Natasha [2-END]

Name: KyuBum Girl

Title: Natasha

Casts: Natasha Trevor, Andrew Choi, Bryan Trevor.

Genre: Sad, Romance.

Rating: PG-15

Length: Two-Shot

 

 

Previous part:

“Tadinya, aku dan Bryan berpikir bahwa ayahku tidak akan berani macam-macam jika tahu kau adalah pewaris tunggal Choi Group. Perkiraan kami salah. Ayah telah mengetahui tentangmu dan pertemanan kita. Aku baru mengerti setelah pergi dari California. Ayah mengirim aku dan Bryan ke UK dengan alasan agar aku dan Bryan menuntut Ilmu di sana, di University of Oxford. Ternyata, itu hanyalah sebuah alasan. Ayah mengirim kami ke UK agar dengan leluasa menjalankan niatnya untuk balas dendam pada ayahmu. Maafkan aku.” Natasha menundukkan kepalanya. Dalam hatinya ia begitu menyesal, mengetahui ayahnya berencana untuk membunuh orang yang ia cintai sepenuh hatinya.

 


 

“Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu, Natasha. Aku hanya ingin bersamamu.” Andrew berlutut di hadapan Natasha. Ia menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah Natasha yang terkejut dengan perbuatan Andrew itu. Tangan lembut Natasha tak luput dari genggamannya.

 

“Natasha, maukah kau berjuang bersamaku hingga akhir? Berjuang bersamaku untuk mendapatkan restu dari orang tua kita?” Natasha membeku. Dugaannya tentang Andrew yang akan membecinya setelah ia tahu semuanya ternyata salah besar. Benar-benar di luar dugaan. Andrew malah memintanya untuk berjuang. Air mata Natasha tidak bisa dibendung lagi. Gadis itu menangis sesenggukkan, membuat Andrew panik setengah mati.

 

“Natasha, kenapa menangis? Apakah aku salah bicara? Aku menyakitimu? Maafkan aku, Natasha. Tolong, berhentilah!” Andrew berdiri lalu memeluk tubuh Natasha yang bergetar. Panik. Ia benar-benar panik.

Sebelumnya, Andrew sama sekali tidak pernah melihat secara langsung seorang gadis menangis.

“Maaf. Aku, aku hanya… Ah, lupakan! Andrew, aku ingin, sangat ingin berjuang denganmu. Ayo, lakukan semuanya dengan baik. Karena aku juga mencintaimu, Andrew Choi.” Andrew melepaskan pelukannya untuk beberapa saat, lalu kembali memeluk Natasha.

 

Mengetahui fakta bahwa Natasha juga mencintainya, sudah cukup untuk membuatnya tidak takut dengan hal apapun. Alex Trevor atau bahkan Choi Kiho sekalipun, aku tidak akan menyerah untuk Natasha, untuk cintaku. Batin Andrew.

Gomawo.” Ucap Andrew. Natasha mendongak, dahinya mengernyit. Untuk kedua kalinya Natasha mendengar kalimat asing keluar dari mulut Andrew.

“Ah, terima kasih, maksudku. Tadi itu bahasa Korea.” Andrew mengacak pelan rambut pirang Natasha. Keduanya saling menatap dengan senyuman tulus yang  mengembang di wajah muda-mudi yang sedang dimabuk cinta itu.

 


 

Matahari telah tinggi saat seorang laki-laki sedang berusaha membuka matanya. Beberapa detik kemudian, laki-laki itu berhasil membuka mata sepenuhnya. Kedua sudut bibirnya ditarik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Senyuman kebahagiaan saat melihat seseorang di sampingnya masih bergelut dalam dunia mimpi. Natasha, gadis itu masih terlelap. Tangan Andrew merapikan rambut-rambut yang menutupi sebagian kening Natasha. Dikecupnya sekilas bibir merah Natasha. Dalam hatinya, laki-laki itu sangat bersyukur karena Tuhan telah membiarkan Natasha tetap berada di sampingnya. Tuhan telah mengizinkannya untuk hidup bersama Natasha, gadis yang telah mencuri seluruh hatinya, meskipun Natasha hampir dipanggil-Nya karena memperjuangkan cinta mereka.

 

FLASHBACK

 

“Kopi spesial, hasil racikan gadis spesial.” Ucapan Natasha disambut kekehan geli Andrew. Hari ketujuh sejak mereka tinggal bersama atau lebih tepatnya bersembunyi bersama.

Natasha duduk di samping Andrew yang sedang menonton televisi.

 

“Aku merindukan Bryan.” Ucap Natasha lirih. Andrew mengarahkan pandangannya pada Natasha. Ditariknya Natasha ke dalam pelukan.

“Kau tahu? Bryan sudah memprediksikan hal ini akan terjadi. Aku dan kau bersembunyi dari ayahku, Bryan sudah memprediksinya. Bahkan ia sudah menyiapkan rumah ini saat kami masih di Oxford dulu. Bryan-ku benar-benar jenius, bukan?”

“Bryanmu? Hei, jangan menyebut laki-laki lain seperti itu!”

“Kau cemburu? Hei, Bryan adalah kakakku.”

“Aku tidak peduli!”

 

BRAK!!

Natasha dan Andrew bangkit dari duduknya. Natasha memegang tangan Andrew dengan erat, berlindung di balik punggung Andrew. Keduanya benar-benar tidak menyangka akan secepat ini ditemukan.

Alex Trevor, ayah Natasha berkacak pinggang di hadapan Andrew dan Natasha. Kemarahan mengkilat di matanya. Rahang pria paruh baya itu mengeras, menahan amarah.

 

“Natasha Trevor, let’s home!” Ucap pria itu datar, meskipun kemarahan sedang berada di puncaknya.

Sekejam apapun seorang Alex Trevor, dia tidak akan pernah berani membentak, memarahi, apalagi melukai anak-anaknya.

Daddy, izinkan aku pulang dengan Andrew. Andrew, dia tidak tahu apa-apa.”

“Aku tidak suka dibantah, Natasha! Pria yang sedang bersamamu adalah anak dari Choi Kiho, orang yang telah berani mencuri desain proposal mega proyek kita.”

“Entah apa yang membuat daddy dan tuan Choi menjadi musuh abadi, tapi Andrew tidak terlibat. Aku juga tidak terlibat.” Bibir Natasha bergetar, menahan tangisannya agar tidak keluar. Andrew menggenggam erat tangan Natasha, menyalurkan kekuatan sebanyak-banyak pada gadis itu.

“Aku mencintai Natasha, tuan Trevor. Izinkan aku hidup bersama dengan putrimu.” Andrew berkata dengan begitu lembut dan tulus. Andrew mengerti, orang tua yang ada di hadapannya ini hanyalah korban dari perasaan dendam.

 

daddy, selama ini aku dan Bryan tidak pernah meminta apapun darimu. Kami selalu melakukan apa yang menjadi keinginanmu. Sekolah di Oxford, padahal kami ingin Harvard. Bryan menjadi direktur, padahal ia ingin menjadi aktor hebat. Untuk masalah cinta, biarkan kami hidup dengan cinta kami, daddy.” Air mata sudah tidak dapat terbendung lagi. Bahkan kini Natasha terisak.

Alex Trevor geram melihat putrinya bertingkah seperti dalam drama-drama melankolis. Dendamnya terhadap Choi Kiho tidak bisa ia pendam lagi.

 

Choi Kiho, pria itu mengencani gadis Korea yang jelas-jelas masih berstatus sebagai kekasih Alex Trevor. Choi Kiho, pria itu lagi-lagi mengibarkan bendera perang dengan secara terang-terangan meniru desain market yang dibuatnya. Lalu Choi Kiho, kembali merebut kekasih Alex Trevor yang menjadi ibu dari Andrew Choi. Permusuhan itu abadi hingga saat ini.

Alex Trevor mengambil pistol dari saku dalam jas hitamnya. Diarahkannya pistol itu tepat di dada Andrew. Membunuh sasaran baginya adalah hal terbaik daripada berdebat dengan putri terkasihnya -Natasha.

Daddy, NO!” Natasha menjerit saat Alex Trevor menarik pelatuk hitam itu. Natasha melindungi Andrew dengan tubuhnya. Andrew terperanjat. Peluru itu tidak mengenai dirinya. Ditatapnya Natasha yang memucat dengan mata yang membulat, tubuh gadis itu merosot.

“NATASHA!!” Teriak Andrew. Pria itu duduk bersimpuh dengan memeluk Natasha yang punggungnya telah penuh oleh darah.

 

“NATASHA!” Seorang laki-laki yang baru datang, berteriak dengan keras melihat adik kesayangannya telah bersimbah darah. Ditatapnya sang pelaku penembakkan dengan penuh amarah. Pistol hitam terjatuh dari tangan Alex Trevor. Tubuh pria paruh baya itu merosot. Bukan. Bukan ini yang ia inginkan. Yang ia inginkan adalah menembak anak dari Choi Kiho, lalu melihatnya mati. Bukan Natasha yang ingin ia tembak. Aku telah melukai putriku. Batin Alex.

Daddy, kau telah membuat Natashaku terluka. Kami selalu mengikuti keinginanmu, karena kami tidak ingin daddy terluka jika kami membantah. Kenapa daddy tidak mengerti hal itu? Hanya untuk kehidupan cinta kami, biarkan kami memilih cinta dan kebahagiaan kami sendiri.”

“Bryan,”

“Jangan katakan apapun, daddy! Andrew, cepat bawa Natasha ke rumah sakit!! Berlama-lama memeluk dan menangisinya hanya akan membuat adikku mati!” Andrew tersentak dengan ucapan Bryan. Bryan benar. Andrew segera menggendong Natasha, membawanya ke mobil Bryan. Bryan sudah lebih dulu berada dalam mobil. Setelah Andrew dan Natasha benar-benar berada dalam posisi yang nyaman, Bryan melajukan mobilnya diatas 100km/jam, meninggalkan ayahnya yang menangis terisak menyesali perbuatannya.

 

Alex Trevor, pria itu teramat menyayangi kedua anaknya. Jangankan memukul, berbicara dengan nada tinggi saja tidak pernah ia lakukan. Hari ini ia telah membuat putrinya terluka.

I’m sorry, Natasha. I’m sorry, Bryan. I just lovin you too much.” Mata Alex terpaku pada pistol yang tergeletak di sampingnya. Terbersit sebuah pikiran untuk mengakhiri hidupnya saat ini juga. Tangannya dengan gerakan perlahan berusaha mengambil pistol itu. Alex mendongak, sebuah tangan telah mendahuluinya.

 

Alex semakin terisak ketika matanya berhasil menangkap sosok Natalie -istrinya tengah berdiri dengan tatapan marah, sedih, terluka, iba, dan tatapan memilukan lainnya.

I’m sorry. I killed my daughter.” Natalie memeluk Alex. Ia tahu bahwa suaminya sangat terluka.

“Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu, Alex. Natasha dan Bryan akan membencimu jika kau melakukan itu.” Ucap Natalie menenangkan. Natalie, perempuan itu sangat tahu bahwa kedua anaknya sangat mencintai Alex. Natasha dan Bryan tidak akan sanggup untuk membenci Alex.

“Aku telah melukai Natasha. Bryan terlihat sangat marah. Mereka pasti membenciku, Natalie.”

“Biarkan Natasha hidup dengan Andrew. Aku yakin, Andrew mampu membuat Natasha kita bahagia. Andrew akan menyayangi Natasha sama seperti Bryan menyayanginya.” Selanjutnya Natalie dan Alex memilih untuk diam. Merenungkan segala hal yang telah terjadi.

 

FLASHBACK END

 

Natasha menggeliat pelan, lalu membuka kedua matanya. Dahinya mengkerut saat dilihatnya Andrew tengah tersenyum menatap Natasha. Pipinya memerah tatkala Natasha sadar bahwa dirinya tidak memakai apapun, atau mungkin Andrew juga seperti itu. Andrew terkekeh melihat raut wajah Natasha yang berubah dengan cepatnya.

 

Good morning, my sunshine.” Ucap Andrew sambil mengelus pipi Natasha yang memerah.

Morning.” Balas Natasha.

“Kau tidak sadar? Matahari di langit California sudah sangat tinggi, dan kau membalas sapaanku? Ck! Padahal aku mengerjaimu.” Mata Natasha membulat.

 

Natasha ingat, hari ini ia harus mengantar Bryan ke bandara. Kakaknya itu akan terbang kembali ke Inggris. Natasha akan segera turun dari tempat tidur, namun kemudian mengurungkan niatnya. Tidak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Andrew yang mengerti dengan tingkah Natasha, pria itu menahan tawanya. Andrew menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan Natasha, agar mudah bagi Natasha menariknya.

“Pakai selimut saja jika kau malu. Padahal aku sudah melihatnya tadi malam, kenapa kau masih malu?” Rona merah kembali muncul di wajah Natasha. Tidak ingin merasa malu lebih banyak lagi, Natasha bergegas menuju kamar mandi setelah melilitkan selimut pada tubuhnya, diiringan kekehan dari Andrew.

 


 

“Jaga dirimu baik-baik, Natasha! Jadilah istri yang baik, oke? Aku mencintaimu.” Bryan memeluk Natasha dengan.

“Aku juga mencintaimu, Bryan. Sekali-kali ajaklah Irine berlibur kemari.” Bryan mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. Ia beralih pada Andrew.

 

“Aku tahu kau mencintai Natasha dengan sepenuh hatimu. Jaga adik kesayangku baik-baik, hyung.” Ucap Bryan. Mata Andrew membulat.

“Darimana kau tahu kata itu?” Tanya Andrew. Bryan memutar bola matanya.

“Gadisku juga berdarah Korea sepertimu. Namanya Irine Cho. Lahir dan tumbuh dewasa di London.” Jawab Bryan bangga.

“Benarkah? Kalau begitu, bawa gadis itu kemari dan kenalkan pada kami.” Andrew menepuk pelan bahu Bryan. Bryan hanya mengangguk, lalu beralih menatap Natalie yang daritadi hanya diam melihat anak-anaknya melakukan salam perpisahan. Bryan memeluk Natalie begitu erat, disusul air matanya yang mulai mengalir di pipinya.

 

Mommy, jaga dirimu baik-baik. Jangan sakit dan jangan pernah berhenti menjenguk daddy. Rumah sakit jiwa terlalu mengerikan untuk daddy, mommy.” Natalie dan Bryan saling mengeratkan pelukkan mereka. Sakit. Dada mereka sakit mengingat Alex, pria yang sangat mereka sayangi harus dirawat di rumah sakit jiwa.

“Aku harus pergi.” Bryan berbalik. Natasha dan Natalie saling merangkul, menatap punggung Bryan yang berjalan meninggalkan mereka. Keduanya mengusap air mata yang mengalir.

 

Mommy, aku dan Andrew akan menjenguk tuan Choi terlebih dahulu sebelum menjenguk daddy. Apakah mommy tidak keberatan?”

“Tidak, sayang. Hati-hati, Natasha, Andrew.” Natalie masuk ke dalam mobilnya sedangkan Natasha dan Andrew baru masuk ke dalam mobil mereka setelah memastikan mobil Natalie telah melaju.

 

“Aku rasa, aku mengenal Irine Cho. Apakah Irine memiliki seorang kakak?” Tanya Andrew. Sejak Bryan mengatakan bahwa gadisnya bernama Irine Cho, Andrew terus berpikir bahwa ia mengenal keluarga Cho. Natasha mengangguk yakin.

“Marcus Cho?” Tanya Andrew lagi.

“Bagaimana kau tahu?”

Sesange! Dunia ini benar-benar sempit! Irine Cho dan Marcus Cho adalah anak dari adik perempuan ayahku. Sepupuku.”

“Benarkah? Bagus sekali. Keluarga kita akan semakin erat. Benar, kan?”

“Natasha, Benny Cho adalah seorang mafia Inggris yang anti Amerika. Bryan orang Amerika.” Natasha membeku.

“Mafia? Bryan berhubungan dengan anak seorang mafia? Bryan dalam bahaya! Aku harus menghentikannya.” Natasha begitu panik.

“Tenanglah! Bryan pria jenius. Jika kau saja bisa melewati ini, bagaimana dengan Bryan? Percayalah, Bryan akan baik-baik saja.”

 

THE END

 

Thank you and don’t forget to comment! See ya!

 

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

4 thoughts on “Natasha [2-END]”

  1. agak kecepatan sih, sorry, selebihx oke, nah lo tu Andrew punya sepupu Tiffany ama Cho, makin besar aj keluargax apalagi dpt anak mafia, hei ya ya, gimana nasib Bryan

  2. cerita ini bikin deg-deg bacanya dari part1 sampai 2 tapi seru dan romantis juga sih keren suka ma alurnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s