Fate (History Long Version) Part 4

Nuansa putih khas rumah sakit terasa begitu kental ketika Kim Rae Ah telah membuka matanya secara sempurna. Gadis itu memegangi kepalanya yang terasa sakit kemudian menengok ke samping kanannya. Yang didapatinya adalah dua orang laki-laki tengah terlelap dalam tidurnya. Kim Jongwoon -sang kakak pertama tidur di atas sofa panjang di dalam ruangannya dan Kim Kibum -sang kakak kedua tidur di kursi yang berada di sampingnya, menelungkupkan kepalanya ke atas ranjang. Ia mengernyit. Seingatnya, tadi ia sedang berada di bandara untuk mengantar Chanyeol. Chanyeol. Chanyeol bagaimana?

 

Rae Ah menyibakkan selimutnya dan dengan tergesa-gesa beranjak turun dari ranjang membuat Kibum terbangun.

 

“Mau kemana, Rae?” tanya Kibum. Tangannya menahan tubuh Rae Ah untuk mencegah gadis itu pergi. Melihat dari wajah Rae Ah yang panik saja Kibum sudah tahu jika adiknya itu tengah mengkhawatirkan Chanyeol. Rae Ah berontak. Ia berusaha melepas tangan Kibum namun sia-sia. Tenaga Kibum jauh lebih kuat.

“Lepaskan aku, Kibum! Aku harus menemui Chanyeol.” Kibum menatap Rae Ah sendu. Kecelakaan pesawat yang dialami Chanyeol pasti membuat Rae Ah terpukul, bahkan sangat terpukul. Kibum tahu itu. Ia tahu betapa adiknya itu sangat mencintai seorang Park Chanyeol.

 

“Kibum, Chanyeol mana? Chanyeol masih hidup, kan?” Kibum merengkuh tubuh kurus Rae Ah.

“Ya, dia masih hidup tapi…” Kibum menggantungkan kalimatnya, berpikir apakah harus ia memberitahukannya pada Rae Ah atau tidak. Ia tidak yakin adiknya akan baik-baik saja jika mendengar berita ini. Berita bahwa Park Chanyeol ditemukan dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Seluruh tubuhnya terbakar dan meskipun ia ditemukan dalam keadaan masih hidup namun harapan untuk selamat tidak lebih dari 15%.

 

“Tapi apa, Kibum?”

“Chanyeol memang ditemukan dalam keadaan masih bernapas tapi menurut dokter-”

“Apa? Menurut dokter apa?” hati Kibum mencelos melihat tatapan adiknya yang memancarkan begitu banyak ekspresi menyedihkan.

“Harapannya untuk selamat tidak lebih dari 15%.” Rae Ah menggeleng kasar. Tidak mungkin. Tidak mungkin Chanyeol memiliki harapan yang begitu kecil. Mereka berbohong. Ya, mereka pasti berbohong.

“Tidak mungkin, Kibum. Tidak, tidak. Chanyeolku akan baik-baik saja. Chanyeol-” racau Rae Ah dibarengi isakan-isakan membuat hati siapa saja yang mendengarnya akan merasa tersayat. Kibum menitikkan air matanya. Tangannya menahan tubuh Rae Ah yang sebentar lagi akan tumbang. Ia membopong Rae Ah untuk kembali tidur di ranjangnya namun gadis itu memberontak. Ia tidak ingin tidur. Ia hanya ingin menemui Chanyeolnya.

 

Air mata mengalir dari sudut mata seorang Kim Jongwoon yang terlihat tenang dalam tidurnya. Tidak, bukan berarti Jongwoon tidak ingin membantu Kibum untuk menenangkan adik mereka yang terus-terusan menangis histeris. Ia sangat ingin namun tidak akan sanggup untuk melihat wajah menyedihkan adik bungsunya itu. Kecelakaan yang dialami Chanyeol pasti menjadi pukulan telak untuk adiknya. Jongwoon merasa dejavu. Ya, ia juga pernah mengalami situasi ini. Situasi yang membuatnya menjadi pria dingin yang tidak pernah tertarik pada wanita manapun. Jongwoon sangat paham rasanya berada di dalam situasi seperti ini. Tentu saja sangat menyakitkan ketika kau harus melihat orang yang kau cintai tengah berjuang melawan segala rasa sakit di sekujur tubuh agar dapat tetap hidup. Untuk itu, ia memilih berpura-pura tidur seolah-olah tidak terganggu oleh teriakan-teriakan histeris seorang Kim Rae Ah.

 


 

Tangisan histeris yang begitu menyayat hati menyambut kedatangan Rae Ah di depan ruang ICCU tempat Chanyeol ditinjak-lanjuti. Gadis itu mematung, menatap kedua orangtua Chanyeol yang saling berpelukan menyalurkan kekuatan masing-masing. Kekuatan untuk menghadapi kenyataan terburuk pada anak tunggal mereka.

 

Rae Ah beringsut menghampiri tuan dan nyonya Park. Melihat Rae Ah yang berjalan dengan begitu gontainya membuat nyonya Park langsung melepaskan diri dari pelukan sang suami, membawa gadis yang sangat dicintai Chanyeol itu ke dalam pelukan hangat khas seorang ibu. Nyonya Park dapat merasakan kerapuhan dan kesedihan yang teramat dari isakan yang keluar dari mulut Rae Ah. Rae Ah memeluk nyonya Park begitu erat, menyalurkan kesedihannya atas peristiwa yang dialami Chanyeol. Tuan Park mengelus lembut surai Rae Ah yang berada di bahu nyonya Park. Ia menghapus air matanya yang kembali mengalir melihat kesakitan di wajah Rae Ah. Gadis itu begitu terpuruk.

 

“Chanyeol akan selamat, ibu. Aku yakin Chanyeol akan selamat. Dia sudah berjanji akan membuatku memakai gelang pemberiannya seumur hidupku. Dia sudah berjanji, ibu.” Racauan yang dilontarkan Rae Ah membuat pertahanan nyonya Park untuk tidak menangis akhirnya runtuh. Ia ikut terisak membuat ketiga laki-laki yang melihat mereka juga ikut meneteskan air mata. Jongwoon menepuk pelan bahu Kibum lalu berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Keadaan ini membuatnya kembali memutar masa lalu dan ia tidak sanggup untuk mengingatnya. Terlalu menyakitkan.

“Aku akan mengantarmu.” Ujar Kibum membuat Jongwoon menghentikan langkahnya.

“Tidak, Kibum. Rae Ah sangat membutuhkanmu di sini. Aku bisa pulang sendiri”

“Hanya sebentar. Ada tuan dan nyonya Park yang menemaninya.” Jongwoon diam. Ia memang membutuhkan Kibum untuk mengantarnya pulang.

“Ayo, hyung!”

 

***

 

Rae Ah beserta tuan dan nyonya Park seketika berdiri melihat dokter yang menangani Chanyeol telah keluar dari ruangan.

Eonni, Chanyeol- bagaimana?”

“Dokter Yoo, bagaimana keadaan putra kami?” dokter Yoo menatap orang-orang dihadapannya satu persatu. Ia menghela napas berat, mengelus lembut pipi Rae Ah yang terlihat kentara sekali bekas tangisan yang mengering di sana.

 

“Seluruh tubuhnya terbakar. Setelah melewati masa kritisnya ia harus dibawa ke Jerman untuk melakukan operasi pada seluruh tubuhnya. Peralatan di sana lebih memadai.”

“Tidak bisakah hanya dilakukan di sini, eonni?” Rae Ah tidak mungkin membiarkan Chanyeol berada di pesawat lagi. Tidak. Jika sesuatu terjadi lagi, bagaimana?

“Bisa, sayang. Hanya saja akan lebih baik jika dilakukan di Jerman.” Tubuh Rae Ah akan segera merosot jika saja tuan Park tidak sigap menahannya. Kenapa harus Jerman? Bahkan Chanyeol mengalami kecelakaan itu ketika ia akan pergi ke Jerman.

 

“Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Kau pernah mengatakan padaku bahwa peristiwa sejarah itu hanya terjadi sekali. Anggap saja kejadian ini adalah sebuah peristiwa sejarah yang hanya akan terjadi satu kali pada Chanyeol. Demi Chanyeol, Rae.” Rae Ah kembali terisak. Ia melepaskan tangan tuan Park yang berada di bahunya lalu berjalan gontai tanpa tenaga menuju kursi tempat ia tadi duduk. Tuan dan nyonya Park menghela napasnya dengan berat. Mereka merasa iba pada gadis yang teramat dicintai oleh putera mereka itu. Seandainya kecelakaan itu terjadi pada Rae Ah, mereka yakin Chanyeol juga akan terluka seperti ini.

 

 

“Sebaiknya kita bicara di ruanganku, tuan.” Dr. Yoo membungkuk pada tuan dan nyonya Park, meminta izin untuk terlebih dahulu ke ruangannya. Sepertinya malam ini ia akan bekerja keras untuk meyakinkan gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik itu. Ia tahu betul tabiat Kim Rae Ah. Keras kepala, sama dengan kakak-kakaknya terutama Kim Jongwoon. Ah, mengingat Kim Jongwoon, sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan laki-laki itu? Oh, ayolah Yoo Jiyoon. Fokus pada Chanyeol!

 

Sepeninggal dokter yang diketahui namanya dengan Yoo Jiyoon, tuan dan nyonya Park menghampiri Rae Ah. Nyonya Park memeluk Rae Ah dari samping.

“Dengar, sayang. Kami akan merundingkan ini dengan dokter Yoo. Kau masuk ke ruang rawat Chanyeol dan jaga dia untuk kami. Sudah cukup untuk kau menangisinya. Kau harus tegar di hadapannya karena dia akan tersiksa melihatmu seperti ini. Chanyeol akan menyalahkan dirinya jika melihatmu seperti ini.” Rae Ah membenamkan wajahnya pada dada nyonya Park. Sampai sekarangpun ia masih menganggap bahwa semua ini hanya mimpi. Ya, ia selalu beranggapan bahwa semuanya akan berakhir ketika ia bangun. Chanyeolnya akan menelepon dan mengatakan bahwa ia sudah berada di Jerman dengan selamat.

 

“Aku sangat mencintainya, ibu. Aku tidak ingin Chanyeol pergi.” Sekali lagi tuan Park harus mengusap pipinya yang kembali basah. Rasanya begitu sakit melihat gadis ini menangisi putera semata wayangnya. Bahkan mungkin gadis ini lebih terluka dari orangtua Chanyeol sendiri.

“Chanyeol tidak akan pergi, sayang. Dia akan kembali.”

 

***

 

Rae Ah menatap kosong objek di depannya. Ucapan dokter Yoo begitu mengusik pikirannya.

Tepukan di bahunya membuat Rae Ah mendongak. Matanya kembali berkaca-kaca melihat sosok Kyuhyun tengah berdiri di sampingnya. Tanpa meminta persetujuan Kyuhyun gadis itu berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggang Kyuhyun. Rae Ah kembali terisak. Kyuhyun mengangkat wajahnya untuk menahan laku air mata yang mungkin hanya dalam sekali kedipan akan membanjiri wajah tampan Kyuhyun yang tertutupi masker hitam. Ia mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Sakit sekali rasanya melihat sahabat yang sangat ia cintai berada dalam kondisi kacau seperti ini.

 

 

“Maaf aku baru datang. Kau harus yakin Chanyeol akan baik-baik saja, Rae.” Ujar Kyuhyun setelah dirasanya Rae Ah sudah cukup tenang. Kyuhyun lalu membawa Rae Ah untuk duduk di kursi yang tadi ditempati Rae Ah.

“Jiyoon eonni bilang Chanyeol harus dibawa ke Jerman, Kyuhyun. Aku tidak ingin dia pergi. Aku takut kecelakaan itu terjadi lagi.” Kyuhyun menghela napas. Ia tahu Rae Ah takut, amat sangat takut kehilangan Park Chanyeol. Namun Kyuhyun juga tidak dapat membiarkan Rae Ah bertindak egois dengan menahan Chanyeol. Ia melihat semuanya. Ia melihat dan mendengar percakapan antara dokter Yoo dan Rae Ah serta kedua orangtua Chanyeol.

Kyuhyun melepas pelukannya lalu menangkup wajah Rae Ah dengan kedua tangannya. Ia mengusap wajah Rae Ah yang basah karena terus-terusan menangisi Chanyeol. Ditatapnya dalam kedua mata Rae Ah.

 

“Dengar, Rae. Kau tidak boleh egois. Chanyeol harus mendapatkan perawatan yang terbaik agar bisa kembali padamu.”

“Tapi aku takut, Kyuhyun.”

“Apa yang kau takutkan? Kenapa kau takut? Kau masih ingat tentang teori sejarah bahwa suatu peristiwa sejarah tidak akan pernah terjadi untuk yang kedua kalinya, bukan? Anggap saja peristiwa kemarin adalah peristiwa sejarah yang tidak akan terulang lagi. Percayalah pada takdir, Rae.” Kalimat panjang yang dilontarkan Kyuhyun membuat Rae Ah mematung. Ucapan Kyuhyun benar-benar mirip dengan ucapan dokter Yoo dan mereka berdua benar. Meskipun bukan tidak mungkin kecelakaan itu akan terjadi lagi, setidaknya ia bisa berpegang pada sebuah teori bahwa peristiwa sejarah hanya terjadi sekali, yang berulang hanya kisahnya.

“Pikirkan baik-baik, Rae. Jika kau bersikap egois dengan menahan Chanyeol di sini, maka kau harus bersiap atas kemungkinan paling buruk yang tidak pernah kita semua harapkan.”

 

***

 

Jongwoon membenarkan posisi tidurnya. Ia menatap langit dari atap kamarnya yang hanya tertutup kaca-kaca. Sengaja ia buka penutup atapnya untuk melihat bintang yang entah mengapa hanya ada sedikit padahal cuaca cukup cerah. Menatap bintang sudah menjadi kebiasaannya. Hanya cara ini yang menjadi favoritnya untuk melepas rindu pada Caroline atau ia lebih senang memanggil gadis itu dengan nama asli sang gadis -Song Rin.

“Rae Ah adikku sedang mengalami masa yang berat. Maukah kau membantuku? Membantuku untuk meminta pada Tuhan agar Dia tidak mengambil Chanyeol dari sisi adikku.” Jongwoon mengusap air matanya yang mulai mengalir.

“Aku tidak ingin Chanyeol meninggalkan Rae Ah seperti kau meninggalkanku, Song Rin. Aku tidak ingin melihat adikku terpuruk. Song Rin, aku merindukanmu”

 

***

 

Kibum berjalan dengan tergesa di lantai koridor rumah sakit tempat Chanyeol dirawat. Ia mendapat pesan dari tuan Park untuk segera kembali ke rumah sakit dan menemani Rae Ah melihat diskusi dengan dokter Yoo akan memakan waktu yang lama. Kibum menghentikan langkahnya lalu beberapa detik kemudian ia berbalik. Ia mengurungkan niatnya untuk menemani Rae Ah. Sudah ada Kyuhyun yang menemaninya dan Rae Ah akan lebih terbuka jika bersama Kyuhyun.

Langkah Kibum terhenti saat seseorang menabraknya. Ia terpaku. Mereka terpaku saat tatapan mata mereka bertemu.

“Kibum-ssi

“Irine” keduanya menyebut nama orang yang ada di hadapannya. Kibum mengalihkan pandangannya pada sebuah amplop coklat yang terjun bebas dari tangan Irine. Irine belum menyadari tatapan Kibum yang seolah bertanya benda-yang -jatuh-itu-apa. Kibum berinisiatif untuk mengambil amplop itu saat dirasanya Irine tidak akan memberi respon.

Kibum membuka amplop itu. Kibum tahu tindakannya ini sangat tidak sopan tapi keberadaan Irine di rumah sakit dengan amplop ditangannya cukup mencurigakan. Irine adalah seseorang yang sangat membenci keberadaan rumah sakit. Ia begitu anti terhadap obat-obatan.

Irine masih mematung. Ia tidak tahu harus berbuat apa melihat Kibum membuka amplopnya.

 

Tubuh Kibum membeku dengan mata yang membulat sempurna. Tangannya bergetar. Ia menatap Irine untuk meminta penjelasan gadis itu.

“Inikah alasanmu memutuskan hubungan kita?” Irine menunduk. Apakah ini jalan yang diberikan Tuhan untuk ia menjelaskan segalanya pada Kibum? Sepertinya memang ia harus mengungkapkan kebenaran yang disembunyikan dengan rapat dari Kibum itu. Tidak peduli jika Kibum akan membencinya setelah laki-laki itu mengetahui kebenarannya. Ini sudah takdir Tuhan untuk Kibum mengetahui segalanya dan ia tidak boleh melawan tadir Tuhan, kan?

 

TBC

 

Part ini lebih panjang dari part sebelumnya, kan? Iya-in welah ya. haha Sumpah aku gak kuat bikin Chanyeol menderita lama-lama tapi bakal jadi cerita yang janggal kalo Chanyeol cepet banget sembuh atau matinya. Well, aku gak tau Chanyeol harus mati atau nggak. hihi biarkan takdir yang bercerita. wkw see you on next part! *tebarcium

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

22 thoughts on “Fate (History Long Version) Part 4”

  1. aku sdh baca sdh baca wkwkwkwk.
    aku jg galau chanyeolnya mati ato gak.
    kalo mati ga rela tp kalo ga dmatiin gmn rae ah sm kyu jd 1 sigh
    ato chanyeolnya bwt aku aja blh?
    wkwkwkwkwk.
    aaaaaaaaaaaaaa itu tbc ganggu bgt sumpah!!!
    irine knp?
    apa yg dsembunyiin pnasaran pnasaran!!!
    ayo lanjut2 cepet2 hahahahaha.
    dr yoo naksir yesung ya?
    aih satuin aja donk hahahaha

      1. wkwkwkwkwkwk aku nda ada bakat nulis.
        tapi kalo mw ide bs bantu aku hahahahaha.
        ini ide aja loh ya.
        chanyeolnya jgn dmatiin deh dbikin lumpuh aja ato hilang ingatan (klise beud ya) wkwkwkwkwk
        kalo lumpuh buat dia ninggalin rae ah krn ngrasa ga sempurna tp rae ah nda tw alasannya sebenernya bikin aja chanyeol kaya seingkuh ato ngeluarin kata2 tajem nah trus disaat2 itu kyu dateng,
        trus chanyeolny blhlah ya ktemu siapa gt (uhuk kode) yg mw nrima chanyeol apa adanya kekekekeke.
        kalo hilang ingatan sm sih ninggalin rae ah krn ga inget suka ama rae ah trus kepincut ama cewek lain tapi jgn dibikin ingatannya balik jd amnesia permanen gt kalo dibikin inget taruhannya nyawa gt.
        so rae ah nda ad pilihan slain ninggalin chanyeol krn chanyeol ga ingat ama dia wkwkwkwkwk
        buset sinetron bgt yak hahahahaha.
        ini hanya ide aja.
        siapa tw km udah ga buntu lg.
        smangat ya lanjutin ffnya.

      2. salah satu dari ide kamu sama kayak punyaku masa. haha
        oke tunggu aja lah ya jadinya gimana. yang pasti salah satu dari ide kamu pasti keluar kok. wkwk

  2. Aq telat baca hehee. tapi gpp lah drpd tidak sama sekali xD
    kamu suka sejarah ya? perasaan d beberapa ff mu menyinggung soal sejarah..
    Kibum sama Irine kenapa?
    eiy.. chan chan masih idup 😀 sesuai harapan q tapi sayang dia mesti tetep jauhan, atau Rae bakal ikut?
    kesempatan banget buat kyuhyun nie biar makin merapat ke Rae. kesetiaan Rae beneran bakal d uji.

      1. Klo chan chan mati berarti end dong critanya,krna pasti rae bakalan nemplok ke kyuhyun buat numpahin kesedihannya dan itu sama aja makin memupuk efek kiss kiss kemarin. gimana klo dia tetep hidup aja, gk usah cacat ataupun amnesia tp kesetiaan dia pudar krna jarak dan waktu dan kenal cewe baru selama perawatan d sana.tapi klo keq gini jadi kejam bgt ama rae ya hehee…

  3. entah harus senang atau sedih pas tau Chanyeol masih hidup tapi kemungkinannya 15%
    ckckck

    Oh oh oh
    jadi Yoo-nim yg suka sama Yongwoon oppa itu dokter toh dan Songrin itu uda meninggal mah

    aduuuh nyesek aku Kyu liat kau begitu
    sahabat yg kau cintai tapi mncintai pria lain Kyu
    aduh Kyuu sakit kali rasanya pasti

    uda biarin aja Chanyeol ke Jerman, Rae Ah-ssi
    itu yang terbaik

    #pukpukKyuhyun (?)

  4. Semua ..gimana ya ngetiknya..
    Intinya kimhum ma pasangan,rae ah ama.kyuhyun
    Lah oppa sipit ku belum ada kejelasan

  5. makin seru dan menegangkan ceritanya apa chayeol akan sembuh nantinya,kimbum akhirnya tau penyebab mereka berpisah apa yang akan dilakukan kimbum tu….

  6. duh kyuhyun tegar sekaliiii huwaaaa dia bener nahan dong yah itu tetep support rae ah padahal hati ini sakit hikssss jd sungrin itu udah meninggal? sedangkan irine… dia sakit makanya ninggalin kibum? hmmm

  7. Di part ini gak terlalu penasaran sama rae ah atau kyuhyun, mungkin karna emang momen mereka kurang kali ya
    , tapi sebagai gantinya malah buat penasaran sama kibum sungrin, hhhuuuuhhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s