Wake-Up

kyubumgirl

Wake-Up

Hening. Selain bunyi yang dikeluarkan oleh alat pendeteksi jantung, tidak ada suara lainnya yang akan membuat suasana di ruangan serba oren ini berubah menjadi riuh.

 

Seorang laki-laki dengan perawakan tinggi, berkulit putih dan wajah oriental melangkah masuk ke dalam ruangan serba oren tersebut. Tangan sebelah kanannya menggenggam sebuket bunga mawar berwarna merah sedangkan tangan kirinya menggenggam sebuah benda hitam kecil berbentuk kotak.

Laki-laki itu berjalan ke arah seseorang yang terbaring lemah di ranjangnya. Senyuman indahnya tak lupa ia sunggingkan seraya meletakkan bunga yang dibawanya di samping orang itu. Senyuman indahnya itu tidak dapat menutupi tatapan terlukanya. Ia terluka, bahkan sangat terluka.

“Sudah satu tahun, Rae. Kau masih belum ingin bangun?” Tidak ada jawaban. Laki-laki itu tahu, sekeras apapun ia berbicara, orang itu tidak akan menanggapinya. Setetes air mata mulai membasahi pipinya, tidak sanggup lagi untuk tersenyum.

“Ya, hari ini tepat satu tahun kau tertidur seperti ini, sayang. Kau jahat sekali, tertidur di hari pertunangan kita. Aku bahkan belum menyematkan cincin ini di jarimu,” laki-laki itu mengangkat cincin yang sedari tadi dipegangnya.

“Kim Rae Ah, aku benar-benar merindukanmu, sayang.” Laki-laki itu menggenggam tangan seseorang yang disebutnya sebagai Kim Rae Ah, lalu diciumnya tangan pucat itu. Hatinya kembali merasa seperti disayat benda tajam. Tangan pucat ini dulu sangat terawat, mulus, dan indah.


“Apa kita akan bersama selamanya, Seung Hyub?” Laki-laki bernama Seung Hyub itu mengernyitkan dahinya, merasa heran atas sikap gadisnya hari ini.
“Kenapa bertanya seperti itu? Hari ini sikapmu aneh sekali,”
“Jawab saja! Apa kita akan bersama selamanya?” Gadis itu mengulangi pertanyaannya. Seung Hyub mengacak pelan rambut gadisnya, “Ya. Kim Rae Ah dan Lee Seung Hyub akan bersama selamanya. Kau puas?”
“Sangat puas. Kalau begitu aku harus pulang. Tidak sabar rasanya menunggu besok malam,” ucap Rae Ah dengan wajah yang berbinar.

“Kau benar-benar aneh sekali hari ini,” Rae Ah menghentikan langkahnya.
“Aneh kenapa? Aku merasa biasa saja,” gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada, menuntut jawaban dari kekasihnya.
“Tidak biasanya kau bersikap manis dan manja padaku.”
“Jadi kau ingin agar aku bersikap kurang aja terus, huh? Baiklah, kalau begitu besok aku tidak jadi bertunangan denganmu!” Deg! Seung Hyub tahu Rae Ah tidak serius dengan perkataannya tapi entahlah, ia merasa takut hal itu benar-benar terjadi.
“Aku hanya bercanda, Seung Hyub!” tegas Rae Ah saat gadis itu menyadari tatapan kosong dan ketakutan Seung Hyub.


Seung Hyub membuka matanya perlahan. Mata sipitnya membulat, melihat gadis yang sedang terbaring di ranjangnya, tengah menatapnya dengan sebuah senyuman menawan yang sudah satu tahun ini tidak pernah ia lihat lagi. Seung Hyub kembali mengerjap, menyentuhkan tangannya pada rambut gadisnya itu. Air mata meluncur seketika dari kedua bola matanya.
“Kau bangun, sayang?” gadis itu mengangguk lemah,berusaha meyakinkan Seung Hyub bahwa ia benar-benar telah bangun dari tidur panjangnya.
“Sejak kapan? Aku panggilkan dokter,” Seung Hyub menekan sebuah tombol di samping tempat tidur Rae Ah yang langsung tersambung ke ruang perawat. Tidak sampai lima menit, tim dokter yang selama ini menangani Rae Ah telah tiba di ruangan serba oren tersebut.

Kelegaan menyelimuti hati Seung Hyub. Selama ini ia selalu berusaha untuk mencegah keluarga Rae Ah yang ingin melepasnya, dan usahanya itu membuahkan hasil. Gadisnya kini telah bangun kembali.

Rae Ah mengalami koma setelah mengalami kecelakaan ketika hendak pulang dari kantornya, lima jam sebelum acara pertunangannya dengan Seung Hyub. Seung Hyub, laki-laki itu selalu optimis bahwa gadisnya akan kembali. Ia selalu rajin mengunjungi Rae Ah, bahkan tidak jarang ia menginap di rumah sakit. Ia juga yang berinisiatif mengganti cat kamar inap Rae Ah dengan warna oren -warna yang menjadi favorit gadisnya.

Hyung, Rae Ah, dia bangun, hyung!” seru Seung Hyub padaseseorang di seberang sana. Seung Hyub menutup sambungan teleponnya saat dilihatnya dokter Hwang keluar dari ruangan Rae Ah.

“Ini benar-benar mukjizat, tuan muda. Nona Kim benar-benar gadis yang tangguh,” dokter Hwang menepuk pelan bahu Seung Hyub lalu berlalu meninggalkan Seung Hyub yang masih mematung, menatap pintu kamar rawat gadisnya. Ia benar-benar bersyukur, dengan bangunnya Rae Ah, maka ia bisa kembali bernafas dengan benar.

THE END

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

11 thoughts on “Wake-Up”

  1. singkat tpi feelnya dpt bgt {} ., suka bgt dgn sikap SeungHyub Oppa yg gk nyerah buat nungguin org yg dicinta sdar dri koma .. huu sweet bgt {}

    Keep writing and fighting (y)

  2. ternyata seunghyub ganteng juga yah
    kikikikik……
    walaupun singkat tapi ngena banget dihati gimana dengan setianya seunghyub nunggi rae ah bangun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s