Beautiful November

Cahaya mentari pagi dengan malu-malu mengintip dari celah-celah jendela. Dua insan yang tengah tertidur mulai terganggu oleh kehangatannya. Salah satu dari mereka meggeliat, mengerjapkan mata untuk beradaptasi dengan sekeliling yang sudah mulai terang. Matanya perlahan membuka. Ia melihat ke arah samping kanan. Senyumnya merekah ketika dilihatnya seseorang di sampingnya tengah berusaha untuk bangun.

“Selamat pagi, sayang.” Ia mengubah posisinya jadi menyamping, menopang kepala dengan tangan kanannya.

“Tidak bisakah kau bangun setelah aku, Lee Donghae?” Donghae terkekeh pelan.

“Tanyakan hal itu pada dirimu sendiri, Hyunhee sayang. Tidak bisakah kau bangun sebelum aku, hm?” Hyunhee memukul pelan dada Donghae.

“Ah! Kau ingat hari ini, hari apa?” Donghae mengerutkan keningnya. Ada apa dengan Hyunhee? Tentu saja ia ingat. Hari ini senin. Senin tidak akan pernah terlupakan oleh seorang Lee Donghae. Baginya, senin adalah awal dari segala kesuksesannya dan ia sangat menyukai senin –senin yang begitu dibenci oleh sang isteri. Ah, benar. Hari ini tanggal 3 November. Pantas saja Hyunhee menanyakan itu.

“Tentu saja aku ingat. Bukankah hari ini, senin?” Hyunhee merubah air mukanya yang semula ceria menjadi cemberut. Senin? Apakah Donghae melupakan hari spesialnya?

“Selain itu,”

“Selain itu? Memangnya ada yang spesial dengan hari ini?” Hyunhee semakin menunjukkan wajah muramnya. Astaga, Lee Donghae benar-benar mennyebalkan.

“Lupakan!” Hyunhee beranjak dari tempat tidur.

 

Tawa Donghae pecah ketika Hyunhee sudah menghilang di balik pintu kamar mandi. Jadi menyebalkan di hadapan Choi Hyunhee memang sangat menyenangkan. Tidak mungkin seorang Lee Donghae melupakan hari spesial Hyunhee, perempuan yang sudah menjadi isteri sejak enam bulan yang lalu.donghae tidak akan mungkin bisa melupakan segala hal yang berhubungan dengan seorang Choi Hyunhee.

 

Donghae mengambil ponselnya yang terletak di meja samping tempat tidur. Ia men-dial­ sebuah nomor kontak.

“Jangan lupa dengan rencana kita hari ini dan jangan mengecewakanku, Kibum. Aku percayakan semuanya padamu.” Donghae memutus sambungan tersebut dengan senyum yang merekah. Ia bahkan tidak peduli dengan seseorang yang dihubunginya itu baru saja bangun dan nyawanya belum terkumpul penuh. Hari ini harus berjalan dengan istimewa, isteriku sayang.

 


 

Hyunhee tersentak ketika sepasang tangan berhasil melingkar di perutnya. Ia berdecak sebal. Lee Donghae selalu seperti ini.

“Hari ini tidak ada jadwal, kan?” tanya Donghae.

“Tentu saja tidak. Aku bukan kau yang selalu sibuk setiap hari, Lee Donghae.” Jawab Hyunhee ketus. Oh, Donghae tahu penyebabnya.

 

Diputarnya tubuh Hyunhee agar menghadap padanya. Tanggannya masih setia melingkar di perut Hyunhee. Cantik sekali. Donghae tidak akan pernah bosan untuk menatap wajah cantik Choi Hyunhee. Sepertinya Tuhan telah menganugerahkan gen dengan begitu baik pada keluarga Choi sehingga keturunan keluarga Choi memiliki keindahan wajah di atas rata-rata. Lihat saja Choi Siwon, putra tunggal keluarga itu. CEO muda yang menggantikan Choi Kiho –ayahnya di Hyundai Corp itu memiliki ketampanan yang bahkan dapat disejajarkan dengan ketampanan seorang Richardo Kaka –pmain bola asal Brazil. Lalu Choi Jiwon, adik dari Choi Siwon yang kecantikannya diakui oleh seluruh dunia. Choi Jiwon adalah seorang model kelas dunia.

 

Choi Hyunhee, perempuan dengan mulut tajamnya juga memiliki kecantikan yang di luar nalar. Wajah Choi Siwon dan Chi Jiwon seolah menjadi satu dalam wajah Choi Hyunhee. Dan Donghae tidak pernah mampu untuk memungkiri kecantikan seorag Choi Hyunhee.

 

Are you still there, Lee Donghae?” Donghae mengerjap. Rupanya ia terlalu mengagumi wajah sang isteri hingga tidak sadar jika mereka masih berada dalam posisi yang sama sekali belum berubah –berpelukan.

“Ah, maaf. Hari ini kita akan pergi bersama. Jadi cepatlah mandi! Masakan ini biar aku yang menyelesaikan.” Hyunhee melukis kerutan di keningnya. Seorang Lee Donghae mengajaknya pergi di hari senin? Sepertinya ada yang salah. Dalam kamus hidup seorang Lee Donghaae, hari senin adalah hari di mana ia harus dan wajib untuk pergi ke kantor. Tidak peduli apapun yang terjadi. Lalu hari ini ia mengajaknya pergi? Astaga, sepertinya semalam Donghae salah meminum vitaminnya.

 

Hey, what’s goin’ on? Hurry up!” Hyunhee tersadar. Ia buru-buru melepas celemek. Tanpa banyak bertanya, Hyunhee berjalan menuju kamar mereka untuk bersiap. Persetan dengan keanehan Donghae. Lee Donghae adalah orang tersibuk yang pernah dikenalnya setelah Choi Kiho, Choi Siwon dan Choi Jiwon. Hyunhee tidak boleh melewatkan kesempatan langka ini.

 

***

 

Hyunhee merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Donghae membawanya ke tempat yang sangat ia inginkan. Lotte World. Seumur hidupnya selama 21 tahun, Hyunhee tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Bukan karena ia tidak memiliki uang. Ayolah, putri bungsu dari Choi Kiho, pengusaha nomor lima di Korea Selatan tidak mungkin tidak memiliki uang.

 

Hyunhee memiliki masalah dengan jantungnya. Ia tidak bisa untuk kelelahan. Keluarganya –terutama sang ibu tidak pernah mengizinkan Hyunhee untuk pergi ke tempat yang berpotensi membuat jantungnya lelah. Hyunhee anak yang penurut. Ia tidak bisa untuk membantah sehingga ia selalu mengikuti setiap aturan yang diber;akukan keluarganya,

 

“Seperti inikah Lotte World jika dilihat secara nyata?” Donghae tersenyum menatap Hyunhee yang terlihat berbinar. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Hyunhee.

“Mau mencoba wahananya?” tanya Donghae. Hyunhee berubah sedih. Melihat Lotte World dari dekat saja sudah sangat menyenangkan baginya. Hyunhee cukup tahu diri. Ia memiliki masalah dengan jantung dan rata-rata wahana di sini membutuhkan kerja keras sang jantung.

 

“Tidak. Melihat Lotte World dari dekat saja aku sudah senang.” Jawab Hyunhee lirih. Donghae menarik napas. Ia mengerti. Sangat mengerti. Hyunhee adalah perempuan yang lurus. Lurus di sini berarti tidak pernah membantah aturan keluarga. Donghae tahu bahwa dalam hatinya, sang isteri sangat ingin melakukan hal yang bertentangan dengan aturan keluarga Choi.

“hanya menaiki wahana Bianglala, tidak akan menimbulkan masalah bagi jantungmu itu, sayang.” Refleks, Hyunhee menatapa Donghae. Benarkah?

“Benarkah?”

“Setahuku kau tidak takut ketinggian. Aku rasa itu akan baik-baik saja.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo!” Hyunhee menarik tangan Donghae menuju wahana yang disebutnya. Donghae terkekeh pelan. Ternyata benar perkataan Kibum. Meskipun hanya Lotte World, dapat membahagiakan seorang Choi Hyunhee.

 

***

 

Senyum lebar yang begitu indah yang tersungging di wajah cantik Hyunhee seolah menular pada Donghae. Sejak keluar dari kawasan Lotte World, senyum dari sang isteri tidak pernah hilang. Hyunhee dan Donghae berada dalam wahana Bianglala selama lebih kurang tiga jam. Hyunhee tidak mau turun. Donghae bahakan sampai harus menunjukkan identitasnya sebagai CEO Lotte World Korea agar petugas mau membiarkan ia dan Hyunhee tetap berada di sana.

 

“Aku baru tahu kalau kau petinggi Lotte World Korea.” Donghae hanya tersenyum menanggapi celotehan Hyunhee.

But, you’re act like a stranger today. You’ll never leave your job in monday. What’s wrong with today, Lee Donghae?”

I’ll tell you if you called me yeobo, darling, oppa, or hubby!” Hyunhee mendecih. Bukan Hyunhee tidak mau memanggil Donghae dengan panggilan-panggilan itu. Ia sangat ingin. Hanya saja, ia terlalu kaku untuk memangil Donghae seperti itu.

Then, never tell me ‘cuz I’ll never called you like that!”

“Terserah kau saja, Hyunhee!”

 

***

 

Dekorasi klasik yang memiliki kesan romantis langsung menyambut Donghae dan Hyunhee ketika keduanya masuk ke restoran khas Eropa ini. Hyunhee terkesan. Makan siang kali ini sepertinya akan berlangsung mengesankan. Seluruh dinding restoran ini dipernuhi dengan pajangan gambar-gambar kondisi Eropa pada masa lalu. Hei, bolehkah ia berharap bahwa diam-diam Donghae sedang merayakan hari ulang tahunnya? Sayangnya Donghae terlhat biasa saja. Maksudnya, tidak ada tanda-tanda Donghae mengingatnya. Menyedihkan. Hari ini merupakan hari spesial bagi Hynhee namun tidak ada seorangpun orang terdekatnya yang mengucapkan. Siwon, Jiwon, ayah dan ibu, bahkan Donghae tidak mengingatnya. Mark dan Kibum? Oh, jika sampai jam dua belas nanti kedua sahabatnya itu tidak mengucapkan apapun, mereka akan mati dengan cepat!

 

Donghae dan Hyunhee memilih tempat duduk paling ujung, paling dekat dengan jendela yang menghadap ke sebuah danau buatan. What a beautiful view!

“Setelah ini kita akan pulang, kan?” Hyunhee sudah tidak memiliki semangat untuk melanjutkan acara jalan-jalannya bersama Donghae hari ini. Ia hanya ingin Donghae mengucapkan ‘selamat ulang tahun, Hyunhee’.

 

Donghae diam. Ia menatap Hyunhee dalam. Oh, sepertinya ia sudah berhasil membuat suasana hati Hyunhee memburuk. Sebentar lagi.

“Tentu saja tidak. Masih ada satu tempat lagi yang akan kita kunjungi.” Donghae membuka suaranya.

I’m tired, Lee Donghae. Just go home and take a rest!” Donghae terkekeh geli melihat Hyunhee merajuk. Ini yang ingin ia lihat dari Choi Hyunhee. Well, meskipun Donghae harus bersiap karena selanjutnya sikap merajuk Hyunhee akan jadi sangat menyebalkan.

“Kau bisa beristirahat nanti malam, isteriku sayang. Ck! Bukankah selama ini kau selalu mengeluh karena aku jarang sekali punya waktu untukmu?” cibir Donghae.

“Menyebalkan!”

 

***

 

Hyunhee masih berusaha mengingat-ingat seluruh kejadian sebelum ia tiba-tiba bangun tadi. Seingatnya, tadi ia sedang berada dalam mobil bersama Donghae. Ia mengantuk dan selanjutnya –mungkin ia tidur. Lalu ketika ia bangun, ia sudah berada di atas kasur berukuran besar di dalam sebuah kamar –bukan kamarnya dengan Donghae.. Sebuah kamar yang terlihat mewah dan elegan.

 

“Sudah bangun?” suara Donghae yang baru masuk mengalihkan perhatian Hyunhee.

“Kita di mana, Donghae?”

“Pulau Jeju.” Jawab Donghae singkat. Hyunhee membulatkan matanya. Jeju? Astaga, seberapa lama ia tertidur, sebenarnya? Apa yang terjadi pada Donghae hari ini?

“Jeju?! Bagaimana bisa–“ Donghae membungkam Hyunhee dengan mengecup bibir Hyunhee.

 

“Kenakan ini lalu dandan yang cantik. Aku akan menunggumu di lobby.” Sebelum kesadaran Hyunhee pulih, Donghae telah keluar. Hyunhee mengerjapkan matanya berkali-kali. Masih dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, Hyunhee beranjak untuk mengenakan pakaian yang diberikan oleh Donghae. Lee Donghae benar-benar menybalkan. Tidak sadarkah ia kalu setiap perbuatannya yang tiba-tiba seperti tadi –menciumnya dapat membuatnya sport jantung? Baiklah, mereka memang sudah menikah tapi– entahlah, Hyunhee masih belum terbiasa dengan sikap Donghae –yang selalu tiba-tiba.

 

***

 

Hyunhee menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik. “Cantik. Aku harus berterima kasih pada ayah dan ibu karena telah menurunkan gen dengan baik pada anak-anaknya.” Gumam Hyunhee.

Mini dress berwarna merah muda melekat begitu pas pada tubuh ramping Hyunhee. Tidak seksi namun tetap terlihat elegan. Rambutnya ia biarkan tergerai dengan sedikit gelombang di bagian ujungnya. Heels hitam setinggi 5cm senada dengan aksesoris yang melekat pada tangan, leher, dan telinga menambah indah penampilan Hyunhee.

“Oh, jangan membuat suamimu menungu lama di lobby lalu menggandeng perempuan lain karena terlalu lama menunggumu, Hyunhee!” gumam Hyunhee –lagi. Well, ketakutan itu tidak akan pernah terjadi, sebenarnya. Lee Donghae tidak akan pernah berpaling dari Hyunhee. Garis takdir sudah menetapkan bahwa Lee Donghae hanya untuk Choi Hyunhhe seorang.

 

***

 

Hyunhee mengedarkan pandangannya ke sekeliling –mencari keberadaan suaminya. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas sehinga menghasilkan sebuah senyuman yang begitu menawan, ketika dilihatnya sang suami tengah melambaikan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana di area tunggu lobby hotel.

Segera saja Hyunhee menghampiri Donghae. Donghae menyambutnya dengan sebuah pelukan. “Jangan pernah menunjukkan senyum seperti tadi di tempat umum, Hyunhee. Kau tidak sadar jika senyumanmu itu berpotensi untuk membuat laki-laki lain tergoda, huh?” bisik Donghae tepat di telinga Hyunhee. Hyunhee memukul pelan dada bidang Donghae.

 

Donghae melonggarkan pelukan namun tangannya masih melingkar di punggung Hyunhee. Ditatapnya wajah cantik sang isteri. Astaga, Donghae sepertinya harus siap untuk selalu jatuh ke dalam pesona seorang Choi Hyunhee setiap kali menatapnya.

“Cantik sekali.” Hyunhee tersipu. Ia sudah terbiasa mendengar pujian dari banyak orang. Namun entahlah, hanya pujian dari Donghae yang mampu membuatnya tersipu seperti saat ini.

“Kau juga tampan sekali, hubby.” Balas Hyunhee malu-malu. Donghae memang tampan. Sangat tampan. Sebenarnya Donghae hanya mengenakan pakaian seperti yang selalu ia kenakan ketika bekerja. Donghae membulatkan matanya.

“Ulangi, sayang! Aku ingin mendengarnya sekali lagi.”

“Tidak ada pengulangan!” sergah Hyunhee.

“Ayolah, sayang.” Rengek Donghae. Hyunhee memutar matanya. Memalukan.

“Baiklah. Kau juga tampan sekali, hubby.”

“Tidak sulit, kan? Nah, sekarang kita pergi! Mereka sudah menunggu lama.” Donghae menuntun Hyunhee menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan pintu masuk. Hyunhee mengerutkan keningnya. Mereka? Memangnya siapa ‘mereka’ yang akan Donghae temui? Hyunhee ingin bertanya namun Donghae hanya fokus pada jalanan –tidak ada tanda-tanda ingin membuka obrolan. Akhirnya Hyunhee hanya menelan rasa penasarannya itu. Lihat saja nanti siapa ‘mereka’ itu.

 

***

 

Hyunhee menatap takjub pemandangan di hadapannya. Pantai! Hyunhee sangat menyukai pantai. Baginya, suara deburan ombak sangat menenangkan. Ia akan pergi ke pantai jika sedang mengalami kesusahan hati. Ditemani Siwon atau Jiwon -sebelum keduanya sibuk, tentu saja.

 

Hyunhee menatap Donghae dengan tatapan penuh tanda tanya. Bukan pantainya yang membuat Hyunhee bertanya-tanya, melainkan sebuah tenda besar yang berdiri kokoh di sana. Tenda putih dengan dekorasi yang didominasi oleh warna ungu. Di dalamnya terdapat banyak orang, seperti sedang mengadakan sebuah pesta.

 

Donghae membalas tatapan Hyunhee dengan senyuman. Dieratkannya genggaman pada tangan sang istri.

“Ayo, mereka sudah menunggu kita.” Donghae menarik Hyunhee. Hyunhee hanya menurut.

 

“Kyaaa!!!” Hyunhee menjerit. Begitu ia masuk, suara terompet berbunyi begitu keras ditambah teriakan ‘selamat ulang tahun’ dari orang-orang yang ada di sana. Sangat memekakkan. Tubuhnya melemas. Jantungnya berdetak tak normal.

 

Donghae yang merasakan genggaman tangan Hyunhee melemas, langsung panik.

Suasana langsung hening dalam sekejap melihat Hyunhee memegangi dadanya.

“Kau tidak apa-apa, sayang?” tanya Donghae panik. Hyunhee masih diam, mencoba mengatur detakan jantungnya. Ia tidak ingin collapse di sini.

“Maafkan kami–ah, tidak. Maafkan aku. Aku lupa jika–”

“Tidak apa-apa, Kyuhyun.” Ujar Hyunhee cepat, memotong kalimat Kyuhyun -kakak sepupunya.

“Ayo, kembali ke hotel.” Hyunhee mendongak. Ia menatap Donghae –tak percaya.

 

Kembali ke hotel dan meninggalkan orang-orang ini? Gila. Ia tidak ingin mengecewakan mereka. Mereka yang sudah menyiapkan kejutan untuk ulang tahunnya. Hyunhee menggeleng, “tidak. Aku tidak apa-apa.”

“Kau yakin?” tanya Donghae memastikan. Ia khawatir jantung Hyunhee kembali bermasalah.

Trust me, Donghae! I’m okay.” Donghae mengalah. Ia sudah berjanji jika hari ini ia akan membuat Hyunhee merasa istimewa.

 

Happy birthday, Hyunhee. Oh my! I miss you so bad.” Ucap Jiwon, menyela percakapan antara Donghae dan Hyunhee. Hyunhee tersenyum. Dipeluknya sang kakak yang malam ini terlihat sangat cantik. Jiwon memang selalu cantik.

Thank’s, Jiwon. I miss you, too.” Jiwon tersenyum. Ia benar-benar merindukan adiknya ini. Mereka tidak pernah bertemu sejak Hyunhee menikah, enam bulan yang lalu. Pasalnya, Jiwon tinggal di Perancis.

 

Happy birthday, Hyunhee.” Hyunhee dan Jiwon melepas pelukannya. Senyum Hyunhee kembali merekah melihat seseorang yang juga sangat ia rindukan, ada di hadapannya. Choi Siwon.

 

Tanpa ragu lagi Hyunhee langsung menubruk Siwon. Hyunhee memeluk Siwon begitu erat.

Thank you. I miss you, Siwon.” Siwon tersenyum. Dielusnya lembut rambut Hyunhee. Siwon mengecup puncak kepala Hyunhee. Hati Hyunhee terasa hangat.

“Aku senang melihatmu bahagia dengan Donghae.” Hyunhee mengeratkan pelukannya.

 

Donghae mengusap air matanya. Ia terharu melihat Hyunhee begitu bahagia karena bertemu dengan kedua kakaknya. Tidak sia-sia ia memohon pada dua orang super sibuk itu untuk datang. Oh, tanpa memohonpun sebenarnya Siwon dan Jiwon akan tetap datang. Hyunhee adalah adik kesayangan mereka.

“Ayah dan ibu menitipkan sesuatu untukmu. Donghae sudah menyimpannya.” Hyunhee tersenyum miris dalam pelukan Siwon. Tidak apa-apa, Hyunhee. Mereka memang selalu begitu. Hyunhee membatin.

 

Siwon menghela napasnya dengan kasar. Ia sudah berusaha keras membujuk orang tuanya agar menyediakan waktu untuk hari ulang tahun Hyunhee. Sia-sia. Orang tua mereka lebih mementingkan bisnis. Mereka bahkan hanya membuat aturan untuk Hyunhee tanpa pernah mengawasinya.

 

Happy birthday, Hyunhee!” Hyunhee melepaskan pelukannya. Ia tersenyum pada Kyuhyun.

Thank you, Kyuhyun. Where’s my gift?” Kyuhyun mendecih. Hyunhee bahkan tidak memeluknya seperti ia memeluk Siwon dan Jiwon.

 

“Hyunhee baby! Happy birthday!!” Hyunhee bersedekap. Donghae menghalangi kedua orang yang baru saja menghampiri Hyunhee.

“Jangan memeluk istriku sembarangan!”

“Kau berlebihan, Lee Donghae. Kami tidak akan merebutnya darimu.” Cibir Kibum –salah satu sahabat Hyunhee.

 

“Sudahlah!” Hyunhee menyentuh bahu Donghae, menenangkannya, “mereka sahabatku.” Ia beralih pada Kibum dan Seunghyub. “Terima kasih. Aku pikir kalian lupa,” Hyunhee memeluk Kibum dan Seunghyub.

“Ini semua ide suamimu. Dia bahkan membiayai transportasi dan akomodasi kami semua selama di sini.” Ujar Seunghyub.

Hyunhee berbalik, tersenyum pada Donghae yang sedang mengusap air matanya.

 

Hyunhee menghampiri Donghae lalu melingkarkan tangannya pada leher suaminya itu.

Thank’s for brought them, hubby.” Donghae tersenyum. Dikecupnya puncak kepala Hyunhee dengan penuh kasih.

Are you happy?”

Of course. Thank’s for created my beautiful November.” Hyunhee mgengeratkan pelukannya, menghirup wangi tubuh sang suami.

Then, happy birthday, wifey.

 

THE END

 

Hoho, selamat November! I’m back! Haha

Aku persembahin FF absurd ini buat sahabatu tersayang yang ulang taun tanggal 3 kemarin. Ini telat banget, emang. Tapi aku baru sempet bikin ini. Happy birthday, Novi Rattry. I love you. Hope you like this story. Udah umum banget sih ceritanya. Aku sayang kamu~

Readers, as usual, thank’s for coming :*

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

11 thoughts on “Beautiful November”

  1. waduh mw jg donk jd choi hyunhee tp nda mw pny penyakitnya wkwkwkwk.
    nda tw mw cmnt apa ini sweetness overload dah hahahaha.
    kalo baca ginian jd pingin nikah deh hahahaha.
    beneran beautiful nov deh kalo jd hyunhee.
    tp aku bayangin lee donghae itu kyu wkwkwkwk.
    nda tw knp pas baca ini tuh yg kbayang malah si kyu.
    susah emank ngilangin muka si abang epil hihihihi.
    keep writing!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s