Fate (History Long Version) Part 5

Bunyi yang dikeluarkan oleh kardiograf tersamarkan oleh isak tangis seorang Kim Rae Ah. Sangat memilukan. Sedih sekali melihat orang yang disayanginya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

Gadis itu memegang dadanya. Di sana, rasanya amat perih. Kalau saja bisa, ia ingin bertukar posisi dengan Chanyeol. “Bangun, Chanyeol!”

Tubuh gadis itu bergetar. Wajahnya bahkan terlihat berantakan. Diusapnya tangan Chanyeol yang dibalut perban. Oh Tuhan, seluruh tubuhnya dibalut oleh perban.

Apa ia akan membiarkan Chanyeol seperti ini selamanya? Terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan peralatan medis yang menempel, belum lagi perban yang melilit pada tubuhnya. Sanggupkah ia melihatnya?

Lalu, haruskah ia membiarkan Chanyeol dibawa ke Jerman? Apakah itu keputusan yang harus diambilnya? Lalu bagaimana jika kecelakaan itu kembali terjadi? Bagaimana dengan dirinya? Apa ia sanggup berjauhan dengan Chanyeol? Kim Rae Ah kau tidak boleh egois! Park Chanyeol membutuhkan Jerman.

Perdebatan dalam diri Rae Ah terus mengalir. Tangisnya semakin kencang. “Bangun… bangunlah Park Chanyeol! Aku akan membiarkanmu pergi ke Jerman asal kau membuka matamu. Demi Tuhan, aku akan melakukannya. Jadi kumohon, bangunlah! Buka matamu,”

★☆★

Cho Kyuhyun memutar tubuhnya. Disandarkannya tubuh itu ke daun pintu yang tadinya akan ia buka namun tidak jadi. Ia kembali menutupnya. Pemandangan dalam ruangan itu terlalu menyakitkan baginya.

Sakit melihat seseorang yang ia cintai begitu terpuruk. Matanya memanas. Sungguh, ini lebih menyakitkan daripada melihat kemesraan yang selalu ditunjukkan Rae Ah dan Chanyeol. Rasanya lebih baik melihat kemesraan mereka daripada seperti ini.

Mengusap wajah pelan lalu membuka pintu. Setelah merasa lebih tenang ia memutuskan untuk melanjutkan niatnya, mengajak Rae Ah makan.

Ditepuknya pelan bahu gadis itu. Tidak ada respon. Tubuhnya masih bergetar. Ya Tuhan, sebesar apa sebenarnya rasa cinta Rae Ah untuk Chanyeol?

Kyuhyun berlutut di samping gadis itu. Meraih wajah sembab Rae Ah agar melihatnya. Hatinya semakin perih ketika melihat mata itu menatapnya kosong.

Kyuhyun mengusapkan jempolnya pada pipi Rae Ah. Tersenyum lembut seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Chanyeol tidak senang jika melihatmu seperti ini,”

Rae Ah tidak merespon. Gadis itu hanya menatap Kyuhyun lalu kemudian memeluknya dengan isakan yang terdengar semakin keras. Meraung melampiaskan rasa sakitnya di atas bahu Kyuhyun.

Cukup. Kyuhyun tidak bisa lagi menahan laju air matanya. Laki-laki itu ikut menangis. Tangannya mengusap lembut kepala Rae Ah.
“Aku hanya ingin dia bangun, Kyuhyun. Bantu aku membangunkannya!”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada Rae Ah. “Dia tidak akan bangun jika kau terus seperti ini. Kau harus kuat,” ucap Kyuhyun. Ia akan berusaha sekuat yang ia bisa untuk membuat Rae Ah sedikit melupakan kesedihannya.

Tidak ada tanggapan lagi dari Rae Ah. Gadis itu hanya terus menangis. Bahu Kyuhyun bahkan sudah basah oleh air matanya. Kyuhyun tidak peduli. Ia ingin Rae Ah tahu bahwa ia tidak sendiri. Kyuhyun ada. Kyuhyun akan selalu ada sebagai sahabat yang mencintainya.

Membiarkan gadis itu menangis dengan tangannya aktif mengusap lembut rambutnya cukup ampuh membuatnya tenang. Lama-lama kelamaan tangisnya reda dan tidak terdengar lagi. Kyuhyun dapat merasakan napas Rae Ah yang teratur. Tertidur.

Perlahan Kyuhyun mengangkat tubuh Rae Ah agar tidak membangunkannya. Direbahkannya tubuh gadis itu pada sofa panjang warna putih yang ada di ruangan. Laki-laki itu meringis merasakan lututnya kebas-kebas.

Kyuhyun duduk di lantai menatapi wajah Rae Ah. Bahkan ketika tidurpun Rae Ah terlihat sedih. Park Chanyeol benar-benar berdampak besar bagi Rae Ah. Apakah Rae Ah akan sesedih ini jika sesuatu terjadi juga padanya?

Kyuhyun mengecup dahi Rae Ah lembut. Memehankan mata, berdoa semoga sahabat yang ia cintai ini bisa sedikit saja melupakan kesedihannya. Air matanya menetes, membasahi dahi Rae Ah.

Kenapa Kyuhyun tidak membawa gadis itu ke kamar yang ia tempati sebelumnya? Tidak. Rae Ah akan sedih jika tidak menemukan Chanyeol ketika bangun nanti. 

“Jangan seperti ini. Kau tahu aku selalu ada untukmu,”

☆★☆

Kim Kibum menatap rumput yang diinjaknya dengan tatapan nanar. Setelah berbicara dengan Iribe di taman rumah sakit ini, Kibum tidak beranjak sedikitpun. Ia merasa dirinya tidak berguna. Bagaimana mungkin ia membiarkan Irine berjuang sendirian?

Seharusnya Kibum berada di samping Irine. Membantu Irine menghilangkan kesedihannya. Ya, setidaknya itu bisa Kibum lakukan.

Tapi Kibum juga marah. Kibum marah pada Irine. Alasan gadis itu meninggalkannya sedikit melukai harga dirinya.

Aku takut dicampakkan setelah kau tahu kalau aku mengidap penyakit mematikan itu. Aku tidak siap untuk itu, Kibum. Aku memilih meninggalkanmu sebelum kau yang meninggalkanmu.

Secara tidak langsung Irine telah menuduh Kibum. Menuduh bahwa Kibum tidaklah tulus mencintai gadis itu. Sungguh, Kibum sedikit terluka. Namun, di samping kemarahannya kini yang terpenting adalah Kibum telah kembali bertemu dengan Irine.

Bertemu dengan Irine dan melihat gadis itu baik-baik saja cukup membuat hatinya lega. Lega karena Irine meninggalkannya bukan karena alasan cinta yang telah pudar dari Irine. Kibum yakin Irine masih mencintainya apalagi setelah melihat betapa derasnya deraian air mata yang mengaliri wajah gadis cantik itu. Irine terlihat menyesal.

Bukan berarti Kibum senang melihat wajah Irine yang basah oleh air mata. Entahlah. Kibum hanya merasa ada harapan bahwa mereka bisa kembali seperti dulu. Kibum dan Irine yang selalu berjalan beriringan dengan canda tawa menghiasi setiap langkah mereka. Penuh cinta.

Kibum mengingat kembali penjelasan Irine mengenai kepergiannya.

Lima tahun lalu, Irine divonis menderita leukimia. Masih stadium awal dan masih sangat mungkin untuk disembuhkan. Oleh karena itulah Irine meninggalkan Kibum dan pergi ke Swiss untuk menjalani pengobatan.

Masih stadium awal namun menghabiskan waktu selama lima tahun? Tidak. Sebenarnya Irine sudah sembuh dalam waktu tiga tahun. Hanya saja sampai saat ini Irine harus tetap menjalankan pemeriksaan aecara rutin.

Dua tahun ini Irine berada di Korea sebenarnya. Hanya saja ia tidak memiliki keberanian untuk menampakkan dirinya di hadapan Kibum. Ia menghabiskan dua tahunnya di Korea hanya dengan menjadi seorang stalker. Irine tahu apa yang Kibum lakukan di luar sana, termasuk bermain perempuan.
Mengingat percakapannya dengan Irine membuat Kibum berjanji akan membuat Irine menebus waktu lima tahun mereka yang terbuang. Irine harus bertanggung jawab… dengan kembali ke dalam pelukan hangat seorang Kim Kibum.

★☆★

Matahari masuk melalui jendela yang tirainya telah tersingkap. Memberikan kehangatan pada orang-orang yang masih tidur di kamar rawat tersebut.

Kim Rae Ah mengerjapkan mata lalu bangun. Dengan langkah gontai gadis itu menghampiri ranjang di mana Chanyeol terbaring. Ia bahkan tidak menyadari keberadaan Kyuhyun yang tidur di lantai dengan kepala di kursi.

Tatapan nanar itu kembali terlihat. Mata yang selalu memancarkan cahaya itu kini seperti ikut tertidur bersama Chanyeol. Air mata kembali menganak-sungai di wajah cantik Rae Ah yang terlihat lebih pucat.

Tangannya yang bergetar menelusuri wajah Chanyeol perlahan. Gerakannya terhenti di pipi Chanyeol ketika Rae Ah mendapati mata laki-laki itu bergerak -mengerjap. Lalu perlahan mata Chanyeol terbuka sempurna.

Rae Ah menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Ch-Chanyeol, kau bangun? Astaga. Kau bangun!”

Isakan yang keluar dari mulut Rae Ah berubah menjadi isakan haru. Tersenyum dengan air mata yang berderai. Park Chanyeol bangun!

Chanyeol menatap Rae Ah dengan kilatan yang sulit dimengerti. Tidak ada yang ia lakukan selain menatap Kim Rae Ah yang menangis penuh rasa syukur. Ia memperhatikan setiap gerakan Rae Ah termasuk ketika gadis itu melangkah keluar untuk memanggil dokter.

Kyuhyun terbangun karena mendengar teriakan Rae Ah. Ia mengernyit kala dilihatnya gadis itu melangkah keluar. Kyuhyun akan menyusul namun mengurungkan niatnya. Sepertinya ia mengerti alasan Rae Ah melangkah keluar. Park Chanyeol telah sadar.

Dihampirinya Chanyeol. Hanya menatap tanpa mengucapjan sepatah katapun. Tanpa diperintah air matanya pun menetes. Bersyukur karena Tuhan telah membuat Chanyeol sadar pagi ini. Bagaimanapun, Kyuhyun juga merasa sedih melihat Chanyeol seperti ini. Kyuhyun memang tidak pernah menunjukkan perhatiannya pada Chanyeol tapi jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Kyuhyun menyayangi Chanyeol. Lepas dari itu, Kyuhyun yakin dengan sadarnya Chanyeol, maka Rae Ah juga akan membaik.

Kyuhyun beringsut ke belakang saat dokter sudah datang untuk memeriksa kondisi Chanyeol. Rae Ah menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun dapat melihat ada sinar kebahagiaan di wajah gadis itu. Syukurlah.

“Chanyeol bangun, Kyuhyun. Aku yang pertama kali dilihatnya,” Kyuhyun mengangguk lalu menarik wajah gadis itu ke depan dadanya. Kyuhyun dan Rae Ah berpelukan sembari menanti dokter yang memeriksa Chanyeol.

Dengan begini, Kyuhyun semakin sadar bahwa perasaannya tidak akan pernah terbalas. Perasaan Rae Ah terhadap Chanyeol tidak akan pernah bisa ia ganggu. Seharusnya Kyuhyun sadar. Sejak awal, mereka hanya berteman. Perasaannya tidak berbalas. Sejak awal, Kim Rae Ah hanya mencintai Park Chanyeol seorang.

“Aku akan menghubungi tuan Park untuk menjelaskan kondisinya. Untukmu, aku harap kau mau mengizinkan Chanyeol dibawa ke Jerman,” ujar dokter Yoo setelah memeriksa Chanyeol. Rae Ah melepaskan diri dari pelukan Kyuhyun.

“Aku akan membiarkannya pergi, eonni. Kalian boleh membawanya kapan saja,” meski sulit, kalimat tersebut akhirnya berhasil Rae Ah ucapkan. Ia sadar, ia tidak boleh egois. Menahan Chanyeol di sini sama saja dengan menyakiti laki-laki itu.

Dokter Yoo tersenyum tulus. Ia tahu Rae Ah bukan gadis yang egois. Diusapnya dengan lembut pipi Rae Ah. Rae Ah berhambur memeluk dokter Yoo. Gadis itu menangis terisak kembali.

“Katakan aku sudah melakukan hal yang benar, eonni. Katakan Chanyeol akan baik-baik saja,”
“Kau sudah melakukan hal yang benar. Chanyeol akan baik-baik saja. Dia akan kembali seperti semula,”

Kyuhyun menengadah, menahan laju air matanya. Kyuhyun tahu, sulit bagi Rae Ah membiarkan Chanyeol berobat ke Jerman. Mereka -Chanyeol dan Rae Ah memang sudah terbiasa berpisah negara tapi kali ini berbeda. Biasanya Chanyeol akan pergi paling lama satu minggu, sedangkan sekarang mereka akan berpisah untuk waktu yang cukup lama.

Sibuk dengan perasaan masing-masing, mereka tidak menyadari bahwa kini, laki-laki yang menjadi sumber tangisan di ruangan ini telah menitikkan air matanya. Mendengar suara tangis Rae Ah, gadis yang dicintainya dengan sepenuh hati membuat hati Chanyeol seperti diiris silet tajam. Amat perih. Terlebih lagi gadis itu menangis karena dirinya. Dengan keadaannya yang seperti ini, bisakah ia menghentikan tangisan itu?

Tuhan, Chanyeol ingin sekali menghampiri Rae Ah lalu mendekap gadis itu. Sialnya, jangankan menghampirinya, menengokkan kepalanya saja sangat sulit. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Ia tidak bisa bergerak.

☆★☆

Ada pepatah yang mengtakan bahwa tersenyum adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan rasa sakit. Saat ini Kim Rae Ah sedang menguji coba kebenaran akan pepatah tersebut.

Tersenyum sebaik mungkin di hadapan Chanyeol. Menyembunyikan perasaan sedih di dalam hatinya. Tidak ingin membuat Chanyeol sedih. Saat ini mereka hanya berdua. Orang tua Chanyeol membiarkan mereka melepas rasa rindu yang berkecamuk.

“Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku. Terima kasih karena kau sudah bangun, Chanyeol.” Berlaku baik-baik saja meskipun sebenarnya tidak. Hanya itu yang bisa Rae Ah lakukan saat ini. Kenapa rasanya sulit sekali? Air matanya terus saja mendesak ingin keluar.

“Besok kau akan ke Jerman. Sebenarnya aku sedih, tapi aku tidak boleh egois. Kau harus sembuh. Kau mau berjanji padaku? Kau harus kembali dengan wajah tampanmu yang dulu,” Rae Ah tertawa pelan. “Apa aku baru saja mengatakan kau tampan? Ah, sulit dipercaya. Laki-laki menyebalkan sepertimu mana mungkin bisa tampan,”

Menghela napas lalu membuangnya. Ini lebih berat dari yang ia bayangkan. Rae Ah terbiasa dengan sikap tidak mau diam Chanyeol yang menyebalkan. Saat ini ia merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing. Tidak ada respon. Satu-satunya yang ia dapat adalah tatapan Chanyeol yang tidak bisa ia artikan.

Jangan seperti ini. Kumohon, menangislah. Aku tahu kau ingin menangis. Chanyeol ingin mengeluarkan kalimat-kalimat itu tapi tidak bisa. Mulutnya tertutup rapat. Jadilah ia hanya menyuarakannya dalam hati. Menatap Rae Ah dengan tatapan penuh luka dan penyesalan. Ia menyesal telah membuat Rae Ah dan keluarganya bersedih tapi ia juga tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri. Ini takdir yang harus ia dapat. Tuhan sudah merencanakan semuanya.

“Kau lihat gelang ini? Aku akan memakainya sampai kita tua nanti. Memiliki banyak cucu lalu meninggal. Saat itulah aku akan melepasnya. Maka dari itu, berjanjilah untuk sembuh, ya?” Tepat setelah menyelesaikan kalimatnya, Rae Ah tidak lagi bisa untuk tidak menangis. Ia terlalu merindukan Chanyeol. Ia rindu semua bentuk respon yang Chanyeol berikan jika ia berbicara.

Ya, seperti itu. Menangislah. Aku akan sembuh dan kembali padamu. Membina rumah tangga, memiliki banyak cucu, lalu meninggal. Aku berjanji.

“Sa-rang-hae,” hanya tiga kata tapi membutuhkan perjuangan yang berat bagi Chanyeol untuk mengatakannya. Setidaknya, melalui tiga kata itu Rae Ah akan mengerti bahwa apapun yang terjadi, mereka akan tetap bersama. Park Chanyeol akan selalu mencintai Kim Rae Ah. Tiga kata itu pula mewakili janjinya, janji untuk sembuh.

Rae Ah menutup mulutnya. Ia begitu terharu. Menganggukkan kepalanya kuat-kuat, “aku tahu. Aku tahu kau mencintaiku. Kau memang mencintaiku karena aku juga mencintaimu, Chanyeol. Aku sangat mencintaimu,”

Rae Ah membungkukkan badannya, memangkas jarak antara wajahnya dengan wajah Chanyeol. Menempelkan bibirnya pada bibir laki-laki itu. Hanya menempel karena bibir Chanyeol terluka. Rae Ah tidak ingin menambah luka Chanyeol.

Cukup lama Rae Ah menempelkan bibirnya. Tubuhnya semakin bergetar setelah ciuman itu terlepas. Dengan tubuh yang masih menunduk, Rae Ah menangis tersedu. Sekali ini saja, biarkan ia menangis disaksikan Chanyeol.

Chanyeol terenyuh. Sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan tangan kirinya untuk menggapai salah satu sisi wajah Rae Ah. Seandainya ia tidak lemah seperti ini, sudah pasti ia akan membawa Rae Ah ke dalam dekapan hangatnya.

Chanyeol meringis dalam hati merasakan tangannya sakit. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri agar bisa menggapai wajah gadisnya. Rasa sakit ini pasti terbayar jika ia dapat menyentuh wajah cantik itu. Ia harus berusaha lebih kuat lagi.

Rae Ah tersentak saat merasakan sebuah tangan menyentuh pipinya. Gadis itu menatap Chanyeol dengan mata yang melebar. Tanganya refleks menggenggam tangan Chanyeol yang menyentuh pipinya. Menggesekkan pipinya pada tangan itu, merasakan tangan dari laki-laki yang akan sangat ia rindukan. Chanyeol tersenyum samar. Akhirnya, ia dapat menyentuh wajah gadisnya.

“Aku akan mengunjungimu jika ada waktu luang. Siap-siap saka. Kau akan terganggu dengan suara dering ponselmu karena aku akan menelepon setiap hari dan memenuhi SNS-mu dengan foto-fotoku. Tenang saja, aku akan melakukannya -menerormu setelah kau berhasil melakukan operasi. Sekarang tidurlah. Besok mereka akan membawamu pagi-pagi sekali,” Rae Ah bangkit dari posisi duduknya. Membenarkan selimut, menutupi tubuh Chanyeol hingga sebatas dada.

“Maaf, aku tidak akan mengantarmu. Kau tahu, kan? Aku tidak akan sanggup melakukannya. Kau juga tahu aku tidak bisa pura-pura kuat di hadapanmu. Aku akan menemanimu sampai kau tidur. Good night. I love you,”

Chanyeol menutup matanya, merasakan tepukan lembut pada tangannya. Tepukan yang sangat pelan dan penuh kehati-hatian seolah tidak ingin membuatnya terluka. Berjanji dalam hati, ia akan berjuang agar kembali menjadi orang yang pantas untuk bersanding dengan Rae Ah.

Good night. I love you, too.

★☆★

Cinta mampu menjungkirbalikkan hidup seseorang. Sebentar menjadi bahagia karena cinta, lalu sebentar kemudian menjadi merana karena cinta pula. Cinta memang hal abstrak yang bahkan filsuf sekelas Nietsze, Hegel atau Plato sekalipun mungkin tidak bisa menjelaskan arti konkret dari cinta. Jangankan cinta, teori kebenaran pun mereka tidak sefaham.

Karena kebenaran itu relatif. Sama halnya dengan cinta. Cinta itu relatif. Setiap orang bebas mendeskripsikan apa itu kebenaran, dan apa itu cinta. Satu hal, cinta mampu memberi dampak pada setiap orang. Dampak buruk ataupun dampak baik, keduanya mampu ditimbulkan oleh cinta pada setiap orang yang memilikinya.

Kim Jongwoon menghembuskan napasnya dengan kasar. Sudah lima menit berlalu sejak kedatangannya di depan pintu sebuah ruangan bertuliskan Dokter Yoo Jiyoon dan ia hanya berdiri mematung, menatap pintu itu penuh keraguan.

Beberapa waktu terakhir Jongwoon terus memikirkan perasaannya. Perasaannya terhadap seorang gadis bernama Yoo Jiyoon. Gadis yang dikenalkan oleh ayahnya. Tidak, sang ayah tidak bermaksud menjodohkan dirinya dengan Jiyoon. Dengan mengenalkan Jiyoon, sang ayah berharap Jongwoon sedikit demi sedikit dapat melupakan Song Rin.

Kembali pada persepsi tentang cinta. Kim Jongwoon adalah orang yang menyerahkan dirinya pada cinta. Sepenuh hatinya ia serahkan pada gadis bernama Song Rin hingga ketika gadis itu pergi, hatinya juga ikut pergi. Jongwoon terpuruk. Kebahagiaannya ikut pergi bersama Song Rin

Memantapkan hatinya, Jongwoon membuka pintu itu. Terlihat Jiyoon sedang konsentrasi dengan berkas-berkas di tangannya. Gadis itu terlalu fokus hingga tidak menyadari kedatangan Jongwoon. Diam-diam Jongwoon tersenyum melihat wajah serius gadis itu. Menarik

“Selamat siang, dokter Yoo.” Jiyoon mendongak, menatap Jongwoon terkejut. Oh, terang saja Jiyoon terkejut. Bertahun-tahun mengenal Jongwoon, ini adalah kali pertama laki-laki itu mengunjungi ruangannya.

“Oppa, kapan datang? Kenapa tidak mengabariku lebih dulu?” Tanya Jiyoon setelah berhasil menormalkan ekspresinya. Jongwoon berdeham, “aku baru saja datang. Kau terlihat serius sekali sampai tidak menyadari kedatanganku. Sedang sibuk?”

Jiyoo mengangguk. “Lumayan. Ayo, duduk.” Ajaknya. Jongwoon mengikuti Jiyoon duduk di sofa yang tersedia di ruangan tersebut. Menempatkan dirinya berseberangan dengan Jiyoo.

“Mau minum sesuatu?” Tawar Jiyoo.
“Tidak, terima kasih. Tadinya aku ingin mengajakmu makan siang tapi sepertinya kau sedang sibuk,” demi Neptunus dan para pengikutnya. Apakah ini mimpi? Seorang Kim Jongwoon mengajaknya makan siang bersama? Apa otak laki-laki itu sudah bergeser? Maksudnya, oke, selama ini selalu Jiyoo yang berusaha memulai interaksi di antara mereka. Lalu ini apa?

Cukup, Yoo Jiyoon! Hentikan keterkejutanmu itu lalu jawablah. Ini kesempatan langka yang mungkin hanya akan datang hari ini saja. Jiyoon tidak boleh melewatkannya.

“Di kantin rumah sakit sepertinya tidak buruk,” ujar Jiyoon tenang.
“Benarkah? Kalau begitu segera lepaskan jas kebesaranmu itu,” Jiyoon terkikik lalu membuka jas putihnya, menyimpannya di atas sofa. “Ayo,”

☆★☆

“Aku dengar, kau akan ke Jerman untuk menemani Chanyeol,” Jongwoon membuka percakapan setelah ia dan Jiyoon menyelesaikan makan siang mereka. Jiyoon mengangguk, “Tuan Park yang memintaku. Lagipula, aku bisa mewakili Rae Ah untuk mengawasi perkembangan Chanyeol. Kau tahu ‘kan, adikmu itu sangat menyayangi Chanyeol.” Giliran Jongwoon yang mengangguk, membenarkan perkataan Jiyoon tentang adiknya yang sangat menyayangi Chanyeol.

Kemudian hening mulai tercipta. Jongwoon masih menimbang-nimbang apakah ia harus mengutarakan isi hatinya atau tidak. Jongwoon sejujurnya masih ragu dengan perasaannya terhadap gadis itu.

“Jiyoon, aku… aku ingin mengatakan sesuatu,” sial. Kenapa aku segugup ini?! Jongwoon mengumpat dalam hati. Sungguh, ia seperti kembali ke masa ketika ia akan mengungkapkan perasaannya pada Song Rin.

“Katakan saja,”

“Aku ingin meminta bantuan padamu,” Jiyoon mengernyit. “Bantuan? Jika mampu, aku akan membantumu. Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu, oppa?”

“Aku ingin mulai menjalin sebuah hubungan dengan seorang gadis. Aku menyukainya tapi aku belum tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Kau mau membantuku menemukan jawabannya?” Seperti tenggelam di Kutub Utara, tubuh Jiyoon membeku.

Barusan Kim Jongwoon mengaku menyukai seorang gadis dan ia ingin Jiyoon membantunya. Sebenarnya di mana otak Kim Jongwoon itu? Dia itu bodoh atau apa? Apakah tidak terlihat bahwa selama ini Jiyoon menaruh hati pada Jongwoon. Ini sulit dipercara dan juga menyakitkan.

“Tentu saja. Aku pasti akan membantumu,” balas Jiyoon dengan senyum terpaksa.
“Benarkah?”
“Ya. Ngomong-ngomong, siapa gadis itu?” Meski tidak sanggup mendengarnya, tapi Jiyoon harus tahu siapa gadis beruntung itu.

Jongwoon diam sesaat, menatap intens Jiyoon. Ia tidak cukup bodoh untuk dapat mengartikan raut muka gadis itu.
“Yoo Jiyoon. Nama gadis itu Yoo Jiyoon,”

Ya Tuhan, Jiyoon yakin pendengarannya masih sangat normal. Namun yang dikatakan Jongwoon membuat Jiyoon meragukan kesehatan indera pendengarnya.
“Aku menyukaimu, tapi aku belum tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Kau, bersedia membantuku?”

Jiyoon memang menyukai Jongwoon. Bahkan mencintainya. Jika Jongwoon menyukainya, itu berarti Jongwoon sudah mulai melupakan Song Rin, bukan? Kali ini saja, biarkan ia menjadi egois.

“Aku bersedia membantumu,”

★☆★

Kim Rae Ah mengurung dirinya seharian dalam kamar. Pagi-pagi sekali gadis itu sudah pulang ke rumah. Ia sudah bertekad tidak akan menemui Chanyeol sebelum keberangkatannya hari ini ke Jerman.

Rae Ah tidak yakin mampu melepas Chanyeol jika berlama-lama melihatnya. Pada akhirnya ia memang harus membiarkan Chanyeol pergi. Terlebih setelah ua mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi Chanyeol. Lagipula dokter Yoo yang sangat dipercayanya ikut untuk menemabi Chanyeol.

Demi Chanyeol, laki-laki yang sangat ia cintai, Rae Ah akan menunggu laki-laki itu kembali. Sebulan, setahun, selama apapun, ia akan tetap menunggunya.

★☆★

“Chanyeol harus segera ditangani oleh ahli dari Jerman. Jika terlalu lama dibiarkan, akan semakin sukit baginya untuk sembuh seperti sedia kala. Juga, pengobatan itu akan memakan waktu lumayan lama mengingat seluruh tubuhnya terbakar.”

TBC

Selamat Tahun Baru Imlek kalian yang merayakan.

Finally, part 5 published! HAHA
Who is waiting for this one? Tbh, I lose my passion for this ff. I almost decided to stop creating this. I’m sorry for long update.

So, you guys must leave a comment if you’re wait for Fate.

Part ini panjang nggak?
Sedikit curhat, aku susah payah banget ngerangkai cerita di part ini. Mood nya itu loh. Duh. Yang paling lancar malah bagian Jongwoonnya. Hihi aku juga sebenernya udah bikin ampe hampir 2000 kata tapi malah ilang filenya. Makanya malea banget mau lanjut hiks
Yaudah, as always, thank’s for coming^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

18 thoughts on “Fate (History Long Version) Part 5”

  1. ige mwoya???
    ngenes bgt si kyuny?
    sini ks kyu bwt aku aja drpd disia2 sm rae ah wkwkwkwkwk.
    anyway dpart ini harapan kyu rae ah bsatu mnipis.
    km bener2 bikin rae ah tlihat cinta mati ma chanyeol jd rasa2ny part 4 cm kaya php bwt kyu.
    aku agak lupa part sblmny jd hrs baca ulang lg hahahaha.
    fighting!!!
    part ini sedenganlah ya panjangny.
    cm feelny krng gigit deh!!!
    keep writing ya!!!
    astaga km makin sering update aku seneng bingitzzzz ♡♡♡♡

      1. hahahahaha gpp2 fighting!!!
        jgn ga dlanjutin yak!!!
        aku kan mw tw abisny hahahaha.
        mungkin perlu perbanyak semedi di kosmu hahahahaha.
        keep writing

  2. haaah ane masih blum rela Kyuhyun jadi begini u.u

    aneh rasanya hahaha

    apapun itu tetap semangat Kyuuuuuu
    kalau Rae Ah gak mau sama kau ya uda sama aku aja HAHAHA#Evillaugh

    semangat ya chingu ^^~

  3. Pas aku baca part sepuluh disitu di critain klo chanyeol udah mati,,apa dia lewat di jerman???

    Wahhh oppa sipitku beraksi

  4. huwaaaaaaa sedih… ini cinta rae ah sama chanyeol gini amat aku sedihhhh huhu apalagi cinta bertepuk sebelah tangannya kyuhyun duh tambah teriris hati ini halah wkwkw asli kyuhyun tabah bgtttt asliii sangking cintanya kali ya sama rae ah huh well, chanyeol pergi bakal gimana ini rae ah sama kyuhyun hayoooo

  5. Sepertinya banyak kisah cinta disini.jongwoon yang mulai membuka hati,ki bum yg kembali menemukan takdirnya dan gmn nasib rae ah setelah chanyeol pergi??lalu bagaimana dengan kyu yg bertepuk sebelah tangan?m

  6. Yahh ampun ngenes banget kyuhyun nya, udah gak ada harapan lagi deh buat kyuhyun karna kan juga udah ketahuan banget dari sikap rae ah yang sayang banget sama chanyeol duuuhhillehhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s