Fate Part 10

Fate Part 8

Bilangnya sih, sibuk. Iya, aku sibuk. Sibuk berkhayal seandainya skripsi diganti jadi nulis novel. Aku yakin bakal lebih semangat ngerjainnya dan cepet-cept lulus. Wkk (Jangan tiru aku. Kalian harus jadi anak rajin biar pinter)

Just enjoy!

Hati-hati sama hatimu, eh, typo maksudku.

ღღღ

 

 

Kim Rae Ah terbangun setelah mendengar bunyi alarm  yang begitu nyaring. Gadis itu mengucek kedua matanya lalu mengambil ponsel di samping bantalnya dan mematikan alarm. Kebiasaan gadis itu adalah meletakkan ponsel di samping bantal. Kebiasaan buruk yang belum berubah sejak dulu. Kyu Hyun dan juga Chan Yeol menyerah untuk memberitahu gadis itu.

Jam menunjukkan pukul delapan waktu London. Ia tidak memiliki kegiatan apa pun hari ini, jadi memutuskan untuk kembali tidur. Namun, baru saja akan memejamkan matanya kembali, gadis itu telah sadar bahwa ini bukan kamarnya.

Dengan wajah bingung Rae Ah mengelilingi kamar itu dengan matanya. Sebuah ruangan yang didominasi oleh warna hitam dan abu-abu. Gorden, sofa, dan dindingnya berwarna abu-abu. Beralih pada kasur yang ditempatinya, itu berwarna hitam.

Tidak ada warna cerah, pikirnya.

Rae Ah bangun dari tidurnya, duduk bersandar, menelengkan kepalanya ke samping kanan. Semalam ia tidak terlalu memerhatikan dan sekarang ia menemukan di samping kanannya, di atas meja kecil, ada sebuah pigura yang diisi oleh fotonya bersama Kyu Hyun dan Chan Yeol.

Kyu Hyun. Chan Yeol.

Dalam sekejap suasana hatinya yang damai berubah menjadi sesak dan merasakan ngilu di ulu hatinya. Di dalam foto itu Chan Yeol tersenyum begitu lebar dengan kedua jarinya membentuk V di samping mata sebelah kanan dan Kyu Hyun berdiri di samping Cchan Yeol dengan wajahnya yang tanpa ekspresi, tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket hitam yang ia kenakan waktu itu. Sementara Rae Ah berdiri di depan, di antara kedua lelaki itu dengan kedua tanganya bersedekap.

Ia ingat, foto itu diambil pada malam pergantian tahun ketika mereka di universitas. Ia memaksa dua lelaki sibuk itu untuk meluangkan waktunya menghadiri pesta pergantian tahun di New Zealand.

Gadis itu meraih pigura tersebut, mengusap wajah Chan Yeol, lalu terisak.

“Dia membawa kita bersamanya, Chan Yeol. Kyu Hyun selalu bersama kita,” ujar Rae Ah di sela isak tangisnya.

“Kau menangis?” suara Kyu Hyun yang muncul di pintu membuat Rae Ah buru-buru mengusap wajahnya lalu berbalik ke arah Kyu Hyun. Gadis itu tersenyum tipis untuk menyembunyikan kesedihannya.

“Kau menyimpannya?” alih-alih menjawab gadis itu bertanya seraya menunjukkan temuannya.

Kyu Hyun mengangguk sekali, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan menghampiri Rae Ah. Berhenti tepat di depannya, tanpa berjarak sedikit pun dan itu membuat Rae Ah kelabakan karena gugup.

Kyu Hyun menunduk, menatap mata kelabu Rae Ah yang tengah mendongak ke arahnya. “Kau pikir, aku benar-benar meninggalkan kalian?” tanya Kyu Hyun dengan suara rendah tanpa berniat memperlebar jarak.

“Ya,” jawab Rae Ah dengan suara tercekat. Sejak tadi gadis itu telah menahan napasnya. Aroma tubuh Kyu Hyun begitu memabukkan dan ia tidak ingin hilang kesadaran karena itu.

Kyu Hyun mundur selangkah, tahu bahwa Rae Ah sedang gugup. Ia tersenyum puas dalam hatinya. Bagaimana pun, membuat Rae Ah gugup adalah hal yang paling membahagiakan. Sepanjang pengetahuannya, Kim Rae Ah tidak pernah gugup di hadapan orang yang tidak disukainya.

“Aku sudah menyiapkan sarapan. Mandi dan datanglah ke ruang makan! Aku menunggumu di sana,” serunya lalu berbalik, meninggalkan Rae Ah.

Kim Rae Ah menghebuskan napas lega. Gadis itu menatap lama pintu kamar yang baru saja menenggelamkan sosok Kyu Hyun di baliknya. Ia memikirkan tingkah Kyu Hyun yang seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka.

Padahal mereka berciuman di meja makan.

ღღღ

Kyu Hyun masih serius menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ketika mendongak ke sampingnya, ia melihat Rae Ah tengah menatap intens ke arahnya. Makanan di atas piring gadis itu bahkan masih utuh tanpa tersentuh sedangkan milik Kyu Hyun telah tandas setengahnya.

Mata bertemu mata. Kyu Hyun membeku seolah tubuhnya tersedot ke dalam pesona indah mata kelabu milik Kim Rae Ah. Keduanya berpandangan tanpa berniat untuk berkedip. Dengan atau tanpa disadari, wajah mereka telah beranjak mendekat. Kyu Hyun tersenyum, matanya melirik sekilas ke arah bibir merah Rae Ah, dan sedetik kemudian bibir Kyu Hyun mencium bibir milik Rae Ah. Menempel untuk beberapa saat, membuat Rae Ah memejamkan matanya.

Mereka pernah mengalami hal seperti ini. Dulu, di rumah Kyu Hyun.

Sekarang, mereka kembali mengalaminya. Kyu Hyun mencium Rae Ah. Di rumahnya.

Sejarah pasti berulang, hanya dalam kondisi yang berbeda. Tidak akan persis sama, tapi tetap berulang.

Kyu Hyun menyapu lembut bibir Rae Ah, meresapi betapa manis dan hangatnya bibir itu. Betapa rindunya yang menggelegak di dalam dada tak lagi bisa ia sembunyikan. Betapa gadis yang tengah ia cium ini tidak pernah hilang dari ingatannya sedikit pun, memonopoli seluruh hati dan pikirannya.

Tangannya bergerak mengusap lembutnya garis rahang Rae Ah.

Ia sadar, jika tidak segera menarik diri, maka jiwa primitifnya akan bangun dan menjadi tak terkendali. Maka sebelum itu terjadi, Kyu Hyun melepas tautannya dengan perlahan, membuka matanya secara perlahan pula, dan ketika mata itu telah terbuka sepenuhnya, ia bisa melihat wajah Rae Ah yang memerah.

Gadis itu masih memejamkan mata. Merekam kejadian barusan yang telah menarik seluruh kesadarannya. Menarik ksadarannya akan sebuah perasaan yang tidak lagi bisa disembunyian.

Rindu. Rae Ah merindukan Kyu Hyun.

Kyu Hyun menggeram kesal ketika ponselnya berdering, begitu nyaring hingga memekakkan teling. Atau Kyu Hyun saja yang berlebihan karena suasana yang mendukung ini telah diganggu.

Suasana yang mendukung Kyu Hyun untuk menyatakan perasaannya.

Kyu Hyun beranjak untuk menjawab telepon, meninggalkan Rae Ah yang masih mematung  karena ciumannya. Gadis itu meraba bibirnya. Rasa makanan yang dimakan Kyu Hyun tertinggal di sana, dan yang lebih mendominasi adalah kehangatannya.

Bibir Kyu Hyun terasa begitu hangat dan membuatnya… ketagihan.

Beberapa saat kemudian Kyu Hyun menghampirinya dan berkata bahwa ada urusan yang sangat genting sehingga ia harus segera pergi. Rae Ah berniat akan pulang karena tidak mungkin dirinya tinggal di rumah orang lain ketika pemiliknya sedang pergi.

Namun, Kyu Hyun memintanya untuk tinggal. Rae Ah sadar ia masih merindukan Kyu Hyun, maka tanpa paksaan gadis itu mengangguk. Kyu Hyun tersenyum lalu pergi.

Rae Ah menunggu kepulangan Kyu Hyun. Jam di tangannya telah menunjukkan pukul sebelas malam tapi tak ada tanda-tanda Kyu Hyun akan segera datang. Gadis itu menguap lebar-lebar, menaruh remote TV di meja, lalu membaringkan tubuhnya di sofa di depan TV.

Paginya, ia terbangun di kamar yang ia yakini adalah kamar milik Kyu Hyun.

­Rae Ah mengerjap, membawa kembali kesadarannya. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. “Bersikaplah seolah tak terjadi apa-apa, Kyu Hyun-ssi,” gerutunya.

ღღღ

Kyu Hyun sedang membaca koran di kursinya ketika Rae Ah sampai di ruang makan. Mendengar suara langkah seseorang, Kyu Hyun mengangkat wajahnya lalu terdiam karena takjub.

Gadis itu memakai gaun selutut yang ia belikan semalam karena tahu Rae Ah tidak membawa baju ganti. Kyu Hyun sudah menebak bahwa gaun itu akan terlihat pas di tubuh Rae Ahtapi ia tidak tahu bahwa Rae Ah akan terlihat semenakjubkan ini.

Gadis itu terlihat cantik. Oh, ya, Kim Rae Ah memang selalu cantik dengan pakaian apapun. Kyu Hyun tahu itu.

“Sarapan apa yang kau siapkan?” tanya Rae Ah begitu sampai di hadapan Kyu Hyun. gadis itu menarik kursinya dan duduk di sana lalu mulai menuangkan susu ke dalam gelas dan makanan yang ada di meja ke atas piringnya.

Kyu Hyun mengikuti setiap gerakan gadis itu dengan matanya, termasuk siulannya ketika melihat sirloin steak terhidang di atas meja bersama makanan-makanan lainnya. Itu terlihat lucu dan menggemaskan, dan Kyu Hyun ingin melihatnya setiap hari, setiap detik.

“Kau  tidak salah, menyiapkan menu makan malam untuk sarapan kita, Cho Kyu Hyun?” tanya Rae Ah sambil menatap Kyu Hyun dengan alisnya yang teranngkat sementara tangannya mulai memotong dagingnya.

Kyu Hyun melipat korannya, duduk dengan tegak, lalu meminum kopi dan mengambil pisau beserta garpunya. Rae Ah mendengus sebal melihat Kyu Hyun meminum kopi sementara dirinya harus meminum susu. “Aku tidak salah. Makan saja sarapanmu,” jawab Kyu Hyun ketus.

Rae Ah mendengus lagi. “Aku tidak akan protes untuk makanannya karena aku sangat menyukai daging. Tapi, apa ini? Aku ingin protes untuk minumannya,” serunya sambil mengangkat segelas susu yang sudah tandas setengahnya.

Kyu Hyun menahan tawanya. Ya, ia tahu Kim Rae Ah sangat menyukai daging maka dari itu ia menyiapkan menu ini. Ia juga tahu Kim Rae Ah akan protes tentang minumannya. “Kopi tidak bagus untuk lambungmu,” balas Kyu Hyun acuh tak acuh. Lelaki itu hanya terus mengunyah dagingnya.

“Kenapa sifat menyebalkan itu tidak pernah berubah, Cho Kyu Hyun?” Rae Ah mendelik dan Kyu Hyun harus menahan tawanya. Menyenangkan bisa menggoda Rae Ah kembali.

Akan lebih menyenangkan jika mereka bisa makan di meja yang sama, di ruangan yang sama, setiap hari. Dengan status yang lebih baik dari sekadar sahabat.

“Kapan kau berencana akan kembali ke Korea?” tanya Kyu Hyun. lelaki itu telah selesai dengan makanannya. Meminum air putih di gelasnya, lalu memusatkan perhatian pada Rae Ah.

“Kenapa? Kau mau mengusirku?”

“Aku bertanya. Jawab saja.”

Rae Ah meletakkan garpu dan pisaunya, meminum susunya hingga habis, lalu mengambil lap untuk membersihkan bibirnya. Setelah itu, Rae Ah menatap Kyu Hyun, mendesah, lalu berkata, “Aku sepertinya akan tinggal lama di London. Rumahku telah berubah menjadi neraka sejak bertahun-tahun lalu.”

Kyu Hyun tertegun mendengar ada kesedihan dalam nada bicaranya. Ya, sudah bertahun-tahun berlalu dan benyak tentang gadis itu yang ia lewatkan. Termasuk kesedihannya karena ditinggalkan oleh Chan Yeol. Itu adalah penyesalan paling besar baginya. Karena ia tahu Park Chan Yeol adalah seseorang yang memiliki arti penting dalam hidup seorang Kim Rae Ah.

“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Kyu Hyun penasaran.

Rae Ah tersenyum simpul. “Ki Bum dan Jong Woon oppa memusuhi ayah entah untuk alasan apa. Mereka semakin baik padaku, tapi aku tidak suka di sana karena aura permusuhan terasa begitu kuat, terutama di antara ayah dan Jong Woon oppa. Ia bahkan keluar dari rumah.”

Tubuh Kyu Hyun bergerak otomatis. Berdiri dan menghampiri Rae Ah ketika gadis itu menunduk setelah menyelesaikan ceritanya. Setelah menggeser kursi di samping Rae Ah, kedua tangannya juga bergerak otomatis, melingkari bahu Rae Ah dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

“Jangan menangis,” ujarnya begitu merasakan guncangan di bahu Rae Ah.

Rae Ah mendongak untuk melihat wajah Kyu Hyun. Gadis itu yakin, Kyu Hyun pasti panik melihatnya seperti ini. “Aku tidak menangis,” katanya sambil menahan tawa.

Kyu Hyun menunduk dan mengernyit melihat Rae Ah cekikikan. Niatnya ingin memarahi gadis itu, namun yang terjadi adalah Kyu Hyun menggeser tangannya dari rambut gadis itu ke wajahnya. Mengelus lembut wajah itu dengan ibu jarinya, mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir gadis itu yang terlihat manis sekaligus menggoda.

Oh, tidak hanya tampilannya saja yang terlihat manis, tapi rasanya juga. Bibir yang sekrang ia kecup ini terasa sangat manis dan memabukkan, membuatnya ketagihan setelah pertama kali ia menciumnya, beberapa tahun yang lalu.

Rae Ah terkejut, tapi tidak berusaha untuk menolak. Sejatinya, ia telah kecanduan oleh rasa dari bibir penuh Kyu Hyun dan tidak pernah berusaha untuk menolak ciuman itu sejak beberapa tahun yang lalu, ketika pertama kali Kyu Hyun menciumnya di apartemen lelaki itu.

Ciuman itu adalah ciuman yang lembut, namun berubah menjadi lebih intens dan menuntut beriringan dengan balasan yang Rae Ah berikan. Kyu Hyun merasa berada di atas angin.

Lelaki itu memasukkan lidahnya dan mulai menjelajah di dalam mulut Rae Ah. Mengikuti nalurinnya, Rae Ah membiarkan lidah Kyu Hyun menyentuhnya dan mengalungkan tangannya di leher lelaki itu.

Tangan Kyu Hyun telah berada di pinggang Rae Ah, mengusap punggungnya naik turun, dan menariknya agar lebih dekat.  Satu tangannya ia angkat untuk mengusap rahang gadis itu. Rae Ah mengerang merasakan sensasi dari ciuman panas ini.

Terasa asing tapi menyenangkan. Begitu panas dan membuatnya merasakan gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Gairah yang menuntunnya untuk menelusupkan jari-jarinya ke rambut Kyu Hyun.

Setelah beberapa berada dalam kondisi berciuman dengan penuh hasrat, Kyu Hyun melepaskan tautan mereka dan Rae Ah tidak pernah kecewa sebesar ini karena sebuah ciuman dilepas. Wajah mereka berdekatan, Kyu Hyun dengan sengaja menyentuhkan dahinya dengan dahi Rae Ah, merasakan betapa hangatnya napas gadis itu menabrak wajahnya.

Keduanya masih terengah. Kyu Hyun menunduk, mengusapkan ibu jarinya di sudut bibir Rae Ah, lalu mengecup singkat. “Aku mencintaimu,” ungkapnya.

Ungkapan Kyu Hyun itu membuat Rae Ah menahan napasnya. Terakhir kali ia mendengar cinta dari seorang lelaki adalah beberapa tahun yang lalu, sebelum Chan Yeol meninggal. Sekarang, mendengar itu dari Kyu Hyun, ia merasakan perasaan yang aneh dan tak menentu.

Ia tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apa atas pengakuan Kyu Hyun. Senangkah? Atau marah? Tapi, kalau marah, ungkapan Kyu Hyun yang mana yang membuatnya marah? Lelaki itu mengungkapkan perasaannya dan hanya mengucapkan tujuh suku kata.

Rae Ah berpikir terlalu keras hingga tidak sadar bahwa Kyu Hyun menunggu reaksinya. Gadis itu baru membawa kembali kesadarannya setelah Kyu Hyun mengusap wajahnya dengan lembut dan berkata, “Tidak perlu berpikir terlalu keras. Aku mengerti kau masih berduka atas kepergian Chan Yeol. Aku tidak bermaksud untuk membebanimu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang seharusnya kukatakan sejak lama.”

Rae Ah semakin dibuat tertegun oleh untaian kalimat itu. Sejak lama? Kyu Hyun mencintainya sejak lama? “Sejak kapan?”

“Sejak lama, sebelum aku menciummu di apartemenku. Aku tidak ingat kapan aku mulai menyukaimu atau mulai mencintaimu. Kau tahu, sulit bagiku untuk melihatmu bersama Chan Yeol.” Kyu Hyun masih mengusapkan ibu jarinya pada wajah Rae Ah.

Rae Ah memejamkan matanya. Ia merasa beruntung karena dicintai oleh dua orang lelaki hebat dalam waktu bersamaan, tapi juga merasa bersalah. Gadis itu bersalah karena mencintai kedua lelaki itu sekaligus dan telah menyakiti salah satunya, meski ia tidak bermaksud seperti itu.

“Maafkan aku,” kata Rae Ah. Ia membuka matanya dan menatap lurus ke dalam mata Kyu Hyun yang menegang karena mendengar permintaan maafnya. Tangan gadis itu terangkat untuk menyentuh sisi kanan wajah Kyu Hyun.

Kyu Hyun menutup matanya, meresapi kelembutan tangan Rae Ah di wajahnya.  “Maafkan aku karena telah mencintai kalian berdua dan memilih untuk mendorongmu menjauh. Aku menyadari itu setelah kepergian Chan Yeol. Kau tidak tahu betapa aku merindukan Chan Yeol sekaligus merindukanmu, menginginkan dirimu berada di sampingku dan membantuku melupakan kesedihan atas kepergian Chan Yeol.”

Kyu Hyun membuka matanya begitu mendengar Rae Ah terisak. Ia menangkup wajah gadis itu, mengusap air matanya, lalu mengecup kedua matanya yang basah. “Kau tidak bersalah. Jangan meminta maaf,” ucapnya.

Rae Ah menatap Kyu Hyun lama. Mereka saling bertatapan hingga akhirnya Kyu Hyun kembali mencium Rae Ah. Kali ini dimulai dengan sangat lembut dan diakhiri dengan lembut pula. Kyu Hyun tersenyum lalu kembali mencium Rae Ah.

Ciuman kali ini lebih panas dan penuh gairah daripada sebelumnya. Kyu Hyun menarik Rae Ah ka atas pengkuannya. Rae Ah terlalu menikmati ciuman itu hingga tidak memedulikan posisinya. Ia hanya fokus pada ciuman Kyu Hyun yang hebat dan jari-jarinya kembali menari di sela-sela rambut Kyu Hyun yang tidak panjang tapi juga tidak terlalu pendek. Begitu nyaman untuk menjadi pegangan Rae Ah, menyalurkan hasrat asingnya.

Di tengah-tengah ciuman panas mereka, ponsel Kyu Hyun berdering keras. Lelaki itu mengerang kesal dan dengan sangat terpaksa melepaskan ciumannya. “Aku harus menjawab teleponnya,” ujar Kyu Hyun lembut. Rae Ah segera menyingkir dari pangkuan Kyu Hyun dan kembali ke kursinya.

Dalam sekejap wajah Rae Ah berubah menjadi merah. Bukan merah karena menahan gairah, tetapi lebih kepada malu. Ia malu karena merasa menjadi sangat agresif pagi ini.

Kyu Hyun mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu dengan kesal. Ia tidak suka diganggu, terlebih ia diganggu ketika sedang bermesraan dengan Rae Ah. Itu adalah telepon dari sekretarisnya. Ya, Tuhan, ingatkan ia untuk mengubah ponselnya pada mode silent jika moment seperti ini –bermesraan dengan Rae Ah– datang lagi.

Rae Ah menatap punggung Kyu Hyun dari kursinya. Ya, ia tahu, ia tidak salah. Ia tidak salah karena mencintai dua lelaki sekaligus. Memangnya, siapa yang bisa menyalahkan cinta? Siapa yang dapat menolaknya sementara cinta itu sendiri adalah anugerah dari Tuhan?

Yang salah adalah ketika ia membiarkan dua orang itu memiliki cintanya, memiliki dirinya secara bersamaan. Ia tidak begitu. Sejak awal ia mencintai Chan Yeol dan memilih untuk tetap bersama lelaki itu. Meski ia menyukai Kyu Hyun, ia menahan perasaan itu dan memilih untuk tidak menjadi egois dengan mengkhianati Chan Yeol yang mencintainya dengan begitu tulus.

Kyu Hyun berbalik dan menemukan Rae Ah tersenyum padanya. Tidak! Jangan senyum itu, Girl! Pekik Kyu Hyun dalam hatinya. Senyum gadis itu selalu manis dan Kyu Hyun yakin, dengan senyumnya yang seperti itu, Rae Ah bisa mendapatkan lelaki mana pun yang diinginkannya.

“Pagi ini kau ke kantor?” tanya Kyu Hyun. Rae Ah mengangguk.

“Baiklah. Ayo, aku akan mengantarmu.” Kyu Hyun mengulurkan tangan ke hadapan Rae Ah. Awalnya Rae Ah kebingungan, namun kemudian mengerti dan membalas uluran tangan Kyu Hyun.

Kyu Hyun tersenyum lebar. Beberapa dari khayalannya telah menjadi kenyataan. Berpegangan tangan, sarapan bersama, bahkan berciuman. Hanya tinggal beberapa khayalan besar yang harus segera ia wujudkan.

Ia pikir, ia sanggup memulainya secara perlahan, tapi ternyata tidak. Belum genap dua puluh empat jam sejak pertemuan mereka kembali, Kyu Hyun telah bergerak cepat. Mengakui perasaannya. Dan terpujilah para dewa yang telah membuat gadis itu tidak menolaknya.

Kyu Hyun dan Rae Ah meninggalkan ruang makan sambil bergandengan tangan. Tiba di tempat mobilnya terparkir, Kyu Hyun membuka pintu untuk Rae Ah tanpa melepaskan pegangannya pada tangan Rae Ah. Hingga Rae Ah duduk dengan nyaman dan memasang sabuk pengamannya, Kyu Hyun baru melepaskan tautan tangan mereka dan berlari memutari mobil untuk kemudian duduk di balik kemudi.

Setelah memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin, Kyu Hyun mulai memacu mobilnya dengan kecepatan di bawah rata-rata. Kondisi ini terlalu berharga untuk dilalui dengan begitu cepat –Kyu Hyun tidak ingin moment pagi ini segera berakhir.

Rae Ah terseyum malu dan menundukkan kepalanya. Kyu Hyun memegang sebelah tangannya padahal lelaki itu sedang menyetir. Satu hal yang tidak pernah ia ketahui adalah Kyu Hyun menjadi sangat manis ketika sedang bahagia.

Apakah mencintainya adalah hal yang membahagiakan bagi Kyu Hyun?

Tidak ada perbincangan selama Kyu Hyun mengemudi selain tangan mereka yang berpegangan. Dalam keadaan sunyi seperti itu Kyu Hyun bahkan merasa perjalanan ini terllau singkat padahal membutuhkan waktu hampir setengah jam –lebih lama dari seharusnya untuk mencapai kantor Rae Ah.

“Aku sudah menjawab semua pertanyaan yang kau tujukan padaku,” ujar Kyu Hyun begitu mobilnya berhenti di depan kantor Rae Ah. Rae Ah mengernyitkan dahinya. “Pertanyaan apa?”

“Kau lupa? Kau datang ke kantorku untuk melakukan wawancara.”

“Ah, ya!” Rae Ah mengangguk-angguk. Benar, ia begitu bahagia bisa kembali bersua dengan Kyu Hyun sampai-sampai melupakan pekerjaannya.

Kyu Hyun terkekeh dan tangannya secara otomatis mengacak-acak rambut gadis itu. Rae Ah mendengus kesal dan menepis tangan Kyu Hyun. “Kau merusak rambutku,” serunya. Kyu Hyun tertawa pelan.

Rae Ah melepaskan sabuk pengamannya, menoleh pada Kyu Hyun, menatapnya lama seperti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan, tapi bingung harus bagaimana mengatakannya. Akhirnya, ia hanya bisa berkata, “Terima kasih. Sampai jumpa.”

Kyu Hyun kembali mendengus kesal. Lelaki itu menahan tangan Rae Ah yang akan membuka pintu. Rae Ah menoleh, menatap Kyu Hyun dengan kedua alisnya terangkat. Mungkin ia bertanya melalui kedua alis itu.

Kyu Hyun telah melepaskan sabuk pengamannya. Lelaki itu mendekatkan diri pada Rae Ah lalu mengecup singkat bibir gadis itu. “Itu adalah cara orang Eropa mengucapkan salam perpisahan dengan kekasihnya,” kata Kyu Hyun.

Rae Ah dapat merasakan wajahnya memanas mendengar ucapan Kyu Hyun. Kekasih? Apakah mereka sepasang kekasih sekarang? Oh, tentu saja. Kyu Hyun telah menciumnya, mengatakan perasaannya, dan ia juga tidak menolak pengakuan Kyu Hyun.

“Sampai jumpa,” ucap Rae Ah lalu cepat-cepat membuka pintu dan keluar dari sana, menutup pintu mobil Kyu Hyun yang mahal itu dengn sedikit keras. Kyu Hyun tersenyum geli dibuatnya. Ia tahu, Rae Ah pasti malu karena gadis itu mencium pipinya sekilas sebelum mengucapkan kembali ‘sampai jumpa’nya.

Kyu Hyun mengawasi Rae Ah hingga gadis itu menghilang di balik pintu lobi gedung A Magazine London. Lelaki itu teringat sesuatu. Setelah memasang kembali sabuk pengamannya, lelaki itu mengambil ponsel dari saku jasnya, dan mengetik sesuatu lalu tersenyum puas. Setelah itu, memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata karena ia sudah terlambat untuk menghadiri rapat yang seharusnya telah dilaksanakan sejak sepuluh menit yang lalu.

ღღღ

Rae Ah melangkahkan kakinya menuju pantry  begitu sampai di lantai tempat ruangannya berada. Ia tidak mendapatkan cappuccino-nya di rumah Kyu Hyun dan ia tidak ingin melewatkannya. Ia menyukai minuman itu dan sehari saja tidak meminumnya, ia merasa ada sesuatu yang hilang. Berlebihan tapi ia memang seperti itu.

Setelah mendapatkan cappuccino-nya, Rae Ah tidak segera keluar dari pantry. Gadis itu memeriksa ponselnya yang tadi berdering sekali ketika ia berada di dalam elevator. Menggunakan ponsel sambil berjalan bukanlah gayanya. Ia bukan anak muda kebanyakan yang sangat bergantung pada ponselnya.

Rae Ah membuka pesan yang dikirim oleh nomor tak dikenal beberapa menit lalu sembari menyeruput cappuccino hangatnya.

Kau bisa mengubah jawabank atas pertanyaan nomor lima untukku? Aku ingin mengubahnya tapi aku sudah terlambat untuk rapat.

 Gyu

Gadis itu terbatuk setelah melihat simbol yang ditulis Kyu Hyun di belakang namanya. Ia tersedak oleh cappuccino kesayangannya dan untuk pertama kalinya gadis itu mengabaikan cappucino hangat itu kemudian membuka tas, mengambil tabletnya.

Dengan penasaran, ia membuka file yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan ia ajukan pada Kyu Hyun. Ia melewatkan pertanyaan nomor satu sampai empat karena ia yakin jawabannya akan sama dengan yang beredar di internet, atau paling tidak, dengan yang ia ketahui tentang lelaki itu.

Jarinya berhenti ­men-scroll di atas layar sentuh gadget mewah itu, dan dengan seksama jawaban yang Kyu Hyun berikan atas pertanyaan nomor lima. Seketika itu juga ia merasa terharu dan ingin menangis. Jawaban yang Kyu Hyun berikan adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan dan Kyu Hyun ingin lelaki itu mengubahnya.

Apa yang harus ia ubah memangnya? Kemudian, untuk menjawab pertanyaan itu, Rae Ah kembali membacanya, kali ini sambil meneliti. That’s it! Ia menemukan apa yang ingin Kyu Hyun ubah. Lalu, jari-jarinya mulai mengetikkan sebuah kalimat. Ia harap, Kyu Hyun menyukainya dan tidak terlalu berlebihan untuk dibaca oleh khalayak umum.

  1. Who is the most important in your life? In the past, in the future, and now.

Answer: The girl I loved. The girl who would be mine soon. I can’t reached her in the past and I’ve to get her now for my future.

Rae Ah merubah jawaban itu dengan jari-jarinya yang lentik. Setelah mengetikkan itu, ia memasukkan kembali tabletnya ke dalam tas dan meninggalkan pantry tanpa melupakan cappuccino-nya.

  1. Who is the most important in your life? In the past, in the future, and now.

Answer: The girl I love. In the past, in the future, and now. She’s my one and only, my future wife.

ღღღ

Life: Aku sudah mengubahnya. Jangan salahkan aku jika kau tidak menyukai hasilnya. Omong-omong, simbol hatimu sangat menggelikan.

Kyu Hyun tersenyum begitu mendapatkan balasan dari Rae Ah. Ia berada di tengah-tengah diskusi yang sengit karena perbedaan pendapat di sana-sini, dan sebagai CEO, ia malah tersenyum dengan ceria.

Me: Kau akan melihatnya setiap hari, jadi, siapkan saja dirimu. Aku akan memberikan seluruh hatiku sampai kau bingung akan menyimpannya di mana.

Selang beberapa detik, ponselnya kembali bergetar. Ia membuka pesannya tak sabaran.

Life: Bukankah kau bilang sedang rapat? Kenapa membalas pesanku?

Me: Aku CEO-nya. Aku bisa melakukan apa pun yang kumau. Bukankah kau bekerja? Kenapa membalas pesanku?

Life: Kau meniruku. Itu plagiarisme, aku tidak menyukainya.

Me: Bagaimana dengan makan siang di restoran China? Kau menyukainya?

Life: Aku lebih suka restoran Italy. Call?

Me: Call!

Life: Aku akan menunggumu di kantorku. Sekarang, aku harus pergi rapat. Sampai jumpa (kiss) p.s. ini adalah cara orang Eropa mengucapakan sampai jumpa.

Me: Himnaera!

Kyu Hyun tidak mengira bahwa kegiatan berkirim pesan akan menjadi semenyenangkan ini ketika status mereka mengalami peningkatan. Ia bahkan melupakan kenyataan bahwa dirinya sedanga berada di ruang rapat dan menjadi bahan tontonan.

Lelaki itu meletakkan ponselnya, mengusap tengkuknya lalu berdeham dan mengubah ekspresinya senormal mungkin. Padahal ia masih berbunga-bunga karena kejadian pagi ini. Pagi yang begitu indah telah menjadi saksi betapa kejujuran telah membuat Kyu Hyun bahagia.

“Lanjutkan!” perintahnya dan rapat kembali berjalan. Kyu Hyun mengembuskan napasnya dengan kasar. Ia lebih suka menyanyi –atau sekarang lebih suka berkirim pesan dengan Rae Ah daripada menjadi penegah –dalam hal ini pengambil keputusan di antara orang-orang yang senang sekali berdebat ini.

Oh, ia tidak sabar menanti datangnya jam makan siang.

TBC

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

28 thoughts on “Fate Part 10”

  1. Kyuu bhagia bngeet sih saat rapatpun dy smbil cngengesan secara smsan sma rae ah mntang2 CEO dy bebas sms d saat rpat brlangsung dsaar mr.busy haha ..

  2. Akhirnya kyu menyatakan cinta jga sm rea ah bahagia nya kyu smpe senyum2 sndiri padahala lg ada rapat berlangsung kwkw

  3. Annyeongg, waduh q senyum” sendiri baca’a hhh sweetie bgti berasa q jd rae ah :-D..bgs menghibur bgti

  4. senyum” sendiri bacanya duh haha, sikap sweetnya kyuhyun tuh ga ada yang nandingin deh, so sweettt banget dia hihi, oh ya kim rae ah aku juga sama kayak kamu geli banget sama emot heartnya kyuhyun haha

  5. Setelah sekian lamanya kyu memendam perasaanya akhirnya dia bisa mengungkapkannya juga.Beruntunglah Rae ah juga memiliki perasaan yang sama.Berharap kedepannya hubungan mereka menuju langkah yang lebih serius lagi.Ditunggu lanjutannya keep writing and fighting.

  6. Bukan hanya kyuhyun yg tdk sabar menunggu jam mkn siang…. aq jg gk sabar nunggu klnjutan ff ini….. smngt ya chingu nulisnya…. aq suka dgn krya2 kmu… kyuhyun makin berbunga2 n bahagia…. sama kyk aq yg jg brbunga2 n bahagia ektu dpt part 10nya…hahaha

  7. Oia aq udh kirim k line kmu untuk bli ebook Regret tpi gk ada tanggapan dri kmarin….. klw mau pesan ebook kmu d mn ya?

  8. Memeang di mana mana kejujuran itu membahagian walapun ada di awali sesuati yg menyakitkan tapi pasti diberahir membahagiakan

    Seneng bgt liat kyuhyu. Menang banyak tu orang belum jadi pacar aja udah cium cium…

    Mulai baca part satu…karna aku nyasar di part 10,padahal udah lama liat ini tapi karna partnya baru dikit baca nya entaran….takut baper nunggunya kaya sekaramg baper nungu part 11

  9. annyeong,aku reader baru salam kenal.baru baca part ini tapi udah suka sama jalan ceritanya.jadi mohon izin baca ff yg lain yah

  10. tuh kan aaaaaakkkk ini melebihi senyam senyum ini mah bikin iriiii hahaha paling suka sama yg kaya gini, tanpa ada pernyataan yg jelas tp mereka menyatakan sebagai kekasih gitu aja hahahaha suka sekaliii dih rae ah kyuhyunnn mana yah disini tuh bener like kyuhyun’s turn makanya dia mgegassss terus padahal niatnya pengen pelan2 halah wkwkw gemaaaaaasss sekaliiii

  11. anneyeong…ak pndatang baru…maaf dah baca tanpa izin…ini jg atas rekomend teman…n trnyata kisah nya so sweet bgt…ak ampek tertawa n senyam senyum bacanya…
    boleh baca dari awal ya?
    salam kenal…. 🙂

  12. Uhhh so sweetnya nih kyuhyun, beruntung banget rae ah dapet kyuhyun, sampe gila gitu kan senyumsenyum sendiri sedangkan orang lain lagi pada tegang nguras otak buat berdebat wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s