Fate (History Long Version) Part 3

Previous Part: –Part 1Part 2

 

Suasana gelap di dalam kamar bernuansa full-orange ini tetap tidak mampu membuat seorang Kim Rae Ah terlelap. Bayangan ketika Kyuhyun menciumnya terus berputar-putar dalam benaknya. Gadis itu menatap langit-langit kamar dengan tangan berada di dadanya. Ia sedang berusaha menahan debaran di dalam dadanya. Debaran itu, entah kenapa terasa begitu menyenangkan. Ia pernah mengalami ini ketika untuk pertama kali Chanyeol menciumnya. Ya, ia juga terus berdebar setelahnya. Apakah mungkin ia menyukai Kyuhyun? Tidak. Di hatinya hanya ada Chanyeol, ia sangat yakin akan hal itu. Ini hanya efek keterkejutannya saja. Ya, benar. Lupakan saja, Kim Rae Ah!

 

Rae Ah menggeleng kasar. Ia terus menyugesti dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia dan Kyuhyun akan baik-baik saja. Entahlah, ia berpikir bahwa hubungannya dengan Kyuhyun tidak akan baik-baik saja setelah kejadian itu.

02:00 Kim Rae Ah terlelap.

 

At the same time, in another place

 

Kyuhyun menutup laptopnya dengan kasar. Kejadian tadi siang terekam kamera paparazzi dan beritanya sudah keluar. Astaga, kehidupan dunia entertainment mengapa harus sekejam ini? Apakah mereka berpikir seorang Cho Kyuhyun tidak akan menikah hingga tua? Tidak mungkin ia menikahi seluruh fans-nya yang begitu banyak, kan?

Kyuhyun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia mencoba untuk terlelap agar besok ia dapat menghadapi para wartawan yang sudah pasti tengah memburunya dengan pikiran yang segar. Bayangan ketika ia mencium Rae Ah tiba-tiba saja berkelebat. Bodoh. Rae Ah pasti marah atas kelakuannya. Kyuhyun mengabaikan bayangan itu hingga beberapa menit kemudian ia terlelap.

 

***

 

Kim Kibum menekan klaksonnya tak sabaran. Ia sudah terlambat untuk datang ke kantor dan jalanan begitu macet. Kibum mendesah pasrah. Ia menyenderkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Matanya beredar memindai orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar. Pandangannya berhenti pada satu titik. Seorang gadis yang tengah berdiri di depan sebuah toko kue, gadis itulah yang membuat pandangan seorang Kim Kibum seakan terkunci. Kibum terus memandangi gadis itu hingga ia tersadar ketika suara klakson memekakkan telinganya. Dengan cepat ia melajukan kembali mobilnya. Tidak, ia tidak terus melaju melainkan berhenti di depan toko tempat gadis itu berdiri. Kibum turun dari mobilnya dengan tergesa, meninggalkan Lamborghini Veneno-nya di pinggir jalan.

 

Kibum berhenti lima langkah tepat di depan gadis yang menarik perhatiannya itu. Gadis itu masih sibuk berkutat dengan gadget di tangannya, tidak menyadari kehadiran seorang Kim Kibum di depannya.

Kibum memegang dada kirinya. Berdebar. Setelah lima tahun, jantungnya kembali kembali merasakan debaran yang begitu menyenangkan seperti ini. Selama ia berdekatan dengan gadis secantik apapun, debaran ini tidak pernah di dapatnya. Debaran yang hanya ia dapat ketika berhadapan dengan gadis ini, gadis di hadapannya. Cairan bening mengumpul di pelupuk matanya. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk cairan itu membasahi pipi putihnya.

 

Cairan bening itu pada akhirnya membasahi pipinya saat gadis di hadapannya mendongak, menatap lurus ke arahnya. Gadis itu terperangah. Ia tidak dapat menyembunyikan raut terkejutnya. Kibum mengikis jarak diantara keduanya hingga ia dapat mencium aroma yang sudah lima tahun ini menghilang. Aroma parfum gadis itu yang selalu disukainya. Rasanya ingin sekali ia memeluk gadis di hadapannya ini namun ia sadar akan dirinya, sadar akan hubungan mereka yang telah berakhir, lima tahun lalu.

 

“Apa kabar, nona McCartney?” perlu kalian tahu, Kibum berusaha dengan susah payah untuk mengatakan itu dengan nada normal. Well, meskipun pada akhirnya terdengar begitu aneh ditambah dengan lelehan air mata di pipinya.

Gadis itu tersentak. Ingin sekali ia memeluk Kibum dan mengatakan bahwa ia tidak baik -sangat tidak baik.

“Aku baik, tuan Kim.” Gadis itu merutuki dirinya yang hanya menjawab dengan singkat. Kibum mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia masih ingin mengobrol banyak dengan gadis ini. Toko kue di depannya seolah memberinya restu untuk membuat ia dan gadis ini mengobrol lebih banyak.

“Aku belum sarapan. Aku harap kau bersedia menemaniku untuk sarapan di toko kue ini, Irine McCartney.” Irine mengerutkan dahinya. Sarapan kue? Sejak kapan laki-laki ini menyukai makanan manis?

“Kibum-ssi, bukankah kau tidak menyukai makanan yang manis?” Kibum tergagap.

“Itu… A-aku,” Irine tersenyum melihat Kibum tergagap seperti ini. Oh, bolehkah ia berpikiran bahwa saat ini Kibum tengah berusaha menahannya?

“Di sana ada restoran yang menyediakan menu sarapan yang sangat lezat. Ayo!” Irine berjalan menuju restoran yang ditunjuknya mendahului Kibum. Kibum tersenyum. Hari ini ia berterima kasih pada alarmnya yang mati dan keluarganya yang tidak membangunkannya. Terlambat membuatnya kembali bertemu dengan gadis London itu.

 

***

 

Kibum menatap Irine begitu intens. Ia bahkan mengabaikan sarapannya yang sudah tersedia di atas meja. Sudah 15 menit berlalu sejak pesanan Kibum datang namun tidak ada tanda-tanda laki-laki itu akan menyentuhnya. Tatapannya pada Irine membuat gadis itu tidak nyaman. Irine terus saja mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia resah. Keheningan ini harus segera ia akhiri.

 

“Kibum-ssi, makananmu sudah dingin.” Irine meringis. Laki-laki itu tidak menggubris ucapannya.

“Kibum-ssi-”

“Alasan kau memutuskan hubungan kita lima tahun lalu, apa, Irine?” Irine membeku. Ia tidak menyangka Kibum akan menanyakan hal ini secara tiba-tiba. Apakah Kibum akan percaya jika ia mengatakan alasan itu?

“Lima tahun ini aku selalu menanyakan hal itu. Tidak bisakah kau menjelaskannya, Irine?”

“Apakah alasan itu penting?”

“Ya. Bagiku itu sangat penting-” ucapan Kibum terhenti oleh deringan dari ponselnya. Kibum merogoh saku jasnya dengan kesal. Tanpa melihat nama pemanggil Kibum langsung menjawabnya.

 

“Ya” … “Baiklah. Maaf aku melupakannya. Aku akan sampai di sana dalam 10 menit.” Kibum menaruh kembali ponselnya ke dalam saku. Ia menatap Irine sebentar lalu mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.

“Aku harus pergi. Hubungi aku nanti malam.” Kibum melangkah keluar dari restoran setelah menyerahkan kartu namanya pada Irine.

 

Irine menatap kartu nama itu. Ia mengambil buku diary-nya lalu menyimpan kartu nama yang diberikan Kibum di sana, bersama puluhan foto yang menempel sempurna di atas kertas itu. Irine menatap salah satu foto di sana, mengelus wajah itu dengan lembut. Senyumnya mengembang bersamaan dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Jika tuhan menggariskan takdirnya untuk kita bertemu lagi, maka kita akan bertemu lagi tanpa aku harus menghubungimu lebih dulu, Kibum-ssi. Dan aku yakin kita akan bertemu lagi.

Irine memasukkan buku diary itu ke dalam tasnya lalu beranjak untuk keluar dari restoran. Melihat wajah Kibum secara langsung setelah lima tahun membuat hatinya membaik.

 

***

 

Sebuah mobil BMW 760 Li membelah jalanan Seoul yang sore ini terlihat cukup lengang. Mobil mewah itu berhenti di pelataran bandara. Kim Rae Ah keluar dengan tergesa. Masih ada waktu satu jam lagi untuk keberangkatan pesawat yang akan membawa kekasihnya ke Jerman. Gadis itu berlari dengan cepat menuju tempat Chanyeol berada. Selama perjalanan ia terus mengumpat pada dosen bahasa Inggrisnya. Karena tambahan waktu yang diminta dosen itu, ia tidak dapat mengantar Chanyeol ke bandara. Beruntung masih ada waktu satu jam lagi.

 

“Park Chanyeol!!” Chanyeol tersenyum ke arah gadis yang meneriakkan namanya. Gadis itu berlari dengan napas yang terengah. Gadis itu langsung memeluk Chanyeol dengan napas yang masih sangat terengah. Chanyeol menyambutnya dengan suka cita. Gadisnya pasti sangat berusaha keras untuk sampai di sini.

“Maaf aku baru datang. Jangan salahkan aku. Salahkan saja dosen yang selalu seenaknya sendiri menambah waktu kuliah.” Chanyeol terkekeh mendengar celotehan gadisnya ini.

“Emm.” Gumamnya seraya mengeratkan pelukannya. Entahlah. Ia sangat tidak ingin melepas pelukan ini seolah ia tidak akan bisa lagi memeluk gadisnya, Kim Rae Ah.

“Aku akan sangat merindukanmu, Chanyeol.” Kim Rae Ah tidak mengerti dengan ucapannya. Ia sudah terbiasa berpisah selama beberapa minggu dengan Chanyeol namun kali ini rasanya berbeda. Ia merasa Chanyeol akan pergi untuk waktu yang sangat lama padahal kekasihnya itu hanya akan pergi ke Jerman selama empat hari.

“Aku juga akan sangat merindukanmu, sayang.” Chanyeol merenggangkan pelukannya, menunduk untuk menatap wajah gadis yang begitu cantik di matanya. Chanyeol mencium kening Rae Ah sangat lama membuat gadis itu harus berusaha mati-matian menahan debarannya. Benar. Debarannya masih sama. Berarti memang hanya Chanyeol yang dicintainya. Chanyeol menjauhkan bibirnya dari kening Rae Ah namun tidak lama. Ia kembali mencium gadis itu, kali ini Chanyeol mencium kedua matanya bergantian. Rae Ah memejamkan matanya. Ada perasaan aneh saat Chanyeol bersikap selembut ini. Rasanya ia ingin Chanyeol bersikap menyebalkan saja.

Rae Ah mengalungkan tangannya di leher Chanyeol ketika sadar laki-laki itu tengah mencium bibirnya. Mereka berciuman cukup lama. Tidak ingin melepas satu sama lain.

 

“Jangan bersedih ketika aku tidak ada. Jika kau merindukanku, tidur saja di kamarku.” Rae Ah memukul bahu Chanyeol.

“Kau berkata seperti itu seolah-olah kau akan pergi lama saja. Ingat, Park Chanyeol! Kau hanya akan pergi selama empat hari jadi kau harus menepati janji itu!” Chanyeol tersenyum simpul. Ia ingin sekali mengatakan ‘ya’ namun lidahnya terasa begitu kelu. Ia tidak yakin akan kembali secepat itu. Chanyeol kembali memeluk Rae Ah begitu erat. Astaga, ia tidak ingin terpisahkan oleh benua dengan gadis ini.

 

“Jangan jauh-jauh dari Kyuhyun hyung selama aku tidak ada. Aku sangat mencintaimu, Kim Rae Ah.”

“Aku juga sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Come home as soon as you can.” Chanyeol mengangguk.

I’ve to go. Mau kubawakan oleh-oleh dari Jerman?” Rae Ah tertawa pelan.

“Tidak perlu. Suatu saat nanti aku akan mengunjungi Jerman bersamamu, kan?” Chanyeol terdiam. Kepalanya terasa berat hanya untuk sekedar mengangguk.

“Sudahlah. Pesawatmu akan segera take-off.” Sekali lagi Chanyeol mencium kening dan bibir Rae Ah. Sebelum berbalik Chanyeol melepaskan gelang yang ia beli dari Jerman beberapa bulan lalu. Diberikannya gelang itu pada Rae Ah.

“Untuk mengurangi rasa rindumu padaku. Jangan pernah melepasnya! Aku pergi.” Ujarnya seakan mengerti kebingungan gadisnya. Rae Ah mendengus. Perpisahan kali ini terasa sangat aneh baginya.

 

Rae Ah menatap Chanyeol yang sedang diperiksa oleh petugas bandara hingga laki-laki itu menghilang dari jarak pandangnya. Gadis itu membuka ponselnya yang berdering sekali. Chanyeol mengiriminya pesan yang membuatnya tertawa pelan.

 

From: Tuan Jerapah

Kau boleh melepas gelang itu jika sudah tidak ada aku di dunia ini. Jadi bersiaplah untuk memakainya seumur hidupmu. Aku mencintaimu.

 

Rae Ah memasukkan lagi ponselnya ke dalam tas, mengabaikan pesan aneh namun membuatnya bahagia itu. Ia berbalik untuk pulang setelah mendengar suara seorang perempuan yang mengatakan bahwa pesawat menuju Berlin baru saja lepas landas.

 

Suara ledakan yang sangat keras membuat Rae Ah menghentikan kakinya yang baru berjalan sebanyak lima langkah. Tubuhnya membeku diantara jeritan histeris dari orang-orang yang berada di bandara. Perasaannya mengatakan ada yang tidak beres dengan Chanyeol. Pengeras suara di bandara membuat seluruh aliran darah di tubuhnya berhenti. Kakinya terasa begitu lemas sehingga tidak mampu menopang berat tubuhnya.

“Park Chanyeol- tidak mungkin. Tidak mungkin.” Racauan Rae Ah membuat orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya menatapnya iba. Mereka berpikir gadis itu anggota keluarga dari salah satu penumpang pesawat yang meledak itu.

 

Ledakan itu adalah ledakan dari pesawat yang ditumpangi Chanyeol. Pesawat yang meledak di atas ketinggian yang baru mencapai 10 meter.

“Park Chanyeol!!!” Rae Ah berdiri. Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju kerumunan orang-orang yang sedang meminta penjelasan tentang ledakan yang terdengar. Mereka pasti salah. Chanyeolnya baik-baik saja. Pesawat yang ditumpangi Chanyeol tidak meledak. Ya, itu benar. Chanyeolnya baik-baik saja.

Rae Ah merasa sekelilingnya menggelap bersamaan dengan suara bedebum di atas lantai dingin itu. Rae Ah jatuh. Pingsan.

 

TBC

 

Part 3-nya jayuz banget, kan? Udah pernah aku bilang kalo aku susah banget dapetin mood buat lanjut ini ff. Hikseu Astaga, ada yang mau tukeran ide? Haha tapi jangan protes, ya! Ide cerita part 3 emang ampe segini doang, kok.

Well, hope you all like this part. See ya on next part, readers! Thank’s^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

18 thoughts on “Fate (History Long Version) Part 3”

  1. Rada pendek apa ya, apa krna critanya makin menarik? XD
    si chanyeol nya mati gk? padahal tadinya ngarep bakalan ada cinta segi segi, gk taunya malah…….
    jalan kyuhyun makin mulus aja buat makin deket ama rae..

  2. buset dah
    Chanyeol ternyata haaaaaa
    ya ampun
    aku komen apa di part 2 ya ampuun
    kalau tau tdi gak ngmg deh huweeee

    What happen with Chanyeol ??
    dia matikah ??
    astagaaa kasihan si Rae Ah
    ah tapi lebih kasihan Cho Kyuhyun lah ya ckckckck

  3. mungkin ini jalan buat kyu utk dapetin rae ah ne… janfan sampe rae ah nya kena depresi ne or di saat rae ah udh mulai suka kyu akan muncul atal melintang… hadeuhhhh kirban drama bgt ni kkkkk

  4. bener aku pikir ajan ada cinta segitiga diantara mereka tapi jadi gini apa chayeol salah satu penumpang dipesawat yang meledak itu penasaran nih lanjut…..

  5. kalo liat rae ah chanyeol ini jd gamau mereka pisah ih kenapa ngefeel bgt mereka saling cintanya huhu tp omggggg ga ngerti lagi itu dibikin ledakan pesawat huwaaa chanyeoliiiii

  6. Ngarep si kyuhyun sama rae ah tapi kalo chanyeol nya harus mati gak tega juga-, seengganya ada cara lain yang ngebuat mereka nemuin kebahagiaan nya masing masing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s