My Life [8/?]

Nama : Kyubum Girl
Judul Cerita : My Life (Part 8)
Tags : Catherine Kim, Kim Kibum, Cho Kyuhyun, Super Junior.
Genre : Family, Sad, Romance.
Rating : PG-15
Length : Chapter

 

 

***My Life 8***

 

“Kenapa kau pulang sendiri? Mana Kyuhyun? Kau menangis?” Paman Heechul yang sedang duduk di teras depan rumah menyambutku dengan rentetan pertanyaan-pertanyaan itu.

Uncle, apakah uncle pernah merasakan cinta sepihak?”

“Kenapa menanyakan itu?” tanya paman Heechul.

Daddy pernah merasakannya. Dan sekarang, aku juga merasakannya. Apakah daddy juga merasa sesakit ini ketika merasakan cinta sepihak, bahkan pada istrinya sendiri?” Paman Heechul membeku. Air mataku kembali mengalir.

Heoksi neon, Kyuhyuneul joha?” Tanya paman Heechul hati-hati. Aku mengangguk lemah.

“Bagaimana bisa? Cathy, dia lebih pantas…”

“Jadi ayahku.” Aku tahu apa yang akan dikatakan paman Heechul.

Uncle, apakah cinta memandang usia? Aku menyukai Cho uncle, tapi cintanya untuk seseorang bernama Yi Ra terlalu besar.” Paman Heechul membawaku duduk di kursi yang ada di teras. Ia memelukku.

 

“Ayahmu akan marah jika tahu ini.”

“Jangan katakan ini pada daddy, uncle. Aku mohon.” Paman Heechul benar. Ayah bahkan sudah dua kali mengingatkanku agar tidak jatuh cinta pada paman Kyuhyun.

“Baiklah. Kau masih muda. Perjalanan cintamu masih panjang. Tidak ada yang tahu jika besok kau akan jatuh cinta pada pria lain.”

 

Uncle, Yi Ra, siapa?”

“Yi Ra? Kau yakin ingin mendengarnya?” Tanya paman Heechul meyakinkan. Aku mengangguk pasti dengan memasang senyum se-meyakinkan mungkin.

“Yi Ra. Kim Yi Ra. Gadis itu adalah kekasih Kyuhyun. Kyuhyun yang playboy berubah menjadi hanya mencintai seorang gadis setelah bertemu Yi Ra. Gadis itu, punya tingkah yang sama denganmu. Selalu mengejek Kyuhyun, tapi itu hanyalah cara gadis itu menunjukkan kasih sayangnya.” Tingkahnya sama denganku? Jadi, itu yang membuat paman Kyuhyun menyebut Yi Ra ketika melihatku tadi.

“Kyuhyun sangat mencintai Yi Ra. Gadis itu menghilang sehari sebelum mereka merayakan hari jadi mereka yang kelima.” Kelima? Mereka menjalin hubungan selama lima tahun?

“Kyuhyun stress dibuatnya. Itulah sebabnya dia tidak pernah telihat dekat dengan gadis lain lagi. Setahun lalu, teman Kyuhyun mengatakan bahwa ia bertemu dengan Yi Ra di Jepang. Gadis itu telah menikah dan mempunyai seorang anak laki-laki.” Paman Heechul menarik nafas kasar. Aku tidak berminat menyela ceritanya.

“Mungkin, anaknya seumuran denganmu.” Paman Heechul mengakhiri ceritanya. Ia mengajakku masuk.

“Aku masih ingin di sini, uncle.

“Baiklah. Pikirkan yang terbaik untuk hatimu, cathy!”

 

Pikirkan yang terbaik untuk hatimu, Cathy! Perkataan paman Heechul terus terngiang di telingaku.

Jazz putih yang baru masuk ke pekarangan mengalihkan fokusku. Satu orang pria dan satu orang perempuan keluar dari mobil itu. Aku menyipitkan mataku. Sedetik kemudian, mataku membulat melihat perempuan itu adalah seseorang yang akan kubuat hidupnya menderita.

 

Eo, nuguseyo? Apa kau tamu Heechul hyung? Kenapa hanya duduk di sini?” Tanya pria itu. Perempuan itu terlihat membeku.

“Ah, annyeong, Catherine Kim imnida. Are you Donghae uncle?” Tanyaku ramah.

Ne. Logat bicaramu seperti bukan orang Korea.” Perkiraanku benar. Pria yang bersama perempuan itu adalah paman Donghae.

“Masuklah, uncle! Sepertinya Heechul uncle belum tidur. Ia baru saja masuk.” Paman Donghae mengerutkan keningnya.

“Heechul uncle! Ada tamu untukmu!” Teriakku. Paman Donghae terlihat kebingungan, begitu pula dengan perempuan itu. Ah, aku tidak sudi menyebut namanya.

 

Beberapa saat kemudian, paman Heechul muncul.

YA! Tadi menangis sekarang berteriak seperti itu.” Paman Heechul menyentil keningku. Aku hanya bisa meringis.

Hyung, gadis ini siapa?” Tanya paman Donghae. Paman Heechul melihatku, seperti bertanya apakah-aku-harus-jujur? Aku tersenyum simpul lalu mengangguk, sebagai jawaban atas pertanyaannya yang tersirat itu.

“Dia.. Putrinya Kibum.” PRAK! Sesuatu telah jatuh ke lantai. Ponsel. Sepertinya ponsel itu milik perempuan yang sekarang sedang membekap mulutnya tak percaya. Paman Donghae tergagap.

“Be-benarkah? Lalu, lalu mana Kibum? Aku ingin memeluknya.”

“Kibum tidak ada di sini, Hae-ya. Tadi pagi dia baru saja kembali ke Manchester.” Jawab paman Heechul. Paman Donghae berurai air mata. Ia memelukku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus membawa paman Donghae dalam masalah ini? Paman Donghae, dia adalah penyebab perempuan itu memilih untuk membunuhku. Aku mendorong tubuh paman Donghae dengan kasar. Kebingungan tersirat di wajahnya.

 

“Peluk aku, Kim Rae Ah.” Perempuan itu bersuara, menghampiriku.

“Paman Donghae saja tidak kuizinkan untuk memelukku, apalagi kau! Jangan pernah berharap kau bisa menyentuhku, karena aku tidak akan membiarkannya!”

“Cathy!” Paman Heechul memperingatkanku.

“Satu lagi, namaku adalah Catherine Kim. Kim Rae Ah telah mati. Kau lupa? Kau yang telah membunuhnya.” Perempuan itu semakin terisak.

“Cathy, ayahmu tidak akan pernah suka melihatmu seperti ini.”

“Maka jangan katakan ini pada daddy. Aku masuk dulu, uncle.” Pamitku. Paman Heechul menahan tanganku.

 

“Beri salam pada ibumu.” Ucapnya.

“Ibu? Salam pada ibu? Baiklah, aku akan menyampaikan salam dari penderitaan daddy selama belasan tahun padanya. Hati-hati dengan hidupmu, profesor Lee.” Aku menghempaskan tangan paman Heechul dengan kasar, lalu masuk ke dalam.

Aku masuk menuju kamarku dengan setengah berlari. Panggilan Hye Young bahkan tidak kuhiraukan.

BRAK!

Aku menutup pintu kamarku dengan kasar. Tubuhku merosot. Kenapa rasanya dadaku sakit saat melihat perempuan itu menangis hingga terisak. Bahkan akulah yang membuatnya menangis.

Daddy, aku ingin pulang saja.” Racauku. Benar. Hati kecilku mengatakan ingin pulang saja ke Manchester. Korea terlalu menyakitkan untukku.

Daddy…” Gelap. Tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap.

 

Sinar mentari masuk menghangatkan ruangan. Perlahan aku membuka mataku. Sudah pagi rupanya. Badanku, sakit sekali. Ah, aku tertidur di bawah daun pintu. Mataku berat sekali.

 

“Jauhi Cathy, Kyu!” Terdengar teriakan paman Heechul dari bawah. Kyu? Apakah paman Kyuhyun ada di sini? Sepagi ini? Kulirik jam di dinding kamar, jam 10.15. OMO! Aku kesiangan.

Hyung, kenapa aku harus menjauhinya? Cathy keponakanku!” Teriakan paman Kyuhyun membuat langkahku terhenti. Tadinya aku ingin ke kamar mandi.

Aku menghela napas berat. Look! He just pretend that you’re his niece, Cathy! Wake up!

Kembali kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi, membasuh wajahku. Aku sedang tidak berminat untuk mandi apalagi kuliah.

 

Tok… Tok… Tok…

Aku menutup keran, setengah berlari menuju pintu kamar. Tubuhku seakan membeku melihat seseorang yang mengetuk pintu itu. Paman Kyuhyun. Wajahnya lesu sekali, seperti orang yang tidak tidur semalaman. Rambutnya berantakan.

“Kau, benar-benar membuatku khawatir, bocah!” Sedetik kemudian, tubuhku sudah berada dalam rengkuhannya. Dapat kurasakan tubuh paman Kyuhyun bergetar, bahu kananku terasa basah. Apakah dia menangis? Tapi kenapa? Aku tidak tahu harus melakukan apa. Setelah berdebat dengan hatiku, akhirnya aku membalas pelukkannya. Erat.

Pelukkan ini, sangat nyaman meskipun tidak senyaman saat ayah yang memelukku.

 

Why?” Tanyaku pada akhirnya. Paman Kyuhyun melepaskan pelukannya. Dia tidak menjawabku. Paman Kyuhyun hanya menatapku, lalu beberapa saat kemudian bibirnya sudah menempel di bibirku. Mataku membulat. Cukup lama paman Kyuhyun menempelkan bibirnya itu. Hanya menempel.

Kejadian semalam seperti menamparku. Aku mendorong paman Kyuhyun dengan kasar hingga membuatnya berdiri di luar kamarku.

“Apa yang kau lakukan, uncle?!” Belum sempat ia membuka mulutnya, segera kututup pintu -lagi-lagi dengan kasar.

Aku tidak berbuat kasar di hadapannya. Aku hanya terkejut. Jika saja kejadian semalam tidak pernah terjadi, aku rasa aku akan senang ia menciumku. Mencuri ciuman pertamaku.

Saat menciumku tadi, apakah ia mengira bahwa aku Yi Ra? Hah!

 


 

“Cathy-ya! Aku mau bertanya padamu.” Jinyoung. Pria ini selalu saja mengganggu!

“Apa?” Tanyaku malas.

“Jawab aku dengan jujur! Ayahmu, siapa?” Tanyanya ragu. Dia ingin tahu sekali sepertinya.

Aku menutup novel yang tadi kubaca.

“Kim Kibum.” Jawabku malas.

“Benarkah? Aku lega sekali mendengarnya.”

“Maksudmu?”

“Akan kuberitahu kau sebuah rahasia besar tentangku. Kau harus berjanji untuk tidak memberi tahu siapapun tentang ini, ara?!” Ucap Jinyoung, serius. Aku mengangguk.

“Aku, aku adalah anak dari Cho Kyuhyun.”

 

BRAK! Novel yang ada di tanganku terjatuh. Tanganku seperti tidak memiliki tenaga saat ini.

“B-benarkah? Cho uncle tidak pernah menikah.” Sulit dipercaya. Bagaimana mungkin paman Kyuhyun memiliki anak sedangkan menikah saja tidak pernah. Kecuali jika…

“Ibumu, apakah namanya Yi Ra?” Tanyaku lagi sebelum Jinyoung membuka mulutnya.

Jinyoung mengerutkan keningnya, lalu mengangguk pasti. Tubuhku. Tubuhku lemas. Paman Kyuhyun. Paman Kyuhyun memiliki anak.

Wae? Kenapa kau begitu terkejut?” Tanya Jinyoung.

“Tentu saja aku terkejut! Cho uncle tidak pernah menikah dan kau mengaku sebagai anaknya!”

 

Drrt… Drrt…

Ponselku bergetar. Panggilan dari paman Kyuhyun. Aku menimbang-nimbang sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.

Wae?” Paman Kyuhyun terdengar berdecak.

‘Ck! Akhirnya kau menjawab teleponku. YA! Kenapa kau menghindariku dua minggu ini, huh?’

Uncle…”

‘Ke parkiran sekarang! Aku menunggumu!’ Selalu saja seperti ini. Dua minggu, ya? Ah, benar. Sudah dua minggu ini aku menghindar dari paman Kyuhyun. Jujur saja, aku merindukannya.

Amat sangat merindukannya.

“Catherine Kim, kenapa melamun seperti itu?”

I’m okay. Jinyoung-ah, follow me!” Aku menarik tangan Jinyoung. Pikiran untuk mempertemukan Jinyoung dengan paman Kyuhyun tiba-tiba terbersit di otakku. Meskipun sulit dipercaya, tapi tidak ada salahnya jika aku mempertemukan mereka.

 

Aku mengedarkan pandanganku, mencari ferrari merah. Nihil. Tidak ada ferrari merah di sini.

“Aku di sini, bocah!” Paman Kyuhyun tiba-tiba muncul dari belakang.

“Aku tidak melihat mobilmu, uncle!

“Aku tidak membawa mobil. Ah, pria ini siapa? Kekasihmu?” Tanya paman Kyuhyun. Jinyoung, pria itu hanya terdiam melihat paman Kyuhyun. Dari sorot matanya terlihat sekali bahwa ia merindukan ayahnya.

“Jung Jinyoung. Dia satu-satunya temanku di sini.” Jawabku. Aku menyikut lengan Jinyoung.

“Kau tidak ingin menyapa Cho uncle, Jinyoung-ah?” Jinyoung mengerjap.

A-annyeong haseyo, ahjussi. Jung Jinyoung imnida.

Annyeong. Ah, aku tidak suka dipanggil ahjussi. Panggil saja hyung. Aku belum tua.”

WHAT? Lihat kartu identitasmu, uncle! Kau benar-benar tidak sadar…”

“Aku permisi, Cathy-ya.” Jinyoung melengos. Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti itu? Bukankah seharusnya dia senang bisa berbicara dengan ayahnya?

 

“Kau menyukainya?” Tanya paman Kyuhyun membuatku tersentak.

A-ani.” Aku menjawabnya dengan gelagapan.

Jeongmal? Kalau bukan dia, lalu pria yang kau sukai siapa?” Buing! Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengaku bahwa aku menyukai paman Kyuhyun, kan? Sesange!

“Aku lelah. Let’s home, uncle!” Paman Kyuhyun tidak bergerak. Matanya intens menatapku.

YA! PALLIWA!” Teriakku tepat di telinganya.

YA! GADIS SETAN! Aish, bagaimana bisa Kibum hyung begitu sabar merawatmu? Cih!” Gerutu paman Kyuhyun. Ia memukul pelan kepalaku.

 

YA AHJUSSI!

Mwo? Ini pertama kalinya kau memanggilku ahjussi. Jangan pernah memanggilku ahjussi! Aku tidak setua itu!”

“Baiklah, baiklah. Jadi, usia yang mendekati empat puluh tahun ini, bagi seorang Cho Kyuhyun belumlah tua?” Ejekku.

“Aish! Geumanhae! Ayo pulang!” Paman Kyuhyun menutup pintu mobil dengan keras. Aku mengikutinya. Tidak membawa mobil, katanya? Ya, tidak membawa mobil ferrari merahnya, ia membawa lamborghini hurakan-nya kali ini. Ck!

 

Hening. Tidak ada suara selain suara mesin di dalam mobil ini. Suasananya terasa benar-benar canggung. Aku melirik paman Kyuhyun sekilas. Matanya fokus ke depan.

Tunggu! Aku merasa ada sesuatu yang aneh. Jalannya cukup asing. Ini, ini bukan jalan menuju rumah paman Heechul.

Uncle, ini bukan jalan ke rumahnya Heechul uncle.” Ucapku.

“Emm.” Jawabnya santai, tanpa melihatku. Emm? Hanya emm?

“Kita mau kemana?” Tanyaku lagi.

“Berisik sekali! Uri jib.

MWO?” Rumah? Rumah paman Kyuhyun? Mau apa?

“Tidak bisakah kau tidak berteriak? Aku ini lebih tua darimu!”

“Cih, akhirnya kau mengakuinya juga, Cho uncle!” Cibirku. Paman Kyuhyun berdecak kesal.

 

Paman Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah berarsitektur khas eropa. Tampak dari luar saja rumahnya sudah terlihat luas dan mewah.

Oppa. Panggil aku ‘oppa’, aratji?” Ucapnya tiba-tiba. Tanganku yang sedang membuka seatbelt terhenti begitu begitu saja.

O-oppa? Wae? Naega wae?” Tanyaku. Benar-benar aneh. Bukannya menjawab, paman Kyuhyun malah menatapku tajam. Aku menahan tawaku agar tidak keluar.

Hentikan tatapan itu, paman! Jantungku benar-benar sedang bekerja keras, sekarang.

 

AHJUSSI!” Teriakku. Paman Kyuhyun memalingkan wajahnya.

“Sudah kubilang panggil aku ‘oppa’. Ayo, turun!” Ucapnya, dingin. Ia turun dari mobil, aku mengikutinya. Orang ini benar-benar menyebalkan!

 

Rumahnya besar, tapi masih lebih besar rumah ayah. Paman Kyuhyun menarikku dengan paksa, menaiki tangga menuju lantai dua. Aku hanya bisa mendengus kesal mendapatkan perlakuan seperti ini.

 

Paman Kyuhyun menuutup pintu dengan kasar. Pintu kamar. Hei, untuk apa dia membawaku ke kamar? Apakah ini kamarnya? Maldo andwae! Buang jauh-jauh pikiran kotormu, Cathy!

“Kau, kemana saja dua minggu ini, huh?” Bentaknya. Matanya menatapku dengan tajam. Mata itu, mata yang mampu membuatku selalu ingin melihatnya.

W-wae?” Paman Kyuhyun berdecak, mengalihkan pandangannya.

“Aaa~ Kau merindukanku? Cho uncle merindukan keponakannya yang sangat cantik ini?” Godaku. Baiklah, ini cara agar aku tidak terlihat gugup di hadapannya.

“Kalau benar, kau mau apa?” Paman Kyuhyun menatapku serius, membuatku gelagapan.

“Cepat, katakan! Kenapa kau menghindariku?” Paman Kyuhyun menyilangkan tangannya di depan dada. Aku hanya berdiri dan menunduk. Hingga akhirnya, aku menarik napas dalam-dalam.

“Karena dadaku tiba-tiba saja merasa sakit saat uncle menyebut nama Yi Ra, padahal yang ada di hadapanmu saat itu adalah aku. Aku, jantungku selalu berdetak tidak karuan saat aku melihatmu. Aku…” Sesak. Lagi-lagi sesak. Bahkan, air mataku kini sudah mengalir.

 

Paman Kyuhyun, dia hanya diam mematung. Pengakuanku pasti sangat mengejutkannya.

“Aku menghindarimu agar perasaanku ini tidak semakin tumbuh. Baik uncle ataupun daddy pasti marah karena aku, aku jatuh cinta padamu, uncle. Maafkan aku.” Lanjutku. Aku membalikkan tubuhku, hendak pergi dari hadapannya. Aku terlalu malu atas pengakuanku ini.

Belum sempat aku membuka pintu, punggungku tiba-tiba terasa hangat. Tangan kekar melingkar di perutku. Tubuhku menegang. Paman Kyuhyun memelukku. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya bisa memandangi tangan itu.

TBC

 

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

5 thoughts on “My Life [8/?]”

  1. OMG akhirnya ngaku juga kamu cathy…tp apa kyu juga punya perasaan yang sama
    terus jiyoung juga seperti punya perasaan ma cathy….
    aduh aq makin dibikin gila peasarannya byk teka teki nich…chingu ayo lanjut jangan kelamaan

  2. omo cathy jatuhcinta ma kyu dan sepertinya begitu dan apalagi ini jiyoung adalah anak kyu ma yi ra tapi kenapa yi ra menikah dengan orang lain klu dia mengandung anak kyu makin rumit nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s