Grain of Hope in Love

Title : Grain of Hope in Love

 

Cast :

–          Park Hye Soo

–          Cho Kyuhyun

–          Lee Donghae

–          Park Ran-Ran

–          Lee Taemin

–          Park Minchi

–          Choi Minho

 

Genre   : Sad Romance, Family

 

Ratting : PG 15

 

Author : kyusoo

 

Length: oneshot

 

Summary: Serpihan luka akan menenggelamkan perasaan anak manusia yang terlanjur melupakan segalanya. Pasrah akan takdir yang membawanya terus mengalir dalam kehidupan. Hingga satu waktu, takdir kembali mencobainya dan menyeretnya dalam genangan rasa bersalah yang telah lama ia tinggalkan.

 


Annyeeooooonnnngggggggg….

Kyusoo imnida….

Salam kenal^^

Selamat membaca…..

 

 

Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi…

 

Aku tenggelam dalam lautan luka dalam…

 

Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang…

 

Aku tanpamu, butiran debu…

 


 

Author P.O.V

 

SREK!!

 

BUAR!

 

Kobaran api yang awalnya kecil kini makin membesar, walaupun tampak tidak membahayakan namun kobaran tersebut telah berhasil melenyapkan banyak kertas yang dengan sengaja dibakar oleh seorang yeoja muda dengan perasaan sedih dan marah. Ia benar-benar ingin menyingkirkan semua kertas itu tanpa ada sisa sedikitpun. Sebab kertas tersebut amat ‘berbahaya’ baginya.

 

“Ran, apa yang kau lakukan?”, sesosok namja mendekati yeoja bernama Ran, atau lebih tepatnya bernama Park Ran-Ran itu.

 

“Aku sedang menyingkirkan semua tulisan ini, Taemin. Wae?”, jawab yeoja itu sambil terus memasukkan satu per satu kertas ke dalam kobaran api.

 

“Apa ini?”, Taemin mengambil selembar kertas yang belum terbakar dan membacanya pelan.

 

“Ran, ini kan…”

 

“Iya, maka dari itu semua kertas ini harus dimusnahkan”.

Ran-Ran makin cepat memasukkan lembaran kertas tersebut sebelum akhirnya kedua tangannya ditahan oleh Taemin.

 

“Apa yang kau lakukan hah? Kenapa Ran? Kau tak berhak menyingkirkan ini semua!”, ujar Taemin dengan nada sedikit menyentak.

 

“Aku berhak, Taemin! Aku tidak mau semua kertas ini tetap ada dan menghancurkan kebahagiannya! Kau tau, dia sudah bahagia sekarang dan kertas-kertas ini tidak layak ada di sini lagi! Mereka hanya lembaran yang harus dimusnahkan!”

 

“Ran! Dengarkan aku!”, Taemin membuat Ran menatap bola matanya dengan lekat.

 

“Kau tak boleh melakukan ini, apa kau yakin dia sudah bahagia? Sebahagia apapun dia saat ini Ran, hatinya akan tetap hampa. Lambat laun dia harus tau semuanya, bukan malah melupakannya Ran. Ingat, dia itu adikmu Ran, dia adikmu!”

Tak lama setelah itu, tubuh Ran-Ran mulai melemah dan terjatuh di hadapan Taemin. Ia menangis sejadi-jadinya, membiarkan kobaran api melenyapkan lembaran yang sudah ia letakkan di dalamnya dan menyisakan sebagian kertas yang masih terletak di dalam sebuah kotak berwarna coklat.

 

“Maafkan aku, Taemin. Aku bingung, aku.. aku tidak tau lagi harus bagaimana, aku hanya tidak ingin adikku semakin menderita”

 

“Kalau kau berbuat seperti ini, kau akan membuat adikmu makin menderita, sayang”, Taemin kemudian memeluk Ran-Ran yang masih menangis, meratapi kecerobohannya.

 

Segumpal perasaan tak pasti akan terbang…

 

Meninggalkan setitik pengharapan yang juga kan hilang…

 

Terhempas dalam balutan ingatan yang tak kan tersampaikan…

 


 

Hye Soo P.O.V

 

Ctek!

 

Eoh?

 

“Eh, wae oppa?”, aku mengerjapkan mataku beberapa kali setelah menyadari bahwa Kyuhun oppa baru saja menjentikkan jarinya di depan wajahku.

 

“Kau melamun lagi eum? Wae?”, tanya Kyuhun oppa sembari mengelus kepalaku, membuatku merasa nyaman saat bersamanya, ia tau bagaimana cara memperlakukanku dengan baik.

 

“Entahlah. Apa aku terlihat melamun?”, tanyaku. Ia terkekeh kecil, kemudian menepuk kedua pipiku pelan.

 

“Orang butapun akan tau kalau kau melamun”,jawabnya.

 

“Hah? Mana mungkin! Mana bisa orang buta tahu, dia kan tidak bisa melihat”, cibirku.

 

“Tentu saja dia bisa tahu. Hanya orang yang melamun saja yang diajak bicara tapi tidak menyahut”, ucapnya lagi.

 

“Eh? Memangnya oppa mengajakku berbicara?”

 

Puk!

 

Ia menjitakku pelan, dan aku hanya bisa meringis kecil.

 

“See? Kau benar-benar parah. Tukang melamun!”, ucapnya.

 

Aku terdiam, merundukkan kepalaku. Aku memang suka melamun, tapi aku tidak tau sejak kapan aku suka melamun. Hanya yang aku sadari setahun terakhir ini aku sering sekali melamun. Entah apa yang aku lamunkan, yang jelas aku menikmati setiap kali aku melamun, masuk ke dalam duniaku tanpa orang lain. Dunia yang mungkin sudah tak kuingat lagi.

 

“Hey, melamun lagi eoh? Ck!”, wajahnya nampak tertekuk, aku tau ia kesal.

 

“Aniyo. Aku hanya merasa bersalah saja. Oppa selama ini selalu baik padaku, tapi aku selalu saja membuat oppa kesal”, ucapku pelan. Kyuhyun oppa segera mengangkat daguku, membuatku dapat melihat ke dalam matanya.

 

“Tidak, kau tidak membuatku kesal. Hanya saja aku tidak suka kalau kau melamun terus, Baby”, aku terdiam. Kedua matanya seakan memerangkapku untuk terus menatap ke arahnya, merasakan aliran cinta yang disalurkannya ke dalam mataku. Setelah terhipnotis lama akhirnya aku baru sadar ketika bibirnya perlahan menyentuh bibirku yang terkatup dan aku tak tau lagi setelah itu, yang kurasakan hanya kehangatan, kenyamanan , dan perasaan penuh cinta.

 

“Jadi, apa kau bisa pergi denganku saat akhir pekan nanti?”, tanyanya setelah tautan bibir kami terlepas.

 

“Eum, kurasa bisa, oppa. Memangnya oppa mau membawaku ke mana?”, tanyaku penasaran.

 

“Nanti saja deh aku beri tahu. Biar surprise”, ucapnya kemudian tertawa kecil, membuat lengkungan senyum manis tergambar di bibirku.

 

“Sudahlah, lebih baik sekarang kita pulang. Jangan sampai onniemu yang cerewet itu menceramahiku”.

Aku mengangguk lalu menyambut uluran tangan Kyuhyun oppa. Tak terasa sudah hampir tiga tahun hubunganku dengan kyuhyun oppa berlangsung, dan membuatku bertekad untuk terus memperjuangkan hubungan ini karena hanya Kyuhyun oppalah yang kuinginkan dan kubutuhkan.

 

 


 

“Ya, hye soo! Kalian dari mana saja eoh? Kalian itu masih anak kuliah tapi sudah berani pulang semalam ini, mau jadi apa kalian eoh? Kalian ini memang dasarrr….”

 

“Mianhe onnie, tadi kami kan hanya main sebentar saja”, aku mencoba membela diri. Haahh! Selalu saja begini. Setiap pulang kemalaman sedikit saja dari kampus pasti onnieku yang cerewet ini langsung mengamuk. (-,-)

 

“Tidak ada alasan, Hye Soo! Kau itu masih kuliah, tapi mau saja ikut dengan namja seperti ini? Kau tidak takut diapa-apakan oleh namja ini hah?”.

 

“Mianhe noona, bagaimanapun juga aku ini tidak sepearah yang noona bayangkan. Aku kan namja baik-baik”, Kyuhyun oppa juga mulai membela dirinya.

 

“Apa? Kalian ini…”

 

“Ran, sudahlah. Kau ini seperti tidak pernah pacaran semasa kuliah saja.”

 

Yes!

 

Ini dia yang kutunggu. Pembelaan dari Taemin oppa pasti akan selalu manjur!

 

“Apa maksudmu, Taemin?”, Ran-Ran onnie memandang horror ke arah Taemin Oppa.

 

“Ck! Waktu Kuliah kita juga kan seperti itu”, Taemin oppa menyeringai ke arah Ran onnie. Dan setelah itu kalian pasti

tau, wajah Ran onnie langsung jadi merah.

 

“Hahahahaha”, aku dan kyuhyun tertawa keras, kemudian langsung terdiam saat Ran onnie kembali memandang kami dengan tatapan ‘garang’.

 

“Baik-baik, kalian menang bocah. Tapi jangan sering-sering pulang terlalu malam seperti tadi, arra?”.

 

“Arraseo!”, jawab kami berdua serempak.

Setelah itu Kyuhyun oppa pun pamit dan aku memutuskan untuk mandi. Sesudah mandi aku berjalan menuju dapur, duduk rapi di meja makan bersama Taemin oppa, menunggu makan malam yang sedang disiapkan oleh Ran onnie.

 

“Onnie..”, pangiilku ke Ran onnie yang sedang asyik menaruh lauk makan malam kami di atas meja.

 

“Wae?”, tanyanya lembut.

 

“Aku, rindu dengan Minchi onnie”, ucapku lalu menerima nasi yang disiapkan Ran onnie untukku.

 

“Sebentar lagi kan liburan, bagaimana kalau kita mengunjungi Minchi onnie, eum?”, jawab Ran onnie yang tengah mengambilkan lauk untuk Taemin oppa.

 

“Yang benar onnie? Kau serius? Berarti liburan nanti kita ke Jepang! Asyyik!!!”, tanpa sadar aku berloncat-loncat ria.

 

“Ne, kebetulan juga onnieingin melihat keadaan onnie kita yang sedang mengandung itu”.

 

“Baiklah, Yes!”, ucapku penuh semangat. Dan selanjutnya kami larut dalam makan malam yang begitu hangat. Aku dan

Ran onnie serta suaminya, Taemin oppa.

 

 


 

 

Sabtu, 16 Juni 2012

 

“ Kyuhyun oppa”, teriakku pada Kyuhyun oppa sambil melambai. Ia tersenyum dan mendekat ke arahku. Kyuhyun oppa bilang aku cukup menunggu di halte dekat rumah saja, dan ikut ke tempat di mana ia akan membawaku.

 

“Sadarkah kau telah 10 menit, eum?”, ia menggandeng tanganku dan menuntunku berjalan.

 

“Mianhe oppa, kau tau kan aku harus menghadapi Ran-Ran onnie dulu. Untung saja tadi ada Taemin oppa yang membantuku”, jelasku sambil mengingat kejadian di rumah tadi.

 

“Oke, tidak masalah. Aku hanya takut kau tidak jadi datang. Ayo naik”, tanpa sadar aku dan Kyuhyun oppa sampai di depan sebuah mobil.

 

“Kita naik ini, oppa?”, tanyaku.

 

“Ck, Babo! Ya jelaslah kita naik ini, apa kau lihat ada kendaraan lain?”, jawabnya. Aku menggeleng kemudian masuk ke dalam mobil tersebut. Aku hanya bingung, biasanya kalau ingin pergi ke suatu tempat aku dan Kyuhyun oppa pasti hanya menggunakan bis atau taksi, tapi sekarang…

 

“Sudah siap?”, tanya Kyuhyun oppa.

 

“Ne, aku sudah siap”, jawabku sambil tersenyum ke arahnya.

 

Hampir selama 20 menit aku dan Kyuhyun oppa berada di dalam mobil ini, sampai ketika mobil ini berhenti dan Kyuhyun oppa tersenyum ke arahku.

 

“Kita sudah sampai, Baby”, ucapnya.

 

“Ne”.

Saat keluar dari mobil aku merasa tempat ini familiar, namun aku tidak ingat juga karena saat ini sudah malam, jadi semua terlihat gelap dan sedikit remang-remang.

 

“Ayo”, Kyuhyun oppa menggandeng tanganku, membawaku ke suatu tempat yang nampak paling gelap, tapi saat kami mulai mendekat perlahan cahaya mulai hidup dan menutun kami ke arah sebuah kursi yang ada di tengah-tengah cahaya lembut itu. Kyuhyun oppa mendudukkanku di bangku yang berhadapan langsung dengan bangku lainnya, hanya dibatasi sebuah meja bundar yang dilapisi alas berwarna putih susu.

 

“Oppa, apa ini tidak berlebihan eum?”, tanyaku padanya. Ia menggeleng.

 

“Bukankah kau bilang kalau kau suka dengan hal yang berbau romantis. Aku hanya mencoba untuk mengabulkannya.

Walaupun nanti saat Anniversary kita yang ketiga akan kubuat yang lebih baik dari pada ini”, jelasnya malu-malu. Aku terharu dalam hati. Rasanya aku pernah berada dalam saat seperti ini, tapi aku tak ingat.

 

Tes..

 

Aku menangis, hatiku terasa bahagia, terharu, namun juga sedih. Aku bahagia dan terharu karena Kuhyun oppa sudah berfikirsedemikian rupa, sedangkan aku sedih karena…. Ntahlah, aku bingung aku sedih karena apa.

 

“Hey, jangan menangis, Baby. Apa kau tidak menyukai semua ini? Apa aku salah? mianhe”, ucapnya lalu menyeka air mataku dengan ibu jarinya.

 

“Tidak oppa, aku hanya terharu”, jawabku.

 

“Begitukah?”, tanyanya masih ragu. Aku mengangguk kemudian mengecup pipinya.

 

“Gomawo oppa”.

 

Dan lagi, ia mengecup bibirku, memberikan tanda bahwa ia benar mencintaiku dan aku layak merasa bangga akan hal itu.

 

 

 

23 Juni 2012

 

 

Seminggu setelah peristiwa menyenangkan saat aku bersama Kyuhyun oppa saat itu. Masih terbayang di pikiranku tentang bagaimana Kyuhyun oppa yang menyatakan bahwa ia serius padaku. Apa sampai sebegitunya? Entahlah, hatiku hanya dapat percaya akan apa yang ia katakan dan ia janjikan padaku.

 

“Hye Soo~ya, apa semua barang-barangmu tidak ada yang tertinggal eum?”, tanya Ran Onnie.

 

“Tidak ada onnie, aku yakin. Tadi aku sudah memeriksanya kembali”, jawabku.

 

“Kalau memang sudah lengkap semuanya, lebih baik kita ke bandara sekarang. Aku tidak ingin kita ketinggalan pesawat”, sambung Taemin Oppa.

 

Aku dan Ran onnie mengangguk. Dengan perasaan yang berdebar aku melangkahkan kaki menuju taksi yang tadi ditelfon oleh Taemin Oppa untuk membawa kami ke bandara. Ya, hari ini kami bertiga akan berngkat ke Jepang dan mengunjungi Minchi Onnie, kakak perempuan tertua kami. Hah, aku begitu bersemangat, yey!

 

Drrrrttttt…

 

Tiba-tiba saja handphoneku bordering.

 

“Yoboseyo…”

 

“Baby, kau jadi berangkat hari ini?”

 

“Tentu Oppa, wae?”

 

“Anio, hati-hati ne. Jaga kesehatanmu, jangan lupa makan, mandi, dan jangan berbuat hal yang tidak-tidak, ne”.

 

“Ne oppa, arraseo. Oppa juga hati-hati di rumah, jangan lupa makan juga, mandi, dan yang penting jangan selingkuh,

ne!”, kudengar ia tertawa pelan dari ujung sana.

 

“Baiklah. Oh ya, aku juga akan menyusul ke Jepang, tapi nanti tanggal 30. Jadi, kita bisa kencan di sana. Otte?”

 

“Ah! Jinjja? Ish oppa kenapa baru cerita sekarang? Baiklah, aku tunggu oppa ne”.

 

“Ne”.

 

“Hmm… Baby, Saranghae”

 

“Nado Saranghae, oppa”.

 

Pip

 

Komunikasi di antara kamipun terputus. Hahhh, betapa bahagianya aku. Liburan ke Jepang, bertemu dengan Minchi onnie, dan akan berkencan dengan Kyuhyun oppa. Saat-saat yang sangat menyenangkan dan akan membuatku tidak akan melupakan moment menyenangkan seperti ini. Semoga semuanya berjalan lancar, yey! (^0^)/

 


 

“Minchi onniiiiieeeeee”, teriakku kemudian memeluk Minchi onnie yang menyambut kami di depan rumahnya. Setelah perjalanan yang cukup jauh, kami akhirnya sampai dan ternyata Minho oppa sudah menunggu kami di bandara, tapi Minchi onnie tidak ikut, karena Minchi onnie tengah hamil 8 bulan.

 

“Aiggooo, nae dongsaeng, sudah besar rupanya. Aigo, tambah cantik saja”, ucap Minchi onnie. Aku memeluknya lembut.

 

“Cie, onnie sebentar lagi akan menjadi eomma nih ye”, ucapku lalu mengusap-usap perutnya yang membesar.

 

“Ne, aku sudah semakin tua saja ya”, jawabnya lalu kami tertawa.

 

Kemudian kami masuk ke dalam rumah, aku mendapat kamar di lantai atas, bersebelahan dengan kamar Ran onnie dan Taemin Oppa. Setelah mandi, kami semua berkumpul di meja makan yang cukup besar, dan mulai menikmati makan malam kami yang diselingi dengan canda tawa penuh kerinduan mendalam.

 

 

 

 

 

 

“Huaaaaahhhhhhhh”, aku menarik nafas panjang, mencoba menghirup udara pagi di Jepang. Sesudah puas menikmati udara pagi di jepang, aku segera memutuskan untuk mandi dan berjalan menuju dapur, tampat Ran onnie dan Minchi onnie sedang memasak.

 

“Hye Soo~ya, kalau mau sarapan langsung ke meja makan saja ne, di sana sudah ada Taemin dan Minho oppa”, ucap Minchi onnie saat aku menunjukkan batang hidungku di dapur.

 

“Loh, jadi yang onnie masak itu apa?”, tanyaku. Kukira Ran onnie dan Minchi onnie sedang memasak sarapan.

 

“Oh, kami sedang memasak bubur ayam. Minchi onnie bilang dia sedang ingin makan bubur ayam buatan onnie”, jawab Ran onnie. Aku mengangguk kemudian mendekati mereka.

 

“Kelihatannya ini enak, aku juga mau bubur ayam saja deh”, sambungku.

Tak lama bubur ayam itu siap, dan kami bertiga kembali hanyut dalam pembicaraan keluarga yang hangat hingga mereka mulai berbicara hal yang kurasa aku tak layak untuk mendengarkannya…

 

“Ran, kapan kau memutuskan untuk memiliki anak?”, tanya Minchi onnie.

 

“Hahaha, ya aku dan Taemin sih ingin dapat secepatnya onn. Tapi, belum dikasih”, jawab Ran onnie.

 

“Begitukah? Ck! Kalian jangan-jangan tidak serius dalam melakukannya ya?”, lanjut Minchi onnie.

 

“Serius kok, kami sudah sering melakukannya, tapi belum saatnya saja mungkin onn”, timpal Ran onnie.

 

“Hah, kurasa teknik yang kalian gunakan itu yang tidak manjur. Mau kuajari beberapa teknik yang manjur untuk kalian berdua eum? Kau bisa mencobanya dengan Taemin, otte?”

 

“Ehem! Onnie, sadarkah kalau masih ada anak di bawah umur yang mendengarkan percakapan kalian yang frontal itu eoh?”, teriakku kesal. Kedua onnieku itu lalu pura-pura kaget dan tertawa kencang.

 

“Ish! Menyebalkan! Kalian berdua ini masih juga senang membuatku kesal!”, aku mengerucutkan bibirku.

 

“Bukan maksud kami begitu Hye Soo, mianhe”, dan setelah itu aku mulai ikut tertawa bersama mereka.

 

“Onnie, bolehkah aku jalan-jalan hari ini?”, tanyaku pada Ran onnie dan Minchi onnie. Awalnya Ran onnie nampak kaget, lalu menatap ke arah Minchi onnie. Lama mereka saling bertukar pandang hingga akhirnya menatap ke arahku.

 

“Onnie kira boleh-boleh saja, tapi jangan sendirian ne”, jawab Minchi onnie, sedangkan Ran onnie nampak diam.

 

“Hmm, kapan onnie? Aku ingin jalan-jalan hari ini”, pintaku.

 

“Tidak hari ini, Hye Soo~ya. Soalnya Minchi onnie mau ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya, dan Onnie juga ada urusan sebentar. Bagaimana kalau besok?”, usul Ran onnie. Aku menghembuskan nafas kesal.

 

“Ck! Membosankan sekali onnie! Aku tidak ada kerjaan dong”, ucapku. Namun Ran onnie dan Minchi onnie kembali memberikan alasan padaku. Pantas saja Ran onnie mau diajak ke Jepang, ternyata selain ingin mengunjungi Minchi onnie, Ran onnie juga ingin mengurus bisnisnya bersama Taemin oppa di sini. Ck! Aku dijebak!

Hingga akhirnya dengan pasrah aku menuruti usul Ran onnie. Menunggu di rumah, beerdiam diri, dan menjadi kerbau yang tidak punya kerjaan. Menyebalkan!

 

“Baik-baik di rumah ya, Hye Soo”, Minchi onnie dan Ran onnie melambai ke arahku sebelum mereka masuk ke dalam mobil milik Minho oppa. Aku hanya tersenyum kecil sambil melambaikan tanganku pelan. Sesudah mereka pergi, baru terasa begitu sepinya rumah ini. Meskipun tidak terlalu besar, tapi kalau di dalam rumahnya tidak ada orang ya tetap akan terasa sepi.

 

Tapi…

 

Cklek!

 

Tap.. Tap..Tap..

 

Bukan Hye Soo namanya kalau tidak berani mencoba hal ekstrim.

Dengan cepat aku menjauh dari kawasan rumah Minchi Onnie. Jangan berfikir aku akan tersesat, karena aku ini orangnya teliti dan memiliki daya ingat tinggi, so aku tidak akan tersesat, dijamin deh!

Aku berpikir kalau aku berjalan sudah jauh, karena kawasan rumah yang tertata begitu rapi kini sudah tak kulihat lagi. Hanya ada sebuah kawasan ladang yang penuh dengan ilalang dan pohon rindang. Sepertinya ini tempat anak-anak bermain, karena aku juga melihat ayunan, jungkat-jungkit, pelosotan(apa ini?) , dan lapangan kecil.

Aku berjalan mendekati ayunan yang talinya tergantung pada dahan sebuah pohon besar. Mulai kugerakkan kakiku, sehingga badanku mulai berayun. Senyumku mengembang saat kurasa angin lembut menerpa wajahku.

 

Srekk!!

 

Segera kuhentikan pergerakan ayunan yang kunaiki ketika aku melihat seorang namja tengah duduk di bagian atas pelosotan, kakinya yang panjang Nampak terjulur mengikuti bentuk badan pelosotan yang kecil. Di tangannya terdapat sebuah buku yang sedang asyik dia baca. Dengan perasaan yang tidak menentu aku menghampirinya. Aku takut kalau ia hanya hantu, karena aku tadi merasa hanya sendirian di sini.

 

“Hai..”, sapaku.

 

Ia menoleh ke arahku, menatapku dengan tatapan terkejut. Lama ia memandangku seperti itu, kemudian ia tersenyum.

 

“Hai..”, sambutnya. Ia memelosotkan badannya hingga ke bawah, kemudian mendekat ke arahku dengan senyuman yang belum hilang dari wajahnya. Manis, pikirku.

 

“Kau, manusia?”, tanyaku. Ia malah tertawa kencang kemudian mengelus pipiku.

 

Deg!

 

Perasaan apa ini?

 

“Apa menurutmu aku bukan manusia, eum?”, tanyanya balik.

 

“Ah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud meragukanmu”, aku tersenyum canggung. Tangannya tidak lagi mengelus pipiku, namun sekrang ia malah memelukku.

 

Deg!

 

Hangat. Entahlah, aku bingung. Aku tidak tau siapa orang ini, tapi aku merasa nyaman. Rasanya seperti aku pernah mengenal orang ini lama, tapi.. aku tidak tau.

 

“Kau, siapa?”, ucapku. Ia melepaskan pelukanku lalu mengengkat daguku pelan.

 

“Donghae, aku Lee Donghae”, jawabnya.

 

“Aku Hye Soo”, timpalku memperkenalkan diri.

 

“Aku tau”, sambungnya.

 

Eh?

 

Dia, tau namaku?

 

“Sudah lama aku menunggumu, Hye Soo”, tatapan lembutnya merayap ke dalam mataku. Aku merasakan sebuah getaran dalam hatiku, getaran yang kukira hanya dapat kurasakan saat bersama Kyuhyun oppa.

 

“Apa maksudmu? Apa aku mengenalmu? Kau mengenalku? Sebenarnya kau ini, siapa?”, ungkapku bertubi-tubi. Keringat dingin mulai merembes melalui kulitku. Jujur saja aku takut, jangan-jangan dia orang jahat, atau orang gila? Atau dia stress?

 

“Aku mengenalmu? Tentu saja. Aku mengenalmu lebih dari yang kau tau”, ucapnya. Senyuman manis itu belum juga pudar dari wajahnya. Membuatku bingung dan tidak tau mau berkata apa lagi.

 

“Baiklah, kurasa kau harus berusaha kembali mengingatku, ne? Aku pulang dulu, kuharap jika nanti kita bertemu kau akan mengingatku lagi”, sesudah mengucapkan itu ia pergi, meninggalkanku yang masih berdiri di sini, sendirian dan kebingungan.

 

“Siapa dia sebenarnya?”, gumamku dalam hati.

 

 

 

 

 

 

“Hye Soo~ya, maafkan onnie. Onnie rasa kita tidak bisa berjalan-jalan selama seminggu ini. Onnie dan Taemin oppa sedang sibuk mengurusi bisnis kami. Apa tak apa kalau jalan-jalannya ditunda hingga minggu depan?”, jelas Ran onnie.

Saat aku pulang tadi rumah masih terlihat kosong, Ran onnie dan Minchi onnie belum pulang. Jadi, aku tidak ketahuan deh kalau sudah kabur dari rumah.

 

“Apa Minchi Onnie tidak bisa mengantarku?”, tanyaku keberatan. Yah, apa gunanya aku ke Jepang kalau tidak pergi ke mana-mana. Liburan macam apa itu?

 

“Ck! Kau ini, Minchi onnie sedang hamil tua, apa kau tidak kasihan dengannya? Dia pasti akan kelelahan kalau mengawasimu. Sedangkan Minho oppa sedang banyak pekerjaan di kantornya”, jawab Ran onnie.

 

“Mianhe Hye Soo, yang dikatakan Ran benar. Onnie mungkin saja tidak bisa menemanimu.”, sambung Minchi onnie.

See? Sekarang aku cuman bisa pasrah. Seminggu pertama di Jepang yang begitu membosankan! Namun, tiba-tiba saja aku teringat tempat itu, dan juga namja yang tadi siang aku temui. Ada rasa penasaran juga sih di dalam hatiku tentang siapa namja itu sebenarnya.

 

“Ya sudah onnie, tapi aku ingin minggu depan benar-benar pergi ke tempat wisata yang aku inginkan, titik!”, ujarku. Dan mereka semua mengiyakan keinginanku.

 

Tanpa disadari…

 

Memori kelam masa lampau telah tiba…

 

Terhenti pada titik poros yang seharusnya…

 


 

Sudah 5 hari aku jalani di Jepang. Selama 5 hari itu pula aku berdiam di rumah, memutuskan untuk berbincang dengan Minchi onnie. Berbagi cerita bersama Minchi onnie mengenai kehidupanku dan juga kisah asmaraku bersama Kyuhyun oppa. Minchi onnie begitu berantusias kalau aku bercerita semua kepadanya. Ia nampak mendukungku dan Kyuhyun oppa, ia bilang kami serasi lah, cocok lah, ah pokoknya Minchi onnie banar-benar menyemangatiku dan membuatku makin mencintai Kyuhyun oppa. Tapi, selama 5 hari itu pula aku tidak pergi ke tempat yang waktu itu, tempat di mana aku bertemu dengan namja asing yang mengaku mengenalku. Aku sudah mencoba mengingatnya, tapi aku tidak bisa. Kepalaku sakit jika memaksakan diri untuk mengingat tentang siapa dia.

 

“Hye Soo, kau baik-baik di rumah ne. Onnie mau ke rumah sakit dulu, sepertinya belakangan ini perut onnie sering sekali terjadi kontraksi. Jadi, onnie ingin memeriksakannya. Kau, tidak apa-apa kan kalau onnie tinggal sebentar?”, tanya Minchi onnie. Aku mengangguk, lalu Minchi onnie segera bersiap dan pergi ke rumah sakit, dijemput oleh Minho oppa. Hah, betapa bahagianya memiliki suami seperti Minho oppa yang rela mengorbankan waktu bekerjanya demi untuk mengantar Minchi onnie. Sesaat setelah mereka pergi suasana hening kembali kurasakan.

 

“Haaahh, apa yang harus kulakukan?”, gumamku. Dan pikiranku langsung tertuju pada tempat yang waktu itu. Tanpa pikir panjang aku langsung memakai sendalku, mengunci pintu, kemudian melangkahkan kakiku ke tempat waktu itu.

 

Tepat dugaanku, namja yang kalau tidak salah namanya Lee donghae itu ada di sana, sedang duduk di atas ayunan, memakai pakaian yang sama dengan waktu itu, sambil membaca buku yang seingatku sama dengan buku yang ia baca saat pertama aku melihatnya. Aku terdiam, menatapnya yang masih tak menyadari keberadaanku, sampai akhirnya ia menengadahkan kepalanya, menatap ke arahku dengan penuh senyum. Dia mulai mendekat, dan saat jarak kami makin dekat aku malah memundurkan langkahku.

 

“Kenapa kau malah menjauh, eum?”, langkahku terhenti, tangannya menggengam lembut lengan kecilku.

 

“Hmm, entahlah, kakiku melangkah sendiri”, jawabku asal. Dia malah tertawa kemudian melepas genggamannya.

 

“Masih belum ingat padaku?”, tanyanya, aku menggeleng.

 

“Sudah kuduga. Apa susah mengingatku? Oke, menurutku hal itu bukanlah masalah besar. Maksudku, wajar saja kau melupakanku, karena aku memang pantas kau lupakan, Hye Soo~ya”, ucapnya. Senyumnya masih ada, tapi tatapannya menunjukkan bahwa ia sedih.

 

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud melupakanmu. Tapi, ingatanku memang ada yang hilang semenjak kecelakaan yang tiga tahun lalu menimpaku”, ucapku padanya, ia mengangguk.

 

“Aku tau, maka dari itu aku tidak terlalu mempermasalahkannya”, ia kembali tersenyum padaku.

 

“Tapi, bisakah kau tidak menganggapku orang asing? Apa kita tidak bisa memulainya dengan cara berteman kembali? Aku ingin menjadi temanmu”, ia mengulurkan tangannya, menungguku menyambut ulurannya.

 

“Hmm, tentu, tentu saja”, aku menyambut uluran tangannya.

Ada satu perasaan yang sebenarnya mendominasiku kini, tapi aku masih belum yakin perasaan apa itu.

 

“Mau berkeliling bersamaku?”, ajaknya.

 

“Ke mana?”, tanyaku.

 

“Berkeliling tempat ini, mau?”, tawarnya lagi. Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya. Hari ini, aku bena-benar merasa nyaman dan bahagia, ternyata Donghae adalah sosok yang menyenangkan. Kalau bisa kunilai mungkin sifatnya hampir sama dengan Kyuhyun oppa, karena dia juga tau bagaimana cara memperlakukanku dengan baik. Apa aku salah menilainya demikian?

 


 

“Hooamm!!!”.

 

Sial, ini sudah yang kesepuluh kalinya aku menguap. BOSAN! Hanya itu yang ada di pikiranku. Akhir pekan kali ini adalah akhir pekan yang terburuk, aku kembali ditinggal sendirian oleh Minchi onnie, Ran onnie, Taemin oppa dan Minho oppa. Mereka bilang akan menghadiri sebuah acara resmi dimana aku tidak boleh ikut. Dasar curangg!!! Orang tua selalu berusaha menyingkirkan anak muda dalam hal bersenang-senang.

 

“Sudahlah, aku menemui Donghae saja”, ucapku pelan kemudian bersiap pergi ke kebun belakang perumahan, begitu donghae menyebut tempat itu.

 

Tap…

 

Tap…

 

Tap…

 

“Donghae~ya!”, teriakku, kulihat Donghae menoleh, tersenyum sambil melambai ke arahku. Aku berlari ke arahnya.

 

“Tumben kau datang lebih cepat dari biasanya”, ucapnya lalu mengusap kepalaku pelan.

 

Deg!

 

Aku terdiam. Kenapa debaran ini datang?

 

“Hey, kau kenapa diam?”, tanyanya, aku menatapnya.

 

“Hye Soo~ya, wae?”.

 

“Eh? A..Aniyo”, aku merunduk, kenapa rasanya ia bisa membuatku berdebar saat melakukan hal seperti itu, sama seperti Kyuhyun oppa. Aish! Aku tidak boleh begini, Kyuhyun oppa kan pacarku sedangkan donghae oppa hanya temanku.

Sadarlah Hye Soo!

 

“Kau ingin kuajak ke danau mungil?”, ajaknya saat aku mulai bisa membatasi debaran ini.

 

“Danau mungil? Tempat apa itu?”, tanyaku heran.

 

“Ck! Sudahlah, ikut saja ne”, ia menarik tanganku, kami berlari kecil ke arah yang agak jauh dari kebun tadi.

 

“Woaahh! Tempatnya indah!”, teriakku saat melihatnya. Pantas saja namanya Danau mungil, karena tempat ini hanyalah sebuah danau, kecil, dan berair bening. Airnya nampak mengkilat diterpa sinar matahari. Aku melihat beberapa bunga

teratai tumbuh di atasnya.

 

“Iya, ini memang sangat indah, dari dulu sampai sekarang. Sama sepertimu yang tetap indah dari dulu sampai sekarang”.

Aku kembali mematung, debaran yang tadinya mulai bisa ku control, meledak kembali.

 

“Kurasa sudah cukup hari ini, aku ingin pulang. Kau ingin pulang atau masih ingin di sini, Hye Soo?”, tanyanya.

 

“Biarkan saja aku sendirian di sini, aku masih ingin menikmati pemandangan ini”, jawabku pelan tanpa menoleh ke arahnya. Beberapa saat setelah itu kurasakan tidak ada seseorang lagi di sampingku. Hening, hanya hembusan angin yang kudengar sesekali menggoyang dedaunan.

 

Tes…

Wae? Kenapa aku jadi begini? Siapa dia sebenarnya? Apa yang ia tau tentangku? Dan kenapa aku lupa tentangnya?

 

“Kenapa aku tidak bisa ingat apapun tentangnya… hiks”.

 


 

“Dearrrrrr, kau di mana? Hari ini ada acarakah?”, aku yang baru bangun dari tidur hanya bergumam kecil sambil mengucek mataku.

 

“Hmm, memangnya kenapa oppa? Ini masih pagi dan kau menelpon seakan-akan kau sudah sampai di Jepang”, jawabku setengah sadar.

 

“Memang aku sudah di Jepang, ck! Kau tau tidak hari ini tanggal 1 Juli dan aku kemarin bilang kalau aku berangkat tanggal 30 Juni”, jelasnya. Aku terbelalak kaget.

 

“Ah, Jin..Jinja oppa? Mianhe, aku lupa oppa”, aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

 

“Aigo! Ya sudahlah, cepat mandi dan bersiap, nanti kau kujemput kalau sudah siap”.

 

“Memangnya oppa tau di mana rumah Minchi onnie?”, tanyaku.

 

“Tentu. Tadi aku menanyakan alamatnya pada Taemin Hyung”, jawabnya.

 

“Baiklah, aku bersiap-siap dulu oppa”.

 

“Ne”.

 

45 menit setelah Kyuhyun oppa menelfon tadi aku sudah selesai bersiap-siap. Dan tak lama setelah kukabari, Kyuhyun oppa tiba dengan cepat di depan rumah Minchi onnie.

 

“Kita mau ke mana, oppa?”.

 

“Ke mana saja, asal bersamamu aku mau”, jawabnya kemudian tertawa kecil. Aku memukul bahunya.

 

“Dasar tukang gombal!”, cibirku. Ia makin tertawa dan mulai membawaku ke tempat-tempat yang memang menyenangkan. Ini baru namanya liburan yang tidak membosankan! Ashek!

 

“Nah, kau duduk di sini dulu ne, aku akan membelikanmu ice cream. Kau mau?”, tawar Kyuhyun oppa.

 

“Ne, tentu saja aku mau”, ucapku semangat. Ia lalu beranjak dan ikut mengantri dengan pembeli ice cream yang lain.

Loh? Ada namja yang duduk tak jauh dari tampatku duduk. Aku sepertinya tak asing dengannya dan bajunya, serta bukunya yang begitu familiar. Dia seperti… Donghae?

Benar! Dia Donghae, dia sekarang sedang tersenyum ke arahku dan mendekatiku perlahan. Aku gugup dan gelisah, kenapa ada Donghae di sini, maksudku di saat aku bersama dengan Kyuhyun oppa?

 

“Dia tampan ya, Hye Soo”, ucapnya.

 

“Mwo? Nuguya?”

 

“Pacarmu itu. Dia tampan dan begitu perhatian padamu. Pantas saja kau luluh padanya”, sambungnya.

 

“Apa maksudmu? Kau menguntit kami?”, tuduhku menatapnya deengan tatapan tajam, walaupun sebenarnya aku hanya bercanda.

 

“Hahahaha, apa aku terlihat seperti penguntit? Aku hanya tidak sengaja melihat kalian di sini. Dan siapapun yang melihat kalian pasti akan beranggapan sama denganku. Kecuali orang itu buta”.

 

“Kuharap kau terus langgeng dengan namja itu”, sambungnya.

 

“Dan kuharap namja itu tidak menyakitimu, atau membuatmu menangis lagi. Membuatmu bahkan bisa tidak memakan makanan kesukaanmu selama berminggu-minggu dan timbanganmu turun 5 kg. Yang pasti aku juga berharap namja itu adalah pria yang romantis seperti yang kau impikan”, timpalnya.

 

“Donghae, kau..”

 

“Maafkan aku Hye Soo, Maafkan aku”, ia tersenyum kemudian segera beranjak.

 

Belum sempat aku berucap sesuatu, Donghae sudah pergi meninggalkanku begitu saja.

Sakit… Bahkan rasa sakit itu kembali datang. Aku dan Donghae hanya berteman kan? Kenapa rasanya begitu pedih saat ia mengucapkan kata-kata seperti itu?

 

“Hye Soo, ini ice creammu”, ucapan Kyuhyun oppa kembali menyadarkanku.

 

“Loh, kenapa kau menangis, Hye Soo~ya?”. Aku tidak menjawab, hanya memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. Sakit

sekali….~~~

 

Perasaanmu akan membunuhmu…

 

Mengecapkan perasaan sesak menusuk kalbu…

 

Dapatkah kau bertahan dari permainannya?

 


 

“Minchi onniiieeeeee”, aku berteriak, memanggil Minchi onnie yang sedang menyiapkan peralatan untuk kelahiran anaknya kelak.

 

“Kenapa saengi, eum? Kalau kau bertanya apakah onnie hari ini akan pergi atau tidak, maka jawabannya adalah tidak”.

 

“Bukan, aku bukan akan bertanya soal itu. Tapi, bisakah aku bertanya akan satu hal yang lain?”.

 

“Hal yang lain? Apa itu?”, Minchi onnie Nampak antusias.

 

“Apa sebelum aku kecelakaan dan hilang ingatan ada seorang teman yang dekat denganku selama di Jepang?”. Minchi onnie menghentikan kegiatannya, menghadap ke arahku lalu menaikkan alisnya.

 

“Maksudmu?”.

 

“Ehmm, ya seseorang yang bernama Lee Donghae”.

 

Pletak!

 

Sebuah botol susu yang tadinya digenggam oleh Minchi onnie terlepas begitu saja. Minchi onnie menatap ka arahku dengan tatapan yang tak dapat kumengerti. Antara bingung, marah, sedih, dan kaget.

 

“L..Lee Donghae?”.

 

“Ne. Apa onnie mengenalnya juga?”.

 

Minchi onnie kembali terdiam. Setelah beberapa saat, barulah ia tersadar dan menarik lenganku.

“Kalau kau ingin tau, ikutlah bersama onnie”.

 

CKLEK!

 

Wow!

 

Ini kamar, sepertinya sebuah kamar yeoja, karena warna kamar ini didominasi oleh warna pink. Aku tidak tau apa yang dimaksud Minchi onnie, tapi ia membawaku ke tempat ini. Walau aku tidak tau ini tempat apa, tapi hatiku terasa begitu nyaman di dalam ruangan ini.

 

“Hye Soo, kalau Ran tau aku menceritakan hal ini padamu ia pasti akan sangat marah. Tapi, onnie rasa sudah saatnya kau tau, karena onnie rasa sekarang adalah waktu yang tepat, mengingat kau sudah dewasa sekarang”, jelasnya. Aku hanya diam, mengikuti ke mana langkah kakinya berjalan.

Minchi onnie membuka sebuah lemari yang nampak masih cantik dengan warna coklat susu yang menggoda.

 

“Ini dulu adalah kamarmu saat kau di Jepang. Tepatnya saat kau duduk di bangku SMA”, ceritanya.

Aku tahu aku pernah hidup di Jepang, Ran onnie pernah memberitahuakanku dulu, tapi dia tidak pernah menceritakan tentang seseorang bernama Lee Donghae…

 

“Kau adalah gadis yang begitu lugu, periang dan mempunyai banyak teman. Dari sekian banyak temanmu, hanya ada satu yang begitu spesial untukmu, begitu berharga untukmu. Seorang namja yang kau bilang membuatmu begitu nyaman. Dan kau tau nama namja itu siapa?”, aku menggeleng.

 

“Lee Donghae, itulah namanya”.

Lee Donghae?

 

“Dia…”

 

“Dia pacarmu”, potong Minchi onnie.

 

“Mwo?”

 

“Ne, sampai suatu saat…..”

 


 

“Hosh… Hosh… Hosh…”, nafasku mulai tidak beraturan. Aku berlari sekencang mungkin ke kebun belakang perumahan, berharap menemukan Donghae di sini.

 

“Donghae~ya! DONGHAE!”, teriakku. Tapi percuma, aku tak melihatnya sama sekali. Aku tidak putus asa, aku berlari mengelilingi tempat-tempat di mana ia mengajakku sampai ke danau mungil kususuri namun aku tak melihat keberadaannya.

 

“Donghae, ku mohon keluarlah! Di manapun kau, aku tidak ingin kau bersembunyi! Tolong…. Maafkan aku.. Lee Donghae!!”, teriakku parau. Setetes demi setetes air mataku turun, membasahi kedua pipiku yang kurasa memerah akibat kelelahan.

 

Inikah akhirnya? Jahatkah aku? Bukan, ini bukan salahku! Aku bersumpah ini adalah salah takdir yang mempermainkan aku dan dia, Donghae.

 

“Kumohon Donghae, hiks… Maafkan aku, hiks.. Aku jahat ne…”.

 

“Dan kuharap namja itu tidak menyakitimu, atau membuatmu menangis lagi. Membuatmu bahkan bisa tidak memakan makanan kesukaanmu selama berminggu-minggu dan timbanganmu turun 5 kg. Yang pasti aku juga berharap namja itu adalah pria yang romantis seperti yang kau impikan”

 

“Maafkan aku Hye Soo~ya, maafkan aku”.

 

“Hiks, tidak! Bukan kau yang seharusnya minta maaf, babo!”.

 

Tangisan pilu tak kan bisa ulang semua…

 

Percayalah serpihan luka itu sayatan nyata…

 

Kenanglah ia selaras cintamu kan tumbuh untuk yang lain…

 

***

Ddddrrrrrrttttttt…..

 

‘Reject’

 

Drrrrrrrrrrrrrrtttt…

 

‘Reject’

 

Hanya itu yang kulakukan berkali-kali. Dari tadi Ran onnie, Taemin oppa, Minchi onnie, Minho oppa, bahkan Kyuhyun oppa selalu menelponku. Tapi semua telpon dari mereka ku-reject. Aku sedang tidak bersemangat dalam melakukan hal apapun. Bahkan berjalanpun aku tak tau mau ke mana, di mana, atau bagaimana, aku tak peduli!

 

“hei nak, kau sakit? Kau harus cepat pulang ke rumahmu”.

 

“Nak, kau disiksa ibumu?”

 

“Kau kabur?”

 

“Sayang sekali gadis semanis kau ada di jalanan sendirian”

 

Aku tak perduli dengan semua yang orang-orang itu bicarakan. Aku hanya berjalan, terus berjalan sampai tubuhku terasa terlempar akibat ditabarak oleh seuatu. Setelah itu aku tak sadar.

 

 


 

“Hye Soo~ya, dengarkan aku dulu. Kau harus dengar penjelasanku, aku dijebak Hye Soo. Bukan keinginanku melakukan hal seperti itu. Kau tau, aku tak menyentuhnya sedikitpun”.

 

“Tapi dia hamil Donghae, kau harus bertanggung jawab akan hal itu”, ujarku sinis.

Ia menahan lenganku, membuatku menghadap ke arahnya walaupun aku tetap membuang muka.

 

“Kau tidak percaya padaku? Kita sudah menjalani hubungan ini selama 3 tahun dan itu tidak membuatmu percaya?”

 

“Bukti itu lebih membuatku percaya daripada semua omong kosongmu ini, donghae”.

 

“Apa? Tapi…”

 

“Aku tidak mau dengar apapun, kita selesai sampai di sini”.

 

“Tidak! Jangan Hye Soo, kumohon kau harus ikut aku, kita harus buktikan bahwa ini semua salah!”.

Donghae menarik paksa tanganku,seberapa besar aku meronta aku tak bisa menyaingi kekuatannya. Ia membawaku masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kencang.

 

“Pelan-pelan Donghae~ya!”

 

“…”

 

“Donghae, kau dengar aku? Pelan-pelan kubilang!”

 

“…”

 

Tiiinnnn!!!

 

“Donghae awass!!!”.

 

BRUKKK!!!!

 

Aku tak ingat apapun, yang kutau hanya saat Donghae membanting setirnya, mengarahkan mobil ini ke arah jurang, dan mendorong paksa tubuhku keluar. Kepalaku terbentur keras, sebelum akhirnya aku melihat mobil donghae terjatuh ke dalam jurang dan aku tak sadarkan diri….

 

—–

“Donghae… Donghae!”, aku berlari menuju ke arah Donghae, ia tersenyum seperti biasanya padaku.

 

“Kau sudah mengingatku? baguslah”, ucapnya ramah, ia memelukku dan memberikan kehangatan yang kurindukan.

 

“Maafkan aku donghae~ya, aku tidak bermaksud melupakanmu, aku…”

 

“Tidak, aku yang seharusnya minta maaf. Karena aku telah membuatmu jadi kecewa, kau jadi sakit, kau jadi begini. Tapi Hye Soo, percayalah padaku, sedikitpun aku tak pernah melakukan hal itu, aku tak pernah menyentuh wanita lain”.

 

“Ya, aku tau”, ucapku. Aku tau, karena Minchi onnie sudah menceritakan semua itu. Semua sudah jelas, Donghae memang tak pernah berbohong padaku. Dan saat itu juga aku menangis, menangisi semua kecerobohanku dan keegoisanku. Aku lebih percaya pada bukti yang belum tentu benar dibandingkan dengan pasanganku sendiri?

 

“Syukurlah, jika memang begitu aku sudah tenang”.

 

“Apa?”, aku melepas pelukannya.

 

“Iya, selama ini aku belum tenang Hye Soo~ya. Aku ingin meminta maaf padamu, menjelaskan semuanya, setelah itu aku baru bisa tenang”.

 

“Jadi, benar kau sudah…”

 

“Tentu, dunia kita berbeda sekarang”.

 

“Tapi… Tidak mungkin!”

 

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, ne”, ia mengelus pipiku lalu mendekatkan wajahnya ke arahku.

 

“Oh ya, aku juga ingin mengucapkan Selamat Ulang tahun, Hye Soo~ya. Dan aku jadi orang yang pertama mengucapkannya untuk tahun ini”, ia tersenyum lalu mengecup bibirku pelan.

 

“Gomawo, Donghae~ya”, suaraku bergetar, dan air mataku mengalir kembali. Ia tersnyum lembut.

 

“Berbahagialah Hye Soo, gapai semua yang kau inginkan dan belajarlah dari semua yang kau dapatkan.Aku mencintaimu”

 

“Ne, Nado Saranghae, Donghae~ya”

 

Creshhh!

 

Tubuhnya berubah menjadi butiran debu emas yang hilang terbawa angin.

 

“Sa..rang..hae… hiks. Anyyeong….”

 

Aku terjatuh, tapi aku yakin bisa bangkit…

 

Aku tenggelam dalam lautan luka, dan akan berusaha untuk keluar darinya…

 

Aku tersesat, namun kasih  akan kembali menuntun jalanku…

 

Sbab kau tau, engkaulah titikku untuk belajar akan kiasan indah bertajuk bintang bercahaya kemilau yang disebut, Cinta…

 


 

“Eung…”.

Aku mengerjapkan mata, berusaha beradaptasi dengan cahaya yang menyilaukan yang menerpa wajahku.

 

“Hye Soo sudah sadar! Onnie, Hye Soo sudah sadar!”, kudengar suara Ran onnie yang Nampak lega. Disusul dengan munculnya Minchi onnie lalu seorang dokter dan perawat yang memeriksa keadaanku.

 

“On.. nie”.

 

“Ne sayang, bagaimana perasaanmu? Apa sudah baikan?”, kulihat mata Ran onnie berkaca-kaca, ia memang selalu khawatir padaku.

 

“N..ne. Aku baik-baik saja onnie”, aku tersenyum.

Ran onnie dan Minchi onnie bilang kalau aku tertabrak sebuah mobil malam itu. Aku langsung koma dan tak sadarkan diri selama 2 hari. Tapi mereka masih bersyukur karena aku masih bisa selamat.

 

“Kau bahkan melewatkan hari ulang tahunmu, kau tau?”, ucap Ran onnie.

 

“Benarkah? Memangnya sekarang tanggal berapa?”, tanyaku.

 

“Tanggal 5”, jawab Minchi onnie.

 

“Ck! Baru lewat satu hari, kan masih bisa dirayakan”, pintaku manja. Kemudian kedua onnieku itu tertawa sambil mencubit kedua pipiku pelan.

 

“Dasar manja”, ucap Minchi onnie.

 

“Kita akan merayakannya kalau kondisimu sudah baikan”.

 

“Baiklah, tapi aku yang menentukan tempat merayakannya ya”.

 

“Oke!”

 


 

Aku berdiri tegak, sebuah meja sudah siap di hadapanku, lengkap dengan kue tart serta berbagai makanan di atasnya. Kulihat ke arah semua orang yang hadir, ada kedua onnieku dan suaminya, juga ada Kyuhyun oppa. Mereka Nampak tersenyum, walaupun kami berada di tempat yang tidak selayaknya melakukan hal seperti ini. Aku berjalan, mendekati sebuah nisan bertuliskan nama Lee Donghae.

 

“Donghae~Ya. Maaf aku baru datang”, ucapku. Kutahan tetesan air mata  yang mulai menggenang di pelupuk mataku.

 

“Aku datang untuk merayakan hari bahagiaku di tempatmu ini. Karena kau yang mengucapkan selamat ulang tahun yang pertama kali untukku tahun ini”.

 

Tes…

 

Air mata itu tak sanggup ku tahan. Aku terisak kecil sembari mengusap nisannya yang terasa dingin.

 

“Terima kasih atas semuanya Donghae, terima kasih telah mengajariku bagaimana rasanya cinta untuk pertama kali, bagaimana rasanya sakit, bagaimana rasanya kehilangan dan merasa menyesal karena keraguanku sendiri”.

 

“Semoga kau tenang di atas sana, Donghae~ya. Hiks… Sarang… Hiks… Saranghae”.

 

Tangisku pecah begitu saja, segera Kyuhyun menghampiriku dan memelukku.

Kau lihat Donghae, sudah ada seseorang yang kau harapkan dapat menjagaku untuk ke depannya. Dan semoga semua harapanmu terkabulkan. Kau tau, kau yang terbaik, yang pertama mengajariku akan arti cinta yang sesungguhnya. Tempatmu di hatiku tidak akan luntur, walau posisimu di dunia ini terganti tapi di hatiku tidak. Begitu juga di dalam pikiranku. Selamanya.

 

 

Misteri Cinta tak ada yang tau…

 

Permainan takdir juga tak tentu….

 

Percayalah serpihan luka itu sayatan nyata…

 

Kenanglah ia selaras cintamu kan tumbuh untuk yang lain…

 

 

 

THE END 

 

Admin Note: Maaf ya buat author-nya,  fotonya gak aku masukkin. soalnya gak di-attach, jadi susah. lain kali di-attach aja ya^^

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

4 thoughts on “Grain of Hope in Love”

  1. awalnya agak bingung aku malah mikir ran-ran benci sama hye soo jadi ini maksudnya, mungkin akalu gak liburan ke jepang arwah donghae bakal tetep ada buat nungguin hye soo syukur hye soo liburan ke jepang jadinya donghae bisa tenang setelah meminta maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s