My Life [10/?]

 

Nama : Kyubum Girl
Judul Cerita : My Life (Part 10)
Tags : Catherine Kim, Kim Kibum, Super Junior.
Genre : Family, Sad, Romance.
Rating : PG-15
Length : Chapter

 

Sudah sampai di part 10, artinya satu langkah lagi menuju ending. Cerita Kyuhyun dan Jinyoung itu terinspirasi dari cerita di drama Gentlement Dignity, jadi kalo ada ynag ngerasa ‘kenal’ sama kisahnya, ya karena itu aku adaptasi dari drama yang salah satu perannya adalah Lee Jonghyun tercinta 😀

 

***My Life 10***

 

Suasana di dalam rumah terasa begitu hening, penuh kecanggungan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling, ke orang-orang yang berada di sini lebih tepatnya.

Cho Kyuhyun, laki-laki itu terus memegang tanganku. Entahlah, aku benar-benar tidak memiliki ide apapun tentang sikapnya hari ini.

Lee Donghae, paman yang satu itu terus saja melihatku dengan tatapan yang benar-benar tidak kumengerti.

Lee Hye Ah, perempuan itu menatapku dengan air mata yang mengalir, padahal tidak sepatah katapun ia lontarkan sejak kami berempat duduk di ruang tamu sepuluh menit yang lalu.

Aku tidak menyukai keadaan canggung seperti ini, maka kuputuskan untuk mengakhiri keheningan yang ada.

 

“Bicaralah! Aku tidak ingin berlama-lama di sini.” Ucapku datar. Hening. Masih tidak ada respon sama sekali.

“Apa yang ingin kalian sampaikan sehingga membawaku kemari? Palli malhae!

“Cathy, aku membawamu kemari untuk meminta restu Hye Ah noona atas hubungan kita.” Apa? Restu dari perempuan itu? Hei, seharusnya dia meminta restu pada ayahku. Lee Hye Ah, dia tidak berhak atas hidupku!

“Untuk meminta restu pada perempuan itu? Dia tidak berhak atas hidupku.”

“Cathy, Hye Ah noona adalah ibumu. Maka dari itu, aku ingin meminta restu darinya.”

“Restu? Kalian benar-benar berpacaran? Kyu, umur kalian jauh berbeda.” Paman Donghae menyela perdebatanku dengan Kyuhyun.

“Bukan urusanmu, uncle! Oppa, kau hanya harus meminta restu pada Bryan Kim. Ia satu-satunya orang yang berhak atas hidupku.” Kyuhyun memegang pundakku, menatap tajam ke dalam manik mataku.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi dengar, ibumu tetaplah ibumu. Lihat! Hye Ah noona tersiksa dengan sikapmu yang seperti ini.” Kyuhyun benar. Perempuan itu terlihat memegang dadanya. Air mata begitu deras mengalir di pipinya.

 

Hatiku tiba-tiba merasa sakit melihatnya menangis seperti itu. Kenapa ini? Bukankah seharusnya aku bahagia karena telah berhasil membuatnya tersiksa seperti ini?

“Kau memikirkan perempuan itu? Lalu, apakah selama ini kau memikirkan daddy, oppa?” Kyuhyun terdiam.

“Lee sonsaengnim, hentikan air mata palsumu itu! Aku muak melihatnya!”

“Kim Rae Ah! Sopanlah pada ibumu!” Paman Donghae berujar dengan nada tinggi.

“Sudah kubilang Kim Rae Ah sudah mati, uncle. Apa kau lupa? Atau kau memang tidak tahu? Istrimu yang membunuhnya!” BLAM! Paman Donghae dan Kyuhyun melemparkan tatapannya padaku. Paman Donghae menatapku dengan tatapan tidak percaya aku akan mengatakan itu sedang Kyuhyun menatapku seakan meminta penjelasan atas perkataanku.

 

“Istrimu yang telah membuat seorang Kim Kibum mengasingkan diri ke Manchester dan mengubah namanya menjadi Bryan dan namaku menjadi Catherine. Tidak ada Kim Rae Ah, uncle!”

I’m sorry. Please, forgive me! I know, I hurted you and your father too much. But, please, forgive me and called me eomma, Cathy.” Perempuan itu beringsut ke hadapanku, lalu menjatuhkan tubuhnya di lantai dengan lutut sebagai tumpuannya. Perempuan itu berlutut. Paman Donghae dan Kyuhyun berusaha membuat perempuan itu berdiri, namun perempuan itu tetap bersikukuh untuk berlutut di hadapanku. Kyuhyun memalingkan pandangannya padaku, menatapku tajam.

 

“Ini yang kau inginkan? Cathy, dia ibumu! Jangan berdiam saja! Pinta ibumu untuk berdiri, Catherine Kim!!” Ucap Kyuhyun dengan nada tinggi. Aku? Aku tidak bergerak sama sekali. Di dalam lubuk hatiku, di sana terjadi perdebatan yang sangat hebat. Apakah benar, ini yang aku inginkan? Melihat perempuan itu berlutut dengan penuh penyesalan? Jika benar, kenapa rasanya aku ingin sekali memeluk dan membantunya berdiri saat ini juga?

“Ampuni aku, Cathy.” Ucap perempuan itu dengan isakan yang masih terdengar jelas. Kyuhyun memaksaku berdiri.

“Catherine Kim! Ada apa sebenarnya denganmu? Kenapa sikapmu saat ini berbeda 180 derajat dengan yang aku dengar dari cerita Heechul hyung? Kau melukai…”

GEUMANHAE!! Kyuhyun-ssi, geumanhae!” Teriakku. Aku benar-benar muak sekarang.

“Lee Hye Ah, atau waktu itu namanya adalah Kim Hye Ah, dia pernah mencoba membunuhku hanya karena Donghae uncle memutuskan hubungan mereka. Kim Hye Ah, perempuan itu melahirkanku hanya karena harta warisan!” paman Donghae bungkam. Perempuan itu semakin terisak sedangkan Kyuhyun menatapku tak percaya.

“Kim Hye Ah, dia telah membuat daddy menderita, hidup sendiri membesarkanku, jauh dari kalian -Super Junior. Kau tahu, Kyuhyun-ssi? Bahkan daddy mengatakan bahwa ibuku sudah meninggal karena ia tidak ingin aku membencinya. Daddy, aku selalu mengintipnya setiap bangun tidur, berharap agar saat aku mengintip, aku akan melihat daddy bangun debgan senyuman indah di wajah tampannya. Namun apa yang aku lihat adalah daddy selalu duduk di pinggir tempat tidur dengan tubuh yang bergetar. Daddy menangis, memandangi foto saat kalian masih bertigabelas.”

 

“Cathy, ampuni aku.”

“Dengan alasan apa aku bisa mengampunimu, saem? Daddy benar-benar menderita karenamu. Daddy harus berusaha agar ia dapat berperan sebagai seorang ayah sekaligus sebagai seorang ibu. Aku benar-benar membencimu!” Kyuhyun menarikku ke dalam pelukannya. Tangisku benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Semua yang ada dalam benakku akhirnya tersampaikan. Demi apapun, aku hanya berharap kebencian yang ada dalam diriku akan menyusut. Ayah benar soal membenci itu sangat menyiksa. Aku benar-benar tersiksa oleh rasa benci ini.

 

Mianhae.” Ucap Kyuhyun lirih. Aku mendongak dan dapat kulihat dengan jelas bahwa Kyuhyun menangis.

Jib-e kajja!” Kyuhyun mengangguk, lalu memegang tanganku.

“Donghae uncle, bantu Lee sonsaengnim berdiri. Aku dan Kyuhyun oppa akan pulang.”

 

Tidak ada percakapan di dalam mobil. Aku tidak berminat untuk bicara. Kyuhyun sepertinya mengerti dengan kondisiku. Hingga kami turun, tidak ada sedikitpun kalimat yang terucap.

Saat menuju tangga, langkahku tiba-tiba berhenti. Aku merasa kepalaku sangat berat dan pandanganku menjadi kabur. Terdengar suara Kyuhyun yang sepertinya mengkhawatirkanku. Suara khawatir itu menghilang dengan menggelapnya keadaan di sekelilingku.

 


 

“Kau sudah bangun?” Tanya sebuah suara. Aku mengerjapkan mataku, lalu mengedarkannya ke sekeliling. Di kamarku dan seseorang tengah duduk di samping tempat tidurku, menatapku khawatir.

“Cathy-ya, aku mohon, jangan membuatku cemas seperti ini.” Ucapnya dengan suara yang tertahan.

Oppa, apakah aku terlihat menyedihkan di matamu? Aku adalah gadis yang memiliki dendam pada perempuan yang sudah melahirkanku. Aku benar-benar menyedihkan, bukan?” Kyuhyun menghela nafasnya kasar.

“Kau benar. Kau terlihat sangat menyedihkan. Mendendam bukanlah style-mu. Kau tidak cocok dengan sifat itu.” Kyuhyun mengelus puncak kepalaku. Tatapannya benar-benar sulit untuk diartikan.

Aku benar-benar menyedihkan.

“Aku sudah mendengar semuanya dari Heechul hyung. Aku baru mengerti sekarang tentang hubungan Heechul hyung dan Hye Ah noona yang tidak sedekat hubungan Heechul hyung dan istri hyung-hyung yang lain.” Kyuhyun berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “kenapa tidak pernah bercerita padaku, eoh? Kau tahu? Heechul hyung bilang, Kibum hyung meminta Heechul hyung untuk mengawasimu agar emosimu tidak meledak jika sewaktu-waktu kau bertemu dengan Hye Ah noona.

 

“Daddy selalu membela perempuan itu!” Sergahku.

“Tidak, Cathy! Ayahmu bukan membelanya. Ayahmu hanya tidak ingin anaknya hancur karena terlalu membenci ibu kandungnya. Kau tidak merasa bahagia saat akhirnya kau bisa membuat ibumu tersiksa, bukan?” Kyuhyun menatapku intens. Tepat. Pertanyaannya itu seperti sebuah pernyataan bagiku. Ya, aku tidak merasa bahagia saat aku berhasil menyakitinya.

Eotteokhae? Apa yang harus aku lakukan, oppa? Perempuan itu telah membuat daddy menderita.” Kyuhyun menarikku yang mulai terisak kedalam pelukannya.

Uljima! Kau hanya butuh waktu untuk memaafkannya.” Memaafkan? Apakah aku bisa memaafkannya? Benarkah waktu akan membantuku untuk memaafkannya? Beri aku petunjukmu, Tuhan! Daddy, apa yang harus aku lakukan?

 

“Kibum hyung, besok dia akan terbang ke sini.”

“Kau memberitahu daddy tentang kejadian ini?”

“Heechul hyung yang memberitahunya. Kibum hyung bilang, ‘Cathy pasti sangat membutuhkanku, hyung! Aku akan mengambil penerbangan paling awal besok pagi’ whoa~ ayahmu benar-benar keren!” Aku terkikik mendengar penuturannya. Kyuhyun tersenyum sambil menatapku. “Kau benar-benar cantik saat tersenyum.” Kyuhyun mengusap pipi kananku dengan tangan kirinya. Sepertinya Tuhan memang sengaja mengirimkan Kyuhyun untukku.

Daddy memang sangat keren, oppa!” Kyuhyun mengangguk. Ia ikut berbaring di sampingku, kemudian memelukku.

 

Terdengar suara paman Heechul yang berteriak. Dengan cepat aku dan Kyuhyun beranjak keluar dari kamarku. Langkahku terhenti saat melihat paman Donghae menahan tangan Heechul yang sepertinya akan menampar seseorang di hadapannya. Lee Hye Ah, perempuan itu menunduk dengan terisak.

“Sudah kubilang jangan pernah muncul di hadapan Cathy lagi! Beruntung waktu itu Kibum menahanku yang ingin melaporkanmu ke polisi!!” Bentak paman Heechul.

Hyung!! Jaga sikapmu! Hye Ah ibunya dan kau bukan siapa-siapa bagi Cathy!” Balas paman Donghae.

 

“Istrimulah yang bukan siapa-siapa bagiku!” Teriakku. Kyuhyun merangkul pundakku, mencoba untuk menenangkan. Paman Donghae melepaskan tangannya. Aku menutup mataku sejenak, berusaha mengontrol emosiku. Kalimat ayah yang memintaku untuk tidak membencinya tiba-tiba berdengung di telingaku. Perlahan aku membuka mataku, mulai melangkah menghampiri mereka bertiga.

Langkahku terhenti tepat di hadapan perempuan yang masih terisak. Dengan gerakkan ragu aku meraih pundaknya. Perempuan itu mendongak, menatapku bingung.

 

“Hanya dengarkan dan jangan menyela setiap kalimatku.” Ucapku. Aku menghela nafas lalu menengok ke belakang. Kulihat Kyuhyun tersenyum. Aku kembali menatap perempuan itu.

“Jangan menangis lagi. Sangat sakit rasanya ketika melihatmu menangis. Aku tidak tahu kenapa, padahal seharusnya aku merasa bahagia karena telah berhasil menyakiti perempuan yang telah membuat daddy menderita. Berhentilah menangis dan untuk saat ini jangan dulu menemuiku. Aku akan menemuimu dengan panggilan yang seharusnya, jika aku sudah benar-benar melupakan dendamku.” Aku harus mengakhiri semuanya. Aku harus mengakhiri dendamku.

Uncle, malam ini aku akan menginap di rumah Kyuhyun oppa.” Ucapku pada paman Heechul. Paman Heechul sepertinya mengerti. Ia menyetujuiku.

 


 

Waktu berlalu begitu cepat. Sembilan bulan sudah aku tinggal di Korea. Artinya, tiga bulan lagi aku akan kembali ke Manchester. Sejak kejadian waktu itu, ayah ikut tinggal di Korea dan akan kembali ke Manchester jika aku juga kembali. Ayah mempercayakan urusan perusahaannya pada paman Siwon.

“Cathy, bagaimana kabar Cho ahjusssi?” Jinyoung, laki-laki itu terlihat sangat antusias menanyakan kabar ayahnya. Ia memanggilnya dengan Cho ahjussi. Menurutnya, Kyuhyun terlalu muda untuk dipanggil ayah.

 

Aku menatap Jinyoung sejenak. Aku merasa bersalah padanya. Aku tidak pernah memberi tahu Jinyoung bahwa aku menjalin hubungan dengan Cho ahjussi-nya.

“Dia baik-baik saja. Kenapa kau tidak menemuinya saja? Cho ahjussi-mu itu orang baik. Dia pasti akan menerimamu.” Jinyoung terdiam. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ia menyembunyikan identitasnya?

“Aku tidak berani, Cathy. Aku takut ia tidak mempercayaiku.”

“Jung Jinyoung, hari ini kau harus ikut denganku. Tidak ada penolakkan!”

Eodie?

“Ikut saja!”

“Kalau kau mengajakku jalan-jalan, sebaiknya lupakan! Kita sama-sama bukan orang Korea. Aku tidak ingin tersesat!” Cibirnya. Ah, cerewet sekali!

Malas mendengar ocehannya, aku bergegas meninggalkannya, keluar dari kantin. Aku hanya bisa tertawa geli mendengar umpatan-umpatannya. Benar-benar mirip Cho Kyuhyun!

Kuambil ponsel dari sakuku, lalu mengetik sebuah pesan untuk mempertemukan Jinyoung dan Cho ahjussi-nya.

 

To: ChoKyuLove

Hari ini tidak usah menjemputku. Kita bertemu di taman kota saja.

 

“Kenapa kita ke sini? Jangan bilang kau akan menyatakan perasaanmu padaku, nona Kim!” Jinyoung benar-benar banyak bicara. Apa hubungannya taman dengan menyatakan perasaan? Cih, melihat tingkat kenarsisan yang dimilikinya aku menjadi semakin percaya bahwa dia keturunan seorang Cho Kyuhyun.

“Jangan sembarangan, Jung Jinyoung! Aku sudah menyukai orang lain.” ‘ayahmu, Jung Jinyoung.’

“YA! Apa yang kalian lakukan? Berduaan di taman?” Aku dan Jinyoung saling memandang satu sama lain, merasa heran dengan seseorang yang menginterupsi pembicaraanku dengan Jinyoung. Lalu kami sama-sama mendongak.

Oho! Cho Kyuhyun berdiri di depan kami dengan tangan menyilang di depan dada dan matanya menatapku tajam. Ini tatapan ingin membunuh.

Hawanya terasa mencekam sekarang.

 

Wasseo? Duduklah!” Aku berusaha mencairkan suasana. Aku berdiri dan mendorong Kyuhyun duduk di tempat yang semula aku duduki -di sebelah kiri Jinyoung.

Jinyoung dan Kyuhyun terlihat mengernyitkan dahinya -heran. Aku menatap mereka bergantian.

“Aku yang mengatakannya, apa kau sendiri yang mengatakannya, Jung Jinyoung?” Jinyoung terhenyak.

“Kenapa kau melakukan ini, Cathy?” Bukannya menjawab, Jinyoung malah balik bertanya. Aku menghembuskan nafas kasar.

“Tuan Cho. Biar kuperkenalkan. Laki-laki muda di sebelah kananmu adalah Jung Jinyoung, putra dari Kim Yi Ra dan Cho Kyuhyun.” Aku tersenyum tulus pada kedua orang laki-laki di hadapanku. Kyuhyun membulatkan matanya. Jinyoung menundukkan kepalanya, apakah ia marah padaku?

MWO? Jangan bercanda, Catherine Kim!” Keterkejutan Kyuhyun terlihat dengan sangat jelas. Aku hanya memberinya senyuman.

 

Perasaan takut tiba-tiba menggerayangi hatiku. Aku takut Kyuhyun akan meninggalkanku dan memilih kembali pada masa lalunya. Apalagi, Jinyoung pernah mengatakan bahwa ayah tirinya sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Kemungkinan Kyuhyun dan Yi Ra untuk kembali sangatlah besar, bukan?

He’s your son. Look! He’s similar with you.” Kyuhyun menatap Jinyoung yang menundukkan kepalanya.

“Benarkah itu? Apa yang bisa membuatku percaya bahwa kau adalah anakku?” Jinyoung hanya terdiam.

“Jinyoung lahir di tahun yang sama denganku dan ibunya menikah dengan tuan Jung tiga tahun setelah Jinyoung lahir. Kau bisa melakukan tes DNA jika tidak percaya.” Hening. Aku yakin, baik Jinyoung maupun Kyuhyun sama-sama sedang sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Bahkan saat aku berjalan meninggalkan taman itu pun tidak ada yang menyadarinya. Aku mempercayaimu, oppa.

 


 

Hari ini aku tidak memiliki semangat sama sekali untuk kuliah. Jika saja aku tidak memiliki tanggung jawab untuk menjaga ‘image’ universitas Manchester, mungkin saat ini aku masih bergumul dengan kasur dan selimutku atau berusaha menghubungi Kyuhyun. Ah, sejak bertemu dengan Jinyoung kemarin Kyuhyun sama sekali tidak memberiku kabar. Sudah puluhan kali aku coba menghubunginya, namun hasilnya nihil. Ponselnya tidak aktif.

Seseorang menahan pergelangan tanganku. Aku menoleh dan langkahku terhenti.

 

“Kau terlihat lemas sekali. Kau sakit?” Aku menggeleng. Entah apa yang menarik tubuhku untuk memeluknya. Aku hanya merasa jika memeluknya, mungkin perasaanku akan membaik. Aku merasakan tubuhnya menegang, namun beberapa saat kemudian ia membalas pelukanku.

“Sepertinya, Kyuhyun oppa akan kembali pada masa lalunya. Dia akan meninggalkanku, saem.” Ucapku lirih.

“Apa maksudmu? Kyuhyun sangat mencintaimu, tidak mungkin dia berani meninggalkanmu.”

“Hatiku mengatakan seperti itu. Cho Kyuhyun akan kembali pada Kim Yi Ra.” Rasanya benar-benar nyaman berada dalam pelukkannya. Hangat. Aku memang sudah mulai melunak padanya, tapi entah kenapa masih sulit rasanya memanggilnya ibu.

“Itu hanya perasaanmu saja. Ayo, kita ke kelas.” Tanpa membantah atau melakukan apapun, aku membiarkan perempuan yang masih tidak bisa aku panggil ibu itu menggandeng tanganku menuju kelas.

 


 

“Cathy!”

“Kau mengejutkanku!” Jinyoung hanya nyengir kuda. Ia duduk di sebelahku. Sepertinya ia sedang bahagia sekali.

Thank you! Because of you, I’m livin’ in Cho ahjussi, ah, I mean, Cho appa’s house.” Mata Jinyoung terlihat berbinar. Aku tersenyum kaku. Seharusnya aku bahagia, namun sebagian dari diriku mengatakan bahwa ini adalah pertanda, entah pertanda apa.

Congratulations, Jinyoung-ah!”

“Emm. Bahkan hari ini Cho appa sedang terbang ke Jepang. Aku memintanya untuk menemui atau jika bisa, kembali pada ibuku. Cho appa sepertinya masih sangat mencintai ibuku.” Jepang? Demi Tuhan, aku benar-benar merasa takut sekarang. Kyuhyun akan kembali pada Yi Ra.

Mataku mulai memanas, tapi aku harus menahannya. Lee sonsaengnim memulai kuliah dan Jinyoung sudah berhenti bicara.

 

Lee sonsaengnim mengakhiri kuliahnya. Ia tidak langsung keluar, begitupun aku. Mahasiswa yang lain sudah keluar semua termasuk Jinyoung. Saat itulah, air mata mulai mengalir. Ah, bahkan aku tidak mendengar apa yang dosen bicarakan di depan. Tangisnku semakin kencang. Aku berlebihan? Tidak. Aku benar-benar takut sekarang. Aku takut Kyuhyun akan benar-benar kembali pada Yi Ra.

“Cathy, kenapa nak?” Tangisanku sepertinya mengundang perhatian Lee sonsaengnim. Aku menatap matanya. Ia terlihat sangat khawatir.

Eomma…” Ia membulatkan matanya. Ini pertama kalinya aku memanggilnya ibu.

“Kyuhyun benar-benar akan kembali pada masa lalunya, eomma. Na eottokhae?” Ucapku dengan masih terisak. Ia memelukku dan menciumi puncak kepalaku.

“Uljima! Eomma, eomma percaya, Kyuhyun tidak akan meninggalkanmu.”

 

“Kau memiliki hubungan dengan Cho appa?” Jinyoung berdiri di pintu kelas dengan tatapan yang, entahlah, sulit kuartikan.

“Jinyoung-ah,”

“Dan Lee sonsaengnim adalah ibumu? Astaga, Cathy! Apa yang kau pikirkan sebenarnya? Kenapa tidak menceritakan hal sepenting itu padaku? Jika aku tahu, aku tidak akan meminta Cho appa untuk kembali pada ibuku!” cecarnya. Jinyoung tidak marah?

“Cho appa?”

“emm. He’s Kyuhyun and Yi Ra’s son, eomma.

 


 

Berada dalam pelukan seorang ibu sangatlah nyaman rasanya. Ibu, ya, aku sedang berada di rumah ibuku. Kami tidur di kamar yang katanya ia sediakan khusus untukku. Ibu, ia memeluk dan membelai rambutku. Ibu melepas pelukannya saat ponselku terdengar berbunyi. Nomor yang tidak di kenal.

 

Yeoboseyo.

‘Maaf tidak memberimu kabar. Aku di Jepang, sayang,’ ucap seseorang di seberang sana. Kyuhyun.

Oppa, bogoshipeo.

Nado. Jinyoung, dia…

Ara. Apa kau akan kembali pada Yi Ra-mu?” Tanyaku. Tidak, aku tidak sanggup untuk tidak menanyakan ini. Kyuhyun terdiam.

‘Hei, apa yang kau pikirkan? Jalanku sudah berada padamu, mana mungkin aku kembali pada masa lalu, huh? Ah, kau sedang ketakutan sekarang? Kau cemburu?’

“Jika aku menjawab ‘ya’, apa yang akan kau lakukan? Langsung terbang kembali ke Korea agar aku tidak cemburu lagi?”

‘Dengar, sayang! Aku, Cho Kyuhyun, tidak akan pernah meninggalkanmu demi masa laluku.’

Oppa..”

‘eo? Kau menangis? Aku tahu kau terharu. haha. Baiklah, aku harus pergi. Kau, jangan macam-macam selama aku tidak ada! Ara?’

Arasseo. Saranghae, oppa.

Nado.

 

 

“Kyuhyun?” Aku menoleh. Ah, aku lupa bahwa ada ibuku di sini. Ia mengusap pipiku yang basah karena air mata yang mengalir, bahkan tanpa kusadari.

“emm. Kau benar. Kyuhyun tidak akan kembali pada Yi Ra.”

“Hei, Kyuhyun dan Yi Ra jauh lebih tua darimu dan kau tidak menggunakan embel-embel oppa atau eonni?”

“Umurnya memang tua, tapi kelakuannya seperti laki-laki di bawah umur, mommy!

Mommy?

“Ah, aku begitu asing dengan sebutan-sebutan di Korea. Aku lebih suka memanggil ‘mommy’ dan ‘daddy’. Tidak apa-apa, kan?”

“Selama itu menyenangkan untukmu, tidak apa-apa. Lagipula, aku akan merasa seperti orang Eropa.” Kami tertawa bersama.

Pembicaraan kami selanjutnya mengalir begitu saja. Banyak sekali yang aku ceritakan. Ah, jadi begini rasanya memiliki ibu.

 

“Ah, bukankah ayahmu melarang hubunganmu dengan Kyuhyun?”

“Benar. Mommy, kau tahu? Daddy tidak akan pernah tega melihat aku menderita. Saat pertama kali daddy tahu tentang hubunganku, daddy marah besar. Kyuhyun bahkan tidak diperbolehkan menemuiku. Aku tidak kehilangan akal. Aku mengurung diriku di kamar seharian.”

MWO?” Aih, kenapa orang Korea senang sekali berteriak?

Mommy, don’t scream like that!

Mian. Lalu?”

Daddy mengira aku tidak makan, tidak minum, dan itu membuatnya kelimpungan. Tidak ada yang bisa membujukku agar aku keluar. Akhirnya daddy meminta Kyuhyun untuk datang dan membujukku keluar. Padahal, aku sudah menyiapkan makanan di dalam kamarku.”

“Anak nakal!”

“Daddy sudah merestui kami. Aku juga mengakui kebohonganku dan daddy memaafkanku. Daddy tidak akan tahan berlama-lama marah padaku.” Air muka ibu tiba-tiba berubah. Aku heran. Apakah aku salah bicara?

Mommy, what’s wrong?

Nothing. Mommy hanya ingin berterima kasih pada ayahmu karena telah merawatmu dengan sangat baik.”

“Emm. Daddy adalah laki-laki yang posisinya di hatiku tidak akan pernah tergantikan, sekalipun itu Kyuhyun.”

 

TBC

 

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

5 thoughts on “My Life [10/?]”

  1. ffmu is the best chingu walaupun cerita percintaannya agak berbeda dari biasanya tapi aku suka suka…
    always aku tunggu tiap kelanjutannya
    semangat ya buat lanjutannya sampai ending….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s