Boat People: The Valuable Memories

WARNING: Aku gak tau ini mengandung SARA atau enggak, yang pasti kalo ada, aku gak bermaksud. Aku cuman pengen ngangkat kisah yang cukup menyentuh, menurutku. Cerita ini based on true story. Kalo yang udah baca buku Pulau Galang Wajah Humanisme Indonesia, kalian pasti tau. Well, aku udah memperingatkan sebelumnya, kalo gak suka gak usah dibaca dan NO BASH! Ini juga sebenernya FF spesial ulang tahunnya Kibum, tapi telat banget ya? haha Gapapalah, yang penting posting!

 

October 2014 – Galang Island, Indonesia.

 

Semilir angin laut menyambut kedatanganku di sebuah pulau yang menjadi saksi bisu seorang Kim Kibum bertahan hidup. Di pulau ini aku bersama adikku -Saehee dan ribuan orang Vietnam lainnya bermukim. Pulau ini merupakan saksi bisu perjuangan kami untuk melarikan diri dari peperangan yang terjadi akibat jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan orang-orang Vietcong (Vietnam Utara), sejak tahun 1975.

mengenal-sejarah-dan-kaitan-indonesia-dengan-vietnam-di-pulau-galang-1

 

 

Mataku menyapu seluruh pemandangan di hadapanku. Pulau ini telah berubah menjadi museum terbuka, bukti humanisme negara tempat pulau ini berada -Indonesia. Bayangan-bayangan masa itu berputar bak film yang diputar tanpa perintah.

 

June 1983 – Saigon, Vietnam.

 

Suara-suara yang dikeluarkan binatang malam membuat keadaan malam yang begitu sunyi ini terasa semakin mencekam. Aku, ibu, dan ketiga saudaraku berjalan menyusuri hutan menuju pelabuhan. Kami sekeluarga berniat untuk melarikan diri dari negara yang tidak lagi menjamin keselamatan warganya. Aku bersama Saehee berjalan di belakang sedangkan Heechul -kakakku berjalan di depan bersama ibu yang menggendong Saebum -adik bungsuku. Ketegangan dapat kurasakan dari cara Saehee menggenggam tanganku. Saehee ketakutan. Aku tahu itu. Tengah malam seperti ini seharusnya Saehee dan Saebum sedang berada di dalam mimpi indahnya. Bermimpi tentang segala angan-angan favorit mereka. Heechul mengepalkan tangannya dengan erat. Rahangnya mengeras dengan mata yang mengilat marah. Ibu jatuh terkulai lemas ke tanah sedangkan Saehee sudah menangis dalam pelukanku. Beruntung Saebum tidak terlepas dari pangkuan ibu. Aku? Aku hanya bisa marah dan mengumpat dalam hati. Aku laki-laki. Aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan ibu dan adik perempuanku satu-satunya, terutama di hadapan Heechul yang selalu menekankan padaku agar tidak menjadi laki-laki lemah.

 

Takdir seakan tidak pernah memihak pada kaum minoritas seperti kami. Keluargaku adalah satu-satunya orang Korea yang tinggal di Saigon. Kejadian yang membuat kami semua marah adalah begitu kami sampai di pelabuhan, perahu yang akan kami tumpangi untuk melarikan diri telah meninggalkan kami. Kami ditipu. Padahal, ibu sudah membayar banyak untuk dapat menumpang di perahu itu. Orang-orang Vietnam akan lari dengan mengarungi Laut Cina Selatan hanya dengan menggunakan perahu.

 

Heechul memapah ibu menuju satu-satunya kursi kayu yang sudah tua yang berada di pelabuhan ini.

“Tidak apa-apa, ibu. Kita akan lari dari sini. Tenanglah!” ucap Heechul menenangkan.

 

***

 

Aku tertegun menatapi perahu yang akan kami tumpangi untuk lari dari Saigon. Perahu ini terlalu kecil untuk ditumpangi ratusan orang. Setelah tiga kali kami ditipu, akhirnya kami dapat menumpangi perahu untuk lari. Lari tanpa tujuan yang jelas dan hanya mengarungi lautan luas nan buas. Tepukan seseorang di bahuku membuyarkan seluruh keterkejutan atas perahu ini.

“Jangan berpikir untuk membatalkan ini, Kibum! Kecuali jika kau ingin mati di tangan Vietcong seperti ayah.” Ucapan Heechul membuat sesuatu di pelupuk mataku mendesak untuk keluar. Benar. Ayah sudah mati di tangan Vietcong. Tanganku mengepal. Aku sudah tidak memiliki jalan untuk mundur. Penderitaan kami ini membuatku semakin membenci seseorang. Seseorang yang telah membuat kami sekeluarga terdampar di negeri yang tidak aman ini. Negeri yang semakin tidak aman bahkan setelah perang dingin yang sering disebut dengan perang Indocina II berakhir.

 

“Kibum, aku takut.” Saehee memeluk erat lengan kananku. Wajar saja jika Saehee merasa ketakutan. Kami harus menaiki perahu kecil ini bersama 200-an lebih orang Vietnam. Kami harus berjejalan seperti ikan sarden di dalam kaleng kecil.

“Tenanglah, Saehee. Aku akan melindungimu.” Demi Tuhan, gadis seusia Saehee seharusnya sedang menikmati masa sekolahnya.

“Jaga Saehee, Kibum! Aku akan menjaga ibu dan Saebum.” Aku meng-iyakan ucapan Heechul dengan mengangguk sekilas. Saehee menggenggam erat tangan kananku, menyandarkan kepalanya di lenganku. Aku tahu ia sangat ketakutan. “Tidak usah khawatir, Saehee. Aku dan Heechul akan menjagamu.”

 

***

 

Hari ketiga setelah kami meninggalkan pelabuhan di Saigon. Demi Tuhan, di saat seperti ini aku berpikir untuk kembali pada kehidupanku di Korea. Kehidupan yang jauh bahkan sangat jauh lebih baik dari ini. Tidak. Aku tidak boleh memiliki pikiran seperti itu. Dengan berpikir seperti itu, sama saja dengan aku mengkhianati ayah dan keluargaku.

 

Persediaan makanan di dalam perahu ini menipis. Bau pesing sangat menyengat di hidungku. Kami semua membuang air di tempat kami berdiri. Saehee merapatkan pelukannya pada tubuhku. Selimut kesayangannya masih setia bertengger di tubuhnya yang semakin mengurus.

 

Sebuah guncangan pada perahu mengejutkan kami. Para wanita menjerit histeris. Kulihat Heechul mengeratkan pelukannya pada ibu, menyalurkan kekuatan pada kedua orang yang dijaganya itu. Begitu pula Saehee. Tubuhnya bergetar hebat. Guncangan pada perahu kami semakin kencang. Volume air yang masuk ke dalam perahu sudah cukup banyak. Nahkoda di perahu kami berteriak untuk menenangkan penumpang. Guncangan itu berhenti tepat di menit kesepuluh. Desahan lega terdengar di setiap sudut perahu. Namun sayang, kelegaan itu hanya berlangsung sesaat. Jeritan tangis seorang ibu menggema. Itu ibuku. Aku menatap Heechul, meminta penjelasan padanya apa yang terjadi pada ibu. Heechul menarik nafasnya dalam-dalam.

 

“Saebum meninggal,” ucapan Heechul terdengar seperti petir di siang bolong. Bagaimana bisa? Saehee melepas dekapannya dan berhambur untuk memeluk ibu dan tubuh-tanpa-nyawa Saebum. Tuhan, tidak cukupkah hanya ayahku yang kau ambil dalam peristiwa ini? Saebum baru 4 tahun dan ia harus kembali pada-Nya. Aku menitikkan air mataku dalam diam. Dadaku bergemuruh. Lagi. Aku harus kecewa pada takdir yang Tuhan berikan pada kami. Aku masih bisa berlapang dada saat kami semua terusir dari tanah air kami, karena aku masih memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa berlapang dada setelah ini. Setelah ayah dan adik bungsuku meninggal.

 

“Putra anda telah mengorbankan jiwanya untuk menghentikan amukkan laut. Semoga jiwa putra anda selalu melindungi kita semua,” ucapan nahkoda tersebut tidak membuat tangisan ibu dan Saehee berhenti. Selama ini teman Saehee hanyalah Saebum. Saehee tidak memiliki teman. Ia dikucilkan oleh anak-anak sebayanya karena ia berbeda. Kami berbeda. Kami berbeda dengan orang Vietnam. Heechul mengambil alih Saebum setelah membiarkan ibu dan Saehee menangisinya hampir satu jam.

 

Selamat jalan, Saebum. Aku selalu mencintaimu.

“TIDAK! KENAPA KAU MEMBUANG SAEBUM?! DIA AKAN DIMAKAN IKAN, HEECHUL!!!” teriak Saehee. Ia meronta, memintaku untuk melepasnya. Heechul telah menenggelamkan mayat Saebum di laut. Hatiku mencelos. Saebum pergi untuk selamanya, ibu pingsan dan Saehee terus berteriak meminta Heechul mengembalikan Saebum. Aku mengalihkan tatapanku ke arah lain saat kedua mata Heechul menatap lurus mataku. Aku- tidak ingin Heechul melihatku menangis.

“Menangislah, jika kau ingin!” bersamaan dengan berakhirnya kalimat Heechul, air mataku dengan deras membasahi pipiku. Dengan erat kudekap tubuh Saehee yang terus meronta. Heechul membalikkan tubuhnya dan aku dapat melihat bahunya bergetar. Heechul tidak pernah ingin air matanya terlihat oleh adik-adiknya. Ia selalu ingin menjadi kakak tertua yang kuat bagi adik-adiknya.

 

***

 

Aku baru akan terlelap ketika sebuah ledakkan terdengar. Perahu ini berubah menjadi riuh dalam sekejap. Lima orang pria berpakaian compang-camping menaiki perahu kami. Wajah mereka begitu menyeramkan. Masing-masing dari mereka memegang samurai dan salah satu dari mereka memegang sejata api juga. Salah satu dari mereka yang memegang senjata double itu berteriak dalam bahasa yang aku tidak mengerti sama sekali. Dari gelagat mereka aku menarik kesimpulan bahwa mereka adalah perompak dan yang berteriak itu adalah pemimpinnya. Tanganku semakin erat mengurung Saehee, memberinya rasa aman. Para perompak itu mengobrak-abrik perahu ini dengan brutal. Mereka mungkin berpikir bahwa ada barang berharga di sini. Mereka salah besar. Jika yang mereka cari adalah bau pesing, maka mereka mencari di tempat yang benar. Sayangnya mereka mencari barang berharga. Jangankan barang berharga, makanan saja sudah tidak ada. Setelah amukkan laut beberapa hari yang lalu, kami -aku dan dan para pengungsi terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni. Baru sebentar kami di sana, seorang petugas angkatan laut datang dan mengusir kami semua, tanpa berbelas kasih untuk memberi kami setidaknya persediaan air. Dari bendera yang berkibar di atas kapal patrolinya, aku dapat mengetahui bahwa kami terdampar di pulau yang berada di wilayah kekuasaan Malaysia.

 

Kelima perompak itu berkumpul setelah tidak menemukan apapun yang bisa mereka jarah. Aku -dan mungkin semua orang di sini mengikuti setiap pergerakkan yang mereka lakukan. Aku yakin sekali mereka tidak akan pergi begitu saja tanpa mendapatkan hasil. Aku memutar otakku, berusaha menebak apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Oh, tidak. Di sini banyak sekali anak gadis. Tuhan, semoga tebakanku meleset jauh. Para perompak itu serempak menatap ke arah Saehee, membuat tebakkan liar itu semakin menjadi dalam benakku.

 

Kejadiannya begitu cepat. Sangat cepat hingga aku tidak sadar bahwa Saehee kini sudah berada di genggaman laki-laki brengsek itu. Padahal aku sudah memeluknya dengan tenaga penuh. Tubuhku kini sudah diapit oleh dua orang dari mereka. Pegangan mereka pada tubuhku sangat kuat. Aku terus meronta namun mereka terlalu kuat. Tidak. Jangan, Tuhan! Jangan Saehee!

 

Laki-laki yang menjadi pemimpin para perompak itu mulai menciumi wajah Saehee yang terlihat sangat ketakutan. Heechul menendang laki-laki itu dengan kakinya. Kilatan marah terpancar dari wajahnya. Rahangnya mengeras.

 

“Jangan sentuh adikku dengan tangan kotormu, bajingan!!” teriak Heechul. Saehee sudah berada dalam dekapannya. Perompak itu kembali berdiri. Dengan gerakkan cepat ia menembakkan pistolnya. Tepat. Di. Kepala. Heechul.

 

Duniaku seperti berhenti berputar. perompak itu mulai menciumi wajah Saehee yang terlihat sangat ketakutan. Heechul menendang laki-laki itu dengan kakinya. Kilatan marah terpancar dari wajahnya. Rahangnya mengeras. “HEECHUL!!!” Saehee berteriak histeris. Ia menghampiri Heechul namun belum sampai ia menggapai tubuh Heechul, tubuhnya ditarik oleh perompak itu.

 

Brengsek! Laki-laki itu merobek baju yang dikenakan Saehee. Sial. Tubuh atas Saehee menjadi tontonan penumpang perahu ini. Tubuhku lemas. Amarah yang sudah memuncak di ubun-ubun tidak bisa aku lampiaskan. Tubuhku terlalu lemas melihat Saehee yang dilecehkan. Saehee.

 

Kembali. Rasanya dunia benar-benar telah berhenti berputar. Kenapa tidak Kau ambil saja nyawaku sekarang, Tuhan? Kenapa kau membiarkan aku menyaksikan keluargaku mati dengan cara yang kejam. Ayah, Saebum, Heechul- dan ibu. Ibu. Ibu tidak boleh kalah. Oh, Tuhan. Ibu memiliki penyakit jantung. Ibu pasti tidak bisa menahan kesakitannya lagi. Melihat anak gadisnya yang sangat dilindungi oleh kami sekeluarga itu dilecehkan pasti membuat ibu kesakitan. Mata ibu terpejam dengan tangan berada di dadanya. Tubuhnya terkulai lemas. Ibu. Brengsek! Aku tidak akan memaafkan seseorang yang telah membuat kami sekeluarga seperti ini.

 

Thank’s for your sister.” Aku menatap pria bejad itu dengan penuh amarah. Menjijikkan. Mereka menjijikkan. Tubuhku ambruk sesaat setelah kedua perompak yang sedari tadi mengurungku dengan tangan mereka itu melepasku. Mereka pergi. Mereka pergi setelah menghancurkan keluargaku.

 

Dengan tenaga yang tidak tersisa aku menghampiri Saehee yang tengah memeluk tubuh polosnya. Kuselimuti tubuhnya dengan selimut kesayangannya yang tergeletak tak jauh di sampingnya. Aku- aku telah menjadi laki-laki tidak berguna. Aku telah melanggar janji untuk melindungi Saehee. Aku gagal. Tubuh ibu dan tubuh Heechul yang sudah kaku membuktikan betapa aku laki-laki lemah.

Aku membuka kemeja lusuhku lalu memakaikannya pada Saehee. “Maaf. Maafkan aku, Saehee.” Saehee bergeming. Ia tidak bergerak ataupun sekedar menggumamkan sesuatu untuk meresponku. Bahkan air matanya tidak terlihat mengalir. Tatapan matanya begitu kosong dan mengerikan. Ini- benar-benar tidak adil.

 

Jemaja Island, Indonesia.

 

Beberapa jam setelah peristiwa kejam itu terjadi, perahu kami terdampar di sebuah pulau kecil. Aku memperhatikan nahkoda yang tengah berbincang dengan seorang tanpa melepaskan Saehee yang selalu memeluk erat lengan kananku. Hatiku kembali sesak. Saehee seperti orang yang mengalami trauma hebat. Ia tidak berbicara, tidak merespon, tidak banyak bergerak dan selalu menatap kosong objek di hadapannya.

 

“Nelayan itu akan membantu kita. Ia bilang akan meminta bantuan UNHCR dan Angkatan Laut.” Ucap sang nahkoda dalam bahasa Vietnam. Ia duduk di sampingku dengan pandangan menerawang ke laut bebas.

“Kita berada di negara mana?” tanyaku.

“Indonesia. Menurut nelayan tadi, negara ini memiliki sebuah pulau yang dijadikan tempat pengungsian bagi orang-orang Vietnam.” Aku terhenyak. Benarkah negara ini merelakan pulaunya khusus untuk menampung para pengungsi dari Vietnam?

 

“Pulau ini, nama pulau ini apa?”

“Pulau Jemaja. Mungkin kita akan tinggal di sini beberapa hari hingga datang bantuan.” Aku mengangguk. Setidaknya Saehee bisa beristirahat dengan tenang di sini.

 

October 1983 – Galang Island, Riau Archipelago, Indonesia.

 

Dua bulan setelah UNHCR (United Nations High Commisioner for Refugees) dan TNI Angkatan Laut membawa kami ke barak pengungsian yang berada di pulau Galang. Terdapat dua zona barak pengungsian di sini. Zona 1 di sebelah timur dan zona 2 di sebelah barat. Aku menempati zona 1. Kami -para pengungsi difasilitasi dengan baik. Jalan yang diaspal, saluran air yang baik, tempat-tempat ibadah, dan lain-lain. Peristiwa yang terjadi di Vietnam ternyata menjadi bahan perbincangan yang serius di seluruh negara. Keadaan Saehee tidak berangsur membaik. Ia selalu menempel padaku dan menolak orang-orang baru. Sore ini aku mengajak Saehee ke tepi pantai untuk melihat sunset. Saehee sangat menyukai sunset. Siluet seorang gadis membuat mataku terus menatapnya. Gadis itu menutup matanya, merasakan belaian angin dipipinya. Rambutnya melambai-lambai terbawa arus angin yang cukup kencang. Dilihat dari pakaian dan keindahan tubuhnya sudah dapat dipastikan ia bukanlah bagian dari pengungsi. Wajahnya semakin indah dengan bibirnya yang membentuk sebuah garis melengkung ke atas. Sangat indah.

 

“Boleh aku duduk di sini?” suara tegas seorang laki-laki menarik paksa mataku untuk berpaling dari gadis itu. Aku mengernyit. Laki-laki itu tersenyum lalu mengambil posisi di sampingku. Untuk apa bertanya jika tidak membutuhkan jawaban? Orang aneh. Oh, laki-laki ini berbicara menggunakan bahasa Korea.

 

“Aku Choi Siwon dan gadis yang kau pandangi itu bernama Irine. Irine McCartney.” Ucapnya lagi, dalam bahasa Korea.

“Ah, aku tahu kau orang Korea. Tubuhmu lebih mencolok dari orang-orang Vietnam.” Laki-laki ini seperti bisa membaca pikiranku.

 

“Aku Kim Kibum. Apa kau relawan di sini?” tanyaku ragu.

“Tidak. Tidak pada awalnya. Aku hanya berniat mengikuti ayahku yang ditugaskan di sini. Namun kemudian Irine meminta agar aku mengajaknya. Ia ingin membantu psikis orang-orang di sini agar tidak terluka. Aku terenyuh lalu aku bertekad untuk membantunya,” jawabnya.

“Kalian berpacaran?” pertanyaan itu mengalir begitu saja dari mulutku tanpa terkendali. Sepertinya ada yang salah dengan saraf-sarafku. Siwon terkekeh.

 

“Tentu saja tidak. Aku dan Irine adalah sahabat. Kami berada di SMA yang sama namun berbeda tingkat. Irine adalah orang Manchester yang tinggal di New York.”

“Berarti kau juga tinggal di New York?”

“Tentu saja. Pertanyaanmu lucu sekali, Kibum. Tidak mungkin sekolah di New York sementara aku tinggal di Seoul.” Siwon terkekeh-lagi. Benar. Pertanyaanku benar-benar lucu. Lucu? Sepertinya itu kata bodoh yang diperhalus.

“Ayahmu seorang diplomat?”

“Ayahku Sekjen PBB.”

“Sepertinya dunia begitu memperhatikan kasus di Vietnam,” aku tertegun. Pikiranku tiba-tiba melayang pada seseorang. Apakah ia juga akan memperhatikan kasus ini lalu mencari keberadaan kami -aku dan Saehee?

 

“Kibum, gadis di sampingmu itu, siapa?” Siwon menatap Saehee yang tengah memejamkan matanya, ” kalian mirip. Apakah dia kekasihmu? Rasanya tidak mungkin dia kekasihmu sementara matamu terus memandangi Irine sejak tadi.” Lanjutnya. Oh, Tuhan. Laki-laki ini senang sekali berbicara.

“Dia adikku. Kim Saehee.” Jawabku singkat. Siwon mengangguk.

 

You are here, too, Andrew?” sapaan lembut seorang gadis membuat aku dan Siwon mendongak. Gadis dengan wajah indah itu berdiri di di hadapan kami. Aku membeku. Ada desiran aneh di dalam dadaku melihat wajah gadis itu. Ia tersenyum.

 

Yes, Irine. Ah, I got a new friend, here. He’s Kim Kibum. Korean.”

Korean? How you can be here, Kim Kibum?” gadis itu menggemaskan dengan wajah penasarannya. Aku tersenyum kikuk.

“Irine bilang, bagaimana kau bisa di sini?” Siwon menerjemahkan ucapan Irine. Dia berpikir bahwa aku tidak mengerti bahasa Inggris, sepertinya.

“Ah, Andrew, thank you. I can’t speak Korean and you help me so much. I’m so curious. He’s Korean and he’s a part of ‘them’” aku menahan tawaku melihat berbagai ekspresi gadis itu.

 

Something makes I and my family came into Vietnam and here I am. Losing parent and brothers.” Jawabku tanpa menoleh. Pandanganku menerawang ke arah laut. Irine dan Siwon saling pandang.

 

I’m sorry, Kibum. And, sorry for thought that you can’t understand what I said. I’m sorry. It’s embarassing.” Irine menggigit bibir bawahnya. Aku mengulum senyumku.

It’s okay, Irine. By the way, would you-” ucapanku terpotong saat aku merasakan tangan Saehee menggenggamku lebih erat. Sangat erat. Tubuhnya bergetar dengan keringat yang keluar sangat banyak. Aku menepuk pelan pipinya.

 

“Saehee, bangunlah!” Saehee membuka matanya. Tergambar dengan jelas bahwa ia sedang ketakutan. Aku bahkan tidak mempedulikan dua orang yang mungkin sekarang sedang melihat kami dengan bingung. Saehee menatapku. Mulutnya bergetar.

“Kibum, a-aku takut. Aku takut.” Saehee menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar ketakutan. Aku memeluknya dengan erat. Saehee menjadi seperti ini karena ketidakmampuanku melindunginya.

Harabeoji- harabeoji datang. Aku takut, Kibum.” Saehee masih meracau dalam dekapanku. Apakah Saehee memimpikan harabeoji? Bahkan dalam mimpi saja orang itu mampu membuat Saehee ketakutan.

 

It’s okay. He won’t come into here, Saehee.” Saehee kemudian mulai tenang. Aku tersenyum pada Siwon dan Irine. Berusaha memberitahu mereka bahwa semuanya baik-baik saja.

 

***

 

Seminggu berlalu sejak pertemuanku dengan Siwon dan Irine. Perlahan aku sudah mulai menceritakan segala yang terjadi padaku, Saehee dan keluargaku. Aku percaya, mereka dapat menjadi temanku. Desiran menyenangkan dalam dadaku semakin hebat setiap kali aku melihat Irine tersenyum padaku. Jantungku bertedak tak normal saat mata kami saling bertemu. Ada kebahagiaan yang masuk ke dalam hatiku melihat Irine dengan sabarnya membantu Saehee menghilangkan traumanya. Harapan. Ada harapan yang muncul dalam benakku. Harapan untuk selalu melihat Irine di masa depan. Hanya Irine. Aku rasa, aku sudah gila. Ya, aku tergila-gila pada gadis Manchester itu.

 

“Kibum, sudah saatnya kau mengantre. UNHCR baru saja datang dengan bantuan mereka.” Siwon baru saja muncul. Aku mengarahkan mataku pada Saehee yang tidak pernah mau melepaskan tangannya dari lenganku. Siwon mengangguk paham. Ia mendekati kami dan menyejajarkan wajahnya dengan Saehee. Ajaibnya, Saehee tidak memalingkan wajahnya. Gadis ini membalas tatapan Siwon meskipun ketakutan di matanya masih terlihat. Siwon mengulurkan tangannya lalu mengusap pipi kanan Saehee dengan lembut.

 

“Kibum harus mengantre, Saehee. Aku yang akan menjagamu. Aku temanmu dan seorang teman tidak akan menyakiti temannya” ucap Siwon dengan lembut. Saehee menatap ragu tangan Siwon yang menunggu tangannya untuk disambut. Saehee menatapku, seperti meminta izin. Aku tersenyum lalu mengangguk. Demi Tuhan, aku harus berterima kasih pada Siwon yang telah mampu membuat Saehee merespon orang lain. Atau mungkin juga pada Irine. Aku mengusap pelan rambut Saehee. Gadis itu telah beralih memeluk lengan Siwon. Siwon menatap Saehee dengan tatapan yang sulit dimengerti. Seperti tatapan iba, ingin melindungi, dan tatapan lain yang tidak dapat aku deskripsikan.

Aku melangkah keluar dari barak dengan hati yang sedikit lega. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk Saehee. Semoga.

 

Langkahku terhenti saat segerombolan orang berdiri di hadapanku. Mereka menatapku dengan intens. Tanganku refleks mengepal melihat laki-laki tua berdiri paling depan dengan tongkat di tangan kanannya. Laki-laki tua itu berjalan mendekatiku. PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku. Laki-laki tua itu menggeram menahan amarahnya. Aku pikir laki-laki tua ini datang atas nama kemanusiaan tapi ternyata ia datang untuk mempermalukan aku di hadapan pengungsi lainnya. Mereka saling berbisik melihatku ditampar seperti ini.

 

“Bodoh! Kau lebih memilih hidup di tempat seperti ini daripada meminta bantuanku? Apa yang kau pikirkan, Kim Kibum?!” suara khas laki-laki itu terdengar sangat keras di telingaku.

“Orang-orang yang datang kemari biasanya ingin memberikan bantuan tapi kau datang kemari hanya untuk menamparku? Kau benar-benar berbeda, Kim sajangnim.” Ucapku tanpa menghiraukan perkataannya.

“Mana Saehee?” tanyanya dengan nada tertahan. Aku tersenyum sinis.

“Untuk apa kau menanyakan Saehee, sajangnim? Bukankah kau tidak peduli bahkan tidak menginginkannya? BUKANKAH KAU YANG MEMBUAT KAMI TERDAMPAR HINGGA DI PULAU INI?! Untuk apa kau kemari?”

 

PLAK! Lagi, tamparan itu kembali mendarat di pipiku. Laki-laki tua itu merubah ekspresinya. Ia menatap sendu ke belakangku. Aku mengikuti arah pandangnya. Di sana Saehee tengah berdiri dengan Siwon. Ia ketakutan.

 

“Kim Saehee-”

“Jangan mendekat!! Tidak ingat betapa kau tidak menginginkan Saehee? Kau tidak ingat siapa yang membuat kami terdampar di Vietnam?” amarahku memuncak. Laki-laki tua ini tidak menginginkan anak perempuan dalam keluarganya. Ia tidak pernah memperlakukan Saehee dengan manusiawi. Laki-laki tua ini juga yang dengan kekayaannya yang berlimpah mampu membuat banyak negara menolak kedatangan kami. Hanya Vietnam. Hanya Vietnam yang menerima kami dan berakhir seperti ini.

 

“Aku tidak akan menyakitinya. Aku- aku menyesal, Kibum-ah.” Ujarnya dengan nada melemah.

“Apa harus seperti ini dulu baru kau menyesal? Kenapa kau harus menyesal setelah orangtua dan saudara-saudaraku mati?”

“Cho Younghwan, perintahkan anak buahmu untuk menyeret kedua cucuku itu. Kalau perlu buat mereka pingsan!” Apakah begini caranya menunjukkan penyesalan?

“Tidak, jangan paksa Saehee! Aku akan membawanya setelah berpamitan pada temanku. Aku mohon. Jangan buat Saehee ketakutan!” aku tidak peduli jika ini meruntuhkan pertahananku. Aku hanya tidak ingin Saehee mengingat lagi kekerasan yang dialaminya. Ia baru saja mulai merespon dan aku tidak ingin laki-laki tua itu menghambatnya.

“Baiklah. Waktumu 15 menit. Awasi mereka, Cho Younghwan!”

 

***

 

“Jadi, kau adalah salah satu pewaris KHS Group?” Siwon membuka pembicaraan setelah beberapa keheningan tercipta.

“Seperti itulah,” jawabku singkat.

“Kenapa tidak bercerita padaku?”

“Aku tidak ingin orang lain mengetahui fakta bahwa aku dan Saehee adalah cucu dari seorang Kim Hunshin. Tidak ada yang patut dibanggakan.”

“Baiklah. Aku- aku ingin mengunjungimu jika aku kembali ke Seoul. Apakah boleh?” aku tersenyum melihat Siwon bertanya seperti itu. Wajahnya terlihat penuh harapan.

“Tentu saja aku akan senang jika kau mau berkunjung tapi sepertinya kami yang akan mengunjungimu. Kim Hunshin selalu menginginkan keturunannya belajar di Harvard. Mungkin dalam beberapa tahun kami akan berada di Amerika.”

“Baguslah. Aku bersedia menjadi tour-guide untukmu,” canda Siwon.

“Aku sudah tidak asing lagi dengan Amerika. Kau tahu? Aku lahir dan tinggal di Amerika hingga umur sembilan tahun.” Aku dan Siwon kemudian saling tertawa hingga seseorang memelukku begitu erat. Dia terisak. Aku dan Siwon saling melempar tatapan. Ada-apa-dengannya? Siwon mengangkat bahunya, aku-tidak-tahu.

 

Don’t forget me, Kibum. I- I love you,” aku tertegun. Gadis itu mengucapkan sesuatu yang membuat jantungku bergetar hebat. Desirannya sangat menyenangkan. Ini- sangat menyenangkan. Irine menatap lurus ke dalam mataku. Mata birunya yang indah tengah beruraian air mata. Aku mengusap pipinya dengan lembut.

 

Never, Irine. You’re too precious to be forgotten. I’ll come to your home and bring you to my home when I cathed my dreams. Wait for me, can’t you?” Irine mengangguk pasti. Ia kembali mendekapku. Memberikan rasa nyaman yang teramat untuk hatiku. Aku yakin. Irine adalah gadis baik dan… Takdirku.

 

I’ve to go. I’ll miss you so much, Irine.” Aku menggenggam tangan Saehee. Mengajaknya pergi setelah memeluk Irine dan Siwon bergantian. Tepat pada langkah kelima, Saehee menghentikan langkahnya. Ia melepas tautan tangan kami dan berjalan menghampiri Siwon. Aku tahu. Saehee harus mengucapkan sesuatu pada Siwon.

 

“Aku- aku akan berusaha sembuh dan menjadi gadis cantik. Apakah aku boleh menemuimu jika sudah menjadi gadis cantik?” Siwon tersenyum. Aku yakin, wajah kumal Saehee itu pasti merona merah setelah mengatakannya. Gadis cilik itu mulai jatuh cinta rupanya.

 

“Tent saja. Aku akan menantikan seorang gadis cantik bernama Kim Saehee menemuiku.” Saehee berbalik. Ia berjalan cepat ke arahku. Siwon. Ia dapat menjadi alasan untuk Saehee keluar dari kungkungan traumanya. The memories I’ve created from the ocean till here –Galang Island, I’ll never forget it. That memories is my best experiences, my best teachers. Heechul, Saebum, Mom and Dad. Trust me, I’ll bet my life for Saehee.

clip_image050

 

 

October 2014 – Galang Island, Riau Archipelago, Indonesia

 

Sejak saat itu, aku dan Saehee tinggal di Seoul dan beberapa tahun setelahnya Kim Hunshin mengirim kami ke Amerika. Aku tidak bertemu dengan Irine. Ia melanjutkan kuliahnya di Oxford University sementara aku dan Siwon di Harvard University. Saehee memenuhi janjinya untuk menjadi gadis cantik. Aku tahu, Siwon telah jatuh cinta pada Saehee bahkan semenjak kami masih di pulau ini, di pulau Galang. Sentuhan lembut sebuah tangan di pipiku membuyarkan segala lamunanku tentang masa lalu. Aku tersenyum menanggapinya, mencium keningnya sekilas. Gadis ini yang telah memenuhi janjinya untuk menungguku, menjadi pendamping hidupku dan melahirkan kedua anakku.

“Tempat ini di rawat dengan baik meskipun sudah banyak yang rusak. Pulau ini, bukti humanisme negaranya.” Irine -istriku melingkarkan tangannya di pinggangku, menyenderkan kepalanya di bahuku. Kuletakkan tanganku di bahunya, mengusapnya perlahan.

 

“Pulau ini menjadi saksi bisu tumbuhnya cintaku pada seorang Korea bernama Kim Kibum. Di sana, di bawah pohon yang ada di pantai itu aku selalu menyempatkan diri untuk memikirkannya hingga seminggu setelah kau pergi. Pulau ini tahu betapa aku mencintai laki-laki yang menjadi cinta pertamaku itu.” Aku mengikuti arah telunjuk Irine.

“Ah, ternyata kau sangat mencintaiku, sayang. Aku bersyukur sekali untuk itu. Terima kasih untuk cintamu dan terima kasih telah memberiku putra-putri selucu Mark dan Cathy.” Irine merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Melingkarkan tangannya di leherku dan sedetik kemudian bibir yang menadi favoritku itu menekan lembut bibirku.

 

“AYAH! IBU! Jangan berbuat mesum di sini!” Irine melepas pautannya. Teriakan itu- “Mark! Jangan mengacaukan suasana romantis ayah dan ibu!” Aku mendecak sebal. Kakak-beradik itu benar-benar. “Kau dengar, Mark? Adikmu saja mengerti kenapa kau tidak?” cibirku. Irine memukul pelan bahuku. Mark, anak sulung kami tumbuh menjadi remaja tampan dengan tubuhnya yang tinggi, berusia 17 tahun. Cathy, anak bungsu kami tumbuh menjadi remaja cantik berusia 14 tahun. Kecantikannya mewarisi sebagian besar gen Irine.

 

“Ayah seharusnya sadar umur. Kalian sudah tua.” kekurangan Mark adalah berlidah tajam. Ia tidak akan repot-repot berkata manis pada orang lain.

“Kau benar, Mark. Ayah dan ibu memang sudah tua. Tapi ayah tetap lebih tampan darimu.”

“YA! Kau katarak? Tentu saja aku lebih tampan dari ayah!” Cathy dan Mark tidak pernah mau berhenti mendebat satu sama lain. Tidak ada yang mau mengalah.

“Dalam mimpimu, Mark!”

 

Perdebatan antara Cathy dan Mark mewarnai rumah tangga kami. Tuhan selalu memiliki rencana dibalik segalanya yang terjadi. Rencana indah yang hanya Tuhan yang dapat menciptakannya. Tuhan mempersatukan aku dan Irine, membuktikan cinta kami dengan hadirnya Mark dan Cathy. Tuhan juga mempersatukan Siwon dan Saehee. Saehee benar-benar beruntung mencintai dan dicinta dengan begitu tulus hingga cinta mereka terbukti dengan hadirnya Carol, putri tunggal mereka. Ayah, ibu, Heechul, Saebum. Aku telah menepati janjiku pada mereka untuk mempertaruhkan hidupku untuk Saehee. Hingga tugas itu kini diemban oleh suaminya, Choi Siwon.

 

The ocean and Galang island teached so many lesson about life, love, and passion. God, thank you for the lessons. Thank you for gimme a sweet family. After that case, peoples called us ‘boat people’.

 

THE END

 

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

6 thoughts on “Boat People: The Valuable Memories”

  1. keren crtny… feelny jg dpt bgt…

    awlny kshn ama kibum tpi untung akhirny happy end. gk nyangka kibum tuh org kaya tnyt…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s