Confession

Suara decitan yang ditimbulkan oleh pintu sebuah kamar itu memecah keheningan. Seorang laki-laki dengan postur tubuhnya yang tinggi, melongokkan kepalanya ke dalam. Ia melangkah perlahan, menghampiri seseorang yang sudah terlelap di atas tempat tidur.

Matanya berbinar. Seseorang yang terlelap itu nembuat sesuatu dalam dadanya menggebu. Perasaan bahagia yang tak terkira. Orang itu, gadisnya, sangat ia rindukan. Tunggu, gadisnya? Setelah bertahun-tahun meninggalkannya, masih pantaskah ia menganggap gadis itu adalah gadisnya?

 

Laki-laki itu menghela napas berat. Air mukanya berubah begitu cepat bahkan cairan bening telah membasahi wajah tampan laki-laki itu. Ya Tuhan. Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar.

Park Chanyeol, laki-laki itu, mengusap puncak kepala si gadis dengan lembut. Ia masih ingat kapan terakhir kali melakukan hal ini. Tiga tahun lalu, beberapa jam sebelum ia menghilang dari hadapan gadis itu.

“Maafkan aku,” lirihnya.

***

 

Chanyeol menatap hujan deras yang jatuh dari langit Mayfair pagi ini di balik jendela. Ia tersenyum simpul. Gadis cantik yang masih bergelung dalam selimut itu akan sangat berisik jika hujan turun. Gadis itu sangat menyukai hujan.

“Siapa kau?” Chanyeol terperanjat. Refleks ia langsung menolehkan kepalanya. Waktu seakan berhenti berputar. Mata biru yang belum sepenuhnya terbuka itu mulai terbelalak saat melihat dengan jelas wajah Chanyeol.

Tubuhnya membeku. Laki-laki itu, ia tidak pernah lupa padanya. Laki-laki brengsek yang menghilang tanpa jejak setelah mengucapkan kata-kata cinta yang begitu meyakinkan. Laki-laki brengsek yang ingin ia enyahkan dari hati dan pikirannya. Laki-laki brengsek yang sialnya masih sangat ia cintai hingga detik ini.

Bianca mulai membangun pertahanan dalam dirinya agar tidak berhambur memeluk Chanyeol. Demi Tuhan, ia membenci laki-laki itu. Ia benci karena laki-laki itu tidak pernah menyingkir dari hatinya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya penuh nada kebencian. Chanyeol menatap Bianca dengan penuh penyesalan. Ia dapat melihat dengan jelas kemarahan yang terpancar dari kedua bola mata gadis itu.

“Aku merindukanmu,” jawab Chanyeol lirih. Ia tahu, ia tidak pantas untuk mengatakan hal itu pada Bianca, setelah apa yang dilakukannya di masa lalu. Namun sungguh, ia memang sangat merindukan Bianca. Bianca adalah satu-satunya perempuan yang sangat ia cintai, dulu, bahkan hingga detik ini.

“Brengsek. Keluar dari kamarku!” teriak Bianca. Chanyeol tidak tahu malu. Setelah menghilang tanpa jejak, kini laki-laki itu muncul di hadapannya dan mengatakan rindu tanpa beban. Benar-benar tak tahu malu. Laki-laki brengsek. Bianca memaki Chanyeol dalam hatinya. Tidak. Ia tidak hanya memaki Chanyeol. Ia juga memaki dirinya yang tidak pernah bisa melupakan Chanyeol. Ia memaki dirinya yang saat ini ingin berhambur ke dalam pelukan hangat laki-laki tinggi itu. Ia memaki dirinya yang –masih sangat mencintai laki-laki yang telah menyakitinya begitu dalam. Laki-laki… yang menjadi ayah dari putranya.

 

Bianca mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan diri agar tidak memeluk Chanyeol. Ia juga menahan sesak dalam dadanya. Sebenarnya Bianca sangat ingin meminta penjelasan Chanyeol mengapa laki-laki itu menghilang tapi rasa marahnya lebih mendominasi.

“Aku bilang keluar, brengsek!” teriak Bianca –lagi saat Chanyeol tidak juga beranjak dari tempatnya. Laki-laki itu hanya berdiri tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya dari Bianca.

 

Bianca geram. Ia berjalan ke arah pintu, membukanya lalu menoleh kearah Chanyeol yang masih menatap Bianca dengan penuh sesal. “Keluar!” desis Bianca.

Chanyeol melangkah perlahan. Masih, tatapannya masih tertuju pada Bianca yang sedang menahan emosi –terlihat dari wajah gadis itu yang memerah. “Aku minta maaf,” ucap Chanyeol setelah dirinya berada di hadapan Bianca.

Bianca menghujani Chanyeol dengan tatapan marah, kesal, kecewa, dan entah apa lagi yang tersirat dari mata indahnya itu. Satu hal yang pasti, Chanyeol melihat ada cairan bening yang mengumpul di pelupuk mata Bianca.

Keduanya terjebak dalam suasana hening. Entah apa yang terjadi namun tiba-tiba saja Bianca merasa lidahnya kelu. Kalimat umpatan dan cacian yang ingin ia lontarkan seolah tertahan di tenggorokannya. Dalam hati ia mengumpat pada dirinya sendiri yang tidak pernah bisa menghindari pesona ketampanan seorang Park Chanyeol.

Mommy!” lengkingan suara khas balita memecah keheningan di antara kedua orang yang tengah saling menatap dengan persaaan yang berkecamuk itu. Bianca mengerjap lalu menoleh ke arah pintu. Seorang balita berusia kira-kira dua tahun berdiri di sana dengan wajahnya yang terlihat masih menahan kantuk. Balita itu mengangkat kedua tangannya, meminta Bianca menggendongnya. Putranya.

 

Chanyeol menatap putra Bianca itu dengan tatapan terkejut. Bianca memiliki seorang putra? Siapa ayahnya? Bukankah Bianca sudah menikah? Diperhatikannya balita itu dan entah dari mana datangnya, sebuah perasaan rindu muncul dalam dada Chanyeol. Ia juga seprti melihat dirinya waktu kecil.

Bianca tersenyum secara spontan. Digendongnya anak laki-laki itu lalu diciumnya dengan gemas. Bianca berhenti mencium saat putranya tersebut bertanya, “mommy, paman itu siapa?”

Bianca melirik Chanyeol sekilas lalu kembali menatap putranya. Ia tersenyum, mengelus lembut pipi tembam putranya. “Bukan siapa-siapa. Ah, tadi malam daddy pulang. Ayo, kita temui” Bianca melangkahkan kakinya keluar, mengabaikan Chanyeol yang terus menatapnya dengan penuh pertanyaan.

“Bi,” Chanyeol menahan pundak Bianca. Bianca berhenti namun tidak menoleh. Ia tahu apa yang akan dikatakan Chanyeol selanjutnya. Meminta maaf lalu menanyakan status putranya.

“Bi, aku minta maaf. Sungguh. Aku akan menjelaskan semuanya,” benar, kan? Bianca bergeming. Ia mengeratkan pelukannya pada sang putra yang menatap bingung kedua orang dewasa tersebut.

“Apa yang kau lakukan di sini, brengsek?!” sebuah suara menginterupsi sebelum Bianca membuka mulutnya. Di depan sana –di depan sebuah pintu kamar lebih tepatnya berdiri seorang laki-laki tampan dengan aura kemarahan tercetak jelas di wajahnya.

 

Laki-laki itu menghampiri Chanyeol. Rahangnya mengeras dengan kedua tangannya yang terkepal kuat. Chanyeol mengenal laki-laki itu. Mark, kakak laki-laki Bianca.

“Mark!!” Bianca menjerit saat Chanyeol tersungkur setelah mendapat pukulan keras dari Mark tepat di wajahnya.

“Mark! Astaga, hentikan!” seorang gadis keluar dari kamar yang sama dengan Mark, langsung menahan tangan Mark yang sudah siap untuk kembali melayangkan pukulan pada wajah Chanyeol. Mark menatap Chanyeol geram. Laki-laki brengsek itu tidak seharusnya berada di rumah ini.

 

Bianca menyembunyikan wajah putranya agar ia tidak melihat apa yang dilakukan Mark. Putranya masih sangat kecil. Tidak pantas untuk melihat kekerasan terjadi di hadapannya. Bianca kemudian menyerahkan putranya itu pada seorang pelayan yang memang bertugas membantunya menjaga sang putra.

“Lepaskan! Laki-laki brengsek ini harus mendapatkan pelajaran dariku. Aku harus membunuhnya,” Mark berusaha melepaskan tangannya yang ditahan sang istri.

“Tidak, Mark. Semuanya bisa dibicarakan secara baik-baik. Aku tidak ingin suamiku masuk penjara–”

“Biarkan Mark membunuhnya. Laki-laki itu memang harus dibunuh, Nicola!” ucapan Bianca terkesan sangat dingin. Chanyeol tersenyum miris mendengar penuturan Bianca. Ia memang sangat bersalah telah menyakiti gadis sebaik Bianca. Chanyeol telah menyia-nyiakan Bianca.

 

Nicola menatap Bianca tak percaya. Kakak-beradik ini sepertinya telah kehilangan akal sehat. Nicola memejamkan matanya lalu berujar, “lakukan saja jika kalian ingin membunuh tapi jagan di rumah ini! Tidak di hadapan putramu, Bianca!” setelah itu Nicola pergi menuruni tangga. Nicola tahu, Mark tidak akan melakukannya. Mark akan mengikutinya lalu meminta maaf atas sikap kasarnya. Nicola akan marah jika Mark melakukan kekesaran. Silakan katakan bahwa Mark adalah sejenis suami yang  takut istri tapi memang itulah Mark, laki-laki yang sangat mencintai istrinya dan tidak akan tahan melihat Nicola marah.

“Nicola, sayang. Kumohon jangan seperti ini,” Nicola menyeringai. See? Mark akan mengikutinya.

 

Bianca menepuk dahinya melihat tingkah Mark yang seolah melupakan kemarahannya pada laki-laki brengsek ini. Bianca menggeram dalam hati. Ia kesal pada Mark yang meninggalkannya hanya berdua dengan Chanyeol demi mengejar istrinya. Astaga. Ingatkan Bianca untuk membalas perbuatan Mark.

“Anak itu, siapa ayahnya, Bi?” pertanyaan Chanyeol membuat Bianca menundukkan kepalanya. Pertanyaan seperti ini yang sama sekali tidak ingin ia dengar. Ia tidak suka siapapun membahas tentang ayah dari putranya.

 

Bianca mengangkat kepalanya, tersenyum sinis pada Chanyeol yang masih menanti jawaban. “Dia anakku. Aku ibunya, aku juga ayahnya. Sekarang kau pergi dari sini, brengsek! Tsk! Aku bahkan heran bagaimana kau bisa masuk ke kamarku,” Bianca melipat kedua tangannya di depan dada.

“Kumohon, Bi. Biarkan aku menjelaskan semuanya. Aku kesini untuk mengakui semua dosa yang telah kuperbuat. Kumohon,” ujar Chanyeol lirih. Bianca sedikit tersentuh melihat raut mata Chanyeol yang memancarkan kesungguhan.

 

Ayolah, Bi. Bukankah ini yang kau inginkan selama tiga tahun? Chanyeol datang padamu dan meminta maaf lalu mengakui dosa-dosanya? Bukankah kau ingin mengenalkan Chanyeol pada putramu sebagai ayahnya? Kau tidak bisa membencinya. Kau tidak bisa, Bianca.

Bianca memjamkan kedua matanya, lalu mengangguk. Chanyeol tersenyum senang. Ia memang harus mengatakan segalanya dan kalau bisa, ia harus memaksa Bianca mengatakan siapa ayah dari putranya itu. Nagaimanapun, Chanyeol tidak akan pernah lupa pada sebuah fakta bahwa dirinya dan Bianca pernah melakukan hal itu. Entah mendapat keyakinan dari mana, Chanyeol memag sangat yakin anak laki-laki itu adalah anaknya. Darah dagingnya.

 

Chanyeol mengikuti Bianca menuju balkon yang terletak di lantai tiga rumah ini. Balkon yang menjadi tempat favorit Bianca. Setiap sudut di balkon ini dipenuhi kenangan dirinya bersama Chanyeol. Bianca memang selalu pergi ke tempat ini jika ia merindukan Chanyeol. Kegiatan yang selalu Bianca benci namun tidak pernah bisa dihentikan bahkan oleh drinya sendiri. Apakah ia terlihat sangat menyedihkan?

 

***

 

Chanyeol tertegun begitu sampai di balkon yang dulu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama. Desain interiornya masih sama seperti tiga tahun lalu. Apakah Bianca sengaja membuatnya tetap seperti ini? Jika Bianca membencinya, seharusnya tempat ini sudah diubah habis-habisan. Apa itu artinya Bianca tidak benar-benar membencinya? Ada harapan besar muncul ke permukaan hatinya. Harapan bahwa Bianca masih mencintainya. Harapan bahwa Bianca akan memaafkan kesalahannya lalu mereka kembali bersatu. Oh, kau terlalu percaya diri, Park Chanyeol.

 

“Katakan, dosa apa yang telah kau perbuat sehingga kau baru muncul sekarang?! Cih. Seharusnya kau tidak usah muncul lagi, Park Chanyeol!” Bianca memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin Chanyeol menyadari bahwa dirinya sedang bersusah payah menahan laju air mata yang sudah mendesak. Bianca harus menunjukkan pada Chanyeol bahwa ia baik-baik saja.

 

“Aku pergi setelah hampir satu tahun kita menjalin hubungan. Tiga tahun lalu, aku kembali ke Korea, meninggalkanmu untuk menemui seseorang,” Chanyeol merasakan dadanya semakin sesak karena harus mengingat masa lalu yang membuat dirinya dirundung penyesalan.

Bianca diam. Ia tidak ingin mengomentari sebelum Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. Dalam hati ia berdoa semoga pengakuan Chanyeol masih bisa dimaafkan. Ia ingin memaafkan Chanyeol dan kalau bisa ia ingin kembali bersama Chanyeol.

Gadis itu sudah gila, bukan? Ditinggalkan begitu saja tapi tetap mengharapkan seorang Park Chanyeol. Ya, Bianca memang gila. Cintanya untuk Chanyeol terlalu besar.

 

“Waktu itu, aku sudah beristri, Bi. Aku menemui istriku,” tanpa bisa ditahan lagi, tubuh Bianca ambruk ke lantai balkon yang dingin. Sedari tadi tubuhnya sudah lemas karena menahan tekanan dalam dirinya yang begitu kuat untuk memeluk Chanyeol dan memaafkan laki-laki itu begitu saja. Tentu Bianca tidak ingin melakukannya. Ia harus menunjukkan pada Chanyeol bahwa dirinya baik-baik saja.

Kenyataannya sekarang berbeda. Pengakuan Chanyeol membuat saraf-saraf di otaknya seolah berhenti bekerja. Chanyeol sudah beristri. Ia mencintai suami orang. Kenapa takdir terasa begitu kejam sekarang? Oh, bukankah dari dulu –sejak kepergian Chanyeol takdir memang selalu kejam terhadapnya?

 

Chanyeol menghampiri tubuh Bianca yang terduduk lemas di atas dinginnya lantai marmer itu. Tidak ada reaksi apapun dari Bianca. Gadis itu menatap kosong ke depan. Chanyeol tahu Bianca sangat terguncang. Astaga, seandainya dulu ia tidak mencoba mendekati Bianca, mungkin gadis ini todak akan tersakiti. Seandainya dulu ia tidak meninggalkan istrinya ke London untuk mengejar gelar MBA, mungkin ia tidak akan bertemu Bianca.  Seandainya Chanyeol jujur tentang statusnya pada Bianca sejak awal, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.

Ah, terlalu banyak kata seandainya dalam benak Chanyeol. Laki-laki itu mulai terisak melihat tatapan penuh kebencian Bianca kini mulai mengarah padanya. Tatapan benci yang dulu tidak pernah dilihatnya. Tatapan itu dulu selalu penuh cinta dan rasa bahagia tapi sekarang semuanya lenyap.

 

“Menjauh dari hidupku, brengsek! Kau telah menghancurkan hidupku. Pergi!!” Bianca berteriak dengan mata yang menatap Chanyeol dengan penuh kebencian. Chanyeol menggeleng. Ia belum menjelaskan semuanya dan ia tidak akan pergi jika belum selesai.

“Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum kau mendengarkan semua penjelasanku,” sergah Chanyeol. Kedua tangan kekarnya meraih bahu Bianca yang bergetar karena tangisannya yang sangat kencang. Bianca menepis tangan Chanyeol.

 

“Aku bilang pergi! Kau tahu, kau meninggalkanku. Kau membuat hidupku berantakan. Kau meninggalkanku dan Alan. Kau–“ Bianca menghentikan ucapannya saat sadar bahwa ia mengatakan sesuatu yang tidak boleh dikatakan.

Dahi Chanyeol mengerut. Alan? Siapa Alan? Chanyeol tidak pernah tahu siapapun yang bernama Alan. Tunggu! Jangan katakan kalau Alan –anaknya! Chanyeol mengguncang tubuh Bianca yang tertunduk. Ia harus tahu siapa Alan dan siapa –anak balita itu.

 

“Katakan padaku, siapa Alan dan siapa anak balita itu?” Bianca bergeming. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa menahan diri untuk menyinggung Alan di saat seperti ini.

“Bianca katakan padaku!” suara Chanyeol terdengar mulai meninggi. Cih. Kenapa di sini seolah-olah Bianca yang melakukan kesalahan? Bianca masih tetap diam. Ia bahkan enggan untuk menatap wajah Chanyeol yang ia yakini ada tepat di hadapannya.

Menatap Chanyeol sama saja dengan ia membiarkan tubuh rapuhnya ini berhambur ke dalam pelukan laki-laki ini. Laki-laki yang sudah beristri. Dadanya kembali berdenyut nyeri. Demi Tuhan, ia ingin tidak percaya namun kesungguhan dari nada bicara Chanyeol membuatnya mau tak mau harus percaya. Park Chanyeol telah beristri.

Bukan tidak mungkin laki-laki itu datang ke sini untuk megakhiri hubungan mereka dengan jelas. Mungkin saja bahkan Chanyeol akan membawa istrinya untuk diperkenalkan. Bianca menahan amarahnya kuat-kuat. Kepalanya sudah terasa sangat berat akibat menangis.

 

“Bianca–”

“Dia anakmu. Alan anakmu, Park Chanyeol! Kau puas?! Sekarang menyingkir dari hadapanku, brengsek!” seketika tubuh Chanyeol membeku. Anak? Chanyeol punya anak? Jadi, kejadian malam itu menghasilkan seorang anak?

Astaga. Chanyeol kini mendapati dirinya memang laki-laki brengsek. Meninggalkan gadis tercintanya, bahkan bersama dengan seseorang yang mewarisi darah dagingnya. Bianca mendorong tubuh Chanyeol hingga laki-laki itu terjungkal ke belakang.

Bianca akan segera pergi dari tempatnya namun tangannya ditahan oleh tangan kekar milik Chanyeol. Bianca memberanikan diri untuk menatap wajah laki-laki itu. Sekali saja. Untuk yang terakhir kalinya Bianca ingin melihat wajah Chanyeol. Setelah ini dia akan benar-benar menghilangkan Chanyeol dari memorinya.

Seketika itu juga Bianca menyesal telah memutuskan untuk melihat ke arah Chanyeol. Hatinya terasa semakin pilu melihat Chanyeol berlutut di bawah kakinya dengan tubuh yang bergetar. Chanyeol menangis. Terlihat dari getaran tubuhnya yang luamayn kencang.

 

“Maaf,” lirih Chanyeol di sela-sela tangisannya. Chanyeol sangat menyesal. “Aku menikahi istriku karena perjodohan. Tidak ada cinta di antara kami. K-kumohon, maafkan aku, Bi.” Ucap Chanyeol tertahan isak tangisnya. Bianca mngepalkan tangannya kuat-kuat.

“Percuma kau menceritakannya, Park Chanyeol. Aku tidak akan memaafkanmu selain dengan cara kau tidak muncul lagi di hadapanku, di hadapan Alan, dan di hadapan keluarga Cho,” balas Bianca.

“Aku terpaksa kembali, waktu itu. Istriku sakit keras dan ayahku memaksa agar aku kembali. Maafkan aku,”

“Memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku memaafkanmu? Mengenalkan istrimu padaku lalu berharap aku dan istrimu dapat berteman baik, begitu?” Chanyeol menggeleng kuat.

“Tidak, Bi. Aku tidak berpikiran seperti itu,” Chanyeol mengangkat wajahnya untuk menatap Bianca. Cairan bening yang mengalir di wajah Bianca membuat hatinya terasa ngilu. Ia telah menyakiti Bianca begitu dalam. “Istriku sudah meninggal,” lanjut Chanyeol.

 

Bianca tertegun mendengarnya. Ia merasa iba namun segera ditepisnya perasaan itu. Ia tidak boleh goyah. “Bukan urusanku, Park Chanyeol!” desis Bianca.

“Bi, aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku. Aku sangat bersalah telah meninggalkanmu dan anak kita. Kumohon, maafkan–”

“Aku tidak peduli dan tidak akan peduli, Park Chanyeol! Keluar dari rumahku!!” Bianca melepaskan tangannya yang masih dipegang Chanyeol lalu pergi meninggalkan laki-laki itu.

 

Chanyeol tubuhnya ambruk. Ia kembali menangis. Ia menyesali takdirnya yang harus terlahir dari keluarga yang sangat otoriter. Seandainya ia tidak dipaksa menikah lalu melanjutkan kuliah MBA, ia pasti tidak akan pernah bertemu dengan Bianca dan menyakitinya.

Garis tangan memang tidak bisa untuk dilawan. Dalam tangisnya ia bertekad dalam hati bahwa ia akan melakukan apapun untuk membuat Bianca memaafkannya. Ia akan membuat Bianca kembali padanya lalu mereka bersama-sama merawat Alan, putranya yang baru ia lihat selama beberapa menit.

 

END

 

Alur dan ending yang gak jelas. Short-fiction. Haha

Curhat dikit, ya. Ff ini udah mulai aku tulis sejak tanggal 5 Desember kemarin. Idenya tiba-tiba macet bahkan belum nyampe seperempat cerita dan baru bisa aku kelarin hari ini -,-

Ff ini aku persembahin buat Niken, pemuja laki-laki bernama Park Chanyeol tapi selalu kalah kalo udah berurusan sama si Byuncabe yang ulang tahun tepat tanggal 5 Desember. Persembahan yang telat banget ya. Haha tapi gapapa. Bininya CGH mah available terus ya mau setelat apapun. Wkwk semoga suka^^

As always, thank’s for coming^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

10 thoughts on “Confession”

  1. huh?
    itu ad keluarga cho disebut2?
    itu typo ato mark yg dmaksud itu marcus cho?
    aigoo new ff.
    aku kira oneshoot tnyt chap.
    makin banyak loh utangmu bikin org pnasaran aja deh hahahaha.
    tiap hr aku tagih aja biar cpt2 kelar *brasadebtcollector hahahaha.
    anyway udah kelar uasmu?
    kalo istriny chanyeol ud koid kok perlu wkt 3 th bwt nemuin bianca?
    hmmmm dsini km bikin chan2 pria brengsek tp kok aku ga bs sebel ya ama chan2 ga kaya wkt km bikin ff yg park jin young itu wkwkwkwk.
    ini efek chan2 yg polos itu ato gmn ya?
    hahahaha.
    eh kalo ocny bianca aku kpikiranny kris hahahaha
    fighting!!!

    1. itu end kok. haha typo tapi udah aku benerin. wkwk
      bukan karena Chanyeol polos, itu karena dia pea. gak ada polos2nya dia mah. polosin Baekhyun iya. haha
      belum. tinggal 2 matkul lagi yeay! haha
      feelnya emang gadapet sih. Canyeol cuman punya Baekhyun soalnya lah ini shippernya kambuh haha
      jangan ingetin aku soal utang 😦

      1. feelng dpt dr sideny bianca nyesekny palg yg pas dibalkon itu loh.
        tp kalo yg chan2 hmmmmmm ga tw serius ga bs sebel ama chan2 hahahaha.
        smw ff ttg chan2 yg aku baca blm pnah kaya gini always happy end hahahaha.
        ahaaaaay makin cepet ni ff bertebaran.
        aigooo ini msh gantung sequel juseyo wkwkwkwkwk.

      2. alasan diterima kalo mw lanjutin regret hahahaha.
        fighting!!!
        akir2 ini sibuk jd jarang main ksini nih huhuhuhuhu.
        taktunggu next partny regret udah ga sabar hahahaha.

  2. Ini cm aq aja kali yah, tapi jujur agak susah nyari feel nya klo couple nya ketuker tuker. Bianca biasa km pasangin ama Kris kan? Chanchan berasa selalu ngerebut pasangan orang hahaha.
    d sana dia rebutan ama kyuhyun d sini ama Kris xD saran aja sih, buruan cari cewe buat Chanchan biar gk lari sana sini 😀
    Sebenernya ini udah bagus banget,tapi aq terus kebayang muka Kris dan hubungan keluarganya agak membingungkan. Bianca bukan orang korea? dan keluarganya kenapa punya marga Cho? Mark itu kyuhyun?
    saya banyak nanya ya heheee…

    1. Haha. bingung ya? anggap aja Chanyeol lagi nyari jati dirinya yang sesungguhnya. wkwkw
      Niatnya sih gitu. Mark itu Kyuhyun dan Nicola itu Nicola Kim alias Kim Rae Ah. wkwkw
      mohon dimaklum. ini bikinnya gak make kopi. haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s