Infinitely Love [2/2-END]

Name: KyuBum Girl

Title: Infinitely Love

Tags: Kim Rae Ah, Cho Kyuhyun, Kim Kibum, Kim Jong Woon.

Genre: Sad, Romance.

Rating: PG-13

Length: Two-Shot

KyuBum Girl was back! Haha. Lagi, aku bawa FF KyuRae couple.

FF ini masih jauh dari kata sempurna, typo bertebaran, jadi mohon kesabarannya dalam membaca. Hhe. Komennya sangat ditunggu ya ^^ follow akunku @LSFeffect

 

Happy Reading!

 

 

***Infinitely Love***

 

Previus part:

Tanpa mempedulikan tatapan-tatapan heran orang lain, aku berlari menuju mobilku, lalu memacunya dengan kecepatan diatas rata-rata. Air mataku tidak berhenti mengalir. Kenapa kenyataan sepahit ini, Tuhan?

 

***Infinitely Love***

JKR Hotel. Hanya satu tempat itu yang ada dipikiranku. Jong Woon oppa. Dia menginap di sini.

“Rae-ya, kau kenapa?” Aku langsung berhambur ke dalam pelukan Jong Woon oppa setelah ia membukakan pintu.

Waegeurae?” Tanya Jong Woon oppa lagi. Ia menepuk-nepuk pelan punggungku.

“Baiklah, baiklah. Kita bicara di dalam.” Jong Woon oppa membawaku duduk di kasurnya.

Hyung, Rae Ah kenapa?” Ada Kibum oppa juga ternyata disini. Jong Woon oppa menggedikkan bahunya, memberi isyarat aku-tidak-tahu. Kedua kakakku bungkam. Setelah lama, akhirnya tangisanku mulai mereda.

“Aku menyukai ah, ani, aku mencintai Cho Kyuhyun sejak SMP, oppa.” Jong Woon oppa dan Kibum oppa saling berpandangan.

“Cho Kyuhyun? Direktur Cho Corp. tempatmu bekerja?” Tanya Kibum oppa. Aku mengangguk lemah.

“Lantas, apa masalahnya? Apa hubungannya kau menangis dengan kau menyukai Kyuhyun?”

“Aku, aku melihatnya bercumbu dengan sahabatku. Di ruangannya.” Kedua kakakku membulatkan matanya. Air mataku kembali mengalir. Kini, Kibum oppa menarikku ke dalam pelukannya.

“Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya sebagai sunbae-ku, oppa. Bahkan cintaku untuknya masih utuh, meskipun dia tidak tahu tentang perasaanku. Nahye, dia tahu ini, tapi dia… Hiks… Sakit, oppa.”

 

“Dia telah membuatmu menangis. Aku bisa membatalkan perjanjian bisnis antara JKR Corp dengan Cho Corp, jika kau mau.” Ucap Jong Woon oppa. JKR memiliki hubungan Cho Corp.? Aku tidak tahu sama sekali tentang ini.

“Jangan, oppa!”

Wae? Kita tidak akan rugi. Justru mereka yang akan rugi.” Bagaimana bisa dia menyangkut-pautkan urusan hati dengan bisnis.

Oppa, Kyuhyun tidak sengaja menyakitiku. Kyuhyun bukan pacarku. Dia bahkan tidak tahu perasaanku. Jadi, jangan sangkutpautkan urusan hati dengan bisnis, oppa.” Balasku. Jong Woon oppa dan ayah benar-benar sama. Aku yakin, ayah juga akan mengatakan hal yang sama jika tahu aku menangisi Kyuhyun. Padahal Kyuhyun tidak bersalah sama sekali. Aku yang bersalah, aku bodoh! Aku cemburu pada orang yang notabene hanyalah atasanku di kantor. Kadang, kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Harapanku akan cinta Kyuhyun telah mendapat jawabannya. Cintaku padanya akan tetap tak terbalas.

“Kibum oppa, jangan beritahu Kyuhyun tentang ini.”

 

***

 

Tiga bulan semenjak hari itu, aku masih tetap bekerja di perusahaan milik Kyuhyun. Jangan tanya tentang hubunganku dengan Nahye. Hubunganku dengannya merenggang. Kami tidak lagi bersama. Aku ataupun Nahye sama-sama saling menghindari satu sama lain. Dengan Kyuhyun? Aku hanya membungkuk jika kebetulan berpapasan dengannya. Aku selalu berusaha menghindarinya. Jong Woon oppa selalu menyuruhku berhenti, namun entahlah. Aku belum ingin pergi dari perusahaan ini.

 

Malam ini, ayah benar-benar membuktikan ucapannya. Ia memaksaku untuk menerima perjodohan. Dan di sinilah aku. Aku, ayah, ibu, dan kedua kakakku baru saja tiba di JKR Restaurant, tempat dimana aku akan bertemu dengan calon suami pilihan ayah. Baiklah, aku harus menyerah atas perasaanku pada Kyuhyun. Sejak awal, perasaan ini memang tidak pernah terbalas.

 

Disaat aku mulai menyerah akan cintaku pada Kyuhyun, disaat aku mulai meyakini bahwa Tuhan tidak menginginkan aku memiliki Kyuhyun, Tuhan sepertinya ingin mempermainkan perasaanku. Cho Kyuhyun, laki-laki itu berdiri bersama tuan dan nyonya Cho untuk menyambut kedatangan keluargaku. Tuan Cho, aku mengenalnya karena dia adalah direktur yang digantikan Kyuhyun. Nyonya Cho, perempuan yang tetap cantik di usianya yang sudah terbilang tua itu tentu saja sering datang ke kantor bersama tuan Cho dan beberapa kali aku sempat mengobrol dengannya. Cho Kyuhyun, mataku tidak bisa beralih darinya. Gejolak di hatiku kembali bergemuruh. Hati nuraniku saling menghasut satu sama lain. Satu sisi nuraniku mengatakan agar aku menerimanya dan bahagia karena Kyuhyunlah calon suami pilihan ayah tersebut. Namun, sisi lain nuraniku kembali mengingatkanku pada sebuah peristiwa dimana Kyuhyun tengah bercumbu dengan sahabatku, tiga bulan lalu.

 

Rangkulan sebuah tangan kekar dan hangat di pundakku membawa kembali kesadaranku. Kibum oppa, ia seakan mengerti dengan gemuruh yang ada di hatiku, senyuman mematikannya ia sunggingkan di wajah tampannya. Aku membalas senyumannya, lalu melempar senyum itu pada Jong Woon oppa yang menatapku dengan tatapan seolah menguatkanku. Aku membungkukkan badan tanda penghormatan pada keluarga Cho dengan tersenyum seramah mungkin.

 

Annyeonghasimnika, Kim Rae Ah imnida.” Aku mengambil tempat duduk di antara kakakku, agar aku tidak berhadapan dengan Kyuhyun. Aku melirik Kyuhyun sekilas. Ia menatapku datar, tanpa ekspresi.

“Whoa~ Aku benar-benar baru tahu bahwa Kim Rae Ah yang bekerja di kantorku ternyata anak bungsu JKR Group.” Ucap tuan Cho.

“Putri keluarga Kim benar-benar cantik.” Puji nyonya Cho. Aku hanya tersenyum atas pujiannya. Aku berani bertaruh, senyumku terlihat sangat aneh. Jujur saja, jantungku berdetak tak karuan saat ini. Pikiranku melayang entah kemana. Apakah Tuhan benar-benar ingin mempermainkan perasaanku melalui ini semua?

“Kyu, kau mengenalnya, bukan?” Tanya tuan Cho pada Kyuhyun.

Ne, abeoji. Kibum hyung pernah mengenalkannya padaku.” Jawabnya. Aku hanya menunduk, memegang tangan kanan Kibum oppa dan tangan kiri Jong Woon oppa. Aku mencari kekuatan melalui genggaman itu. Seakan mengerti, kedua kakakku menggerakkan ibu jarinya, memberikan kekuatan itu. Ck! Kakak-beradik yang sama-sama lahir di bulan agustus ini, sejak kapan menjadi kompak?!

“Baiklah, aku rasa kalian sudah tahu maksud dari pertemuan ini. Jadi, kita mulai tentukan saja tanggal pertunangan dan tanggal pernikahannya.” Ucap ayahku.

“Aku belum mengatakan setuju atau tidak dengan perjodohan ini, appa.” Ucapku.

Baiklah, aku memang mencintainya dan tanpa pikir panjang lagi akan menerimanya dengan senang hati. Hanya saja, kejadian waktu itu membuatku harus berpikir ulang. Menikah dengan cinta yang sepihak, mungkinkah aku akan bahagia? Aku tidak berani mengangkat wajahku.

Waeyo? Apakah putraku berlaku tidak baik selama di kantor?” Tanya nyonya Cho. Terdengar ada kekhawatiran disana.

Animnida. Bukan seperti itu, nyonya Cho. Hanya…”

“Tuan Kim, aku ingin berbicara sebentar dengan putri anda. Rae Ah-ssi, mari!” Kyuhyun beranjak dari tempat duduknya. Aku menatap kedua kakakku bergantian. Aku bingung, haruskah aku mengikutinya? Apa yang akan aku katakan padanya nanti? Kedua kakakku itu mengangguk. Baiklah. Kuatkan hatimu, Kim Rae Ah!

 


 

“Aku dan Nahye, kami tidak memiliki hubungan apapun. Waktu itu, kami hanya terbawa suasana.” Ucap Kyuhyun. Saat ini kami telah sampai di taman belakang JKR Restaurant. Aku yang mendesain taman ini. JKR Restaurant baru berdiri selama lima tahun.

“Anda tidak perlu menjelaskan kejadian itu, sajangnim.” Bohong! Aku berbohong. Selama ini aku selalu berharap ada yang menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki hubungan. Bolehkah aku berbahagia? Aku ingin bahagia karena Kyuhyun dan Nahye tidak memiliki hubungan apapun.

 

“Kyuhyun. Saat ini aku bukan sebagai atasanmu. Panggil Kyuhyun saja.” Kyuhyun mendongakkan kepalanya, menatap langit yang bertabur bintang. Aku menatap punggungnya. Aku memang berdiri di belakang Kyuhyun.

“Ketika aku duduk di bangku SMP, aku jatuh cinta pada seorang hoobae. Gadis itu selalu terlihat menyendiri. Aku selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sayangnya, meskipun banyak gadis di sekolah yang mengejarku, gadis itu sepertinya tidak menyukaiku.” Kyuhyun menghentikan kalimatnya. Air mataku mulai meleleh. Aku benar, bukan? Dari awal cintaku memang tidak pernah terbalas. Laki-laki itu bahkan menyukai gadis lain ketika SMP. Masih menatap langit, Kyuhyun melanjutkan kalimatnya, “gadis itu tidak pernah sekalipun berteriak seperti gadis lain ketika melihatku. Aku benar-benar berpikir bahwa gadis itu tidak menyukaiku. Maka dari itu, hingga aku lulus, aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Beberapa bulan yang lalu, aku kembali bertemu dengannya. Gadis penyuka warna oren itu adalah adik dari temanku.” Aku mengernyit. Warna oren adalah warna kesukaanku dan aku adalah adik dari Kim Kibum. Bukankah Kibum oppa adalah temannya? Mungkinkah gadis itu aku? Tidak mungkin! Buang jauh-jauh pikiran itu!

 

Kyuhyun membalikkan tubuhnya menghadapku.

“Beberapa bulan lalu, gadis itu memergoki aku sedang bercumbu dengan sahabatnya. Dia pergi dengan air mata yang meleleh di pipinya. Bahkan ia meninggalkan ponselnya yang terjatuh di ruanganku.” Demi Tuhan, mendengar kalimat yang Kyuhyun lontarkan itu, ingin rasanya aku berteriak. Aku menutup mulutku dengan tangan kanan agar tidak mengeluarkan isakan. Kyuhyun memegang pundakku.

“Setelah gadis itu pergi, aku mulai yakin bahwa gadis itu juga menyukaiku. Gadis itu cemburu padaku. Perasaanku pada gadis itu masih sama. Aku mencintaimu, Kim Rae Ah.” Kyuhyun mengakhiri penjelasannya. Aku menatapnya dalam, mencari kebohongan di matanya yang selalu membuatku merasa tersihir. Nihil. Mata itu tidak menyiratkan kebohongan sedikitpun. Ia tersenyum, lalu memajukan wajahnya, memangkas jarak diantara kami. Kyuhyun menempelkan keningnya di keningku sehingga dapat kurasakan hembusan nafasnya.

 

“Jangan menolak perjodohan ini! Aku tau kau mencintaiku, Kim Rae Ah.” Ucapnya. Sedetik kemudian, ia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku mengerjap, terkejut atas perlakuannya. Kyuhyun, cinta pertamaku telah mencuri ciuman pertamaku.

 

Hangat. Bibirnya terasa hangat. Aku mulai menutup mataku dan membalas kecupan dari Kyuhyun. Kecupan-kecupan itu berubah menjadi lumatan. Kyuhyun menarik pinggangku agar lebih mendekat, aku mulai mengalungkan tanganku di lehernya. Aku tidak ingin munafik. Aku benar-benar bahagia saat ini. Cintaku telah terbalas.

Kyuhyun melepaskan ciumannya. Tanpa merubah posisi kami, Kyuhyun kembali mengecup bibirku sekilas, lalu ia mengecup keningku, kedua mataku, berakhir dengan kecupan di bibir -lagi. Ia mendiamkannya lama, lalu melepasnya.

“Ciumanmu payah sekali! Jangan bilang aku telah mencuri first kiss-mu?!” Semburat merah pasti telah muncul di wajahku. Oh, kau benar, tuan Cho. Aku memeluknya, setidaknya dengan begini Kyuhyun tidak akan melihat wajahku yang memerah karena malu.

“Kau benar.”

“MWO? Jadi ini benar-benar yang pertama? Jika aku tidak salah, umurmu sudah dua puluh lima tahun, bukan?” Kyuhyun melepaskan pelukannya. Ia tertawa dengan keras. Ada yang salah? Bagaimana jadinya jika Kyuhyun tahu bahwa aku tidak pernah berpacaran sekalipun dan itu karenanya?! Aku menghentakkan kakiku lalu meninggalkannya, kembali pada para orang tua.

 

“Kenapa wajahmu merah sekali, Rae-ya? Kau menangis? Apa yang dilakukan Kyuhyun padamu?” Oh, Jong Woon oppa sudah seperti wartawan saja.

Nan gwenchana, oppa. Hanya…”

“Apa yang Kyuhyun katakan? Apa dia menyakitimu?” Tanya nyonya Cho memotong kalimatku.

“Kami akan menikah, tapi kami yang sendiri yang akan menentukan waktunya.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba. Semua orang bersorak mendengar ucapan Kyuhyun.

“Benarkah? Chukhae, Rae-ya. Itu artinya kalian saat ini berpacaran?” Pertanyaan macam apa yang dilontarkan Kibum oppa itu?! Ck!

“Kau pacar pertamanya, Cho Kyu… AW!” Baiklah, Jong Woon oppa, kau membuatku malu di hadapan calon suamiku! Lihatlah! Mata Kyuhyun membulat. Sesaat lagi ia pasti tertawa. Ayah dan ibuku serta tuan dan nyonya Cho juga memasang ekspresi yang sama.

“Benarkah, hyung?” Tawa Kyuhyun akhirnya meledak setelah Jong Woon oppa mengangguk, disusul Kibum oppa, meyakinkan.

“Jangan tertawa, Cho Kyuhyun! Aku seperti ini juga karena aku hanya menyukai sejak SMP!” Bukannya berhenti, tawa Kyuhyun malah semakin keras.

“YA! Berhenti tertawa atau aku akan membeberkan kelakuanmu!”

 


 

Drrt… Drrt…

Cho Kyuhyun Calling

Ck! Setelah tiga hari tanpa kabar, akhirnya laki-laki yang sejak sebulan lalu resmi menjadi kekasihku itu menghubungiku.

Yeoboseyo.”

Ya! Kenapa menerima panggilanku dengan malas seperti itu, eoh? Bersikaplah seolah tidak ada yang terjadi, tuan Cho. Menyebalkan!

“Ada apa?”

Whoa~ Direktur baru JKR Hotel, kau jutek sekali! Hah! Orang ini benar-benar menyebalkan!

“Kau! Kemana saja selama tiga hari ini, huh?!”

‘\Ah, mianhae. Aku benar-benar sibuk. Sebagai permintaan maafku, aku akan mengajakmu makan malam. Kau harus datang! Tidak ada penolakkan

Naega wae? Seharusnya kau yang datang padaku lalu minta maaf!”

‘Terserah! Alamatnya akan aku kirim via e-mail. Bye!’ PIP. HAH! Apa-apaan dia? Demi apapun, aku baru tahu sifatnya yang menyebalkan itu sejak menjadi kekasihnya. Laki-laki itu tidak pernah bersikap romantis.

 

Akan tetapi tidak dapat aku pungkiri, aku merindukannya. Sejak resmi menjadi direktur di JKR Hotel dua minggu yang lalu, aku belum pernah bertemu lagi dengannya. Kesibukanku sebagai direktur baru yang butuh beradaptasi dengan lingkungan serta kesibukan Kyuhyun yang benar-benar menggila akhir-akhir ini membuat kami tidak bisa bertemu langsung. Kami hanya berkomunikasi via video call, itupun hanya sekali dalam sehari -sebelum berangkat atau setelah pulang bekerja. Cho Kyuhyun, aku sangat mencintainya. Terkadang, aku akan tersenyum sendiri mengingat kejadian-kejadian di masa lalu. Aku juga selalu berterima kasih pada ayah -meskipun hanya dalam hati- karena jika ayah tidak menjodohkanku dengannya, mungkin aku tidak akan memilikinya. Tuhan, rencana-Mu memang selalu indah. Maafkan aku karena telah berburuk sangka padamu.

 

07:00 pm

Rumah besar berarsitektur modern lengkap dengan taman dan kolam air mancurnya terlihat sangat indah, namun sayang sekali, pencahayaannya kurang sehingga taman ini terlihat gelap. Baiklah, ini memang jam tujuh malam. Benarkah Kyuhyun ada di sini? Setahuku rumah Kyuhyun masih lebih besar dari rumah yang ada di hadapanku ini. Aku mulai melangkah masuk ke area taman dengan hati-hati. Bagaimanapun, aku adalah seorang gadis dan aku sedang berjalan sendirian di rumah yang sama sekali tidak kuketahui pemiliknya. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, bukan? Salahkan Kyuhyun yang memintaku datang kemari jika ada sesuatu terjadi pada adik bungsu Kim Jong Woon!

 

Langkahku terhenti saat satu persatu lampu taman mulai menyala. Mataku fokus pada sesosok laki-laki yang sedang berdiri di tengah-tengah taman. Dari caranya berdiri aku sudah bisa menebak orang itu. Cho Kyuhyun, laki-laki itu berdiri dengan senyum mengembang di wajahnya. Kyuhyun merentangkan tangannya, lalu sedetik kemudian di sekitarnya menjadi terang. Seketika aku langsung membekap mulutku, tak percaya melihat lampu-lampu yang menyala itu membentuk sebuah kalimat singkat.

 

WOULD U MARRY ME?

 

Kyuhyun berdiri di antara kalimat itu. Air mataku mulai menetes. Air mata haru. Secepat inikah Kyuhyun melamarku? Apakah aku bermimpi? Jangan bangunkan aku jika ini memang mimpi, Tuhan!

“Kim Rae Ah, would you marry me?” Kyuhyun, dia sudah berdiri di hadapanku. Aku menatap matanya. Mata itu, mata yang membuatku jatuh cinta sejak SMP tidak menyiratkan sedikitpun bahwa ia sedang bercanda.

“Kyu, aku…”

“Rae-ya, aku tahu ini tidak romantis. Selama ini aku bahkan tidak pernah bersikap romantis padamu. Kim Rae Ah, aku memang bukan laki-laki baik, aku tidak punya apa-apa. Perusahaan itu, perusahaan itu hanya titipan dari ayahku untuk penerus keluarga Cho selanjutnya. Aku hanya memiliki cinta yang tanpa ujung, untukmu, Kim Rae Ah.” Kyuhyun menghela nafasnya. Hei, Kyuhyun bilang ini tidak romantis? Oh, aku bahkan tidak pernah berpikir Kyuhyun akan melakukan ini. To me, it’s so perfectly romantic, Kyu.

 

“Aku ingin kau menjadi perempuan yang melahirkan penerus keluarga Cho. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu. I’ll ask you for once more. Kim Rae Ah, would you marry me?” Entah bagaimana, Kyuhyun sudah memegang sebuah cincin dengan permata berwarna oren bertengger di tengahnya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangguk. Aku telah memimpikan ini sejak lama. Aku selalu memimpikan Kyuhyun melamarku sejak pertama kali jatuh cinta padanya.

I do…” Kyuhyun menarik tangan kiriku lalu memasangkan cincin itu di jari manis. Ia mencium punggung tanganku. Sedetik kemudian kepalaku sudah bersandar di dada bidangnya. Ia membawaku ke dalam pelukannya.

Gomawo.” Dapat kurasakan Kyuhyun mencium puncak kepalaku. Tangan kanannya mengelus rambutku sementara tangan kirinya melingkar di pinggangku.

 

“Kyu.”

“Hmm?”

“Aku lapar.” Kyuhyun melepas pelukannya. Ia menatapku lalu sedetik kemudian menciumku di bibir. Ia mulai melumat bibirku. Kyuhyun melepas ciumannya untuk menghirup udara, lalu kembali menciumku lagi.

Saranghae, Kim Rae Ah.”

“Aku tahu, Kyu. Nado saranghae, Cho Kyuhyun.” Aku menunjukkan senyum termanisku. Kyuhyun mencium keningku cukup lama.

“Kyu, aku benar-benar lapar.” Rengekku dengan memegang perutku yang sudah mulai meminta untuk diisi. Kyuhyun melihatku dengan kesal.

“Kau tahu? Aku menyiapkan ini semua selama tiga hari. Dan perutmu itu merusaknya!” Gerutunya.

“Siapa suruh melamarku sekarang, huh? Orang lain akan melamar setelah makan malam. Jangan salahkan aku jika suasana romantis ini rusak karena aku kelaparan!”

“Aku tidak peduli!”

“Baiklah, terserah kau tuan Cho! Tapi, sebenarnya aku penasaran. Rumah ini milik siapa, Kyu?”

“Ini?” Aku menangguk. Kyuhyun memasang senyum manis yang menjijikan di wajahnya.

“Ini rumah kita.”

 

EPILOG

“Kau kenal Park Jung Soo?” Tanya ayah di sela sarapannya.

“Park Jung Soo? Bukankah dia adalah pemimpin JKR Hotel?”

“Hmm. Appa mengirimnya ke Jerman untuk menggantikan Jong Woon karena Jong Woon harus mengurus JKR School di Korea. Appa ingin kau menggantikan Jung Soo di JKR Hotel.” Hampir saja aku tersedak mendengar permintaan ayah. Menggantikan Jung Soo ahjussi di JKR Hotel? Berarti, aku harus berhenti bekerja di Cho Corporation? Dan itu artinya aku akan jarang bertemu dengan Kyuhyun? Aku belum siap untuk itu.

“Kenapa tidak Kibum oppa saja?” Tanyaku, mencoba bernegosiasi.

“Kau lupa? Kibum sudah mengurus JKR Entertainment. Lagipula, Kibum akan menjadi wakil presiden JKR Group setelah Jong Woon resmi menjadi presiden JKR Group enam bulan lagi.” Aku menghela nafas kasar. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain.

“Baiklah. Aku bersedia.”

 

THE END

Advertisements

Author: kyubumgirl

Calon wartawan yang lebih suka sama makanan daripada tubuh ideal.

16 thoughts on “Infinitely Love [2/2-END]”

  1. awalx sempat terkejut pas Kyu ma Nahye, i emang dasar cwo bilang kebawa suasana, apaan tu. Ternyata Kyu ma Rae dijodohin yg ternyata berjodoh dr jaman SMP, dan bersiap menikah, I DO I DO…..hore, lanjut buat yg lain lagi

  2. ffnya bagus cuma alurnya kecepatan dan scene Kyu jelasin klo dia cuma kebawa suasana rasanya kurang masuk akal, dan crita Nahye juga ga dijelasin, jadi kurang greget! Padhl klo lbh panjang pasti lbh bagus! 🙂

  3. aaahhhh mereka ahirnya nikah…..
    tapi kyuhyun bilang kejadian itu karna kebawa suasana.???
    trus kalo tar udah nikah trus di adepin ma kejadian terbawa suana di jadiinalesan??

  4. Kyuhyun jahat bgt sih ciuman krn trbawa suasana…. Klw aq jdi Rae ah gk mao ma kyuhyun…. Biar kyuhyun brjuang dptin rae ah… smngt nulisnya chingu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s