That Mafia Is My Girl Part 1

Name: kyubumgirl

Title: That Mafia Is My Girl Part 1

Genre: Sad, Tragedy, Romance, Family

Cast: Bryan Trevor (Kim Kibum), Irine Cho, Marcus Cho (Cho Kyuhyun)

Rating: PG-15

Length: Two-Shot

 

 

Tidak ada yang berbeda dari suasana di Bandara Internasional Heathrow saat ini. Ramai. Laki-laki dengan kacamata hitam mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara tersibuk kelima di dunia ini. Kedua bibirnya membentuk sebuah senyuman indah yang dapat ‘membunuh’ siapapun gadis yang melihatnya saat kedua matanya menangkap seorang gadis tengah melambai ke arahnya. Laki-laki itu melepas kacamatanya, kemudian menggantungkannya di leher kaos biru tua yang dipakainya.

 

“Hallo, darl.” Laki-laki itu mendekap erat gadis yang tadi melambai padanya.

“Aku sangat merindukanmu, sayang.” Laki-laki itu semakin mengeratkan dekapannya, membuat gadis yang didekapnya kesulitan untuk bernafas.

“Aku tahu, tapi aku tidak bisa bernafas, Bryan.” Bryan melepas dekapannya.

“Maaf. Aku terlalu bersemangat untuk bertemu denganmu, Irine.” Irine tertawa pelan melihat tingkah laki-laki yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya.

 

Kekasih? Irine bahkan tidak memiliki sedikitpun rasa suka pada laki-laki yang kini tengah berjalan di sampinya, menautkan jari-jari mereka. Jika tidak suka, lantas kenapa ia harus membohongi Bryan dengan menjadi kekasihnya? Irine hanya mendengus sebal jika mengingat tujuannya menjadi kekasih dari seorang Bryan, bahkan tetap bertahan hingga dua tahun.

 

 

***

 

“Kau meninggalkan kursi direkturmu hanya untuk tinggal di London?” Bryan tersenyum mendengar pertanyataan sarkastik dari Irine.

“Tidak. Aku tidak meninggalkannya,” jawab Bryan.

“Maksudmu, kau tidak akan tinggal di London?”

“Aku akan tinggal di London, tapi hanya untuk beberapa bulan. Aku hanya mengalihkan tugas direktur pada Natasha hingga aku kembali,” jawab Bryan tanpa membuka matanya, membuat Irine mendengus.

 

“Ah, ngomong-ngomong, bagaimana kabar Natasha? Sudah lama aku tidak bertukar kabar dengannya,” Bryan membuka matanya mendengar nada antusias dari Irine saat menanyakan kabar adik kembar tersayangnya itu.

“Natasha baik-baik saja. Dia sudah menikah,” jawab Bryan. Irine membelalakkan matanya.

“Menikah? Kenapa aku tidak tahu?” Bryan kembali ke posisi semula, mengabaikan pertanyaan Irine.

“Bryan Trevor, jawab aku!” Irine memukul pelan lengan Bryan. Gadis itu mendengus sebal saat Bryan tak juga menggubrisnya. Benar-benar khas seorang Bryan Trevor. Tanpa sadar Irine mengulurkan tangannya, menyentuh lembut pipi Bryan yang tembam.

“Bisakah aku mencintaimu, Bryan?” Irine bergumam, nyaris tak terdengar. Bryan yang daritadi memang tidak tidur merasakan dadanya bergemuruh. Gumaman Irine memang nyaris terdengar seperti bisikan halus namun entah kenapa terdengar begitu jelas di telinganya. Bryan tahu, sangat tahu. Irine tidak pernah memiliki rasa apapun padanya selama ini. Sejak satu tahun yang lalu saat secara tak sengaja Bryan mendengar percakapan antara Irine dan Marcus di telepon. Irine tidak pernah mencintainya. Selama ini ia hanya menutupi segalanya, demi mengungkap kebenaran. Kebenaran tentang tujuan Irine menjadi kekasihnya meskipun tanpa rasa cinta.

 

***

 

One Hyde Park, London – United Kingdom

 

Bryan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur king size-nya yang dibalut bed cover berwarna putih setelah berhasil mengusir Irine. Saat ini ia sedang tidak ingin Irine berada di sekitarnya. Kedatangannya di London bukanlah untuk melepas rindu dengan kekasihnya itu tapi untuk urusan lain. Meskipun tak bisa dipungkiri olehnya bahwa ia juga merindukan gadis London berdarah Korea itu. Diraihnya ponsel dari dalam saku jasnya lalu menekan sebuah nama dari kontak. Ia menempelkan ponsel itu di telinganya, menunggu seseorang itu menjawabnya.

 

“Natasha-”

‘Bryan kau baik-baik saja, kan? Kau sampai di apartemenmu dengan selamat, kan?’ Bryan menghembuskan napasnya dengan kasar. Ada apa dengan adik kembarnya itu?

“Aku baik-baik saja, Natasha. Kau berlebihan sekali,” cibir Bryan.

‘Bryan, Andrew bilang, Irine Cho adalah sepupunya. Kau tahu itu?’ tanya Natasha hati-hati. Bryan mengenyit.

“Sepupu?”

‘Kau tidak tahu?’ Bryan menggeleng seolah-olah Natasha dapat melihatnya.

‘Bryan, Andrew juga bilang bahwa ayah Irine adalah-‘

“Seorang mafia anti Amerika.” Potong Bryan cepat.

‘Kau tahu? Astaga, Bryan. Kau tahu tapi kenapa tetap saja pergi ke London?’

“Aku lelah, Natasha. Nanti akan kuhubungi lagi. Sampaikan salamku pada Andrew dan Mommy. Ingat, jangan sentuh Lamborghini Veneno Roadster-ku! Aku saja belum menjajalnya.” Bryan terbahak mendengar protes dari Natasha. Ia langsung memutuskan sambungannya. Natasha, adik kembarnya itu memang tergila-gila pada mobil mahal. Ia tidak pernah peduli jika Bryan akan marah. Bahkan berkat gadis itu, Audi Q7-nya harus menginap di bengkel akibat kecerobohan Natasha yang tidak akan pernah absen menjajal satu per satu mobil mahal yang terparkir di rumah mereka.

 

Bryan menatap potret seorang gadis yang tengah tersenyum manis di layar ponselnya. Potret seorang Irine Cho. Gadis yang telah berhasil memporak-porandakan hatinya. bahkan ia mengabaikan perasaan seorang gadis secantik Tiffany Hwang demi gadis itu. Gadis itu telah mencuri hatinya. Menghindari obrolan tentang ‘mafia’ dengan Natasha adalah hal terbaik saat ini.

 

***

 

10.00 p.m. – Cho’s House, Mayfair, London – United Kingdom

 

Dengan wajah angkuhnya seorang gadis menaiki tangga yang meliuk indah di dalam hunian mewah itu. Tatapan dinginnya membuat atmosfer di dalam rumah elit di Mayfair itu terkesan menyeramkan. Tatapan dingin yang juga dimiliki oleh sang ayah. Tatapan dingin yang semakin menajam saat mata hitam bening miliknya menangkap siluet seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi dengan kulit putihnya yang pucat tengah menuruni tangga. Keduanya berhenti di tengah-tengah tangga. Laki-laki itu melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan si gadis hingga ia kembali berhenti saat sebuah kalimat sindiran meluncur dari bibir tipis gadis itu, “aku senang melihatmu di rumah, Mark.”

Laki-laki yang dipanggil Mark itu mendelik, “aku juga senang bertemu denganmu di rumah, Irine.” Balas Mark. Irine tertawa pelan. Marcus Cho tidak pernah berubah.

 

“Setelah lima tahun pergi dari rumah, apa yang membawamu kembali, Mark?” Mark membalikkan tubuhnya ke arah Irine.

“Bryan Trevor. Dia yang membawaku ‘kembali’.” Jawab Mark dengan menekankan pada kata kembali yang menurutnya itu tidak akan terjadi selama mereka -Irine dan ayahnya mengincar sesuatu yang dimiliki Bryan.

“Kau akan menjadi mata-mata untuk Bryan? Ayolah, Mark. Kau terlahir sebagai pewaris Benny Cho. Kau akan menanggalkannya hanya untuk seorang Bryan Trevor?” pertanyaan sarkastik dari Irine itu membuat amarah seorang Marcus Cho mencapai puncak ubun-ubun. Tidak. Marcus Cho tidak pernah ingin menjadi pewaris seorang mafia terkejam yang pernah ada di dunia hitam Inggris.

“Bryan sahabatku. Aku tidak akan membiarkan kau merusaknya, Irine.”

“Kau telah mengibarkan bendera perang, Mark.”

“Aku pergi, Irine.” Marcus menuruni tangga dengan cepat, meninggalkan Irine yang masih menahan amarah karena ulahnya.

 

Marcus Cho, putra sulung Benny Cho yang tidak pernah sepaham dengan orangtua dan adiknya, satu-satunya pemberontak di dalam rumah mewah yang terlihat ramah dari luar namun mengerikan ketika kau berada di dalam itu. Ia bahkan meninggalkan rumahnya tanpa menghiraukan ancaman sang ayah yang akan mewariskan seluruh kekayaannya pada Irine tanpa meyisakan €1 pun untuknya. Mark -sapaan akrab Marcus tidak pernah takut. Ia sudah berhasil mendirikan perusahaan permainan sejak empat tahun lalu dengan keringatnya sendiri. Mark akan melindungi Bryan dari keluarganya tanpa diketahui oleh laki-laki yang menjadi sahabatnya sejak sama-sama duduk di bangku kuliah itu.

 

***

 

09.00 a.m. – One Hyde Park, London – United Kingdom

 

Bryan menghentikan kegiatannya mengetik pada laptop lalu melepas kacamata beningnya di meja. Bryan bergegas menuju pintu saat seseorang kembali memencet bel tak sabaran.

“Lama sekali.” Bryan mendecak sebal. Ia tahu siapa pelakunya. Tidak pernah berubah. “Kau tidak pernah berubah, Mark.” Gerutu Bryan. Mark menerobos masuk tanpa dipersilahkan oleh Bryan.

“Mark? Cih, namaku Kyuhyun.”

“Kyuhyun? Setahuku Kyuhyun adalah pemilik CGH Company dan tidak mungkin berlaku seenaknya seperti seorang Mark,” Mark merebahkan tubuhnya di sofa hitam yang ada di ruang tengah. Bryan mendengus sebal melihat tingkah sahabatnya sejak kuliah itu.

“Itu hanya pencitraan, bodoh!” dengus Mark.

“Baiklah, Kyuhyun. Ah, nama itu sulit untuk lidahku. Mark, apa yang membawamu kemari?”

“Hanya ingin mengunjungi teman. Irine yang memberitahuku,” Irine yang memberitahu? Oh, yang benar saja. Marcus Cho bahkan baru bertemu dengan Irine tadi malam setelah satu tahun berlalu.

“Jangan berbohong, Mark. Aku- aku tahu semuanya,”

 

***

 

09.00 a.m. – Mayfair, London – United Kingdom

 

Irine menggeram tertahan. Gadis itu membanting laptop hitamnya. Amarahnya memuncak berkat seseorang. Mark. Kau benar-benar telah mengibarkan bendera perang. Baik, kita akan berperang.

Irine melangkah dengan cepat. Wajahnya yang memerah membuat para pengawalnya saling memandang tak mengerti. Yang mereka tahu, sesuatu telah terjadi.

“Ayah ada di dalam, kan?” pengawal yang berdiri di depan ruangan kebesaran sang ayah itu mengangguk. Tanpa menunggu lebih lama lagi Irine masuk ke dalam ruangan itu. Sang ayah -Benny Cho terperanjat kaget melihat putrinya masuk dengan amarah yang memuncak. Terlihat jelas dari air muka gadis itu. Benny Cho berdiri lalu memutari meja kerjanya untuk mendekat ke arah putri kebanggaannya. Putri yang mewarisi sifat kejamnya.

 

“Ada apa, sayang?”

“Ayah, bukankah ayah pernah mengatakan bahwa ayah akan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalan kita?” Benny Cho mengangguk. Ia memang akan menghancurkan siapapun yang berani menghalangi jalannya.

“Lalu kenapa Mark masih sehat-sehat saja? Bahkan ia telah berani mengibarkan bendera perang padaku, ayah!” Benny Cho terhenyak. Irine berkata seolah-olah ia ingin menghancurkan kakaknya sendiri.

“Apa maksudmu, Irine? Kau ingin aku menghancurkan kakakmu?”

“Ayah, Mark mengacaukan pekerjaanku. Tadi malam dia datang dan baru saja aku memerika laptopku. Mark menghapus seluruh data tentang software itu tanpa sisa, ayah.” Irine mengerang. Mark benar-benar tidak bisa diampuni.

“Mark datang? Kenapa ayah tidak tahu?” Irine mengernyit melihat ekspresi yang dikeluarkan ayahnya. Benny Cho benar-benar tidak terduga. Laki-laki itu menatap Irine sendu. Wajahnya meyiratkan kerinduan yang mendalam setelah nama Mark di sebutnya.

“Ayah, ayah kenapa?” Benny Cho menggeleng. Ia menatap intens putrinya, “apa yang Mark katakan?”

“Mark akan melindungi Bryan dariku dan dari Ayah. Ayah, kenapa tidak kau hancurkan saja CGH Company? Dengan begitu, Mark akan berhenti membangkang.” Benny Cho menghela napasnya dalam-dalam. Ya, ia memang tidak suka jika Mark membangkang. Ia juga selalu mengancam akan membuat Mark menyesal jika putranya itu tidak mengikuti segala keingannya. Hati seorang ayah tidak pernah bisa berbohong. Hati seorang ayah tidak pernah ingin menyakiti anaknya.

 

“Kau ingin menghancurkan kakakmu sendiri, Irine?” Irine terhenyak. Dari nada bicaranya, Irine tahu bahwa sang ayah ragu untuk menghancurkan Mark.

“Ayah tidak ingin menghancurkan Mark?” Benny Cho mengalihkan tatapannya ke arah lain. Putrinya benar-benar mewarisi kekejamannya. Bahkan putrinya tidak membuat pengecualian untuk Mark.

“Dia kakakmu, Irine. Mark-”

“Aku yang akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri, ayah. Ayah yang telah membuatku menjadi gadis kejam dan tidak ada jalan lagi untuk aku berubah. Sekalipun itu Mark, aku akan menghancurkannya.” Irine meninggalkan sang ayah dengan amarah yang benar-benar telah mencapai puncak kepalanya. Ayahnya sudah tidak bisa diandalkan. Itu berarti ia harus menyelesaikan segalanya sendiri. Benar. Ia sudah terlibat sejauh ini dan tidak ada jalan untuk mundur.

 

***

 

Three months later…

 

10.00 a.m. – CGH Building, London – United Kingdom

 

“Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Mark?” Mark yang sedari tadi fokus pada gadget-nya itu mendongak. Ia menatap Bryan yang duduk di sofa yang terletak di hadapannya dengan intens.

“Aku belum mendapat ide, Bryan. Aku- aku tidak ingin Irine menjadi penerus mafia itu tapi aku tidak tahu harus bagaimana.”

“Aku mencintainya, Mark. Aku harus mencari cara agar Irine menghentikan semuanya.” Gumam Bryan. Mark merasa iba melihat Bryan yang frustasi karena adiknya. Bryan bahkan menitikkan air matanya di hadapan Mark saat ia menceritakan segala yang diketahuinya tentang Irine, Mark, dan ayah mereka tiga bulan lalu. Dalam hatinya ia benar-benar menyesal. Seandainya ia tidak mengenalkan Bryan pada Irine, seandainya ia bisa menahan mulutnya agar tidak membocorkan rahasia bahwa Bryan menciptakan software untuk komputer yang dapat mencuri informasi dari orang lain tanpa harus melakukan hacking.

 


“Kau tahu apa, Bryan?”

“Irine. Irine menginginkan software yang aku ciptakan dan dia menerimaku karena software itu. Irine tidak pernah mencintaiku, Mark.”

“Bryan-“

“Aku juga mendengar pembicaraanmu dengan Irine tadi malam. Mark, terima kasih. Aku harap kau bisa membantuku menghentikan Irine. Aku benar -benar mencintainya, Mark.”


 

Bryan merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya yang berdering. Ia menatap Mark, memintanya untuk menunggu. Mark mengangguk dan kembali menatap gadget-nya. Bryan sempat merasa ragu untuk menerima panggilan itu karena ia tidak mengenal nomor yang memanggilnya. Masa bodoh.

 

“Ya, aku Bryan.”

‘Bryan, ini aku. Natasha.’

“Natasha Trevor, ada apa? Aku sedang sibuk.”

‘Natasha Choi, bodoh! Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku dan Andrew sedang berada di bandara Heathrow dan aku membawakan laptopmu yang aku yakini tertinggal. Jadi, jemput kami sekarang juga!’ Bryan membeku. Natasha membawa laptopnya? Oh Tuhan, bunuh saja aku sekarang juga!

“Kau membawa laptopku? Bodoh! Tunggu di sana dan diam di tempat yang aman. Jika perlu, diam di ruang keamanan bandara. Aku akan menjemputmu sekarang juga!”

‘Bryan-‘

“Jangan banyak bertanya dan jangan membantah, Natasha! Berhati-hatilah.” Bryan memutuskan sambungannya. Ia beralih pada Mark yang menatapnya penuh tanda tanya. Natasha, laptop, bandara.

 

“Mark, bantu aku. Natasha ada di bandara dan ia membawanya -membawa laptop yang sengaja aku simpan di California. Kita harus cepat ke sana, Mark.” Mark tertegun untuk sesaat. Natasha datang ke London? Natasha, benarkah? Berarti, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Natasha sang pujaan hati sejak pertemuan mereka di gedung auditorium universitas Oxford.

“Mark?” Bryan merasa aneh dengan tingkah Mark yang tersenyum dengan mata menerawang. Mark mengerjap, “ah, ya. Ayo, Bryan!”

 

***

 

10.20 a.m. – Heathrow International Airport, London – United Kingdom

 

Irine mengedarkan pandangannya ke seluruh bandara. Mata tajamnya memindai satu per satu sudut yang mungkin terdapat seseorang yang di carinya. Irine melepas kacamata hitamnya. Mulutnya membuka dan matanya melebar melihat seseorang yang dikenalnya tengah berjalan dengan langkah tegas. Laki-laki itu terlihat membawa dua buah cup minuman dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah tampannya. Wajah tampan yang selalu mampu membuat jantungnya berpacu cepat. Wajah tampan itu yang telah merebut hatinya hingga Bryan yang menjadi kekasihnya pun tidak sedikitpun mendapatkan hati gadis London berdarah Korea itu. Irine berniat menghampiri laki-laki itu dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya. Ia bahkan melupakan tujuan utamanya datang ke bandara ini untuk sesaat. Langkah Irine terhenti saat beberapa meter lagi ia dapat mencapai laki-laki itu. Senyumnya memudar bersamaan dengan berhentinya laki-laki itu di samping seorang gadis yang membelakanginya. Gadis berambut panjang sepunggung itu berbalik kearah laki-laki yang membawakannya cup minuman. Irine mengepalkan kedua tangannya. Meskipun ia melihat gadis itu dari samping, Irine dapat mengenalinya dengan jelas. Matanya memanas. Dadanya kembang kempis menahan amarah. Natasha Trevor.

 

TBC

 

Hello, hello alaTeenTop setelah sekian lama mencari cerita yang pas untuk other story-nya ‘Natasha’, akhirnya datanglah ff ini. FF versi Kibum. Ya, anggap aja ini special buat ulang tahunnya Kibum yang kelewat banyak hari. Sebenernya aku udah bikin dan udah rampung yang judulnya ‘Boat People: The Valuable Memories’ tapi berhubung memory card aku ilang dan otomatis file-nya ilang, maka aku ngetik ulang. Special buat ulang tahun Kibum aku post beberapa ff dgn cast Kibum. So, enjoy!!

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

7 thoughts on “That Mafia Is My Girl Part 1”

  1. oh Irine benar2 kejam. Bahkan sampai hati ingin menghancurkan kakaknya sendiri. Pikiran Irine terlalu penuh dengan obsesi untuk mendapatkan software itu.
    Jadi bisa dibilang kibum seorang programmer, right?
    Aku suka cerita2 seperti ini.

  2. Hallo aku baru di sini, salam kenal.
    Pertam aku suka jalan cerita keren,
    iren jahat banget, apa dia gk tau kalo bum beneran sayang sama dia, tapi aku seneng kyu ttep bantu bum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s