Back

Takdir seseorang terkadang seperti sebuah permainan. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Kalah dan menang. Sayang, dalam keadaan nyata, takdir bukanlah tentang menang dan kalah. Ketika takdir meletakkan posisi kita di atas, bukan berarti kita menang. Sebaliknya. Ketika takdir meletakkan meletakkan kita di posisi paling bawah sekalipun, bukan berarti kita kalah telak. Takdir memang seperti itu. Akan tetapi percayalah. Tidak ada kalah dan menang dalam takdir. Tuhan telah menetapkan segala sesuatu untuk takdir yang harus kita hadapi.

 

 

Jinyoung menghela napasnya dengan berat. Ditutupnya novel yang telah ia baca setengahnya itu. Novel yang sepenuhnya telah menarik perhatian seorang Jung Jinyoung. Seorang Jung Jinyoung yang tidak pernah tertarik sedikitpun pada dunia sastra. Kim Rae Ah. Nama itulah yang tertera sebagai penulis dari novel yang mampu menarik perhatiannya. Sebuah nama yang berasal dari masa lalunya.

 

“Apa yang sedang kau baca, Jinyoung?” Jinyoung tersentak dari lamunannya. Ia memutar kepalanya ke samping. Senyumnya merekah –meskipun sedikit dipaksakan.

“Membaca novel,” jawabnya seraya menunjukkan novel di tangannya.

Are you kidding me?! Seorang Jung Jinyoung membaca novel? Astaga. Aku rasa ada yang salah dengan penglihatanku hari ini,” Jinyoung terkekeh. “Memangnya ada yang salah dengan aku membaca novel, Krys?”

“Tentu saja. Selama tiga tahun menjadi kekasihmu, baru kali ini aku melihatmu membaca sebuah novel. Kau bahkan tidak tertarik sedikitpun pada dunia sastra,” Jinyoung diam. Tidak, bukan karena fakta tentang ia tidak tertarik pada dunia sastra. Fakta tentang tiga tahun sudah ia menjalin hubungan dengan gadis ini yang membuatnya diam.

 

Tiga tahun sudah ia menjalin hubungan dengan gadis ini –krystal. Berarti sudah tiga tahun pula ia tidak melihat gadis dari masa lalunya. Gadis lembut yang dengan sengaja telah ia sakiti. Gadis lembut yang novelnya kini berada di tangannya. Gadis lembut pecinta gunung dan laut yang sampai saat ini masih memenuhi seluruh ruangan dalam hatinya. Gadis lembut yang tiga tahun lalu, pergi karena sebuah penghianatan yang ia lakukan.

 

“Jung Jinyoung, are you okay?” Jinyoung mengerjapkan matanya. Sekali lagi, ia menyunggingkan senyumnya yang sedikit dipaksakan.

“Aku tidak apa-apa, Krys. Kau tidak berangkat ke kampus?” Krystal mengerutkan keningnya. Terlihat jelas Jinyoung sedang berbohong. Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh kekasihnya ini.

“Tidak. Profesor Cho sedang ada kunjungan ke luar negeri, jadi jadwal bimbinganku hari ini diundur,” Jinyoung mengangguk sebagai respon atas jawaban Krystal.

“Aku dengar, Profesor Cho akan menikah dengan penulis novel yang sedang kau baca itu,” sekali lagi Jinyoung tersentak.

 

“Apa kau bilang?” tanyanya dengan nada yang cukup tinggi. Krystal mengerutkan keningnya.

“Profesor Cho akan menikah dengan gadis yang menulis novel itu, Kim Rae Ah, kau tahu? Ada apa denganmu? Kenapa berteriak seperti itu?” tanya Krystal.

“Tidak apa-apa,” jawab Jinyoung lirih. Penulis novel ini akan menikah? Astaga, berita buruk! Krystal menghentakkan kakinya. Tidak akan ada yang bisa ia lakukan jika Jinyoung sudah berada dalam suasana yang buruk seperti ini. Jinyoung memang tidak mengatakan langsung, tapi ia tahu betul karakter laki-laki itu.

“Aku pergi,” ucap Krystal pada akhirnya –meninggalkan Jinyoung yang masih setia dengan pikirannya tentang Kim Rae Ah.

 

Jinyoung memjamkan matanya. Dalam pikirannya kini menari-nari bayangan tentang kenangannya bersama Kim Rae Ah, sebelum dengan bodohnya ia menghianati gadis itu.

 

FLASHBACK

 

“Jung Jinyoung, berhenti di sana!!” teriak seorang gadis. Gadis itu berhenti berlari. Ia sudah lelah. Jinyoung ikut berhenti. Ia terus tertawa.

“Berhenti tertawa atau aku tidak akan mau menemuimu lagi!” tawa Jinyoung langsung lenyap. Tidak ada ancaman yang paling menakutkan selain itu. Bagi Jinyoung, tidak bertemu dengan Kim Rae Ah sama dengan menggali kuburnya sendiri.

“Baiklah, aku menyerah. Jangan marah, sayang. Aku hanya bercanda, kau tahu itu,” Jinyoung menghampiri Rae Ah. Gadis itu bergeming, melipat tangannya di depan dada dengan wajah kesal. Jinyoung melingkarkan tangannya di perut Rae Ah.

“Yakin masih bisa bertahan, huh?” goda Jinyoung. Tangannya menggelitik pinggang Rae Ah. Rae Ah tidak bisa menahan tawanya. Baiklah, Gadis itu paling lemah jika pinggangnya digelitiki seperti itu.

 

“Baiklah, lepaskan aku, Jinyoung!” Rae Ah meronta dalam pelukan Jinyoung. Jinyoung mengeratkan pelukannya.

“Biarkan seperti ini saja, sayang,” Jinyoung menenggelamkan wajahnya di bahu Rae Ah. Rae Ah tersenyum –tersipu lebih tepatnya. Jung Jinyong selalu mampu membuatnya tersipu, memang.

“Jangan pernah bercanda seperti itu lagi. Kau tidak tahu betapa takutnya aku, Jinyoung. Aku takut kau benar-benar meninggalkanku,” lirih Rae Ah. Jinyoung mengeratkan pelukannya. Ia merasa bersalah. Tentu saja, hingga saat ini, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya bahwa ia akan meninggalkan seorang Kim Rae Ah demi gadis lain.

 

“Kau tahu, kitak tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti. Saat ini, aku sangat mencintaimu, Kim Rae Ah. Aku hanya bisa berharap dan berusaha untuk tetap seperti ini hingga nanti, hingga maut yang memisahkan kita,” hati Rae Ah terasa begitu hangat. Kalimat seperti ini yang sangat ia ingin dengar. Rae Ah tidak menginginkan janji atau semacamnya, keluar dari mulut Jinyoung. Ia tahu, tidak ada yang abadi di dunia ini. Untuk itulah ia tidak menginginkan siapapun berjanji padanya. Ia takut terluka karena janji itu.

“Aku mencintaimu, Jinyoung,” ucap Rae Ah tulus. Jinyoung mencium lembut puncak kepala Rae Ah.

“Aku lebih mencintaimu,” Rae Ah terkekeh pelan.

“Ayo, aku harus ke kampus. Aku ada bimbingan dengan profesor Cho. Kau tahu dia, kan?” Jinyoung tertawa pelan melihat ekspresi Rae Ah ketika menyebut nama profesor Cho. Sangat menggemaskan. Tidak heran jika gadisnya ini sangat takut pada profesor Cho. Profesor muda itu tidak akan pernah mentolerir mahasiswa yang telat barang sedetik pun. Terutama jika itu janji untuk bimbingan skripsi. Astaga, jangan harap kau akan selamat dari mulut tajamnya.

“Mm,” Jinyoung menggenggam tangan Rae Ah. Mereka berjalan beriringan menuju tempat di mana Jinyoung memarkir mobilnya.

 

***

 

Jinyoung melambaikan tangan. Ia menghamipiri seorang gadis yang duduk di salah satu kursi taman. Gadis itu menunggunya.

“Maaf membuatmu menunggu lama, Krys,” ujar Jinyoung begitu ia sampai di hadapan gadis itu. Jinyoung duduk di samping gadis yang dipangilnya Krys tadi.

“Tidak apa-apa, oppa. Langsung saja. Aku ingin meminta bantuanmu,” Jinyoung mengerutkan keningnya. Ia dan gadis ini baru bertemu dua kali –tiga kali dengan sekarang, tapi gadis ini sudah berani meminta bantuan? Aneh. Ah, mungkin saja karena gadis ini merasa ia sudah berteman dengan Jinyoung karena kedua orang tua mereka memang berteman.

“Bantuan?” gadis itu mengangguk.

“Aku ingin masuk ke perguruan tinggi tempat oppai kuliah. Bantu aku untuk persiapan mengahadapi ­test itu, ya?”

“Kau bisa mendaftar ke lembaga bimbingan belajar, Krystal,”

“Aku ingin belajar langsung dari alumninya, oppa. Kau kan alumni jurusan Bisnis. Mau ya, oppa?” Jinyoung tidak kuasa untuk menolak.

 

Oh, laki-laki manapun yang melihat wajah memohon Krystal pasti tidak akan mampu untuk berkata ‘tidak’. Wajah gadis ini sangat menggemaskan. Jinyoung mengangguk.

I know that you’ll say yes, oppa. Thank you so much,” ucap Krystal girang. Jinyoung tersenyum.

Anyway, tidak akan ada yang cemburu, kan? Kau tidak punya kekasih, kan?”

“Tidak,” Jinyoung terkesiap. Apa yang baru saja ia katakan? Tidak memiliki kekasih? Lalu, siapa Kim Rae Ah baginya? Bodoh. Jung Jinyoung kau benar-benar bodoh. Brengsek.

Nice! Sampai bertemu di pertemuan kita sebagai partner belajar, oppa” Jinyoung masih mematung hingga Krystal pergi.

Ia tidak mengerti. Sangat tidak mmengerti. Dengan mudahnya ia mengaku tidak memiliki kekasih? Oh, laki-laki sialan. Jinyoung mengaku, ada sesuatu yang aneh yang ia rasakan saat melihat Krystal. Ia senang melihat wajah gadis itu yang selalu terlihat berseri di matanya.

 

***

 

“Selamat atas kelulusanmu, Rae.” Jinyoung memeluk erat Rae Ah. Diserahkannya se-bucket bunga pada Rae Ah sebagai ucapan selamat atas kelulusan gadisnya itu. Beberapa menit yang lalu, Kim Rae Ah telah resmi menjadi Sarjana Ekonomi, lulus dengan predikat Cum-laude.

“Terima kasih,” Rae Ah kembali memeluk Jinyoung. Senyumnya melebar saat dirasakannya Jinyoung mencium puncak kepalanya. Rae Ah selalu suka saat Jinyoung menciumnya seperti ini.

“Aku punya satu hadiah lagi. Ayo, ikut aku!” tanpa bertanya apapun, Rae Ah mengikuti langkah Jinyoung menuju mobil.

 

Rae Ah mengerutkan keningnya. Hadiah apa yang disimpan Jinyoung di sebuah kafe yang masih baru ini? Bahkan kafe ini terlihat belum beroperasi.

“Kau akan menemukan jawabannya, setelah kau berada di dalam” ucap Jinyoung seolah mengerti isi pikiran Rae Ah. Rae Ah hanya mengangguk kemudian mengikuti langkah Jinyoung ke dalam kafe tersebut.

Demi Neptunus. Kim Rae Ah benar-benar dibuat takjub oleh interior kafe ini. Interior khas Eropa abad pertengahan. Lukisan-lukisan indah karya pelukis terkenal menempel indah di setiap dinding. Bukan karya pelukis abad pertengahan, tapi sangat serasi untuk dipajang di kafe yang memiliki interior khas Eropa abad pertengahan.

 

“Aku tahu, kau suka sekali dengan hal-hal yang berbau abad pertengahan. Untuk itu, aku mendirikan kafe ini. Ini hadiah kelulusanmu, Rae Ah.” Mata Rae Ah berkaca-kaca.

“Dan selamat hari jadi yang keempat, Kim Rae Ah” kini air mata telah mengalir di pipi mulus Kim Rae Ah. Ia sendiri bahkan melupakan hari jadi mereka karena terlalu fokus pada kelulusannya. Jinyoung telah mempersiapkan sedemikian rupa. Rae Ah berhambur –memeluk Jinyoung. Ia sangat terharu.

“Terima kasih, aku sangat mencintaimu, Jung Jinyoung”

 

***

 

“Aku mencintaimu, oppa. Ah, besok adalah hari ke-100 kita. Kau harus meluangkan waktumu, mengerti?” Jinyoung tersenyum. Ia mengangguk. Hari ke-100. Dengan Krystal. Oh, kau telah membuktikan betapa brengseknya dirimu, Jung Jinyoung.

 

Entah mendapat keberanian dari mana, Jinyoung menjadikan Krystal sebagai kekasihnya. Ia bermain api di belakang Rae Ah. Hingga saat di mana Rae Ah mendatanginya, memutuskan hubugan secara sepihak. Tanpa menampar ataupun memakinya, gadis itu pergi dengan lelehan air mata. Bahkan Rae Ah tidak menjelasakan bagaimana ia dapat mengetahui hubungannya dengan Krystal. “Kau bodoh, Jung Jinyoung. Kau hanya mengikuti keinginanmu. Kau membodohi dirimu sendiri. Kau tidak mencintainya. Kau hanya mencintaiku, aku tahu itu. Dengan beraninya kau mempermainkan perasaanmu sendiri. Aku –kecewa padamu, Jinyoung. Kita berakhir,” saat itulah Jinyoung sadar, ia tidak pernah mencintai gadis manapun selain Kim Rae Ah. Rae Ah benar. Jinyoung hanya mencintai Kim Rae Ah. Dan semuanya seolah tidak ada jalan keluar, selain putus. Mereka –Jinyoung dan Rae Ah benar- benar berakhir.

 

FLASHBACK END

 

Jinyoung menatap bangunan kafe di depannya. Hatinya kembali meradang. Kafe ini, kafe yang ia berikan pada Rae Ah sebagai hadiah kelulusan gadis itu. Seandainya ia tidak melakukan kebodohan, Kim Rae Ah pasti masih berada di sekelilingnya. Kim Rae Ah pasti akan berdiri di sampingnya, saat ini. Jinyong amat sangat merindukan Kim Rae Ah.

Tiga tahun lalu, ia persis seperti interior kafe ini. Abad pertengahan selalu dianggap oleh orang-orang Eropa sebagai abad kegelapan. The dark age. Tiga tahun lalu, Jinyoung juga persis seperti itu. Ia berada di dalam sebuah kegelapan. Ia berada di titik terendah kehidupannya. Ia begitu brengsek. Menyakiti serang gadis yang begitu dicintainya, bukankah itu sebuah kebodohan?

 

Jinyoung menolehkan kepalanya ke belakang saat seseorang menepuk pelan bahunya. Tubuhnya tiba-tiba saja menjadi kaku. Seluruh aliran darahnya terasa berhenti mengalir.

Annyeong, Jung Jinyoung,” sapa orang itu. Jinyoung mengerjapkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.

“Kim Rae Ah,” gumam Jinyoung pelan. Rae Ah tersenyum. Meski begitu, matanya terlihat berkaca-kaca.

 

Ingin sekali rasanya Jinyoung memeluk Rae Ah. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya, sulliit sekali untuk digerakkan. Belum habis keterkejutan Jinyoung akibat melihat Rae Ah, tubuhnya kembali membeku. Kim Rae Ah memeluknya. Jantungnya berdetak hebat. Pelukan ini, apakah sebagai tanda perpisahan –lagi?

Bogoshipeosseo,” lirih Jinyoung. Ia tidak percaya akhirnya dapat mengeluarkan kalimat itu.

“Mau berbicara di dalam?” tawar Rae Ah. Jinyoung mengangguk. Bagaimanapun, untuk hal apapun, Jinyoung idak ingin melewatkan kesempatan ini.

 

***

“Sepertinya kau hidup dengan baik,” ucap Jinyoung setelah pelayan meletakkan pesanan mereka di atas meja. Rae Ah diam. Ia menatap Jinyoung begitu intens. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu ia harus menahan rasa rindunya pada laki-laki ini. Jung Jinyoung.

“Benarkah, aku terlihat hidup dengan baik?” Jinyoung mengernyit.

“Jadi, aku hidup dengan baik, ya?” lirih Rae Ah. Jinyoung semakin tak mengerti.

“Aku bahkan tidak pernah tidur nyenyak selama tiga tahun ini. Kau selalu berkeliaran di kepalaku. Aku lupa bagaimana caranya tersenyum. Seperti itu, kau sebut aku hidup dengan baik?” bagai disambar petir siang bolong. Jinyoung seolah merasa hatinya tercambuk. Begitu perih.

“Aku selalu berharap kau datang padaku dan menjelaskan semuanya, meminta maaf, lalu memintaku kembali. Kau tidak melakukannya, Jinyoung.”

“Kim Rae Ah, aku–“ suara Jinyong tercekat. Ia tidak tahu harus berkata apa. Semuanya terasa tiba-tiba. Ia tidak pernah mengira akan sampai seperti itu dampak dari berakhirnya hubungan mereka.

 

“Aku benar-benar merindukanmu, Jinyoung. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku hidup tanpa melihatmu. Aku meridukanmu,” Rae Ah menunduk. Ia mulai terisak. Perasaan lega menghampiri hatinya. Bebannya sudah terangkat walau sedikit. Jinyoung memegangi dada kirinya. Di sana, rasanya amat sangat sakit. Ia sakit melihat gadis yang sampai saat ini masih dicintainya itu menangis. Menangis karena dirinya.

“Apakah karena aku yang mengakhirinya, kau tidak pernah mau mencariku, Jinyoung? Bahkan untuk menanyakan bagaimana aku bisa mengetahuinya?” cukup. Jinyoung tdak sanggup lagi untuk tidak membawa Rae Ah ke dalam rengkuhannya.

 

Rae Ah semakin terisak dalam rengkuhan Jinyoung. Gadis itu memukul-mukul dada Jinyoung seolah ingin menyalurkan kesakitannya. Jinyoung mengeratkan pelukannya. Perlu waktu beberapa menit hingga Rae Ah menjadi tenang. Jinyoung menanggkup wajah Rae Ah. Saat itulah iaa dapat merasakan perubahan pada wajah gadis itu. Wajahnya menjadi lebih tirus dari saat terakhir kali mereka bertemu.

“Sekarang aku akan bertanya, bagaimana kau mengetahuinya?” tanya Jinyoung.

“Aku melihat kalian bersenang-senang di sebuah pusat perbelanjaan. Kalian sangat mesra. Aku mengikuti kalian hingga ke sebuah kafe. Di sana aku tahu nama gadis itu adalah Krystal dan saat itu kalian sedang merayakan hari jadi yang ke-100,” Rae Ah menghembuskan napasnya dengan kasar. Akhirnya, ia dapat mengungkapkannya. Bebannya benar-benar telah terangkat.

 

Mianhae, jeongmal mianhae, Kim Ra Ah”

“Hanya itu yang bisa kau ucapkan? Oh, aku bahkan tetap mengurus kafe ini agar aku terus ingat padamu,”

“Menikahlah denganku, Kim Rae Ah.” Rae Ah mematung. Ia tidak salah dengar, kan?

“Aku sangat bodoh telah menyakitimu, Kim Rae Ah. Maafkan aku. Aku–aku masih amat sangat mencintaimu. Batalkan pernikahanmu dengan profesor Cho lalu menikahlah denganku,” ucapan Jinyoung seharusnya membuatnya terharu. Alih-alih menangis, Rae Ah malah tertawa.

 

Jinyoung mengerutkan keningnya. Setahunya ia tidak mengeluarkan kata-kata yang lucu. Namun kemudian ia terdiam. Ia kembali melihat tawa seorang Kim Rae Ah yang selalu mampu membuatnya bahagia. Setelah tiga tahun, hari ini ia dapat kembali melihat tangis dan tawa seorang Kim Rae Ah. Ini cukup melegakan.

 

“Ada yang lucu?”

“Maaf, hanya saja, aku harus mengklarifikasi sesuatu, di sini” Rae ah menghentikan tawanya. Ia tahu Jinyoung sedang serius.

“Cho Kyuhyun atau profesor Cho adalah kakak sepupuku, jadi tidak mungkin kami menikah. Kedekatan kamilah yang menyebakan timbulnya gosip seperti itu,” Jinyoung terperangah. Jadi profesor Cho adalah kakak sepupu Kim Rae Ah?

 

“Apakah kau baru saja melamarku?” tanya Rae Ah hati-hati. Jinyoung mengangguk pasti. Membuat Rae Ah lagi-lagi harus menahan napasnya. Bayangan wajah Krystal tiba-tiba saja melintas di benaknya. Tenggorokannya tercekat.

“Bagaimana dengan Krystal?” Jinyoung terdiam. Ia bahkan tidak ingat nama itu setelah melihat wajah Rae Ah lagi.

“Hanya katakan ‘ya’, Kim Rae Ah. Jangan pedulikan hal lain. Sudah cukup selama tiga tahun ini aku terus menahan rasa rinduku padamu. Menikah denganku, Rae.” Dada Rae Ah berdesir. Jinyoung melamarnya. Jinyoung memanggil nama kecilnya.

“Aku–“

“Katakan ‘ya’, Kim Rae Ah” Rae Ah menunduk, menarik napas dalam-dalam. Ia kembali mendongak lalu tersenyum pada Jinyoung. “Ya.”

 

THE END

Ceritanya ini aku bikin buat special birthday-nya Jinyoung. hehe Sorry for typo. Sorry for every mistaken. as always, thank’s for coming :*

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

7 thoughts on “Back”

  1. ish buset!!!
    kurang ajar bener si jin young.
    kalo aku jd rae ah ogah balikan lg.
    “Hanya katakan ‘ya’, Kim Rae Ah. Jangan pedulikan hal lain <—– nih kata2 bikin gondok setengah mati loh.
    udah ga kna writer block?
    keep writing!!!

      1. owalah tp gpp feelnya dpt kok.
        aku beneran sebel sm si jinyoung loh.
        kesel bgt.
        seenak jidat gt tuh org.tsk!
        padahal nda knal hahahaha.
        keep writing ya.
        smangat!!!

  2. ya ampuunn brengsek bgt ya sjeyoung…
    kaka sepupu????yahhhhhhhh
    setelah selungkuh trus teto mempertahankan hub ma selingkuhan tanpa cari ytau gimana gdis yg di selingkuhi…sekarang pas ketemu ngajak nikah???gimana kristal???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s