernah menyukai orang lain,” jawab Kyu Hyun tegas dan Rae Ah merasa ingin menangis.

Kyu Hyun tidak pernah menyukai gadis lain untuk dirinya, bertahan dengan cinta terpendamnya. Sementara Kyu Hyun melakukan itu semua, ia malah tidak bisa bertahan dengan pemikiran akan cinta sepihaknya. Ia menerima cinta orang lain meski berakhir pada pengkhianatan.

“Kyu Hyun-ah,” deringan di ponsel Rae Ah menghentikan gadis itu untuk melanjutkan kalimatnya. Ia melihat Hwan Hee tertera di layar utama. Tersenyum sebentar, memberi isyarat pada Kyu Hyun untuk menunggu sebentar, lalu menjawab panggilan itu.

Rae Ah tidak bisa melihat betapa gugupnya Kyu Hyun setelah menyatakan perasaannya. Lelaki itu bahkan tidak bisa duduk dengan tenang. Ia takut Rae Ah akan menolaknya. Respons gadis itu tidak bisa ia tebak akan mengarah ke mana. Katakan saja, Kyu Hyun buat akan clue karena kegugupan yang melandanya.

Eo, Hwan-ah. Aku rasa, aku tidak akan kembali dalam waktu dekat,” Rae Ah menatap Kyu Hyun selagi mendengarkan Hwan Hee bicara. Senyumnya masih bertengger ketika ia kembali berkata, “Cinta pertamaku telah mengakui perasaannya padaku, Hwan-ah. Aku mencintai cinta pertamaku.”

Saat itu juga, Kyu Hyun merasakan kupu-kupu beterbangan, menggelitik perutnya. Meski tidak menyatakan secara langsung pada dirinya, tapi ia tahu, gadis itu tengah mencoba menyampaikan perasaan padanya. Melalui tatapan mata itu.

Kyu Hyun beranjak dari tempatnya untuk pindah di kursi yang ada di samping Rae Ah. Lelaki itu mengambil kedua tangan Rae Ah, mencium punggung tangannya, dan berkata, “Aku berjanji, aku akan selalu menjadi baik untukmu. Aku akan menjauhkan rasa sakit darimu. Aku mencintaimu, Kim Rae Ah. Aku mencintaimu.”

THE END

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

12 thoughts on “Good For You”

  1. Momentnya kurang banyak jadi kurang greget
    tapi keseluruhan ceritanya bagus kok
    walaupun ff ini ga menang tapi ff ini keren kak

  2. ada yg blng cinta pertama itu gx akn brhasil, cinta prtama kyuhyun mmng gx berhasil diawal tpi dgn ptunjuk tuhan akhirnya itu mnjadi nyata. terima kasih

  3. Ahhhhh si sweeetttt…..
    Klo bisa si sequel gtu…..
    Lomba di mana??? Boleh minta linknya??? Pengen jug kesan liat liat

  4. Momentnya kurang… pakek sequel dong… tunjukan k romantisan mrk brdua…. tunjukan cinta mrk, trutama kyuhyun….. aq suka crita mrk yg brsemi2…

  5. hi!!!
    here i am!
    Wkwkwkwkwk
    Bagus kaya biasa!
    Protesnya alurnya kcepetan wkwkwkwk.
    Mungkin bgs dbikin chapter atau sequel plissss wkwkwkwk.
    Ada banyak pertanyaan soalnya kalo cm segini hahaha.
    Nanggung bgt.
    Karakter pemainnya krng kuat aku rasa.
    Pencitraannya krng gt jd karakterny krng dpt.
    Fighting!!!

  6. manisnyaa…
    chokyu.. cinta pertamanya rae ah, rae juga cinta pertamanya chokyu.. uwooo.. cucok dah..
    hihihi..
    ringan n menurutku bagus ya ini.. ga perlu terlalu bnyk konflik.. kykk gini ringan n enak d baca..
    top markotop dah.. 😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s