[Royal Daddy 3] My Daughter Cho Hyun-Ae

12342506_871988972896629_1992356445060487507_n

Aku janji bawa Reason Part 3 atau Heartless Part 2 kan ya tapi ternyata aku gak sempet. Aku genti pake ini aja yaa^^ Doakan semoga KKN-ku lancar yaaa. Hiihi Selamat liburan buat yang lagi libur, selamat KKN yang KKN, seamat melakukan aktivitas. Jangan lupa komennya yaa Haha

 

 

Muda, cerdas, dan berdedikasi tinggi. Tiga karakter tersebut merupakan impian semua orang terhadap pemimpinnya. Kaya akan menjadi point selanjutnya. Sebuah negara membutuhkan seseorang yang berdedikasi tinggi karena orang seperti itu tidak akan mengingkari sumpah yang telah terucap ketika hari pelantikan terlaksana. Ia akan memimpin dengan baik, dengan sepenuh hati melayani masyarakat. Sejatinya, pemimpin negara hadir untuk melayani masyarakat, bukan untuk berlaku semena-mena terhadap kekuasaan yang berada di tangan.

Cho Kyu Hyun memperhatikan dengan seksama penjelasan dari seorang pakar politik yang tengah menyambangi kantornya. Republik Korea akan menghadapi pesta demokrasi beberapa saat ke depan. Park Seung Phil dikenal sebagai pakar paling mumpuni di jagat politik. Pengamatannya selalu akurat.

Selama beberapa tahun ini Park Seung Phil mengamati gaya hidup seorang pengusaha terkenal selama puluhan tahun. Pengusaha tersebut terkenal dengan dedikasinya yang tinggi terhadap perusahaan dan terutama pada keluarga. Ia adalah Cho Kyu Hyun. Menurutnya, Cho Kyu Hyun pantas menjadi Presiden Republik Korea. Muda dan kaya menjadi nilai tambahan kenapa Park Seung Phil rela menyambangi Kyu Hyun di kantornya.

 

“Republik Korea membutuhkan Anda, Tuan Cho. Selama ini saya telah mengamati Anda,” imbuh Park Seung Phil.

Kyu Hyun menarik napas dalam-dalam. Politik bukan passion-nya. Kyu Hyun memang selalu mengikuti perkembangan politik negara karena bagaimanapun kehidupan ekonomi yang dijalaninya selalu berdampingan dengan hal tersebut. Namun, tidak pernah sedikitpun Kyu Hyun berpikir untuk terjun ke dunia politik yang selalu membuat kepalanya pusing tujuh keliling.

“Jangan bercanda, Tuan Park. Saya tidak pernah terjun ke dunia politik lalu tiba-tiba saja Anda meminta saya untuk mencalonkan diri menjadi Presiden Republik korea? Jujur saja, kehidupan politik negara ini membuat kepala pusing setiap kali berimbas pada kehidupan ekonomi yang saya jalani,” balas Kyu Hyun dengan tenang.

Park Seung Phil tersenyum simpul. Ia sudah menduga Kyu Hyun akan berkata seperti itu. Bertahun-tahun menghabiskan waktu untuk mengamati Kyu Hyun tentu saja ia tahu laki-laki itu tidak tertarik pada dunia politik. Terbukti selama ini Kyu Hyun tidak pernah terlibat dengan partai atau pejabat manapun. Kyu Hyun hanya berurusan dengan para pengusaha. Sekalipun dengan pejabat, pejabat tersebut juga merupakan seorang pengusaha seperti Kyu Hyun.

 

“Lembaga survei telah membuktikan bahwa masyarakat terutama pelajar –mahasiswa sangat mendukung anda untuk menjadi presiden, Tuan Cho. Sekali lagi, Republik Korea membutuhkan Anda.” Park Seunng Phil tidak menyerah.

“Saya tidak peduli dengan survei-survei itu. Menjadi pemimpin sangatlah tidak mudah, Tuan Park. Memimpin perusahaan ini saja sudah membuat keluarga saya tersingkirkan. Pikir saja bagaimana jika saya menjadi presiden.” Masih dengan nada datar Kyu Hyun mengemukakan penolakannya. Sungguh, Kyu Hyun bukan seseorang yang gila jabatan apalagi sampai harus berebut kursi kepresidenan.

“Tapi Tuan Cho, saya harap Anda mau memikirkan permintaan saya ini. Demi Republik Korea.” Park Seung Phil kembali membujuk Kyu Hyun.

Kyu Hyun memejamkan mata sambil menarik napas perlahan lalu menghembuskannya dengan kasar. Ini sulit. Sebenarnya ia sudah tahu mengenai survei yang diadakan oleh beberapa lembaga terpercaya itu. Kyu Hyun tidak senang sama sekali. Ia menganggap hal tersebut sebagai ajang jajak pendapat biasa. Kyu Hyun tidak ingin terjun ke dunia politik.

“Akan saya pikirkan,” putusnya. Park Seung Phil tersenyum lega. Republik Korea akan semakin maju di tangan pengusaha cerdas seperti Kyu Hyun. Kyu Hyun memang tidak pernah terjun ke dunia politik, tetapi laki-laki itu mengikuti perkembangannya.

 

ღღღ

 

“Hyun, kenapa tidak memberitahuku?”

Hyun Bum beralih menatap gadis yang duduk di sampingnya. “Apa?”

“Ayahmu akan mencalonkan diri jadi Presiden Republik Korea. Papa Cho benar-benar hebat,” jawab gadis itu. Hyun Bum menghentikan mobilnya tiba-tiba. Gadis itu memekik keras karena terkejut.

“Kau ingin membunuhku?!” teriak gadis itu.

“Ayahku akan menjadi presiden? Kau mendapat berita itu dari mana, Sayang?” dari nada bicara Hyun Bum gadis itu dapat menyumpulkan bahwa sang kekasih tidak tahu-menahu soal pencalonan sang ayah.

“Aku melihatnya di televisi pagi ini. Siaran langsung. Park Seung Phil yang mengatakannya,” jawab gadis itu seraya mengusap kepalanya yang sedikit terantuk pada dashboard mobil. Hyun Bum menyadari perbuatannya. Ia menggantikan gadis itu mengusap kepalanya.

“Sakit, ya? Maaf. Aku terkejut. Aku tidak tahu kalau ayahku akan mencalonkan diri menjadi presiden,”

“Sebenarnya, Papa Cho belum setuju. Tapi menurut pakar politik itu, Papa Cho sedang mempertimbangkannya setelah sempat menolak,” tambah Mi Hyun –nama gadis itu. Hyun Bum mengangguk seraya tersenyum pada Mi Hyun. Putra sulung Cho Kyu Hyun itu kemudian mencium kepala Mi Hyun yang sakit membuat wajah gadis itu merona. Demi Tuhan, berhenti membuatku malu, Cho Hyun Bum!

Hyun Bum terkekeh geli melihat ekspresi Mi Hyun. Ia kemudian mengacak pelan rambut gadis itu dan kembali menjalankan mobil ke tempat yang menjadi tujuan mereka setelah ia dibuat menggeram oleh pertnyaan polos Mi Hyun.

“Apakah dulu kau juga selalu mencium Yi Ra seperti tadi?”

Dan Hyun Bum tidak bisa melakukan apapun untuk menanggapi pertanyaan kelewat polos itu selain menginjak pedal gas menuju tempat tujuan mereka.

 

ღღღ

 

Daddy, are you crazy?! Mengurus perusahaan saja sudah membuatmu menjadi manusia sibuk. Presiden? Ya, Tuhan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya ayahku nanti.” Omelan Evana menjadi penyegar untuk Kyu Hyun. Setengah hari ini ia dipusingkan dengan urusan kantor dan pencalonan itu.

Daddy belum menyetujuinya, Sayang. Haruskah aku menolaknya?’

Belum sempat Evana membalas, pintu ruangan Kyu Hyun sudah lebih dulu terbuka. Hyun Bum berjalan menghampiri ayah dan adiknya kemudian duduk di hadapan mereka.

 

Hi Dad, Eve. I’m pretty sure that you both are arguing about something I heard this morning,” Hyun Bum menatap ayah dan adiknya bergantian. Kyu Hyun mengangguk sedangkan Evana menggedikkan bahunya santai. “Dan biar kutebak, kau menentangnya. Benar?” lanjut Hyun Bum menunjuk Evana tepat di hidung mancung gadis itu. Evana mendengus kesal.

“Aku melihat beritanya di internet setelah Mi Hyun memberitahuku. Daddy akan mempertimbangkannya?” tatapan Hyun Bum kini beralih pada Kyu Hyun.

Kyu Hyun mendesah kasar. Ia membenarkan ucapan Evana sekaligus membenarkan ucapan Park Seung Phil. Membuat kepalanya terasa panas saja.

 

“Kau pikir saja, selama ini daddy bahkan sudah sangat sibuk, bagaimana setelah menjadi seorang presiden?”

“Hanya menjadi calon, Eve. Belum tentu daddy akan menang,” tukas Hyun Bum. Kyu Hyun hanya memperhatikan anak-anaknya itu berdebat. Ia tersenyum, bahagia melihat kedua anaknya begitu memperhatikan sang ayah.

“Bagaimana kalau menang?” Hyun Bum terdiam. Dalam hal ini, Evana benar. Sesungguhnya, Evana selalu benar. Bagaimana kalau menang? Ia juga tidak bisa membayangkan sang ayah menjadi seorang presiden.

 

Kids, stop it! Aku akan mendiskusikan hal ini dengan ibu kalian. Aku tahu kalian menghawatirkanku tapi aku juga tidak bisa mengabaikan negara ini. Aku lahir dan tumbuh di negara ini, hidup dari tanahnya, aku harus memikirkan hal itu. Mengerti?” kedua anaknya terdiam. Kyu Hyun terhenyak melihat Evana menangis.

Sounds like you’ll accept it,” lirih Evana.

“Mempertimbangkan bukan berarti akan menerima, Evana. Jangan berlebihan!” Kyu Hyun terkejut melihat Hyun Bum membentak Evana. Evana mengepalkan tangannya.

 

“Baik, katakan saja aku berlebihan. Kau tidak tahu bagaimana aku hidup tanpa seorang ayah selama enam belas tahun, Cho Hyun. Kau tidak tahu,” setelah itu Evana pergi.

“Eve! Hyun Bum akan mengantarmu.” Kyu Hyun mecekal tangan Evana sebelum gadis itu mencapai pintu.

“Aku bisa naik taksi.” gadis itu membantah. Mengusap matanya yang berair, kemudian keluar dari ruangan Kyu Hyun, meninggalkan ayah dan kakaknya yang menghembuskan napas dengan berat.

 

“Sebaiknya kau awasi adikmu, Hyun. Terakhir kali dia pergi sambil menangis, dia mengalami kecelakaan.” Kyu Hyun terkenang kejadian beberapa waktu lalu. Evana melihatnya bersama Qian. Gadis itu pergi sambil menangis dan kejadian naas itu terjadi. Evananya tertabrak.

“Aku pergi.” Hyun Bum beranjak. Mengawasi Evana bukanlah beban baginya.

 

Kyu Hyun menjambak rambutnya dengan kedua tangan. Ia memiliki banyak hal untuk dipikirkan saat ini. Dari banyaknya hal tersebut, keluarga menjadi hal yang paling sulit. Ia merasa berat untuk menerima tawaran menjadi presiden jika reaksi yang diberikan anak-anaknya adalah seperti itu.

Akan tetapi, lebih dari apapun, Kyu Hyun ingin mengabdikan dirinya pada negara. Berdasarkan pada pemikirannya, ia harus melakukan itu. Ia memang tidak tertarik untuk menjadi seorang presiden, tetapi ia juga merasa memiliki tanggung jawab terhadap negara.

 

ღღღ

 

“Apa yang harus kulakukan?” Rae Ah menatap nanar Kyu Hyun yang saat ini sedang dilanda kebingungan. Kyu Hyun ingin berbakti pada negara, tetapi juga tidak ingin membuat keluarganya terabaiakan, terutama Evana.

“Seorang pemimpin itu harus adil, Kyu Hyun. Kau tahu, keadilan tidak harus sama. Keadilan adalah menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Aku tahu, kau ingin berbakti pada negara tapi kau juga tidak bisa mengabaikan pendapat anak-anakmu. Dengar, aku tidak akan melarangmu atau mendorongmmu untuk menerima tawaran itu. Aku hanya ingin kau memikirkan ini, bisakah kau berlaku adil pada kami –negara dan keluargamu? Mampukah? Jika mampu, jika bisa, lakukanlah!”

Tidak pernah sedetik pun Kyu Hyun berhenti bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan dirinya seorang istri yang selalu menjadi sandarannya. Kim Rae Ah tidak pernah membuat Kyu Hyun mengambil keputusan atas permintaannya, melainkan melalui ucapan-ucapannya yang selalu menjadi bahan renungan untuk Kyu Hyun sebelum mengambil keputusan.

Kyu Hyun teersenyum lembut. Ditariknya wanita yang telah melahirkan kedua anak tercintanya itu ke dalam sebuah pelukan hangat, mencium puncak kepala Rae Ah berkali-kali sebagai bentuk rasa syukur karena memiliki wanita itu di sampingnya.

“Terima kasih. Kau yang terbaik.”

 

ღღღ

 

“Selamat pagi,” Kyu Hyun melingkarkan kedua tangan kekarnya di pinggang Rae Ah lalu mencium pipi wanita itu. Rae Ah mendecak kesal. Ia berusaha melepas tangan Kyu Hyun namun lelaki itu tidak mau melakukannya. Hingga interupsi dari Hyun Bum muncul, Kyu Hyun bahkan tidak melepaskan pelukan itu.

“Seharusnya kalian sadar bahwa umur kalian sudah tidak pantas mengumbar kemesraan di dapur seperti ini,” ujar Hyun Bum ketus. Anak sulung Kyu hyun itu mendengus, semakin sebal melihat tingkah ayahnya yang semakin mengeratkan pelukannya.

Dad!” Kyu Hyun mengangkat kedua tangannya di samping kepala –tanda menyerah setelah Hyun Bum menghujamnya dengan tatapan tajam yang sama persis seperti miliknya. Lelaki itu kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan. Rae Ah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ayah dan anak itu.

“Mana adikmu?” tanya Kyu Hyun setelah duduk ditempatnya. Hyun Bum menggeleng.

Beberapa saat kemudian Evana muncul dengan pakaian yang rapi. Gadis itu telah menjadi mahasiswa tingkat kedua di Seoul National University. Jurusan sastra yang begitu digilainya. Kyu Hyun tidak tahu dari mana kesukaan Evana itu diturunkan. Mungkin dari Kibum. Diam-diam kakak iparnya itu memiliki bakat seni sastra yang cukup mengagumkan.

 

“Hai, Eve. Tidurmu nyenyak?” tanya Kyu Hyun pada Evana seperti biasanya.

“Hai, Dad.” Hati Kyu Hyun mencelos mendapati tanggapan yang begitu dingin. Kyu Hyun mengingat kembali saat-saat ketika Evana belum menerimanya sebagai seorang ayah dan ia begitu tersiksa. Oh, tidak, Kyu Hyun tidak ingin mengalami hal itu lagi.

“Mau berangkat bersamaku atau dengan Hyun?” tanya Kyu Hyun lagi.

“Kris akan menjemputku,” jawab Evana datar. Kyu Hyun mengambil napas dalam-dalam sedangkan Hyun Bum bertukar tatapan dengan Rae Ah yang baru saja menaruh sup di atas meja.

“Kau masih berhubungan dengannya? Hei, sudah kubilang dia bukan lelaki baik.” Hyun Bum mencoba untuk mencairkan suasana. Tidak ada perdebatan antara dirinya dengan Evana, meja makan itu menjadi sebuah neraka.

“Berhenti bicara dan makan makananmu, Hyun.” Jika Evana telah memanggilnya dengan ‘Hyun’ maka sama artinya dengan Hyun Bum harus menutup mulut. Dan Hyun Bum menutup mulutnya rapat-rapat kecuali untuk menggigit dan mengunyah makanannya.

Suasana sarapan kali ini dilalui dalam keheningan dan itu terasa seperti neraka. Hyun Bum merasa heran mengapa Evana lebih seram daripada ayahnya. Evana lebih dingin dan menyeramkan ketika suasana hatinya sedang buruk. Hyun Bum juga heran mengapa ia selalu takut pada Evana padahal yang seorang kakak di sini adalah dirinya.

Hyun Bum mengelus dadanya. Di saat seperti ini ia akan merindukan Mi Hyun, gadis yang membuatnya bangkit dari keterpurukan setelah putus dengan Yi Ra. Waktu itu Hyun Bum tidak bisa menerima kenyataan bahwa Yi Ra bermain api di belakangnya dengan salah satu teman Hyun Bum. Ia bahkan tidak percaya sempat berencana untuk menikahi Yi Ra di usia muda.

 

ღღღ

 

Kyu Hyun berjalan di lorong menuju kelas yang akan ia sambangi. Hari ini ia mendapat undangan untuk mengajar bisnis pada mahasiswa tingkat dua. Ketika dirinya melewati sebuah taman, ia melihat seorang gadis tengah duduk di atas kursi kayu berwarna hitam menghadap ke arah kolam air mancur.

Ia mengenali gadis itu sebagai Evana kemudian menghampirinya.

“Apa yang kau lakukan sendirian di sini, Nona Manis?” Evana berbalik dan mendapati lelaki berwibawa berdiir di belakangnya dan tersenyum kepadanya. Melihat siapa lelaki itu, Evana kembali mengarahkan fokusnya pada air mancur di depan sana.

“Bukankah di jam ini seharusnya kau berada di kelas?” Evana menghembuskan napasnya dnegan kasar dan berbalik.

Wae? Memangnya kenapa kalau aku tidak berada di kelas pada jam ini? Takut orang-orang tahu bahwa Calon Presiden Cho Kyu Hyun memiliki anak gadis yang hobi membolos lalu gagal menjadi presiden? Tenang saja, bukankah tidak ada yang tahu siapa aku?”

Evana mengerjap. Ia sadar kali ini ia keterlaluan setelah melihat raut wajah Kyu Hyun yang terluka. Ia menyesal tapi ia juga ingin ayahnya tahu bahwa ia tidak setuju jika Kyu Hyun menjadi presiden.

Kyu Hyun mengangguk dua kali kemudian pergi. Sebelum itu ia berkata, “Aku tidak mengira kau memiliki pikiran sampai sejauh itu tentangku, Cho Hyun Ae.”

Tubuh Evana merosot jatuh ke tanah setelah kepergian Kyu Hyun. Kyu Hyun menyebut nama Koreanya dan itu berarti Kyu Hyun terluka karena perkataannya. Ya, Tuhan, anak macam apa yang berani melukai ayahnya dengan perkataan kasar seperti yang ia lontarkan?

Evana menangis di tempatnya. Gadis itu tidak peduli pada keyataan bahwa saat ini, sejak Kyu Hyun menghampirinya, ia telah menjadi perhatian orang-orang yang berada di sana.

 

ღღღ

 

Kyu Hyun termenung di mejanya. Setelah ia selesai mengajar di SNU, Kyu Hyun tidak langsung pulang. Ia megawasi Evana sebentar. Gadis itu menyendiri di perpustakaan dan ia sangsi bahwa Kris menjemputnya tadi pagi. Ia tidak melihat lelaki itu di kelas dan lagi, pagi ini ia berangkat lebih dulu jadi tidak tahu apakah Kris benar-benar menjemput Evana atau tidak.

Di balik meja yang membesarkan namanya itu Kyu Hyun merenung, memikirkan ucapan Evana yang terdengar seperti ‘jangan lakukan itu, aku tidak menyukainya’ daripada apa yang sebenarnya ia dengar.

Setelah mendengar ucapan Evana di kampusnya tadi, Kyu Hyun tahu apa yang harus ia putuskan. Dalam mengambil sebuah keputusan, Cho Kyu Hyun tidak pernah membiarkan keluarganya merasa dirugikan.

“Siang ini media sosial begitu berisik dengan berita tentang Anda, Tuan.” Lee Sung Joon muncul dengan tablet di tangannya. Lelaki itu masuk setelah Kyu Hyun mempersilakan dan langsung membawa berita yang bagi Kyu Hyun sangat mengejutkan.

Ia tidak memikirkan citranya yang menjadi buruk di berita itu, tetapi Evana. Di sana Evana disebut sebagai simpanan seorang pengusaha muda yang akan mencalonkan diri untuk menjadi presiden.

Kyu Hyun memejamkan matanya dan berkata, “Hentikan berita-berita itu dan adakan konferensi pers dua jam lagi.”

Lee Sung Joon mengangguk kemudian undur diri.

Kyu Hyun mengambil ponselnya untuk menelepon Rae Ah. Rae Ah mengangkat panggilannya pada deringan pertama dan Kyu Hyun bersyukur untuk itu.

“Hai, ada apa?”

“Aku membutuhkan kau dan Hyun Bum untuk berada di kantorku dalam satu jam dan tolong katakan pada Hyun Bum untuk menjemput Evana terlebih dahulu,” ujar Kyu Hyun terburu-buru membuat Rae Ah mengernyitkan dahinya dalam-dalam.

Honey, tenanglah. Apa yang sebenarnya terjadi?” Sekali lagi Rae Ah bertanya –dengan lembut.

Kyu Hyun mendesah berat. “Ada sesuatu yang tak terduga telah terjadi, siang ini dan itu semua salahku. Bisakah, untuk saat ini kau dan Hyun Bum datang ke kantorku?”

“Ya, baiklah. Tenangkan dirimu. Aku dan Hyun Bum akan di sana dalam tiga puluh menit.”

“Jangan lupa untuk menjemput Evana terlebih dahulu, oke? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.” Suara Kyu Hyun melemah pada akhir kalimat.

Ia benar-benar mencemaskan keadaan Evana sete;ah berita itu keluar. Oh, Kyu Hyun lupa bahwa Evana tidak pernah muncul di hadapan publik sebagai putrinya dan ia menghampiri gadis itu di tengah keramaian kampus, bahkan beradu argumen –jika tidak bisa dikatakan bertengkar.

Kyu Hyun mengirim pesan pada Hyun Bum. Ia hanya tidak sabar menunggu Hyun Bum membawa Evana ke hadapannya.

 

Jangan lupa untuk menjemput Evana terlebih dahulu, Hyun.

Daddy menunggu di kantor.

 

ღღღ

 

Evana merasakan keanehan tengah terjadi di sekelilingnya. Orang-orang yang ia temui di kampus menatapnya dengan tatapan yang –entahlah– Evana sendiri tidak bisa mengartikannya. Mungkin benci? Baiklah, Evana hanya ingin mengabaikannya.

Hyun Bum menelepon untuk memberitahu bahwa ia akan menjemputnya. Jadi, sekarang ia berdiri di depan pintu gerbang kampus untuk menunggunya.

Sebenarnya ia merasa aneh mendengar Hyun Bum berbicara dengan terburu-buru. Seperti ada sesuatu yang buruk telah terjadi. Kenapa hari ini rasanya dikelilingi orang-orang aneh?

Ketika pikirannya sibuk memperdebatkan hal-hal aneh yang terjadi siang ini, ponselnya berdenting, ada pemberitahuan masuk. Evana mengernyitkan dahi ketika membuka pemberitahuan itu. Dari grup kelasnya.

Evana mendengus sebal. Jadi, gara-gara ini mereka melihat padanya dengan tatapan seperti itu? apakah karena ini juga Hyun Bum terburu-buru ingin menjemputnya meski ia masih memiliki satu mata kuliah tersisa?

Evana mendengus sekali lagi. Hanya berita murahan seperti ini tidak akan mungkin menyakitinya. Well, ya, meskipun Evana sedikit terpengaruh oleh cemoohan teman-temannya di grup, tapi ia yakin Kyu Hyun akan menyelesaikannya dengan baik.

Astaga. Evana mengerjap. Setelah menyakiti sang ayah dengan perkataan kasarnya, sekarang ia berani berpikiran bahwa Kyu Hyun akan menyelesaikan masalah ini untuknya? Kau benar-benar menyedihkan, Evana.

Gadis itu terus merutuki dirinya hingga Hyun Bum datang dan membukakan pintu untuknya. Hal itu juga tidak luput dari perhatian orang-orang yang berada di sana.

“Kau baik-baik saja, Eve?” tanya Hyun Bum setelah mobilnya meninggalkan pelataran universitas.

“’Aku tidak menyangka mahasiswa paling pintar di kampus ini ternyata seorang simpanan pengusaha kaya itu’, ‘Evana terlihat menyedihkan ketika bertengkar dengan pengusaha kaya itu’, ‘Evana gadis bermuka dua. Aku tidak menyukainya’, dan yang terbaru adalah ‘Evana dijemput oleh lelaki tampan dan terlihat kaya lainnya. Aku sangsi Evana hanya menjadi simpanan dari pengusaha itu saja’. Apakah menurutmu aku baik-baik saja?” Pertanyaan sarkasme dari Evana membuat Evana memejamkan matanya.

Banyak hujatan yang dilontarkan pengguna SNS bahkan lebih kejam dari yang baru saja Evana sampaikan. Hyun Bum rasanya ingin mendatangi mereka satu persatu dan memukulnya.

“Aku baik-baik saja, Cho Hyun. Tenanglah! Lagipula, ayah akan menyelesaikan masalah ini dengan baik, kan?”

Mendengar Evana berkata dngan lirih pada pertanyaannya, Hyun Bum menyadari sesuatu.

“Kau bertengkar dengan daddy? Apa yang terjadi sebenarnya? Aku melihat fotomu bersama daddy di kampus,” tanya Hyun Bum.

Raut wajah Evana berubah muram. Ia teringat akan perkataan kasarnya pada Kyu Hyun.

“Aku menyakiti daddy,” lirihnya.

Tangan Hyun Bum refleks mengusap lembut kepala Evana. “Daddy akan selalu memaafkanmu. Dia sangat menyayangimu, Ae.”

“Jangan memanggilku dengan nama itu! Menyebalkan sekali,” tukas Evana. Ia benar-benar tidak suka ketika seseorang memanggil nama Koreanya.

Why? Daddy gave that name to you. It’s so mean to him,

Just shut your mouth, Cho Hyun!”

Hyun Bum tertawa. Menggoda adiknya adalah kegiatan paling menyenangkan. Sejak kecil ia selalu menginginkan seorang adik, tapi saat itu ibu saja bahkan ia tidak punya. Hingga sebuah keajaiban menghampirinya, Hyun Bum bertemu dengan Rae Ah ketika ia dan Kyu Hyun berlibur di Jerman.

Mimpinya untuk memiliki ibu dan seorang adik tercapai hanya dalam waktu singkat. Meski tidak berjalan mulus, tapi Hyun Bum memiliki seseorang yang ingin ia lindungi dari dunia luar yang kejam.

Melihat tawa Hyun Bum, diam-diam Evana tersenyum. Ia bersyukur dan berterima kasih karena Hyun Bum selalu melindunginya meski ia selalu menjengkelkan sang kakak.

 

ღღღ

 

“Sudah saatnya, Tuan.” Sung Joon mengingatkan.

Pers sudah berkumpul di auditorium perusahaan dan Hyun Bum belum menampakkan hidungnya unutk membawa Evana. Rae Ah sudah bersamanya karena istrinya itu memutuskan untuk berangkat sendiri menggunakan mobilnya sementara Hyun Bum menjemput Evana.

“Sudah menelepon Hyun Bum?” tanya Kyu Hyun pada Rae Ah, mengabaikan Sung Joon yang dengan setia berdiri di sampingnya.

“Tidak dijawab,” jawab Rae Ah.

Kebingungan Kyu Hyun diinterupsi oleh kedatangan Hyun Bum dan disusul Evana di belakangnya. Kyu Hyun melotot melihat wajah Evana memerah –benar-benar memerah. Kyu Hyun menghampiri Evana dengan tergesa.

“Apa yang terjadi, Eve? Kau menangis?” dahi Evana mengerut melihat reaksi Kyu Hyun ketika melihat dirinya sedangkan Hyun Bum memutar bola matanya dengan malas. Rae Ah yang berdiri di samping Kyu Hyun juga menatap Evana dengan cemas.

“Tenanglah, Dad! Anak gadismu ini baru saja menghabiskan dua porsi tteokboki super pedas. Itulah yang membuat kami datang terlambat,” ujar Hyun Bum.

Kyu Hyun menatap Evana, meminta klarifikasi. Lelaki itu mendesah lega setelah Evana mengangguk. Rae Ah terkekeh melihat keributan yang baru saja terjadi.

“Maaf, Tuan, pers sudah menunggu.” Sung Joon kembali mengingatkan. Kyu Hyun mengangguk lalu membawa serta keluarganya ke auditorium yang telah dipersiapkan untuk konferensi pers.

Sebelum masuk ke dalam auditorium, Kyu Hyun menggenggam tangan Evana. Kyu Hyun tahu, meski terlihat baik-baik saja, Evana sebenarnya sedikit terpengaruh oleh berita itu. ia kemudian berkata, “Semuanya akan baik-baik saja.”

Evana tersenyum. Gadis itu bahkan lupa jika dirinya tengah mengibarkan bendera perang atas rencana pencalonan Kyu Hyun.

Kyu Hyun dan Evana masuk lebih dulu, kemudian disusul oleh Rae Ah dan Hyun Bum di belakangnya. Hal itu sontak membuat wartawan yang datang bertanya-tanya dan ruangan menjadi riuh dalam sekejap.

Mereka bertanya-tanya siapa sebenarnya gadis dalam genggaman Kyu Hyun. Spekulasi mereka sampai pada kemungkinan bahwa Evana adalah istri kedua Kyu Hyun dan hidup rukun dengan istri pertamanya.

Kyu Hyun tertawa pelan ketika pertanyaan semacam itu ia dengar sesaat setelah mereka duduk dan Sung Joon mempersilakan wartawan untuk bertanya.

Wartawan-wartawan itu dibuat heran oleh reaksi Kyu Hyun.

“Sebelumnya, saya ingin meminta maaf atas kekacauan yang terjadi sehingga mengharuskan teman-teman wartawan berkumpul di sini. Ada satu hal yang selama ini tidak diketahui masyarakat luas. Gadis di samping saya ini adalah anak kedua saya dari satu-satunya istri yang sangat saya cintai.”

Auditorium itu kembali riuh oleh pertanyaan-pertanyaan para wartawan. Dalam benak mereka, bagaimana bisa Kyu Hyun memiliki seorang anak gadis? Mereka selama ini hanya tahu bahwa anak Kyu Hyun adalah seorang lelaki bernama Cho Hyun Bum.

“Namanya Cho Hyun Ae. Ah, gadis ini tidak suka nama itu. Baiklah, saya ulang. Anak gadisku lahir di Jerman. Saat itu, saya dan istri berpisah kaena suatu hal. Ia sedang mengandung anak kedua kami ketika pergi dan saya baru mengetahuinya beberpa tahun belakangan. Namanya Evana, Evana Cho.” Kyu Hyun tersenyum.

Evana menunduk, melihat tangannya yang digenggam oleh Kyu Hyun. Ayahnya tahu bahwa berhadapan dengan wartawan seperti ini membuatnya gugup. Ia kembali teringat pada perkataan kasarnya pada Kyu Hyun. Tiba-tiba ia ingin menangis.

“Selain itu, saya juga ingin menyampaikan sesuatu perihal berita pencalonan diri saya untuk pemilihan presiden yang akan datang.” Kyu Hyun berhenti sejenak, melihat ke arah istrinya dan tersenyum.

Kyu Hyun kembali menghadap ke arah wartawan dan berkata, “Bagi saya, mengabdi pada negara tidak harus dengan menjadi presiden. Saya akan mengabdi melalui bidang yang saya tekuni. Maka dari itu, saya memberitahukan pada Anda sekalian bahwa saya tidak akan mencalonkan diri pada pemilu mendatang. Terima kasih atas dukungan yang saya dapatkan dan maaf karena saya telah mengecewakan. Terima kasih.”

Kyu Hyun akan pergi tanpa mengindahkan keriuhan yang masih terjadi di sana tapi Evana menahannya. Kyu Hyun kembali duduk.

“Saya minta maaf atas kekacauan yang terjadi. Tadi pagi, memang terjadi sedikit kesalahpahaman antara saya dan ayah saya tapi sekarang semuanya baik-baik saja,” ucap Evana. Dalam hati ia menggerutu. Apanya yang baik-baik saja? Ia bahkan belum meminta maaf pada Kyu Hyun.

“Saya juga minta maaf karena telah membuat semua orang salah paham dengan menyembunyikan identitas asli yang saya miliki. Maka, izinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Cho Hyun Ae, anak kedua Cho Kyu Hyun. Terima kasih.”

Kyu Hyun, Rae Ah, dan Hyun Bum tertegun mendengar adiknya memperkenalkan diri sebagai Cho Hyun Ae. Tidak ada alasan berarti. Mereka hanya heran karena selama ini Evana terlihat tidak menyukai nama itu.

Konferensi pers dadakan itu brakhir dengan keluarnya Kyu Hyun dan keluarga dari auditorium. Mereka berkumpul di ruang kerja Kyu Hyun, meinggalkan para wartawan yang mulai sibuk melaporkan konferensi tersebut.

“Maaf telah berkata kasar,” gumam Evana. Gadis itu duduk di samping Kyu Hyun. Wajahnya menunduk. Gadis itu terlalu malu untuk mengangkat wajahya setelah apa yang ia katakan.

Kyu Hyun tersenyum. Tangannya terangkat mengelus puncak kepala Evana.

“Apa yang kau dapatkan dari kejadian hari ini?” Kyu Hyun tidak segera menjawab permintaan maaf Evana. Tanpa anak gadisnya itu meminta pun, Kyu Hyun telah memaafkannya.

“Aku tidak boleh mengambil sebuah kesimpulan secara sepihak.” Kyu Hyun tersenyum.

“Itu adalah kebiasaan burukmu, Cho Hyun Ae.” Hyun Bum mendapat pukulan ringan di lengannya. Lelaki itu menggedikkan bahi, kemudian berdecak sebal melihat tatapan tajam Rae Ah padanya.

“Aku tahu. Maafkan aku,” balas Evana.

Orang tua dan kakaknya melongo. Semudah itu Evana meminta maaf?

“Eve,”

“Saat ini aku sedang berperan menjadi Cho Hyun Ae, gadis bijaksana yang dicintai. Jadi, jangan membuatku kembali menjadi Evana karena Evana akan kembali setelah matahari kembali terbit esok hari,” sergah Evana seolah tahu apa yang akan Hyun Bum katakan.

Keluarga itu tertawa. Kyu Hyun memeluk Evana dan menciumnya. Anak gadisnya, Cho Hyun Ae yang beharga. Cho Hun Ae yang cantik. Cho Hyun Ae yang menggemaskan, dan Evana yang keras kepala. Berbeda nama berbeda keperibadian.

Anak gadisnya, Cho Hyun Ae yang berharga.

 

The End

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

16 thoughts on “[Royal Daddy 3] My Daughter Cho Hyun-Ae”

  1. cho appa calon presiden pasti nnti bkal lbih sbuk klo smpai mnang ,, Akhirnya evana d kenalkan k publis jga klo dy ank kyu-rae ah noh tmen2 evana yg doyan brgosip pngusaha kya itu adalah appanya bukn simpenanya ,, bhagia sudah kluarga mkin lengkap 😄

  2. Wah,…
    Keluarga yg terlihat sangat bahagia dan harmonis.
    Masih bertanya-tanya juga, soal masa lalu Kyuhyun dan Rae Ah.
    Ternyata Hyun bum bukan anak kandung Kyuhyun sama Rae ah,…???
    Aku pikir Hyun Bum anak kandung mereka, ternyata yg anak kandung Kyuhyun dan Rae ah, Cho Hyun Ae alias Evana.

    Masih penasaran banget nih, sama masa lalu Kyuhyun dan Rae Ah…
    Apa yg menyebabkan Kyuhyun dan Rae Ah berpisah selama 16 thn, blm terungkap juga sampai sekarang,….

    Ditunggu kelanjutan FF Royal Daddy, eon,…
    FIGTING n’ KEEP WRITING. ^^
    selalu ditunggu kelanjutan karya-karya kamu.

  3. super daddy INI mah
    keluarga segala nya
    ya ampun belum dapet nemu nih
    di dunia nyata
    keluarga yg seperti ini
    benar2 harmonis

  4. Eve tu versi cewe ny cho kyuhyun lah.. Haha.. Suka bnget ma karakter evana dsni. Dan hyun bum juga.. Cho punya duplikat juga.. Haha.. Aihh.. Keluarga bhagia bnget ya.. Pnsaran juga lliat cho klo jd presiden.. Tp klo jd pngusaha udah sibuk gitu gmn jd presiden.. Benar tuh kata rae .. Hihihi

  5. aiiih ada2 aja, beda nama beda karakter >.< sikap eve disini bikin gemes, duplikat chokyu banget. kalo chohyun kayanya cuma dapet separoh bagian chokyu, bagian isengnya.

    cepet lanjut kak ff royal daddynya

  6. jadi besok bakal ada gosip baru bahkan lebih heboh…siap sangka gadis paling pintar anak kedua pasangan cho kyuhyun dan rae ah…

    tapi sumpah…
    aku masih penasaran ama ini jalan ama masa lalu mereka…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s