My Life [11-END]

Nama : Kyubum Girl
Judul Cerita : My Life (Part 11-END)
Tags : Catherine Kim, Kim Kibum, Super Junior.
Genre : Family, Sad, Romance.
Rating : PG-15
Length : Chapter

 

 

***My Life***

 

 

Sudah satu bulan lebih sejak Kyuhyun di Jepang. Ia harus mengurus proyeknya yang di sana. Seoul tiba-tiba menjadi sepi dan entah kapan laki-laki itu akan kembali ke Korea, padahal bulan depan aku akan kembali ke Manchester. Aku tersadar dari lamunan saat ponselku berdering.

 

Daddy, why?

‘Aku akan ke Jepang, besok. Bukankah kau libur selama satu minggu? Mau ikut?’ Jepang? Ayah mengajakku ke Jepang. Aku akan bertemu dengan Kyuhyun. Aku harus memanfaatkan ini.

“Jepang? Daddy, mau apa ke sana?”

‘Berhubung aku sedang di Korea, paman Siwonmu memintaku untuk mengurus proyek yang di Jepang. Bagaimana? Mau ikut?’

“Tentu! Daddy siapkan saja tiketnya.”

Ara.

 

“Dari ayahmu?” Tanya Jinyoung yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi seberangku. Aku hanya mengangguk tanpa melepaskan senyumanku.

“Kau terlihat sangat bahagia. Ayahmu menambah uang saku?”

“Aku akan ke Jepang dengan daddy. Daddy akan mengurus proyeknya yang di Jepang dan aku akan menemui hatiku yang sedang berada di Jepang.” Jawabku antusias. Jinyoung tidak meresponku. Ia hanya menatapku datar, tapi matanya menyiratkan sesuatu. Entah itu apa, aku tidak mengerti.

Waegeurae? Kau ingin menitipkan salam untuk Cho appa-mu?”

Ani. Geunyang… Ah, sudahlah!”

“Hei, ada apa? Malhaebwa!

“Tidak ada apa-apa, Catherine-ssi. Aku hanya ingin kau berjanji, apapun yang terjadi di Jepang sana, jangan membenciku.” Aku mengerutkan keningku. Ada apa dengannya?

You are becomes a stranger since I told you that I’ll go to Japan. What’s wrong? Tell me!” Ucapku tajam. Jinyoung hanya tersenyum dan mengacak pelan rambutku, lalu pergi. Ck!

 


 

Tokyo, Japan.

 

“Akhirnya sampai juga!” Aku menjatuhkan tubuhku di kasur. Kami baru saja tiba di apartemen yang akan kami tempati selama lima hari.

“Kau tidak memberi tahu Kyuhyun?” Tanya ayah yang tiba-tiba muncul di kamarku.

“Aku akan memberinya kejutan, daddy. Bukankah proyek yang daddy tangani itu bekerja sama dengan perusahaannya Kyuhyun?”

“Ya. Daddy akan bertemu dengan Kyuhyun besok.”

“Kalau begitu aku ikut.”

“Baiklah. Sekarang istirahatlah!” Ayah keluar dari kamarku. Kyuhyun oppa, wait me!

 


 

Ayah berjalan dengan tergesa-gesa. Aku terus menyeimbangkan langkahku dengan langkah ayah yang begitu lebar.

Daddy, pelan-pelan!” rengekku.

“Siapa yang berdandan terlalu lama?”

Daddy, yang akan kau temui kan adikmu sendiri. Dia tidak akan marah jika telat sedikit.” “Untuk urusan bisnis, dia bukan adikku.” Ayah menghentikan langkahnya di depan pintu yang bertuliskan ‘VVIP’s room’.

Kajja!” Ah, kenapa tiba-tiba aku menjadi gugup? Jantungku tidak bekerja normal seperti biasanya, berpacu lebih cepat.

Aku mengikuti daddy dari belakang dengan menunduk.

Eo? Hyung? Bukankah aku akan bekerja sama dengan perusahaannya Siwon hyung? Kenapa kau yang datang?” cecar Kyuhyun. Apakah dia tidak melihatku? Ah, aku terhalang tubuh ayah. Pantas.

“Siwon hyung sedang menjalankan perusahaanku. Untuk proyek yang di Jepang, aku yang akan mengurusnya.” Jawab ayah tenang.

“Perempuan ini siapa?” Perempuan? Ada perempuan bersama Kyuhyun? Mungkin sekretarisnya. Kenapa Kyuhyun tidak juga menjawab? Aku ingin segera muncul di hadapannya, tapi aku ingin mendengar jawabannya terlebih dahulu.

“Cho Yi Ra imnida. Aku istrinya Kyuhyun.” Suara lembut seorang perempuan menjawab pertanyaan ayah. Katakan bahwa aku salah dengar! Siapapun, bangunkan aku jika sedang bermimpi!

 

Cho Yi Ra? Tubuhku seakan membeku. Aku merasa tidak lagi berpijak pada lantai saat ini. Aku benar-benar lemas. Penglihatanku seketika menjadi buram akibat cairan bening yang mengumpul di pelupuk mataku.

“Benarkah itu, Cho Kyuhyun?” Tanya ayah. Aku yakin saat ini ayah sedang berusaha mati-matian menahan emosinya. Aku menahan agar air mataku tidak turun. Aku membalikkan tubuhku, berniat untuk keluar dari ruangan yang menyesakkan ini.

Aku melangkah dengan gontai, tidak memiliki tenaga.

 

“Cathy…” Panggilan lirih Kyuhyun menghentikan langkahku. Aku ingin berbalik dan melihatnya, tapi tubuhku menolak.

“Cathy? Aku seperti familiar dengan nama itu. Apakah kau mengenal Jinyoung?” Tanya perempuan yang aku yakini itu adalah Yi Ra. Oh, apakah ia tidak merasakan aura aneh di sini?

Aku mencoba berbalik, dan berhasil. Aku dapat melihat ayah memalingkan wajahnya ke arah lain, Kyuhyun yang menatapku dengan penuh keterkejutan, dan Yi Ra. Cantik. Aku memaksakan diri untuk tersenyum.

“Emm. Jinyoung anak yang baik dan mirip sekali dengan Cho ahjussi. Ah, ahjussi, lama tidak jumpa.” Kyuhyun bergeming. Ayo, cium aku. Aku baru saja memanggilmu ‘ahjussi’. Apa yang kaulakukan, Cho Kyuhyun? Kau, kau mengangkatku ke langit kebahagiaan, lalu dengan kasar menghempaskanku kembali ke tanah fana.

 

“Katakan kau ingin membatalkan perjanjian ini dan daddy akan menurutinya, Cathy!” Ucap daddy tiba-tiba. Aku tahu, daddy benar-benar sedang marah sekarang.

“Kenapa kau berkata seperti itu, Kibum-ssi?” Yi Ra itu, kenapa ia yang banyak bicara sedangkan Kyuhyun hanya diam, menatapku?

Daddy, aku tidak ingin mengganggu meeting kalian. Aku keluar dulu.”

“Kau keluar berarti kau menyetujui pembatalan kerja sama ini, Cathy! Perusahaanku tidak akan rugi satu dolarpun.”

Hyung…” Apa yang harus aku lakukan? Jika perusahaan daddy tidak akan rugi, itu artinya Kyuhyun yang akan rugi.

 

Bolehkah aku egois? Aku tidak ingin melihat Kyuhyun duduk berdampingan dengan perempuan lain.

“Lakukan saja, daddy. Setelah daddy pensiun nanti, bukankah aku yang akan memegang perusahaan? Aku tidak akan membiarkan perusahaan kita bekerja sama dengan mereka. Aku pergi.” Aku buru-buru melangkah keluar dari ruangan ini. Aku masih sempat mendengar protes dari Yi Ra dan Kyuhyun setelah ayah membatalkan kontrak ini dari balik pintu. Aku berlari dari situ menuju tempat ayah memarkirkan mobilnya.

Jadi, alasan Kyuhyun tinggal di Jepang tidak hanya untuk urusan bisnis, tapi untuk menikah. Dan Jung Jinyoung, laki-laki itu tidak memberitahuku sama sekali.

 

“AARRGH!!” Aku mengerang frustasi di dalam mobil. Sesaat kemudian, ayah masuk. Ia menatapku iba. Aku langsung memeluk ayah.

Daddy, Kyuhyun sudah menikah. Daddy, naega apha. Jeongmal apha.” Racauku dalam pelukan ayah. Ayah menepuk-nepuk punggungku. Ayah memilih untuk diam dan membiarkanku menangis sejadi-jadinya, air mataku membasahi kemeja biru yang ayah kenakan.

 

“Makanlah, sayang. Jangan seperti ini. Apa yang harus daddy lakukan?” Daddy berusaha membujukku agar menerima suapannya. Tidak. Aku tidak butuh makanan, daddy. Aku butuh seseorang mengatakan bahwa Kyuhyun belum menikah.

Daddy, kita kembali saja ke Manchester. Aku akan minta mommy untuk mengurus berkas-berkasku.”

“Tapi kuliahmu,”

“Kuliahku hanya tinggal dua minggu dan aku sudah mengikuti segala macam ujian.”

“Baiklah. Sekarang makanlah.” Aku terpaksa menerima suapan dari ayah. Aku tidak tega membiarkan ayah terlihat khawatir seperti itu. Ayah tersenyum.

 


 

“Kim Kibum! Neo mitcheosseo? Kau telah membuat proyek yang Kyuhyun tangani berhenti. Hanya perusahaanmu yang bisa membantunya!” Cecar paman Siwon saat kami sudah tiba di rumah paman Heechul. Ini semua salahku. Paman Siwon bahkan sampai rela terbang langsung ke Korea setelah mendengar berita itu.

Paman Heechul menatap ayah dengan tajam.

“Aku tahu kau tidak akan rugi bahkan satu dolarpun, tapi kau tidak bisa egois membuat Kyuhyun bangkrut hanya karena masalah cinta anakmu!”

HYUNG! Cathy bukan ‘hanya’, tapi segalanya bagiku!” Ayah mengepalkan tangannya.

“Bagaimana bisa kau meminta ayahmu untuk membatalkannya, Cathy? Kyuhyun bisa bangkrut!!” Paman Siwon membentakku. Ah, kabar bahwa paman Siwon paling menyayangi Kyuhyun ternyata benar adanya.

“Jangan berteriak pada anakku, Choi Siwon!” rahang ayah mengeras, menahan emosi.

Hyung, jangan berteriak!” Suara itu. Oh, kapan dia sampai? Apakah kami berada di pesawat yang sama?

 

“Kyuhyun?”

“Daddy, lakukan saja kerja sama itu. Aku tidak ingin paman Siwon membenciku karena telah membuat adik kesayangannya bangkrut.” Ucapku lalu beranjak menuju kamarku. Aku tidak sanggup untuk berlama-lama melihat Kyuhyun.

Aku tidak tahu apa lagi yang para orang tua itu bicarakan. Aku langsung menangis di kamarku. Cobaan macam apa ini Tuhan? Kyuhyun telah kembali pada masa lalunya di saat ia telah berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkanku.

 

Aku menatap bangunan megah di hadapanku. Sebentar lagi, aku akan meninggalkan kampus ini. Hari ini kampus beraktifitas seperti biasa setelah satu minggu kemarin libur.

Aku mulai melangkah menuju ruangan ibuku. Aku akan memintanya untuk mempercepat pelulusanku sebagai mahasiswa pertukaran.

Mommy, apakah permintaanku lima hari yang lalu sudah selesai?” Tanyaku langsung ketika sudah duduk di hadapannya. Ibuku tidak menjawab, ia hanya menatapku. Matanya seperti sedang menerawang.

Mommy, are you okay?” Aku mengibaskan tanganku di depan wajahnya, ia mengerjap.

Ah, I’m okay. Ya, sudah selesai. Hanya tinggal kau tanda tangani dan setelah itu kau bisa kembali ke Manchester.” Ibu menyodorkan beberapa berkas yang harus aku tanda tangani. Selesai membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas itu, aku mendongak dan terkejut melihatnya sudah berlinangan air mata.

Mommy, gwenchana?

angwenchana, Cathy! Bagaimana bisa mommy baik-baik saja sementara kau akan kembali ke Manchester, huh?” Ibu mulai terisak. Sakit hatiku pada Kyuhyun membuatku lupa bahwa masih ada orang yang menginginkan kehadiranku di sini. Aku mendesah berat, lalu mengelilingi meja kerjanya untuk mengahampirinya. Aku memeluknya.

I’m sorry. I can’t live for longer time. Mommy bisa mengunjungi kami kapan saja. Rumah daddy sangat besar. Tidak akan penuh sesak hanya untuk menampung mommy dan Donghae uncle.” Ibu tertawa pelan.

Mommy mengerti, sayang. Kau butuh Manchester untuk melupakan sakit hatimu.”

“Emm. Kyuhyun berbohong, mommy.” Air mataku mulai mengalir. Ibu mengusap lenganku yang memeluknya dari samping.

“Sudahlah, lupakan Kyuhyun! Perjalanan cintamu masih panjang, sayang. Bukankah masih ada Jun Won?”

Mommy!

Wae?

Jun Won and I, we are just friend.

Ara, ara. Sekarang temani mommy makan. Kau harus mentraktir mommy karena kau sudah membuat mommy bekerja di hari libur.”

“Ck! Membantu anak saja perhitungan. Geureom, kajja!

 

Tatapan-tatapan aneh tertuju pada kami saat kami berjalan berdampingan di koridor kampus. Entahlah apa yang mereka pikirkan, aku tidak peduli. Langkahku terhenti saat kedua bola mataku menangkap dua sosok yang tidak ingin kutemui untuk saat ini berdiri beberapa meter di hadapanku. Ibu yang satu langkah di depanku ikut berhenti. Ia menoleh ke arahku yang masih membeku di tempat.

“Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku mohon.”

“Kita sudah selesai, Kyuhyun-ssi. Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan!” Ucapku tegas.

“Cathy..” Jinyoung akan menginterupsi, namun aku segera memotongnya, “aku pulang dulu, mommy. Lain kali kita akan makan bersama.” Aku memeluk ibu sebentar, lalu pergi, tanpa menghiraukan Kyuhyun dan Jinyoung yang terus memanggilku.

 


 

Berjalan tanpa arah. Itulah yang aku lakukan saat ini. Ah, kenapa aku selalu seperti ini? Aku bahkan tidak tahu sedang berada di mana, tapi aku yakin aku masih di Seoul.

Cho Kyuhyun, laki-laki itu sudah membuatku berjalan tanpa arah seperti ini. Dua kali. Ya, dua kali. Saat itu ia mencariku dan akhirnya ia menemukanku di sungai Han. Lalu, apakah kali ini ia juga akan mencari dan menemukanku? Aku rasa tidak. Aku hanya bisa tersenyum miris mengingat Kyuhyun telah beristri. Bahkan mataku sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan cairan beningnya.

 

BRUK!

“Ouch!” Pekikku saat aku terjatuh karena bertabrakkan dengan seseorang. Aku menepuk-nepuk tanganku yang kotor akibat terjatuh. Sebuah tangan terjulur di hadapanku, sepertinya tangan seorang laki-laki. Tanpa melihat si pemilik tangan, aku menyambutnya lalu berdiri dan langsung membersihkan rok bagian belakangku dengan tangan.

Are you okay?” Tanya orang itu. Aku seperti mengenal suaranya.

“Jun Won?” Laki-laki itu menyilangkan tangannya di depan dada dan memasang senyum termanisnya. Senyumnya itu sama dengan senyuman milik paman Siwon.

Tanpa mengatakan apapun lagi, aku langsung berhambur ke dalam pelukannya. Aku dapat merasakan keterkejutannya sebelum akhirnya ia balas memelukku. Bahkan tanpa dapat kutahan lagi, aku menangis di bahunya. Jun Won mengelus punggungku.

 

“Kau berantakan sekali!” Jun Won melonggarkan pelukannya, “aku tahu kau benar-benar membutuhkanku saat ini. Kajja!” Jun Won menarik tanganku. Perkataan Jun Won benar adanya. Aku benar-benar membutuhkannya.

 

“Jadi, apa yang membuatmu berantakkan seperti ini, nona Kim?” Jun Won membuka pembicaraan setelah ia menyesap latte yang dipesannya. Aku mendesah kasar, lalu mulai menceritakan segala yang aku alami di Korea. Tentang ibuku, dan tentang Kyuhyun. Jun Won menempatkan dirinya sebagai pendengar yang baik saat ini.

“Apa yang harus aku lakukan, Jun Won?”

“Jika kau mencintainya, kau tidak akan menuntutnya untuk tetap berada di sampingmu. Kau tahu? Manusia tidak bisa memprediksi masa depannya, manusia hanya bisa bercita-cita dan berusaha mewujudkannya. Hatimu adalah milik Tuhan, Cathy. Ia yang berhak mengendalikannya, jadi percayalah pada kebesaran-Nya.” Jun Won, satu tahun tidak bertemu dengannya, ia benar-benar telah berubah. Perkataan Jun Won lagi-lagi benar. Aku seperti melupakan kebesaran Tuhan akan cinta. Aku mencintai Kyuhyun, bukan berambisi untuk memiliknya.

 

“Tuan Choi, dari mana kau mempelajari kalimat itu, huh?” cibirku.

“Kau meremehkanku, nona Kim.”

“Haha! Baiklah, sejak kapan kau ada di Korea? Kenapa kau tidak mengabariku?”

“Tadi malam.” Jawab Jun Won singkat.

“Tadi malam? Dan kau tidak berniat menemuiku, huh?”

YA! Aku sudah meneleponmu puluhan kali. Bahkan saat menabrakmu tadi, aku sedang berusaha menghubungimu tapi kau sama sekali tidak menghiraukannya. Sebenarnya untuk apa ponsel secanggih itu jika panggilanku saja diabaikan?!” Oh, Tuhan, apakah Jun Won tidak merasa kehabisan nafas? Ia bicara tanpa jeda dan begitu panjang.

“Maafkan aku. Sepertinya ponselku tertinggal di ruangan mommy.” Jawabku menyesal.

“Sudahlah. YA! Bagaimana kau bisa sampai di sini? Tempat ini sangat jauh dari rumah Heechul ahjussi.” Jun Won mengitarkan pandangannya ke luar kafe. Aku meringis mengingat aku tidak tahu tempat ini, bahkan namanya pun aku tidak tahu.

“Jangan katakan kau tidak mengenal tempat ini, Catherine Kim?!”

“Maafkan aku, karena pada kenyataannya aku memang tidak mengenal tempat ini.”

YA! BAGAIMANA JIKA KAU TIDAK BERTEMU DENGANKU, HUH? BAHKAN KAU TIDAK MEMBAWA PONSELMU!” Baiklah, satu hal lagi yang berubah darinya. Ia berubah menjadi seperti sangat mengkhawatirkanku. Di Manchester, ia tidak akan berteriak seperti itu jika aku membuatnya khawatir sekalipun.

“Tidak perlu berteriak, bodoh! Kau berlebihan sekali.” Hening. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

 

“Kapan kembali ke Manchester?” Tanyanya, memecahkan keheningan yang terjadi selama beberapa saat.

“Lusa.”

“Secepat itu?”

“Tidak ingin sahabat tercantikmu ini kembali?” Jun Won menggedikkah bahunya.

“Kau?”

“Lusa.”

“Mengikutiku?”

“Menurutmu?”

 


 

Incheon International Airport, Seoul, South Korea.

 

Perpisahan. Ah, kenapa aku merasa berat berpisah dengan Seoul? Banyak kenangan yang terjadi selama aku di sini.

Sejak berbicara dengan Jun Won, hatiku sudah sedikit mampu untuk menerima keputusan Kyuhyun, meskipun aku masih tidak ingin berbicara dengannya.

“Kibum-ah, jagadirimu baik-baik. Jangan menghindar dari Korea lagi! Arasseo?” Ucap paman Heechul pada ayah, kemudian mereka saling berpelukan. Aku hanya tersenyum melihatnya.

“Cepatlah menikah lagi!” Celetuk paman Shindong. Ya, Super Junior ada di sini, minus paman Hangeng, paman Henry, dan paman Zhoumi. Mereka bertiga tidak sedang di Korea.

“Jika sudah pensiun, kembali saja ke Korea. Kita harus berkumpul sebagai laki-laki tua.” Kali ini paman Jung Soo yang berbicara.

“Dan meninggalkan anakku?” Balas ayah. Mereka semua tertawa.

 

“Siwon-ah, kau satu-satunya yang berada dekat dengan Kibum di Manchester. Jaga adikmu untuk kami, eoh?” ucap paman Jung Soo lagi. Matanya sudah mengeluarkan cairan bening. Paman Siwon hanya tersenyum. Mereka semua banyak berbicara. Hanya satu orang yang hanya menjadi pemerhati, Cho Kyuhyun.

Cho Kyuhyun yang cerewet, tidak bisa diam dan tidak pernah bersikap manis pada hyung-hyung-nya, kini berubah menjadi orang yang diam. Beberapa kali mataku melihatnya, dan beberapa kali itu pula aku melihatnya sedang melihat ke arahku dengan tatapan yang sulit kuartikan.

 

Hyung, maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu.” Ucapnya, saat ayah menghampirinya. Ayah menepuk pundaknya lalu menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya.

“Anak nakal!”

Hyung…”

“Bahagiakan istrimu! Kau tenang saja, Cathy-ku akan kembali bahagia sesampainya di Manchester.” Sementara Kyuhyun berbicara dengan ayah, ibu yang baru datang langsung memelukku. Aku merasakan bahuku basah. Ibu pasti menangis.

Mommy, jangan menangis! Aku akan meneleponmu setiap hari. Pintu rumah kami terbuka lebar untuk mommy.” Ucapku, berusaha menenangkan.

“Janji?” Aku mengangguk.

“Jaga kesehatanmu, nak. Jaga ayahmu. Aku sangat menyayangimu.” Ibu menciumi kening, kedua mata dan kedua pipiku.

 

Kyuhyun menghampiri kami dan berkata, “aku minta maaf. Aku..”

Gwenchana, uncle. Seseorang berkata padaku, jika aku mencintai maka aku tidak akan menuntut orang yang aku cintai itu untuk selalu berada di sampingku. Aku mencintaimu, bukan berambisi untuk memilikimu. Gwenchana.” Aku berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun rasanya sesak sekali. Kyuhyun memelukku dengan sangat erat. Ia tidak peduli dengan tatapan cemburu Yi Ra yang juga ada di sini. Hatiku mencelos. Ini adalah pelukan terakhirnya. Cukup lama Kyuhyun memelukku, hingga pemberitahuan tentang pesawat menuju Manchester akan take-off sepuluh menit lagi.

“Aku harus pergi. Sampaikan salamku untuk Jinyoung. Aku akan menghubunginya jika sudah sampai di Manchester. See you, uncle.” Kyuhyun mengangguk dan tersenyum.

 

“Jaga Cathy, ya, Jun Won-ah!” Ucap Kyuhyun pada Jun Won. Jun Won berdecak.

“Aku sudah menjaganya jauh sebelum kau memintaku, ahjussi!” Balas Jun Won ketus.

Geureom, kami pergi dulu.” Aku membungkukkan badan, lalu pergi meninggalkan orang-orang yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mengantar kepulanganku ke Manchester.

Seoul, thank you for beautiful moments you’ve given to me. Cho Kyuhyun, thank you for teached me about love, and thank you for the memories.

 

THE END

 

EPILOG

 

Manchester, United Kingdom.

 

Hidupku sepertinya kembali normal. Ya, normal. Diganggu oleh Jun Won ketika akan pulang adalah hal ternormal yang aku alami setelah kembali dari Korea. Aku mempercepat langkahku. Aku sudah terlambat lima belas menit, ayah pasti akan marah jika aku membuatnya menunggu lama.

Suara gemerincing terdengar begitu aku membuka pintu kafe yang terletak di seberang kampusku ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling untuk mencari ayah. Ah, itu dia, duduk di bangku paling sudut ruangan ini, dan terlihat seperti sedang memperhatikan sesuatu. Aku menghampirinya. Look! Bahkan ayah tidak menyadari kedatanganku. Aku mencoba mengikuti arah pandang ayah dan mataku menangkap seorang perempuan yang familiar bagiku sedang sibuk dengan gadget-nya, duduk di meja yang terhalang dua meja di depan ayah. Ah, ayah menyukainya.

 

“Irine McCartney, 35 tahun.” Ayah menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut. Ah, akhirnya ia menyadari keberadaanku.

“Sejak kapan kau datang?” Aku memutar bola mataku malas.

“Dosen bahasa Inggris di universitas Manchester, memiliki hubungan keluarga dengan Jessey McCartney, and the most important thing, she’s a snower!” Ucapku tanpa mempedulikan ayah yang tersedak mendengar kalimatku.

YA! Apa yang kau katakan?”

Daddy menyukai perempuan dengan blazzer putih itu, kan? Tidak usah mengelak. Aku dapat melihatnya dengan jelas!” Aku bangkit untuk menjalankan ideku. Sudah terlalu lama ayah tidak jatuh cinta, ini saat yang tepat.

YA! Mau kemana?” Aku tersenyum penuh kemenangan saat ayah akhirnya ikut berdiri dan mengikutiku. Langkahnya terhenti saat aku berhenti tepat di meja perempuan yang ayah perhatikan.

 

Excuse me, mrs. McCartney.” Perempuan itu mendongak, lalu tersenyum.

Yes, mrs. Kim?”

“Saya ingin anda menjadi ibu baruku. Apakah anda bersedia?” Mata nona McCartney membola.

“Apa yang kau bicarakan?” Sergah ayah.

“Aku dengar, kau penggemar Super Junior Kibum. Dia ayahku. Dan ayah, cepat perkenalkan dirimu!” Aku menarik ayah yang kikuk. Semburat merah munbul di pipi putih milik nona McCartney.

H-hello, my name is Kim Kibum. Emm, maafkan kelakuan putriku.”

“Tidak apa-apa, tuan Kim. Ah, namaku Irine. Irine McCartney.” Oh, ayolah. Orang dewasa, apakah selalu bersikap seperti remaja saat mereka jatuh cinta? Benar-benar menggelikan!

“Kalau begitu, kami permisi. Senang berkenalan denganmu, nona McCartney.” Ayah menarik tanganku dengan paksa. Tangannya dingin. Ah, ayah gugup rupanya. Lucu sekali. Nona McCartney mengangguk.

Nineteenth o’clock on saturday in this cafe.” Ucap ayah lagi sebelum benar-benar melangkah keluar. Whoa~ Cepat sekali ayah bergerak.

 

Dan hidupku kembali normal. Tanpa bayang-bayang Kyuhyun. Aku sudah benar-benar menyimpannya dalam sebuah kotak kenangan.

Hanya satu yang tidak normal. Ayah, ia sudah menemukan tuan untuk cintanya. Itu berarti, aku harus mulai membagi ayah dengan orang lain. Kebahagiaan seorang Kim Kibum adalah hal yang aku simpan dalam urutan teratas dalam hidupku saat ini.

Kim Kibum, my great father.

 

THE END Of EPILOG

 

Akhirnyaaaaa, selesai juga ini FF. Fiuh! Aku udah pegel sama cerita ini. Hhi terima kasih sudah setia membaca FF ini. Haha, Mohon maaf jika ending tidak sesuai harapan anda semua ^^ find me on twitter: @LSFeffect .baiklah, see you in next ff, readers!

 

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

17 thoughts on “My Life [11-END]”

  1. huwaaaaaaa endingnya nyesek bangetttttt
    kyu kamu tega banget nyakitin cathy…..
    padahal dia begitu cinta ma kamu
    bukannya yi ra dah nikah lagi sm yang bermarga jung ya kok tiba tiba nikah ma kyu akhhhh aku gk rela kyu ma yi ra chingu kamu bikin aku nangis…
    poor cathy….

  2. crita ff ini bgus tpi alur yha kcpatan kk sma
    pai aku bnggung sndri ini udah smpai mna tpi ttp bgus koe kk ff yha 🙂 🙂 🙂

  3. Demi apapun aku ga suka cathy deket lagi sama kyuhyun dan anaknya, asli ini ff bikin terbawa hati aku juga.. bikin hatiku jleb juga rasannya..
    Beneran deh rasanya tuh kayak merasakan sendiri sakitnya..

  4. Aaaa~ ffnya singkat, padat dan jelas sekali! Tapi, aku pengen banget nusuk pala si kyuhyun dulu :’v /di bully sparKyu/ Habisnya dia nyebelin banget sumvah! Pertama, nganggep Cathy itu sebagai ex-lovernya. Kedua, bilangnya Cathy itu sebagai masa depannya, tapi nyatanya? Dia nikah di Jepang! Ugh, dasar Setan–ganteng- #eh

    Arrgh! aku frustasi (?) Rasanya tuh pengen teriak teriak :v

    p.s: btw, ada sequel kah? setidaknya sampai Cathy bener bener dapet cinta sejatinya /plak/

  5. Aaaa~ ffnya singkat, padat dan jelas sekali! Tapi, aku pengen banget nusuk pala si kyuhyun dulu :’v /di bully sparKyu/ Habisnya dia nyebelin banget sumvah! Pertama, nganggep Cathy itu sebagai ex-lovernya. Kedua, bilangnya Cathy itu sebagai masa depannya, tapi nyatanya? Dia nikah di Jepang! Ugh, dasar Setan–ganteng- #eh

    Arrgh! aku frustasi (?) Rasanya tuh pengen teriak teriak :v

    p.s: btw, ada sequel kah? setidaknya sampai Cathy bener bener dapet cinta sejatinya /pla

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s