Fate Part 8

Fate Part 8

 

Aku pikir, FF ini perjalanannya udah tinggal menuju akhir, ternyata belum. Alur ceritanya nambah di otak. Jadi, kalo yang udah bosen, tolong sabar aja yaa hihi

Typo itu… anugerah! Wkwk hadapi typo dengan senyuman^^

 

_o0o_

Sore ini, Seoul disibukkan oleh pemakaman pewaris salah satu perusahaan besar di Korea Selatan. Area pemakaman itu begitu ramai oleh para kerabat, rekan bisnis, dan teman. Meski hujan mengguyur bumi begitu deras, mereka tidak kehilangan niat untuk menyampaikan penghormatan terakhir.

Park Chanyeol adalah pribadi yang menyenangkan. Di manapun berada, ke manapun melangkah, Park Chanyeol selalu bisa membawa kebahagiaan pada orang-orang yang ditemuinya. Sebagian mereka yang datang, meneteskan air mata karena merasa kehilangan atas sosok lelaki yang selalu menularkan virus-virus kebahagiaan. Pun mereka yang datang hanya karena mengenal orang tua Chanyeol.

 

Berkilo-kilo meter dari tempat pemakaman Chanyeol, berdiri seorang gadis dengan balutan pakaian serba hitam di depan sebuah pohon maple yang menjulang tinggi. Gadis itu tengah dirundung duka yang amat mendalam. Sepasang mata yang selalu memancarkan sinar ceria itu meredup –bahkan menggelap. Tidak lagi ada sinar di sana.

Rae Ah tidak ingin mengantar kepergian Chanyeol. Ia tidak bisa menerima ketika akhirnya tubuh lelaki itu harus menjadi abu. Di usianya yang belum mencapai seperempat abad, kenapa Park Chanyeol harus meninggalkan dirinya dengan cara seperti ini?

Kim Rae Ah, gadis itu berdiri dalam diam sejak dua jam lalu, bersamaan dengan proses pemakaman. Raganya berdiri menghadap pada pohon besar yang berdiri di pinggiran sungai Han tersebut, tetapi jiwanya berada jauh di masa lalu, ketika canda dan tawa menghiasi hari-hari bahagianya bersama Park Chanyeol.

 

Pertama kali Park Chanyeol menciumnya adalah di bawah pohon ini. Ketika itu jantungnya bertalu sangat keras. Ia bahagia telah menadapatkan ciuman pertama dari lelaki pertama yang ia cintai. Ciuman itu mempengaruhi perilakunya selama seminggu. Ia menjadi gadis yang benar-benar pemalu di hadapan Chanyeol, bahkan di hadapan Kyuhyun yang notabene adalah sahabatnya.

Kim Rae Ah tidak menangis. Wajahnya bersih, tak ada noda air mata sedikitpun. Air matanya telah habis. Sejak hari di mana Chanyeol menghembuskan napas terkahir, gadis itu terus-terusan menangis selama lima hari. Ini hari keenam sejak Chanyeol meninggal. Baru semalam keluarganya dapat membawa Chanyeol ke Seoul.

 

Dadanya bergemuruh. Pikirannya berkecamuk, memikirkan hidup seperti apa yang akan ia jalani tanpa Chanyeol di masa depan. Matanya masih menatap lurus pada daun-daun yang melambai tertiup angin seolah mencibirnya.

Hujan sudah berhenti sejak satu jam yang lalu. Angin berhembus kencang. Kim Rae Ah menggigil. Ia tidak berusaha untuk berteduh karena yang ia lakukan hanya berdiri di bawah pohon itu. Tangan kanannya mengusap lengan kiri, berusaha untuk menghalau rasa dingin yang terasa begitu menusuk. Rasa dingin yang disebabkan oleh hati yang hancur.

 

Tangannya berhenti pada usapan ketiga karena menyentuh sesuatu yang melingkar di sana. Ia beralih dari pohon itu ke pergelangan tangannya. Tidak sampai satu detik, air mata berhasil kembali mengalir. Di sana, di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah gelang pemberian Chanyeol.

Tubuhnya gemetaran. Gadis itu terisak mengingat perpisahan yang mereka lakukan di bandara untuk mengantar Chanyeol pergi ke Jerman. Waktu itu, yang ia tahu, Chanyeo pergi ke Jerman untuk urusan bisnis. Namun yang sebenarnya Chanyeol lakukan adalah mengobati kanker yang dideritanya.

 

Kau boleh melepas gelang itu jika sudah tidak ada aku di dunia ini. Jadi bersiaplah untuk memakainya seumur hidupmu. Aku mencintaimu.

 

Pesan teks yang Chanyeol kirimkan sesaat sebelum pesawat yang lelaki itu tumpangi meledak melintas begitu saja dalam benaknya, membuat tangisnya semakin terdengar memilukan. Pesan itu mewakili Chanyeol yang berjanji akan membuatnya memakai gelang tersebut seumur hidup.

Sekarang Chanyeol telah tiada. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah melepas gelang ini? Rasannya ia tidak akan pernah sanggup. Biarkan gelang ini melingkar di pergelangan tangannya seumur hidup.

 

_o0o_

 

Hari kelima setelah pemakaman Chanyeol, Kim Rae Ah seperti mayat hidup. Gadis itu dirundung duka. Tidak ada yang ia lakukan selama lima hari ini selain duduk bersandar di atas ranjang dengan mata yang tak pernah berhenti menatap gelang di tangannya. Tubuhnya lebih kurus dari biasa. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat mengkhawatirkan.

Selama lima hari ini ia hanya meminum susu yang dibawakan oleh Kibum atau Jongwoon tanpa memakan apapun. Wajar jika berat badannya terihat menyusut hanya dalam hitungan hari. Hal itu membuat Kibum yang kali ini membawa nampan berisi makanan dan susu mendesah pasrah.

Kenapa takdir buruk harus selalu melingkupi mereka? Jongwoon ditinggal mati oleh kekasihnya karena kecelakaan –yang belakangan ini diketahui adalah hasil perbuatan sang ayah, dirinya sendiri ditinggalkan gadis yang sangat dicintainya selama bertahun-tahun tanpa alasan yang jelas –dalam hal ini setidaknya ia lebih beruntung karena beberapa saat yang lalu telah kembali menjalin hubungan dengan gadis itu, dan sekarang Kim Rae Ah.

Kibum tahu bagaimana Kim Rae Ah sangat memuja Park Chanyeol, lelaki pertama yang sanggup membuat adik tercintanya jatuh cinta. Bahkan seorang Cho Kyuhyun –sebanyak yang ia tahu tidak pernah lebih dari seorang sahabat di hati gadis itu. Kibum bisa mengerti jika sekarang Rae Ah begitu terpukul atas kematian Chanyeol, tapi ia juga tidak bisa membiarkannya terlalu lama.

 

Lelaki tampan itu menaruh nampan yang dibawanya di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang, menatap nanar ke arah Rae Ah yang menatap kosong objek di depannya. Tangan kanannya ia ulurkan untuk menyentuh kepala sang adik. Mengusapnya perlahan, lembut, dan penuh kasih sayang. Hatinya perih melihat melihat sang adik harus mengalami kondisi seperti ini. Ia seperti melihat kembali tatapan penuh luka dan kesedihan milik Jongwoon beberapa tahun lalu.

Kim Rae Ah bergeming. Ia tidak bergerak sedikitpun meski tahu ada Kibum di sampingnya. Saat ini ia tidak menginginkan apapun. Ia hanya ingin Chanyeol ada di hadapannya sambil tersenyum ceria, membuatnya jengkel dengan segala tingkah menyebalkannya, dan menciumnya dengan penuh kasih sayang serta mengucapkan kalimat cinta dari dasar hatinya.

Ia masih belum bisa menerima kepergian Chanyeol. Baginya, Chanyeol masih hidup. Chanyeol masih ada untuk menemani dan mencintainya, membantu dirinya menghapus perasaan yang tumbuh untuk lelaki lain. Ia ingin Chanyeol. Hanya Chanyeol.

 

“Dengar, tidak ada yang melarangmu untuk bersedih. Hal yang wajar jika kau merasa terpukul atas kepergian Chanyeol. Aku tahu kau sangat mencintainya tapi aku mohon, jangan terlalu lama mengurung diri dalam kesedihan. Orang-orang sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku juga,” Kim Rae Ah bergeming. Ia diam di tempatnya tanpa berniat menoleh sedikitpun pada Kibum yang sudah menitikkan air matanya.

Kibum menghela napas dengan berat kemudian menghembuskannya secara perlahan. “Chanyeol tidak pernah suka melihatmu menagis, kan? Jadi, berhentilah! Tersenyumlah seperti yang Chanyeol lakukan bahkan ketika ia tahu bahwa umurnya tidak lama lagi akan berakhir,”

Sesungguhnya Kibum tidak ingin mengatakan hal itu. Ia tahu telah berkata kasar kepada seseorang yang tengah dirundung duka, tapi Kibum melakukan ini demi kebaikan sang adik. Masalah Kim Jongwoon dan ayahnya baru saja melalui tahap mengenaskan, sekarang ia harus melihat adik kesayangannya terpuruk. Demi Tuhan, Kibum tidak akan peduli pada Jongwoon dan ayahnya. Saat ini ia hanya ingin melihat Kim Rae Ah keluar dari lingkaran dukanya.

 

“Jika kau tidak ingin melakukannya demi dirimu, kumohon, lakukan demi aku sebagai kakak yang sangat menyayangimu. Please…” Kibum memohon dengan suara yang teramat lirih. Rae Ah tidak tahu bahwa Kibum telah menitikkan air mata di wajahnya. Kibum terluka melihat sinar di wajah Rae Ah telah meredup. Kibum, ia tidak tahu jika kalimat-kalimat yang ia lontarkan membuat gadis yang tengah dirundung duka itu bertekad untuk keluar dari kungkungan duka yang berlebihan.

Dalam benak Rae Ah, ia membenarkan semua ucapan Kibum. Diam-diam melafalkan kalimat pemohonan maaf pada Kibum dan oang-orang yang mengkhawatirkannya. Ia berjanji, setelah hari ini, ia akan melanjutkan hidupnya. Demi Chanyeol, demi dirinya sendiri, demi orang-orang yang menyayanginya, dan –mungkin demi seseorang yang sedang menjauh darinya. Sahabatnya.

 

o0o

 

Rae Ah pikir, semuanya akan baik-baik saja setelah ia memutuskan untuk memulai hidup barunya tanpa Chanyeol. Tapi yang terjadi adalah dirinya terlihat seperti mayat berjalan. Setiap hari ia pergi untuk bekerja –setelah beberapa minggu lalu melanjutkan ujian akhirnya, lalu pulang. Tidak ada yang ia lakukan lagi selain itu.

Hingga beberapa hari kemudian, perbincangan antara dirinya dengan Chanyeol melintas dalam pikiran. Waktu itu Chanyeol berkata akan mendirikan sebuah perusahaan penerbitan jika ia sudah memegang kendali penuh atas perusahaan keluarganya saat ini. Lelaki itu berpikir akan bagus jika Rae Ah memimpin perusahaan penerbitan tersebut karena Rae Ah sangat menyukai dunia jurnalistik.

Rae Ah tersenyum waktu itu. setidaknya, ada satu hal yang ditinggalkan Chanyeol agar ia bisa menjadi Rae Ah yang dulu lagi. maka, beberapa waktu kemudian, Rae Ah meminta bantuan pada Kibum untuk membuat proposal pendirian perusahaan tersebut. Sebuah perusahaan penerbitan dengan C Virus Magazine sebagai pilot project-nya.

Kibum senang mendengar Rae Ah ingin menjalankan sebuah perusahaan. Ia yakin, dengan keinginan tersebut, adiknya itu bisa menjalani hari-hari layaknya manusia. Maka Kibum berusaha sebisa mungkin membantu Rae Ah meyakinkan sang ayah dan para petinggi perusahaan lain hingga proposal yang Rae Ah ajukan disetujui.

Keyakinan Kibum itu terbukti seiring berjalannya waktu. Rae Ah mulai memiliki kembali cahaya di wajahnya. Meski tidak banyak tersenyum, setidaknya Rae Ah tidak lagi hidup seperti mayat berjalan.

 

_o0o_

 

Salah satu hotel milik JKR Group dipenuhi oleh tamu undangan. Perusahaan besar tersebut mengadakan sebuah pesta untuk merayakan keberhasilan C Virus Magazine mengambil alih pasar Asia. Majalah tersebut merupakan pilot project dari perusahaan baru di bawah JKR Group yang bergerak di bidang penerbitan.

Majalah itu telah beredar selama dua tahun terakhir. Berawal dari kegemaran sang direktur perusahan tersebut dalam bidang jurnalistik dan tulis menulis, perusahaan itu kemudian dibentuk. Memanfaatkan kekayaan keluarga untuk mewujudkan salah satu mimpinya.

 

“Selamat kepada satu-satunya princess di rumah kami. Aku selalu percaya bahwa ia akan menjadi orang hebat dengan caranya. Aku bangga menjadi kakak dari Kim Rae Ah. Terima kasih telah menjadi adik kami yang cantik dan membanggakan,”

Tamu undangan bertepuk tangan. Mereka mengalihkan tatapannya dari lelaki yang berdiri di panggung –Kim Kibum kepada seorang gadis yang duduk di sudut kanan ruangan. Gadis cantik berusia 24 tahun itu tersenyum. Matanya berkaca-kaca melihat ke arah panggung. Di sana, Kibum membalas senyumnya.

 

Perhatian mereka –tamu undangan kembali beralih pada sosok Kibum yang membawa kabar gembira hingga semua yang hadir di sana bersorak. Ikut berbahagia atas kabar yang Kibum sampaikan.

 

“Bulan depan aku dan tunanganku, Irine McCartney, akan melangsungkan pernikahan. Semoga Tuan dan Nyonya dapat hadir untuk memberikan restu dan doa kepada kami,”

Kim Rae Ah, gadis yang berdiri di sudut ruangan itu bertepuk tangan dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya, dan air mata haru yang mengalir mengiringi senyum indah tersebut. Kim Kibum akhirnya menemukan kembali cintanya yang pernah hilang. Ia turut bahagia untuknya.

 

_o0o_

 

Banyak orang berkata bahwa waktu dapat mengalahkan segalanya. Waktu dapat menghapus segala kesakitan yang dialami oleh seserang. Waktu dapat mengubah sesuatu. Akan tetapi, tiga tahun telah berlalu dan Kyuhyun masih berada dalam pesakitannya. Ia tidak bisa menghapus segala rasa sakit akibat menahan rasa rindu dan cinta yang mendalam terhadap sahabatnya.

Kyuhyun menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah Rae Ah –yang tidak pernah Kyuhyun ganti. Selama bertahun-tahun sejak ia meninggalkan Seoul, foto itu dengan setia menemani hari-harinya. Jika bosan dan rindu, Kyuhyun akan melihat foto tersebut.

Lelaki penyuka warna biru itu memikirkan bagaimana keadaan Rae Ah saat ini. Beberapa tahun lalu, ia mendengar berita kepergian Chanyeol. Semacam tidak percaya dan orang-orang hanya mengerjainya, Kyuhyun mengabaikan berita itu. Menurut Kyuhyun, tidak mungkin Chanyeol pergi secepat itu. Chanyeol sangat mencintai Rae Ah dan ia yakin lelaki itu tidak akan pernah membiarkan gadisnya sendirian.

Kyuhyun masih tidak percaya untuk beberapa hari ke depan hingga ia melihat berita tentang kematian Chanyeol dimuat di beberapa koran bisnis di London. Saat itu, ia berpikir untuk terbang ke Seoul dan menemui Rae Ah, meminjamkan bahu serta dadanya untuk menenangkan gadis itu, tapi urung ia lakukan. Kyuhyun hanya kembali berpikir, jika ia pergi ke Seoul saat itu juga, ia tidak yakin akan bisa kembali. Bagaimanapun ia mneyangkal, hal itu tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Kim Rae Ah adalah magnet tersendiri baginnya. Ia tidak akan mampu meninggalkan gadis itu sendiri dan kembali ke London.

Bisa saja Kyuhyun kembali ke Seoul dan menetap di sana, di samping Rae Ah, tapi ia tidak bisa meninggalkan kewajibannya. Ia telah berjanji pada ayahnya akan membawa perusahaan ke arah yang lebih maju karena saat itu tengah berada di ambang kehancuran. Ia memiliki beban yang tidak main-main. Maka ia memutuskan untuk menahan keinginan terbesarnya berada di samping Kim Rae Ah yang sedang berduka karena kehilangan orang tercinta. Kyuhyun hanya mengirim karangan bunga untuk berbelasungkawa dan itu atas nama perusahaannya.

Sekarang ia menyesali keputusannya. Ia pikir, seteah keadaan perusahaan membaik, ia bisa pergi menemui Rae Ah tapi ternyata tidak. Beban yang ia tanggung semakin menggunung. Ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bersenang-senang, melupakan Rae Ah ketika sibuk dan mengingatnya kala malam menjelang. Kegiatan Kyuhyun bersama kenangan-kenangannya terganggu oleh kedatangan seorang sekretaris yang memberitahu mengenai jadwal selanjutnya.

 

“Perwakilan C Virus Magazine sudah menunggu, Sir. Anda memiliki janji wawancara dengannya,” meski kesal Kyuhyun tetap mengangguk dan beranjak dari kursi kebesarannya. Tidak ada yang menyenangkan selain melihat wajah Rae Ah dan memikirkan segala kenangan tentang gadis itu yang ia miliki.

Kursi CEO yang bahkan tidak pernah ia inginkan. Kyuhyun menyukai pekerjaannya sebelum ini, sebagai penyanyi di Republik Korea. Ia juga lebih menyukai negara itu daripada London karena Rae Ah yang selalu ada dalam hati dan pikirannya tinggal di sana.

 

“Selamat siang, Tuan Cho. Saya Kwon Yoohee dari C Virus London,” Kyuhyun menatap tangan Yoohee sesaat kemudian menjabatnya.

“Cho Kyuhyun,” gumamnya singkat. Ia pikir, tidak perlu memperkenalkan diri pun, gadis ini pasti sudah tahu siapa dirinya. Kyuhyun memberi kode pada Yoohee untuk duduk dengan melalui gerakan tangannya.

“Saya akan memulai sesi wawancaranya,” Kwon Yoohee terlihat gugup dan Kyuhyun tidak peduli. Ia hanya mengangguk.

Ketika Yoohee membuka catatan wawancara, ponselnya berdering. Gadis itu menatap Kyuhyun dengan wajah meminta maaf. Dari yang ia dengar, pemilik perusahaan ini adalah orang yang serius dan tidak suka jika konsentrasinya diganggu oleh suara ponsel. Terutama dalam rapat.

Yoohee dapat melemaskan bahunya ketika Kyuhyun mempersilakan dirinya untuk menjawab panggilan tersebut. Gadis itu berdiri, menjauh dari Kyuhyun. Samar-samar Kyuhyun dapat mendengar Yoohee berbicara dengan sopan dan lembut. Well, bagi Kyuhyun, cara bicara Yoohee terdengar seperti seorang penjilat.

 

“Sesorang akan menggantikan sesi wawancara kita, Tuan Cho. Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini,” ujar Yoohe ketika ia selesai menelepon dan berbicara pada Kyuhyun. diam-diam gadis itu mengumpat pada orang yang tadi meneleponnya dan membuat ia kehilangan kesempatan untuk berlama-lama melakukan wawancara dengan Kyuhyun, CEO muda yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di kalangan para gadis muda London.

Kyuhyun diam. Baru sekarang ia mengalamai hal seperti ini. Menjengkelkan. Ia merasa disepelekan dengan mengganti pewawancara ketika wawancara itu sendiri akan dimulai. Lelaki itu memejamkan matanya. Gadis yang ada di hadapannya ini adalah seorang wartawan. Ia todak boleh menunjukkan arogansinya sekarang atau citra perusahaan akan buruk. Demi Tuhan, ia tidak peduli terhadap citra dirinya sendiri.

 

“Aku pikir hal ini tidak akan pernah terjadi,” Yoohee meneguk ludah dengan susah payah. Suara Kyuhyun terdengar sangat mencekam. Auranya begitu kuat sampai-sampai ia tidak bisa merasakan kakinya sendiri. Direktur sialan. Gadis itu mengumpat dalam hati.

Kyuhyun akan kembali berbicara namun pintu ruangan segera diketuk. Kyuhyun yakin itu adalah sekretarisnya dan mungkin membawa seseorang yang akan menggantikan Yoohee. Dengan tegas ia menyuruh oarng itu untuk masuk dan tebakannya benar. Sekretarisnya masuk dengan seseorang berdiri di belakangnya. Seorang gadis.

 

Saat itulah, saat matanya berserobok dengan mata milik gadis itu, Kyuhyun merasa dunia telah berhenti. Gemuruh di dadanya terdengar sepeti gemuruh omabk di malam purnama, tubuhnya membeku seperti baru saja keluar dari gunung es, dan persendiannya melemas. Gadis itu, gadis yang membuat ia menyukai Seoul dan selalu ingin meninggalkan London untuk berlari ke sana.

 

Sir, Nona ini berkata, ia dari C Virus Magazine.” Kyuhyun mengerjap, ucapan sekretarisnya menarik kesadarannya kembali dari dunia yang ia anggap sebagai fantasi.

Hello, Cho Kyuhyun. Long time no see,” Kyuhyun kembali terhempas ke dunia fantasi mendengar gadis itu berbicara –bahkan dengan senyum indah terpatri di wajahnya.

Tanpa sadar, Kyuhyun menghampiri gadis itu dengan langkah pelan membuat dua orang lain yang ada di sana menatapnya bingung. Kyuhyun berjalan dengan ragu, ia takut saat ini imajinasi tengah menguasainya. Kim Rae Ah telah menjadi fantasinya sejak ia meninggalkan Seoul beberapa tahun lalu.

 

“Kim Rae Ah,”

Hi, Gyu!”

Kyuhyun tidak ingin membuang kesempatan untuk membuktikan bahwa ia tidak sedang berfantasi. Ia ingin membuktikan bahwa Kim Rae Ah memang nyata. Kemudian ia menarik Rae Ah ke dalam pelukannya dan ini benar-benar nyata. Kim Rae Ah nyata.

 

Melihat hal itu, Yoohee pikir ia sedang menonton roman picisan. Bertemu kekasih yang telah lama tidak dilihat? Wait! They’re not dating, are they? Double sial. Tadinya, Yoohee berencana akan menggaet Kyuhyun, menggoda laki-laki itu untuk ia ajak berkencan. Tidak peduli jika itu hanya kencan semalam. Setelah melihat ini, ia tidak akan memiliki kesempatan untuk membawa Kyuhyun ke atas ranjang. Sialan. Ia jelas tidak bisa bersaing dengan bosnya sendiri. Siapapun tahu Direktur C Virus Publisher –perusahaan penerbit C Virus Magazine itu memiliki kecantikan dan daya tarik yang luar biasa.

Yoohee kemudian bertanya-tanya apakah karena ini bosnya mengambil alih tugasnya. Well, ia berterima kasih kalau begitu. Ia tidak harus menghabiskan malamnya dengan menulis hasil wawancara hari ini dan ia bisa pergi ke klub, mencari lelaki yang bisa ia ajak bersenang-bersenang meskipun telah kehilangan kesempatan untuk mencicipi CEO tampan itu.

 

TBC

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

11 thoughts on “Fate Part 8”

  1. Kyu selmaat yak trnyata rae ah mu nyata n itu bukn halusinasi sneng deh rae ah jg gak nolak saat ia d pluk kyu ,, yeol udh pergi krna takdir gak ada yg tau n kyuhyunlah takdirnya rae ah buat rae pelan2 km pasti bsa hdup tanpa yeol n mulailah hdup yg baru dg pria yg bgitu mnginginkanmu ya itu cho kyuhyun jan brlarut2 dlm ksedihan krna yakin yeol jg gak mau liat km brsedih trus .. yonhee kalah lagi haha sbaar yak orng sbar psti dpet yg kaya jga kkk
    Semngaat cho skrang gak ada hlangan lgi utk dpetin rae ah 😄

  2. Aku baca dri part 1 smpe 8 baru part 8 yg aku koment’ maaf yaa maaf banget’ jujur aku suka banget sama cerita ini’ nangis aku baca chanyeol pergi ke surga huaaaaa’ kyuhyun cinta banget sama rae ah sudah bertahun-tahun tapi tetap cinta hebat banget kekuatan cintanya’ aku iri ckckck penasaran aku sama cerita selanjutnya ‘ ditunggu yaaa 😉

  3. kim rae ah dan segala egonya…. ngerti kok sakit tp yg baca sakit juga ngeliat dia kaya gitu hahaha akhirnyaaaa nyamperin kyuhyuuuuunn aaakkk

  4. Semoga aja rae ah udah bener bener bisa move on dari chanyeol dan mulai mantepin hatinya buat kyuhyun. Sayangloh yaa cowo kaya kyuhyun dia abaikan gitu aja wkwk, mending buat gue kan rae 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s