Natasha [1/2]

Name: KyuBum Girl

Title: Natasha

Tags: Natasha Trevor, Andrew Choi, Bryan Trevor.

Genre: Sad, Romance.

Rating: PG-15

Length: Two-Shot

 

Lagi kepikiran buat nulis FF dengan main cast-nya Siwon, jadi aku bikin FF ini. Gaje, mungkin. Tapi aku harap kalian akan dengan senang hati untuk mengomentari ini. Tadinya mau aku bikin one-shot, tapi aku pikir kepanjangan jadi, aku bikin two-shot deh. Biar readers juga gak bosen bacanya ^^Love ya!

 

 


 

Andrew POV

 

Senja telah muncul di langit California. Entah kenapa, senja kali ini rasanya sangat hambar. Tidak, bukan hanya kali ini, tapi sudah enam hari senja di langit California tidak lagi indah bagiku.

Enam hari yang lalu, aku masih menikmati senja bersamanya. Seorang gadis yang dua tahun ini menjadi sahabatku.

Natasha. Natasha Trevor, gadis itu sahabatku. Ia selalu ada jika aku membutuhkannya. Hanya, enam hari sudah gadis itu menghilang bagaikan ditelan bumi.

Ada yang aneh di dalam sini, di dalam dadaku. Seperti ada rasa kehilangan saat gadis itu tidak nampak di hadapanku, ataupun namanya muncul di layar smartphone-ku.

Aku menyusuri tepian pantai. Biasanya gadis itu akan berbicara banyak jika kami menghabiskan senja di pantai ini. Sepi sekali rasanya. Natasha, where are you? Are you okay?

 

Natasha POV

 

Senja di langit California. Aku merindukan laki-laki itu. Laki-laki yang tengah berjalan dengan gontai, menyusuri tepian pantai itu, aku sangat merindukannya.

Andrew Choi. Sudah enam hari aku tidak bertemu dengannya.

“Apakah dia, laki-laki yang telah membuat adik kembarku jatuh cinta?” Suara laki-laki di sebelahku membawa kembali kesadaranku.

“Tidak. Dia hanya sahabatku.” Jatuh cinta? Aku tidak memiliki daya untuk mencintainya. aAndrew Choi. Akan menjadi masalah untuk laki-laki itu jika aku jatuh cinta padanya.

“Kau tidak pernah bisa berbohong padaku, Natasha. Matamu selalu berbinar jika menceritakan laki-laki yang sudah dua tahun menjadi sahabatmu itu.”

“Bryan, aku tidak memiliki kuasa untuk mencintainya. Kau tahu sendiri, apa yang akan terjadi padanya jika aku mencintainya.” Bryan menghela nafasnya kasar. Aku tahu, Bryan pasti mengerti apa yang aku maksud.

Mataku kembali fokus menatap laki-laki yang tengah menyusuri pantai itu. Laki-laki itu masuk ke dalam mobilnya. Maafkan aku, Andrew.

 


 

Author POV

 

“Kau harus kembali ke Korea Selatan, besok.” Ucap laki-laki paruh baya. Di hadapannya, laki-laki muda menghentikan kegiatannya menyendok makanan, mendengar perintah sang ayah.

“Sudah dua puluh tahun aku tidak menginjakkan kakiku di sana. Aku lupa bahasa Korea. Aku tidak akan kembali.” Jawabnya, berusaha setenang mungkin.

 

Lupa bahasa Korea? Tentu saja itu hanya alasannya agar tidak dipaksa kembali ke tanah kelahirannya. Natasha. Laki-laki itu tidak ingin jauh dari Natasha. Berada di daratan yang sama saja sudah sulit bagiku untuk menemukan gadis itu, bagaimana jika berada di daratan yang berbeda dengan Natasha? Oh, aku bisa gila! Batinnya.

 

“Kau harus tetap kembali, Andrew Choi!” Laki-laki paruh baya itu berkata dengan nada tinggi. Andrew terhenyak. Ini adalah pertama kalinya sang ayah terlihat marah.

“Baiklah, kapan aku berangkat?” Andrew menyerah. Ayahnya memiliki penyakit jantung. Andrew sangat takut penyakit ayahnya akan kambuh jika ia membuatnya marah.

 

Andrew POV

 

‘Besok kau akan berangkat ke Korea Selatan. Jangan kecewakan ayah!’

 

Korea Selatan. Tiba-tiba sekali ayah menyuruhku kembali ke negara itu. Ayah bahkan tidak memberiku alasan yang logis. Ia hanya memintaku untuk kembali, dan tidak memintaku untuk melakukan hal yang penting. Mengurus perusahaan, misalnya.

Siluet seorang gadis dengan dress biru langit selutut tiba-tiba menarik perhatianku. Caranya berjalan, aku yakin itu Natasha.

 

“Natasha!” Panggilku. Gadis itu menoleh. Benar. Gadis itu Natasha. Senyumku merekah, berbeda dengannya. Sepertinya gadis itu tidak senang bertemu denganku.

“Kemana saja kau, gadis ceroboh? Dan, apa yang kau lakukan di sini?” Tanyaku. Natasha hanya memandangiku.

“Aku harus pergi.” Natasha berbalik. Ada apa dengannya? Dia menghindariku.

“Sebentar saja, Natasha!” Pintaku. Kupegang pergelangan tangannya. Natasha bergeming.

“Aku akan pergi. Mau memelukku?” Bergetar. Tubuh Natasha bergetar. Apakah dia menangis?

“Natasha” panggilku, lirih. Aku menariknya ke dalam pelukkanku. Sesuatu membasahi baju bagian dadaku. Benar. Natasha benar-benar menangis.

“Katakan bahwa kau tidak ingin aku pergi, maka aku tidak akan pergi, Natasha.”

“Aku harus pergi sekarang. Berhati-hatilah selama di perjalanan, Andrew Choi.” Natasha melepas pelukannya dan pergi. Gadis itu seperti sedang ketakutan. Aku terus memperhatikan punggung Natasha, hingga dia menggamit tangan seorang laki-laki. Laki-laki tampan itu mengelus puncak kepala Natasha. Tanganku mengepal. Laki-laki itu, apakah dia penyebab Natasha menghindariku?

 

Natasha POV

 

Andrew. Bagaimana bisa aku bertemu dengannya di bandara? Laki-laki itu, mau pergi kemana dia? Sejak bertemu dengan Andrew di bandara tadi hingga kini aku berada di dalam pesawat, air mataku tidak berhenti mengalir.

Aku akan pergi dan Andrew juga akan pergi. Lalu, setelah semuanya berakhir, kemana aku harus menemuinya?

 

“Sepertinya Andrew juga mencintaimu. Aku melihatnya mengepalkan tangan saat kau memegang tanganku.”

“Sudahlah, Bryan!”

“Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa Andrew adalah anak tunggal dari Choi Kiho.”

“Choi Kiho?” Bryan tersenyum. Dibalik senyumnya yang seperti itu tentu tersimpan sebuah rencana licik.

Bryan, kakak kembarku ini memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata bahkan bisa dikatakan jenius.

 

“Rencana licik apa yang sedang kau rencanakan, Bryan Trevor?” Tanyaku penuh selidik.

“Choi Kiho memiliki kekuasaan yang lebih besar dibandingkan dengan ayah. Ayah tidak akan berani membuat masalah dengannya.”

“Lalu, apa pengaruhnya untukku?”

Come on, Natasha! Use your brain! Daddy won’t take Andrew into a trouble. He’s Choi Kihos’ son!” Jawabnya.

And then, what should I do? Andrew was gone!” Benar. Andrew sudah pergi. Ah, apakah aku akan menjadi anak durhaka jika aku berharap aku tidak pernah terlahir sebagai keluarga Trevor?

“Natasha, ayo kita lakukan semuanya dengan benar! Setelah itu, kau bisa menjemput cintamu.” Bryan mengelus puncak kepalaku. Kakakku ini selalu tahu cara menguatkanku.

You’re the best, Bryan! Thank you so much!

 

Author POV

 

4 Years Later

 

“Tiffany!” Gadis yang dipanggil Tiffany itu menoleh. Sebuah senyuman merekah dengan indah di wajah cantiknya.

“Natasha! Long time no see.” Tiffany memeluk Natasha.

“California has change too much. You too!” Tiffany tergelak mendengar penuturan teman semasa SMA-nya itu.

 

How’s Oxford? Sepertinya Oxford tidak membuat banyak perubahan padamu. Kau masih cantik.” Pipi Natasha merona mendengar pujian dari gadis secantik Tiffany. Baginya, Tiffany adalah mahakarya Tuhan yang paling sempurna.

“Kau berlebihan.”

“Bryan, bagaimana kabarnya?” Tanya Tiffany malu-malu. Tiffany, gadis itu telah menyukai Bryan sejak SMA. Natasha mengerling jahil.

 

“Kau merindukannya?” Wajah Tiffany memerah mendapat pertanyaan yang sebenarnya lebih pantas dibilang pernyataan itu.

“Kau tahu? Aku tidak pernah jatuh cinta seperti aku jatuh cinta pada kakak kembarmu itu.” Senyum Natasha meredup. Gadis itu merasa bersalah pada sahabatnya. Bryan, laki-laki itu bukannya tidak tahu Tiffany menyukainya. Hanya saja, Bryan telah jatuh cinta pada gadis London.

“Kau kenapa, Natasha?” Tiffany mengibaskan tangannya di depan muka Natasha. Natasha mengerjap, berusaha kembali pada realita.

 

“Tiffany, maafkan aku. Bryan, dia sudah memiliki kekasih.” Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuh Tiffany melemas. Gadis itu memegang lututnya. Natasha dapat melihat perubahan wajah Tiffany. Dalam hatinya ia merasa bersalah. Natasha sudah bersiap untuk menenangkan Tiffany jika gadis itu menangis atau semacamnya, karena yang Natasha tahu, Tiffany sangat mencintai Bryan.

 

“Benarkah? Baguslah. Dengan begitu, aku bisa menerima lamaran Aiden.” Diluar dugaan. Tiffany malah tersenyum dan bersikap tenang. Natasha mengernyit. Tiffany yang mengerti akan kebingungan, mulai menjelaskan.

“Aiden adalah teman sepupuku. Aku sempat tinggal di Korea untuk enam bulan dan bertemu dengannya. Aku menyukainya, namun rasa sukaku pada Bryan lebih mendominasi. Kemarin, sepupuku kembali ke California dan Aiden ikut dengannya. Aiden melamarku dan aku belum memberinya jawaban. Aku masih berharap Bryan belum menjadi milik orang lain, dan ternyata harapan tinggal harapan.” Tiffany mengulas senyuman terindahnya.

“Aku akan menerima lamarannya.” Lanjut Tiffany. Natasha menggenggam tangan kanan Tiffany yang berada di atas meja.

 

“Maafkan aku.” Ucapnya lirih.

“Tidak perlu meminta maaf, Natasha. Ini bukan salahmu.” Natasha tersenyum penuh haru. Temannya kini sudah dewasa.

“Ah, sepupuku datang.” Tiffany melambaikan tangannya ke arah pintu masuk, diikuti Natasha yang penasaran ingin melihatnya.

1 detik, 2 detik, tiba-tiba saja waktu terasa berhenti. Jantungnya bekerja tidak normal. Natasha menelan ludahnya dengan susah payah manakala orang yang dimaksud Tiffany telah duduk di sebelah Tiffany -berhadapan dengan Natasha.

 

Long time no see, Natasha Trevor.”

“Kalian saling mengenal? Bagaimana bisa?” Tiffany terdengar begitu histeris. Niat awalnya adalah ingin mengenalkan sepupunya itu pada Natasha, agar ia dapat melihat sepupunya itu mengencani seorang gadis.

“Ya, nona Hwang.”

“Andrew…” Ucap Natasha. Gadis itu masih tidak percaya bisa bertemu kembali dengan Andrew Choi, laki-laki yang telah membuatnya rela menuntut ilmu di Oxford. Padahal, belajar di Harvard adalah impian terbesarnya sejak kecil.

“Kau masih mengingatku rupanya. Bagaimana kabarmu, nona Trevor?”

“Aku baik. Kau sendiri?” Natasha merasa asing dengan kondisi seperti ini.

“Tidak. Berkat seseorang, selama empat tahun ini aku tidak pernah merasa baik.” Jawab Andrew penuh dengan sindiran. Natasha merasa tertohok dengan ucapan Andrew barusan. Tiffany yang bingung dengan keadaan ini memilih bungkam, meskipun banyak sekali yang ingin ia tanyakan.

 

“Aku baru tahu bahwa kau adalah sepupunya Tiffany.”

“Begitulah. Ah, bagaimana hubunganmu dengan laki-laki yang waktu itu bersamamu di bandara?”

“Laki-laki? Bandara?” Tanya Natasha. Gadis itu ingin memastikan bahwa laki-laki yang dimaksud Andrew adalah Bryan.

“Ya. Jangan pura-pura lupa, Natasha. Aku saja masih mengingatnya.” Natasha yakin sekarang. Laki-laki yang dimaksud adalah Bryan. Tiffany mulai mengerti sekarang. Gadis yang telah membuat seorang Andrew Choi begitu tergila-gila itu adalah Natasha.

 

“Maksudmu, Bryan? Kami baik-baik saja.” Andrew menunduk. Rasa cemburunya masih sama seperti empat tahun lalu saat ia melihat Natasha memegang tangan seorang laki-laki di bandara. Bagaimana bisa seorang Andrew Choi menjadi lemah seperti ini?! Batin Andrew.

 

Tiffany sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.

“Tuan muda, jadi gadis ini yang telah membuat image player-mu itu berubah? Dengar, tuan muda! Sekuat apapun usahamu untuk memisahkan Natasha dengan Bryan, kau tidak akan pernah berhasil.” Tiffany kembali tertawa melihat Andrew dan Natasha menatapnya dengan tajam.

“Hentikan ocehanmu itu! Aku benar-benar telah salah cerita padamu.” Andrew mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah. Ah, aku ada janji dengan Aiden hari ini. Bye!” Tanpa mendengar protes dari Natasha dan Andrew, Tiffany bergegas pergi.

YA! KAJIMA!” Teriak Andrew. Natasha mengernyit. Bahasa itu benar-benar asing baginya.

Sedetik kemudian suasana berubah menjadi hening. Natasha merasa canggung menguasai dirinya.

“Em… Jadi, mau menceritakan alasanmu menghindar dari sahabatmu yang tampan ini?” Andrew memecah keheningan.

“Menghindar? Aku tidak menghindar, Andrew Choi!” Tegas Natasha.

 

 

Drrt… Drrt…

Bryan is calling…

 

Hello.

Natasha, it’s dangerous! Anak buah ayah sedang mencari Andrew!’

WHAT? Untuk apa ayah melakukan itu?” Natasha menatap Andrew yang juga menatapnya heran.

‘Untuk balas dendam. Aku tahu kau sedang bersama Andrew. Bawa dia pergi secepatnya!’

“Bryan, please! Jangan membuatku panik!”

‘Tidak ada waktu lagi, Natasha!’

“Baiklah. Bryan, terima kasih. Aku menyayangimu!”

 

“Kekasihmu?” Tanya Andrew ketika Natasha telah memutuskan panggilan dari Bryan. Nafasnya tercekat sedangkan Natasha, tanpa berbicara apapun gadis itu langsung menarik Andrew. Andrew meronta, membuat Natasha menghentikan langkahnya di tengah-tengah cafe.

“Andrew tolong, percaya padaku! Come on!”

“Natasha!”

“Andrew!” Natasha menatap Andrew dengan tatapan memohon. Natasha melanjutkan langkahnya dengan menarik Andrew yang mulai pasrah meskipun dalam benaknya laki-laki itu menyimpan rasa penasaran yang amat dalam.

“Masuklah!” Titah Natasha ketika mereka telah mencapai mobil Natasha. Andrew menatap Natasha sejenak, lalu menuruti perintah Natasha.

 

Natasha memacu kecepatan mobil diatas 80km/jam. Gadis ini benar-benar gila. Batin Andrew. Tidak ada yang berbicara. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.

Ponsel Natasha berdering, tanda pesan masuk.

“Tolong bacakan pesan itu untukku!” Perintah Natasha dengan fokusnya masih pada jalanan. Andrew hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu mengambil ponsel di dalam tas milik Natasha.

“Ayah menaruh alat pelacak di mobilmu. Lakukan sesuai rencana! Dari Bryan.” Andrew mengernyit membaca pesan itu. Apakah aku sedang terlibat dalam sebuah kasus kriminal? Tidak mungkin! Andrew menggelengkan kepalanya dengan cepat, berusaha membuang pikiran-pikiran buruknya.

“Terima kasih.” Natasha menambah kecepatan laju mobilnya. Beberapa saat kemudian, Mobil Natasha memasuki sebuah pekarangan rumah mewah. Ada lima buah mobil mewah terparkir di pekarangan itu.

 

“Cepat turun!” Natasha dan Andrew turun dengan tergesa.

Natasha membawa Andrew masuk ke dalam Lamborghini Veneno, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan hanya 60 km/jam.

 

“I’m sorry. But, for this time, don’t give me any questions! I’ll tell you but not now.” Ucap Natasha. Andrew mengangguk.

“Terima kasih, Andrew.”

“Untuk?”

“Untuk percaya padaku.” Natasha tersenyum dengan tulus. Untuk beberapa saat, Andrew merasa dunia telah berhenti berputar. Senyuman itu seakan menghipnotisnya.

 

Bunyi ponsel Natasha membawa kembali kesadaran Andrew. Dengan gerakan cepat, Andrew mengambil ponsel itu dan membacanya.

“Buang ponsel milikmu dan juga ponsel milik Andrew. Ayah akan dengan mudah menemukan kalian melalui itu. Sebelum itu, catat dulu nomorku! Daya ingatmu sangat payah, Natasha sa…yang.” Andrew melirik Natasha yang sekarang kembali tersenyum.

“Dari Bryan.” Andrew menyudahi kegiatan membacanya. Perasaan cemburu kembali menjalar.

“Kau sudah membacanya. Lakukan saja apa yang Bryan katakan!” Ucap Natasha dengan tenang. Dengan senang hati Andrew membuang ponsel milik Natasha.

“Sudah.”

“Ponselmu?” Andrew mendelik.

“Ck! Berkat seseorang ponsel dan mobilku tertinggal di cafe tadi.” Jawab Andrew penuh kekesalan.

“Maafkan aku. Aku akan menggantinya, Andrew Choi.” Ucap Natasha penuh penyesalan. Melihat ekspresi Natasha yang seperti itu, Andre tersenyum penuh kemenangan. Akal licik tiba-tiba muncul di benaknya.

“Benarkah? Kalau begitu, aku tidak ingin diganti dengan mobil atau ponsel lagi.” Natasha mengernyit.

“Lalu?”

“Menikah denganku, maka aku akan memaafkanmu. Dan kau, kau tidak perlu mengganti mobilku!” Natasha menghentikan mobilnya, membuat Andrew sedikit tersungkur. Natasha menatap tajam Andrew. Andrew merasa salah tingkah ditatap seperti itu.

 

“Sudah sampai.” Ucap Natasha dingin. Natasha turun dari mobil diikuti Andrew.

Natasha dan Andrew memasuki sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran Los Angeles. Andrew mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang di dominasi oleh warna putih.

 

“Duduklah. Mau minum apa?”

Ice tea.” Andrew menatap punggung Natasha yang menghilang di balik pintu dapur. Kakinya melangkah mengikuti Natasha ke dapur. Kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan melihat Natasha tengah meracik minuman yang dipesan Andrew. Entah setan apa yang telah membuat Andrew memeluk Natasha dari belakang. Tubuh Natasha menegang merasakan punggungnya hangat akibat pelukan seseorang. Natasha bergidik geli saat hembusan nafas Andrew menyentuh kulit lehernya. Natasha mengerjap dan memandangi tangan kekar yang melingkar di perutnya.

 

“Aku merindukanmu, Natasha.”

“Andrew, aku…”

“Dengarkan saja! Selama lebih kurang dua tahun kita bersahabat. Kau tahu? Memang tidak ada persahabatan yang tulus antara laki-laki dan perempuan. Aku, aku mencintaimu sejak lama, Natasha.” Seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di dalam perut Natasha, mengejutkan sekaligus membahagiakan. Dugaan Bryan ternyata benar. Andrew juga mencintainya.

“Selama empat tahun ini aku hidup dengan rasa rindu yang tertahan. Dengan alasan yang tidak jelas, ayah memintaku untuk kembali ke Korea, negara yang sudah dua puluh tahun aku tinggalkan. Aku harus berada di daratan yang berbeda denganmu. Itu sungguh sangat menyiksaku, Natasha.” Natasha merasakan bahu kanannya basah. Ya, Andrew menangis.

“Andrew,”

“Ssst!” Andrew memutar tubuh Natasha agar mereka saling berhadapan.

“Aku akan berusaha untuk mendapatkanmu, Natasha. Bahkan jika aku harus menyingkirkan kekasihmu yang bernama Bryan itu, akan aku lakukan.” Natasha mengernyit. Selama ini Andrew salah paham padanya.

 

Natasha dan Andrew, meskipun mereka berteman cukup lama, tetapi mereka saling menutupi latar belakang keluarga satu sama lain. Termasuk Bryan, Natasha tidak pernah menyebutnya sekalipun di hadapan Andrew.

Sama-sama terlahir dari kalangan konglemerat, namun apa yang membuat Natasha begitu ketakutan untuk mencintai Andrew?

“Aku dan Bryan, hubungan kami tidak akan pernah bisa diputuskan oleh apapun. Aku akan sangat membencimu jika kau berani menyingkirkan Bryan. Bryan, dia kakak kembarku, Andrew.” Jelas Natasha panjang lebar. Andrew terpaku dibuatnya.

“Ka-kak? Kembar?” Natasha mengangguk.

“Kakak? Astaga!” Andrew menepuk keningnya. Saat ini, ia merasa malu. Malu karena telah dengan sinisnya menanyakan tentang kondisi hubungan Natasha dengan Bryan. Andrew merasa malu karena dengan tidak tahu malunya ia mengatakan secara lantang ingin memisahkan Natasha dengan Bryan. Natasha terkekeh melihat Andrew yang sedang kalang kabut menanggung malu.

 

Are you okay?” Tanya Natasha. “I’m okay.” Jawab Andrew singkat. Andrew memejamkan matanya, lalu menarik nafas dalam-dalam kemudian membuangnya.

“Natasha, aku mencintaimu. Aku ingin kau menjadi gadisku, gadis seorang Andrew Choi.” Ucap Andrew. Digenggamnya tangan halus milik Natasha.

Kini giliran Natasha yang memejamkan mata.

“Tidak bisa, Andrew. Orang tua kita tidak akan merestui.” Ucap Natasha lirih.

“Kenapa, Natasha? Aku bahkan belum mengenalkanmu pada orang tuaku, begitupun sebaliknya.” Natasha tersenyum getir. Ternyata Andrew memang tidak tahu apa-apa tentang orang tua mereka. Natasha mengajak Andrew untuk duduk di kursi yang mengelilingi meja makan.

 

“Dengar, aku akan mengatakan sebuah pengakuan. Natasha Trevor. Apakah kau merasa tidak asing dengan nama Trevor? Maksudku, kau pernah kenal dengan seseorang yang bernama Trevor? Atau, Alex Trevor?” Andrew menggeleng. Andrew memang tidak pernah kenal dengan seseorang bernama Alex Trevor atau siapalah itu yang disebutkan Natasha.

 

“Rektor University of Oxford periode 2005-2010, pemilik AT Group, ketua Asosiasi Liga Amerika. Alex Trevor. Pemilik Choi Group, sekretaris jendral PBB, orang Korea terkaya nomor dua di Amerika Serikat. Choi Kiho. Choi Kiho adalah ayahmu, dan Alex Trevor adalah ayahku.” Natasha berhenti sejenak. Andrew terlihat antusias untuk mendengarkan cerita Natasha. Andrew sama sekali tidak berniat untuk menyela cerita Natasha.

 

“Choi Kiho dan Alex Trevor adalah pesaing abadi sejak mereka menuntut ilmu di University of Oxford, bahkan hingga saat ini. AT Group dan Choi Group tidak pernah menjalin hubungan kerja sama. Terakhir, empat tahun lalu, Choi Group memenangkan tender mega proyek di Alexandria. Maaf, aku tidak bermaksud untuk menjelekkan keluargamu, hanya saja, muncul berita bahwa Choi Group mencuri desain proposal milik AT Group, namun tentu saja disangkal oleh pihak Choi Group.”

 

“Tidak mungkin! Ayahku tidak mungkin melakukan itu!”

“Aku tidak tahu, Andrew. Yang aku tahu, sejak saat itu ayahku mulai berusaha untuk menghancurkan keluargamu. Dan, kejadian hari ini adalah puncaknya. Ayahku mengirim anak buahnya untuk mencarimu lalu membunuhmu.” Suara Natasha memelan pada kalimat paling terakhir. Dadanya terasa sesak. Ruangan itu seolah-olah telah kehilangan oksigen.

 

Andrew terpaku di tempatnya. Empat tahun lalu, ia sedang berada di Seoul dan ia dipaksa untuk tinggal di sana tanpa alasan yang jelas. Apakah ini ada hubungannya? Pikiran Andrew benar-benar kacau saat ini.

 

“Tadinya, aku dan Bryan berpikir bahwa ayahku tidak akan berani macam-macam jika tahu kau adalah pewaris tunggal Choi Group. Perkiraan kami salah. Ayah telah mengetahui tentangmu dan pertemanan kita. Aku baru mengerti setelah pergi dari California. Ayah mengirim aku dan Bryan ke UK dengan alasan agar aku dan Bryan menuntut Ilmu di sana, di University of Oxford. Ternyata, itu hanyalah sebuah alasan. Ayah mengirim kami ke UK agar dengan leluasa menjalankan niatnya untuk balas dendam pada ayahmu. Maafkan aku.” Natasha menundukkan kepalanya. Dalam hatinya ia begitu menyesal, mengetahui ayahnya berencana untuk membunuh orang yang ia cintai sepenuh hatinya.

 

TBC

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

4 thoughts on “Natasha [1/2]”

  1. waw, persaingan ortu berimbas ke anak2x, ganas bgt ya bpkx Natasha, emangx bener ya bpkx Siwon mencuri??? atau salah paham aj

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s