Fate Part 9

Fate Part 8

Halooooo aku bawa Fate Part 9 niiiih!
Maafkan aku ya kalo aku terkesan mengabaikan cerita-cerita di sini. Sejujurnya aku lagi nulis novel KyuRae. Temanya bales dendam gitu sih. Mau aku jual online. Kira-kira ada yang minat gak yah? Hmmm
Oke, itu iklan sekilas aja wkwk
Selamat membaca!

ღღღ

Di ruangan itu kini hanya tinggal Rae Ah dan Kyu Hyun. Semua orang memahami kondisi di hadapannya jadi memutuskan untuk keluar dengan sopan. Kyu Hyun membawa Rae Ah ke sofa, mengajaknya duduk di sana, berdampingan. Setelah ia dan Rae Ah duduk, lelaki itu mengambil ponsel dari dalam saku jasnya kemudian menelepon sekretarisnya.

“Batalkan semua pertemuan hari ini dan alihkan untuk besok!” perintah Kyu Hyun, tanpa mau mendengar pendapat dari sekretarsinya.

“Kau tidak perlu melakukan itu, Kyu Hyun. Aku hanya perlu menggunakan waktumu untuk wawancara dengan C Virus Magazine.” Kyu Hyun menggeleng pelan, tidak setuju dengan apa yang Rae Ah ungkapkan.

Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, tidak mungkin Kyu Hyun menyia-nyiakan kesempatan ini. Apalagi dia adalah Kim Rae Ah, orang yang sangat ia rindukan. Kim Rae Ah tidak tahu betapa hati Kyu Hyun meradang karena tidak bisa bicara dan bertatap muka dengannya. Gadis itu tidak tahu betapa ia berusaha dengan begitu keras menahan hasratnya untuk meninggalkan London dan menghampirinya, memeluknya, lalu meminta gadis itu untuk tinggal di sampingnya.

“Aku tidak tahu sampai kapan kau di London dan aku juga tidak ingin melewatkan waktu berharga ini. Jadi, jangan berpikir bahwa pembicaraan kita akan cukup jika hanya emmakai waktu yang telah sekretarisku sediakan untuk wawancara denganmu,” ujar Kyu Hyun panjang lebar. Rae Ah menganga. Sejak kapan Seorang Cho Kyu Hyun menjadi begitu jujur dan banyak bicara?

“Aku tidak tahu kau bisa begitu jujur.” Kyu Hyun menunduk dan tersenyum simpul.“Aku selalu jujur, Kim Rae Ah. Hanya saja, kau tidak pernah menyadarinya.”

Rae Ah terdiam. Ia tidak mengerti kenapa Kyu Hyun mengatakan hal seperti itu. satu hal yang ia mengerti sekarang adalah bahwa ia tidak cukup mengenal Kyu Hyun. Mereka boleh saja bersahabat selama bertahun-tahun, tetapi Rae Ah tidak pernah mengenal bagaimana perasaan seorang Cho Kyu Hyun. Siapa yang lelaki itu sukai, gadis mana yang membuatnya jatuh hati, dan segala hal tentang perasaannya.
Kyu Hyun adalah orang yang perhatian meski melalui cara-cara yang tidak biasa. Ia juga tahu bahwa Kyu Hyun bukanlah seseorang yang mudah mengungkapkan perasaannya. Itu yang membuatnya merasa tidak cukup mengenal lelaki itu. Banyak hal yang belum ia pelajari tentangnya.

“Chan Yeol meninggal,” ujarnya memecah keheningan yang sempat tercipta. Kyu Hyun mengangguk.
“Kau tidak datang,” ujar Rae Ah lagi.

“Aku ingin, tapi aku tidak bisa.”

Why not? I was so down that time. I needed someone to embrace and calm me down. I was hoping that you would come to do that but you didn’t.” Kyu Hyun terenyuh melihat mata Rae Ah telah berkaca-kaca.
Gadis itu tengah menahan emosinya agar tidak meledak. Kyu Hyun tahu ia telah bersalah karena tidak ada ketika Rae Ah membutuhkannya.

“Maafkan aku. Kau tahu, aku sangat ingin datang, memelukmu, menguatkanmu, tapi aku tidak bisa.”
“Aku ingin tahu alasan mengapa kau tidak bisa datang,” gumamnya.

“Ada banyak masalah yang terjadi di sini. Kau tahu, aku bisa saja pergi ke sana untuk beberapa hari, tapi aku pikir aku tidak akan bisa melakukannya. Aku tidak akan kembali sedangkan ayah dan perusahaan benar-benar membutuhkanku.” Kyu Hyun menatap lurus ke dalam mata Rae Ah yang mulai mengeluarkan air mata. Rae Ah mengerjap.
“Kau tahu kenapa? Itu karena aku tidak akan lagi memiliki kekuatan untuk menjauh darimu, Kim Rae Ah. Bahkan saat ini, aku tidak tahu apakah aku akan melepaskanmu lagi atau malah menahanmu untuk tetap di sini,” lanjut Kyu Hyun.

Rae Ah merasa seluruh tubuhnya terbakar. Ia terpesona oleh alasan yang Kyu Hyun berikan. Di masa lalu, beberapa tahun silam, ia menyadari perasaannya pada Kyu Hyun telah berkembang, tidak lagi hanya sebagai sahabat. Namun, ia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya yang masih terpaut begitu kuat pada Chan Yeol.
Gadis itu menatap lurus ke dalam manik Kyu Hyun. Ia ingin memastikan bagaimana jantungnya ketika matanya bertemu dengan milik Kyu Hyun. Ia merindukan lelaki itu dan jantungnya berdetak lebih dari yang ia bayangkan. Perasaan yang dulu sempat ia sadari, ternyata masih ada. Perasaan yang juga disadari oleh Chan Yeol.

“Aku lapar. Mau menemani?” Kyu Hyun terkekeh geli. Kim Rae Ah sedang mengalihkan suasana. Ia melihat gadis itu gugup tadi.
“Ayo!” ajaknya seraya mengulurkan tangan pada Rae Ah. Gadis itu menyambutnya dengan senyum lebar, membuat Kyu Hyun juga ikut tersenyum.

Pelan-pelan saja. Meski Chan Yeol telah lama pergi, bukan berarti ia harus dengan serta-merta mengungkapkan perasaannya pada Rae Ah, apalagi ini pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Perlahan tapi pasti, Cho Kyu Hyun.

ღღღ

Pada pertemuan paling pertama mereka, Kim Rae Ah meninggalkan kesan yang sangat mengagumkan dengan pandangan-pandangannya mengenai nasionalisme. Sekarang, pada pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Cho Kyu Hyun membuat Kim Rae Ah memandangnya dengan tatapan kagum.

Lelaki itu membawa Rae Ah ke sebuah rumah mewah dengan design interior yang sangat mengagumkan –indah. Rumah itu berwarna putih, didominasi oleh dinding kaca tembus pandang. Setiap ruangan di dalamnya didekorasi dengan sangat elegan, membuat siapa saja tidak ingin beranjak. Sementara itu, di luar, lapangan berumput hijau menghias, mengelilingi rumah dengan pohon pinus berdiri tak beraturan.

“Aku pikir, aku mengajakmu untuk makan siang,” ujarnya setelah pantatnya mendarat di atas sofa berwarna putih sementara Kyu Hyun berlalu ke arah dapur. Di depannya sebuah LED TV meminta untuk dinyalakan.
“Ya, dan aku mengajakmu makan siang di sini,” jawab Kyu Hyun santai. Lelaki itu menaruh minuman soda di atas meja untuk Rae Ah, dan meminum miliknya sendiri.

“Rumahmu?” Kyu Hyun mengangguk.
“Aku pikir seorang lelaki lajang lebih suka tinggal di apartemen mewah di Mayfair daripada sebuah rumah besar di pinggiran London.” Rae Ah tahu bahwa Kyu Hyun masih lajang karena selama perjalanan menuju rumah mewah ini keduanya terliat percakapan yang tiada henti. Salah satu bahasan mereka adalah mengenai status Kyu Hyun.

“Aku tinggal di Mayfair.”
“Apa? Lalu rumah ini?”
“Aku membeli rumah ini setahun yang lalu, setelah perusahaan benar-benar stabil. Sebelum membeli rumah ini aku tinggal di apartemen yang telah ayahku sediakan di Mayfair. Dan sekarang aku masih tinggal di sana,” jelas Kyu Hyun.

“Kau membeli rumah ini menggunakan uang perusahaan?” pertanyaan Rae Ah itu membuat Kyu Hyun mendelik tajam. “Kau pikir aku semiskin itu? Ingat, aku mengantongi jutaan dollar dari hasil pekerjaanku sebelum ini,” desisnya tak terima.

Rae Ah tertawa. “Aku tahu. Aku hanya bercanda.” Gadis itu kemudian bangkit, menoleh pada Kyu Hyun yang mendongak menatapnya. “Aku akan memasak. Ada bahan makanan, kan, di dapur?”
Kyu Hyun mengangguk. “Ada. Kau mau memasak?” kali ini Rae Ah yang mengangguk.

Kyu Hyun membuka mulutnya kemudian menutup lagi. Ia terkejut sekaligus terpana. “Memangnya kau tahu cara memasak?”
Rae Ah berdecih. “Kita berpisah bukan dalam waktu dua hari, Cho Kyu Hyun. Aku sarankan kau bersihkan tubuhmu saja. Makanan akan siap setelah urusanmu selesai,” ujarnya dengan nada manis yang dibuat-dibuat. Kyu Hyun tertawa pelan.

“Baiklah. Masak yang enak, Wifey.”
“Take your time, Hubby.”

Kyu Hyun berbalik menuju kamar, begitu juga Rae Ah berbalik kembali menghadap kompor. Kemudian Kyu Hyun terdiam di balik pintu kamar. Tangannya kanannya masih memegang hendel pintu, sedangkan tangan kirinya ia letakkan di atas dada –tepat di jantungnya. Di sana berdetak cepat seperti biasannya ketika ia berhadapan dengan Kim Rae Ah.

Wifey. Hubby. Kenapa terdengar sangat manis dan mendebarkan? Ia ingin tahu bagaimana jika mereka menggunakan sapaan itu dalam kehidupan sehari-hari. Apakah akan selalu terdengar manis seperti ini? Atau, bisa jadi lebih indah.

Hentikan! Hentikan sebelum semuanya menjadi berantakan karena ia bertindak terburu-buru. Ia baru bertemu dengan Kim Rae Ah hari ini jadi tidak boleh ada satu hal pun yang mengacau.

Kyu Hyun menggelengkan kepala dengan senyum tersungging di bibir penuhnya. Senyumnya yang bisa dikatakan paling indah selama ia menjalani hidup di London. Lelaki itu membawa langkahnya ke kamar mandi bersama dengan siulan lagu romantis, khas para lelaki yang sedang jatuh cinta. Faktanya, Cho Kyu Hyun telah jatuh cinta sejak bertahun-tahun yang lalu.

ღღღ

Di dapur, kondisi Kim Rae Ah tidak jauh dengan Kyu Hyun. Gadis itu tersenyum dengan wajah merona dan tangannya yang memegang spatula ditangkupkan di depan dada. Sesekali gadis itu menggigit bibir bawahnya, lalu menghela napas, membuangnya, kemudian kembali tersenyum.
Ia merasa berdebar ketika mereka menjadikan panggilan itu sebagai candaan. Bagaimana jika itu menjadi panggilan sehari-hari mereka?

Tidak, tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Ia telah menyakiti Kyu Hyun sebelum lelaki itu pergi. Ia berpura-pura tidak tahu ketika ia sesungguhnya mengetahui perasaannya dan membiarkan lelaki itu pergi, seolah ia tidak membutuhkan lagi Kyu Hyun di sampingnya karena Chan Yeol telah ditemukan.

Lagipula, Kyu Hyun tidak mungkin masih memiliki perasaan itu untuknya. Ia juga tidak pantas menyukai orang lain ketika gelang pemberian Chanyeol masih melingkar di pergelangan tangannya.

Akan tetapi, sejujurnya, selama bertahun-tahun ini Kim Rae Ah merindukan Kyu Hyun. Selalu, tanpa terlewat sehari pun. Rae Ah tahu itu bukan hanya karena ia telah terbiasa dengan kehadiran Kyu Hyun sebagai sahabatnya, melainkan juga karena ia merindukan lelaki yang telah mampu membuat gadis itu membagi hatinya untuk dua orang.

Lelaki itu, Kyu Hyun, telah berhasil membuat Kim Rae Ah membagi hati yang telah ia berikan pada Chan Yeol seutuhnya.

“Masakannya hangus.” Bisikan lembut tepat di telinga kanannya membuat Rae Ah melonjak karena terkejut. Kyu Hyun tertawa sedangkan Rae Ah merengut.

“Jangan hanya melamun, Nona Kim! Aku sudah sangat lapar,” ujar Kyu Hyun samnbil berjalan ke arah lemari pendingin, membuka pintunya, kemudian mengambil jus jeruk. Lelaki itu menghabiskan minumannya hanya dalam sekali tenggak.

“Aku tidak melamun!” sergahnya sembari cepat-cepat menuangkan masakan itu ke atas piring. Kyu Hyun tahu gadis itu gugup tapi ia biarkan. Ia senang melihat wajah meronanya. Terlihat cantik.

“Baiklah. Kau tidak melamun. Aku akan makan sekarang,” ujar Kyu Hyun mengalah sebelum wajah gadis itu semakin memerah seperti kepiting rebus.

Rae Ah duduk di samping KyuHyun, memerhatikan cara makan lelaki itu. Sudah sangat lama sekali rasanya sejak terakhir kali melihat wajah serius Kyu Hyun ketika makan dan ia merindukan itu. Sejak dulu ia memang senang memerhatikan Kyu Hyun ketika makan. Dahinya akan mengerut dalam ketika menemukan sesuatu yang ganjal pada makanan yang ia makan dan wajahnya akan berkeringat jika makanan itu memiliki rasa yang sangat pedas. Kyu Hyun adalah lelaki yang menyukai makanan pedas. Salah satu kesamaan yang telah membuatnya semakin cocok berteman dengan Kyu Hyun sejak awal-awal mereka dekat.

Kyu Hyun masih serius menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Ketika mendongak ke sampingnya, ia melihat Rae Ah tengah menatap intens ke arahnya. Makanan di atas piring gadis itu bahkan masih utuh tanpa tersentuh sedangkan milik Kyu Hyun telah tandas setengahnya.
Mata bertemu mata. Kyu Hyun membeku seolah tubuhnya tersedot ke dalam pesona indah mata kelabu milik Kim Rae Ah. Keduanya berpandangan tanpa berniat untuk berkedip. Dengan atau tanpa disadari, wajah mereka telah beranjak mendekat. Kyu Hyun tersenyum, matanya melirik sekilas ke arah bibir merah Rae Ah, dan sedetik kemudian bibir Kyu Hyun mencium bibir milik Rae Ah. Menempel untuk beberapa saat, membuat Rae Ah memejamkan matanya.

TBC

Segini dulu aja yaaa. Lagi mandeg bangetsss hihi jangan protes gara-gara kependekan. Aku gak bisa bikin ini lebih panjang lagi. kelamaan ditunda, jadi aku harus nyari feelnya lagi buat ff ini wkwk maafkan aku. Tapi aku jamin bakal tamat kok ffnya.

BTW, aku rencana bikin grup Traumland di LINE biar bisa ngobrol dan semakin deket sama kalian. Pendapatnya donggss kalo ada yang mau bisa add lisnursf terus personal chat, minta buat dimasukin ke grupnya. See ya!

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

14 thoughts on “Fate Part 9”

  1. Akhirnya keluar jugaaaaaa!!!!tapi ini terlalu pendekkk kakkk!!!!jadi penasaran gimana reaksi rae ah stlah itu,,kkkke

    Ditunggu next partnya harus lebih panjang dari ini, dan jangan lama2 ngepost.nya atuh kak

  2. Kl udh dua” nya sama” tau isi hati masing knp ga sebutan itu diwujudkan lihatlah sama merona dan bahagia kadikanlah bahagia dlm satu ikatan pernikahan kyu

  3. Akankah mereka berdua mau jujur dengan perasaanya masing-masing? Mereka masih saling sayang dan cinta tp menahan diri untuk mengungkapkan perasaan yang mereka rasakan. Bagaimana kedepanya hubungan mereka? Ditunggu next chapnya.

  4. Ya ampuun panggilan itu bner2 maniis wifey & hubby andai d khidupan nyatanya itu trjadi 😓 kpan n knpa kalian msih blm ungkapin persaan msing2 sih jelas2 kalian sling mncintai aahh greget jdinya ..

  5. senengnya,, akhirnya kyu dan rae ah bersama lagi,,, ga sabar nunggu kelanjutan cerita kebersamaan mereka,,, mereka udah sama sama saling suka,, tapi ga berani ungkapin takut nyakitin satu sama lain,,, ditunggu kelanjutannya,,

  6. nahhhh gini dooonngg dari awal sampe.akhur kyuhyun rae ah momenttt hahahaha seneng bgttt kan jd senyam senyum bacanya dari awal beda bgt kaya chapter yg kmrn yg malah.pengen nangis terus hahah duuuhh aku ikuta drgdegan itu wifey hubby omg kirain rae ah gakan ngerespon candaan kyuhyyn taunyaaaaaa di bales hubby kyaaaaaa

  7. Aku aja juga seyum senyum sendiri pas mereka manggil wifey and hubby wkwkwk. Rae ah perasannya masuh labil banget nih, ayodong cepet move on nya dari chanyeol.
    Tapi ngeri juga lah nanti kalo dia udah sama kyuhyun terus nemuin cowo lain tibatiba fall in love lah nasib kyuhyun gimana? Sebelumnya aja pas masih ada chanyeol dia udah ngebagi hati ke kyuhyun kan 😕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s