I Miss You

Lanjutannya yang kemaren-kemaren, nih! Yang belum baca, silakan diklik: Wake-Up dan I’ll Be Your Legs biar nyambung^^

 

***

 

Kediaman keluarga chaebol Kim sore ini terlihat begitu sepi. Rumah besar dengan segala fasilitas mewah yang begitu lengkap, hanya terlihat seperti sebuah pajangan. Kim Rae Ah menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar. Mata indahnya menerawang ke luar jendela di mana terlihat pemandangan yang begitu indah. Padang rumput luas yang di desain olehnya sendiri kini nampak tidak menarik lagi baginya. Padang rumput dengan taman aneka macam bunga di tengahnya.

 

 

Bayangan masa lalu yang begitu indah berputar di benaknya. Masa lalu bersama Seunghyub. Di padang rumput itu Rae Ah selalu menghabiskan waktu senggang bersama Seunghyub. Terutama ketika sore menjelang malam. Pemandangan di sana akan begitu menakjubkan dengan suguhan alam yang begitu mempesona ketika matahari kembali ke peraduannya. Senja memang selalu menyenangkan. Ah, ngomong-ngomong soal Seunghyub, kekasihnya itu sudah hampir satu minggu tidak menunjukkan batang hidungnya.

 

Beberapa hari terakhir ini prasangka buruk selalu menghantui pikirannya. Mungkin saja selama satu minggu ini Seunghyub menyadari bahwa keputusannya salah. Keputusan untuk menemani gadis lumpuh seperti dirinya merupakan kesalahan besar. Ya, Seunghyub pasti bosan terhadapnya.Seharusnya Seunghyub tidak membuang waktunya hanya untuk menunggunya terbangun. Seharusnya Seunghyub membiarkan dokter melepas peralatan medisnya kala itu. Seharusnya Seunghyub membiarkan ia- mati.

 

Lagi, Rae Ah menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia menengadahkan kepalanya untuk menahan laju air mata yang sudah siap mengalir kapan saja ketika ia mengedipkan matanya. Tidak, pikiran-pikiran itu harus ia hilangkan. Jika Seunghyub bosan, seharusnya ia sudah meninggalkannya dari dulu. Oh Tuhan. Lee Seunghyub, aku merindukanmu.

 

***

01:02 a.m. Seunghyub mengusap wajahnya dengan kasar. Pukul satu dan ia masih berada di kantor. Ya Tuhan, seharusnya ia tidak menerima jabatan sebagai CEO di perusahaan ayahnya ini. Lee Jonghyun -kakaknya yang seharusnya berada di balik meja kebesaran ini. Seandainya ia bisa mengikuti jejak sang kakak yang lebih memilih keluar dari rumah dan menggapai cita-citanya sebagai musisi.

Seunghyub membereskan barangnya. Ia sudah tidak sanggup untuk bekerja lebih lama lagi. Satu minggu ini ia selalu pulang lebih dari pukul tiga dini hari. Well, ini memang salahnya. Salahnya yang sering meninggalkan pekerjaan untuk menemani kekasihnya di rumah sakit. Apakah ia menyesal? Tentu saja tidak. Tidak akan pernah ada yang disesali jika itu menyangkut seorang Kim Rae Ah. Bahkan jika ia harus kehilangan jabatannya sebagai CEO pun ia akan rela. Lagipula, dengan begitu ia akan dengan mudah melanjutkan mimpinya menjadi seorang musisi. Oh, sepertinya hal itu hanya akan terjadi dalam mimpinya saja.

***

Mentari telah terbit beberapa jam yang lalu. Seunghyub tersenyum simpul melihat kekasihnya masih betah berada di balik selimut tebal berwarna oranye kesayangannya. Wajah Rae Ah ketika tidur terlihat begitu polos dan tanpa beban.

Seunghyub memperhatikan setiap lekukan wajah cantik Rae Ah yang terpahat sempurna itu dengan seksama. Ia mengernyit heran ketika mendapati bekas air mata yang sudah mengering di wajah kekasihnya. Diusapnya bekas air mata itu dengan telunjuknya. Apa yang membuatnya menangis?

Seunghyub menarik tangannya ketika Rae Ah mengerjap, berusaha untuk membuka matanya. beberapa detik kemudian matanya telah membuka sempurna. Semakin melebar ketika ia menyadari siapa yang berada di hadapannya.

“Seunghyub” gumamnya. Seunghyub tersenyum lembut. Ia melingkarkan tangannya di atas perut Rae Ah.

“Hai”

“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Rae Ah.

“Sejak pukul dua dini hari.” Jawab Seunghyub santai.

What?!” pekik Rae Ah. Seunghyub meringis. Ia menutup telinganya.

“Tidak bisakah kau berteriak lebih kencang lagi, nona Kim?” sindir Seunghyub. Ia menarik tubuh Rae Ah dengan tangan kirinya agar mereka berhadapan.

Rae Ah diam. Seunghyub mengerjap pelan melihat Rae Ah menatapnya dengan tatapan yang begitu intens. Mata indah Rae Ah terlihat berkaca-kaca.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Seunghyub gugup. Rae Ah bergeming. Ia ingin memandang wajah Seunghyub lebih lama. Ia benar-benar merindukan kekasihnya, Lee Seunghyub.

“Kim Rae Ah, jangan membuatku ketakutan seperti itu!” Rae Ah tersenyum geli melihat wajah kesal Seunghyub yang dibuat-buat.

“Apa aku tidak boleh memandangi wajah kekasihku sendiri, huh?” cibir Rae Ah. Seunghyub tersenyum miring.

“Apa wajahku sangat tampan?” Rae Ah memukul dada Seunghyub. Seunghyub meringis pelan. Ia menarik Rae Ah ke dalam pelukannya dengan erat. Satu minggu tidak melihat dan memeluk wajah Kim Rae Ah begitu menyiksanya.

“Satu minggu ini kau tidak berkunjung. Apa- kau bosan denganku?” Seunghyub melonggarkan pelukannya pada Rae Ah. Ia menunduk, menatap mata Rae Ah yang berkaca-kaca.

“Apa yang kau katakan? Mana mungkin aku bosan jika setiap harinya kau selalu membuatku kembali jatuh cinta?” ujar Seunghyub. Rae Ah tersentak ketika ditangkapnya ada kemarahan dalam nada bicara Seunghyub.

“Sekarang aku lumpuh. Bisa saja kau menyesal telah memilih untuk tetap bersamaku dan-“

“Cukup! Sudah kukatakan, jangan pernah merendahkan dirimu lagi! Dengar, Kim Rae Ah! Seminggu ini au sibuk dengan pekerjaanku. Aku minta maaf karena baru punya waktu untukmu. Jangan berpikiran buruk tentangku, aku mohon.” Air mata Re Ah telah sukses mengalir. Ia salah. Ia telah membuat Seunghyub marah dengan pikiran-pikiran buruknya.

Seunghyub memejamkan matanya sejenak, mengontrol emosi agar tidak meledak. Ia marah. Ia akan marah jika Rae Ah selalu menyalahkan kelumpuhannya. Kapan Rae Ah akan mengerti bahwa Seunghyub mencintainya tanpa peduli ia lumpuh ataupun sehat. Ia mencintai Rae ah dulu dan sekarang hingga nanti, hingga ajal menjemput.

“Maaf.” Gumam Seunghyub ketika ia sudah berhasil mengontrol emosinya. “Aku tidak suka kau terus-terusan menyesali kelumpuhan itu. Aku datang ke sini karena aku merindukanmu, sayang. Maaf telah membentakmu” lanjutnya.

Rae Ah menenggelamkan wajahnya pada dada Seunghyub. Tangannya terulur melingkari pinggang kekasihnya. “Maafkan aku” gumamnya, sedikit terisak. Seunghyub mengusap lembut rambut Rae Ah, dicuimnya puncak kepala sang kekasih.

“I miss you, Lee.” Ujar Rae Ah. Seunghyub tersenyum lalu kembali mencium puncak kepala Rae Ah.

“I miss you, too.” Rae Ah mengeratkan pelukannya pada Seunghyub. Pagi ini ia ingin kembali tidur dengan Seunghyub yang mendekapnya. Ia ingin melepas rasa rindunya pada laki-laki yang begitu setia padanya. Lee Seunghyub.

THE END

SeungRae is back! haha. Aku bikin ini cuman sejam. Gara-gara malem ini gak bisa tidur jadinya bikin ini aja. Maaf kalo feel-nya gak dapet dan typo yang bertebaran. Ini emang gaje. But, I wish you all like this story. Love ya^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

7 thoughts on “I Miss You”

  1. huaaa., pngen bgt pnya pcar kya SeungHyun Oppa,, hehe wlaupun sbnar ny sya gk knal Seung Hyun oppa it sypa d’dnia nyata hihi.. tpi suka bgt dgn karakter ny ny d’ff series ini.. keren and so sweet (y)

  2. so sweeeeetㅠㅠ saya suka jalan ceritanya…ditunggu kelanjutannyaaaaaaㅠㅠ klo bisa lebih panjang biar gak gantung 하하

  3. harus ngepoin seung hyub ini
    wahhh…ane ga kenal ama n.flying
    huhuhu

    ..

    kapn mereka nikah??
    wahhh….suka ama ini couple
    seunghyub yng ttep setia cinta ama rae ahh
    moga rae ah ga punya pikiran itu lagi lahhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s