That Mafia is My Girl Part 2

Earlier in Some Place.

 

Irine menatap tajam orang-orang di depannya. Sepuluh orang laki-laki yang akan mengemban tugas darinya. Oh, Irine akan siap menjadi mafia yang sesungguhnya setelah ini. Ia sudah tidak sabar untuk memiliki software ciptaan kekasihnya itu, Bryan Trevor. Dua hari yang lalu ia berhasil mengorek informasi tentang keberadaan software itu. Hanya dengan berpura-pura, Irine dapat membuat Bryan mengatakan di mana software itu. Tidak. Bryan tidak bodoh. Tentu saja Irine tidak menanyakan perihal software itu secara gamblang.

 

 

Hari itu Irine dengan sengaja mengunjungi apartemen mewah Bryan di One Hyde Park. Entah apa yang terjadi pada dirinya hingga ia merasa sangat ingin bertemu dengan laki-laki Amerika itu. Ada sesuatu yang membuat dadanya sesak saat tidak melihat laki-laki itu di sekelilingnya padahal baru tiga hari mereka tidak bertemu. Irine melihat Bryan tengah sibuk dengan laptopnya saat ia masuk. Laptopnya berbeda dengan yang biasa ia lihat sebelum Bryan pulang ke Amerika.

“Laptopmu baru” gumamnya.

“Ya, yang lama tertinggal.” Jawab Bryan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar datar itu. Seharusnya Irine senang karena secara tidak langsung Bryan telah mengatakan keberadaan software itu. Namun entahlah. Tiba-tiba ia merasa kesal pada Bryan yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan kekasihnya.

 

“Kalian berlima akan terbang ke California, besok.” Ucap Irine tegas pada lima orang laki-laki yang berdiri di depan sebelah kanannya.

“Aku akan mengirimkan alamatnya setelah kalian sampai. Ini yang harus kalian ambil.” Irine menyodorkan sebuah foto laptop pada orang-orangnya itu. Salah satu dari mereka mengambilnya. Orang itu mengernyit, heran dengan tugas yang diembannya kali ini. Biasanya ia mengantar atau menjemput senjata-senjata berbahaya dan tidak pernah sampai ke Amerika. Dan sekarang? Hanya untuk sebuah laptop, bosnya menugaskan untuk pergi ke Amerika tepatnya California dan lima orang yang diberi tugas. Untuk senjata saja paling banyak hanya tiga orang.

 

“Benda itu sangat penting. Dan kalian,” Irine beralih pada lima orang lainnya yang belum ia beri tugas.

“Temui tuan Hong di Muenchen dan tuan McClain di Fulham. Kali ini kalian akan menjemput barang yang dapat menghasilkan lebih banyak uang daripada senjata-senjata itu.” Kelima orang itu mengangguk. Puluhan tahun berada di dunia bawah tanah tentu saja membuat mereka paham. Sesuatu yang dapat menghasilkan lebih banyak uang, tentu saja mereka tahu. Narkoba.

“Jangan sampai gagal!” Irine melenggang pergi dari ruangan itu. Malam ini ia harus beristirahat agar staminanya kuat. Oh, berhadapan dengan Mark akan menguras banyak staminanya. Ya, besok Irine berencana untuk ‘bermain-main’ dengan kakaknya, Mark. Oh Tuhan, rasanya sudah tidak sabar untuk melihat wajah penuh amarah Mark. Pasti akan sangat menyenangkan.

 

***

 

CGH Building

 

Ketukan yang ditimbulkan oleh heels yang beradu dengan lantai mengiringi langkah tegas Irine. Wanita anggun itu tersenyum puas setelah melihat wajah terkejut wanita petugas resepsionis di kantor Mark.

“Aku Irine Cho, adik CEO kalian. Aku tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengannya, bukan?” petugas resepsionis itu terperangah. Ia tahu bahwa CEO mereka itu memiliki adik namun baru kali ini ia melihat secara langsung wajahnya. Baru kali ini ia melihat adik dari CEO mereka berkunjung ke kantor ini dan dia begitu- cantik. Sungguh, gadis ini sangat cantik dengan gaun pendek hitamnya.

“Ya. Silahkan, nona. Ruangan tuan Cho berada di lantai 30.”

 

Irine menghentikan langkahnya tepat sebelum ia masuk ke dalam ruangan berlabelkan CEO’s Room. Irine membuka pintu ruangan itu sedikit agar ia dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Mark dengan- Bryan. Bryan? Irine menajamkan pendengarannya saat Bryan menyuruh seseorang di seberang telepon sana untuk diam di tempat yang aman di bandara. Senyum licik Irine mengembang saat Bryan menyebutkan sebuah laptop. Ia tidak akan menyia-nyiakan ini. Irine berbalik lalu meninggalkan ruangan Mark tanpa menutup pintu terlebih dahulu. Ia akan menyambut Natasha di bandara dan melupakan hasratnya untuk ‘bermain-main’ dengan Mark.

 

“Kau tidak menutup pintunya, Bryan? Pintar sekali.” Bryan mengangkat bahunya tak peduli mendengar sindiran Mark. Tidak ada waktu untuk mendebat Mark. Hanya Natasha yang ada di pikirannya saat ini.

 

***

 

Heathrow International Airport, London – United Kingdom

 

Bryan dan Mark masuk dengan tergesa-gesa. Mereka menyapu seluruh penjuru bandara dengan pandangannya.

“Itu Natasha, Mark!” pekik Bryan saat mata indahnya menangkap siluet sang adik. Mark menoleh, mengikuti arah pandang Bryan lalu sedetik kemudian ia mengikuti Bryan yang telah melangkah lebih dulu menuju tempat Natasha berdiri.

 

Langkah Mark terhenti karena ia menabrak punggung Bryan yang berhenti tiba-tiba. Bryan membeku. Irine berdiri, menatap ke suatu arah yang ia yakini sama dengannya. Irine melihat Natasha. Astaga. Apa yang dilakukan Irine di Heathrow? Tidak. Natasha dalam bahaya.

“Ada apa, Bryan?” Bryan tak menjawab. Ia hanya diam, terpaku melihat Irine yang tengah menghampiri Natasha.

 

Bagaimana bisa Irine ada di sini? Tunggu! Pintu ruangan Mark tadi terbuka padahal ia sangat yakin bahwa ia menutup pintu itu dengan rapat. Kemungkinan besar Irine mendengar seluruh pembicaraannya dengan Mark, termasuk ketika ia berbicara dengan Natasha melalui telepon. Astaga. Natasha dalam bahaya. Mark sama terpakunya ketika ia mengikuti arah pandang Bryan dan mendapati sosok adiknya tengah berjalan menuju- Natasha.

 

Dengan amarah dan kebencian yang memuncak Irine menghampiri Natasha. Dalam pikirannya berkecamuk, berbagai pertanyaan dideklarasikan oleh otaknya. Natasha sudah menikah dan hari ini gadis itu berada di bandara Heathrow bersama Andrew. Suami Natasha- adalah Andrew? Semoga saja salah. Semoga saja Natasha menikah dengan sesama orang Amerika. Bukankah Andrew juga orang Amerika? Tidak mungkin. Irine menyukai Andrew sejak pertama kali mereka bertemu. Waktu itu Andrew berusia 10 tahun dan Irine 7 tahun. Irine pertama kali bertemu dengan Andrew saat menghadiri pemakaman nenek mereka. Cinta pada pandangan yang jatuh pada orang yang salah namun Irine tidak pernah mau menghapus perasaan cinta terhadap sepupunya itu.

 

“Andrew” Natasha dan Andrew berbalik.

“Irine?! Astaga. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini.” Ujar Natasha antusias. Andrew tersenyum geli melihat ekspresi Natasha. Irine memaksakan senyumnya. Demi Tuhan, Irine tidak pernah membenci Natasha hanya saja melihat Andrew menatap gadis itu dengan tatapan penuh cinta membuatnya meradang.

“Ya, Natasha. Kau dan Andrew?”

“Ah, dia suamiku. Kalian- saudara sepupu, kan?” seperti ada jutaan volt yang menyengat tubuhnya, rasanya benar-benar mengejutkan dan sangat menyakitkan, tentu saja. Irine mengepalkan tangannya. Haruskah ia menyingkirkan gadis ini? Ia memilik dua alasan  yang kuat untuk menyingkirkan Natasha. Untuk software yang ada di tangannya dan untuk merebut Andrew.

 

Natasha mengernyit heran melihat perubahan ekspresi pada wajah Irine.

“Natasha”

“Bryan!” Natasha memeluk Bryan dengan erat, mengabaikan tatapan benci dari seorang Irine.

“Tidak menyapa Mark?” tanya Bryan seraya melepas pelukan Natasha.

“Ah, ya. Mark, hello!” Natasha mengulurkan tangannya yang langsung disambut baik oleh Mark. Mereka saling melempar senyum membuat Andrew merasa seperti kebakaran. Oh, ayolah. Mark cukup tampan dan mempesona meski Andrew lebih tampan. Dengan sifat kekanakkannya, Andrew menepis tangan yang saling berjabat itu hingga terlepas. Bryan tergelak dibuatnya. Oh, Tuhan. Adik iparnya kekanakkan sekali.

 

“Oh, Andrew? Kenapa kau jahil sekali? Dan bagaimana bisa kau ada bersama Natashaku?” protes Mark. Tentu saja Mark tidak tahu jika aksi tadi adalah akibat dari cemburu. Andrew terbelalak.

“‘Natashaku’?” Andrew menatap tajam Natasha dan Mark secara bergantian. Natasha meringis melihat reaksi yang diberikan Andrew.

“Marcus Cho. Sebaiknya aku memperkenalkan diriku sekali lagi. Aku, Andrew Choi adalah suami dari perempuan yang kau sebut Natashaku.” Mark membeku. Suami? Astaga, kau membuatku malu dengan tidak memberitahu padaku bahwa Natasha sudah menikah, Bryan! Batin Mark. Ia menatap tajam Bryan yang hanya menggedikkan bahunya tak peduli untuk menanggapi tatapan membunuh Mark.

 

“Sudah puas bersenang-senangnya?” mereka -Bryan, Mark, Natasha dan Andrew terdiam. Mereka dapat mendengar dengan jelas ada kebencian dalam nada bicara Irine. Irine merogoh saku jaket kulitnya. Ia menodongkan pistol tepat ke arah kepala Natasha. Bryan menegang, ia mengepalkan tangannya.

“A-apa yang kau lakukan, Irine?” Natasha tergagap. Demi Tuhan, selama ini Natasha menganggap Irine adalah orang baik, sahabatnya.

“Serahkan laptop yang ada di tanganmu!” desis Irine. Bryan yang posisinya berada tepat di samping kiri Natasha, melayangkan kakinya ke udara untuk menendang tangan Irine.

Prak. Berhasil! Pistol di tangan Irine jatuh ke lantai. Dengan cekatan Mark berhasil mengambil pistol yang jatuh tepat di kakinya.

 

Irine meringis. Sial. Sepertinya Bryan tengah mengesampingkan perasaannya terhadap Irine demi software itu. Bryan menatap sendu Irine. Oh Tuhan, jika saja nyawanya yang diancam, ia tidak akan rela membuat kakinya melukai tangan Irine. Ia akan membiarkan nyawanya direnggut daripada melukai orang yang dicintainya itu. Sayangnya nyawa Natasha yang diancam. Tentu saja ia memilih untuk menyakiti Irine yang berstatus sebagai kekasihnya daripada gadis itu mengancam jiwa Natasha yang merupakan adiknya, adik kembarnya. Cukup sekali ia merasakan sakit yang teramat ketika melihat Natasha terbaring di rumah sakit karena kebodohan ayah mereka.

 

“Kau berani menyakitiku, Bryan? Aku kekasihmu!” pekik Irine. Bryan hanya menyunggingkan senyum miringnya. Gadis ini masih ingin diakui sebagai kekasihnya? Lucu sekali.

“Benar. Seharusnya aku tidak menyakitimu karena kau kekasihku. Biar ku perjelas, Irine. Aku tidak menyakiti kekasihku. Aku hanya menyakiti gadis yang tengah mengancam nyawa adikku. Apakah aku berlebihan?” Irine bungkam. Ada rasa sakit yang mendera dadanya saat Bryan lebih mementingkan orang lain. Well, meskipun itu wajar karena orang yang menjadi prioritas Bryan adalah adik kembarnya, saudara yang memiliki ikatan lebih kuat dibanding hubungan adik dan kakak pada umumnya.

 

“Hentikan semuanya, Irine! Sebelum segalanya hancur, hentikan. Aku mohon.” Irine terpaku. Seorang Bryan mau memohon? Bryan menghampiri Irine dengan perlahan. Mata keduanya saling bertemu. Mata itu, mata Bryan mampu membuat tubuh Irine bergetar. Jantungnya berdetak tak normal saat Bryan telah berdiri kurang dari setengah meter di hadapannya. Wangi parfum khas seorang Bryan begitu menusuk indera penciumannya.

 

“Bisakah kau lupakan software itu dan tetap di sampingku?” lirih Bryan. Tangannya ia ulurkan untuk menyentuh pipi kiri Irine. Irine menggeleng, menepis tangan Bryan dengan kasar kemudian mundur beberapa langkah untuk menjauh dari Bryan. Menyerah hari ini sama saja dengan membuat usahanya selama ini sia-sia. Tidak. Ia sudah melangkah sejauh ini dan tidak ada lagi jalan untuk mundur. Bahkan ia rela berpura-pura mencintai Bryan agar mendapatkan software yang akan membuat organisasi yang dibangun ayahnya menjadi organisasi termasyhur.

 

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Irine. Aku mohon, lupakan obsesimu dan mulailah untuk belajar mencintaiku.” Tatapan Bryan membuat Irine sedikit goyah. Tatapan terluka yang diberikan Bryan membuatnya merasa- sangat bersalah. Tidak. Jangan katakan apapun lagi, Bryan! Irine kembali merogoh saku jaketnya, menodongkan pistol pada Bryan. Natasha yang berada dalam pelukkan Andrew memekik. Mark, laki-laki itu bungkam. Adiknya tidak bisa dimaafkan. Haruskah ia juga menodongkan pistol yang ada di tangannya pada Irine? Mark yang akan mengangkat pistolnya, mengurungkan niat melihat Bryan memberinya isyarat untuk tidak mengangkat pistolnya.

 

“Tarik pelatuknya, Irine. Jika dengan membunuhku bisa membuat obsesimu hilang, lakukanlah! Hanya setelah aku mati, kau harus mengingat bahwa pernah ada seorang Bryan yang sangat mencintaimu. Lakukan, Irine!” tangan Irine bergetar.

“Jangan banyak bicara, Bryan! Berikan saja software itu padaku lalu kau akan bebas. Kau masih bisa menikmati indahnya kota London untuk waktu yang lama!”

“Kota London tidak akan lagi indah jika kau tidak ada di dalamnya, bersamaku. Jadi, lebih baik aku mati dan kau tetap berada di kota ini, menjadi salah satu keindahan kota London dengan suara emasmu.”

“Jangan bodoh, Bryan!! Natasha, berikan laptop itu atau kakakmu akan mati di tanganku!” teriak Irine. Dalam hatinya ia sudah akan goyah. Ia ingin menjatuhkan pistolnya lalu memeluk Bryan, meminta maaf padanya dan mengawali cintanya dengan laki-laki tampan itu.

“Tidak, Natasha! Irine, aku tidak ingin kau menjadi gadis monster karena software itu. Hatimu, hatimu tidak ingin kau seperti ini. Aku benar, kan?” Irine menggeram. Bryan sudah terlalu banyak bicara. Ragu-ragu, Irine menarik pelatuk pistolnya dan- DOR!

 

Mark memperhatikan wajah Irine yang memerah karena menahan emosi. Mark tahu dengan jelas, Irine tidak akan menyerah dengan mudah. Mark melihat tangan Irine dengan perlahan menarik pelatuknya. Tidak. Ia tidak akan membuat adiknya membunuh laki-laki yang begitu mencintai adiknya dengan tulus. Dengan gerakan cepat Mark mendorong tubuh Bryan dan- DOR!

 

Tubuh Bryan ambruk di lantai dingin bandara Heathrow, disusul dengan suara seseorang jatuh di belakangnya. Ia dapat mendengar suara tembakan dengan jelas namun tubuhnya tidak merasa sakit.

“Mark!!” pekik Andrew dan Natasha bersamaan. Mereka menghampiri tubuh Mark yang terbujur di lantai. Darah segar membanjiri sekeliling tubuh Mark. Bryan merasakan seluruh aliran darah di tubuhnya berhenti, jantungnya tak berdetak. Bryan menghampiri tubuh lemah Mark. Air mata mulai mengalir dengan derasnya.

“Mark- bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Bryan menarik kepala Mark ke atas pangkuannya. Matanya beralih memandang Irine dengan penuh amarah.

 

Irine mematung. Tubuhnya membeku. Tidak, ia tidak ingin membunuh Mark. Tangannya bergetar hebat. Pistol di tangannya jatuh. Tubuhnya semakin membeku ketika Bryan menatapnya dengan penuh amarah. Bryan tidak pernah menatapnya seperti itu. Bryan pasti sangat marah.

 

“Gadis itu, tangkap gadis itu! DIA YANG MELAKUKANNYA!!!” teriak Bryan. Irine mengerjap. Tubuhnya sudah diringkus oleh pihak keamanan bandara. Benar, Bryan pasti sangat marah. Mark adalah satu-satunya sahabat yang begitu tulus berteman dengan Bryan. Menyakiti Mark sama dengan menyakiti Bryan, begitu sebaliknya. Seharusnya ia tahu hal itu. Irine tidak memberontak saat petugas keamanan membawanya keluar dari bandara, menuju kantor polisi. Ia sudah menyakiti Mark dan ia harus menerima hukumannya.

“Mark, maafkan aku.”

 

***

 

One Year Later…

 

At Prison, London, United Kingdom

 

Dentingan jam dinding menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan diantara dua anak manusia yang duduk saling berhadapan. Mereka sama-sama menunduk, merangkai kalimat untuk memecah keheningan. Canggung. Setelah satu tahun tidak bertemu membuat mereka terjebak dalam suasana canggung seperti saat ini. Bryan mengangkat kepalanya, menatap gadis yang selama satu tahun ini dirundung penyesalan, hidup dalam kerinduan yang teramat menyiksanya. Air mata mulai menetes dari mata indahnya melihat perubahan yang signifikan pada diri gadis yang begitu dicintainya. Rambut panjangnya yang tampang tak terurus, wajahnya yang kumal, dan yang membuatnya sakit adalah gadisnya menjadi sangat kurus. Gadis ini sangat menderita.

 

“Maafkan aku.” Irine refleks mengangkat kepalanya. Tidak, bukan Bryan yang harus meminta maaf. Dirinyalah yang harus memohon ampunan. Karenanya, Mark terluka. Karenanya, Bryan menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk bersama gadis yang tidak mencintainya.

“Kau ini manusia atau apa, Bryan? Aku yang membohongimu, aku menipumu, aku melukai Mark. Seharusnya aku yang meminta maaf-”

“Tapi aku yang membuatmu berada di sini, Irine.” Potong Bryan cepat.

 

“Jangan seperti ini, aku mohon. Jangan berbaik hati padaku karena itu hanya akan membuatku semakin merasa bersalah.”

“Aku merindukanmu, Irine.” Irine terpaku. Ia menatap lurus ke dalam mata indah Bryan. Oh Tuhan, laki-laki ini manusia, kan? Seharusnya ia mengatakan ‘aku membencimu’, bukan mengatakan hal yang juga dirasakannya. Irine, selama satu tahun mendekam di penjara, bayangan Bryan selalu menghantui pikirannya. Ia- merindukan Bryan.

 

“Bryan, aku mohon-”

“Mark sudah berjanji akan mencabut tuntutannya. Setelah kau bebas, aku akan mengikuti semua maumu termasuk menjauh dari hidupmu. Aku- kau adalah salah satu keindahan milik London. Tempatmu di luar sana, bukan di sini.” Bryan menghela napasnya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “aku mencintaimu.”

 

Oh Tuhan, kenapa harus ada kejadian seperti ini dulu baru Irine dapat merasakan tulusnya cinta Bryan? Irine mengusap pipinya dengan kasar. Tidak, ia tidak boleh menyakiti Bryan lebih jauh lagi. Ia harus menekan perasaannya yang sudah tumbuh, rasa cinta yang melandanya setelah ia melakukan kesalahan yang tidak mungkin termaafkan.

 

“Bryan, aku-”

“Sekali saja, Irine. Sekali saja katakan kau mencintaiku. Aku ingin mendengarnya dari mulutmu.”

“Dengarkan aku, Bryan. Kali ini jangan memotongnya! Aku, minta maaf karena keangkuhanku Mark terluka, karena keangkuhanku kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk terus berada di sampingku. Maafkan aku. Aku tahu kesalahanku tidak termaafkan.” Irine menghentikan kalimatnya sejenak, menghapus air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.

“Satu tahun berada di sini, bayangan wajahmu terus menghantui pikiranku. Aku tahu, aku tidak pantas untuk- untuk merasa rindu padamu tapi aku merindukanmu. Aku egois, kan?” Bryan terhenyak. Benarkah Irine merindukannya?

 

“Kau merindukanku?” Irine mengangguk. Dengan gerakan cepat Bryan mengitari meja untuk menghampiri Irine. Ia merengkuh tubuh Irine dari belakang. Astaga, Bryan benar-benar merindukan gadis ini. Bryan terisak. Tubuh gadis ini sangat kurus. Setelah ini ia harus memaksa Mark untuk mencabut tuntutannya sesegera mungkin, mengajak Irine pergi ke salon, lalu membawa Irine makan enak di restoran paling mewah di London. Akan lebih baik jika gadisnya ini menjadi gemuk daripada kurus tak terawat seperti ini.

 

“Katakan kau mencintaiku, Irine!” ujarnya dengan terisak. Irine mendongak agar dapat melihat Bryan. Gadis itu tersenyum.

“Aku mencintaimu, Bryan.” Bryan merasa tubuhnya kini tengah berbaring di atas gumpalan kapas. Rasanya sangat menyenangkan sekaligus melegakan. Tidak peduli jika Irine sedang berbohong hanya untuk menyenangkannya. Ia hanya ingin gadisnya tetap berada dalam jarak pandangnya.

“Aku sudah meminta izin untuk mencintaimu pada tuan Cho. Aku berjanji, kau akan bebas secepatnya lalu kita akan menikah, hidup bersama dan memiliki anak-anak yang lucu. Irine Cho, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Irine tersenyum. Tidak peduli jika nantinya ia akan disebut perempuan paling egois. Ia hanya ingin melihat Bryan. Ia ingin Bryan.

 

THE END

 

Well, ending-nya annoying banget, kan? Entah kenapa, susah banget dapetin ide buat cerita yang main cast-nya Kibum. Beda banget kalo main cast-nya itu Kyuhyun. AAA~ setan yang satu itu emang mengganggu pisan :3 btw, thank’s for coming^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

11 thoughts on “That Mafia is My Girl Part 2”

  1. well emank sih ff yg ini ga sedalem ff kyu yg biasa km buat tp aku sk hahahaha.
    terutama dibag yg pengkuan irine kalo dia cinta ama ki bum trus kibum meluk irine owwwww sweet sx hahahaha.

  2. awalx aku mengingat2 siapa itu Bryan e ternyata Kibum, Irine ternyata udah suka ma Andrew si sepupu, tp sayang udah ada yg punya, ternyata cantik2 mafia, tapi semua udah berlalu akhirx tetap Irine kembali ama Bryan, trus Marcus ama????

  3. Penyesalan memang selalu datang terlambat, memperbaiki adalah jalan utama untuk membersihkan noda penyesalan itu dari hati kita.
    Begitu juga dengan Irine, menyesal karena perbuatannya di masa lalu dan mencoba memperbaikhnya untuk masa depan.

  4. penyesalan emang selalu terlambat dan kita baru menyadari apa yang kita rasakan sebenernya setelah semua jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s