Loreley Part 1/3

FF ini merupakan FF proyek hari jadi keduanya FlyingNC. Yang suka maen ke sana pasti pernah baca atau minimal pernah liat judulnya. Hihi
Aku mau berbagi kebahagiaan sama kalian. Ff ini juara satu dongs hehe
Aku bikin ini singkat banget waktunya. 2 hari 3 malem. Tapi untunglah gak sia-sia^^

 

Happy reading and sorry for typos.

 

o0o

 

Aliran sungai Rhein pagi ini tampak begitu tenang. Burung-burung berterbangan di atas perkebunan anggur yang sangat luas membentang, bertingkat di pinggiran Sungai Rhein, mengumandangkan nyanyian pagi. Ikan-ikan penghuni sungai itu berenang ke sana ke mari. Pemandangan pagi hari sebelum matahari terbit sepenuhnya memang selalu menakjubkan, terutama jika menikmatinya dari sini.

Gadis yang diperkirakan berusia dua puluhan tahun itu menutup mata dengan senyuman indah menghiasi wajahnya. Setiap hari sebelum matahari benar-benar menampakkan wujudnya, gadis itu akan mengunjungi tempat yang sudah menjadi favoritnya selama tiga tahun belakangan.

Di sini ada sebuah gubuk kecil menghadap langsung ke sungai. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sini sehingga ia tidak perlu khawatir akan terlambat untuk bekerja di kebun. Ya, gadis itu bekerja di perkebunan anggur ini. maka dari itulah ia selalu suka berdiam di sini sebelum bekerja untuk sedikit melupakan masalah hidup yang selalu bertubi-tubi menghampiri ia dan keluarganya. Di sini, setidaknya gadis itu bisa tersenyum. Tidak lagi mengingat kesulitan hidup keluarganya meskipun tidak sampai satu jam lamanya.

Gadis itu melihat sekilas jam yang melingkari tangan kurusnya lalu mendesah berat. Sudah waktunya untuk bekerja. Kemudian dengan langkah ringan gadis itu berjalan menyusuri jalan setapak menuju tempatnya bekerja.

 

Kim Rae Ah, gadis itu bekerja di kebun anggur milik pengusaha sukses yang masuk ke dalam daftar lima orang terkaya di daratan Eropa. Ia bekerja sebagai pengawas bagi petani anggur di kebun bagian barat, bagian yang katanya merupakan kesukaan sang pemilik. Kim Rae Ah sendiri tidak yakin kenapa sang pemilik begitu menyukai kebun bagian barat, ia bahkan tidak tahu seperti apa sosok tuan tanah itu.

Ia hanya tahu dari gosip yang beredar bahwa pemilik kebun ini adalah orang Korea, sama seperti dirinya. Kebun ini bukan usaha utamanya melainkan hanya sebagai sampingan karena pemilik yang Rae Ah tahu bernama Cho Kyuhyun itu sangat menyukai bahkan terobsesi pada anggur sejak kecil. Orang kaya memang bebas melakukan apapun. Bahkan untuk menyalurkan hobipun bisa menjadi sebuah bisnis di atas tanah yang begitu luas.

Kim Rae Ah menarik napas dengan hidung lalu membuangnya melalui mulut. Seandainya ia memiliki keluarga yang kaya seperti Cho Kyuhyun ini, mungkin hidupnya tidak akan sulit. Ia tidak perlu bekerja di kebun, berhadapan langsung dengan teriknya matahari. Meski pekerjaannya hanya mengawasi, tetap saja dapat membuat tubuhnya lelah terutama jika matahari sedang dalam keadaan baik untuk menyalurkan energi panasnya.

Sadar atas apa yang dipikirkannya adalah sebuah kesombongan, Kim Rae Ah memukul kepalanya sendiri, cukup keras. Sombong sekali ia mengharapkan orang tuanya memiliki kekayaan seperti ini. Seharusnya ia bersyukur karena hingga saat ini orang tuanya masih hidup dengan sehat dan memberinya kasih sayang tanpa batas meski hidup dalam kekurangan materi.

“Kim Rae Ah fighting!” gadis itu mengucapkan ‘mantra’ paginya agar ia selalu ingat bahwa bekerja di kebun bukanlah hal buruk. Ini lebih baik daripada ia menganggur di rumah dan menjadi beban ibu serta neneknya.

Orang Korea yang tinggal di Eropa biasanya memiliki taraf hidup cukup tinggi tapi tidak dengan Rae Ah. Gadis itu terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang Korea yang mencoba peruntungan saat muda ke Jerman, menikah dengan ibunya yang seorang Jerman. Sama-sama keluarga sederhana dan tidak memiliki garis keturunan dari bangsawan Korea maupun Jerman.

Ayahnya meninggal dua tahun lalu karena sakit, tepat setahun setelah Rae Ah masuk ke universitas. Meski sederhana, ayahnya tetap mengutamakan pendidikan. Hidup di Eropa apalagi Jerman tanpa keahlian hanya akan membuat hidupmu sengsara. Itulah pendapat sang ayah.

Sang ayah pergi tanpa meninggalkan sedikitpun harta warisan untuk Rae Ah dan ibunya karena mereka memang keluarga yang hidup pas-pasan. Karena itulah Rae Ah menyerah dengan studinya di universitas dan memilih untuk bekerja di kebun anggur terbesar di Jerman ini. Ia bisa diterima dengan mudah karena ayahnya bekerja di sini sebelum meninggal.

 

_o0o_

 

Sungai Rhein membentang dari Pegunungan Alpen di Swiss melewati Liechtenstein, Austria, Jerman, Perancis, Luxemburg, Belgia, dan Rotterdam –Belanda. Salah satu negara bagian Jerman bernama Rheinland Pfalz karena hampir separuh dari sungai ini mengalir di Jerman. Di wilayah ini keeksotisan Sungai Rhein yang terpancar melalu perpaduan landscape budaya dan alam yang sangat indah.

Salah satu kawasannya dikenal dengan Romantischer Rhein atau Romantic Rhine –dalam bahasa Inggris, karena menyajikan  pemandangan luar biasa indah berupa hamparan perkebunan anggur bertingkat, desa dan kota tua, serta kastil dan istana dari abad pertengahan yang diselimuti dongeng dan legenda tentang keberanian, cinta, dan penghianatan.

Kota Ruedesheim adalah kota yang terkenal dengan hasil perkebunan anggur terbaik di Jerman. Cho Kyuhyun, laki-laki berusia dua puluh delapan tahun asal Korea Selatan memiliki andil dalam industri minuman anggur di Jerman abad ini.

 

Berawal dari masa kecil yang sangat menggilai buah anggur Cho Kyuhyun memutuskan untuk memiliki kebun sendiri agar bisa menikmati buah paling enak versinya itu kapanpun ia mau. Kyuhyun mengutarakan keinginan tersebut pada sang ayah pada usia ke sembilan belas. Cho Younghwan –ayah Kyuhyun tahu bahwa keinginan anak semata wayangnya itu bisa menjadi investasi masa depan. Tepat di usia Kyuhyun yang keduapuluh tahun Younghwan menghadiahkan kebun anggur tersebut.

Tidak boleh ada yang mengusik kebun anggur miliknya. Laki-laki tampan dengan perawakan bak atlet itu akan sangat murka jika seseorang mencuri anggurnya. Ia tidak akan segan untuk berbuat keji jika mendapati seseorang mencuri di kebunnya. Hal itu tidak bisa ditoleransi karena Kyuhyun menganggap kebun ini lebih berharga bahkan dari perusahaan yang saat ini ia pimpin setelah sang ayah lengser dari jabatannya.

Kebun anggur terluas dan terbaik di Jerman itu bukanlah satu-satunya kekayaan yang dimiliki Kyuhyun. Laki-laki itu memperlakukan kebunnya sebagai sesuatu ayng ia sukai dan ia cintai. Berbeda dengan perusahaan yang Kyuhyun saat ini pimpin, perusahaan elektronik terbesar di Stuttgart bernama Bosch. Ia menjalankan perusahaan semata-mata karena tanggung jawab dan hormat pada sang ayah. Untuk itulah ia memilih tingal di Ruedesheim daripada di Stuttgart, datang ke perusahaan hanya tiga kali dalam seminggu, memantau mobilisasinya melalui sebuah benda pipih bernama tablet.

 

Pagi ini, seperti biasa Kyuhyun berkeliling di kebun bagian barat. Ada sesuatu di sana yang membuat Kyuhyun menyukai kebun itu, kebun yang jika diperhatikan tidakah berbeda dengan kebun bagian manapun.

Sesungguhnya tidak ada yang tahu seperti apa wajah Kyuhyun sebagai pemilik kebun anggur itu. Kyuhyun selalu mengunjungi kebun di pagi hari mengenakan pakaian layaknya pegawai kebun. Ia juga selalu menyerahkan urusan perekrutan pegawai pada sekretaris pribadinya, Lee Seunghyub. Jadi tidak heran jika tidak ada yang mengenal Kyuhyun.

 

“Permisi,” alunan pelan sebuah suara menghentikan kegiatan Kyuhyun yang sedang memetik buah anggur dan memakannya. Ia menoleh ke belakang dan mengernyit heran melihat seorang gadis berkacak pinggang, menatapnya dengan tajam.

“Anda pekerja kebun ini, paman? Berani sekali memakan buah anggur di sini. Anda akan dipecat atau mungkin dipenjara jika pemiliknya tahu,” gadis itu bicara dalam satu kali tarikan napas. Kyuhyun mengangkat alisnya tinggi-tinggi seraya menahan tawa dan kesal sekaligus. Paman? Kyuhyun tidak merasa setua itu untuk dipanggil paman oleh gadis yang ia perkirakan berada di antara usia dua puluh atau dua puluh satu tahun.

“Pemiliknya tidak akan tahu jika kau tidak mengadu, anak kecil.” balas Kyuhyun santai sembari tetap memakan buah anggur hasil petikannya. Rae Ah membulatkan matanya, menatap Kyuhyun geram. Akan tetapi beberapa saat kemudian gadis itu melemaskan bahunya dan berjalan pelan melewati Kyuhyun.

“Sudahlah, sebaiknya anda pergi saja. Saya tidak akan mengadu,” ucapnya sebelum menjauh dari Kyuhyun. Kali ini Kyuhyunlah yang dibuat geram. Gadis itu bukannya bekerja di sini? Berani sekali dia membiarkan orang lain mencuri anggurnya. Apa jangan-jangan ia selalu seperti itu setiap kali bertemu pencuri anggur?

Tarik napas perlahan lalu buang dengan kasar. Kyuhyun melakukan seperti yang Kibum –dokter pribadinya instruksikan. Akhir-akhir ini Kyuhyun mudah stress dan emosinya menjadi tidak terkendali. Gadis tadi membuatnya harus menekan emosi dalam-dalam. Beri aku kesabaran, Tuhan.

 

_o0o_

 

Sebuah rumah sederhana yang berdiri tak jauh dari lokasi perkebunan anggur paling terkemuka di Jerman itu terlihat hening. Tidak ada yang berbicara selain mata dua orang perempuan yang bergerak gelisah menatapi seorang perempuan paruh baya berbaring lemah di atas tempat tidur. Dua perempuan beda usia itu sibuk memikirkan jalan keluar untuk masalah yang mereka hadapi saat ini.

“Nenek harus segera diobati, bu. Besok kita harus membawanya ke rumah sakit,” perempuan yang lebih muda memecah keheningan.

“Kita tidak memiliki uang, Kim Rae Ah. Gajimu sebagai pengawas di kebun anggur itu tidak akan  cukup bahkan jika digabungkan dengan gajiku sekalipun,” Kim Rae Ah menghela napas berat. Gadis itu kemudian bernanjak dari duduknya.

“Ibu tenang saja, aku akan mendapatkannya. Percaya padaku,”

“Mau ke mana?”

Rae Ah berhenti di ambang pintu dan menjawab pertanyaan sang ibu tanpa menoleh sedikitpun, “Mencari uang,”

 

Rasa sakit itu kembali menghampiri kala anak gadis semata wayangnya menutup pintu dan pergi entah ke mana. Emma Beck, perempuan asal Jerman itu merasa telah gagal memberikan rasa nyaman pada Rae Ah. Setelah suaminya meninggal dan Rae Ah harus menyerah pada pendidikannya, gadis cantik itu berubah menjadi orang yang tidak ramah bahkan pada ibunya.

Kim Rae Ah memang selalu mengatakan ia baik-baik saja dengan keadaan ini tapi sebagai ibu Emma juga tahu, anak gadisnya terluka. Terluka saat sudah berada di jalan yang membawanya kepada sebuah impian yang akan terwujud, tapi belum sampai pada seperempat perjalanan, semua itu harus sirna.

Emma menyaksikan sendiri betapa Kim Rae Ah ingin menjadi seorang dokter hebat, berhambur ke dalam pelukannya dengan rona bahagia ketika mendapat surat yang menyatakan gadis itu diterima menjadi mahasiswa kedokteran di University of Munster dan mendapat beasiswa. Ia juga menyaksikan sendiri betapa terpukul Kim Rae Ah ketika terpaksa mengakhiri studinya demi membantu perekonomian keluarga setelah kepergian sang ayah. Emma tidak bisa berbuat apa-apa karena ia sendiri tidak bisa menjamin akan membantu hidup Rae Ah sebagai mahasiswa di sebuah universitas terbaik ketiga di Jerman tersebut.

 

Lagi, sebagai seorang ibu yang tidak bisa melakukan apapun untuk anak semata wayangnya, Emma hanya bisa berharap Rae Ah akan menemukan laki-laki yang menyayanginya dan tidak membiarkan anak gadisnya itu hidup dalam kesulitan ekonomi. Emma hanya berpikir rasional, bukan berarti ia materialistis.

 

_o0o_

 

Sudah hampir tengah malam. Kemana ia harus mencari uang banyak agar bisa membawa nenek ke rumah sakit? Nenek memang sudah tua dan wajar jika sakit-sakitan, tapi bukan berarti karena kewajaran itu Rae Ah hanya berdiam diri tanpa memberikan pengobatan terbaik.

Tanpa sadar gadis itu telah berada di sebuah gubuk yang biasa didatangi sebelum pergi ke kebun. Rae Ah menghela napas berat lalu duduk di sana, menekuk kaki lalu menumpu kepalanya di atas lutut. Matanya menatap nanar ke arah sungai yang terlihat tenang tanpa riak.

 

Gadis itu memutar ingatannya pada saat-saat bahagia ketika dirinya masih menjadi mahasiswa di Universitas Munster. Ia bahagia sekali karena bisa masuk ke universitas terbaik yang menjadi impiannya itu, bahkan mendapatkan beasiswa. Meski tidak memiliki banyak teman, gadis itu tetap bahagia. Lagipula, tujuannya ke sana adalah untuk menjadi dokter, bukan mencari teman. Ia sudah terbiasa tidak memiliki teman.

Kebahagian itu harus pupus dalam sekejap setelah kepergian ayahnya. Ia memang baik-baik saja tapi di sudut hatinya yang paling dalam, keinginan untuk menjadi dokter itu masih ada. Bahkan cukup kuat.

 

Mata kelabunya kemudian mengitari kebun anggur yang membentang luas di sepanjang aliran Sungai Rhein ini. Haruskah ia melakukannya? Mencuri anggur lalu menjualnya. Tidak ada pilihan lain. Ia tidak memiliki orang lain selain ibu dan neneknya untuk dimintai pertolongan.

Gadis itu itu baru akan beranjak namun ide lain melintas dalam benaknya. Meminjam uang pada pengelola kebun. Ya, meminjam lebih baik daripada mencuri. Tidak pernah ada yang membenarkan tindakan mencuri meskipun digunakan untuk kebaikan. Tidak pernah ada.

Kemudian dengan langkah pasti Kim Rae Ah berjalan menuju kantor pengelola kebun yang terletak di bagian barat perkebunan ini. Kantor itu dulunya berada di bagian selatan tapi entah untuk alasan apa berpindah ke bagian barat, beberapa tahun lalu.

 

_o0o_

 

Meski sudah hampir tengah malam, kantor pengelola kebun itu masih terlihat terang benderang. Rae Ah yakin di dalamnya orang-orang masih beraktivitas. Apakah mereka tidak lelah bekerja hingga selarut ini?

Rae Ah melongokkan kepalanya ke dalam, berharap ada orang yang bisa diajak bicara. Beruntung jika manajer langsung yang mau berbicara dengannya. Masih melongokkan kepalanya ke sana kemari saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Rae Ah terlonjak, berbalik menghadap ke arah orang itu dengan kedua tangannya di depan dada.

 

“Maaf membuatmu terkejut. Sedang apa di sini?” orang yang menepuk bahu Rae Ah tadi adalah seorang laki-laki dengan tinggi kira-kira 180an sentimeter. Wajahnya tampan dan tubuhnya cukup kekar. Untuk beberapa waktu Rae Ah sempat terpesona.

“Nona?” laki-laki itu mengibaskan tangannya di depan wajah Rae Ah, membawa kembali Rae Ah ke alam sadar. Rae Ah mengerjap kemudian tersenyum kaku pada laki-laki itu.

“Y-ya, aku ingin bertemu dengan manajer kantor ini. Ada yang ingin kusampaikan,” jawab Rae Ah pelan. Laki-laki itu mengerutkan dahi dalam-dalam. Setelah diperhatikan ia seperti tidak asing dengan wajah gadis di hadapannya ini. Di mana?

“Namaku Seunghyub, Lee Seunghyub. Bicara saja denganku, aku yang bertanggung jawab atas kebun ini.” Seunghyub mengulurkan tangannya ke hadapan Rae Ah. Rae Ah menatap tangan itu kemudian menyambutnya dengan ragu. Seunghyub tersenyum. Gadis yang manis, pikirnya.

“Namaku Kim Rae Ah,”

Whoa! Kau Orang korea rupanya. Aku rindu sekali berbicara menggunakan bahasa Korea. Kita mengobrol menggunakan bahasa Korea saja, bagaimana? Ayo ikut aku!” Seunghyub terlalu antusias menarik tangan Rae Ah menuju ruangannya di lantai dua sampai-sampai ia tidak memperhatikan wajah bingung Rae Ah. Demi Loreley yang menjadi legenda Sungai Rhein sejak abad romantik, Kim Rae Ah sama sekali tidak mengerti dengan apa yang Seunghyub katakan. Seumur hidupnya ia hanya bicara dalam bahasa Jerman dan Inggris. Meski begitu ia tetap mengikuti Seunghyub dan duduk di atas sofa berwarna putih di sebuah ruangan.

 

Seunghyub tersenyum pada Rae Ah lalu berjalan menuju mini-bar dan meracik sesuatu di sana. Untuk pertama kalinya ia seantusias ini bertemu dengan seorang gadis. Padahal jika dilihat dari penampilannya, gadis ini terlihat bisa-biasa saja, tidak ada yang spesial.

Tunggu, demi apapun Seunghyub merasa tidak asing dengan wajah gadis itu. Wajah orientalnya yang bercampur dengan wajah barat seperti mengingatkannya pada seseorang. Bukan hanya struktur wajah, tapi dari cara gadis itu menatapnya juga mengingatkan Seunghyub pada seorang paman baik hati yang bekerja di kebun ini.

 

“Di luar tadi cukup dingin dan aku yakin teh ini akan membuatmu hangat. Minumlah,” ujar Seunghyub seraya menyodorkan mug ukuran sedang berisi teh hangat. Ia menggunakan kembali bahasa Jermannya. Rae Ah menerima mug itu dengan ragu, kemudian tersenyum mengucapkan terima kasih.

“Jadi, apa yang ingin kau sampaikan? Aku akan mendengar,” Rae Ah menunduk, menatap mug di tangannya. Ia bingung harus memulai dari mana.

“Aku bekerja di kebun ini sebagai pengawas di bagian barat. Aku ingin meminta bantuan,” ucap Rae Ah ragu. Seunghyub mengangkat alisnya. Gadis semanis ini bekerja di kebun? Rata-rata pekerja di kebun ini adalah para orang tua yang sudah pensiun dari pekerjaannya.

“Bantuan apa?” Rae Ah melirik ragu ke arah Seunghyub. Wajah tampan itu entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi menakutkan bagi Rae Ah. Mungkin karena ia gugup dan takut untuk meminta bantuan pada orang asing.

 

“Aku –nenekku, aku ingin meminjam uang untuk biaya pengobatan nenekku. Beliau sedang sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit,” Rae Ah kembali menunduk setelah mengucapkan kalimat itu, tidak lagi berani menatap Seunghyub yang duduk beseberangan dengannya.

“Meminjam uang? Berapa banyak?”

“Seribu euro,”

“Sebanyak itu?” Rae Ah mengangguk. “Kapan uang itu dibutuhkan?” lanjut Seunghyub.

“Besok pagi,”

“Besok pagi, ya? Kebun ini diawasi oleh pemiliknya langsung. Aku harus berdiskusi dulu dengannya.” Seunghyub menunjukan raut penuh penyesalan. Rae Ah menunduk semakin dalam, tahu bahwa permintaannya tidak mungkin dikabulkan oleh laki-laki bernama Seunghyub itu.

“Datanglah lagi besok malam. Aku yakin Kyuhyun akan memberimu pinjaman,” lanjut Seunghyub. Meski begitu Rae Ah tetap tidak bisa menyingkirkan asumsinya yang mengatakan bahwa Seunghyub menolak permohonannya. Ia membutuhkan uang itu besok pagi, bukan besok malam.

“Kalau begitu permisi, Tuan. Aku harus segera pergi dan –terima kasih tehnya,” Rae Ah buru-buru berdiri, membungkuk pada Seunghyub kemudian berlalu meninggalkan Seunghyub dalam raut penyesalan. Datang lagi besok malam? Yang benar saja, Lee Seunghyub. Cho Kyuhyun tidak mungkin berbuat baik pada orang lain apalagi pada seorang gadis yang bekerja di kebunnya.

 

_o0o_

 

Kebun ini sangat sepi, meski begitu bukan berarti tidak ada orang sama sekali. Perkebunan anggur ini dijaga ketat oleh orang-orang ahli di bidangnya yang disewa sang pemilik. Rae Ah tidak habis pikir sebenarnya sekaya apa orang ini? CEO dari sebuah perusahaan elektronik terbesar di Jerman bahkan dunia, juga memiliki kebun anggur yang membentang luas di Ruedesheim, memproduksi berbagai jenis minuman anggur dengan predikat terbaik.

Langkah kakinya berhenti di tengah-tengah kebun. Mengitari area itu dengan mata cantiknya, mencari pergerakan dari orang-orang yang bertugas menjaga kebun. Gadis itu menghembuskan napas lega setalah yakin dan pasti bahwa tidak ada siapapun di sini. Memejamkan mata lalu mengeluarkan sebuah kantung dari dalam saku celana, kantung dengan ukuran besar yang ia bawa dari rumah tadi.

 

Perlahan gadis itu mulai memetik buah anggur yang sedang tumbuh, anggur terbaik yang dapat menghasilkan wine terbaik pula. Memasukkan buah anggur hasil petikannya dengan hati-hati dan berusaha sekeras mungkin agar tidak mengeluarkan suara sekecil apapun.

Kantung besar berwarna putih itu sudah terisi setengah. Rae Ah menghentikan kegiatannya memetik buah, merasa seperti ada mata yang mengawasi. Ditambah dengan suara gemerisik daun. Apakah ada orang? Takut-takut gadis itu membalikkan tubuhnya, terkejut saat berhasil melihat apa yang ada di belakangnya.

 

TBC

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

29 thoughts on “Loreley Part 1/3”

  1. selamat ya saengi akhirnya kamu menang juga buat buat project flync2ann
    emang bagus kok ceritanya
    tapi disini aku susah bacanya karna tulisannya yang bercetak hitam ketutup ama backgroundnya yang gelap pula apalagi bacanya aku juga dari smartphone
    hehehe

  2. oh yg ini pemenang lomba anniversarry flingnc itu
    tapi aku belum bca yah,,
    sdikit aneh memang krn kmrin2 cerita nya kebun anggur sama sutradara jdi lupa cerita nya yg mna…
    apakah bkal ktauan sma si cho ??
    kita pa4t depan..

  3. yehet chukkae eonni, ff buatan eonni jadi pemenang juga,,, saya juga pernah baca di flaying nc.. dan saya suka sama jalan ceritanya…

  4. yee..selamat buat eonni udah menang lomba ff nya..kkk

    Tapi emang bener ceritanya seru,bikin nyaman sama gereget aja gitu.
    Wk..sebenernya aku baca ff pas sequelnya aja yg dipost di wp flying , dan itupun dari hape temen.eh ngubek-ngubek ketemu awal ceritanya..kkkk

  5. q udh bca ff ini d flaying nc,,, ff ni emng bagus gk slah kl ff ini menang,,,
    sakking kepepetny rae ah jdi mencuri,,, keada’an yg memaksa,,,, kasihan rae ah

  6. Bagus ini ceritanya, awalnya aku penasaran sm proposal(sequel ff ini,)dan ternyata ini slh satu ff project di flayingncfanfaction,ternyata kereen ceritanya.oke lah sm lanjut baca ya, makasih udh izinin mampir keblognya. ^_^

  7. aku baca ini kemarennn di blog ff nc … aku denger menang yahhh eonn… huaaaaa chukaeee,

    aku udh lama gg baca ff, jd ketinggalan info wkwkkwkw, jd baru tauuu hihi

  8. Sebenarnya udah pernah baca di FNC tapi cuma part 1 trus aku lupa sama judul fanfi nya XD tapi akhirnya ketemu diblog pribadi author. Btw, duh rae ah udh ketahuan pasti sama kyu, trus diapain sama si setan gembul? mudah2an dijadiin istri aja yak, haha:d

  9. Huaaaaa kyu yg mergokin rhaeah?? Dughh degdegann..

    Ehem..! Saia mo tanya aq pernah baca ff yg hampir sama kyak gini, tpi aq lupa dimana tpi ada kemiripan. Di ff yg itu sama cuma hidup ma eomma n halmoni jga, cuma klo disini kan karna halmoni sakit maka’a dy nyuri, klo di ff itu krna mo bayar utang yg ditinggal ma appa’a semasa hidup maka’a dy nyuri…

    Intinya sih tema’a sama” kebun anggur dan si wanita sama” bukan org berada..

    Next part ya.. 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s