Heartless Part 2

Setengah tahun berlalu, dan aku baru ngelanjutin FF ini. Hihi

Maafkan aku. Semoga bagian dua ini berkenan di hati kalian. Dan semoga, kalian juga berkenan membeli novelku hihi Kuota buat dapetin e-book Regret versi revisinya masih ada looooh. Yuk, dipesen! Terakhir pemesanan tanggal 8 Mei. Jangan terlewat, jangan sampe nyesel hehe

Aku gak tau ini feel-nya dapet atau nggak karena aku gak ahli bikin sudut pandang ‘Aku’. Saran dongs, sebaiknya aku ubah POV apa tetap gini? Saran kalian sangat berarti untukku.

Oke, selamat membaca!

Langit begitu gelap. Hujan turun dengan deras, membawa kebahagiaan bagi sebagian orang dan kesedihan bagi yang lainnya. Bagiku, hujan pagi ini telah membawa kekhawatiran yang begitu dalam.

Semalam Grant berkata akan menginap di studio musiknya. Ia harus berlatih untuk acara tahunan sekolah sekaligus untuk audisi. Tidak melihatnya semalam membuatku cemas. Aku takut satu-satunya lelaki yang menjadi bagian hidupku itu mengalami hal yang buruk.

Kyu Hyun akan melakukan segala cara untuk mendapatkan Grant. Aku tidak ingin anakku jatuh ke tangannya. Grant hanya untukku. Milikku.

Aku menghubungi ponselnya, tapi tidak ada jawaban. Ponselnya mati.

Hanya mondar-mandir di depan televisi yang bisa kulakukan sekarang. Aku tidak tahu seberapa banyak rasa sakit yang kudapat ketika melihat wajah Grant, tapi aku juga tidak tahu seberapa banyak aku bahagia melihat senyumnya yang begitu indah dan hangat.

Aku mendegar pintu terbuka. Grant muncul dari sana dengan wajah tenang.

“Kau pikir apa yang kau lakukan, Grant? Aku tidak bisa menghubungimu. Apa gunanya kau memiliki ponsel?” Grant terlihhat bingung dan terkejut karena disambut oleh teriakanku.

Aku tahu ini salah, tapi aku benar-benar khawatir. Aku memarahinya karena aku lega melihat Grant pulang dalam keadaan baik.

“Aku tidur di studio, Mom. Kenapa marah-marah seperti itu?”

Aku menghela napas dengan berat. Grant pasti terkejut karena aku tidak pernah membentak Grant sebelumnya. “Maafkan aku. Aku hanya khawatir karena tidak bisa menghubungimu.”

Grant menghampiriku, memegang kedua tanganku, dan menatapku dengan intens. “Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, kan? Mau cerita padaku, Mom?”

“Tidak ada, Sayang. Jangan khawatir,” jawabku. Aku tidak ingin Grant ikut memikirkan masalahku dengan Kyu Hyun.

“Kau tahu, kau selalu bisa mengandalkanku, Mom. Aku sudah dewasa,” ujarnya meyakinkan.

Aku tersenyum. “Benarkah? Aku pikir anakku ini masih kecil.”

Mom!”

“Aku salah? Kau belum punya pacar, Grant. Kau belum dewasa,” godaku.

Mommy! Aku akan segera punya pacar. Lihat saja nanti! Arin akan menerima pengakuanku dan menjadi pacarku.” Grant bersedekap dengan bibirnya yang dikerucutkan. Salah satu sifatnya yang selalu mengingatkanku pada Kyu Hyun.

Pemarah dan tukang merajuk.

“Baiklah. Kenalkan Arinmu itu pada Mommy nanti. Sekarang bersihkan tubuhmu lalu sarapan. Aku sudah menyiapkan sandwich kesukaanmu.” Wajahnya berubah menjadi cerah mendengar makanan kesukaannya. Jangan berpikir sandwich kesukaan Grant berisi daging dan sayuran, karena tidak, kesukaannya hanya daging dan mayonaise. Tanpa sayur.

Masih banyak kemiripan yang dimiliki Grant dan Kyu Hyun. Bahkan setelah belasan tahun tidak melihatnya, Kyu Hyun selalu bisa membuat hari-hariku memburuk. Bayangannya selalu muncul di pikiranku. Aku membencinya.

Grant berlari ke kamarnya setelah mencium kedua pipiku. Ia tahu bagaimana caranya membuatku tenang dan semakin menyayanginya. Aku takkan bisa hidup tanpanya. Tanpa Grant aku tak sempurna.

Ponselku bergetar, menampilkan sebuah nama di layar utama. Aku tidak ingin berhubungan dengannya, maka dari itu kutolak panggilannya, lalu kumatikan ponselku.

Bel berbunyi. Aku bisa menebak siapa yang datang. Tanpa curiga dan tanpa melihat ke monitor, aku membuka pintu dan aku menyesal. Seharusnya aku melihat monitor terlebih dahulu. Seharusnya pintu ini tidak kubuka.

Itu Kyu Hyun.

“Selamat pagi, Nyonya.” Lelaki itu tersenyum miring dan aku langsung tahu bahwa kedatangannya tidak membawa maksud yang baik.

“Ada apa?” suaraku terdengar ketus. Aku memang tidak berniat ramah padanya.

“Biarkan aku masuk atau tatanggamu akan mendapat tontonan drama gratis.” Ya, aku sedang berhadapan dengan lelaki tak berperasaan. Aku harus menghadapinya dengan tenang tapi tetap hati-hati.

Aku menyingkir, memberi jalan pada Kyu Hyun untuk masuk. Setelah ia masuk, aku menutup pintu dan mengikutinya menuju ke ruang tengah. Aku melihatnya berdiri di bawah pigura besar. I and my son.

“Katakan apa yang ingin kau katakan. Aku akan mendengar,” ujarku. Aku tahu ini tidak sopan. Seharusnya aku menawarinya minuman, tapi aku tidak ingin melakukannya. Aku tidak ingin terlihat mudah di hadapan Kyu Hyun.

Kyu Hyun berbalik setelah beberapa detik. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, dan memang tidak ingin tahu.

“Menikahlah denganku,” ujarnya tiba-tiba. Tahu bagaimana rasanya mendengar sebuah letupan besar ketika kau sedang belanja? Atau ban mobilmu pecah secara tiba-tiba di jalan? Terkejut, kan?

Aku terkejut. Melebihi rasa terkejut ketika ban mobilku pecah secara tiba-tiba di jalan.

“Kau bercanda?”

“Tidak. Aku sungguh-sungguh. Menikahlah denganku,” jawabnya dengan tenang dan datar. Aku tidak tahu ia bersungguh-sungguh atau tidak. Aku tidak ingin percaya.

Jika ia bersungguh-sungguh, seharusnya ia mengatakan itu ketika aku memberitahunya bahwa aku hamil. Seharusnya ia mengatakan itu sesaat setelah ia… melakukan pemerkosaan itu.

“Kenapa aku harus menikah denganmu?”

“Kau melahirkan anakku. Aku ingin memiliki legalitas atasnya. Aku tahu kau tidak akan membiarkan Grant berada di sisiku, jadi menikahlah denganku.”

Aku tertawa sinis. Lihat? Kyu Hyun benar-benar orang gila tak berperasaan yang mengajakku menikah dengan mudah, setelah semua yang dilakukannya padaku belasan tahun lalu.

“Kau pikir aku mau menikah dengan lelaki brengsek sepertimu? Seharusnya kau mengatakan itu belasan tahun lalu.” aku tidak bisa lagi menahan emosiku.

Kyu Hyun kembali merendahkan harga diriku. Ia telah melakukannya lima belas tahun yang lalu. “Meski kau ayah dari anakku, aku tidak mau menikah denganmu. Aku tidak sudi menjadi istrimu, Cho Kyu Hyun!” aku berteriak.

Kyu Hyun diam. Dalam amarah yang telah memuncak, aku dapat melihat garis-garis di wajahnya mengeras. Aku tahu Kyu Hyun marah, tapi aku lebih marah.

“Kalau begitu, aku akan memaksa Grant untuk meninggalkanmu,” ujarnya dengan datar namun penuh ancaman. Kedua tanganku mengepal.

“Maka bersiaplah untuk melihat mayatku dikremasi.” Suara Grant muncul dari arah kamarnya. Aku melupakan Grant. Anakku pasti telah mendengar semuanya.

Grant menghampiri kami, berdiri di sampingku. Kyu Hyun diam dan hanya menatap Grant dengan tatapan yang tidak akan bisa dimengerti oleh siapa pun.

Grant membalas tatapan Kyu Hyun. Mereka saling bertatapan untuk beberapa saat hingga Kyu Hyun kembali berkata, “Aku akan menjamin hidupmu. Aku tahu kau tidak terbiasa hidup miskin dan ibumu ini sudah tidak mempunyai apa pun.”

“Ya, kau benar, Tuan Cho. Aku tidak terbiasa hidup miskin, tapi aku lebih tidak terbiasa hidup tanpa ibuku. Aku selalu bersamanya sejak lahir. Jadi, sekarang pergilah! Jangan menghancurkan hidup ibuku lagi. Ibuku sudah cukup hancur selama ini,” ujar Grant.

Aku mulai menangis mendengar perkataannya. Benarkah dia Grant? Anak lelaki yang telah kulahirkan lima belas tahun lalu. Anakku benar-benar telah dewasa. Dia menyayangiku. Aku mencintai Grant.

“Kau akan menikah denganku, Kim Rae Ah. Dan kau, Grant Hessley Cho, kau tidak akan bisa menolak kenyataan bahwa kau adalah anakku.”

“Aku tidak memiliki Cho di belakang namaku,” geram Grant. Kyu Hyun tersenyum sinis. “Kau akan mendapatkannya dengan segera.” Setelah itu Kyu Hyun pergi. Grant terlihat marah. Aku masih belum bisa mengumpulkan kesadaranku.

Pada akhirnya aku dapat melihat interaksi antara Grant dan Kyu Hyun. Dulu aku selalu memimpikannya, tapi dalam keadaan yang lebih baik dari ini.

“Jangan pernah menikahinya, Mom! Kau pantas mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik,” ujar Grant setelah beberapa saat ia menenangkan dirinya.

Aku tersenyum, mengajak Grant untuk duduk di sofa. “Tenanglah. Mommy terlalu cantik untuknya. Benar, kan?” candaku. Grant mendecih. “Ya, kau cantik, Mom. Sayangnya, kau adalah wanita cantik beranak satu dan tidak ada satu pun lelaki yang mengajakmu berkencan.”

Like father like son. Keduanya sama-sama bermulut tajam, entah itu hanya bercanda atau pun serius. Demi Tuhan, tidakkah Grant memiliki sifatku?

“Kau memang tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu, Grant Hessley?”

“Apa?”

“Selama aku di sini, ada seorang lelaki yang terus-menerus mengajakku berkencan, tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin mengkhianatimu,” ujarku. Grant meringis sebal. “Siapa lelaki itu?”

“Han Gyu Jin”

“APA?! Paman Gyu? Damn him! He’s younger than you, Mom. I against him to be my father.”

“Umpatanmu, Grant Hessley. Kau sedang berbicara dengan siapa memangnya?” tegurku. Tidak sungguhan sebenarnya. Aku mengerti pergaulannya selama di Jerman tidak bisa dihindari.

“Maafkan aku. Aku hanya terkejut.” Wajahnya menunjukkan penyesalan. Aku tertawa pelan melihatnya seperti itu. Grant mudah sekali dikerjai. Dan sangat ahli dalam mengerjai orang lain, termasuk aku, ibunya.

Mom!” serunya. “Aku hanya bercanda. Paman Gyu Jin tidak mendekatiku. Dia murni hanya rekan kerjaku, Sayang. Tapi…”

“Tapi?”

“Sepertinya aku harus jujur padamu sekarang. Duduklah dulu,” pintaku. Aku baru menyadari bahwa kami berdebat dengan posisi berdiri. Tapi aku bersyukur karena kami melupakan kedatangan Kyu Hyun berkat perdebatan ini.

Grant menurut. Ia duduk sofa. Aku mengikutinya, duduk di seberangnya. Tatapannya tertuju padaku, menanti pengakuan yang akan segera kuucapkan. “Aku memiliki kekasih,” akuku.

Aku menjalin hubungan dengan kekasihku beberapa minggu lalu. Aku tidak tahu apakah aku mecintainya atau tidak. Aku merasa nyaman berada di dekatnya. Meski tidak bisa menyingkirkan Kyu Hyun dari kepalaku.

Aku pikir Grant akan berteriak atau melakukan apa pun untuk menunjukkan rasa terkejutnya, tapi tidak. Grant hanya mengangkat sebelah alisnya. “Aku serius.”

“Aku tahu,” balasnya.

“Tahu?” Grant mengangguk. “Sejak kapan?”

“Beberapa minggu lalu. Aku melihatmu diantar seorang lelaki dan dia menciummu. Di bibir,” jawabnya tenang.

Astaga. Aku pikir, selama ini aku telah bersembunyi dengan baik, tapi ternyata tidak. “Kau tidak marah?”

Grant menggeleng. “Untuk apa marah? Aku senang. Selama ini aku diam karena aku ingin Mommy mengakuinya lebih dulu. Lagipula dia tampan, aku tidak akan keberatan memiliki ayah setampan dia.”

Aku tersenyum. “Namanya Lee Seung Hyub.”

“Aku tidak bertanya.”

“Menyebalkan! Aku hanya ingin bercerita padamu, Anak Muda.”

“Jangan sekarang, Mom. Aku belum memakan sarapanku,” ujarnya lalu beranjak untuk mencapai dapur. Aku senang karena Grant tidak pernah mengecewakanku dengan mengabaikan makanan yang kubuat.

Aku mengikutinya menuju dapur, duduk di hadapannya, menopang dagu dengan kedua tanganku, mengamati Grant memakan sarapannya.

Lima belas tahun lalu, aku tidak tahu harus berbuat apa untuk merawat seorang bayi yang baru lahir. Aku hanya bisa menangis memikirkan nasib kehidupan kami ke depannya. Aku tidak mungkin membiarkan seorang bayi yang rapuh mengalami kesulitan dalam kehidupannya.

Aku berhasil membawanya menghindar dari kesulitan hidup meski aku harus berusaha jauh lebih keras. Sekarang, hasil kerja kerasku telah hilang, dihancurkan oleh orang yang sama, yang telah menghancurkan hidupku dalam sekejap.

“Apa dia seorang pengusaha?” Grant menatapku dengan fokus penuh. Anak ini selain memiliki sifat jahil, ia juga memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Tidak akan menyerah sebelum rasa penasarannya terpuaskan.

“Uh-huh. Utopia Entertainment.”

Wow! Mom, kenapa tidak kau kenalkan aku padanya? Aku ingin menjadi penyanyi di sana,” seru Grant penuh antusias.

“Kau tahu sesuatu tentang Utopia Entertainment?”

“Tentu saja. Salah satu grup musik mereka tengah naik daun akhir-akhir ini. Ayolah, kenalkan kami!”

“Akan kuatur waktunya,” putusku. Aku tidak mengenalkan Grant kepada kekasihku bukan tanpa alasan.

Grant tersenyum. “Tidak perlu, Mom. Lusa aku akan mengikuti audisi di perusahaan itu. Aku tidak ingin mengenal seseorang dari perusahaan itu. Mengerti maksudku, kan, Mom?”

Aku mengangguk. Aku mengerti keinginan Grant dan tidak ada kata lain yang bisa menggambarkannya selain bangga. Grant memiliki pemikiran berbeda dengan orang-orang kebanyakan.

“Baiklah. Aku harus kembali berlatih. Sampai jumpa,” pamitnnya seraya mencium kedua pipiku sebelum akhirnya berlalu meninggalkanku di rumah ini.

Aku kesepian tapi aku juga tidak bisa menahan Grant untuk tetap tinggal di akhir pekan seperti ini. Grant harus mengejar mimpinya dan aku tidak berhak untuk menjadi penghalang baginya, sekali pun ia adalah anakku.

Sepeninggal Grant, aku berpikir keras. Memikirkan cara untuk melawan Kyu Hyun.

Aku tidak tahu banyak tentangnya. Hanya beberapa penggalan kisah tentang Kyu Hyun di masa lalu dan aku yakin semuanya telah berubah. Kyu Hyun tidak mungkin masih sama seperti belasan tahun lalu.

Kecuali sifat brengseknya.

Aku berjalan ke kamar, mengambil ponselku dan mulai berselancar di internet. Kyu Hyun adalah pengusaha kaya nomor satu di Republik Korea. Namanya langsung muncul di urutan paling atas mesin pencarian.

Aku membaca satu per satu artikel yang muncul. Semuanya menulis tentang kebaikan dan kehebatan lelaki itu dalam mengurus bisnisnya. Berwibawa, tampan, muda, dan jenius. Empat kata kunci yang menggambarkan Kyu Hyun di setiap artikel yang kubaca.

Jika media tahu bahwa Kyu Hyun memiliki seorang anak lelaki dari hasil pemerkosaan, apa yang akan terjadi? Tentunya sebuah goncangan dahsyat yang akan merobohkan istana megahnya.

Lelaki itu akan miskin. Perusahaannya hancur karena investor mana pun tidak akan memberikan kepercayaan pada seorang bajingan seperti Kyu Hyun. Harga saham di perusahaannya akan melemah.

Aku bisa saja melakukan itu, tapi tidak. Aku tidak akan melakukannya.

Jika itu kulakukan, benar Kyu Hyun akan hancur. Tapi anakku juga akan ikut hancur. Secara otomatis itu akan berdampak pada Grant yang bercita-cita menjadi seorang entertainer.

Sebuah artikel menyita perhatianku, sekaligus memberi jalan keluar yang cukup cemerlang. Ide cemerlang yang akan menghancurkan Kyu Hyun, bukan melalui fisik tetapi melalui psikisnya.

Artikel ini menuliskan tentang kehidupan rumah tangga Kyu Hyun yang tetap harmonis di usia yang kesepuluh. Meski belum dikaruniai seorang anak, Kyu Hyun dan istrinya selalu tampil mesra dan saling menyayangi.

Jadi, selama aku berjuang agar Grant tidak mengalami kesulitan dan kekurangan kasih sayangku, lelaki itu hidup bahagia dengan wanita yang dicintainya? Menggelikan sekaligus menjijikkan.

Kali ini aku tidak akan membiarkan kebahagiaan Kyu Hyun. Aku tidak akan membiarkan lelaki itu tersenyum manis di depan istri tercintanya.

Tidak akan pernah.

Jika Tuhan tidak memberinya mimpi buruk, maka aku akan memulainya.

Kyu Hyun akan mengalami mimpi buruk.

Aku pastikan.

 

_o0o_

 

Hari ini, setelah mengantar Grant ke sekolah –memaksanya agar mau kuantar, meski menggunakan bus karena mobilku telah disita, aku mengunjungi bangunan tinggi tempat istri Kyu Hyun berada. Terima kasih kepada salah satu fanpage pasangan Kyu-Ra (Kyu Hyun dan Yi Ra) karena telah menuliskan jadwal wanita itu.

Tsk. Kyu-Ra Shipper? Sangat kekanak-kananakan.

Dari sana aku tahu bahwa Yi Ra –istri Kyu Hyun adalah mantan aktris terkenal. Ia berhenti setelah lima tahun menjadi istri Kyu Hyun. Itu artinya, lima tahun yang lalu. Tapi penggemarnya tidak main-main meski wanita itu telah berhenti dari dunia entertainment.

Aku telah sampai di dalam. Ini adalah sebuah restoran. Aku melihat istri Kyu Hyun berdiri di pangggung, bernyanyi diiringi oleh sebuah grup band. Tampilanya sangat elegan dan mewah.

Suaranya tidak sebagus yang dibicarakan orang-orang. Percayalah. Aku bukan menilai dari sisi seseorang yang akan melakukan kejahatan, tapi aku menilainya dari sisi seorang wanita yang menjadikan musik sebagai pelipur lara.

Meski tidak ahli, aku adalah orang yang mengerti musik. Musik jugalah yang telah mempertemukanku dengan Kyu Hyun di universitas dulu.

Riuh tepuk tangan terdengar keras setelah istri Kyu Hyun itu selesai menyanyikan lagu milik Taeyeon yang berjudul I. Aku tidak tahu siapa Taeyeon. Grant bilang dia adalah anggota girl group terkenal.

Aku tidak tahu tapi aku mendengarkan lagunya dan menjadikannya salah satu lagu kesukaanku. Lagu yang bagus dibawakan oleh suara bagus. Terlalu berharga untuk diabaikan.

“Lagu terakhir yang akan kubawakan ini adalah lagu spesial karena diciptakan oleh suamiku. Tidak banyak yang tahu tentang bakat tersembunyi suamiku ini. Aku begitu terharu mengetahui suamiku diam-diam menciptakan lagu ini untukku.” Decak kagum mengiringi pidato istri Kyu Hyun.

“Sebelum menyanyikan lagu ini, aku ingin meminta agar kalian tidak merekamnya. Aku ingin memberikan kejutan kepada penggemarku. Jadi, aku harap kalian tidak merekam dan menyebarkannya. Terima kasih,” ujarnya.

Heol. Kalau tidak ingin direkam, kenapa dia membawakan lagunya? Memberikan kejutan untuk penggemar? Menjijikkan.

Musik mulai mengalun. Nada pertama lagu ini membuatku mengerutkan dahi. Berjalan hingga chorus pertama, dahiku semakin dalam berkerut. Aku mengenal lagu ini. Lirik dan musiknya amat sangat kukenal.

Ketika kau di sisiku
Yang harus kulakukan adalah mencintaimu
Ketika kau berpaling
Yang harus kulakukan hanyalah menyerah
Seperti air dan api
Kita, kau dan aku, takkan pernah bisa bersama (Original words by kyubumgirl)

Bait penutup lagu itu membuatku mnegerti. That song was wrote and composed by me.

Kyu Hyun telah mencuri laguku. Lelaki itu mengakui lagu itu sebagai ciptaannya, tapi kenyataannya bukan. Lelaki itu mencintai istrinya dan mereka telah bersatu dalam ikatan pernikahan. Tidak mungkin Kyu Hyun menciptakan lagu semacam itu.

Sialan. Itu adalah lagu yang kuciptakan berdasarkan perasaanku saat itu.

Aku mengungkapkan perasaanku yang tak mungkin terbalas. Aku menunjukkan lagu itu pada Kyu Hyun dengan harapan ia akan menyadarinya. Ya, lagu itu untuk Kyu Hyun. Untuk rasa cintaku pada Kyu Hyun.

Sial. Kim Yi Ra dengan lagunya membuatku mengingat kembali masa lalu yang telah berusaha kukubur.

Aku mendesah kasar. Ini benar-benar menyakitkan mengetahui lagu yang mewakili perasaanku dibawakan oleh orang lain dan lebih parahnya, diakui sebagai milik Kyu Hyun. Aku harus melakukan sesuatu untuk itu.  

Di seberang mejaku, aku melihat seorang lelaki mengarahkan kamera ponselnya ke panggung. Aku rasa, Tuhan menjawab doaku agar aku bisa menuntut Kyu Hyun melalui lagu ini.

Setelah mengamati gerak-gerik lelaki itu, hanya sepemakan sirih saja aku sudah duduk di sampingnya. Lelaki itu terkejut dan laangsung memasukkan ponselnya ke saku jas. Ada raut gugup di wajahnya. Mungkin lelaki ini berpikir aku berada di pihak Kim Yi Ra dan menegurnya.

“Aku melihatmu merekamnya. Boleh aku minta?” pintaku to the point.

Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya. “Aku tidak ingat pernah dekat denganmu. Kenapa kau berbicara informal padaku?”

“Kau juga berbicara informal padaku. Padahal dilihat dari wajahmu, aku menebak umurmu jauh di bawahku, Anak Muda.”

Lelaki itu mendengus. “Apa yang kau inginkan?”

“Aku sudah mengatakannya. Aku ingin meminta rekamannya.”

“Kau akan menyebarkannya?”

“Tidak. Aku hanya memerlukan itu untuk kepentinnganku sendiri,” jawabku jujur.

“Dengar, aku selalu mengikuti Kim Yi Ra selama tiga tahun ini. Aku tidak ingin memiliki saingan. Kalau kau seorang wartawan, lupakan. Aku tidak akan memberikannya.”

“Aku bukan seorang wartawan.” Lelaki itu berpikir, terlihat dari kerutan di dahinya. “Kau seorang wartawan, kan?” tanyaku begitu sebuah ide melintas di kepalaku. Lelaki itu mengangguk.

“Jika waktunya sudah tiba, aku akan memberimu berita besar. Kau yang pertama, aku berjanji.” Aku meyakinkan.

“Berita besar apa yang kau miliki?”

Aku menyeringai dan aku yakin seringaianku ini tak lebih menyeramkan dari milik Grant. “Aku tidak akan membertitahumu sekarang. yang pasti, kau akan senang setelah mengetahuinya. Sekarang, berikan aku video itu.”

Lelaki itu mengangguk. Ia menyambungkan ponselnya dengan laptop dan aku dengan senang hati memberinya USB milikku. Hanya sepemakan sirih saja ia berkutat dengan laptopnya dan USB-ku sudah kembali.

“Kartu namamu,” serunya. Tangannya terulur di depanku.

Aku mengambil dompet di dalam tas, mengambil salah satu kartu namaku. Namun, sebelum kartu itu benar-benar kuberikan, aku mengurungkan niatku. Aku sudah tidak menjadi direktur di perusahaanku lagi.

“Berikan saja kartu namamu. Aku tidak akan melanggar janjiku, aku bersumpah.” Lelaki itu menghela napas kesal lalu memberikan kartu miliknya.

“Jadi, namamu Go Min Soo?” aku menatapnya dengan senyum puas. Go Min Soo akan sangat membantuku. “Baiklah. Sampai jumpa nanti, Go Min Soo-ssi.” Setelah berpamitan, aku langsung pergi tanpa banyak lagi berbasa-basi.

Di pintu, aku menoleh sebentar ke arah panggung. Kim Yi Ra sedang tertawa bersama salah satu penggemar yang ia tarik. Aku tidak mengerti event apa yang wanita itu selenggarakan dan aku tidak ingin mengerti.

Nikmati tawamu untuk hari ini karena aku akan menghancurkan hidup suamimu, melalui dirimu.

Satu hal yang ingin kumengerti sekarang adalah alasan Kyu Hyun memberikan laguku pada istrinya. Meski rasa dalam nadanya tidak sekuat yang aku ingat, tapi itu tetap laguku. Ada beberapa nada yang hilang, dan itu tetap milikku. Nadanya hilang, tapi tidak dengan liriknya.

Nada yang hilang adalah nada yang sengaja aku kosongkan agar Kyu Hyun mau menyelesaikannya. Aku tidak mengerti mengapa dulu aku melakukan itu.

Sial. Aku benci menangis, terlebih alasanku menangis adalah masa laluku dengan Kyu Hyun.

 

_o0o_

 

Tujuanku setelah keluar dari restoran itu adalah gedung perusahaan Kyu Hyun. Aku berdiri di depan meja sekretaris, menunggu wanita itu mempersilakanku untuk masuk. Maksudku, Kyu Hyun. Sekretaris itu tidak mungkin mengizinkanku untuk masuk sementara Kyu Hyun tidak.

Seingat pengalamanku, Kyu Hyun tidak pernah menolak kedatanganku.

Aku melenggang begitu saja melewati sekretaris Kyu Hyun begitu wanita itu memberikan tanda bahwa Kyu Hyun ingin aku masuk. Lihat? Kyu Hyun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan obyek kekejamannya.

“Aku harap, kedatanganmu ini bertujuan untuk memberiku kabar baik,” ujarnya begitu aku masuk.

Kyu Hyun duduk di kursinya, dan aku berdiri di depan mejanya. Meja ini terlihat berantakan. Kyu Hyun pasti benar-benar sibuk. “Berita baik apa yang kau harapkan dariku?”

“Menerima tawaranku untuk menikah,” jawabnya tanpa ragu.

“Kau menganggap itu berita baik, di saat kau begitu mencintai istrimu?” aku melihat perubahan ekspresi di wajahnya. Ia terlihat marah, tapi marah untuk apa? Untuk ucapanku yang mana?

“Katakan saja tujuanmu ke sini, Kim Rae Ah!” serunya, terdengar tajam dan tak ingin dibantah.

Aku berjalan ke samping, memutari meja lalu mengambil laptop Kyu Hyun yang masih menyala. Kyu Hyun mengikutiku dengan matanya tapi tidak bertanya.

Aku menyambungkan USB-ku. Setelah menunggu beberapa saat, aku membuka file yang wartawan itu berikan padaku. Setelah file itu kuputar, aku menegakkan tubuhku dan bersedekap di samping Kyu Hyun.

Video menampilkan istrinya sedang menyanyikan laguku. Aku seperti dihantam batu keras melihat orang lain menyanyikan laguku. Aku membuat lagu itu untuk dinyanyikan oleh Kyu Hyun, bukan oleh istrinya.

“Belasan tahun memang waktu yang lama, tapi aku tidak pernah melupakan tiap nada dari nada lagu ini, terutama liriknya. Kau mengambil perusahaanku, aku masih bisa menerimanya meski sulit. Tapi lagu ini, tidak bisa. Aku tidak akan membiarkan lagu ini menjadi milikmu dan dinyanyikan oleh orang lain.”

Napasku tercekat di tenggorokan. Aku tidak ingin melihat wajah Kyu Hyun tapi akhirnya tetap menelengkan wajahku ke samping. Aku terkejut. Aku pikir, aku akan menemukan wajah Kyu Hyun yang meremehkan, tapi tidak.

Aku melihat tangannya memegang kursi dengan kuat, dan garis-garis di wajahnya mengeras. Tidak tahu untuk apa ekspresinya itu ia tunjukkan. Aku harus menuntut jawaban Kyu Hyun.

“Kenapa kau melakukannya? Lagu ini belum selesai, aku ingat itu. Nadanya kubiarkan kosong di bagian akhir karena ini adalah bagian yang harus kau selesaikan. Kenapa kau memberikannya pada istrimu?”

“Hanya sebuah lagu, Kim Rae Ah. Itu tidak berarti apa-apa. Kenapa kau meributkan masalah seperti ini?” aku sudah mengira jawaban seperti ini yang akan kudapat, tapi hatiku masih merasa sakit mendengarnya.

“Itu adalah lagu yang sangat berarti untukku, Cho Kyu Hyun. Aku tidak akan membiarkan istrimu bebas menyanyikan lagu itu.”

Kyu Hyun berdiri, berhadapan denganku, menatapku dengan tatapannya yang tajam. Aku dulu pernah menyukai tatapan itu, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku membencinya hingga rasanya ingin mencogkel mata itu keluar dari tempatnya.

“Aku akan benar-benar pergi dari lingkungan ini. Luar negeri tidak akan menyulitkanku. Tapi aku tidak akan pergi sebelum kau mengembalikan laguku.” Aku mencabut USB-ku lalu pergi tanpa ingin melihat wajah Kyu Hyun.

Aku sudah terlalu muak melihat wajahnnya yang selalu terlihat tenang. Aku juga muak, karena aku masih bisa merasakan desiran aneh ketika berhadapan dengannya. Aku muak pada diriku sendiri yang masih mengingat rasa cintaku pada Kyu Hyun di saat seharusnya aku membenci lelaki itu.

Setelah keluar dari ruangan Kyu Hyun dan berada di elevator, tubuhku merosot dan air mataku tak bisa lagi kubendung. Enam belas tahun adalah waktu yang sangat lama, lebih dari cukup untuk aku melupakan peristiwa itu. Tapi kepingan demi kepingan kenangan yang pernah aku lalui dengan Kyu Hyun, terasa begitu dekat.

Tidak ada orang lain. Di sini hanya ada aku yang meratapi masa laluku. Aku membiarkan diriku menangis keras karena ketika elevator ini terbuka, aku tidak akan pernah menangis lagi. Aku akan membawa Kyu Hyun pada neraka yang sejak belasan tahun lalu aku hadapi.

Tunggu aku, Cho Kyu Hyun.

 

TBC

 See ya in the next chapter! don’t forget to buy my novel. Love ya!

 

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

64 thoughts on “Heartless Part 2”

  1. Ahh ayo kakak dilanjutin.sumpah ini ide cerita nya bagus banget. Aku aja pengen baca terus. Nggak bisa bayangin rasanya jadi Rae Ah

  2. Si kyu nyebelin banget dech… Dulu dia ninggalin rae ah saat tahu rae ah Hamil sekarang dia may nikahin rae ah setelah grant lahir. Mau nya apa sie abang kyu INI? Apalagi dia udah punya istri. Dia pikir rae ah mau gitu jadi istri kedua? Aku dukung nie klo rae ah mau melawan kyu… Kira2 apa yang bakal dilakuin rae ah setelah tahu lagu nya do nyanyiin ma istri nya kyu?

  3. Oh ya ampun kyu jahat bngt ye, tega bngt sama rae ah. Grant pngrtian bngt jd anak, iyalah org dia yg slma ini digedein dgn ksh syg ibunya :”) huhuhu nih ff menguras emosi kkk tp keren bngt 😀

  4. Makin menarik.. suka sama karakter Grant, dia emang punya kesamaan dengan Kyuhyun. Dan, Kenapa juga Kyu Hyun mau nikahin Rae Ah? Tadinya aku pikir Kyu Hyu. Masih lajang ternyata dia punya istri..

    Oya Btw masih ada typo kak. Dan sebaiknya Pake sudut pandang orang ketiga deh, lebih enak bacanya hehe

  5. sbnrnya apa yg terjadi.. #kepoo
    semoga kyu sadar yg dilakuin itu menyakiti hati orang lain..
    n jngn semena” kyu kasian ibunya grant..
    mentang” u berkuasa jngn hancurkan lg hidup ibunta grant

  6. si kyu knpa jhat bnget,ksian kan rae ah y,udh diperkosa g mau tanggung jwab,diambil perusahàn y ,trs mnta grent trs lgi ngasih lagu rae ah k.istri y ..bner”gla.sbnr y knpa sma si kyuhyun ??

  7. Bas dendamlah…aku mendukungmu ra eh eonni….
    Buat kyuhyun dan ostrinya hancur

    Mengajak nikah di saat sudah ada istri???

  8. Astaga kyuhyun emang bener” udah ambil perusahaannya rae ah sekarang lagu ,btw penasaran nih kyuhyun sama istrinya tuh kayak harmonis tpi knp pas ditanya rae ah kyuhyunnya keliatan marah gitu???
    Dan buat balas dendam rae gah gue dukung bingitt😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s