Fate Part 7

Fate1

Aku agak lupa sama stroy line FF ini. Maaf kalo gak jelas yaa. Typo bertebaran!

Btw, kalo ini banyak yang komen, hari Minggu nanti aku posting part 8 deh! Semangat yaaa nyemangatin siders (?)

 

_o0o_

 

 

Jika manusia bisa memilih takdir dalam hidup, maka bahagia akan menjadi pilhan paling utama. Tidak ada yang ingin memiliki takdir hidup sekejam ini. Ralat, takdir yang amat kejam. Di saat hati memutuskan untuk mencinta, ia kehilangan sang kekasih akibat sebuah kecelakaan. Bertahun-tahun telah ia coba untuk merelakan kepergiannya, tapi tetap saja tidak bisa. Hatinya telah terikat terlalu kuat pada hati yang kini sudah tenang di alam yang berbeda.

Hinggga seorang gadis lain datang, mencoba peruntungan akan cinta yang bersarang di hati dengan mencoba dekat sebagai sahabat. Ia kini sudah mulai membuka hati bahkan mulai mencintai gadis yang mencintainya sejak dulu dengan tulus, rasa sakit yang selama bertahun-tahun itu kembali menyeruak ke permukaan.

 

Beberapa saat yang lalu, ia mendengar kenyataan pahit yang menimpa kekasih tercintanya. Kenyataan bahwa kecelakaan yang merenggut nyawa gadis itu bukanlah kecelakaan murni tetapi sudah terencana. Kenyataan yang lebih menyakitkan dari apapun, laki-laki yang selama ini ia cintai dan ia hormati adalah pelakunya. Sang ayah telah membunuh cintanya hingga kini, setelah mendengar kebenaran yang Kibum lontarkan, ia merasa dunia telah berhenti berputar.

Tangannya mengepal kuat hingga kuku-kukunya terlihat memutih. Amarah telah menggumpal di dalam otak dan hatinya. Ia membenci kenyataan takdir yang sangat kejam ini. Bagaimana seorang ayah yang selama ini ia hormati tega melakukan tindakan sekeji itu? Hanya karena Song Rin adalah putri dari musuh bebuyutannya sejak kuliah, sang ayah membunuh gadis yang sangat ia cintai.

Amarah yang sudah terlampau menyelimuti membuatnya tidak mampu lagi untuk berkata-kata. Ingin sekali ia meraih leher Kibum, memaksanya mengatakan bahwa itu semua bohong, lalu mencekiknya jika ia benar-benar berbohong. Namun Jongwoon masih berada dalam kesadarannya. Ia sangat mengenal Kibum lebih dari siapapun jadi ia tahu ketika Kibum berbohong atau tidak.

Rasanya ingin sekali ia melayangkan pukulan bertubi-tubi pada laki-laki paruh baya yang kini sedang bertukar tatapan tajam dengan Kibum. Laki-laki tua yang selalu terlihat berwibawa di matanya kini berubah seolah tak lebih dari seorang laki-laki tua penuh ambisi dan munafik. Jongwoon membencinya, membenci kenyataan ini.

 

“Kalau begitu aku dan Kibum sudah melakukan hal yang benar dengan memberitahu Rae Ah tentang Chanyeol. Mengapa, ayah? Hanya karena Song Rin adalah putri dari Song Group ayah membunuhnya dan merenggut seluruh kebeahagiaanku,” siapapun yang mendengar Jongwon berbicara pasti dapat menangkap ada getaran di dalamnya. Getaran karena menahan amarah dan kesakitan. Tangannya masih mengepal dengan kuat di samping tubuh.

“Aku melakukannya untuk kebaikanmu. Seharusnya kau berterimakasih karena gadis itu hanya memanfaatkanmu, Kim Jongwoon! Dia dikirim ayahnya untuk menghancurkan kita,” kalimat yang diucapkan dengan datar oleh ayah membuat Jongwoon dan Kibum terperangah. Jadi semua ini memang benar-benar hanya keegoisan sang ayah semata. Jongwoon serasa mimpi mendapati kenyataan bahwa ayah yang selama ini ia hormati memiliki sisi lain dari balik topeng wibawanya.

 

“Semoga ayah bahagia karena telah menghancurkan hidupku. Aku tidak bisa lagi berada di sini. Selamat malam,” setelah mengucapkan kalimat itu dengan pelan dan menaruh barang-barang pribadinya di atas meja seperti dompet dan kunci mobil, Jongwoon berlalu meninggalkan ruangan yang seharusnya berfungsi untuk berkumpul dengan anggota keluarga tersebut. Ruangan yang hanya menjadi saksi bisu betapa sedihnya ketiga anak di rumah mewah ini melihat kedua orang tua yang selalu sibuk dengan perusahaan.

Kibum masih menatap sang ayah dengan tatapan menyala menahan amarah, tidak habis pikir mengapa ayahnya membiarkan Jongwoon berlalu begitu saja. Kibum benar-benar kecewa. “Kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja? Dia anakmu, seharusnya kau tahan dia dan meminta maaf!!” Kim Kibum berteriak tepat di depan wajah sang ayah, laki-laki yang seharusnya ia hormati. Sayangnya, rasa hormat Kibum terhadap sang ayah sudah lama luntur sejak dengan tidak sengaja mendapati kenyataan bahwa laki-laki paruh baya itu telah membunuh Song Rin, gadis yang Kibum tahu sangat mencintai Jongwoon. Berkat ayahnya, Kibum harus rela kehilangan sosok seorang kakak yang selalu bersikap konyol untuk menghibur adik-adiknya.

 

“Biarkan dia pergi. Dia tidak akan bertahan lama di luar sana tanpa uangku,” ucap sang ayah tenang dan datar seolah-olah orang yang baru saja pergi bukanlah darah dagingnya.

Kibum semakin geram oleh karena itu ia memundurkan tubuhnya, berencana untuk pergi dari situ. Ia tidak ingin melewati batas kesabarannya, takut akan berlaku buruk terhadap laki-laki yang menjadi ayahnya ini. Bagaimanapun ayah tetaplah ayah, seorang anak tidak bisa menyakitinya lebih dari ini. Meski Kibum selalu bersikap kasar dan terlihat tak pernah menganggapnya sebagai seorang ayah, Kibum tetap sadar bahwa posisinya di dalam rumah ini adalah sebagai seorang anak.

“Kalau begitu aku juga pergi. Selamat tinggal,” Kibum berbalik. Langkahnya terhenti tepat sebelum ia mencapai daun pintu. Perkataan ayah membuat tubuhnya membeku.

“Berani melangkahkan kakimu selangkah saja dari rumah ini, aku akan menyeret Kim Rae Ah pulang ke rumah ini. Mengemban tugas yang seharusnya kau dan Jongwoon lakukan. Aku tidak akan bernegosiasi lagi atas masa depannya. Dia akan menjadi penerus satu-satunya,”

 

_o0o_

 

Kim Rae Ah menatap kerlap-kerlip lampu dari atas balkon di rumah yang selama ini Chanyeol tempati. Sebuah rumah dengan arsitektur khas Eropa yang menghadap langsung ke arah sungai Rhine di kota terpencil bernama Ruedesheim. Dari sini ia bisa melihat sebuah bukit batu yang menjorok ke arah sungai, di balik bukit itu menghampar dengan begitu luasnya perkebunan anggur.

Pikirannya melayang jauh kepada seseorang yang mungkin sudah berada dibenua yang sama dengannya, seorang laki-laki yang kemarin ia sakiti. Kim Rae Ah melakukan itu untuk menghapus perasaannya yang ia sadari merupakan perasaan lain terhadap Kyuhyun. hanya sebagian kecil karena ia juga mengakui bahwa ia masih mencintai –sangat mencintai Park Chanyeol. Oleh karena itulah ia berkata seolah-olah tidak lagi membutuhkan Kyuhyun agar laki-laki itu pergi dan perasaannya tidak akan berkembang lebih jauh. Terlebih, saat ini Chanyeol sangat membutuhkan kehadirannya.

Mengingat Chanyeol, hatinya menjadi sangat sakit harus menyaksikan laki-laki yang dicintainya itu tersiksa. Chanyeol menderita kanker otak jauh sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi. Menurut cerita yang ia dengar dari ibu Chanyeol, laki-laki itu beberapa kali datang ke Jerman untuk melakukan pengobatan. Rae Ah baru mengetahui hal tesebut karena selama ini Chanyeol selalu berkata ia pergi ke Jerman untuk mengurus perusahaan. Chanyeol akan menjadi penerus dan ia harus mulai belajar sejak dini.

Tangisnya kembali pecah. Gadis itu terisak, tidak kuasa menahan rasa perih di hatinya melihat kondisi Chanyeol saat ini. Ia juga merasa amat bersalah karena telah membagi rasa cinta yang harusnya hanya untuk Chanyeol seorang.

 

Sebuah tangan besar menyentuh pundaknya yang bergetar membuat gadis itu menoleh. Buru-buru ia menghapus air mata yang mengaliri wajahnya setelah melihat Chanyeollah orang itu. Tak lupa ia mengembangkan senyumnya meski hanya sebuah senyum yang dipaksakan, kemudian menyapa Chanyeol seolah tidak ada yang terjadi pada dirinya.

Chanyeol menggenggam tangan Rae Ah, menempelkan jari-jari halus itu ke pipinya. Matanya terpejam seolah menghayati kehalusan tangan yang sudah beberapa tahun ini tidak ia rasakan. Air mata menyeruak, mengaliri wajah yang dulu sangat tampan memikat banyak gadis. Ketika waktunya habis nanti, ia tidak bisa lagi menggenggam tangan ini.

“Sampai saatnya tiba nanti, berjanjilah untuk tetap di sampingku. Biarkan aku menjadi laki-laki paling egois dengan menahanmu di sini,” Chanyeol berujar dengan nada lemah dan mata yang masih terpejam. Kim Rae Ah memeluk Chanyeol, menangis terisak di sana.

“Aku berjanji, Chanyeol. Aku yakin kau akan sembuh dan kita akan bersama sampai tua,” Chanyeol terdiam mendengar ucapan Rae Ah. Ia tidak menyangkal bahwa ucapan Rae Ah adalah keinginan terbesarnya namun ia juga sadar akan kondisinya saat ini. Kemoterapi yang ia jalani tidak akan membuatnya sembuh. Kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu membuat tubuhnya semakin melemah dan tidak sanggup lagi menahan penyakit. Chanyeol kini hanya ingin bersama Rae Ah sampai waktunya untuk meninggalkan dunia ini tiba.

 

“Bagaimana kabar Kyuhyun hyung?”

“Kyuhyun baik-baik saja,”

Chanyeol merasa ada yang tidak beres, ia bisa pastikan dari suara Rae Ah yang tidak biasa ketika menjawab tentang Kyuhyun tersebut. Sesuatu pasti telah terjadi di antara mereka. Ia yakin, tapi untuk saat ini Chanyeol tidak akan membahas Kyuhyun. Chanyeol ingin menikmati kebersamaan dengan Rae Ah, tanpa ada orang lain di dalamnya.

Kyuhyun menyukai –bahkan mencintai Rae Ah, Chanyeol tahu itu. Ia tahu sejak lama namun perasaannya terhadap gadis itu membuat ia seolah menutup mata dan telinga. Chanyeol dan Rae Ah saling mencintai dan ia ingin memiliki gadis itu. Hingga saatnya tiba nanti, biarkan Chanyeol memiliki Rae Ah tanpa ada nama lain di dalamnya.

 

_o0o_

 

“Chanyeol, lihat aku!”

Suara jepretan menyapa ketika Chanyeol menoleh ke arah Rae Ah. Gadis itu tengah sibuk dengan kameranya. Rae Ah selalu ingin datang ke Jerman dan mengabadikan semua kegiatan yang dilaluinya di sini. Chanyeol tersenyum miris. Seharusnya Rae Ah datang ke Jerman bersama dirinya yang sehat, bukan dirinya yang mengidap penyakit mematikan, dirinya yang sedang sekarat.

“Eiy, kenapa dengan ekspresimu? Tersenyumlah! Aku tidak ingin obyek fotoku memasang wajah jelek dan menyedihkan seperti ini,” Kim Rae Ah dan celotehannya membuat Chanyeol tertawa. Kim Rae Ah dengan caranya tersendiri selalu mampu memberi warna pada setiap langkah dalam hidup seorang Park Chanyeol. Dan Chanyeol mensyukuri hal tersebut, mensyukuri kehadiran Rae Ah dalam hidupnya.

“Di sana ada yang menjual bendera Jerman. Ayo!” ajak Rae Ah, mendorong kursi roda yang Chanyeol duduki dengan penuh semangat.

Antusiasme yang ditunjukkan oleh Rae Ah membuat hati Chanyeol perih. Waktunya sangat sebentar untuk menikmati keceriaan dan ketulusan gadis itu. Ia ingin sekali sembuh agar bisa lebih lama bersama Rae Ah namun ia sadar bahwa Tuhan telah menentukan takdir untuknya, untuk ia dan orang-orang di sekelilingnya.

 

Chanyeol mengerutkan dahinya dalam-dalam melihat Rae Ah hanya berdiri, tidak beranjak untuk memilih bendera yang ia inginkan. Ia kemudian menoleh dan mendapati raut muka gadis itu tengah kebingungan. “Kenapa? Tidak jadi beli?”

Cengiran khas Rae Ah seolah menjawab pertanyaan Chanyeol. Chanyeol mendecak sebal namun laki-laki itu tetap menghampiri pedagang bendera, berbicara dalam bahasa Jerman dan sebuah bendera berukuran kecil sudah berada di tangannya setelah mengeluarkan beberapa lembar uang.

Danke,” pekik Rae Ah senang ketika bendera tersebut telah berpindah ke tangannya. Chanyeol mendelik, “Hanya kata terima kasih saja yang kau bisa. Cih, apanya yang menyukai Jerman –ouch!” sebuah pukulan di bahunya membuat Chanyeol berhenti mengomel. “Kenapa memukulku?”

“Jangan menggunakan bahasa asing denganku, Park Chanyeol! Kau tahu aku tidak mengerti. Menyebalkan sekali,” Rae Ah melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Chanyeol dengan kesal. Chanyeol hampir saja tertawa jika tidak mendapat pelototan dari gadis itu. Chanyeol meringis –geli.

“Maaf,” gumamnya tulus.

“Lupakan! Sudah waktunya makan siang. Ayo,”

 

Rae Ah membawa Chanyeol ke sebuah restoran yang cukup sederhana. Chanyeol tersenyum karena hal tersebut. Kebiasaan Rae Ah belum berubah. Makan di tempat sederhana meski kau mampu membayar restoran termahal di dunia sekalipun adalah kebiasaan mereka ketika berkencan. Meski kadang Chanyeol membawa Rae Ah ke restoran mahal, itu hanya dapat dihitung menggunakan jari.

Keduanya makan dengan penuh canda tawa seolah tidak ada apapun hal buruk yang akan terjadi. Chanyeol selalu melupakan rasa sakitnya ketika sedang bersama Rae Ah. Laki-laki itu hanya menikmati fakta yang menyenangkan bahwa Kim Rae Ah saat ini ada bersamanya. Menjaga dan menyayangi dirinya seperti ketika ia masih sehat dulu. Bahkan setelah ia berbuat kejam dengan menghilang tanpa kabar, Kim Rae Ah masih berada di sisinya. Hal itu sudah cukup untuk Chanyeol.

Chanyeol melupakan kenyataan lain yang bisa merenggut kebahagiannya. Sekarang ia mengingat hal itu lagi. Tangannya berhenti menyendok makanan, melihat Rae Ah yang sibuk dengan makanan pedas kesukaannya. Hatinya berdenyut nyeri.

Ia sangat mencintai Rae Ah lebih dari yang gadis itu tahu. Memahami gadis itu lebih dari yang dirinya sendiri dan Kyuhyun pahami. Park Chanyeol memang hadir setelah Kyuhyun tapi rasa cinta yang ia miliki untuk Rae Ah membuatnya sangat sensitif terhadap apa yang dialami sang kekasih.

Saat ini Chanyeol merasa ada sesuatu yang berubah dari Rae Ah. Gadis itu memang masih hangat seperti biasa tapi Chanyeol dapat merasakannya. Perasaan hambar saat Rae Ah bersikap hangat padanya, perasaan sedih saat melihat Rae Ah tersenyum padanya. Senyuman yang Rae Ah tunjukkan setelah mereka bertemu kembali masih hangat tapi ada sesuatu yang tersembunyi di balik senyum itu.

 

“Rae, apa terjadi sesuatu pada kalian?” tanya Chanyeol. Rae Ah menatap Chanyeol bingung.

“Maksudmu?”

“Maksudku, apa terjadi sesuatu padamu dan Kyuhyun hyung? Pada hubungan kalian,”

 

Pertanyaan Chanyeol membuat tubuh Rae Ah membeku dalam sekejap. Apa yang harus ia jawab? Bahwa akhir-akhir ini ia memiliki perasaan aneh terhadap Kyuhyun? Nafsu makannya hilang seketika. Kyuhyun memang mengganggu pikirannya beberapa waktu terakhir. Entah sejak kapan tapi ia rasa setelah insiden Kyuhyun menciumnya di apartemen laki-laki itu.

Sejak saat itu ia selalu memikirkan Kyuhyun lebih dari biasanya. Meski Chanyeol masih sangat mendominasi, tapi Kyuhyun juga muncul lebih dari biasa. Sesuatu yang aneh ia rasakan ketika Kyuhyun muncul dalam benak. Ia tidak tahu perasaan seperti apa namun yang ia yakini adalah perasaan bersalah pada Chanyeol. Ia bersalah karena membiarkan laki-laki lain menyelinap masuk ke dalam pikirannya.

 

“Tidak ada. Kami baik-baik saja,”

“Kau tahu, kau bukan seorang pembohong yang baik. Ada apa?” Rae Ah menatap Chanyeol dengan tatapan sendu. Ia bingung harus menjawab apa.

 

Setelah konser waktu itu, Kyuhyun tidak pernah lagi menghubunginya. Rae Ah selalu berharap laki-laki itu akan menelepon atau sekadar mengirim pesan teks padanya. Namun, hingga saat ini Kyuhyun tidak melakukanya.

Pernah sekali, Rae Ah mencoba menghubungi Kyuhyun dan hasilnya sangat mengecewakan. Kyuhyun tidak menjawab panggilannya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya kecewa dan perasaan bersalah yang bercokol dalam hatinya entah untuk apa. Untuk membiarkan Kyuhyun pergi atau untuk Chanyeol?

Haruskah sekarang ia mengungkapkan itu semua pada laki-laki yang selama ini mencintainya?

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun. Ia tidak pernah menghubungiku sejak terakhir kami bertemu,” Chanyeol merasa hatinya teriris melihat raut sedih pada wajah gadis tercintanya. Raut sedih yang bukan lagi terhadap seorang sahabat melainkan terhadap seseorang yang memiliki tempat lebih tinggi dari sekadar sahabat itu, diam-diam merobek hati Chanyeol.

 

“Kau mencemaskannya?”

“Tentu saja. Siapa yang tidak cemas ketika sahabatnya tidak menghubungi? Aku mengenal Kyuhyun bertahun-tahun. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya,”

“Hanya itu?” Chanyeol ingin sekali menahan mulutnya agar tidak menyuarakan asumsi-asumsi dalam benaknya tapi tidak bisa. Sudah terlanjur. Chanyeol harus menghadapi rasa sakit yang akan menyerang hatinya.

“Apa maksudmu?” entah apa yang membuat Rae Ah merasa pertanyaan Chanyeol tersebut seolah menyudutkan dirinya. Tapi Rae Ah benar-benar merasakannya. Sebenarnya apa yang Chanyeol pikirkan tentang dirinya?

“Aku mungkin mengenalmu jauh setelah Kyuhyun hyung tapi aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Aku mengenalmu lebih dari dirimu sendiri. Aku bisa merasakannya, Rae. Namaku telah tergeser tanpa kau sadari,”

“Chanyeol–”

“Dengar, ini sangat menyakitkan untukku tapi bisakah aku meminta padamu untuk tetap berada di sisiku? Hingga saatnya untuk aku melepasmu telah tiba, aku ingin kau tetap menjadi Kim Rae Ah yang mencintai Park Chanyeol. Bisakah?”

 

Rae Ah menunduk dalam sesaat setelah melihat mata Chanyeol memerah menahan tangis. Suaranya juga bergetar. Sekarang ia tahu rasa bersalah yang bercokol dalam hatinya itu ditujukan untuk siapa.

Rasa bersalah itu ia tujukan untuk Park Chanyeol karena telah membagi hatinya dengan laki-laki lain. Rasa bersalah karena membagi pikirannya menjadi dua. Park Chanyeol dan Cho Kyuhyun.

 

“Bisakah? Hanya sebentar. Kau tahu hidupku–”

“Hentikan!! Hentikan, Park Chanyeol! Berikan aku waktu untuk berbicara,” napasnya terengah. Ia tidak bisa membiarkan dirinya tampak buruk di hadapan Chanyeol. Ia memang tanpa sadar telah membagi hatinya tapi bukan berarti tidak lagi mencintai Chanyeol. Kim Rae Ah masih sangat mencintai Park Chanyeol-nya.

 

Tidak tahu diri? Mengerikan? Rae Ah tahu ia gadis yang tidak tahu diri dan mengerikan. Menghianati seorang laki-laki yang sangat ia cintai dan mencintainya. Menyakiti laki-laki yang selalu berusaha untuk membahagiakan dirinya. Park Chanyeol, seorang laki-laki yang sangat sempurna dalam melindunginya.

Tidak ada yang bisa menyelami kedalaman hati seseorang. Rae Ah bahkan tidak pernah bisa menemukan jawab atas tanya mengapa hatinya begitu mudah berbagi. Ia membagi hatinya kepada Kyuhyun yang semula hanya untuk Chanyeol. Kyuhyun adalah sahabatnya. Bagaimana bisa ini terjadi?

 

“Maafkan aku. Maafkan aku, Chanyeol. Aku tahu, di saat seperti ini seharusnya aku menyangkal semua asumsimu tapi aku tidak bisa. Aku mengakuinya –tidak tahu sejak kapan. Aku mencintaimu, tapi juga memiliki perasaan lain pada Kyuhyun. Maafkan aku,”

Suara isak tangis dan tubuh bergetar Rae Ah membuat Chanyeol merasa buruk. Ia telah membuat Rae Ah menangis. Tapi bukankah dengan begini akan lebih baik? Chanyeol tidak perlu merasa khawatir pada Rae Ah. Gadis itu akan baik-baik saja setelah ia pergi karena masih ada Kyuhyun. Tapi Chanyeol juga merasa sedih karena harus meninggalkan Rae Ah dan membiarkan gadis itu bersama laki-laki lain.

 

“Jangan meminta maaf. Kau membuatku tampak buruk,” lirih Chanyeol. Sekarang apa yang harus ia perbuat? Bisakah ia tetap meminta Rae Ah berada di sampingnya dan menjadi egois? Bagaimanapun, sekarang perasaan gadis itu tidak hanya miliknya.

 

_o0o_

 

Rasanya sangat berbeda ketika pertama kali menginjakkan kaki di atas tanah London setelah bertahun-tahun meninggalkan kota ini. Setelah beberapa waktu Kyuhyun mulai bisa kembali menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini. Tidak membutuhkan waktu lama karena memang sebelumnya Kyuhyun tinggal London sejak berusia dua tahun –lebih lama dari waktunya tinggal di Korea.

Pemandangan Kota London di malam hari memang sangat menggoda. Kyuhyun lupa kapan terakhir kali dirinya menikmati pemandangan kota dari atap gedung seperti ini. Dulu ia sering melakukannya bersama Rae Ah, sebelum Chanyeol hadir sebagai laki-laki yang mencintai sahabatnya.

Kyuhyun tersenyum sinis, mengejek diri sendiri yang begitu pengecut. Bersembunyi di balik topeng persahabatan untuk menutupi perasaannya. Kyuhyun adalah seorang pengecut yang meneysal karena tidak megakui perasaannya setelah Kim Rae Ah menjadi kekasih Park Chanyeol.

 

Rasanya akan sangat menyenangkan jika kembali pada masa ketika persahabatannya tida dibumbui oleh rasa cinta yang Kyuhyun miliki. Tidak banyak yang ia khawatirkan selain keselamatan dan kebahagian gadis itu sebagai sahabatnya, tidak banyak pula hal yang membuatnya merasa sakit menyaksikan kebahagian Kim Rae Ah bersama Chanyeol.

 

Ngomong-ngomong, berapa lama ia tidak mendengar suara gadis itu? Bagaimana keadaannya? Apakah ia baik-baik saja? Apakah Rae Ah tidak melewatkan makannya? Apakah Rae Ah mengingatnya? Tentu saja. Menurut Kyuhyun, tidak ada alasan bagi Rae Ah untuk tidak baik dan memkirkan dirinya. Rae Ah sudah bersama Chanyeol, laki-laki yang paling gadis itu cintai.

Kyuhyun mengambil ponsel hitam dari saku celana, membuka aplikasi music player, kemudian memutar sebuah lagu yang akhir-akhir ini menjadi favoitnya. Sebuah lagu milik seorang penyanyi muda yang begitu menyentuh sejak pertama kali Kyuhyun mendengarnya.

Daybreak Rain milik Shannon Williams terus ia putar berkali-kali. Seandainya saat ini hujan mengguyur London, mungkin Kyuhyun akan menertawai dirinya yang menjadi begitu melankolis jika menyangkut tentang Kim Rae Ah.

Memutar lagu ballad di tengah-tengah hujan, memikirkan seorang gadis yang ia cintai tengah berada jauh –sangat jauh dari jangkauannya, meratapi kisah cinta yang tak pernah berpihak padanya, bukankah itu seperti roman-roman picisan dalam drama?

 

Kyuhyun terus memutar kenangan-kenangannya bersama Rae Ah hingga ia lupa untuk kembai memutar lagu itu. Kyuhyun memang sengaja tidak mengaktikan putar ulang otomatis agar tidak terlarut dalam kenangan. Namun ternyata malah berakibat fatal.

Lagu 7 Years of Love miliknya mengalun menggantikan Daybreak Rain milik Shannon Williams. Hatinya berdesir kuat. Ia merasa sakit begitu menyiksa dadanya. Satu-satunya lagu milik Cho Kyuhyun yang ia biarkan ada dalam ponselnya. Kyuhyun tidak pernah menyimpan lagu-lagunya dalam ponsel namun pengecualian untuk yang satu itu. Ia menyukainya.

Orang bodoh sekalipun akan tahu mengapa Kyuhyun menyimpan lagu itu. Lagu yang selalu membawa kepedihan tiap kali memutarnya, lagu yang membuat Kyuhyun menjadi orang cengeng.

 

Kyuhyun menghentikan lagunya. Menutup aplikasi musik, beralih membuka daftar kontak. Menimbang-nimbang apakah ia akan menelepon Rae Ah atau tidak. Kyuhyun hanya ingin mendengar suara gadis itu. Ia sudah merindukan Rae Ah terlalu banyak.

Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Kyuhyun mengambil ponsel lain dari saku jaket. Ponsel yang ia dapatkan setelah sampai di sini. Ia kemudian memasukkan nomor Rae Ah yang sudah sangat ia hafal, menekan tombol call lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.

Kyuhyun tahu dari Kibum bahwa Rae Ah menemui Chanyeol di Munich. Sehausnya tidak apa-apa jika ia menghubungi Rae Ah sekarang. Waktu London menunjukkan pukul delapan, artinya di Munich pukul sembilan. Tidak terlalu malam.

 

“Halo,” setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Kyuhyun. Suara terdengar merdu dan menyesakkan dada di saat bersamaan.

Kyuhyun menahan isakannya agar tidak keluar. Ia ingin mengucapkan banyak hal tapi tidak bisa. Ia tidak ingin Rae Ah mendengar suaranya yang parau karena menangis. Ya Tuhan, Kyuhyun sangat merindukan Kim Rae Ah.

“Kyuhyun, kaukah itu?” tanya Rae Ah dengan suara yang terdengar begitu lirih, membuat Kyuhyun semakin terisak kemudian memutuskan sambungan.

 

Mendengar Kim Rae Ah bertanya apakah itu dirinya, ingin sekali Kyuhyun berteriak pada gadis itu bahwa ia rindu hingga seperti ingin mati. Kyuhyun ingin berteriak bahwa ia mencintai Rae Ah jauh sebelum Chanyeol mencintainya. Namun yang bisa Kyuhyun lakukan hanyalah menangis dalam pedih, meratap pada rasa yang tak pernah terbalas.

 

_o0o_

 

Kim Rae sedang melamun ketika mendengar teriakan dari arah kamar Chanyeol. Ia memikirkan kejadian beberapa hari yang lalu saat sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Kode London dan Rae Ah yakin itu adalah Kyuhyun, tapi laki-laki itu tidak bersuara sama sekali.

Gadis itu bergegas keluar menuju kamar Chanyeol yang terletak di sebelah kamarnya. Sesampainya Rae Ah di ambang pintu, gadis itu terkejut melihat ibu Chanyeol memeluk anak laki-laki kesayangannya dan menangis histeris.

 

Rae Ah bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Chanyeol terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan peralatan medis menempel di tubuhnya. Ia dinyatakan koma.

Sudah delapan jam sejak Chanyeol dibawa ke rumah sakit. Masa kritisnya telah lewat namun belum bisa dipastikan kapan laki-laki itu akan bangun. Rae Ah merasa sangat buruk. Ia mengingat pembicaraannya dengan Chanyeol kemarin.

Mereka kembali terlibat pembicaraan mengenai perasaan Rae Ah terhadap Kyuhyun setelah beberapa hari lalu juga membicarakan tentang hal tersebut di sebuah restoran. Chanyeol yang memulai pembicaraan itu.

 

“Aku akan tenang jika orang yang kau cintai adalah Kyuhyun hyung. Setelah aku pergi, akui perasaanmu padanya, ya?” kalimat yang Chanyeol lontarkan waktu itu membuat Rae Ah merasa marah. Ia tidak suka Chnayeol berkata seperti itu. Ia merasa buruk.

“Apa maksudmu?”

“Jangan marah,” Chanyeol menggenggam tangan Rae Ah yang mengepal di atas pahanya, membuat gadis itu mengerjap. Rae Ah menatap Chanyeol yang tersenyum begitu hangat.

“Sejujurnya, aku ingin sekali marah ketika kau tidak menyangkal ucapanku tentang menyukai Kyuhyun hyung. Aku merasa dihianati, tapi kemudian aku sadar bahwa itu telah menjadi rencana Tuhan. Aku akan pergi. Aku pikir, Tuhan mungkin ingin mengembalikan tugas menjaga dan mendapingimu pada Kyuhyun hyung. Selama ini Tuhan hanya meminjamkan posisi itu karena Dia tahu aku tidak akan hidup lama sebagai seorang Park Chanyeol,”

“Chanyeol–”

“Dengar, aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau bahagia tanpaku. Kau boleh –bahkan harus menintai Kyuhyun hyung dengan sepenuh hatimu, tapi kuminta, sisakan sebuah tempat di hatimu untukku. Bisakah?”

 

Chanyeol terkejut melihat Rae Ah menepis genggaman tangannya. Gadis itu berdiri dengan wajah basah akibat menangis, menatap Chanyeol dengan tatapan menyala.

“Perkataanmu membuatku menjadi gadis buruk, Chanyeol. Tidak bisakah kau mengabaikan perasaanku pada Kyuhyun dan tetap di sampingku? Perasaanku berubah juga karenamu! Kau pikir selama dirimu menghilang, siapa yang memberikan perhatiannya padaku? Siapa yang menenangkan pikiranku yang selalu buruk tentangmu? Siapa yang menghapus air mataku? Kenpa kau berkata seolah-olah kau menyalahkanku?!”

Setelah itu Rae Ah pergi dan tidak bertemu lagi dengan Chanyeol. Gadis itu mengurung diri di kamar. Ia menyesal telah berkata kasar. Sekarang ia menyaksikan penderitaan Chanyeol.

Seharusnya ia tidak seperti itu. Chanyeol menghilang karena memikirkan kebahagiaannya. Sekarang, ia hanya ingin Chanyeol bangun kemudian ia akan meminta maaf. Ia harus meminta maaf karena telah berkata kasar –dan menghianati cinta mereka.

 

Dua jam kemudian, bukan berita bahagia yang ia dapat melainkan berita buruk. Beberapa saat yang lalu tim dokter yang menangani Chanyeol berlarian menuju ruang rawat laki-laki itu. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan dan membuat Rae Ah serta keluarga Chanyeol menunggu dalam kepanikan, kepala tim dokter itu keluar, menunjukkan wajah sendu dan penuh penyesalan.

“Kami telah berusaha tapi Tuhan memiliki kehendak lain. Waktu kematiannya adalah pukul 05:21 Waktu Eropa Tengah. Maafkan kami,” dokter itu menepuk pelan pundak Rae Ah kemudian berlalu dari sana, meninggalkan Rae Ah dan kedua orang tua Chnayeol dalam kesedihan mendalam.

 

Ayah dan ibu Chnayeol menangis, meraung di hadapan mayat anak laki-laki yang sangat mereka cintai. Menangis dalam penyesalan panjang karena tak memberikan perhatian khusus selama Chnayeol hidup. Mengabaikan hidup darah daging mereka yang tenyata sangat sebentar demi perusahaan.

Sang ibu meraung, memukul dada sang ayah yang memilih untuk menangis dalam diam dan menenangkan perempuan paruh baya yang telah menemani hidupnya selama puluhan tahun.

 

Berbeda dengan kedua orang tua Chanyeol, Kim Rae Ah justru diam tanpa ada gerakan sedikitpun di samping wajah Chanyeol yang memucat. Tatapan matanya kosong meski air mata terus mengalir membasahi wajah.

Tidak ada yang tahu apa yang berkecamuk dalam pikirannya. Gadis itu tidak bersuara sedikitpun. Bahkan hingga dokter-dokter itu membawa Chanyeol ke tempat lain, Kim Rae Ah masih tetap diam di tempat seakan-akan ada sesuatu yang merekatkan kakinya dengan lantai.

Rae Ah ambruk beberapa saat kemudian. Tubuhnya mulai bergetar bersamaan dengan racauan-racauan menyayat hati keluar dari mulutnya, menimbulkan empati pada orang-orang yang melihat. Menyisakan duka mendalam pada dinginnya lantai yang menyaksikan.

 

TBC

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

18 thoughts on “Fate Part 7”

  1. Kenapa kyuhyun klo gak kebagian si arogan pasti kebagian yg ke dua hahaha. #poorr kyuhyun
    Gpp lahhh. Tetep semangatttt

  2. Setelah sekian lama ditunggu begitu muncul mengapa chan meninggal? Ada sedih swkaligua kelegaan. Sedih karena chan harus meninggal tapi lega karena dia melepas cintanya untuk kyuhyun.
    Dan apa jongwon akan menyusjn dendam setelah ini nanti? Dendam sama yahnya sendiri? Sangat rumit konfliknya. Next ditunggu lanjutannya y, fighting!

  3. HUWAAAAAAA CENYOLLLLLLLL😫😫😫
    Kasiaan re ah ditinggal cenyol😭😭
    Kyuhyun kenapa ga jengukin cenyol sih huhuhu
    Next part ditunggu minguu yaah kak! Wkwkkw 💖💖💖

  4. aku jg rada lupa storyline critanya pas awalbaca agak bingung aku hahaha.
    sbenerny serb salah jg sih jd rae ah.
    dan demi apa pny bapak macam setan gt!!!
    ada ya bapak kaya gt ckckckck.
    nggg mw pengakuan ntah knp pas dtengah crita brasa rela2 aja chanyeol mati hahahaha.
    biar rae ah ga bimbang gt hahaha

  5. Kasihan chanyeol dia meninggal dengan keadaan ditinggal rae ah karen mengurungkan diri di kamara,sedangkan chanyeol sedang berjuang menfhadapi hidup dan mati. Pasti rae ah akan menyesal banget karena berkata kasar.. ditunggu part selanjutnya thor,fighting..

  6. Aku udh bca d flayingnc tpi lupa partnya hehe ,, apa udh jlan tuhan yeol cpeet bngt d ambil krna rae emg udh spntasnya mlik kyuhyun , smoga yeol bhagia d sisinya😇 tpi knpa saat yeol mninggal rae ah gak ada d sampingnya 😓

  7. Eon, ini bkin aku nangis,, semua pada sedih chanyeol, kyuhyun, rae ah.. lanjut ya thor smpe bres! Keep writing ini ff yg kren

  8. Chanyeol-nya pergi ??
    Kyuhyun pun pergi tapi dalam konteks lain

    ya ampuuun
    Keduanya pergi dan masalah keluarga menunggu Rae Ah

    demi PSP tercinta Kyuuuu
    gak tahan aaku kalau gak nangis
    Kyuhyun nangis itu godaan terbesar buat aku ikutan nangis meski cuma di FF
    aku gak bakal sanggup kalau Kyuhyun uda nangis
    bakal terngiang2 dikepala aku gimana cara Kyu nangis kayak gini
    terisak2 sambil nutupin mulutnya
    oh myyy aku jadi ingat EHB -__-”

    Rae Ah mengakui bahwa ia mencintai Kyu
    kalau dia tau Kyuhyun bahkan mencintai dia sejak sebelum ada Chanyeol gimana ya
    ckckckck

    aaaaah komen aku panjang ya
    kkkk
    maaf ya kebiasaan kalau komen

    semangat ya buat part selanjutnya
    beneran gak sabar nunggunya kkk

    fighting !!!!

  9. Terjawab sudah pertanyaan ku di part sebelumnya…
    Ya ampun maaakkkk aku sedihhh napa lebih sedih liat kyuhyunnya ya

  10. gilaaaaaaaa chapter ini bikin nangis dari awal sampe akhir gilaaaaa ga ngerti lagi ini kenapaa bisa gini huwaaaaa kerasa bgt feelnya gimana rae ah hancur satu begini yg satu begini juga astaga ga ngeeti lagi aaaakkk

  11. Duhhh kasian chanyeol, tapi biasanya orang mintanya buat cewenya cari pengganti terus mencintai cowo lain dengan sepenuh hati dan ngelupain dia, ehh ini chanyeol minta dikasih rua g sedikit dihati rae ah, mungkin berbeda kali yaa wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s