Star, You

Warning: typo everywhere!

 

Kim Jina POV

 

“Selamat, Noona. Semoga kau bisa membawa East Company kepada kesuksesan yang melebihi pencapaiannya saat ini,” laki-laki tampan itu memberi selamat pada kakakku yang baru saja dilantik menjadi CEO di perusahaan keluarga, East Company. Mengucapkan selamat dengan senyum lebar seperti yang biasa ia tunjukkan jika sedang mengobrol dengan Kim Rae Ah.

“Terima kasih, Jonghyun. Semoga,” balas Rae Ah dengan senyuman tak kalah lebarnya. Kedua orang itu, jika diperhatikan seperti sedang saling jatuh cinta saja. Mereka bahkan melupakan kehadiranku dengan terus membicarakan masalah perusahaan.

 

Kim Rae Ah baru saja dilantik menjadi seorang CEO, tentu saja akan sejalan dengan profesi Jonghyun yang juga seorang CEO sebuah perusahaan elektronik terbesar di Semenanjung Korea. Perusahaan keluargaku dengan perusahaan Jonghyun telah menjalin hubungan kerjasama sejak kami masih kecil. Bisa dibilang, orang tua Jonghyun dengan orang tua kami adalah sahabat sejak lama.

 

Aku dan Jonghyun berteman sejak kami masih sama-sama duduk di bangku sekolah dasar. Bukan karena orang tua kami yang bersahabat makanya kami juga bersahabat, tetapi karena kami memang berada di sekolah dan kelas yang sama. Kami berjanji untuk terus menuntut ilmu di sekolah yang sama. Kami bahkan lulus dari universitas yang sama beberapa tahun lalu. Hanya bedanya, Jonghyun lulus dari Fakultas Bisnis sedangkan aku dari Ilmu Komunikasi.

Tidak ada rahasia di antara kami. Kami bahkan bebas memasuki area paling pribadi masing-masing, kamar tidur. Aku sering meginap di rumahnya begitu pula dengan Jonghyun. Keluarga Lee dan keluargaku tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Orang tua kami tahu hubungan seperti apa yang kami miliki.

Tidak ada persahabatan yang tulus di antara laki-laki dan perempuan, aku setuju dengan istilah itu. Aku menyukai Jonghyun, sejak pertama kali aku mengenal istilah cinta. Mungkin saat aku di sekolah menengah atas.

Saat itu aku sadar bahwa aku menatapnya bukan lagi sebagai seorang sahabat tetapi sebagai seorang perempuan terhadap laki-laki. Senyuman yang selalu ia tunjukkan padaku dan segala bentuk perhatiannya membuat perasaan ini semakin tumbuh. Aku sudah berusaha untuk menghapusnya karena aku sendiri tidak ingin merusak persahabatan kami karena perasaan bodoh yang muncul dalam hatiku ini.

Lee Jonghyun, laki-laki itu selalu mengetahui kondisiku, apa yang sedang kupikirkan, dan segalanya tentangku tapi tidak bisa menyadari rasa cinta yang tumbuh dalam hatiku. Kenapa?

 

“Kapan kau akan membawa calon istrimu ke rumah? Wajahmu tampan. Aku yakin di luar sana banyak perempuan yang akan dengan suka rela melemparkan dirinya padamu,” topik paling sensitif bagiku pun muncul di sela-sela perbincangan mereka. Calon istri? Yang benar saja.

“Tampan? Cih, jangan berlebihan, Kim Rae Ah! Tidak ada yang mau menjadi pacarnya. Dia terlalu dingin terhadap gadis-gadis,” Lee Jonghyun memang seorang laki-laki yang selalu bersikap dingin terhadap perempuan lain di luar sana yang ingin mendekatinya. Setidaknya aku sedikit bersyukur dengan kondisi tersebut karena hanya aku –dan kakakku tentu saja yang bisa melihat Jonghyun dalam berbagai ekspresi, dan ekspresi yang paling kusukai adalah ekspresi cemasnya ketika masalah menimpaku.

“Tidak ada gadis yang semengagumkan noona. Bagaimana kalau noona menikah denganku saja?” that’s the point! Alasan kenapa Jonghyun tidak pernah menyadari perasaanku padanya adalah karena ia terlalu sibuk mengagumi Kim Rae Ah.

Sejak kecil kakakku tinggal di London dengan kakek dan nenek. Ia baru kembali ketika aku baru berganti status dari seorang siswa di sekolah menengah menjadi mahasiswa di sebuah universitas terbaik di Korea Selatan. Usia kami berbeda tiga tahun. Kakakku adalah seorang genius yang berhasil menyelesaikan pendidikannya dalam waktu yang sangat singkat. Hal itu yang membuat Jonghyun terkagum-kagum, selain kesempurnaan fisiknya tentu saja. Kuakui, Kim Rae Ah memang sangat cantik.

 

“Lalu meninggalkan Kyuhyun? Aku tidak yakin akan bertahan hidup lebih lama jika kami berpisah,” ada apa dengannya? Kata-kata yang keluar dari mulut Kim Rae Ah selalu terdengar mejijikkan jika sudah menyangkut tentang Kyuhyun. Kyuhyun adalah tunangan Rae Ah. Kyuhyun dan Rae Ah kuliah di universitas yang sama bahkan tinggal dalam satu gedung apartemen yang sama. Mereka tetangga dan akibat intensitas pertemuan yang sangat sering, terjalinlah hubungan asmara yang menjijikkan. Saling mencintai dan selalu mengatakan hal yang sama jika ditanya seandainya mereka putus.

Aku tidak yakin akan bertahan hidup lebih lama jika kami berpisah. Menjijikkan.

Gumamanku barusan rupanya tersuarakan cukup keras hingga Jonghyun dan Rae Ah menatap ke arahku dengan tatapan sinis.

 

“Cintailah seseorang agar kau tahu bagaimana rasanya bersikap menjijikkan itu, Kim Jina!” cibir Rae Ah disusul oleh tawa  Jonghyun.

“Aku mencintai ayah dan ibu,” juga Jonghyun.

“Eiy, kau benar-benar tidak pernah jatuh cinta rupanya. Kau tidak pernah punya pacar ya?” saat itu juga tawa Jonghyun meledak semakin keras. Kutendang tulang keringnya dan ia meringis kesakitan. Aku hanya tersenyum mengejek. Jonghyun masih meringis.

“Kenapa kalian tidak berpacaran saja? Kalian sudah bersama-sama sejak kecil dan aku yakin kalian sudah saling memahami,”

Ingin sekali aku berteriak dengan lantang bahwa pertanyaan Rae Ah itu merupakan keinginanku tapi tidak bisa. Aku tidak mungkin mempermalukan diri sendiri di hadapan para karyawan yang sedang menikmati hidangan. Aku mencintai Lee Jonghyun hingga hampir gila tapi tetap saja aku tidak boleh membuat diriku malu.

 

“Tidak, noona. Menjadi sahabatnya saja sudah membuatku gila apalagi menjadi pacarnya. Ya Tuhan, aku tidak pernah membayangkan itu.”

Mendengar tanggapan Jonghyun rasanya seperti mendapatkan sebuah vonis bahwa Lee Jonghyun tidak akan pernah menyukai perempuan bernama Kim Jina. Rasa sesak begitu menghimpit dada hingga aku lupa bagaimana caranya bernapas. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah menunduk, mentap lantai dan berusaha menormalkan ekspresiku.

Benarkah kehadiranku selama ini membuat Jonghyun gila? Aku yakin aku tidak bersikap manja padanya. Kelakuanku yang jahil, apakah itu yang membuat Jonghyun tidak pernah membayangkan menjadi kekasihku?  Bisa saja sikapku yang lain.

“Benarkah? Kalau begitu, aku minta maaf jika selama ini selalu bersikap menyebalkan padamu. Kau boleh pergi jika sudah tidak tahan dengan kelakuanku. Aku permisi,”

 

o0o

 

Tidak tahu bagaimana caranya, aku sudah berdiri di belakang gedung kantor tempatku bekerja. Aku bekerja untuk sebuah perusahaan surat kabar terkemuka di Korea sebagai wartawan. Tidak ada yang tahu aku selalu ke tempat ini jika sedang ada masalah dan kebanyakan masalah itu timbul dari hatiku yang tidak bisa menyampaikan perasaannya pada Jonghyun.

Perkataan Jonghyun tadi cukup membuat hatiku terpukul. Bukan tentang diriku yang selalu membuat kepalanya pusing, tapi tentang Jonhyun yang tidak pernah membayangkan akan menjadi kekasihku suatu hari nanti. Aku tidak tahu seburuk itu diriku di hadapan Jonghyun. Lee Jonghyun tidak pernah melihatku sebagai seorang perempuan.

Rasa hangat menyapa wajahku seiring dengan tubuhku yang bergetar. Aku –menangisi Jonghyun lagi. Entah untuk ke berapa kalinya. Aku ingin sekali  mengakhiri cinta sepihak ini tapi hati dan pikiranku seolah berkhianat dengan tetap menyimpan rasa itu hingga terasa begitu sesak.  Aku mencintaimu, Lee Jonghyun.

 

o0o

 

Rasa berat menimpa kepalaku saat aku mencoba membuka mata. Ruangan kamarku seperti berputar. Aku kembali memejamkan mata agar rasa berat di kepalaku berkurang, tapi malah semakin bertambah saat sebuah suara yang sudah sangat kukenal menyapa gendang telingaku. Demi Tuhan, untuk saat ini aku belum siap bertemu dengannya. Lee Jonghyun.

“Badanmu panas sekali,” Jonghyun bergumam panik setelah menempelkan tangannya pada keningku. Aku bahkan tidak dapat merasakan apapun pada tubuhku selalin lemas dan kepala yang berat. Aku masih memejamkan mataku, belum siap menghadapi Jonghyun.

 

Beberapa saat kemudian aku mendengar laki-laki itu berbicara dengan dokter pribadi keluargaku. Sudah kubilang tidak ada rahasia apapun di antara kami, tentu saja jika hanya masalah dokter Jonghyun bisa dengan mudah menghubunginya kapan saja karena orang tuaku memberi kebebasan. Untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padaku ketika mereka tidak di rumah, begitu kata kedua orang tuaku.

 

“Berhenti membuatku  cemas, Kim Jina! Ya Tuhan, tunggulah sebentar. Dokter Yoo sedang menuju ke sini,” mataku memang terpejam dan kepalaku terasa sangat berat tapi aku yakin telingaku masih mampu mendengar dengan baik. Aku dapat menangkap nada cemas dan panik dari cara Jonghyun berbicara.

Sebenarnya ingin sekali kubuka mata ini lalu memperhatikan wajah cemasnya yang setahuku hanya ia tunjukkan jika sesuatu yang buruk terjadi padaku –hanya padaku, tapi tidak bisa. Aku takut hatiku kembali sesak jika melihat wajahnya. Aku mungkin perempuam yang jahat karena senang mendengar sahabatnya sendiri berada dalam kondisi cemas dan panik. Aku sangat menyukai perhatian Jonghyun yang hanya tertuju padaku, meski aku tahu perhatian itu untuk seorang sahabat. Aku selalu menyukai semua hal tentangnya. Hanya satu yang tidak kusukai yaitu hatinya yang hanya mengagumi Kim Rae Ah.

 

o0o

 

Author POV

 

Tinggi, tampan, kaya, pintar, tipe laki-laki yang bisa dengan mudah membuat orang lain terpengaruh sehingga perusahaannya menjadi sesukses saat ini, bisa dikatakan hidup seorang Lee Jonghyun sangatlah sempurna. Benarkah sempurna? Tidak, hidupnya tidak sempurna. Jonghyun selalu menganggap hidupnya tidak pernah sempurna karena ada satu hal yang tidak bisa ia lakukan.

Seumur hidupnnya Lee Jonghyun bisa melakukan apapun, baik dengan usaha sendiri maupun menerima bantuan orang lain. Jonghyun selalu bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Seharusnya ia merasa hidupnya sudah sempurna tapi nyata-nyata ia tidak bisa melakukan satu hal. Satu hal yang membuat hidupnya jauh dari kata sempurna.

 

Mengakui perasaannya pada seorang gadis yang selalu berada di sisinya sejak kecil, seorang gadis yang selalu menghabiskan waktu hanya bersama dirinya seorang, seorang gadis yang hanya memiliki segelintir teman yang bahkan tidak dekat, seorang gadis yang membuatnya merasa dunia akan runtuh jika sedetik saja menghilang dari jarak pandangnya, dan seorang gadis yang mampu membuat seorang Lee Jonghyun mencinta begitu dalam pada satu-satunya anak manusia.

Kim Jina. Satu hal yang membuat hidupnya tidak sempurna adalah karena ia tidak mampu mengakui perasaannya pada gadis itu. Jonghyun terlalu pengecut untuk sekadar mengatakan, aku mencintaimu, menjadi pengecut hanya karena sebuah alasan yang sudah terlalu kuno. Laki-laki itu tidak ingi persahabatan yang telah dibangun belasan tahun itu hancur karena perasaan yang ia miliki.

Lee Jonghyun selalu mampu menebak kondisi Kim Jina. Ketika gadis itu bahagia, ketika sedang bersedih, dan segala hal yang ada pada diri gadis itu selalu mampu ia baca. Namun, ia tidak bisa membaca perasaan seperti apa yang gadis itu miliki terhadap dirinya. Jonghyun memang bodoh jika itu menyangkut perasaannya. Bisa saja, selama ini ia terlalu sibuk menakuti diri sendiri dengan asumsi-asumsi yang menjalar di otak geniusnya hingga ia tidak mampu menyadari perasaan gadis itu, yang mungkin sudah ia ketahui.

 

Bola mata berwarna coklat itu menatap lurus hanya pada satu titik, di mana gadis yang sudah merebut seluruh hatinya tengah terlelap setelah mendapat perawatan dari dokter pribadi keluarga Kim. Tangan besarnya mengusap lembut puncak kepala Jina. Perlahan laki-laki itu menunduk untuk mencium dahinya. Cukup lama Jonghyun mencium dahi gadis yang selalu menjadi favoritnya itu.

 

“Kau menyukai adikku?” alunan suara lembut seorang gadis lain yang sudah sangat ia hafal membuatnya terperanjat kaget. Jonghyun menegakkan tubuhnya dan menatap Rae Ah dengan pandangan yang tidak fokus. Jonghyun salah tingkah karena ketahuan mencium Jina diam-diam.

Noona, tolong rahasiakan ini. Ya?” Kim Rae Ah membulatkan matanya, terkejut mendengar permohonan Jonghyun. Ia kira laki-laki itu akan menyangkal hingga ia harus mati-matian membujuknya agar mengaku. Lee Jonghyun daaebak!

“Kenapa? Jangan menjadi pengecut, Lee Jonghyun!” Jonghyun menutup kedua telinga Jina yang masih tidur dengan pulas, menatap tajam ke arah Rae Ah. “Dia bisa bangun mendengar suaramu,”

Rae Ah mendecih meskipun dalam hati sebenarnya ia merasa senang melihat tingkah laku Jonghyun. Kim Rae Ah bukan tipe orang yang tidak peka terhadap lingkungan sekitarnya. Gadis itu tahu bahwa Kim Jina dan Lee Jonghyun memiliki perasaan yang menginginkan sebuah hubungan lebih dari sekadar sahabat.

 

“Bersedia bicara denganku di luar?” tanpa menunggu persetujuan Jonghyun gadis itu melenggang meninggalkan kamar tidur sang adik. Jonghyun bangkit kemudian menyusul Rae Ah setelah membetulkan letak selimut yang menutupi tubuh Jina.

 

o0o

 

Jonghyun menemukan Rae Ah sedang berdiri membelakanginya di bawah foto keluarga yang diambil beberapa tahun lalu. Dalam foto itu Kim Rae Ah dan Kim Jina terlihat begitu anggun dan elegan. Jonghyun mendapati dirinya selalu bahagia jika melihat foto itu.

Kim Jina bukanlah seseorang dengan gaya pakaian yang feminin, berbeda dengan Rae Ah. Dibandingkan dengan gaun, gadis itu lebih menyukai celana jeans dan kaos dibalut kemeja. Dibandingkan dengan high-heels, Jina lebih senang memakai sneakers. Dibandingkan dengan mal, Kim Jina lebih menyukai gunung atau laut. Untuk yang terakhir, hobi itu sama persis dengan hobi Rae Ah. Anak-anak gadis keluarga Kim bukankah mengagumkan?

 

“Kenapa kau begitu bodoh, Lee Jonghyun?” Jonghyun mengernyit heran mendengar pertanyaan Rae Ah yang sebenarnya lebih pantas disebut pernyataan.

“Adikku itu sangat menyukaimu, apa lagi yang kau tunggu? Akui perasaanmu padanya,” ujar Rae Ah tanpa repot-repot membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Jonghyun.

Noona, apakah Jina mengatakan langsung padamu?” Rae Ah menggeleng. Jonghyun berdecak sebal. “Kalau begitu jangan sok tahu,”

Rae Ah berbalik, menunjukkan senyum indah yang mengagumkan. “Jina memang tidak mengatakannya secara langsung, tapi aku bisa tahu dari gerak-geriknya. Awalnya hanya menebak namun kemudian aku semakin yakin dengan tebakanku ketika Kyuhyun mengutarakan pendapat yang sama. Kau tahu, Kyuhyun bilang gadis itu sangat mirip denganku ketika jatuh cinta. Selalu membuatmu cemas, memberikan perhatian yang lebih seperti marah ketika kau melewatkan makan siang misalnya, dan yang paling kentara adalah sifatnya yang berubah menjadi lebih perasa. Kau tidak menyadarinya bahkan setelah semalam gadis itu bersikap aneh?” Jonghyun hanya diam, meresapi ucapan Rae Ah.

“Jina pergi setelah kau mengatakan bahwa tidak pernah sekalipun kau membayangkan kalian menjadi sepasang kekasih. Demi Tuhan, Lee Jonghyun kau benar-benar bodoh. Setahuku kau sangat peka terhadap apapun yang Jina alami tapi masalah hati seperti ini kau tidak bisa merasakannya sama sekali. Menyebalkan,”

Noona, aku tidak ingin merusak hubungan persahabatan kami,”

“Alasan. Terserah saja. Jangan menyesal jika ada laki-laki lain yang mendekatinya lalu mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih,” Kim Rae Ah  berlalu meninggalkan Jonghyun yang mendesah frustasi.

 

Tidak ada tanda-tanda jika Jina memiliki perasaan yang sama dengannya. Jonghyun tidak menemukan satupun tanda-tanda tersebut hingga beberapa saat kemudian laki-laki itu berlari, kembali ke kamar Jina. Jonghyun menatap Jina yang masih terlelap dengan napas terengah. Perlahan namun pasti, langkahnya membawa laki-laki itu mendekat.

Ia menjatuhkan pantatnya di samping Jina, memperhatikan wajah damai gadis itu ketika tidur. Demi Tuhan, Jonghyun berani mempertaruhkan apapun untuk dapat terus melihat wajah damai ini selalu berada di sisinya. Hari ini, setelah mendengar penuturan Rae Ah, Jonghyun bersumpah akan mengakui perasaannya pada Jina, tidak peduli jika nanti gadis itu akan menolaknya.

Wajahnya perlahan mendekat, mengincar sesuatu yang selalu menggoda. Bibir mungil berwarna merah milik Jina. Jonghyun menutup mata setelah jaraknya dengan wajah Jina tidak lebih dari 1 cm. Dadanya bergemuruh hebat setelah berhasil menyentuh bibir mungil itu dengan bibirnya. Jantungnya berpacu begitu cepat sampai-sampai Jonghyun tidak sanggup menyentuh bibir itu lebih lama lagi.

Seluruh wajahnya memerah hingga ke telinga. Jonghyun memegang dadanya dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari Jina. gadis itu sedikit mengerutkan dahi, mungkin merasakan kecupan Jonghyun. Seulas senyum indah tersungging, menghantarkan kepergian Jonghyun dari kamar ini. Kim Jina –membuka mata.

 

o0o

 

Munich tidak seindah biasanya tanpa celotehan seorang gadis yang sudah menjadi bagian hidupnya sejak kecil. Jonghyun datang ke Munich enam hari lalu untuk menghadiri peresmian proyek anak perusahaannya. Berarti enam hari sudah ia tidak berbicara pada Jina.

Seandainya ada Jina di sini, mungkin pekerjaan tidak akan membuatnya terlalu stress. Kim Jina seolah menjadi obat penenang dalam setiap kegelisahannya dan Jonghyun tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya jika suatu saat nanti berpisah dengan Jina. hidupnya akan terasa berat, hampa, dan tak bernyawa. Kim Jina sudah menjadi hidupnya.

 

“Jika tahu menjadi CEO bisa memiliki waktu untuk bersantai sebanyak ini, aku akan memilih menjadi CEO saja,”

Jonghyun mendongak dan begitu terkejut melihat gadis yang selalu ada dalam pikirannya tengah berdiri dengan senyum yang selalu indah –di hadapannya. Senyum Jonghyun melebar. Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu berdiri kemudian merengkuh Jina ke dalam pelukannya.

“Wow! Kau pasti sangat merindukanku, Lee Jonghyun.”

“Diamlah! Biarkan begini sebentar saja,” diam-diam keduanya saling tersenyum, menikmati kehangatan yang menalar akibat pertemuan ini. Enam hari tanpa saling bertemu dan berkomunikasi membuat keduanya sadar bahwa tidak ada yang bisa mengobati rasa ridu selain pertemuan ini. Mereka sudah saling ketergantungan.

 

o0o

 

“Jadi, kedatanganmu ke Munich adalah untuk melakukan wawancara eksklusif dengan salah satu pemain Bayern München?” rasa kecewa itu menyelinap ke dalam relung hati seorang Lee Jonghyun ketika Jina mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaannya. Rasanya memang terlalu berlebihan jika ia mengharapkan gadis itu sengaja datang ke Munich untuk menyusulnya.

“Sebenanya ini tugas temanku, tapi kupikir akan bagus jika aku mengambilnya. Beberapa hari ini seseorang seperti sedang menghindariku. Ia bahkan tidak memberitahu padaku tentang kepergiannya ke Munich,”

Jadi itu yang dipikirkan Jina? Sebenarnya Jonghyun tidak bermaksud untuk menghindar. ia hanya memberi waktu pada dirinya sendiri untuk mengumpulkan keberanian. Ketika ia menghubung Jina nanti, ia ingin status mereka berubah. Jonghyun ingin status mereka sebagai sepasang sahabat berganti menjadi sepasang kekasih.

 

“Jina-ya,”

“Jonghyun-ah, dengar baik-baik. Aku minta maaf jika selama ini sikapku membuatmu merasa terbebani. Aku juga minta maaf jika apa yang akan kukatakan semakin membebani dirimu. Aku tidak berniat begitu, hanya saja di sini ada yang mengganjal jika aku tidak mengatakannya,” Jina memegang dadanya, menghela napas sebentar sementara Jonghyun tidak berniat menyela.

Gadis itu menatap lurus ke dalam mata dengan tatapan tajam berwarna coklat milik Jonghyun. “Entah sejak kapan aku merasakan ini. Aku selalu ingin berada di sampingmu, merindukanmu ketika kita berjauhan, hatiku terasa perih tiap kali melihatmu menatap Rae Ah dengan penuh kekaguman, dan aku seperti akan mati ketika kau menghindar dariku. Aku –mencintaimu, Lee Jonghyun. Maafkan aku,”

 

Hening kemudian tercipta. Jina menundukkan kepala, tidak berani melihat reaksi Jonghyun. Setelah kejadian di mana Jina memergoki Jonghyun mencium bibirnya waktu itu, Jina sebenarnya terus memikirkan hal ini. Apakah Jonghyun juga memiliki perasaan yang sama dengannya? Ia tidak akan mendapat jawaban jika hanya bertanya pada diri sendiri maka dari itu dengan keberanian penuh, Kim Jina megakui perasaan yang selama ini ia pendam. Ia berjanji, apapun yang terjadi setelah itu, tidak akan membuat persahabatannya dengan Jonghyun berantakan.

Sementara Jina sibuk memikirkan reaksinya, Jonghyun malah tersenyum lebar. Kim Jina, seorang gadis yang menjunjung tinggi harga diri baru saja mengakui perasaan terhadapnya, seorang gadis yang hanya bisa mengeluarkan kalimat pedas itu kini berkata lembut. Senyum di wajah Jonghyun tidak bertahan lama karena laki-laki itu memberenggut kemudian. Jonghyun menyadari sesuatu.

Tepat saat ekspresi di wajah Jonghyun berubah muram, Jina menaikkan pandangannya. Seketika hatinya mencelos. Dari ekspresi itu Jina dapat menyimpulkan bahwa Jonghyun sama sekali tidak menyukai pengakuannya.

Lalu, kalau Jonghyun tidak menyukainya, kenapa laki-laki itu menciumnya tepat di bibir? Apa arti ciuman itu? Tidak mungkin ia bermimpi karena ia sangat yakin saat ini dalam keadaan benar-benar sadar. Bahkan Jina tidak bisa tidur hingga menjelang jam 03.00 pagi.

 

“Kau telah melukai perasaanku, Kim Jina. Aku tersinggung,” ucapan lirih Jonghyun berhasil meluruhkan air mata yang sejak tadi ditahannya. Lee Jonghyun tidak menyukainya sebagai seorang perempuan. Lee Jomghyun tidak pernah menyukainya.

“Maafkan aku,”

“Tidak. Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak salah, Kim Jina. Argh! Kau mendahuluiku menyatakaan perasaan. Sialan. Dengar, aku akan menganggap tidak pernah mendengar pengakuanmu hari ini. Sekarang ikut aku,”

“Jong–”

“Jangan membantah atau kau akan menyesal, Kim Jina!” Jonghyun tidak melihat betapa Jina merasa ketakutan saat ini.

 

Jina tidak bisa mengeluarkan suara sekecil apapun. Ia terlalu takut pada sikap Jonghyun yang tidak biasa ini. Lee Jonghyun terlihat seperti orang lain dan hal ini terjadi karena pemgakuan bodohnya. Jonghyun pasti sangat marah.

Keheningan itu tetap bertahan sampai Jonghyun menepikan mobilnya di basement sebuah gadung. Jina menatap sekeliling dan tidak menemukan petunjuk tentang keberadaannya. Mungkin ada namun kecil. Jina hanya bisa mengikuti langkah Jonghyun mengingat tangannya saat ini digenggam oleh laki-laki itu. Jina merasa dirinya benar-benar sudah gila karena begitu senang dengan cara Jonghyun menggenggam tangannya.

Tangan Jonghyun begitu pas ketika bertautan dengan jari-jari miliknya, terasaha hangat, dan nyaman. Seolah mengisyarakatkan bahwa tidak ada yang perlu Jina takuti di dunia ini. Jonghyun seperti ingin menegaskan bahwa mereka akan selalu bersama apapun yang terjadi.

 

o0o

 

Musik akustik dimainkan oleh seseorang yang baru saja membuat dunianya seakan berhenti berputar, kupu-kupu seperti beterbangan menggelitik perutnya, dan burung-burung saling berkicau –bersahutan tepat di atas kepala. Keindahan dan kemewahan salah satu restoran paling mahal di dunia dan otomatis paling mahal di Jerman tidak bisa mengalihkan ia dari dunia di mana saat ini ia berada.

Entah di mana letak lapangan hijau luas, banyak kupu-kupu beterbangan, dan berbagai jenis bunga tumbuh di setiap sudu dengan pohon besar berjarak cukup berjauhan satu sama lain. Schwarzwäld? Bukan, ini lebih indah dari Schwarzwäld sekalipun.

Laki-laki itu, Lee Jonghyun, membawanya ke restoran Italia dengan gaya Mediterania. Sangat mewah dan berkelas. Harga satu porsi makanan di sini rata-rata US$ 125. Akan tetapi bukan itu yang membuatnya merasa seerti berada di dunia yang berbeda.

Lee Jonghyun sebelum naik ke atas panggung sana untuk memetik gitar, laki-laki itu memperlakukan dirinya seperti seorang kekasih. Menarik kursi untuk ia duduki, memesankan makanan kesukaannya, berdiri lalu membungkuk untuk membisikkan sesuatu padanya.

“Jangan pikirkan tentang pengakuanmu. Anggap kau tidak pernah melakukannya dan tunggu aku kembali,” bisikan halus serta ciuman lembut yang dilakukan Jonghyun pada bibirnya membuat gadis itu benar-benar merasa sudah gila karena berfantasi terlalu jauh. Belum habis rasa terkejut yang Jonghyun berikan, laki-laki itu kembali membuat Jina benar-benar tidak bisa berkutik. Jantungnya memompa dengan kencang, darahnya mengumpul di wajah. Bahkan ia yakin saat ini wajahnya sudah berubah menjadi sangat merah.

Rentetan kalimat yang selama ini ia tunggu dan ia dambakan akhirnya meluncur dari bibir seksi seorang Lee Jonghyun. Menggunakan bahasa Jerman dengan fasih di hadapan pengunjung –yang Jina yakini didominan oleh orang Jerman. Jonghyun membiarkan mereka tahu tentang perasaannya.

 

“Selamat malam, nama saya Jonghyun Lee. Malam ini saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk seseorang yang datang bersama saya di meja nomor 38. Ini bukan lagu yang saya ciptakan sendiri melainkan lagu salah satu penyanyi Korea Selatan, Jung Yonghwa. Lagu ini menggambarkan betapa saya bukanlah apa-apa tanpa kehadirannya, saya tidak tahu akan seperti apa hidup yang saya jalani. Dia adalah bintang yang selalu menerangi hidup saya. Kim Jina.”

 

o0o

 

Stars called you gather and shine on me,

Lighting me up

Stars called you gather and embrace me,

Making me twinkle

 

Jina tertarik pada kesadarannya ketika Jonghyun mulai menyanyikan bait pertama. Jina sangat mengenal lagu itu. Lagu favoritnya beberapa bulan terakhir ini.

 

My heart couldn’t shine on it’s own

But you silently held out your hand

Your small hands taouched me

 

Do you know? You’re the only small star in my heart

I will only look at you for always

Do you know? When we’re together

Do you know how much we shine?

 

Even after a long time passes

Only you stay by my side

You’re my love

I love you

 

Menangis bukanlah sesuatu yang akan Jina lakukan dengan mudah. Namun, hari ini Lee Jonghyun telah membuatnya dengan mudah mengeluarkan air mata. Ketika Jonghyun bersikap tidak suka atas pengakuan cinta yang Jina lakukan, dan ketika bait keempat lagu itu ia nyanyikan. Kalimat keempat pada bait keempat. Rasanya ingin sekali ia menghampiri laki-laki itu ke panggung, memeluknya, dan mencium wajah tampan itu.

 

Honestly, I’m scared too

In case you leave me, in case I love you

Without you, I’m not here either

You’re the reason I’m here right now

 

[Jung Yongwa – Star, You]

 

 

“I love you, princess. I love you with all my heart. Start from now, we’are dating.”

Jonghyun menutup penampilannya dengan kalimat yang sukses membuat Jina semakin terisak. Menangis dengan senyum haru terlukis di wajah cantiknya. Dari atas panggung, Jonghyun menatap Jina dengan tatapan penuh cinta, memuja, dan terpancar kelegaan. Lega karena telah mengungkapkan rasa yang telah bertahun-tahun terpendam dalam hati begitu rapat.

Kedua insan yang tengah dimabuk cinta itu saling bertukar pandang, menyampaikan segala rasa yang berkecamuk dalam hati dan pikiran. Rasa yang menyenangkan hingga ke ubun-ubun. Tepuk tangan yang menggema di seluruh restoran seolah menjadi musik pengiring syair sang pujangga.

 

o0o

 

Dari atas sini, gedung-gedung pencakar langit terlihat jelas saling berlomba, beradu kekuasaan siapa yang paling tinggi. Gedung-gedung tinggi yang menyimpan banyak harapan dan ambisi dari orang-orang yang mendirikannya. Cahaya lampu baik dari kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana ataupun dari gedung-gedung tersebut.

Beberapa jam yang lalu, Jonghyun merasa dunianya benar-benar sepi akibat tidak ada Jina di sampingnya. Sekarang Jina ada dan dunianya berubah 180o. Tali yang mengikat rongga pernapasannya seolah terlepas begitu saja, beban berat di pundak berkurang, dan hatinya bahagia. Terutama setelah hubungan mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

Jonghyun memeluk Jina dari belakang dengan erat, menciumi puncak kepala gadis itu. Keduanya memandangi keindahan kota Munich pada malam hari dari kamar hotel yang Jonghyun tempati.

“Jong,”

“Ya?”

“Boleh aku bertanya?” Jonghyun mengangguk, kembali mencium kepala Jina.

“Setelah mendengar pengakuanku, kenapa kau marah?”

Jonghyun tersenyum. “Karena seharusnya aku yang terlebih dahulu mengutarakan hal  tersebut. Harga diriku sedikit terlukai,” Rae Ah terkekeh mendengar jawaban Jonghyun.

“Kalau begitu aku satu langkah di depanmu,”

“Tsk! Sudah kubilang lupakan tentang pengakuanmu,”

“Baiklah, baiklah. Satu pertanyaan lagi, ya?” tanya Rae Ah sembari mengangkat jari telunjuknya ke depan membuat Kyuhyun merasa gemas.

“Silakan, princess. Anything for you,

“Ya Tuhan, Lee Jonghyun rayuanmu membuatku seperti berada pada era Joseon. Menjijikkan,” Kim Jina memang tipikal seorang gadis yang tidak akan tahan mendapat kalimat-kalimat manis.

 

“Di restoran tadi, kenapa kau memilih lagu itu?”

Jonghyun tampak berpikir sejenak kemudian mengubah posisi duduk mereka menjadi berhadapan. Tangan besar laki-laki itu menangkup wajah cantik Jina. Rasanya, seumur hidup ia habiskan untuk memandangi wajah ini tidak akan membuatnya bosan ataupun jera. Kim Jina benar-benar narkotika bagi Jonghyun.

 

“Karena aku seperti lagu itu. Aku bukan apa-apa tanpa kehadiranmu. Aku begitu tergantug padamu, Kim Jina. Aku mencintaimu dan karena lagu itu adalah lagu kesukaanmu sejak vokalis band paling keren sepanjang masa itu meluncurkannya hampir setahun lalu. Aku benar, kan?”

“Ya,”

Well, aku memang selalu benar. Ngomong-ngomong, perusahaanku akan mengadakan pesta untuk merayakan keberhasilan proyek yang telah kami kerjakan. Aku memberimu dua pilihan,”

“Pilihan?”

“Hm. Kau datang sebagai wartawan atau sebagai kekasih CEO perusahaan tersebut. Tentukan pilihamu sekarang,”

 

Pilihan? Itu yang disebut pilihan? Cih, Lee Jonghyun benar-benar bodoh. “Aku akan datang sebagai kekasih CEO perusahaan tersebut. Kau puas?”

Jonghyun tersenyum cerah. Kim Jina, seseorang yang tidak akan menempatkan pekerjaannya sebagai wartawan pada posisi teratas dalam hidupnya, kali ini bersedia melewatkan berita menarik demi datang sebagai kekasih Lee Jonghyun. “Sepertinya kau sangat menyukaiku sampai-sampai merelakan pekerjaan tercintamu,” ujar Jonghyun.

Kini giliran Jina menangkup wajah Jonghyun, menatap lurus ke dalam matanya. Gadis itu terlihat sangat serius. “Kau salah, Jong. Aku tidak menyukaimu. Lebih dari itu, aku sangat mencintaimu. Masalah pekerjaan, sebenarnya aku sudah tahu perusahaanmu akan mengadakan pesta itu karena aku ada di sana saat ketua mendapat surat. Ketua memilih seorang sunbae untuk meliputnya. Jadi, hal itu bukanlah sebuah persoalan untukku.” Jina menggedikan bahunya tanpa melepas tangannya dari wajah Jonghyun.

“Hei,” sebuah ciuman di pipi menghentikan aksi protes yang bahkan belum sempat Jonghyun layangkan. Jonghyun menatap wajah Jina yang bersemu merah. Secepat kilat laki-laki itu mencium Jina di bibir. Hanya sebuah kecupan lembut. Meski begitu, cukup untuk membuat wajah Jina semakin memerah.

“Aku mencintaimu,” ucap Jonghyun tulus dan dengan segenap rasa. Ketulusan itu harus berubah menjadi rasa kesal ketika jonghyun mendengar balasan dari Jina. Kim Jina sepertinya memang bermasalah dengan hal-hal romantis.

“Aku tidak tidur ketika kau memncium bibirku malam itu,”

 

o0o

 

Even after a long time passes

Only you stay by my side

You’re my love

I love you –Lee Jonghyun

 

THE END

 

Holaaa! Yo! Yo! This is N.Flying sensations! Eh, salah ya. haha

Lagi gila-gilanya sama Jonghyun, lagi envy-envy (?) nya sama Gong Seung Yeon (re: istri virtual-nya Jonghyun), Kak Ovila minta dibikinin ff Jonghyun, maka terciptalah FF absurd ini. xixi

Tadinya aku mau pake Jina POV semua tapi ternyata aku gak cukup berkompeten buat nulis dari sudut pandang orang pertama. Wkwk maklum lah ya penulis abal-abal emang gini. Ckck

Maaf buat kalian yang ngerasa bosen sama latar tempat yang aku ambil. Aku lagi tergila-gila sama Jerman. Suatu hari nanti aku pengen ke sana, setelah keliling Indonesia pastinya. Rasanya gak etis aja kalo aku ke sana sedangkan Indonesia belum terjamah semua. Hihi jangankan Indonesia, hometown aku yang kecil aja belum kejamah abaikan ini

Well, terima kasih buat pembaca setiaku yang hanya segelintir orang huhu Ich liebe dich :*

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

9 thoughts on “Star, You”

      1. aku sk yg adegan peluk2an diapartemen sm yg jina nyatain cinta trus muka jong cemberut wkwkwkwk.
        aku dpt bgt muka cemberutny jong hahahaha.
        feelny blm terlalu dapet.
        pas jina pov itu nyesekny dpt tp msh krng something apa gt hahahaha.
        diksiny makin rapi.
        astaga yg pas adegan nyanyi aku salpok ama yonghwa bwahahahaha.
        eyyyyy kyu cm numpang nama bahkan ga cameo sm sx aja km typo nama dia hahahaha
        fighting

  1. yaaaahhh.. jonghyun suka suka suka.. sama kamu sama jina juga pastinya..
    tapi taadi ada typo yah, gak apalah yang penting hasilnya memuaskan sangat..

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaaaa loploplop bgt sm jonghyun :* sukaaa bgt sm couple ini!! kbayang bgt lh wgm jonghyun baca ff ini! gtw mw ngmg apa poko’a sama rasa’a kaia pas ntn wgm mreka! romantis lucu!!! suka bgt lh pko’a 😀

  3. jung yong wha emang vokalis tertampan sejagad raya itu benaaarrrr…haahhahaha
    aku ter masuk EA yg ngomong gini…

    tpai klo bukanEA pun tetep

    pengakuan jonghyun oooo bikin pusing…ada ga si yg ga se manos jonghyun???
    pengakuan di atas paggung nyanyi…oooo

    dan jina benner benner bis ngubah susa pas dia bahas curian ciuman ygdi lkuin jonghyun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s