Love is About Trust

Salju yang menutupi sebagian besar bahkan seluruh daratan Jerman telah mencair. Bunga-bunga sudah mulai menampakkan warnanya. Ya, musim dingin telah berlalu.

Laki-laki dengan balutan jas abu-abu dengan kemeja hitam di dalamnya melangkah dengan penuh percaya diri memasuki salah satu gedung pencakar langit yang berdiri di atas tanah Berlin. Di belakangnya berjalan dua orang laki-laki dengan wajah tegas datar, dua orang bodyguard. Laki-laki dengan tinggi badan rata-rata orang Asia itu sesekali menundukkan kepalanya untuk membalas sapaan dari para karyawan.

Henry Lau, laki-laki tampan pemilik SC Media, salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam bidang hiburan di Jerman itu menjatuhkan pantatnya pada kursi kebesarannya sebagai CEO. Ia mendesah berat. Pikirannya melayang pada sesuatu, ah tidak, seseorang yang berada jauh dari jangkauannya. Seseorang yang mampu menggetarkan hatinya hanya dengan memikirkan wajah cantik itu.

Sekali lagi ia mendesah berat. Ia sangat merindukan gadis cantik itu. Gadis cantik yang menyandang status sebagai tunangannya. Tunangannya yang amat keras kepala.

Henry tersenyum mengingat segala hal tentang gadis itu. Ia mengambil ponsel dari saku jasnya. Mengetik nomor yang sudah ia hapal lalu menekan tombol panggil.

Alunan suara -yang menurut Henry sangat merdu menyapanya. Henry tersenyum lebar. Rasa bahagianya selalu membuncah setiap kali memdengar suara lembut itu.

“Ich liebe dich,” kalimat pertama yang meluncur dari mulut Henry. Jika orang normal lainnya akan mengatakan kalimat sapaan terlebih dulu atau ‘aku merindukanmu’ untuk mengungkapkan kerinduannya, maka Henry selalu mengucapkan “Ich liebe dich”.

Memang tidak ada yang salah. Namun  Henry mengatakan itu bukan semata-mata untuk mengungkapkan perasaannya. Ia ingin menggoda gadisnya. Gadis itu, akan menceramahinya habis-habisan karena tiga kata tersebut.

“Sebaiknya kau mati saja, Henry Lau. Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali untuk tidak berbicara dalam bahasa Jerman. Ya, setidaknya jangan denganku. Menyebalkan,”

Henry terkekeh geli mendengar omelan gadis itu. Oh, Henry tahu sekali kenapa gadis itu selalu kesal jika ia berbicara dalam bahasa Jerman. Gadisnya itu bukan membenci bahasa Jerman. Ia hanya sudah frustasi dengan bahasa tersebut.

Dulu, tunangannya itu pernah tinggal di Jerman selama tiga tahun. Ia sangat antusias dalam mempelajari budaya Jerman terutama bahasanya. Tiga tahun ia tinggal di sana dan tidak pernah mampu berbicara dengan baik. Sangat menyebalkan tentu saja dan Henry menyaksikan sendiri gadis itu frustasi karenanya.

“Hanya tiga kata dan kau sudah sangat tahu artinya, sayang. Kenapa kau selalu marah?” Goda Henry. Laki-laki itu dapat mendengar dengan jelas gadisnya mendengus sebal.

“Aku tutup teleponnya jika kau hanya ingin membuatku kesal, Henry Lau. Aku membencimu,”

“Baiklah, baiklah. Maafkan aku, sayang. Aku merindukanmu,” Henry menyerah. Ia tidak sanggup jika gadisnya menutup telepon secara sepihak. Jika hal tersebut terjadi, maka sama artinya dengan gadis itu sedang merajuk. Apa yang terjadi jika gadis itu merajuk? Bagi Henry, hal paling mengerikan adalah ketika gadisnya merajuk. Kenapa? Karena gadis itu akan memutus segala kontak dengannya yang akan berakhir jika Henry mengiriminya sebuah video yang menampilkan tokoh-tokoh ida gadis itu.

Pernah ia membuat gadisnya merajuk. Gadis itu mengabaikannya selama satu minggu penuh. Entah datang dari mana ide untuk merekam seorang Mesut Özil sebagai permintaan maafnya. Beruntung saat itu, pesepak bola Real Madrid tersebut sedang berada di Jerman untuk mengikuti pelatihan bersama Timnas Jerman. Tidak sulit dengan segala kekayaan yang dimilikinya. Dan Henry menyesal karena sejak saat itu, gadisnya akan berhenti merajuk jika ia mengirimkan video dari tokoh-tokoh terkenal.

Terhitung sudah tiga orang terkenal yang Henry rekam untuk membuat tunangannya berhenti merajuk. Kali ini ia harus hati-hati.

“Meneleponku hanya untuk mengatakan itu? Kekanakan sekali. Aku tahu di hadapanmu sudah menumpuk berkas-berkas yang harus kau periksa dan lagi, di sini sudah sangat larut. Menyebalkan,” Henry terkikik. Meski berkata pedas seperti itu, ia yakin gadisnya pasti tengah melonjak kegirangan. Ayolah, mereka sudah saling mengenal sejak mereka lahir dan bertunangan sepuluh tahun lamanya. Tentu saja Henry hapal dengan benar tabiat tunangannya itu.

“Kau yang menyebalkan, Park Jungin! Tidak bisakah kau membuatku senang dengan membalas perasaanku?” Henry dapat mendengar suara tunangannya terkikik di sana. Henry sudah mulai kesal. Ia yang berniat menggoda gadis itu tapi kenapa ia yang dibuat kesal?
“Kau benar-benar kekanakan, Henry. Baiklah, aku juga merindukanmu. Puas?” Henry mendengus kesal. Ini benar-benar menyebalkan.

Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Beberapa hari lagi adalah hari jadi mereka yang ke-10 tahun. Henry tersenyum.
“Sebentar lagi hari jadi kita yang kesepuluh. Apa yang kau inginkan?” Tanya Henry, nada bicaranya terdengar serius.

Hening beberapa saat. Henry mengerutkan dahinya. Ada yang salah dengan pertanyaannya? Atau gadis itu tertidur?

“Aku hanya ingin dekat denganmu,” jawab Jungin beberapa saat kemudian. Henry tertegun. Permintaan sederhana yang sangat sulit untuk dikabulkan. Setidaknya untuk saat ini.

©©©

“Sebentar lagi hari jadi kita yang kesepuluh. Apa yang kau inginkan?”

Park Jungin terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Henry. Apa yang diinginkannya? Tidakkah laki-laki itu mengeri bahwa yang diinginkannya hanyalah kehadirannya? Kenapa ia bertanya? Seharusnya ia mengerti.
Lima tahun menjalin hubungan jarak jauh seperti ini membuat mereka hanya dapat bertemu tidak lebih dari dua kali dalam setahun. Ini sangat berat untuk di jalani. Pada awalnya. Namun gadis itu menaruh kepercayaan yang amat besar pada Henry sehingga menjadi lebih mudah baginya. Bukankan teknologi dan informasi sudah semakin canggih? Ya, meskipun tidak akan sama dengan mereka bertemu langsung tapi selama mereka saling mempercayai satu sama lain, tidak masalah.

“Aku hanya ingin dekat denganmu,” kali ini Henry yang terdiam. Park Jungin mengerti kenapa Henry diam.

Henry bukan tidak pernah mengajaknya tinggal bersama di Jerman. Laki-laki itu sudah membujuknya puluhan kali namun Jungin menolak bahkan ketika kedua orang tuanya mengijinkan. Park Jungin tidak bisa membiarkan sang kakak mengurus sendiri perusahaan keluarganya di Seoul. Perusahaan besar yang bergerak di berbagai bidang tentu akan sangat melelahkan jika Park Jungsoo -kakaknya hanya mengurus perusahaan itu sendiri. Ayah mereka sudah lama menyerahkan tampuk pimpinan pada Jungsoo.

Jungin menarik napas lalu membuangnya perlahan. “Aku akan ke Munich, besok. Aku sudah menyiapkannya. Jadi, kau harus menjemputku,” ucapnya. Ia ingin menghilangkan suasana canggung seperti itu. Ia tidak ingin membebani Henry lebih banyak. Gadis itu bahkan berbohong sudah menyiapkannya hanya agar Henry tidak menolaknya.

Henry tidak pernah mengijinkan Jungin terbang ke Jerman sendirian. Laki-laki itu akan menjemputnya di Korea lalu mereka terbang bersama ke Jerman, sekalipun gadis itu berkata akan menggunakan Jet pribadi milik keluarga Park.

“Kau sudah menyiapkannya? Sayang, aku”
“Aku tidak ingin kau menjemputku di Korea. Cukup jemput aku di bandara di Munich,” potong Jungin. Ia tahu apa yang akan dikatakan Henry. Menjemputnya di Korea? Tsk. Membuang waktu dan uang saja.

“Baiklah. Wait! Kenapa tidak di Berlin? Calon suamimu ini tinggal di Berlin dan kau malah mengunjungi Munich? Sulit dipercaya,” wajah gadis itu memanas mendengar Henry menyebutkan ‘calon suami’ dalam omelannya. Calon suami? Astaga, manis sekali.
“Aku merindukan Munich. Kau lupa aku pernah tinggal di Munich?”
“Ah, benar. Hei, mana mungkin aku melupakan tempat yang telah membuat gadisku mem-ben-ci bahasa Jerman yang membuatnya frustasi itu?”
“Henry Lau kau benar-benar menyebalkan!”

©©©

“Henry Lau kau benar-benar menyebalkan!” Henry kembali tertawa mendengar nada kesal sang tunangan.
“Maaf, sayang” ucapnya tulus membuat Jungin tersenyum di seberang sana.
“Warte auf mich” Henry terkejut mendengar Jungin berbicara dalam bahasa Jerman. Ia ingin menggoda sang tunangan tapi gadisnya itu harus tidur. Mereka harus menyudahi sambungan telepon tersebut.

“Ich werde auf dich warten,” balas Henry. “Tidurlah,” lanjutnya. Jungin mengangguk meskipun ia tahu Henry tidak mungkin melihatnya.
“Ich vermisse dich,” Jungin memutus sambungan secara sepihak membuat Henry tertawa dengan sangat keras. Demi Tuhan, tingkah gadis itu semajun menggemaskan saja.

Henry yakin, saat ini tungannya tersebut sedang menggerutu karena telah mengucapkan kalimat itu lebih dulu. Sungguh, Park Jungin sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Gadis itu sangat sulit mengucapkan kalimat cinta, rindu, atau pujian terlebih dahulu. Ck.

Henry menaruh ponselnya di meja. Matanya menangkap sebuah foto yang sengaja ia letakkan di atas meja. Sebuah foto pertunangannya dengan gadis itu sepuluh tahun yang lalu. Waktu itu mereka masih sangat muda tapi mereka sangat yakin dengan pertunangan tersebut. Keyakinan dua sejoli yang disambut dengan tangan terbuka oleh keluarga kedua belah pihak.

Henry tersenyum. Menjelajahi ruang kerja dengan matanya. Di meja kerjanya memang hanya ada satu foto tapi lihatlah, ruangan ini penuh dengan foto Henry dengan tunangannya. Mungkin ruang kerja ini lebih pantas disebut sebagai galeri foto.

©©©

Di sinilah Henry sekarang. Berdiri di pintu kedatangan luar negeri Münich International Airport, bandara tersibuk ketiga di Jerman, keenam di Eropa, dan keduabelas di dunia (2011).

Laki-laki itu berdiri gusar. Ini adalah pertama kalinya ia membiarkan gadisnya terbang sendirian ke Jerman. Bodohnya ia tidak bertanya apakah Jungin menggunakan Jet pribadi milik Jungsoo atau pesawat umum. Kecemasannya semakin bertambah setelah lima menit pesawat mendarat, Park Jungin tidak juga menampakkan dirinya.

Henry baru dapat bernapas lega setelah melihat gadis berambut panjang sepunggung, mengenakan jaket berwarna merah muda, tengah melambaikan tangannya. Park Jungin, gadis itu berlari untuk menghampiri Henry yang merentangkan kedua tangannya. Jungin langsung menubruk Henry sampai-sampai laki-laki itu hampir terjungkal ke belakang. Untung saja Henry memiliki kekuatan dan keseimbangan tubuh yang bagus sehingga mereka tidak terjatuh. Keduanya saling mendekap erat, saling tersenyum bahagia. Enam bulan sejak terakhir kali mereka bertemu.

“Willkommen in München!” Jungin melonggarkan pelukannya, menatap Henry dengan tatapan memuja. Laki-laki itu semakin tampan dan dewasa. Dalam hati ia berbangga memiliki Henry dalam hidupnya. Oh, tentu saja tidak ia tunjukkan. Harga dirinya terlalu tinggi.

“Sudah kukatakan jangan berbicara dalam bahasa Jerman, Henry Lau!” Jungin menepuk dada bidang Henry pelan. Laki-laki itu hanya nenanggapinya dengan tersenyum.

Diusapnya lembut pipi Jungin lalu mengecup dahi gadis itu. Cukup lama. Wajah Jungin memanas dan semakin memanas saat Henry mencium bibirnya dengan penuh perasaan. Perasaan yang didominasi oleh rasa rindu.

Jungin menunduk setelah Henry menyudahi ciuman tersebut untuk menyembunyikan wajahnnya yang memerah. Henry terkikik geli. Ayolah, ini bukan pertama kalinya mereka berciuman di depan umum. Kenapa gadis itu masih saja malu-malu? Ini bahkan di Jerman, satu dari puluhan negara yang tidak mempermasalahkan soal ciuman di hadapan publik.

Menggemaskan sekali gadis ini.

Dirangkulnya pundak Jungin lalu membawanya berjalan menuju Lamborghini Veneno Roadster milik Henry. Henry menggelengkan kepalanya saat sadar gadis itu hanya membawa ransel di punggungnya. Kebiasaan seorang Park Jungin, hanya membawa ransel yang berisi dompet, gadget, dan peralatan make-up saja. Seperti biasa jika Jungin berkunjung ke Jerman, Henry harus merogoh koceknya untuk membeli pakaian calon istrinya itu.

©©©

“Apartemenmu sudah dibersihkan. Hari ini istirahat saja. Besok aku akan mengajakmu ke tempat yang belum pernah kita kunjungi di Jerman,” Jungin tersenyum senang mendengar celotehan Henry. Celotehan yang didengarnya langsung tanpa perantara jaringan telepon.

Senyuman Park Jungin menular pada Henry. Laki-laki itu tersenyum melihat gadisnya tersenyum, di hadapannya. Sudah enam bulan ia tidak melihat senyum itu secara langsung. Video call? Ayolah, itu sering ia lakukan tapi tetap saja, melihat senyum gadis itu secara langsung terasa berbeda. Sangat menyenangkan. Diacaknya dengan gemas rambut Jungin.

“Hentikan, Henry!” Jungin cemberut seraya merapikan kembali tatanan rambutnya. Henry tertawa. Jungin tertegun melihat tawa Henry yang begitu lepas. Tawa yang selalu ia sukai.

“Henry Lau!” Protes Jungin setelah Henry menciumnya kilat. Lagi-lagi Henry tertawa.

©©©

“Guten morgen, prinzessin” Jungin tersenyum menyadari Henry yang menyapanya. Laki-laki yang menjadi tumangannya itu terlihat sudah rapi, duduk di pinggiran ranjang. Tampan sekali.

“Good morning,” Henry berdecak sebal mendengar Jungin membalas sapaannya dalam bahasa Inggris.
“Bahkan kalimat-kalimat dasar untuk pemula ucapkan pun kau tak bisa? Astaga. Kau tidak ada bedanya dengan Kyuhyun hyung,” gerutu Henry. Jungin menegembungkan pipinya. Sepagi ini kenapa Henry harus menyebut-nyebut Kyuhyun? Menybalkan!

“Sepagi ini sudah menyebut nama setan buncit tidak berperikemanusiaan itu. Menyebalkan sekali,” Jungin melipat kedua tangannya di depan dada. Henry tersenyum geli melihatnya.
“Sudahlah. Cepat bangun! I’ll show you so much beautiful place in German,”
“Aku sudah pernah mengelilingi Jerman. Kau pikir, selama tiga tahun tinggal di sini aku hanya diam di rumah?!” Balas Jungin. Meski begitu ia tetap menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang.

“Aku pikir, ada satu tempat yang belum pernah kau kunjungi sama sekali. Tempat itu akan menjadi tempat terakhir yang kita kunjungi sebelum kau pulang,” Jungin mengangguk antusias meskipun ia sendiri bingung tempat apa yang Henry maksud.

“Henry, sebenarnya…” Henry menaikkan alisnya, bingung melihat gadisnya ragu-ragu. Henry masih menanti Jungin berbicara.
“Bisakah hari ini kita hanya di rumah saja?”
“Kenapa?” Tanya Henry bingung. Orang lain biasanya akan memilih untuk menjelajahi seluruh Jerman, atau setidaknya sebagian Jerman.

“Tidak. Aku hanya ingin di rumah saja… denganmu,” senyuman indah seketika terpatri di wajah Henry. Secara tidak langsung, gadis itu tengah mengatakan aku-hanya-ingin-berdua-saja-denganmu-tanpa-gangguan-orang-lain. Ah, alangkah indahnya hari ini.

Henry yang masih duduk kemudian menarik tangan Jungin hingga mereka berdua terbaring di kasur dengan Jungin berada di atas Henry. Wajah gadis itu seketika merona. Ia mencoba untuk bangun namun tangan Henry memeluknya dengan erat.

Dengan gerakan cepat, Henry membalikkan posisi. Jungin kini berada di bawah Henry dengan muka yang semakin merona karena malu.

Henry tersenyum. Matanya menelusuri setiap lekukan yang terpahat hampir sempurna di wajah seorang gadis bernama Park Jungin tersebut.

Lihatlah matanya yang berwarna hitam kecoklatan, hidung mancung, bulu alisnya yang tebal, pipi putih merona, dan bibir tipis yang sangat menggoda. Wajah tidak kalah cantik oleh wajah gadis-gadis Eropa. Oh Tuhan, dengan wajah gadisnya yang seperti ini, tidak mungkin bagi Henry untuk berpaling. Di samping itu, Henry amat sangat mencintai Park Jungin. Rasa cinta yang telah mematahkan banyak hati gadis Eropa yang mendekatinya. Rasa cinta yang telah menunjukkan arti dari sebuah kesabaran, kepercayaan, dan kesetiaan.

“Sudah lama sekali aku tidak melihat wajah cantikmu dari jarak sedekat ini. Kau semakin cantik saja, sayang.” Jungin memejamkan mata, mencoba untuk merasakan betapa lembutnya sentuhan seorang Henry Lau pada wajahnya.

Hatinya merasakan getaran yang amat menyenangkan dan hangat ketika laki-laki itu mengecup dahinya penuh rasa sayang. Tangannya yang berada di dada bidang Henry beralih memeluk leher laki-laki itu. Menatap Henry dengan penuh perasaan.

Kedua bola mata mereka saling bertemu. Terpesona oleh keindahan cinta yang terpancar dari sana, entah siapa yang memulai, jarak wajah mereka semakin menipis dan ciuman itu terjadi. Ciuman yang menyalurkan rasa cinta dari hati masing-masing yang terdalam.

“Aku mencintaimu,” ucap Henry tulus setelah ciuman manis itu terlepas. Jungin tersenyum, “aku juga mencintaimu,”

©©©

Henry duduk manis di meja makan. Matanya tidak beralih sedikitpun dari sosok Park Jungin yang sedang sibuk berkutat dengan masakannya.

Desiran menyenangkan menghampiri tubuhnya manakala terlintas di benaknya pemikiran bahwa saat ini ia seperti seorang suami yang sedang menunggu istrinya memasak. Ah, rasanya ia ingin cepat-cepat menjadi seorang suami.

“Makanan sudah siap,” lamunan Henry buyar oleh suara Jungin. Di hadapannya sudah tersaji makanan khas Korea kesukaannya, bulgogi. Henry tersenyum.

“Aku tahu kau merindukan makanan ini dan kau tidak pernah memperhatikan pola makanmu dengan baik. It has really pissed me out. Jadi, makan yang banyak.” Celotehan Jungin entah kenapa terdengar menyenangkan di telinga Henry.

Jungin mengambil tempat duduk di hadapan Henry, mengisi piring laki-laki itu dengan bulgogi dalam porsi yang sangat banyak.
“Apa yang kau lakukan? Kau ingin membuatku buncit seperti Kyuhyun hyung?” Protes Henry.
“Makan saja. Aku susah payah membuatnya,” Henry menyerah. Baiklah, lagipula ini bulgogi. Tidak buruk.

Jungin yang duduk di seberang Henry menatap ragu laki-laki itu. Ada yang mengganjal dalam pikirannya. Ia bingung harus bagaimana menyampaikan hal yang mengganggunya itu.

“Henry, ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Ini tentang…” Jungin mengusap tengkuknya sedangkan Henry menatap heran gadisnya itu.
“Tentang?” Tanya Henry.
“Emh, waktu di pesawat aku bertemu dengan Xiao Mei” jawab Jungin dalam satu kali tarikan napas.

Henry terdiam sejenak. Ia menimbang, memikirkan kalimat yang pantas untuk menanggapinya. Bukan apa-apa. Ia hanya tidak ingin membuat Jungin salah paham jika ia tidak berhati-berhati.

“Lalu?” Hanya pertanyaan itu yang terpikirkan oleh Henry saat ini. Lagipula, dengan satu pertanyaan tersebut Jungin pasti akan menceritakan semuanya. Dengan begitu ia dapat memberikan respon yang tepat, tidak membuat gadisnya salah paham.

Jungin tampak menghela napas perlahan lalu membuangnya. Ia sudah berusaha mengenyahkan pikiran yang mengganggunya itu namun tidak bisa. Ia harus menyelesaikannya dengan benar.

“Apa kau sering bertemu dengannya?” Henry mengernyit. Bertemu? Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali bertemu dengan gadis bernama Xiao Mei itu. Bisa jadi pertemuan terakhir mereka adalah pada hari itu, hari di mana seluruh akal busuknya terbongkar. Hari di mana Henry menyadari bahwa gadis itu tengah mencoba untuk menghancurkan hubungan Henry dan Jungin.

“Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali bertemu dengannya. Wajahnya saja aku sudah lupa. Wae?” Jawab Henry penuh keyakinan.
“Tidak. Lanjutkan makanmu,” melihat kejuran di mata Henry membuat Jungin merasa bersalah. Seharusnya Jungin tahu bahwa Henry tidak mungkin menyembunyikan sesuatu darinya.

Henry yakin ada yang disembunyikan oleh Jungin. Melihat sikap Jungin yang seperti ini membuatnya sangat yakin telah terjadi sesuatu di pesawat waktu itu. “Tell me!”

Jungin mendongak. “What?”
“Ceritakan padaku apa yang kalian bicarakan saat bertemu. Dengar, kau tahu pasti kalau kau tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dariku. Katakan padaku!”

Jungin menunduk, menenangkan emosinya yang tak tertahan mengingat perkataan Xiao Mei waktu itu.
“Dia tinggal di Berlin sejak satu tahun lalu. Dia bilang, selama kurun waktu itu kalian sering bertemu bahkan saling menginap satu sama lain.” Ada perasaan sesak dalam dadanya mengingat perkataan itu.

Sudah cukup selama ini ia diserang rasa takut karena menjalani hubungan jarak jauh. Ditambah dengan mendengar ucapan yang menyulut emosi dari seorang gadis yang pernah membuat hubungan cintanya dengan Henry retak. Tidak, bukan ia tidak percaya. Ia hanya takut. Siapapun yang menjalani hubungan jarak jauh pasti akan selalu dihantui rasa takut, bukan?

Henry mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hanya sebentar karena setelah itu ia langsung beranjak dari duduknya. Jungin mengikuti pergerakan Henry hingga laki-laki itu berjongkok di samping kirinya, hampir berlutut. Gadis itu hanya mampu bertanya-tanya dalam hati dan pasrah ketika tangannya digenggam lalu dicium oleh laki-laki itu. Henry mencium punggung tangannya dengan penuh perasaan, dengan mata tertutup.

Jungin terpaku di tempatnya. Tubuhnya seolah membeku. Ia merutuki dirinya yang tak pernah terbiasa dengan segala tingkah manis Henry. Ini bahkan sudah tahun ke sepuluh.

Tubuhnya semakin membeku namun jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan sangat cepat saat tatapan lembut dan sarat akan rasa cinta milik Henry bersirobok dengan matanya. Tatapan yang memancarkan kesungguhan.

“Xiao Mei hanya seorang gadis yang kebetulan hadir di antara kita sebagai tetangga barumu, waktu itu. Dia berteman denganmu dan juga sekolah di tempat yang sama dengan kita. Seorang gadis yang tidak mengerti apa itu teman. Seorang gadis yang kebetulan berdarah Cina sepertiku. Seorang gadis yang dengan segala tipu muslihatnya membuat kita hampir berpisah. Setelah hari itu, setelah aku tahu bahwa ia mencoba memisahkan kita, aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Kau tahu sendiri dia langsung menghilang setelah usahanya gagal. Demi Tuhan, Park Jungin. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku bahkan baru mendengarnya lagi darimu barusan. Percaya padaku,” ucap Henry panjang lebar. Jungin membungkukkan tubuhnya untuk memeluk Henry. Air mata haru meluncur dari kedua bola matanya.

“Aku percaya. Maaf, aku hanya tidak ingin berburuk sangka padamu makanya aku mengatakan hal itu” Jungin menegakkan tubuhnya, mengusap air mata yang membasahi wajahnya.

“Tidak, kau memang harus mengatakannya. Apapun itu. Jangan menyembunyikan apapun karena hanya itu yang akan membuat kita terus bertahan,”

©©©

Park Jungin menganga takjub melihat bangunan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Sebuah bangunan yang membutuhkan waktu ratusan tahun untuk membuatnya berdiri kokoh hingga saat ini.

Beberapa hari ke belakang ia sudah mengunjungi beberapa tempat seperti Brandenburg Gate, Holstentor, Frauenkirche, dan Romantic Rhine.

Hari ini sesuai janji, Henry mengajaknya berkunjung ke tempat yang tidak pernah ia kunjungi. Benar. Ia memang belum pernah mengunjungi tempat ini sama sekali tapi bukan berarti ia tidak mengetahui keberadaannya.

Cologne Chatedral. Sebuah katedral kebanggaan Jerman yang termasyhur, lambang kebesaran Cologne. Katedral Gothic yang dibangun dalam waktu 600 ratus tahun lebih dan mampu menampung puluhan ribu jemaat. Ada sebuah jembatan yang juga indah sebagai penghubung menuju katedral yang dalam bahasa Jerman disebut Kölner Dom ini.

Jungin menarik lengan Henry, membawanya masuk ke dalam katedral. Lagi-lagi gadis itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. Peradaban Eropa pada masa lalu memang selalu menakjubkan.

Henry tersenyum melihat gadisnya begitu antusias. Ia tahu, Jungin tidak mungkin tidak menyukai tempat ini. Ingin rasanya ia melihat wajah bahagia gadis itu setiap hari. Ketika ia bangun atau akan menutup mata untuk tidur, gadia inilah yang ingin ia lihat. Secepatnya. Secepatnya ia akan mewujudkan keinginan itu.

“Ayo berdoa,” kembali ditariknya lengan Henry lalu melepasnya saat tiba di bangku paling depan. Tanpa memedulikan Henry, Jungin duduk di bangku panjang sebelah kanan lalu menutup matanya.

Henry terkikik lalu tak lama kemudian mulai mengikuti jejak gadisnya. Ia duduk di bangku sebelah kiri. Setelah beberapa saat berdoa, ia membuka mata, menoleh ke arah kanan. Menatap lama wajah cantik yang sedang khusyuk tersebut. Betapa ia bersyukur karena Tuhan tidak membiarkan cinta di antara mereka memudar.

Henry beranjak lalu berdiri di samping gadisnya. Beberapa detik kemudian ia mengambil sikap berlutut. Setelah nyaman dengan posisi berlututnya, laki-laki itu meraih kedua tangan Jungin yang berada dalam posisi berdoa, membawanya ke depan dada bidangnya.

Jungin terkejut, membuka matanya dan semakin terkejut saat mendapati Henry berlutut di sampingnya dengan tatapan lembut. Mereka saling bertatapan, menyelami keindahan cinta yang terpancar dari mata masing-masing.

“Sebentar lagi. Bersabarlah dengan hubungan ini. Ketika waktunya tiba, tidak akan ada lagi waktu dan jarak yang ajan menghalangi hubungan kita. Sebelum waktu itu tiba, bersabarlah sebentar lagi.” Jungin diam, tidak ingin menyela kalimat Henry. Sejujurnya ia merasa bingung dengan perkataan Henry tapi ia tidak ingin menyela. Ia akan membiarkan Henry menyelesaikan kalimatnya lebih dulu.

“Dua tahun lagi masa tugasku di sini akan berakhir dan digantikan oleh kakakku. Ketika saat itu tiba, aku akan segera menjadikan dirimu sebagai milikku seutuhnya. Aku akan mengikatmu dalam sebuah ikatan yang lebih sakral dari pertunangan. Sebelum itu tiba, apakah kau bersedia menunggu dan percaya padaku? Percaya bahwa kita akan bersatu dalam sebuah ikatan suci dan menunggu hingga ikatan suci itu terjadi,”

Park Jungin merasakan wajahnya kini memanas. Ia tidak mampu mendeskripsikan seperti apa perasaannya saat ini. Bahagia? Lebih dari itu.

“Aku selalu percaya padamu, Henry. Aku percaya dan aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Hanya dua tahun, bukan? Aku sudah melakukannya selama lima tahun. Aku selalu menunggu,” balas Jungin dengan suara yang tersendat akibat tangisannya yang tidak tertahan.

Henry merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangatnya. Menyalurkan rasa bahagia yang membuncah atas jawaban yang diberikan Jungin.

“Danke. Happy 10th anniversary, darling. Ich liebe dich”
“Emm. Happy 10th anniversary. I love you, too”

THE END

Ini buat seorang unnie yang ngakunya selalu mantengin wp aku. Kalo gak salah ampe tiga kali sehari. Dan itu emang terbukti kok. Aku terharu. Semoga puas ya sama ffnya. Maaf ceritanya gak sebagus yang dibayangin.

Terima kasih udah setia nungguin ff ini dan ff lainnya. Yang request ini ff paling cepet kalo komen. Baru posting dia udah komen. Haha lope lope deh wkwk

The last, happy birthday, Tan Hangeng {} belum telat kan ya? Haha yang penting udah ngucapin di sosmed. Wkw
So, enjoy! Sorry for typo!
As always, thanks for coming^^

Ps:
*Ich liebe dich: I love you
*Warte auf mich: Wait for me
* Ich werde auf dich warten: I’ll wait for you
*Wilkommen in München: Welcome in Munich
*Guten Morgen, prinzessin: Good morning, princess
*Danke: Thank You

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

15 thoughts on “Love is About Trust”

  1. aaaaaaaaaaaaaa aku sk sx!!!!!
    makasih2 bwt ffny.
    ini dluar ekspektasi saya malah!!!
    dan moodmu nulis ud beneran balik ya?
    hahahahaha
    ngmng2 ini artiny apa ya “Ich vermisse dich,”?
    maaf cmnt sblmny aku pk akun gmail.
    aku lupa kalo cmnt pk yahoo dsini hahahaha.
    konflikny ga berat tp ini sweet sx!!!
    “bearhug”
    dan 1 lg aku agak ga fokus deh baca ff ini seriusan kaya yg km bil aku sering ktuker bayangin henry ama kyuhyun hahahaha.
    mana km bw2 nama kyuhyun lg.
    aaaaaaa lope youuuuuu tooo ♡♡♡♡

    1. Samasama. Syukur deh kalo suka. Gak selingkuh kan? Wkw
      Itu artinya ‘I miss you’
      Kan? Apalagi aku yang nulis. Serius, udah beberapa kali ampir typo nama dari Henry jadi Kyuhyun dan dari Jungin jadi Rae Ah. Wkw
      Untung aja lagi tenang ini pikiran. Hihi
      Sepertinya begitu. Haha

      1. iya gak slingkuh wkwkwkwk.
        dr kmrn2 kan km jd tukang bikin galau ama ff yg sedih2 dan menyayat hati wkwkwkwk.
        anyway skrng ud gak 3x shari lg ke blogmu hahahahaha.
        saia mulai sibuk T.T
        astaga!!!
        apa krn pikiranmu tenang jd kpikir kyuhuun mulu?
        hahahaha.

      2. Iya, pikiran aku udah mulai tenang jadi bisa mengatasi dengan baik evil yang berkeliaran di otak. Wkwk
        It’s no matter. Seenggaknya aku tau, aku masih punya pengunjung setia yang gak komen di regret doang hiks oke abaikan.
        Aku free dong *pamer

      3. aaaaaaa aku baca ini lg dan mw pamer kalo aku ud bisa bayangin henry terus pas baca ff ini hahahahaha
        ga ktuker2 ama kyu lagi.
        br nyadar tnyt mood sendiri pas baca ff bs ngaruh ke feel jg hahahaha.
        pas baca yg k2 aku ngrasa feelny lbh dpt ato krn aku benerin bs bayangin henry ya?
        wkwkwkwkwkwk

      4. haha bagus dong ya udah bisa bayangin Henry. wkwk
        btw gara2 liat Perseverance Goo Haera aku jadi pengen bikin punya Henry lagi tapi males banget ngetik sama ngerangkai katanya huhu

  2. So sweet udah jalan 10 th jadi inget kisahnya temen yg udah pacaran 10th trus pas mau lamaran malah kerjanya di pindahin ke luar pulau. Sabar sabar…. cuma 2 th koq…

  3. Annyeong.. reader bru dsni 😀

    Ini crita ny series kah ? cz ini ff prtma yg sya bca dsni.. dan kya ny ad before story ny ttg Xiao Mei it ya ???

    dan sya suka skali dgn karakter ny Henry Gege yg setia dan romantis it,, haduww sweet bgt :* jdi kpengen jdi JungIn hehehe 😀

    Keep writing and fighting (y)

  4. suka ceritanya sumpa aku pikir henry selingkuhin jungin ternyata cintanya full abis buat jungin walau ada godaan dan endingnya sweat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s