That Girl (2nd Sequel of We’ll Fight For Our Love) Part 1

Name: kyubumgirl

Title: That Girl (2nd Sequel of We’ll Fight For Our Love) Part 1

Cast: Cho Kyuhyun, Catherine Kim, Kim Kibum

Genre: Romance, Sad

Rating: PG-15

Length: Chapter

 

 

 

Camp Nou. Stadion yang menjadi ‘rumah’ bagi tim asal Catalan -Barcelona ini selalu menjadi tempat untuk aku melepas rindu pada adik bungsuku. Adik bungsuku yang begitu dingin. Adik bungsuku yang meninggal sesaat setelah melahirkan malaikat cantiknya.

 

 

Pertandingan akbar antara Barcelona kontra Rael Madrid itu tidak menarik perhatianku lagi. Otakku terlalu fokus memutar kenangan-kenangan manisku bersama Raehyun. Kenangan manisku bersamanya yang hanya tercipta hingga aku berumur 15 tahun dan Raehyun berumur 10 tahun. Raehyun yang manja dan selalu jahil padaku. Hanya padaku. Semua itu menghilang sejak ibu kami memarahi Raehyun karena tidak mau mengalah pada Raejin -adik pertamaku. Raehyun berubah menjadi anak yang pendiam, tidak banyak bicara. Ia juga menjahuiku. Aku dan Raehyun tidak seperti adik-kakak selayaknya. Kami hanya akan menyapa dengan sapaan yang sangat singkat seperti ‘hai’, ‘kau datang?’, dan sapaan-sapaan terkutuk lainnya. Tidak banyak yang tahu bahwa aku memiliki dua orang adik perempuan. Bahkan hyung-ku di Super Junior-pun tidak ada yang tahu bahwa aku memiliki adik perempuan lain selain Raejin, kecuali Kibum hyung.

 

Cho Raehyun memiliki sifat yang sama denganku, bahkan lebih parah. Dingin, kaku, tertutup, sekalipun itu pada keluarga sendiri. Setidaknya itu yang dikatakan ayah dan ibuku. Aku tahu. Di balik sifatnya itu, Raehyun begitu rapuh. Bagaimana bisa aku mengetahuinya? Kibum hyung adalah satu-satunya laki-laki yang mampu melelehkan gunung es milik adik bungsuku itu. Bahkan gadis itu tidak segan-segan untuk menceritakan segalanya pada Kibum hyung. Dari Kibum hyung-lah aku tahu arti di balik tatapan dingin gadis itu.

 

Aku seperti orang yang dirundung penyesalan begitu dalam, sekarang. Tujuh tahun belakangan ini aku selalu datang ke Camp Nou setiap tanggal 14 Desember -tanggal lahir dan meninggalnya Raehyun. Itu artinya, Kim Raehyun -malaikat yang dititipkan Raehyun adikku itu juga memiliki hari ulang tahun yang sama dengan ibunya. Ngomong-ngomong soal gadis cilik itu, dia begitu mirip dengan ibunya. Gadis cilik itu bisa menjadi pengobat rindu kami padanya, pada Raehyun kami.

 

Pandanganku mulai mengabur. Terlalu menyakitkan jika mengingat segala hal tentang Raehyun. Aku- menyesal telah meladeni gunung esnya.

“Akh!” pekikkan seseorang membuyarkan lamunanku. Seorang gadis yang duduk di sampingku memegangi kepalanya yang sebelah kanan.

Are you okay?” tanyaku memberanikan diri. Gadis itu menoleh ke arahku. Mataku seakan terkunci pada mata birunya yang sangat indah. Gadis itu menatapku dengan tatapan yang membuatku mengingat seseorang. Tatapan dingin ini mengingatkanku pada sosok Cho Raehyun.

 

I’m okay,” jawabnya singkat. Gadis itu kembali menatap ke depan, tampak tidak menikmati pertandingan.  Aku sangsi bahwa gadis ini datang untuk menonton pertandingan. Gadis cantik layaknya gadis-gadis Eropa itu terlihat anggun untuk ukuran penonton sepakbola dengan rambut panjang hitamnya yang dibiarkan tergerai. Mini dress dengan lengan pendek berwarna oranye yang pas membalut tubuh putihnya semakin membuat gadis itu terlihat anggun. Heels setinggi kira-kira 5cm membalut kaki jenjangnya yang indah. Apakah dia tersesat? Dengan dandanan seperti ini seharusnya dia berjalan di atas lantai dingin pusat perbelanjaan mewah di Spanyol.

 

Oranye. Gadis ini kembali mengingatkanku pada Raehyun. Adik bungsuku juga menyukai bahkan mungkin terobsesi dengan warna oranye. Apakah gadis ini juga menyukai warna oranye? Deringan ponsel membuyarkan lamunanku. Suasana di stadion ini tengah tegang menanti tendangan penalti yang akan dilakukan Lionel Messi sehingga bunyi ponselku dapat terdengar. Aku melirik gadis itu sekilas sebelum akhirnya menjawab panggilan di teleponku.

 

“Eoh, Kibum hyung. Wae?”

‘Aku dengar kau sedang di Barcelona. Benarkah?’ tanya Kibum hyung.

“Benar, hyung. Kau- juga di Barcelona?”

‘Ya. Di sana riuh sekali. Datanglah ke tempatku! Aku akan mengirimkan alamatnya nanti,’

“Baik, hyung. Ah, aku sedang di Camp Nou makanya riuh sekali. Sekarang tanggal 14 Desember, hyung.” Ucapku lirih. 14 Desember. Ya, benar. Sekarang 14 Desember. 14 Desember? Entah setan apa yang membuatku menggerakkan kepala untuk melihat ke sebelah kanan. Gadis ini. Apa ia gila? Ini musim dingin dan ia hanya mengenakan dress tipis seperti itu.

 

‘Cho Kyuhyun, kau masih di sana?’ tanya Kibum hyung -membuyarkan lamunanku. “A-ah, iya, hyung. Kau kirimkan saja alamatnya. Setelah ini aku akan ke sana. Raehyun- bersamamu, kan?”

‘Ya. Baiklah, aku tutup. Hati-hati, Kyuhyun’

 

Mataku kembali menatap gadis yang masih membeku di tempatnya. Tidak ada yang berubah dari posisinya. Matanya menatap ke depan dengan tangannya yang berada di pangkuannya. Gadis ini jika diperhatikan seperti mayat hidup saja. Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku penasaran sekali dengan gadis ini?

 

***

 

Barcelona selalu ramai seperti tahun-tahun sebelumnya. Cho Raehyun. Berkat gadis itu aku menjadi wisatawan asing tetap di Spanyol. Aku bahkan sudah sangat menghapal seluk-beluk jalanan di Barcelona. Seperti saat ini. Dengan mudahnya aku menemukan tempat yang dimaksud oleh Kibum hyung. Aku bergegas masuk ke dalam rumah yang sesuai dengan alamat yang dikirimkan Kibum hyung. Langkahku terhenti di tengah taman yang harus kulewati untuk sampai ke pintu utama. Aku seperti berhalusinasi. Tidak mungkin. Aku memejamkan mataku sejenak, kemudian kembali melihat ke arah ayunan yang terletak di tengah-tengah taman ini. Di sana duduk seorang gadis dengan dress oranye-nya. Aku tidak berhalusinasi. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada rantai ayunan. Tatapannya kosong. Rasanya ingin sekali aku menghampirinya namun aku sadar diri. Aku tidak mengenalnya.

 

Terlihat seorang pelayan membukakan pintu setelah kutekan belnya. Pelayan itu mengernyit. “Cho Kyuhyun, Kim Kibum’s friend.” Ucapku -menjawab keheranannya. Pelayan itu mengangguk lalu mempersilakanku untuk masuk. Rumah ini begitu luas dan mewah. Arsitekturnya klasik namun begitu indah dan menawan. Benar-benar khas Eropa. Aku mengikuti pelayan itu menuju sebuah ruangan. Dari tata letak barang-barangnya sudah dapat dipastikan ini adalah ruang utama di rumah ini.

 

Senyumanku mengembang melihat Kibum hyung duduk di salah satu kursi itu sambil berusaha menghindari kejahilan Raehyun. Kibum hyung tersenyum menyadari kedatanganku.

“Pamanmu datang, sayang. Berhenti menjahili appa!” Raehyun langsung berbalik ke arahku begitu Kibum hyung mengucapkannya.

“Paman tampan!” Raehyun berlari ke arahku. Aku merentangkan kedua tanganku untuk menyambutnya. Begitu ia sampai, aku langsung menggendongnya. Gadis cilik ini menciumi wajahku.

 

“Sudah lama tidak bertemu, kenapa kau jadi genit seperti ini, Raehyun sayang?” godaku. Raehyun merengut. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan bibirnya yang cemberut.

“Aku tidak genit, aku hanya ingin melepas rinduku pada paman tampan. Appa, paman tampan menyebalkan!” Kibum hyung tergelak mendengar pengaduan dari putrinya ini. Aku mencubit pipinya dengan gemas. Kibum hyung benar-benar pintar merawat anak gadisnya.

 

“Paman, apakah paman membawa oleh-oleh dari Jerman sana?” ah, seharusnya aku tahu kenapa gadis ini langsung menciumi wajahku. Gadis cilik ini akan bersikap manis jika ada maunya.

“Maaf sekali, sayang. Paman tampanmu ini tidak membawa oleh-oleh dari Jerman sana,” ucapku dengan penuh penyesalan. Hanya akting sebenarnya. Aku senang sekali menggodanya.

 

“Kalau begitu turunkan aku, paman! Untuk apa bertemu paman jika tidak membawa oleh-oleh?” ucapan Raehyun membuatku tergelak. Gadis cilik ini benar-benar. Aku membawanya ke kursi untuk duduk. Menggendong gadis cilik berusia 7 tahun bukan hal yang mudah, ditambah gadis ini cukup berat. Padahal jika dilihat dari tubuhnya, Raehyun tidak gemuk. Sepertinya gadis ini memiliki tulang yang sangat berat.

 

“Yakin ingin paman turunkan? Kalau begitu tiket liburan ke Jerman ini akan paman berikan untuk appa-mu saja,” ucapku seraya berpura-pura menatap dua buah tiket liburan ke Jerman dengan sedih. Benar. Gadis cilik ini langsung merebuat tiket liburan itu tanpa ampun. Gadis cilik ini memiliki hobi yang tidak dimiliki siapapun termasuk kedua orangtuanya, yaitu keliling dunia.

 

“Whoa~ paman, kau semakin tampan saja jika memberiku oleh-oleh. Ya, meskipun kau terlihat semakin tua.” Astaga. Benarkah ini anak Kibum hyung yang terkesan kalem? Mengapa anaknya memiliki lidah setajam ini?

“YA! Kembalikan tiket itu! Kau menyebalkan, Kim Raehyun.” Raehyun turun dari pangkuanku dan berpindah ke pangkuan Kibum hyung untuk menghindar dariku.

Appa, paman tampan memberikan ini. Appa harus menemaniku, oke?”

“Tanggal 30? YA! Kenapa memberi tiket yang tanggal 30, Cho Kyuhyun?”

“Ada masalah? Lagipula, bukankah seluruh kantor libur di tanggal itu? Ayolah, hyung. Kau bukan aktor yang memiliki jadwal tak menentu lagi, bukan?” Kibum hyung terlihat berpikir keras. Ada apa dengannya? Bukankah menjadi direktur sebuah perusahaan konstruksi tidak seperti menjadi aktor? Bahkan laki-laki itu selalu mengikuti kemanapun Raehyun pergi -tidak pernah masalah dengan tanggal berapapun.

 

“Kyu, apa kau punya satu tiket lagi? Aku pikir, aku butuh tiket itu agar bisa pergi tanggal 30 nanti.”

YA! Beli saja sendiri! Satu tiket ke Jerman tidak akan membuat kekayaanmu habis seketika!” aku mendengus sebal. Bagaimana bisa direktur sepertinya meminta satu tiket lagi? Tunggu, kenapa dia butuh satu tiket lagi?

“Untuk siapa, hyung? Apa kau ingin mengajak kekasihmu?” tanyaku retoris. Kibum hyung mendecak.

“Bukan, bodoh! Aku akan memberikannya untuk pemilik rumah ini.”

 

***

 

Barcelona dipenuhi oleh warna putih, pagi ini. Sekilas tidak ada yang spesial ketika aku melihat ke luar jendela kamarku yang menghadap ke utara ini. Setelah lama, sesuatu yang muncul di balik jendela yang berhadapan dengan kamarku membuatku tertarik. Gadis yang aku temui di Camp Nou kemarin membuka jendela kamarnya. Senyuman yang terpatri di wajah cantiknya membuatku membeku seketika. Kecantikannya bertambah ribuan kali lipat dengan senyum itu. Wajahnya terlihat lebih bahagia, berbanding terbalik dengan yang aku lihat kemarin. Tangannya terjulur keluar. Gadis itu terlihat tertawa saat butiran salju mendarat di telapak tangannya. Sepertinya ia menyukai salju. Ah, aku harus berterima kasih pada Kibum hyung yang menempatkanku di kamar ini. Berkatnya aku dapat melihat pemandangan paling indah yang pernah Tuhan ciptakan pagi ini. Well, setidaknya begitulah menurutku. Aku terkekeh sendiri ketika menyadari bahwa aku juga ikut tersenyum sepertinya. Cho Kyuhyun, apa kau jatuh cinta? Sepertinya- ya. Aku jatuh cinta sejak melihat mata birunya yang begitu menawan.

 

‘Dia pemilik rumah ini. Rumah yang diberikan ayahnya. Gadis ini adalah sepupuku. Dia anak bungsu pamanku, hasil dari hubungan gelap. Untuk itulah pamanku memberikan rumah ini agar ia tidak tinggal bersamanya. Ibunya sudah meninggal dan istri serta anak perempuan pamanku tidak menghendakinya. Aku selalu kemari untuk menemani gadis itu di hari ulang tahunnya- tanggal 30 nanti.’ Ucapan Kibum hyung tadi malam membuatku penasaran.

‘Namanya Catherine Kim. Malam-malam seperti ini biasanya ia akan duduk sendiri di ayunan yang berada di taman depan itu. Ah, bahkan ia selalu sendiri. Aku tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya. Dia tidak pernah mau terbuka pada orang lain sekalipun itu padaku.’

 

Jika kau bisa terbuka pada orang lain, maka saat itu kupastikan aku adalah orangnya, nona Kim. Aku bertekad akan membuatnya terbuka dan hanya padaku. Aku akan mencari tahu apa yang membuatnya datang ke Camp Nou hanya dengan mengenakan pakaian tipis yang tidak layak untuk dipakai di tempat terbuka pada musim dingin.

 

***

 

Sarapan pagi ini terasa begitu berbeda. Ah, tentu saja. Setelah keluar dari Super Junior empat tahun yang lalu, aku melanjutkan studi S2-ku di Jerman. Aku mengambil jurusan manajemen bisnis. Benar-benar bertolak belakang dengan S1-ku namun untunglah Kibum hyung yang sudah lebih dulu menjadi direktur itu mau membantuku. Si otak jenius yang satu itu bahkan rela menghabiskan waktu istirahatnya untuk mengajariku. Sarapan bersama orang lain tidak pernah kulakukan semenjak di Jerman. Kali ini ada Kibum hyung, si cantik Raehyun dan- gadis itu, Catherine Kim. Gadis itu sepertinya tidak mengingatku. Ia tidak terkejut atau apapun saat berpapasan denganku. Tatapannya bahkan sangat berbeda dengan tadi pagi. Terkesan dingin.

 

“Cathy, aku dan appa akan ke Jerman tanggal 30 nanti. Kau ikut?” tanya Raehyun antusias. Oh, anak ini sudah teracuni budaya Barat rupanya. Dia bahkan hanya memanggil nama pada orang yang lebih tua. Cathy -nama panggilan gadis itu menghentikan makannya lalu tersenyum hangat pada Raehyun. Ya, tersenyumlah seperti itu. Kau sangat cantik.

 

“Benarkah? Aku ingin sekali, sayang. Tapi-”

“Aku sudah menyiapkan tiketnya, Cathy. Kau harus ikut dengan kami. Ini- hadiah ulang tahunmu dariku,” potong Kibum hyung. Mata gadis itu berkaca-kaca. Ada apa dengannya?

“Kibum, kau tidak harus melakukan itu. Kau sudah repot-repot datang dari Korea untuk menemaniku. Aku tidak pantas mendapatkan perhatian seperti ini.”

“Cathy, dengar! Aku tidak menerima penolakkan jadi- siapkan saja barangmu.” Cathy tidak lagi membantah. Ia hanya mengangguk dan kembali memakan sarapannya. Aku hanya bisa diam memperhatikan mereka. Aku tidak berhak dan belum saatnya untuk ikut campur.

 

Appa, apakah Cathy bersedia untuk ikut?” tanya Raehyun.

“Ya, Cathy akan ikut, sayang.” Raehyun bersorak. Ia turun dari kursinya untuk menghampiri Cathy. Cathy membawa Raehyun ke pangkuannya.

“Cathy, kau sudah berkenalan dengan paman tampanku?” Cathy mengernyit mendengar pertanyaan Raehyun. Aku hanya mengulum senyum.

“Paman tampan? Siapa?” tanya Cathy balik.

“Dia, paman yang duduk di sebelah sana adalah paman tampanku. Namanya Cho Kyuhyun.” Cathy menatapku sekilas lalu kembali menatap Raehyun. Ada apa dengan gadis itu?

“Oh, ya. Aku belum mengenalkannya. Cathy, dia Cho Kyuhyun, adikku.” Kibum hyung mengenalkanku pada Cathy. Gadis itu kembali menatapku dengan dahi mengernyit. Apakah dia sedang mengingat wajahku yang pernah ditemuinya di Camp Nou?

 

“Ah, hai. Aku Catherine. Kau bisa memanggilku Cathy,” demi Zeus. Suaranya benar-benar indah.

“Oh, ya. Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.” Balasku dengan usaha sekuat tenaga agar tidak terlihat gugup. Aku meliriki Kibum hyung sekilas dan sebuah senyuman penuh arti tersungging di wajahnya.

 

Cathy langsung kembali ke lantai dua setelah menghabiskan sarapannya. Aku berniat untuk mengajak Raehyun keluar pagi ini. Entah dari mana tiba-tiba sebuah ide untuk mengajak Cathy juga, meluncur di otakku. Tidak, Cho Kyuhyun. Singkirkan ide itu!

 

TBC

God! Aku bener-bener gak ngerti sama otakku ini. cerita yang lain mandeg dan malah ngeluarin ff baru. Oke, aku harap, kalian yang nungguin lanjutan ff aku yang lain, sabar ya. Aku masih belum nemu mood-nya 😦 Well, selamat menikmati!

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

3 thoughts on “That Girl (2nd Sequel of We’ll Fight For Our Love) Part 1”

  1. Nah ini aq nyambung….. kasian chaty d campak kan ma kluarganya sndiri…. Hari ulangtahunnya dia selalu sndiri…. Sesak bgt aq bacanya… Tega bgt ayahnya…. Semoga kyuhyun bisa buat dia trsenyum kim Rae ah…. Senyumlah untuk kyuhyun… Raih kbahagianmu brsama tuan Cho…Hhahh

  2. kyu jatuh cinta ma cathy kasihan banget hidup cathy da ga diinginkan kluarganya trus ditinggal mati ommanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s