My Handsome Hubby

One Hyde Park, London, United Kingdom.

 

Dentingan garpu dan sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang mengiringi keheningan sarapan pagi ini. Dua manusia yang telah terikat dalam tali pernikahan satu tahun yang lalu itu memang tidak begitu suka berbicara ketika makan.

Laki-laki yang menjadi kepala rumah tangga meletakkan garpu dan sendok di atas piring dengan rapi, pertanda ia telah menyelesaikan sarapannya. Diteguknya air putih untuk membersihkan mulut dan tenggorokannya dari sisa-sisa makanan. Laki-laki itu tersenyum simpul melihat sang isteri menikmati sarapannya dengan begitu khidmat. Ah, isterinya ini begitu cantik. Bahkan akan terlihat cantik dalam keadaan apapun.

 

 

“Aku mendapat tawaran menjadi dosen di Seoul National University. Satu minggu lagi aku akan mulai mengajar di sana.” Laki-laki itu membuka suaranya, membuat sang isteri menghentikan kegiatannya yang sedang mengunyah makanan.

“Aku harap kau bersedia untuk ikut bersama denganku, Rae Ah-ssi.” Sambung laki-laki itu. Ada raut kekecewaan dari wajah isterinya namun tidak lama kemudian isterinya itu tersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, Kyuhyun-ssi. Terima kasih telah mengatakannya pagi ini karena kalau tidak…” Rae Ah menggantungkan kalimatnya, menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakannya atau tidak. Kyuhyun mengerutkan keningnya, menantikan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut sang isteri.

“Kalau tidak?” tanya Kyuhyun tak sabar saat isterinya tak kunjung membuka suaranya juga.

“Pagi ini rencananya aku akan mendaftar ulang. Aku mendapat beasiswa S2 di Oxford University tapi karena kita akan pindah, lebih baik aku tidak mengambil beasiswa itu.” Jelas Rae Ah. Kyuhyun terdiam. Beasiswa? Oh, apakah ia rela membiarkan sang isteri melepas beasiswa yang menjadi impiannya begitu saja?

“Beasiswa?” Rae Ah mengangguk. Kyuhyun bukan tuli, ia hanya ingin memastikan pendengarannya saja.

“Kau sangat menginginkan beasiswa ini. Ambil saja, Rae Ah-ssi. Kesempatan tidak datang dua kali.”

“Aku memang sangat menginginkannya tapi aku punya kewajiban untuk ikut kemanapun suamiku pergi.”

“Tidak apa-apa. Ambil beasiswa itu. Aku sebagai suamimu, mengizinkanmu untuk tetap tinggal di London.” Mata Rae Ah berkaca-kaca mendengar ucapan Kyuhyun yang begitu serius.

“Terima kasih, Kyuhyun-ssi.” Kyuhyun mengangguk kemudian menyambar tas kerjanya untuk berangkat ke kantor.

 

Cho Kyuhyun menikmati statusnya sebagai suami dari seorang perempuan yang menarik hatinya sejak pertama kali melihat perempuan itu di taman kampus tempatnya kuliah dulu. Kyuhyun berada di tingkat akhir strata satu di Oxford University dan Kim Rae Ah berada di tingkat pertama. Jatuh cinta pada pandangan pertama seolah menjadi karma bagi Kyuhyun yang tidak ingin mempercayainya. Jatuh cinta pada pandangan pertama? Bukankah itu sangat konyol? Tentu saja bagi seorang Cho Kyuhyun itu adalah hal terkonyol yang pernah dialaminya.

Ia jatuh cinta sejak pertama kali melihat Kim Rae Ah tengah duduk di bangku taman dengan matanya yang terpejam menengadah ke atas langit serta telinganya yang disumbat earphone berwarna oranye. Cantik. Bagi Kyuhyun perempuan itu sangat cantik.

Siap jatuh cinta berarti harus siap untuk patah hati juga, kan? Saat itu Kyuhyun jatuh cinta dan saat itu pula ia langsung patah hati. Ia melihat perempuan itu memeluk laki-laki yang baru menghampirinya dan sesaat kemudian laki-laki itu menciumnya. Astaga, jatuh cinta pada pandangan pertama yang sangat mengerikan. Saat itu pula Kyuhyun berusaha mengenyahkan ketertarikannya.

 

Satu tahun lalu, setelah Kyuhyun berhasil menduduki singgasana sang ayah di Cho Group, ia dipertemukan kembali dengan perempuan yang membuatnya jatuh cinta dalam sebuah pertemuan antara keluarganya dengan keluarga Kim. Bisa membayangkan betapa bahagianya Kyuhyun saat itu? Ia amat sangat bahagia, terlebih lagi atas rencana perjodohan yang direncanakan kedua keluarga itu. Saat itu Kyuhyun merasa dirinya tengah melayang di angkasa. Pernikahan itu terlaksana hingga saat ini, meskipun keduanya tetap canggung, terlihat dari cara mereka memanggil nama satu sama lain.

 

***

 

Heathrow International Airport, London, United Kingdom.

 

Rae Ah menundukkan kepalanya begitu dalam. Sudah saatnya untuk Kyuhyun pergi. Entahlah, ia merasa bersalah telah membiarkan Kyuhyun pindah ke Seoul seorang diri. Bukankah ini membuktikan bahwa ia bukan seorang isteri yang berbakti? Meskipun hubungan keduanya begitu canggung, ia tetap harus berbakti pada suaminya. Dan lagi, bagaimana jika ia rindu pada suami tampannya ini?

 

Tubuhnya menegang saat tangan kekar milik Kyuhyun merengkuhnya ke dalam sebuah pelukan hangat.

“Jaga dirimu baik-baik. Hubungi aku jika terjadi apa-apa. Aku akan sangat merindukanmu.” Suara Kyuhyun memelan pada kalimat terakhir, membuat Rae Ah kembali menegang. Kyuhyun mengeratkan pelukannya, mengisyaratkan pada Kyuhyun bahwa ia juga akan sangat merindukannya.

“Aku harus pergi sekarang.” Kyuhyun melepas pelukannya dengan berat hati. Jika boleh jujur, ia sangat berharap isterinya akan mengejarnya dan mengatakan bahwa mereka akan sama-sama pindah ke Seoul tapi ia tidak boleh egois. Isterinya sangat menginginkan beasiswa itu dan tidak mungkin baginya untuk menjadi penghambat bagi cita-cita sang isteri.

 

“Kyuhyun-ssi,” panggilan yang mengalun indah dari sang isteri menghentikan langkah Kyuhyun. Ia memutar badannya dan seketika itu juga tubuhnya seperti tersengat tegangan listrik ribuan volt. Kim Rae Ah secara tiba-tiba mencium bibir tebal Kyuhyun dan itu berhasil membuat seluruh aliran darahnya berdesir. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, Kyuhyun menahan tengkuk Rae Ah untuk membalas ciuman itu. Oh Tuhan. tidak sadarkah Kim Rae Ah bahwa ciumannya yang tiba-tiba ini berpotensi membuat seorang Cho Kyuhyun membatalkan keberangkatannya?

 

Suara panggilan untuk penumpang tujuan Seoul membuat Kyuhyun dengan sangat terpaksa melepas ciumannya. Rae Ah menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Kyuhyun tersenyum. Diacaknya dengan pelan rambut hitam kemerahan milik Rae Ah kemudian melanjutkan langkahnya yang tertunda tadi. Kyuhyun memegang dadanya yang sebelah kiri dengan senyuman lebar terpatri di wajah tampannya. Debaran jantungnya kali ini terasa begitu menyenangkan. Ia memiliki memori indah yang dapat dikenangnya selama ia di Seoul.

“Hati-hati. Aku juga akan sangat merindukanmu.”

 

***

 

Seoul National University, Seoul, South Korea.

 

“Profesor Cho!” panggil seorang gadis. Kyuhyun menghentikan langkahnya, menatap heran gadis yang tadi memangilnya kini sudah berdiri di hadapannya. Gadis itu terlihat gugup. Kyuhyun mengernyit. Apakah ini salah satu mahasiswinya?

“Saya menyukai anda, profesor. Saya ingin anda menjadi kekasih saya.” Kyuhyun terdiam. Ia tidak terkejut, hanya bingung melihat gadis di hadapannya ini berbicara terlalu cepat. Oh, tentu saja Kyuhyun tidak akan terkejut. Gadis ini entah gadis ke berapa yang telah menyatakan cinta padanya.

“Maaf, saya sudah menikah.” Ujar Kyuhyun seraya menunjukkan jari manisnya yang dilingkari sebuah cincin. Gadis itu menunduk.

“Saya permisi.” Kyuhyun melanjutkan langkahnya. Ia menghela nafasnya dengan kasar. Baru satu bulan berpisah dengan Rae Ah tapi terasa sudah satu tahun saja.

 

***

 

Oxford University, Oxford, United Kingdom.

 

Kim Rae Ah menatap ponsel hitamnya dengan nanar. Satu bulan sejak Kyuhyun pergi dan selama itu pula Kyuhyun tidak pernah menghubunginya. Tidakkah Kyuhyun merindukannya? Apakah Kyuhyun baik-baik saja? Demi Tuhan, jika Kyuhyun menghubunginya nanti dan mengatakan bahwa ia merindukannya, saat itu juga ia akan mengurus kepindahannya ke Seoul. Keinginannya untuk mendapat beasiswa, tidak sebesar keinginannya untuk menjadi isteri Kyuhyun yang sesungguhnya. Menjadi isteri Kyuhyun yang membangunkannya di pagi hari, mengantar Kyuhyun ke depan rumah untuk berangkat bekerja, menunggu Kyuhyun pulang, memeluk Kyuhyun ketika tidur, dan menjadi ibu dari anaknya.

 

Tidak. Ia tidak bisa menunggu hingga Kyuhyun menghubunginya. Ia harus mengurus kepindahannya sekarang. Dengan tekad yang kuat, Rae Ah bangkit dari duduknya untuk kemudian berjalan menuju ruang akademik.

 

“Anda yakin akan berhenti?” Rae Ah mengangguk pasti.

“Anda harus mengganti uang beasiswa yang sudah anda terima jika anda berhenti. Anda bersedia?” Rae Ah kembali mengangguk dengan pasti. Oh Tuhan, tidak bisakah tuan McClain ini hanya mengabulkan permohonannya tanpa banyak bertanya?

“Baiklah. Saya akan menyiapkan surat rekomendasi jika anda berubah pikiran dan berniat melanjutkan di universitas lain.”

“Terima kasih.” Rae Ah meninggalkan ruang bagian akademik dengan hati lapang. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan suaminya dan ia tidak akan kesepian lagi.

 

***

 

Seoul National University, Seoul, South Korea.

 

Kyuhyun menatap foto pernikahannya dengan Rae Ah yang bertengger di atas meja. Ia tersenyum. Tangannya terangkat untuk mengusap wajah cantik sang isteri yang tersenyum begitu tulus. Satu yang membuat Kyuhyun merasa beruntung dengan pernikahan ini adalah ketika ia menyadari bahwa senyuman istrinya ketika menikah itu begitu tulus. Senyum itu bukan senyum yang penuh kepalsuan. Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada seseorang yang membuka pintu ruangannya.

“Apa aku mengganggu, Kyuhyun-ssi?”

“Tidak, Yira-ssi. Masuklah!” orang yang bernama Yira itu tersenyum lalu menghampiri Kyuhyun.

“Aku ingin mengajakmu makan siang, jika kau tak keberatan.” Kyuhyun tampak berpikir namun tak lama kemudian ia mengangguk. Hanya makan siang tidak termasuk dalam kategori penghianatan terhadap isteri, kan?

“Baiklah.” Kyuhyun berjalan mendahului Yira yang tanpa sepengetahuannya gadis itu bersorak.

“Langkah awal untuk membuat Kyuhyun melupakan isterinya di London telah berhasil.”

 

***

 

JKR Restaurant, Seoul, South Korea.

 

Kyuhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran. Restoran ini memiliki dekorasi yang terkesan romantis. Dari tempatnya duduk saat ini ia dapat melihat sebuah kolam yang dipenuhi bunga teratai dengan pinggirannya dipenuhi oleh mawar biru. Suatu saat nanti ia harus mengajak Rae Ah ke sini. Oh, gadis itu bahkan tidak dapat menyingkir barang sedikitpun dari otak jenius seorang Cho Kyuhyun.

 

“Aku dengar akan ada mahasiswa baru di jurusan kita pindahan dari Oxford, besok.” Ujar Yira, menarik Kyuhyun dari lamunannya tentang Rae Ah.

“Benarkah?” tanya Kyuhyun datar. Mahasiswa baru bukanlah topik yang menarik untuk bahan obrolan. Kyuhyun hanya menghargai Kim Yira yang tampak antusias dengan topik itu.

“Ya. Kenapa orang itu pindah? Padahal sulit sekali untuk menjadi bagian dari keluarga besar Oxford University.” Jawab Yira dengan begitu antusias. Kyuhyun hanya menatapnya heran. Sesulit itukah menjadi bagian dari Oxford? Seingatnya ia tidak pernah merasa kesulitan sama sekali. Ah, jika memang begitu sulit, berarti ia harus bangga pada isterinya yang kini tengah menuntut ilmu di sana. Bahkan mendapatkan beasiswa. Bukankah itu artinya ia memiliki isteri yang jenius?

 

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada ponsel hitamnya yang tergeletak di atas meja restoran. Ponsel itu berdenting sekali berarti hanya pesan masuk. Diambilnya ponsel itu lalu membaca pesan yang masuk. Matanya membulat sempurna membaca tagihan kartu kredit ke ponselnya.

 

“Sepuluh ribu pounds?!” tanpa sadar Kyuhyun memekik, membuat Yira dan pengunjung restoran lain melihatnya dengan tatapan aneh.

“Ada apa, Kyuhyun-ssi?” alih-alih menjawab pertanyaan Yira, Kyuhyun menempelkan ponsel hitam itu ke telinganya. Sial. Ponselnya tidak aktif.

 

Sebenarnya apa yang dilakukan isterinya itu sampai-sampai menghabiskan uang sebanyak sepuluh ribu poundsterling? Astaga, apakah Kim Rae Ah berubah menjadi seorang yang shopaholic setelah berpisah dengannya? Tunggu. Selama satu bulan lebih ini tidak pernah ada tagihan dari kartu kredit yang diberikannya pada Rae Ah. Apakah itu berarti Kim Rae Ah sudah mau menggunakan uangnya? Astaga, ini berarti Kim Rae Ah sudah menerima Kyuhyun sebagai suaminya, kan? Silakan habiskan uangku sesukamu, isteriku sayang. Batin Kyuhyun girang.

“Kau kenapa, Kyuhyun-ssi?” tanya Yira, heran melihat perubahan ekspresi di wajah Kyuhyun yang berubah begitu cepat. Sebentar terlihat murka lalu kemudian tersenyum begitu lebar. Kyuhyun berdeham untuk menormalkan ekspresinya.

“Tidak apa-apa, Yira-ssi. Sebaiknya kita kembali ke kampus. Aku masih ada kelas.” Ujar Kyuhyun. Yira mengangguk setuju. Keduanya berlalu dari restoran ini untuk kembali melanjutkan kegiatan mengajar mereka.

 

***

 

Incheon International Airport, South Korea.

 

Kim Rae Ah memejamkan matanya, meresapi angin musim gugur Korea. Oh Tuhan, setelah 20 tahun akhirnya ia dapat menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya ini. Cho Kyuhyun, besok kita akan bertemu lagi.

 

“Zeus Hotel, please.” Ucapnya pada sopir taksi. Sopir itu mengangguk kemudian menginjak pedal gasnya menuju tempat yang Rae Ah sebutkan.

Senyuman yang melengkung indah di wajah cantik Rae Ah turut mengiringi perjalanannya menuju hotel Zeus. Menginap di hotel untuk dua hari tidak masalah. Ah, ia tidak sabar ingin segera melihat Kyuhyun ketika mengetahui keberadaannya.

 

***

 

Seoul National University, Seoul, South Korea.

 

Daun-daun yang berguguran seolah menjadi sambutan bagi kedatangan Rae Ah di kampus ini. Ia begitu mengagumi keindahan musim gugur Korea yang tidak kalah indah dengan musim gugur Inggris. Akibat terlalu mengagumi keindahan itu, ia tidak menyadari seseorang yang sedang berjalan ke arahnya dengan tertunduk. Buk! Tubuh Rae Ah sedikit terdorong ke belakang akibat tabrakan itu.

“Maafkan saya, nona.” Seorang gadis yang bertabrakan dengan Rae Ah itu membungkuk.

“Tidak apa-apa.” Balasnya singkat. Gadis itu mengerutkan keningnya.

“Apakah kau mahasiswi baru di sini?” Rae Ah mengangguk.

“Ah, pantas saja aku tidak pernah melihatmu. Aku Kim Saehee dari jurusan S2 manajemen bisnis.” Rae Ah menyambut uluran tangan Saehee dengan antusias.

“Kim Rae Ah. Aku juga berada di jurusan yang sama denganmu.”

“Benarkah?!” pekik Saehee. Rae Ah mengangguk.

“Kalau begitu ikut denganku! Kita ke kelas bersama.” Saehee menarik tangan Rae Ah tak sabaran. Rae Ah hanya menggeleng dan mengikuti saja langkah Saehee. Teman pertama di awal kuliahnya. Tidak buruk.

 

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia terus menatap dua orang gadis yang tengah melangkah bersama menuju kelas. Gadis yang satunya mirip sekali dengan Kim Rae Ah. Tidak mungkin. Isterinya itu begitu tergila-gila pada Oxford. Tidak mungkin ia rela meninggalkan Oxford dan datang ke Korea.

Sepertinya kau begitu merindukan isterimu, Cho Kyuhyun. Salahkan saja dirimu yang memutuskan untuk tidak menghubunginya terlebih dahulu.

 

***

 

“Jurusan kita ini memiliki dosen baru yang sangat tampan, Rae. Namanya Cho Kyuhyun. Aku dengar, gelar sarjana sampai doktornya ia raih di sana.” Ujar Saehee begitu antusias. Aku tahu, batin Rae Ah.

“Baru satu bulan lebih di sini, dia sudah mematahkan hati banyak perempuan. Mereka menyatakan perasaannya pada Profesor Cho dan dengan santainya dia mengatakan, ‘aku sudah menikah’.” Rae Ah tergelak melihat Saehee menirukan ucapan Kyuhyun. Dalam hatinya ia tersenyum senang. Kyuhyun mengakui pernikahannya bahkan dalam keadaan hubungan mereka yang begitu canggung. Diusapnya dengan lembut cincin yang melingkar di jarinya. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.

 

***

 

Rae Ah memasuki ruang dosen dengan hati-hati. Ini sedang jam makan siang jadi ruang dosen cukup ramai. Semoga Kyuhyun ada di tempatnya.

“Mencari siapa, nona?” tanya seorang pria paruh baya.

“Saya mencari ruangan profesor Cho.” Jawabnya hati-hati.

“Oh, dia ada di ruangannya dan itu ruangannya.” Rae Ah mengikuti arah tunjuk pria paruh baya itu.

“Terima kasih.” Rae Ah membungkuk kemudian menghampiri ruangan Kyuhyun.

 

Rae Ah mengetuk pintu ruangan Kyuhyun dengan sedikit ragu.

“Masuk!” jantungnya berdetak lebih cepat mendengar suara khas Cho Kyuhyun yang sangat dirindukannya itu. Ia menghembuskan nafasnya sebelum kemudian memutar kenop pintu ruangan Kyuhyun.

 

Kyuhyun melebarkan matanya melihat siapa yang mengetuk pintunya tadi. Ia menampar pelan pipinya untuk memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sakit. Berarti ia tidak sedang bermimpi. Menyadari itu, Kyuhyun langsung berdiri dan segera menghampiri Rae Ah yang masih berdiri di depan pintu. Kyuhyun menangkup kedua sisi wajah Rae Ah dan menatapnya dengan seksama.

 

“Kim Rae Ah, ini benar-benar kau?” Rae Ah mengangguk. Sedetik kemudian ia merasakan wajahnya berada di depan dada bidang Kyuhyun. Rae Ah melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun, mencium aroma Kyuhyun yang terakhir dihirupnya adalah satu setengah bulan yang lalu.

“Aku sangat merindukanmu.” Detak jantung Rae Ah kembali berdetak tak normal mendengar tiga kalimat yang menurut pendengarannya mengalun dengan sangat indah dari mulut seorang Cho Kyuhyun. Ia juga dapat mendengar detakan jantung Kyuhyun yang seirama dengan detak jantungnya. Senyuman terbit di wajahnya tatkala dirasanya Kyuhyun mencium puncak kepalanya berkali-kali. Mereka larut dalam kerinduan hingga dehaman seorang perempuan menyadarkan keduanya. Oh, Kyuhyun lupa jika tadi ia sedang berbincang dengan Kim Yira.

 

“Ah, maaf, Yira-ssi. Aku terlalu senang sehingga melupakanmu.” Ucap Kyuhyun. Yira tersenyum dengan tatapan matanya terkunci pada tangan kiri Kyuhyun yang yang melingkar di pinggang Rae Ah.

“Dia Cho Rae Ah, istriku.” Seluruh aliran darah Rae Ah berdesir mendengar Kyuhyun memperkenalkan dirinya sebagai istrinya tanpa beban. Ia menatap Kyuhyun dengan mata berbinar, memancarkan kebahagian yang begitu besar. Kyuhyun menatap sekilas isterinya yang tengah terpesona akan perlakuannya hari ini, kemudian ia tersenyum simpul. Kyuhyun mendaratkan ciuman hangatnya di pelipis sang isteri membuat jantungnya bertalu lebih keras. Kebahagiaan yang diperlihatkan Kim Rae Ah terlihat begitu kontras dengan kekecewaan dan kemarahan seorang Kim Yira yang tersembunyi di balik senyuman kaku yang terkesan aneh -menurut Rae Ah.

 

“Dia Kim Yira, rekan kerjaku.” Rae Ah menyunggingkan senyum tulusnya seraya mengulurkan tangan untuk berjabat dengan Yira. Dengan canggung -jika tidak bisa dikatakan enggan, Yira menyambut uluran tangan Rae Ah dengan senyum palsunya yang masih bertahan.

“Kim Yira.” Ucapnya singkat. Ada yang janggal saat Rae Ah merasa tangan Yira terlalu kuat menggenggam tangannya. Tidak, singkirkan pikiran burukmu, Kim Rae Ah!

“Sebentar lagi aku ada kelas. Bagaimana ini, sayang? Aku masih ingin bersamamu.” Astaga, Cho Kyuhyun. Sikapmu yang merengek ini membuat jantung Kim Rae Ah terus berulah seakan ingin melompat dari tempatnya. Dan apa tadi? Sayang? Demi Tuhan, Seoul telah mengubah Kyuhyun terlalu banyak.

 

Rae Ah memukul dada Kyuhyun pelan, hal yang baru pertama kali dilakukannya sejak satu tahun menyandang status sebagai isteri seorang Cho Kyuhyun. Ah, kejadian hari ini memang pertama kali terjadi dalam sejarah kehidupan rumah tangga Cho Kyuhyun dan Kim Rae Ah.

“Kita masih bisa bersama setelah kau mengajar. Lagipula aku juga ada kelas. Aku tidak ingin membolos di hari pertamaku menjadi mahasiswi SNU.” Kyuhyun terkekeh mendengar ucapan isterinya. Ia mengacak dengan gemas rambut Rae Ah.

“Ah, Yira-ssi. Aku akan mengajar. Kau tidak mengajar?” Yira tersentak. Sesaat tadi ia merasa kesal melihat kelakuan sepasang suami-isteri yang seolah melupakan kehadirannya ini. Kembali ia menyunggingkan senyum palsunya.

“Tentu saja aku mengajar. Baiklah, aku permisi.” Balasnya. Kyuhyun mengangguk, menutup pintu yang tadi tidak ditutup.

 

Setelah ini sepertinya Kim Rae Ah harus memeriksakan jantungnya. Pasalnya, jantungnya berdetak tidak normal terutama setelah menyadari bahwa kini hanya tersisa mereka -Kyuhyun dan Rae Ah berdua.

Rengkuhan posesif Kyuhyun membuat Rae Ah merasa nyaman, sekalipun jantungnya masih berdetak tak normal. Hembusan napas Kyuhyun yang memeluknya dari belakang menera leher putih Rae Ah, membuatnya bergidik geli.

“Aku harus ke kelas, Kyuhyun-ssi.” Ujar Rae Ah yang berusaha menghindar dari suasana canggung seperti ini.

“Berhenti memanggilku dengan formal, isteriku sayang!” Rae Ah tersenyum kikuk mendengar mendengar Kyuhyun memangilnya ‘isteriku sayang’. Apakah hari ini Kyuhyun salah memasukkan sesuatu ke dalam perutnya?

“Ayo, kita ke kelas bersama saja. Aku ingin memamerkan isteriku yang cantik ini pada semua orang.”

“Tidak. Lebih baik aku keluar lebih dulu.” Sergah Rae Ah. Yang benar saja. Memamerkan pada semua orang dan setelahnya mahasiswi baru ini akan mendapat tatapan benci dari para penggemar dosen tampan ini? Tidak. Kim Rae Ah ingin hidupnya tenang tanpa ancaman dari para penggemar Kyuhyun.

“Kenapa?” tanya Kyuhyun tak terima.

“Aku tidak ingin menjadi bulan-bulanan penggemarmu. Aku dengar penggemarmu itu banyak sekali bahkan ada yang pernah menyatakan langsung perasaannya padamu. Aku tidak mau mengambil resiko.” Kyuhyun terkekeh pelan mendengar ocehan panjang dari mulut isterinya. Jadi beginikah isterinya jika sudah merasa nyaman? Begitu cerewet. Kyuhyun mengecup bahu Rae Ah yang tertutup coat oranye. Ia memutar badan Rae Ah hingga menghadapnya. Diusapnya lembut pipi kiri Rae Ah dengan senyum lebar terpatri di wajahnya.

“Kita pulang bersama. Jika kau selesai duluan, tunggu aku di ruangan ini saja.” Ujar Kyuhyun lembut.

“Tapi-”

“Mau membantah suamimu?”

“Bukan-” Kyuhyun mengecup Rae Ah kilat. Rae Ah hanya dapat mematung.

“Jangan membantah atau aku akan menciummu di depan seluruh warga kampus.” Kyuhyun tersenyum senang saat Rae Ah mengangguk patuh. Ia mencium kening sang isteri cukup lama membuat jantungnya kembali berulah.

“Kau bisa ke kelas sekarang.” Rae Ah mengangguk.

“Ah, sesampainya di rumah aku akan menagih penjelasan tentang keberadaanmu di sini dan tentang sepuluh ribu pounds.” Rae Ah bergerak gusar. Rae Ah sepertinya lupa bahwa segala urusan keuangannya diawasi oleh Kyuhyun.

“T-tentu.” Jawabnya dengat terbata kemudian secepat kilat berlalu dari ruangan Kyuhyun. Sepeninggalan Rae Ah, Kyuhyun memegangi dadanya yang berdebar. Keputusannya untuk membiarkan Rae Ah tetap di London ternyata membuat hubungan rumah tangganya menjadi lebih baik. Setidaknya kejadian hari ini membawa angin segar pada hubungan mereka.

 

***

 

Zeus Hotel, Seoul, South Korea.

 

Kyuhyun menjatuhkan tubuhnya pada kasur berukuran besar di kamar hotel yang ditempati Rae Ah. Mereka berdua berada di hotel. Bukankah ini terlihat seperti sedang berbulan madu?

“Bereskan barangmu. Kau harus tinggal bersamaku.” Ujarnya tanpa membuka matanya yang terpejam.

“Aku sudah membayarnya. Besok saja” balas Rae Ah. Gadis itu duduk samping Kyuhyun.

“Aku masih ingin di sini. Kau boleh pulang.” Kyuhyun mengangkat tubuhnya menjadi duduk.

“Apa katamu? Pulang? Tidak, nyonya Cho. Aku akan di sini.”

“Tapi di sini hanya ada satu kasur. Kau mau tidur di mana memangnya?” Kyuhyun terkekeh pelan melihat wajah polos Rae Ah. Digenggamnya tangan Rae Ah yang sedari tadi berada di atas pangkuan sang isteri.

“Dengar, mulai saat ini kita harus menjadi pasangan suami-isteri yang normal. Kau paham maksudku, kan?” Rae Ah mengangguk pasti. Matanya sudah berkaca-kaca. Keinginannya juga sama dengan keinginan Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum.

 

“Aku mandi dulu.”

“Em. Aku akan menyiapkan baju tidurmu.” Kedua alis Kyuhyun saling bertaut.

“Baju tidur?” tanya Kyuhyun.

“A-itu, itu… Sudahlah, mandi dulu saja.” Rae Ah mendorong tubuh Kyuhyun menuju kamar mandi. Kyuhyun terkekeh pelan menyadari ada rona merah di wajah isterinya.

 

***

 

“Jadi, bisa kau jelaskan sekarang?” tanya Kyuhyun. Keduanya saat ini tengah berbaring saling berhadapan di atas ranjang dengan balutan piyama couple yang dibeli Rae Ah sebelum berangkat ke Seoul. Kyuhyun menerimanya dengan gembira.

“Aku- apakah harus aku menjelaskannya?” tanya Rae Ah. Kyuhyun mendecak sebal, “tentu saja”

“Baiklah.” Rae Ah berdeham, “aku merindukanmu. Sejak kau kemari, kau tidak pernah menghubungiku. Entahlah, keinginanku untuk berada denganmu jauh lebih besar dibandingkan dengan keinginanku untuk melanjutkan S2-ku di Oxford.” Kyuhyun tertegun mendengar penjelasan Rae Ah yang panjang kali lebar tersebut. Apakah ini berarti Rae Ah juga mencintainya?

“Lalu, sepuluh ribu pounds?”

“Aku harus mengganti uang beasiswa yang sudah kuterima. Uang itu aku gunakan untuk menggantinya dan mengurus kepindahanku ke Seoul. Maaf menggunakan uangmu.” Kyuhyun tersenyum. Ia merapatkan tubuhnya dengan sang isteri, melingkarkan tangannya di pinggang Rae Ah.

 

“Uangku uangmu juga. Kau boleh menggunakannya sesukamu. Aku mencintaimu.” Ucap Kyuhyun penuh kelembutan. Rae Ah mendongakkan kepalanya agar dapat melihat wajah Kyuhyun. Kyuhyun mencintainya?

“Mulai sekarang, tidak ada lagi ‘Kyuhyun-ssi‘ ataupun ‘Rae Ah-ssi‘. Jinjja, Cho Rae Ah. Bagaimana bisa kau membuatku jatuh cinta padamu sampai seperti ini, huh?” kekehan kecil Kyuhyun refleks membuat Rae Ah memukul pelan dada sang suami.

Tell me, how’s your feeling?” Kyuhyun menatap intens Rae Ah yang tengah berusaha mati-matian menahan rasa gugupnya. Rona merah di pipinya semakin jelas terlihat dan itu membuat Kyuhyun sangat gemas.

 

I love you.” Hanya tiga kalimat yang dilontarkan Rae Ah dan itu berhasil membuat Kyuhyun tersenyum lebar. Dikecupnya kening Rae Ah dengan penuh perasaan.

Kyuhyun menatap lekat wajah cantik Rae Ah hingga tanpa sadar bibir tebalnya telah mendarat sempurna pada bibir mungil Rae Ah. Rae Ah membulatkan matanya namun sedetik kemudian mata itu terpejam. Ia mencoba menerima perlakuan Kyuhyun dan membalasnya.

Ada rasa kecewa saat Kyuhyun melepaskan pagutan di antara mereka. Kyuhyun tersenyum menyadari hal itu. Ditatapnya dengan intens mata indah milik Rae Ah dengan tangannya mengusap lembut pipi kanan sang isteri.

“Izinkan aku melakukan apa yang seharusnya kita lakukan saat malam pertama kita menjadi pengantin. Bisakah?” rona merah kembali menghiasi wajah cantik Rae Ah. Ia menginginkannya. Ia ingin menjadi milik Kyuhyun seutuhnya. Perlahan Rae Ah mengangguk. Keduanya saling menatap, menyalurkan ekspresi bahagia yang tengah mereka rasakan. Malam ini, sejarah baru dalam kehidupan rumah tangga Cho Kyuhyun dan Kim Rae Ah akan segera tercipta.

 

***

 

Seoul National University, Seoul, South Korea.

 

“Kim Rae Ah, kau tahu? Pagi ini jadwal profesor Cho mengajar. Kau akan segera melihat wajah tampan profesor baru kami.” Ujar Saehee penuh semangat. Rae Ah hanya tersenyum singkat untuk menanggapi celotehan Saehee. Tiba-tiba ia merasakan pipinya memanas ketika kejadian semalam melintas begitu saja di ingatannya. Saehee menatap bingung teman barunya itu.

“Ada apa denganmu? Kau sakit? Wajahmu merah.”

“Tidak. Aku tidak apa-apa, Saehee.” Kilah Rae Ah. Belum sempat Saehee membalas ucapan Rae Ah, Kyuhyun memasuki ruangan. Rae Ah mengelus dadanya. Beruntung Kyuhyun segera datang. Jika tidak, Saehee tidak akan bertanya.

Rae Ah menundukkan kepalanya saat Kyuhyun tersenyum lembut ke arahnya. Tidak ada yang menyadari itu, tentu saja. Mahasiswa terutama kaum hawa terlalu sibuk terpana akibat senyuman Kyuhyun yang baru pertama kali ini diperlihatkannya di dalam kelas.

 

“Tampan, kan?” pertanyaan Saehee seolah menarik paksa Rae Ah pada kesadarannya. Rae Ah hanya mengangguk singkat kemudian mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun yang tengah menjelaskan materi ajarnya dengan begitu serius. Tampan. Suaminya itu sangat tampan. Tiba-tiba ia merasa kesal sendiri mengingat banyak orang yang tengah menikmati ketampanan suaminya itu. Tenanglah, Kim Rae Ah. Mereka hanya dapat melihat ekspresi serius dari wajah itu. Sedangkan kau akan melihat berbagai macam ekspresi Kyuhyun. Bahkan ekspresi ‘liar’ Kyuhyun hanya kau yang dapat melihatnya. Rae Ah memukul kepalanya sendiri saat pikiran liar itu merajalela.

 

“Nona yang memakai coat berwarna oranye, kau bisa keluar jika tidak mampu memperhatikan penjelasanku dengan seksama.” Ucapan Kyuhyun sontak membuat seluruh penghuni kelas menatap ke arahnya. Rae Ah mengutuk sikap Kyuhyun padanya dalam hati.

“Maaf, profesor. Saya tidak akan mengulanginya.” Sesal Rae Ah. Oh, tentu saja dalam hati ia tetap mengutuk Kyuhyun. Kyuhyun harus mati-matian menahan tawanya melihat kekesalan sang isteri.

“Kumaafkan.”

 

***

 

JKR Restaurant, Seoul, South Korea.

 

Kesan pertama Rae Ah saat memasuki restoran ini adalah kesan romantis. Suatu saat nanti ia harus mengajak Kyuhyun makan bersama di restoran ini.

“Rae, bolehkah aku menginap di rumahmu?”

Pardon me?” bukannya Rae Ah tidak mendengar pertanyaan Saehee. Ia hanya terkejut. Menginap di rumahnya berarti menginap di rumah Kyuhyun, kan?

“Ibuku sedang pergi ke luar kota untuk mengurusi bisnisnya. Aku takut di rumah sendirian. Aku menginap di rumahmu, ya?” mohon Saehee. Ekspresi memelas Saehee tentu saja mampu membuat Rae Ah tidak sanggup untuk menolaknya.

“Aku tidak keberatan tapi aku harus meminta izin pada suamiku dulu.” Ujar Rae Ah ragu. Saehee membulatkan matanya.

“Suami?” Rae Ah mengangguk.

“Tunggu sebentar.” Rae Ah menempelkan ponsel hitamnya pada telinga kanan. Saehee harus menahan rasa penasarannya hingga Rae Ah selesai menelepon.

 

Hubby, temanku ingin menginap di rumah. Bolehkah?” … “Tidak. Dia teman pertamaku. Aku mohon.” … “You’re the best, hubby. I love you.” Saehee terkekeh pelan melihat Rae Ah berbicara dengan nada manja pada suaminya.

“Suamimu mengizinkan?” tanya Saehee. Rae Ah menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

Thank you so much, Rae. Well, you’ve to tell me about your ‘hubby’.” Goda Saehee dengan menekankan pada kata ‘hubby’.

You’ll know him soon, Saehee.” Rae Ah tertawa pelan melihat Saehee kesal dengan jawabannya. Ia menyesap ice vanilla-nya.

 

Rae Ah dan Kyuhyun memang tidak berniat untuk menyembunyikan pernikahan mereka di lingkungan kampus. Mereka hanya membiarkan orang lain tahu tanpa harus mengumumkannya.

 

***

 

Cho’s House, Seoul, South Korea.

 

“Rumahmu bagus sekali.” Gumam Saehee. Matanya tidak bisa berpaling dari keindahan arsitektur khas Eropa yang melekat pada rumah mewah di hadapannya ini. Rae Ah hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Saehee mengikutinya dari belakang.

 

Rae Ah menghentingkan langkahnya saat sayup-sayup terdengar suara perempuan dari ruang tengah. Ia menempelkan tubuhnya pada dinding, menaruh telunjuknya pada bibir -mengisyaratkan untuk diam saat Saehee akan bertanya. Saehee menutup mulutnya rapat-rapat dan mengikuti Rae Ah -menempelkan tubuhnya pada dinding.

 

“Aku mencintaimu, profesor Cho.”

“Maaf, Yira-ssi. Kau tahu sendiri aku sudah beristri.” Saehee menolehkan wajahnya pada Rae Ah yang terlihat sedang menahan emosi. Ia ingin meminta penjelasan namun sepertinya ini bukan saat yang tepat. Saehee kembali menajamkan pendengarannya.

“Aku tahu tapi aku yakin kau akan memilihku dan meninggalkan isterimu. Aku lebih dewasa dibandingkan isterimu.” Saehee membelalakkan matanya mendengar ucapan berani Yira sedangkan Rae Ah segera menghampiri dua orang yang tengah ‘berbincang’ itu. Ia tidak akan membiarkan siapapun merebut Kyuhyunnya.

 

“Profesor Kim,” Yira dan Kyuhyun menoleh ke arah datangnya Rae Ah. Kyuhyun langsung berdiri sebagai refleks atas keterkejutannya. Rae Ah menatap datar Yira yang entah ia sadari atau tidak, tatapan Yira padanya adalah tatapan penuh persaingan.

“Anda tentu tahu betul jika profesor Cho sudah beristeri. Profesor Cho sangat mencintai isterinya, jadi buang jauh-jauh pikiran anda untuk membuat rumah tangganya hancur.” Yira mengepalkan tangannya, menahan emosi mendengar ucapan Rae Ah yang membuatnya sangat tersinggung. Kyuhyun tersenyum dalam hatinya melihat sang isteri telah membuat Yira mati kutu.

 

“Jika anda sudah mengerti, anda bisa pulang. Profesor Cho harus istirahat dan kami juga kedatangan tamu.” Ucap Rae Ah tajam. Ia tidak peduli jika Yira akan marah. Ia hanya ingin menegaskan bahwa Kyuhyun hanya miliknya. Yira menyambar tasnya lalu berbalik, meninggalkan Rae Ah dan Kyuhyun yang terus memperhatikan dirinya. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Rae Ah yang menatapnya bingung. Lamunannya buyar saat Rae Ah memanggilnya.

 

“Kau penasaran dengan suamiku, kan? He’s my husband.” Saehee tersenyum kikuk ke arah Kyuhyun.

“Aku akan membuatkanmu minum. Duduklah!” Saehee menurut. Ia duduk dengan perasaan canggung. Siapa yang menyangka ia akan menginap di rumah profesor tampannya? Well, terlepas dari ketidaktahuannya tentang siapa istri sang profesor. Bahkan ia melihat peristiwa yang menurutnya sangat bersejarah. Kim Yira yang terkenal sebagai dosen paling angkuh dan tidak pernah kalah dalam urusan berdebat, baru saja mati kutu atas ucapan perempuan yang notabene berstatus sebagai mahasiswinya. Ia mengikuti Kyuhyun yang beranjak menuju dapur dengan matanya. Sepertinya akan ada percekcokan kecil di dapur rumah besar ini.

 

Rae Ah menatap sekilas Kyuhyun yang baru saja memasuki dapurnya. Ia fokus pada teh yang dibuatnya untuk Saehee.

“Sayang, kau marah padaku?” tanya Kyuhyun lirih. Rae Ah bergeming. Ia tetap pada fokusnya membuat teh.

“Sayang-”

“Kita bicarakan tentang ini nanti.” Potong Rae Ah. Ia berjalan melewati Kyuhyun. Kyuhyun mengacak rambutnya frustasi. Rae Ah pasti marah padanya mengingat ia hanya berdua di rumah ini dengan Yira sebelum isterinya itu datang. Ini bukan salahnya. Yira sendiri yang datang ke rumahnya. “Argh!”

 

***

 

Kyuhyun menoleh ke arah pintu di mana isterinya baru saja masuk. Ia mendesah kasar. Isterinya itu langsung tidur tanpa menyapanya. Kyuhyun melepaskan kacamata bacanya, lalu meletakkannya bersama buku yang tadi sedang ia baca di meja di samping tempat tidurnya. Ia merapatkan tubuhnya pada Rae Ah, memeluknya dari belakang. Kyuhyun mencium bahu Rae Ah. Rae Ah bergeming. Ia kesal. Seenaknya saja Kyuhyun membiarkan Yira masuk ketika ia tidak ada di rumah. Well, she’s absolutely jealous!

 

“Maafkan aku, sayang. Aku tidak enak jika harus mengusir tamu.” Jelas Kyuhyun. Rae Ah membalikkan badannya, menatap tajam Kyuhyun.

“Kau berduaan dengannya, tadi. Kau tidak sadar?” ucap Rae Ah tajam. Kyuhyun mendesah frustasi.

“Maaf. Aku bahkan tidak mengerti mengapa Yira bisa tahu alamat kita. I’m sorry.” Rae Ah menghela napasnya.

Well, aku memaafkanmu.” Kyuhyun tersenyum lebar. Ia mengecup bibir Rae Ah lembut.

“Terima kasih, sayang. Selamat tidur.”

 

***

 

“Aku akan mengantarmu” Kyuhyun mengangkat kepalanya, menatap tajam sang istri yang baru saja bersuara tanpa beban sedikitpun. Saehee tetap fokus pada sarapannya. Oh, sebenarnya ia merasa canggung harus satu meja dengan Kyuhyun. Apa daya jika Rae Ah tetap memaksanya.

“Kau bukan sopirku. Aku bisa membawa mobil sendiri.” Balas Kyuhyun tegas.

“Aku tahu. Aku hanya ingin mengantarmu. Hubby, please” Kyuhyun mendesah pelan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menjawab ‘ya’ jika isterinya sudah memasang wajah memelas seperti saat ini.

Sebenarnya apa yang Tuhan pikirkan ketika menciptakan seorang Kim Rae Ah? Kenapa seolah-olah Tuhan menciptakan Rae Ah agar Kyuhyun jatuh begitu dalam pada pesonanya?

 

“Kau merendahkan kemampuan menyetir suamimu.” Saehee terkekeh pelan melihat perdebatan suami-isteri ini. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, namun ia merasa ada kebahagiaan tersendiri melihat tingkah seorang Kim Rae Ah. Ia merasa benar-benar bahagia. Sepertinya ada yang salah. Ia bahkan baru berteman beberapa hari dengan Rae Ah.

 

“Anggap saja ini sebagai penebusan dosaku padamu, hubby.” Ujar Rae Ah santai.

“Penebusan dosa?” Rae Ah mengangguk. Kyuhyun mengernyit.

“Memangnya apa yang kau lakukan? Kau berselingkuh?”

“Ya ampun, hubby. Jika aku selingkuh, tidak akan dengan laki-laki Korea. Kau jahat sekali berpikiran seperti itu terhadapku.” Rae Ah meletakkan garpu dan sendoknya dengan kasar, lalu melipat tangannya di depan dada. Kyuhyun menatap geli sang isteri.

“Maaf, sayang. Aku hanya bercanda. Sekarang katakan, apa yang kau maksud dengan ‘penebusan dosa’?” Rae Ah masih diam. Astaga, kelakuannya seperti gadis 17 tahun saja. Saehee membatin.

“Sayang, bicaralah!” Oh, aku seperti makhluk tak kasat mata saja. Bisakah mereka tidak mengabaikanku? Gerutu Saehee.

“Aku tidak menjalankan tugasku sebagai isteri selama sebulan lebih. Aku juga menghabiskan sepuluh ribu pounds dari kartu kredit yang kau berikan. Itu sebuah dosa untukku.” Kyuhyun tertegun. Metode apa sebenarnya yang digunakan Tuan Kim untuk mendidik anak-anaknya? Kibum, Seok Jin, dan Rae Ah begitu taat pada orang-orang yang menjadi panutan mereka.

 

“Sudahlah. Kau tetap di London adalah keputusanku jadi jangan anggap itu sebuah dosa. Untuk uang itu, tidak usah dipermasalahkan. Kau lupa sebanyak apa uangku?” Rae Ah mendengus sebal. Well, Kyuhyun memang orang terkaya nomor tiga di Inggris tapi ia akan sebal jika Kyuhyun sudah mengungkit kekayaannya. Memangnya seberapa banyak kekayaan yang bisa dimiliki seorang dosen? Ia berkata seolah-olah ia paling kaya saja. Lagi, Saehee menggerutu dalam hatinya. Ia hanya mampu tetap mengunyah makanannya meskipun telinganya tetap menangkap dengan baik pembicaraan Rae Ah dan Kyuhyun.

“Jangan pernah menyombongkan kekayaanmu di hadapanku, Cho Kyuhyun! Sebaiknya selesaikan sarapanmu dengan cepat!” Kyuhyun tertawa pelan untuk menanggapi ucapan Rae Ah.

 

***

 

“Terima kasih telah mengantarku, sayang.” Ujar Kyuhyun.

Hubby

“Ya?” Kyuhyun menatap Rae Ah dengan alis bertaut. Isterinya itu terlihat gugup.

“Ada yang ingin kau sampaikan?” tanya Kyuhyun. Tangannya mengelus lembut kepala sang isteri.

“Em… Apa kau tidak bisa pindah ke universitas lain?” Kyuhyun tertegun. Isterinya sedang cemburu, ia rasa.

“Tidak, sayang. Menjadi dosen di SNU adalah impianku sejak kecil.” Jawab Kyuhyun hati-hati.

“Begitukah? Baiklah. Sudah saatnya kau masuk.” Kyuhyun mengamati ekspresi Rae Ah yang dibuat-buat -menurutnya. Kyuhyun tahu isterinya kecewa mendengar jawaban itu.

“Dengar, sayang. Aku tahu maksudmu. Aku sangat tahu. Hanya saja, ini memang impianku. Aku hanya ingin kau percaya padaku. Aku tidak akan berpaling pada Yira atau siapapun, jika itu yang kau takutkan.” Ujar Kyuhyun panjang lebar. Rae Ah menundukkan wajahnya. Apakah begitu terlihat jelas jika ia sedang takut Kyuhyun akan berpaling? Rae Ah meremas jari-jari tangannya, kebiasaan yang ia lakukan ketika gugup melanda. Kyuhyun hanya mampu tersenyum melihat tingkah sang isteri. Ia merengkuh Rae Ah ke dalam pelukan hangatnya. Astaga, bolehkah ia berbahagia di atas ketakutan sang isteri? Ia benar-benar bahagia melihat sangat ketakutan akan kehilangan dirinya.

 

“Tidak ada satupun gadis yang mampu mengalihkan Cho Kyuhyun dari seorang Kim Rae Ah. Bahkan setelah beberapa tahun tidak melihatnya pun, perasaan Cho Kyuhyun hanya untuknya. Cinta Cho Kyuhyun hanya untuk isteri yang berada di dekapannya saat ini, seorang.” Rae Ah tersenyum lebar. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun. Aku sangat mencintai suamiku, Tuhan.

 

“Kau harus pulang sekarang. Aku yakin Saehee sedang menggerutu karena kau terlalu lama.” Ujar Kyuhyun seraya melepaskan pelukannya. Dikecupnya singkat bibir Rae Ah.

Yes, sir.” Kyuhyun tergelak. Ia membuka pintunya. Ia akan turun namun kembali berbalik, membuat Rae Ah mengernyit bingung.

 

“Kemari!” ucap Kyuhyun, memberi isyarat agar Rae Ah mendekat. Rae Ah mencondongkan tubuhnya. Material lembut milik Kyuhyun mengecup keningnya. Rae Ah tersenyum simpul. Manis sekali.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, hubby. Selamat bekerja. Siang ini aku ke kampus dan nanti kita kita pulang bersama. Aku tidak menerima penolakan, hubby” Kyuhyun mengacak pelan rambut Rae Ah kemudian mengecup kening Rae Ah sekali lagi. Ia turun. Kali ini ia benar-benar turun dari Ferrari Four-nya.

 

Rae Ah menatap punggung Kyuhyun yang semakin menjauh. Senyuman indah yang terpatri membuat kecantikannya semakin bertambah. Tidak aneh jika Kyuhyun begitu terpesona padanya.

Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, hubby. Aku harus banyak-banyak berterima kasih kepada daddy. Berkat daddy, aku dapat meraih senior yang menjadi cinta pertamaku. Senior yang membuatku jatuh cinta hanya dalam satu kali pandangan. Cinta pertama yang aku temukan di perpustakaan Oxford.

 

Rae Ah menyalakan mesin mobilnya lalu meninggalkan pelataran parkir SNU. Hatinya bergejolak. Ia begitu bahagia. Keinginannya untuk menjadi isteri sungguhan dari seorang Cho Kyuhyun telah terkabul. Ia bersumpah akan mempercayai Kyuhyun sepenuhnya. Suaminya.

 

THE END

 

One-Shot terpanjang yang pernah aku ciptain! Daebak! haha Ini ff ringan banget, kan? Sengaja gak aku kasih konflik yang berat-berat. Konflik yang berat saat ini udah terkuras sama Regret. Haha thank’s for coming, readers! I love you tebar peluk

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

55 thoughts on “My Handsome Hubby”

  1. wah… ceritanya keren…. jadi sebenarnya kyuhyun dan rae ah sama2 jatuh cinta pada pandangan pertama mereka yaa…

    kyuhyun waktu melihat rae ah di taman, dan rae ah yang melihat kyuhyun di perpustakaan…

    aaah, romantisnya mereka…. daebak…

    Gomawo authornim… 🙂

      1. mwo????
        trus aku hrs tanya kjelasan ama siapa kalo authornya aja bingung?
        wkwkwkwkwk.
        eyyyyy jinjja

  2. mnis bgt thor xD kbngetan bgt dah bkin gnian
    iri bgt wehhhh
    gtw mw koment ap lgi
    bnyk” bkin gnian nde thor biar bsa bkin org kena diabet
    hihihi
    feelnya dpt bgt dah

      1. oh, hallo, kak. aku 94line. traveling suka, sih. tapi gak yang wajib banget, kalo ada yang ngajakin baru berangkat. hihi snorkling baru sekali di Karimunjawa gara2 KKL *miris

  3. Sweet bget 🙂
    ya ampun aku senyum* gaje waktu bca ini epep, sampai di kra udah stres ama ibu.

    Salam kenal author_nim #newreader

  4. Duh kyuhyun manis banget, sepertinya kepalanya abis terbentur wajan emaknya ahahaha.
    ada lanjutannya gk? masih greget ama muka temboknya Yira…

  5. aku bacanya sambil senyum2 sendiri.. tumben bgt kan nih ff yg kyuhyunnya sifatnya lembut gini.. aku suka bgt dehh.. tapi bisa ga thor kalo ini dibikin ada kelanjutannya gitu tthor?ini sih cuma pengennya aku hehehe

  6. Sumpahhh hubungan mereka bikin iri aku ,,
    Aku pertama kali berkunjung ke blog ini
    Aku tau blog kaka dari hyo kyu story,,

    Ahhhh kerennnnn banget ffnya ,, kyuhyun kau manis sekali

  7. Ini aku baca gara2 baca di SJFF dan akhirnya ngelink web author di sini
    heheheh
    mau komen ya:
    ceritanya romantis sekali, adegannya juga runtut dan alurnya pas.
    cempet sebel juga pas Kyu deket2 ma Yira, kan tau dia udah nikah, jangan ngasih kesempatan dunk, syukurlah Kyu masih beriman (?) ingat akan istrinya hahaha.
    Untung Rae Ah segera sadar dan memilih membatalkan beasiswa (walau harus membayar penalty yg pake uangnya si Kyu, uang Rae Ah juga, kan Rae Ah istrinya), ini bagus buat contoh, istri yang berbakti, dalem banget menurutku.
    Next story yg begini ditunggu author 🙂

  8. Dear author..blh mnt sequel ff ini?
    aq msh ngrasa ngeganjel krn c rae ah blg kyu cinta ptamanya pas di oxford,sdgkn kyu ngliat rae ah dcium cow laen..itu kyna bs djadiin bhn u/ sequelna..
    *ni reader byk requestnya y..
    Buat sequelna dong..please2..

    1. ini juga udah kepikiran buat sequelnya, bahkan sebelum ini dipublish juga udah kepikiran. cuman ya itu, moodnya belum dapet huhu
      tunggu aja yaa. 2015 kayaknya bakal penuh sama sequel ini wordpress. hha

  9. Hehe iya setuju ama author 🙂
    Ringan manis dan romantis :v
    Like this deh (y)
    Oiya perkenalkan readers baru, Mey imnida 96line. Salam kenal author-nim /kakak/ Unni ? 😀 #bow

  10. Cho kyuhyun emang the best. Mereka maniss bangett.. jadi iri hehehehe
    Omoo mereka sama2 jatuh cinta pd pandangan pertama

  11. onnie ini aku baca comment nya udh dari 2014 semua,sorry sebelumnya telat baca ff yg ini hehehe tapi onnie,sampai sekarang kok gak ada lanjutannya ? please lanjutin…..

  12. Beneran daebak👏🏼👏🏼👏🏼👌🏼
    Keren ngeet nget an. Btw rae ah jadi manja banget pas kyuhyun udah bilang kita harus jadi pasangan yang normal wkwkwk aku suka ide ceritanya eon. Next part kutunggu👋🏼👋🏼

  13. ga tau malu ya tu yira…dari awal kemuculanya aja niatny udah jelek…
    sujur deh kyuhyun tngguh dan setia ma cintanya buat sang istri…

    ooo ternya sebenernya mereka salng cinta sejak awal?? trus lelaki yg nyium rae ah siapa pas jaman kuliah???

  14. ga tau malu ya tu yira…dari awal kemuculanya aja niatny udah jelek…
    sujur deh kyuhyun tngguh dan setia ma cintanya buat sang istri…

    ooo ternya sebenernya mereka salng cinta sejak awal?? trus lelaki yg nyium rae ah siapa pas jaman kuliah???

    sequuueeeellll

  15. ringan bgt
    ga ada yang bikin nyesek hati

    hmm….
    sukaaaa banget ama cerita ini
    apalagi liat mereka
    suka bermesraan gituuuu

    ahhh….pengen dong

  16. Ceritanya sweettttt banget hehehe
    Wahhh mereka ternyata sama2 jatuh cinta pada pandangan pertama dan sama2 first love ya sayangnya dr awal nikah ga ada yg jujur smp akhirnya si rae ah yg nyusul kyu ke seoul hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s