Kiss Me Miss Me

Sore menjelang malam jalanan utama Stuttgart terlihat lebih ramai dari sebelumnya. Orang-orang sedang berbondong-bondong untuk kembali ke peristirahatan setelah melakukan rutinitas harian, atau hanya sekadar berjalan santai menikmati sejuknya udara sore di musim panas ini.

Cha Nayoung, gadis keturunan Korea Selatan yang lahir di Muenchen itu berjalan perlahan menyusuri trotoar. Menghela napas berat kemudian menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia benci memiliki perasaan rindu terhadap kekaasihnya di saat mereka sedang bertengkar. Menyebalkan sekali memang, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia merindukan laki-laki itu.

 

Nayoung mengambil ponsel dari dalam tasnya kemudian mencari nama laki-laki itu dalam daftar kontak. Ketemu dan ia masih menimbang-nimbang apakah akan menghubunginya atau tidak. Cukup lama bepikir hingga ia memutuskan untuk menekan tombol call dan meletakkan ponsel tersebut di telinga kiri.

Tidak sampai pada deringan ketiga laki-laki di seberang sana menjawab panggilannnya. Nayoung terdiam mendengar suara yang selama satu minggu ini tidak ia dengar. Hanya mendengar suaranya saja sudah membuat Nayoung ingin menangis karena rindu, ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya. Alih-alih berbicara Nayoung meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah memutus pangilan itu. Rasa rindu yang menyesakkan dada.

Nayoung mengedarkan pandangannya ke sekitar untuk mengalihkan perhatian agar air matanya tidak mengalir. Kota yang sudah ia tinggali selama dua puluh tiga tahun. Nayoung lahir di Muenchen karena orang tuanya sedang mengunjungi sahabat lamanya yang sedang melangsungkan pernikahan. Waktu itu ibu Nayoung sudah mendekati waktu untuk melahirkan jadi memutuskan untung tinggal di sana hingga Nayoung lahir. Setelah Nayoung berusia tiga bulan mereka kembali ke Stuttgart hingga saat ini.

Ayah Nayoung bekerja sebagai salah satu direktur harian sebuah perusahaan elektronik terbesar di Jerman bahkan dunia, Bosch. Ibu Nayoung merupakan seorang designer terkemuka di Eropa. Bisa membayangkan betapa kayanya keluarga Cha? Tidak perlu dibayangkan karena itu akan membuat kepala pusing.

Nayoung tersenyum ketika melihat sebuah kedai es krim di pinggir jalan. Di sana adalah tempat biasa Nayoung dan kekasihnya menghabiskan waktu senggang. Mereka sama-sama sibuk. Baiklah, selain orang tua yang kaya raya, Nayoung juga memiliki kekasih yang lebih kaya jika dilihat dari jabatannya. Kekasih Nayoung adalah seorang CEO dari sebuah perusahaan terkenal asal Jerman, Mercedes. Mengerikan? Sangat!

 

Nayoung menggelengkan kepalanya kasar. Ia tidak ingin mengingat laki-laki itu untuk saat ini. Bahkan kekasih super-sibuknya itu tidak menelepon balik. Apakah pertengkaran kemarin adalah hal yang besar sampai-sampai kekasihnya tidak menghubungi sama sekali? Demi Tuhan ini benar-benar menyebalkan. Baiklah. Cukup untuk hari ini. Nayoung harus kembali ke rumah dan menyegarkan dirinya agar bisa melupakan laki-laki menyebalkan itu –meski ia sendiri tidak yakin bisa melupakannya.

 

_o0o_

 

“Nayoung kau dari mana saja? Yonghwa menunggumu dari tadi,” ucap seorang laki-laki yang sedang memainkan gitarnya di ruang tengah. Nayoung menghentikan langkah kemudian menghampiri laki-laki itu.

“Yonghwa? Sejak kapan? Di mana? Kenapa tidak menghubungiku?” laki-laki itu memutar bola matanya malas, menatap Nayoung dengan tatapan datar yang selalu ditunjukkannya. Well, jenis laki-laki yang tidak memiliki banyak ekspresi.

“Cha Nayoung kakakku yang jelek, kapan kau akan menghilangkan kebiasaan menyebalkanmu itu, hah? Bertanyalah satu-satu! Kau membuatku pusing,” Nayoung mencibir. Kadang ia bingung pada satu-satunya adik yang ia miliki itu. dia marah tapi tidak terlihat marah dan tidak pernah tersenyum. Sebenarnya ibu mengidam apa saat mengandung laki-laki minim ekspresi ini?

“Masih lebih jelek dirimu, Cha Hun bodoh! Sekarang katakan di mana Yonghwa!”

“Di kamarmu,” Nayoung membelalakkan matanya. Di kamarnya? Selama berpacaran dengan Yonghwa, tidak pernah sekalipun ia mengizinkan laki-laki itu untuk masuk ke dalam area pribadinya.

“Kenapa aku mengizinkan Yonghwa masuk ke kamarku?!”

“Memangnya kenapa? Dia kekasihmu, Cha Nayoung. Lagipula ayah yang meminta Yonghwa menunggumu di kamar,”

Nayoung melemparkan tasnya ke arah Cha Hun kemudian berlari ke kamarnya di lantai atas. “Cha Nayoung, taruh tasmu dengan benar!!”

 

_o0o_

 

Kasur yang nyaman dengan aroma yang menenangkan. Yonghwa tersenyum memandangi foto dirinya menggantung di dinding kamar sang kekasih dalam ukuran yang cukup besar, bahkan sangat besar. Ini pertama kalinya bagi Yonghwa bisa masuk ke dalam area paling pribadi milik Cha Nayoung.

Selain foto, ia juga bisa melihat barang-barang yang pernah ia berikan pada Nayoung tersimpan rapi pada sebuah lemari kaca. Barang-barang tersebut disimpan sesuai tanggal dan diberi catatan. Terlihat seperti museum.

Yonghwa mengambil benda yang disimpan paling bawah, sebuah bunga yang sudah diawetkan. Laki-laki itu tersenyum simpul melihat catatan yang tertulis di sana. Ia ingat bagaimana ekspresi Nayoung ketika dirinya memberikan bunga itu di hari ulang tahunnya sebagai ucapan terima kasih. Saat itu ia berulang tahun dan Nayoung memeberinya pesta kejutan. Benda pertama yang ia berikan setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih.

 

[130622] Thank you and happy birthday, my first love Jung Yonghwa. Ich liebe dich.

 

Yonghwa mengambil benda yang paling menarik perhatiannya dari tadi, benda yang terletak paling atas. Sebuah liontin yang seingatnya, Nayoung melempar benda itu karena mereka sedang beradu argumen. Lagi-lagi Yonghwa tersenyum melihat catatan yang Nayoung tulis di sana. Nayoung-nya memang sangat menggemaskan.

 

[150617] He gave this beautiful necklace and I threw it in front of his face. I know it’s cruel. I’m sorry, bae 😦

 

“Menggemaskan sekali,” gumamnya. Laki-laki itu kemudian menoleh ke arah pintu dan tersenyum simpul melihat Nayoung berdiri di sana dengan tatapan datar namun mengintimidasi.

“Sudah pulang? Aku menunggumu dari tadi,” Yonghwa menghampiri Nayoung yang sudah menutup pintu. Yonghwa meraih tangan Nayoung namun segara ditepis. Laki-laki itu menghela napas pelan.

“Aku sedang di kantor saat kau menelepon tadi. Ada apa?” alih-alih menjawab Nayoung berjalan menuju sofa berwarana biru kesayangannya yang terletak di bawah foto Yonghwa. Seketika wajahnya memerah menyadari bahwa Yonghwa sudah melihat foto tersebut. Memalukan. Yonghwa pasti berpikir ia seperti seorang maniak yang memajang foto laki-laki dalam ukuran begitu besar.

“Tidak sengaja,” jawab Nayoung asal. Yonghwa terkekeh pelan sembari menghampiri Nayoung, duduk di sampingnya.

 

Rona kemerahan menghiasi wajah putih Nayoung saat Yonghwa terus menatapnya dari samping. Rasanya Nayoung ingin sekali mendorong Yonghwa agar memeberi jarak di antara mereka namun anggota tubuhnya seakan kehilangan fungsi gerak. Yonghwa duduk terlalu dekat, tanpa ada jarak hingga membuat jantung Nayoung berdetak lebih cepat dari biasanya. Kadang ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena setelah dua tahun bersama Yonghwapun jantungnya tidak pernah bereaksi biasa saja jika laki- lakiitu ada di dekatnya.

Today is your first love day. Won’t you give him a gift –special gift?” Nayoung menoleh secara spontan dan ia menyesalinya. Saat ini wajahnya dan wajah Yonghwa hanya berjarak tidak lebih dari satu sentimeter. Matanya bergerak gelisah. Ia dapat melihat Yonghwa menunjukkan seringaian yang menambah kadar ketampanannya.

Ich vermisse dich,” bisik Yonghwa tepat di samping telinga Nayoung membuat gadis itu mengerjap kaget. Tubuhnya mematung, menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar. Yonghwa tidak tahu kalau Nayoung merindukannya lebih dari apapun.

 

Yonghwa menghela napas dengan berat melihat aksi diam Nayoung. Yonghwa pikir seminggu tidak bertemu akan membuat Nayoung sedikit luluh ternyata tidak. Gadis itu masih mendiamkan dirinya padahal ia sudah menjelaskan alasan kenapa terlambat datang. Keterlambatan Yonghwa datang ke acara perayaan hari jadi mereka yang kedua seminggu lalu menjadi pemicu pertengkaran mereka.

Waktu itu Nayoung emminta Yonghwa untuk datang pukul tujuh malam tepat namun Yonghwa baru datang dua jam kemudian. Tempat Nayoung menunggu sudah sepi dari pengunjung dan gadis itu tetap bertahan di sana.

Yonghwa datang terlambat karena ada mendadak ada pertemuan keluarga besar dan ia harus mengambil benda yang akan diberikan pada Nayoung sebagai kado hari jadi mereka, liontin yang kini ada di dalam lemari tempat Nayoung menyimpan benda pemberiannya.

Yonghwa sudah menjelaskan semuanya tanpa terlewat atau berbohong sedikitpun. Nayoung yang sudah marah karena dibuat menunggu selama itu kemudian melempar liontin yang Yonghwa berikan dan pergi begitu saja.

 

“Kenapa diam saja? Masih marahkah? Aku sudah menjelaskan alasannya tempo hari. Sungguh, aku tidak berbohong. Percaya padaku ya?” Nayoung masih diam. Gadis itu tidak tahu bagaimana cara membalas ucapan Yonghwa tanpa harus menitikkan air mata. Sungguh saat ini Nayoung sangat ingin menangis, bukan karena marah melainkan rindu. Nayoung sangat merindukan Yonghwa.

Perle,” kali ini Nayoung tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia membenamkan wajahnya di bahu Yonghwa, menangis terisak sedangkan tangannya melingkar di leher laki-laki tercintanya itu. Yonghwa tersenyum, panggilan itu memang selalu meluluhkan hati seorang Cha Nayoung. Tanpa mengatakan apapun ia membalas pelukan Nayoung, menyalurkan kehangatan serta rasa rindu yang semingu ini dipendam.

 

Lama mereka berada pada posisi saling memeluk, Nayoung sudah tenang dan berhenti menangis. Yonghwa melepas plukan mereka, menangkup wajah Nayoung, mengusap air mata yang membasahi pipi gadisnya itu, lalu mengecup kedua mata indah yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap kali melihatnya. Nayoung memejamkan mata menikmati kehangatan yang merasuk ke dalam hati akibat perlakuan Yonghwa.

 

_o0o_

 

“Aku pikir liontin ini sudah tidak berwujud lagi,” Yonghwa mengawali pembicaraan setelah tadi mereka memutuskan untuk berbaring di atas karpet berwarna biru di samping tempat tidur. Nayoung tidur dalam pelukan Yonghwa. Wajah gadis itu memerah tanpa Yonghwa sadari.

“Aku tidak ingin kehilangan satupun barang pemberianmu,” aku nayoung dengan suara pelan. Yonghwa merapatkan Nayoung dalam pelukannya.

“Tidak kehilangan satupun barang pemberianku, itu artinya kau juga tidak ingin kehilangan diriku. Benar?”

“Percaya diri sekali,” sanggah Nayoung seraya memukul pelan dada bidang Yonghwa.

“Bukan percaya diri. Aku hanya tahu seperti itulah kenyataannya. Kau tidak ingin kehilangan laki-laki tampan ini,”

“Terserah dirimu, Yong! Aku mengantuk. Biarkan aku tidur,” gumam Nayoung pelan.

 

Tidur? Yang benar saja, ini bahkan baru jam sembilan. Yonghwa melepas rangkulan tangan kanannya pada tubuh Nayoung ekmudian menunduk agar berahadapan dengan wajahnya.

“Tidur? Kau bahkan belum membalas pengakuanku,” ujarnya kesal.

“Pengakuan yang mana?” Nayoung mengernyitkan dahinya dalam-dalam, tidak mengerti dengan pengakuan yang Yonghwa maksudkan.

“Kau melupakannya? Aku baru mengatakannya beberapa menit lalu,” jawab Yonghwa dengan wajah kesal. Nayoung memejamkan mata, menahan rasa kesalnya apda Yonghwa. Sungguh, berada dalam pelukan Yonghwa membuat matanya mengantuk lebih cepat dan Yonghwa malah mengacaukan rasa kantuknya dengan sebuah ‘pengakuan’ yang Nayoung sendiri tidak tahu.

 

“Aku mengantuk, Yong. Katakan kembali dan aku akan menjawab pengakuan itu,” rengeknya.

Ich vermisse dich,” rasa kesal itu berganti menjadi rasa bahagia. Nayoung tersenyum. “Ich vermisse dich auch,”

 

Sedetik kemudian Yonghwa membuat Nayoung mematung. Laki-laki itu mengecup bibir Nayoung, tidak sampai tiga detik namun mampu membuat jantung Nayoung kembali berulah. Beberapa waktu Nayoung terpaku melihat senyum yang menghiasi wajah tampan Yonghwa. Entah mendapat keberanian dari mana Nayoung kembali memotong jarak antara dirinya dengan Yonghwa, mencium bibir penuh laki-laki itu lama.

Yonghwa tersenyum sebelum kemudian menggerakkan bibirnya di atas bibir Nayoung. Ini kali pertama Nayoung menciumnya lebih dulu dan Yonghwa tidak ingin menghilangkan kesempatan langka tersebut. Mereka berciuman cukup lama hingga terlepas karena kebutuhan oksigen.

Ciuman terlepas namun jarak mereka masih sangat dekat, dengan napas terengah Yonghwa menyentuhkan hidungnya dengan hidung Nayoung. Laki-laki itu kembali mencium Nayoung, hanya mengecup singkat kemudian kembali meletakkan wajah Nayoung di atas dadanya. Yonghwa tahu Nayoung sedang malu jadi ia berinisiatif menyembunyikan wajah gadisnya itu.

Yonghwa tidak salah. Nayoung memang merasa malu atas kelakuannya mencium Yonghwa lebih dulu. Untuk itu ia bersyukur Yonghwa langsung memeluknya jadi laki-laki itu tidak melihat wajahnya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.

 

“Yong,” panggil Nayoung setelah gadis itu bisa mengatasi rasa malunya. Ayolah, sudah duat tahun ia berpacaran dengan Yonghwa seharusnya Nayoung membiasakan diri menerima segala perlakuan manis Yongwha.

“Hmm,”

Happy birthday,”

Thank you. Where is my gift?

Not here. I’ll show you tomorrow,

Okay. I’ve got my gift, by the way.”

Who gave you?”

You,” Nayoung mengangkat wajahnya, menatap Yonghwa heran. Mereka bahkan baru bertemu dan Nayoung tidak merasa pernah memberi hadiah pada Yonghwa untuk ulang tahunnya kali ini.

You kissed me first few times ago,” ujar Yonghwa seakan mengerti tatapan bingung Nayoung sedangkan Nayoung kembali menyembunyikan wajahnya di dada Yonghwa membuat laki-laki itu tertawa pelan.

Stop laughing and sing my favourite song, Jung Yonghwa!” meski Yonghwa bekerja sebagai pengusaha, tapi kemampuan bermusiknya tidak bisa diremehkan. Ia bisa disejajarkan dengan penyanyi kelas dunia –setidaknya itulah yang nayoung pikirkan. Nayoung mempunyai lagu favorit dan selalu meminta Yonghwa menyanyikannya sebagai pengantar tidur.

 

Tanpa berkata apapun Yonghwa mulai menyanyikan lagu kesukaan Nayoung tersebut.

 

Baby, you my Barbie doll

Baby, I’m your Ken

We belong together and we love forever, yeah

People say nothing lasts forever

Don’t listen what they say

So, go tell yo father

We got take it further as a couple, ha

Tell me I’m the one

Baby, let’em know

You be my Juliet and I be Romeo

But happy version of them

Cuz I can make you shine bright

Every night be prom night believe that

 

Kiss me, baby your lips are luscious

Teach me how to love

Don’t wanna be the lost one

You are my universe

Yes, my cosmos I can proudly say

Baby, you’re my flower

 

Kiss me, I just wanna do miss me. I just wanna know oh, oh baby now

So come with me oh, oh baby no. So bliss me

Kiss me, I just wanna get your lips

You will wanna know how I notice you

I’ll let you know how I’ve finally got you

[N.Flying – Kiss Me Miss Me]

 

Lagu bergenre rap-rock yang selalu Nayoung minta agar ia nyanyikan sebagai lagu pengantar tidur. Yonghwa tidak pernah mengerti kenapa Nayoung memilih lagu itu disaat orang lain mungkin akan lebih memilih lagu ballad sebagai pengantar tidur. Liriknya memang romantis seperti yang Nayoung katakan ketika Yonghwa bertanya, tapi tetap saja tidak masuk akal ketika lagu itu menjadi kesukaan Nayoung sebagai pengantar tidur, sebuah lagu yang dominan rap.

Yonghwa tersenyum melihat Nayoung sudah memejamkan matanya dengan napas teratur. Nayoungnya yang selalu membuat hari-hari menjadi lebih indah. Ia mengecup kening Nayoung cukup lama lalu bergumam, “good night, Perle.

 

THE END

 

Melenceng jauh dari ide awal akibat sakit kepala yang berkepanjangan. Sakit kepala itu juga membuat aku harus kembali tidak menepati janji untuk mem-publish cerita ini seusa dengan waktu yang telah dijanjikan. I’m sorry.

Well, happy belated birthday, multitalented musician Jung Yonghwa! Wish you’re always create great songs for Boice and bring CNBLUE as a world class band. Last but not least, put more and more concern on your dongsaeng, N.Flying 😀

JYH

 

Ini aku kenalin sama si manusia tampan minim ekspresi dan tidak memiliki talenta sama sekali di bidang aegyo (?), gitaris paling sexy setelah Lee Jonghyun, Cha Hun!! He’s hot, isn’t he?

Hun

 

Okay, thanks for coming and sorry for typos^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

2 thoughts on “Kiss Me Miss Me”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s